<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420</id><updated>2012-01-19T07:38:52.262+07:00</updated><category term='curhat deh'/><category term='resensi'/><category term='renungan'/><category term='promo buku'/><category term='artikel ibu'/><category term='i am back'/><category term='edu moms'/><category term='artikel kepenulisan'/><category term='buku-ku'/><category term='SALIMAH Kutim'/><title type='text'>DH Devita</title><subtitle type='html'>Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>173</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2741980304290471746</id><published>2010-12-13T14:37:00.001+07:00</published><updated>2010-12-17T15:12:06.326+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Esai "Sebutir Debu Saja"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TP2n8GNjDcI/AAAAAAAAAJI/wWhbI_xzG4I/s1600/Sebutir+debu_lores-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TP2n8GNjDcI/AAAAAAAAAJI/wWhbI_xzG4I/s320/Sebutir+debu_lores-1.jpg" width="219" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TP2n8GNjDcI/AAAAAAAAAJI/wWhbI_xzG4I/s1600/Sebutir+debu_lores-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Judul Buku: Sebutir Debu Saja&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jenis Buku: Kumpulan Esai&lt;br /&gt;Penulis: DH Devita&lt;br /&gt;Penerbit: Leutika Prio&lt;br /&gt;Jumlah Halaman: 102hlm&lt;br /&gt;Harga Buku: Rp 30.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkan buku ini dengan memesan pada akun facebook &lt;b&gt;Leutika Prio&lt;/b&gt;, ongkos kirim flat untuk Jabodetabek Rp 10.000,- dan untuk luar Jabodetabek Rp 15.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini cukup istimewa buat saya, karena proses penulisannya mengalami jalan berlika-liku. Sebagian besar artikel di dalamnya saya tulis berdasarkan pengalaman sendiri atas berbagai hal yang cukup membekaskan berbagai perasaan. Sedih, marah, kecewa, sakit hati, namun juga sekaligus memberikan saya pelajaran-pelajaran penting setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati kecil kita, seringkali terbersit rasa tak enak atau malu ketika menyadari berbagai kesalahan yang selama ini mungkin pernah kita lakukan. Karena rasa tak enak itulah, manusia seringkali tak mampu mengakui kesalahannya sendiri dan kemudian berubah untuk memperbaikinya. Rasa tak enak itu sering menghalangi kejujuran hati untuk mengedepankan kebaikan daripada egoisme pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit pengalaman untuk bisa direnungi dan mengantarkan kita pada kejujuran hati dan keinginan untuk memperbaiki. Ini yang saya inginkan untuk terjadi pada diri saya ketika menuliskan macam-macam peristiwa menarik yang saya alami tersebut. Ini pula yang semoga bisa menjadi hikmah yang dibagikan kepada siapa saja yang membacanya. Sederhana saja. Semua yang tertulis dalam buku ini ibarat sebutir debu nasihat bagi kita semua. Manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2741980304290471746?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2741980304290471746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2741980304290471746' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2741980304290471746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2741980304290471746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2010/12/kumpulan-esai-sebutir-debu-saja.html' title='Kumpulan Esai &quot;Sebutir Debu Saja&quot;'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TP2n8GNjDcI/AAAAAAAAAJI/wWhbI_xzG4I/s72-c/Sebutir+debu_lores-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-3076688330163841228</id><published>2010-12-09T13:34:00.001+07:00</published><updated>2010-12-13T14:25:05.301+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Cerpen "Seribu Luka Ayie"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPl9DkLcrNI/AAAAAAAAAJA/juRI9wl3xus/s1600/FLP%252BKumpulanCeritaDaerah%252B200pxlX75pxl-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPl9DkLcrNI/AAAAAAAAAJA/juRI9wl3xus/s1600/FLP%252BKumpulanCeritaDaerah%252B200pxlX75pxl-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Seribu Luka Ayie&lt;br /&gt;Jenis Buku: Kumpulan Cerpen&lt;br /&gt;Penulis: DH Devita&lt;br /&gt;Penerbit: Tres-F Publishing&lt;br /&gt;Tebal Buku: 207 hlm&lt;br /&gt;Harga: Rp 50.000 (buku bisa dibeli di http://www.nulisbuku.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah buku kumpulan cerpen pertama saya. Beberapa cerpen di dalam buku ini pernah dimuat di majalah ALIA edisi tahun 2004-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerbitkan kumpulan cerpen di masa sekarang ini, saat penerbitan buku kumpulan cerpen tampaknya sedang lesu, memiliki tantangan sekaligus resiko tersendiri. Tentu saja tantangan berat (antusiasme pasar) dan resiko (buku tidak laku) seperti ini sangat dihindari oleh penerbit-penerbit kenamaan di negara kita. Pun mereka yang belum menggapai kelas nasional pastinya lebih memilih untuk menerbitkan buku yang mengikuti arus permintaan pasar. Seperti misalnya novel percintaan untuk remaja atau dewasa, buku panduan ini-itu yang memang selalu digemari, atau buku cerita anak yang sekarang sepertinya sedang booming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seseorang yang gemar menulis, yang sedang belajar menulis dan menerbitkan karya, yang ingin karyanya dibaca sekaligus (semoga) bisa mencerahkan hati banyak orang, tentunya punya harapan besar untuk selalu bisa menerbitkan karyanya. Apalagi ketika buku berhasil 'terbit' dalam bentuk apapun, maka selain kebahagiaan yang dirasakan, penulisnya pun seperti mendapat suntikan semangat baru untuk terus melahirkan karya-karya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang saya rasakan ketika akhirnya memutuskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen ini. Memilih penerbitan independen (mencoba, tepatnya) adalah salah satu upaya saya untuk meneguhkan semangat untuk terus menulis dan melahirkan karya baru. Kebetulan saja akhirnya buku Seribu Luka Ayie ini adalah percobaan pertama saya, sekaligus ingin menyuntikkan semangat yang sama pada teman-teman seperjuangan di Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Kalimantan Timur. Bukan hanya itu, ternyata akhirnya saya mendapatkan ide untuk membuat workshop sederhana yang melengkapi peluncurannya di Sangatta, Kutai Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku ini saya ambil dari salah satu judul cerpen dalam buku tersebut: Seribu Luka Ayie. Cerpen ini terinspirasi dari pengalaman saya ketika pada tahun 2000-2002 menjadi praktikan di Pusat Krisis Terpadu RSCM, sebuah lembaga penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen lainnya bertema sama: perempuan. Lika-liku perjalanan hidup seorang perempuan dengan berbagai latar kehidupan, yang tidak melulu berbicara mengenai kebahagiaan. Perempuan-perempuan yang kisah hidupnya mungkin mewakili dari apa yang kita alami sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Ayyasy Kecil adalah favorit saya. Dimana ketika menuliskannya saya belum lagi menikah, apalagi mempunyai seorang anak. Tetapi kekuatan dari si 'ibu' dalam cerpen itu merupakan cita-cita terpendam saya, bahwa seberat apapun kehidupan yang dijalani, tetaplah ibu adalah surga bagi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Terlupakan merupakan kisah masa silam yang pernah saya alami, sebagiannya. Ia mewakili kerinduan saya pada beberapa orang yang namanya saya samarkan dalam kisah tersebut. Lalu cerpen Senja di Kuta, adalah sedikit memori yang saya bawa ketika pertemuan keluarga besar di Denpasar sekitar lima tahun lalu berlangsung, diramu menjadi sebuah peringatan kecil tentang kejadian tragis bom Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya memang keseluruhan isi buku ini mewakili jiwa saya. Yang selalu ingin memperoleh ketegaran dan semangat baru dari apa saja yang mampir dalam kehidupan saya maupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik link berikut untuk mendapatkan bukunya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.nulisbuku.com/books/view/seribu-luka-ayie&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-3076688330163841228?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/3076688330163841228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=3076688330163841228' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3076688330163841228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3076688330163841228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2010/12/kumpulan-cerpen-seribu-luka-ayie.html' title='Kumpulan Cerpen &quot;Seribu Luka Ayie&quot;'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPl9DkLcrNI/AAAAAAAAAJA/juRI9wl3xus/s72-c/FLP%252BKumpulanCeritaDaerah%252B200pxlX75pxl-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2699832766917702560</id><published>2009-10-21T08:44:00.006+07:00</published><updated>2009-10-22T10:39:02.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Berdamai dengan Hati</title><content type='html'>Sebagai seorang manusia biasa, setiap kita pasti pernah mengalami berbagai peristiwa yang membekaskan perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing. Bahagia, sedih, kecewa, marah, kesal, gundah, bimbang, dan seterusnya. Kadang perasaan-perasaan itu hanya terbersit saja, tapi sering juga bekasnya tak terhapus selamanya. Tergantung dari peristiwa yang kita alami. Tergantung dari bagaimana kita memaknai perasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang berhadapan dengan seorang sahabat, yang kali ini (tak seperti biasanya) ia terlihat begitu rapuh. Saya berusaha melihat jauh ke dalam hatinya, berusaha mencari dan ingin sekali menemukan sebuah gundah yang sedang ia rasakan. Tapi tak berhasil. Saya tak menemukannya. Padahal biasanya penerawangan saya tak meleset, tapi kali itu ia begitu lihai menyembunyikannya. Bagi saya, saat itu ia tengah meracau tak tentu arah, menyembunyikan perasaannya, lalu menampakkannya sedikit, dan kembali memutar-mutar sederet cerita yang tak runut ia lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, sahabat saya itu, adalah seorang dari sekian banyak orang yang dideskripsikan sebagai: seorang yang rapuh di balik ketegaran sikapnya. Itu penilaian saya padanya, setelah beberapa tahun berhubungan. Dan kali itu, sesuatu yang membuatnya rapuh adalah sesuatu yang patut menjadi pelajaran bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berbicara tentang perasaan, walau akan membuatmu bosan nyaris tertidur membahasnya. Tapi kadang diri kita harus disadarkan, bahwa tak selamanya sebuah 'perasaan' bermakna remeh-temeh atau 'menye-menye'. Karena dari sesuatu yang 'menye-menye' inilah seseorang akan dapat menjadi kuat atau malah sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan yang bahagia dapat membawa seseorang bersemangat menjalani hari-harinya. Bahagia seperti mendatangkan kekuatan untuk terus beraktivitas, dan kemudian bersemangat untuk melakukan banyak hal lain yang dapat mendatangkan seribu kebahagiaan lagi. Tapi terkadang, kebahagiaan yang berlebihan dapat membuat seseorang lupa dan terlena. Ia hanya terbawa ke langit ketujuh dengan perasaannya, namun terlupa untuk tetap berpijak ke bumi, dan terlebih lagi: lupa untuk bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan sedih dan marah biasanya akan mengaburkan akal sehat seseorang untuk sesaat. Terbakar emosi yang berlebihan akan menjadikannya lupa bahwa banyak lagi orang di sekitarnya yang juga merasakan sakit yang sama, atau bahkan melebihi yang ia rasakan. Bukan tak boleh bersedih, tetapi jangan lupa bahwa masih banyak sekali yang bisa dilakukan selain meratapi kesedihan secara berlebihan dan mengasihani diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan sebuah kebahagiaan, ataupun sebuah kesedihan, adalah hal yang pasti dialami oleh setiap manusia yang memang dikaruniai hati dan perasaan oleh Sang Pencipta. Tetapi kadang, ada pula yang tidak mau atau tidak berani untuk memiliki dan mengakui perasaan tersebut. Bahkan berusaha untuk menghindarkan diri dari merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, perasaan sedih dan bahagia itu seperti sebuah peristiwa suka dan duka yang kita alami setiap hari. Bagaimanapun rasanya, satu hal yang selalu harus diupayakan terhadapnya: mensyukuri. Karena apapun itu, selalu ada pelajaran berharga yang Allah Swt karuniakan untuk setiap hamba-Nya. Berusaha untuk menyikapinya dengan positif, insyaallah akan membawa diri kita untuk melihat lebih dekat hikmah yang tersimpan di balik setiap peristiwa. Bukankah segala ciptaan-Nya tidak pernah ada yang sia-sia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, begitulah manusia dengan segala kelemahannya. Kita bisa menjadi begitu rapuh jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita sukai, atau yang tidak kuasa kita hadapi. Dan dari hatilah semuanya bermula. Bila yang menjadi sandaran kita selama ini adalah Allah Swt, Sang Pemilik Hati, maka insyaallah Ia akan selalu bersama kita dalam setiap sedih, susah, dan senang. Tapi jika kita mulai lupa dengan-Nya, maka hati ini akan dipenuhi oleh yang lain: setan dan hawa nafsu kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berdamailah dengan perasaanmu, syukurilah, dan hadapi dengan segenap kekuatan hati. Bukankah kita adalah orang-orang pemberani yang selalu bersemangat menjalani hidup ini? Sesungguhnya di balik setiap kesusahan ada kemudahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2699832766917702560?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2699832766917702560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2699832766917702560' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2699832766917702560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2699832766917702560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/10/berdamai-dengan-hati.html' title='Berdamai dengan Hati'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7230754725084479652</id><published>2009-10-10T17:23:00.007+07:00</published><updated>2009-10-10T17:52:22.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='promo buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku-ku'/><title type='text'>Resensi Buku di PRO 2 FM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBg1FpTm4I/AAAAAAAAAHk/-vc2mc4npkc/s1600-h/IMG0296A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBg1FpTm4I/AAAAAAAAAHk/-vc2mc4npkc/s320/IMG0296A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390915219127245698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pada hari Minggu tanggal 27 September 2009 lalu saya jadi juga berkunjung ke Pro 2 FM Jakarta. Buat apa? Promo buku pastinya. Acara Pro Resensi yang dibawakan oleh Lia Achmadi tersebut memang sudah menarik perhatian saya sejak lama, tetapi sekitar dua bulan sebelumnya baru sempat untuk mengajukan buku-buku untuk diresensi di acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghubungi mereka via email dan multiply, dan kemudian direspon oleh mbak Vira (asistennya mbak Lia), dan saya segera mengirimkan 3 buah buku yang saya ajukan untuk diresensi. Dua di antaranya disetujui: Bercermin pada Hatimu dan Desau Angin Maastricht. Tahap selanjutnya adalah kesepakatan waktu. Saya memohon supaya disesuaikan dengan kunjungan saya ke Jakarta dalam rangka mudik. Alhamdulillah, dimudahkan, dan terlaksana. Dan beberapa waktu sebelum tanggal tersebut saya sibuk mengirimkan sms ke banyak sekali kenalan maupun keluarga saya sendiri supaya mereka mendengarkan program tersebut. Biasa, promosi murah pakai sms. "Jangan lupa nyalain radio ya!" gitu. Tapi lupa nulis salurannya berapa, alhasil banyak juga yang sms balik "Saluran berapa sih itu?" Heheh. Pro 2 105 FM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini rasanya sayang untuk dilewatkan oleh para pecinta buku. Mbak Lia tampaknya cukup update juga dengan buku-buku baru, dan pastinya acara ini dimanfaatkan juga oleh para penulis untuk mempromosikan bukunya. Simbiosis mutualisme, bukan? Dan nggak kecewa lah, karena saya merasa lebih puas menceritakan novel saya di acara ini daripada saat launching di Sengata tempo hari. Yang menariknya, acara ini dibawakan secara interaktif dengan pendengar atau para facebook-er, atau blogger, atau multiplier. Ada kuisnya juga, berhadiah buku-buku yang sedang diresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBjFKtEQ3I/AAAAAAAAAH0/oKIUkmYUnGY/s1600-h/IMG0298A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 286px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBjFKtEQ3I/AAAAAAAAAH0/oKIUkmYUnGY/s320/IMG0298A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390917694386357106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Awalnya saya sempat bingung juga, gimana ya siaran sambil bawa krucil? Tapi ternyata Firna diajak jalan-jalan sama nenek-neneknya, dan saya berangkat ke Pro 2 bersama suami tercinta dan Fakhry. Cemas lagi, gimana ya kalau saya di ruang siaran terus Fakhry rewel? Ini kan bukan GWP FM Sangatta yang bisa nitipin anak sama penyiar lainnya ... hehe ... tapi alhamdulillah, ternyata mbak Lia dan mbak Vira dengan senyum lebar menyambut Fakhry yang asyik berkeliaran di dalam ruang siaran. Dimudahkan lagi, Fakhry asyik seliweran sambil mainin apa aja yang ada di ruangan itu. Lancar deh semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mbak Lia membuka acara, saya baru tahu kalau paruh waktu pertama (1 jam pertama) adalah waktunya meresensi buku saya, dan paruh waktu kedua (1 jam berikutnya) adalah giliran buku-buku berikutnya, yang salah satunya adalah buku antologi puisi. Pertama dengar judulnya, saya teringat buku antologi puisi FLP. Dan ketika disebut nama "Lia Octavia", saya tambah semangat, wah! Ketemu Lia Octavia! (padahal belum kenal sama sekali, hihihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Lia Octavia lain lagi. Saya tahu kerja kerasnya membantu pelaksanaan Silnas FLP kemarin dari beragam berita yang dipublikasikan di milis maupun dari teman-teman pengurus FLP, kemudian tanggal 19 September 2009 kemarin saya dengar kabar bahwa beliau datang dari Jakarta ke Balikpapan dan ingin silaturahmi dengan teman-teman FLP Balikpapan. Saat itu saya memang sedang di Balikpapan, transit sebelum berangkat mudik ke Denpasar. Ingin sekali ketemuan, tapi ternyata jadwal berangkat dimajukan, dan batal deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBlICAkyKI/AAAAAAAAAH8/u-fmjFnFZAc/s1600-h/IMG0299A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 264px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBlICAkyKI/AAAAAAAAAH8/u-fmjFnFZAc/s320/IMG0299A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390919942615124130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Acara berlangsung lancar sampai selesai. Menjawab beberapa pertanyaan dari pendengar, terus foto-foto dengan mbak Lia dan buku-buku yang diresensi. Sore yang menyenangkan, dan kami pun bersiap pulang karena Fakhry juga sudah ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu studio, bertemu dua orang perempuan berkerudung, saya langsung membatin, salah satunya pasti Lia Octavia. Benar aja, mbak Lia keluar studio cepat-cepat dan memanggil saya "Mbak Vita, ini lho mbak Lia Octavia!" katanya. Sebelumnya saya memang cerita bahwa saya penasaran ingin ketemu beliau. Dan akhirnya ketawa-ketiwi sedikit dengan mbak Lia Octavia yang ramah sekali dan full senyum. Memang dasar FLP'ers, di mana-mana rasanya rindu aja gitu. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah. Kunjungan ke Jakarta membuahkan banyak hasil. Nggak cuma ke Jakarta sebenarnya, karena mudik kemarin langsung ke 3 tempat: Denpasar, Jakarta, dan Surabaya. Pastinya nggak menghabiskan waktu hanya dengan jalan-jalan atau belanja, dong. Harus ada produktivitasnya! Salah satunya ya yang satu ini. Yang lain? Tenang ... tunggu tulisan berikutnya ya!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7230754725084479652?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7230754725084479652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7230754725084479652' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7230754725084479652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7230754725084479652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/10/resensi-buku-di-pro-2-fm.html' title='Resensi Buku di PRO 2 FM'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/StBg1FpTm4I/AAAAAAAAAHk/-vc2mc4npkc/s72-c/IMG0296A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7730414227590752353</id><published>2009-09-18T20:49:00.002+07:00</published><updated>2009-09-18T21:46:08.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='edu moms'/><title type='text'>Berawal dari Cinta</title><content type='html'>Suatu hari, saya berkesempatan hadir pada sebuah acara diskusi buku. Acara ini hanya menghadirkan sekitar 20 orang saja, dan hampir semuanya adalah ibu-ibu, hanya beberapa orang saja yang masih 'single'. Buku yang dibahas berjudul "Quantum Tarbiyah", karangan Solikhin Abu Izzuddin. Sebuah buku yang menarik, dengan pembahasan spesifik pada hal-hal positif yang bisa kita dapatkan dalam proses tarbiyah atau memperdalam keislaman secara intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan buku tersebut pada hari itu masuk ke sesi kedua, setelah pekan sebelumnya telah rampung dipresentasikan beberapa bagiannya. Ada satu bagian yang begitu menarik, hingga saya terpikir untuk langsung menuliskannya, tapi tertunda hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peserta mengajukan sebuah pertanyaan ketika sesi pertama untuk tanya jawab dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pernah mengalami hal ini. Suatu ketika, saya begitu lelah dengan pekerjaan rutin di rumah yang tidak ada habisnya, dan menghendaki suami saya untuk sedikitnya membantu. Bukankah tiap kali seorang ibu pergi ke luar rumah dan meninggalkan anak-anak pastilah pikirannya selalu kembali tertuju ke rumah? Sedangkan seorang ayah/suami yang pergi ke luar beraktivitas pastinya tidak memiliki beban pikiran yang seperti itu. Saat itu saya mencetus pada suami supaya ia membantu saya, tapi dengan kalimat yang mungkin bernada marah atau jengkel. Kemudian suami saya berkomentar: "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berarti kamu kurang ikhlas&lt;/span&gt;". Saat itu saya langsung menjawabnya: "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikhlas itu bisa dicapai jika ada faktor pendukungnya.&lt;/span&gt;""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas si ibu melontarkan pertanyaan tersebut, seorang ibu yang tadi bertugas mempresentasikan sebuah bagian dalam buku itu menanggapinya dengan cukup sentimentil. Pastilah. Lontaran pertanyaan tersebut saya rasa adalah bagian yang pasti dialami oleh setiap istri dan ibu. Betul saja, beberapa orang berikutnya yang menanggapi pun mengutarakan pendapat masing-masing dengan nada curhat yang mengharu-biru. Tetapi, subhanallah, banyak sekali nasihat dan kalimat-kalimat saling menguatkan yang saya dapatkan. Pernyataan yang terkesan 'keluhan klise' tersebut malah membawa suasana pada perenungan akan arti ikhlas dan pengorbanan yang mendalam. Tentu hal ini tidak bisa dimaknai tanpa rasa cinta dan keimanan yang juga mendalam kepada Allah Swt. Yang akan mendasari sebuah pemahaman bahwa apa yang dilakukan oleh seorang perempuan di rumahnya, asalkan ia mematri kuat sebuah keikhlasan dalam hatinya dan niat untuk beribadah kepada Sang Pencipta, insyaallah Ia juga menyediakan ganjaran kebaikan yang begitu besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, diskusi buku kali itu berlangsung seru. Masing-masing memaknai bab yang dibaca dengan pengalaman sehari-hari, dan menguatkan diri bahwa bagaimanapun kita semua memerlukan bekal yang tak habis-habis untuk menjalani semua aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya banyak sekali merenung selepas pertemuan pagi itu. Saya melihat binar semangat, dan juga lelah, dalam mata para mujahidah itu. Subhanallah ... saya menyebut mereka sebagai 'mujahidah' bukan tanpa alasan. Mereka adalah para istri dan ibu yang masih bisa meluangkan waktu untuk berdakwah ke sana ke mari, sambil menjalankan tugas mereka di rumah masing-masing. Pergi mengisi pengajian sambil membawa satu atau dua orang anak, adalah hal biasa di Sengata. Bahkan sampai mengunjungi mereka yang tinggal di pinggiran, dengan jalur darat yang lumayan tak nyaman dan sulit ditempuh ketika cuaca buruk, atau banyak lagi hal yang sampai sekarang selalu menjadi penyemangat bagi diri saya sendiri. Saya banyak sekali belajar dari mereka semua. Dan pagi itu, menambah keistimewaan mereka di mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, pernyataan yang kemudian menjadi perbincangan serius pagi itu bukanlah sekadar keluh kesah belaka. Hal itu adalah gundah yang mungkin seringkali menggelayuti benak tiap perempuan yang memikul tanggung jawab berlipat-lipat. Menjadi seorang istri yang harus melayani kebutuhan suami dan anak-anak setiap hari, menjadi seorang ibu yang harus menggandakan kesabaran bagi tingkah laku anak-anak tercintanya, menjadi seorang karyawati atau wirausaha demi sebuah kemandirian ekonomi sekaligus peran ganda membantu suami mencari nafkah, menjadi seorang da'iyah karena itulah kewajiban asasi setiap diri kita: menyampaikan kebaikan pada siapapun juga sesuai kemampuan diri, menjadi anggota dan pengurus sebuah (atau dua buah) organisasi untuk membantu dakwah sekaligus menjadi sarana aplikasi kemampuan diri. Subhanallah. Tidak ada manusia super yang bisa mengerjakan itu semua dengan sempurna. Tidak ada. Jadi, gundah itu bukanlah sesuatu yang harus enyah dari diri mereka (dan kita semua), melainkan memerlukan sebuah pelipur yang dengan sangat mudah dan sederhana bisa dilakukan oleh seseorang yang bernama 'suami'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang lain berkomentar dengan nada geli:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Memang sih, abinya juga ngebantuin. Tapi ya gitu-gitu doang. Udah cuman sebentar, belum selesai dikerjakan dan anak rewel pastinya udah bilang: 'Mi, udahan belom sholatnya? Udah rewel nih.'"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua peserta terbahak mendengarnya. Ada yang benar-benar terbahak, ada yang sambil menghapus air mata, ada yang hanya senyum-senyum simpul. Pastilah. Semua mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, ketika membahas persoalan ini hanya dari sisi perempuan, tidak adil juga. Karena ternyata sudut pandang yang seringkali berbeda antara seorang perempuan dan laki-laki malah akan membawa pertengkaran tak berujung. Padahal intinya sama saja. Ketika si istri sedang gundah, dan mengharapkan suami hadir untuk menghiburnya, yang dimaksud dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;'menghibur'&lt;/span&gt; di sini bisa jadi adalah sebuah sikap manis yang ditunjukkan suami, disertai dengan kata-kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Subhanallah, Ummi/Bunda/Sayang (apapun sebutannya), hari ini pasti capek sekali, ya? Gimana tadi anak-anak? Sabar ya, Sayang ... semoga Allah memberimu ganjaran kebaikan yang banyak, ya. Sekarang, Abi/Ayah/Mas (apapun sebutannya) bisa bantu apalagi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja, pasti habis itu si istri langsung tersenyum, dan merasakan beban di hatinya hilang separuh. Karena ia merasakan 'kehadiran' sang suami untuknya, dan dukungan akan tugasnya yang berat sebagai ibu rumah tangga. Kadang, kelemahan memerlukan penyangga yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jika hal ini tidak dikomunikasikan (sayang sekali, komunikasi memang benar-benar penting dan diperlukan sampai kapanpun), maka yang terjadi bisa jadi adalah hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si suami pulang kerja, melihat si istri sedang gundah, wajahnya ditekuk walau kedua tangannya tetap sibuk. Saat itu, suami langsung menyadari bahwa istrinya sedang lelah dan ada yang sedang dipikirkan. Yang terlihat di matanya adalah kesibukan kedua tangan si istri, dan menurutnya cara untuk membuat istrinya tersenyum kembali adalah membantu pekerjaan rumahnya yang belum selesai. Maka ia pun langsung turun tangan: mencuci piring, menjaga anak-anak, membersihkan yang perlu dibersihkan, dan kesibukan itu berlanjut hingga waktunya keduanya telah lelah dan bersiap tidur. Si suami berpikir bahwa ia&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; telah banyak membantu dan menghibur&lt;/span&gt; istri tercinta (dan memang banyak yang sudah ia lakukan, atau bisa juga tidak), sedangkan si istri malah berang dan berpikir: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;suamiku ini tidak perhatian sekali&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kedua hal di atas ada yang salah? Saya rasa tidak. Tetapi kedua hal tersebut sangat berbeda. Berbeda sudut pandang, padahal tujuannya sama: ingin dibahagiakan, dan ingin membahagiakan. Tetapi, ujungnya bukanlah sebuah kebahagiaan. Karena apa? Tidak adanya komunikasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bermaksud menggeneralisasi semua peristiwa. Karena pastilah cerita yang dialami setiap pasangan berbeda-beda. Dan tentunya kebutuhan dari tiap istri dan suami tidak sama. Tapi, saya ingin mengatakan bahwa seringkali ketidakbahagiaan itu berawal dari persepsi yang tidak sama akan suatu hal. Dan hal ini bukannya tidak memiliki solusi, malah sebenarnya mudah sekali penyelesaiannya. Satu saja: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;luangkan waktu untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sedikit mengulas tentang keikhlasan yang disebutkan di atas&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;,&lt;/span&gt; mari kita luruskan suatu hal yang dinamakan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; 'pemahaman'.&lt;/span&gt; Karena yang mendasari segala perilaku adalah pemahaman kita akan hal-hal yang kita lakukan. Jika motivasi untuk melakukannya adalah niat beribadah dan ditujukan kepada Allah Swt semata, maka insyaallah hal itu akan menggiring kita untuk senantiasa memperbarui niat ikhlas kita setiap saat. Mengapa memperbarui? Karena manusia pastilah bisa saja khilaf dan tergoda hingga niat tersebut terkotori. Memahami bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, akan memperoleh ridho dari Allah Swt atau tidaknya, maka pemahaman itu akan membawa serta &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;keikhlasan&lt;/span&gt; dalam hati ini untuk senantiasa terjaga. Jika melenceng, kembali luruskan. Begitu seterusnya. Sesudah itu, maka apapun perbuatan kita, sepenuhnya akan menjadi deretan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;amal ibadah&lt;/span&gt; yang ditujukan untuk meraih keridhoan Allah Swt. Dan tentu saja, amal yang berlandaskan niat ikhlas adalah tabungan berharga untuk kita di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bukankah berumah tangga adalah ibadah kepada-Nya juga? Rumah tangga yang dilandasi oleh motivasi beribadah kepada-Nya, insyaallah akan dinaungi keberakahan, ketenangan, dan penuh rasa cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, lagi-lagi cinta. Memang betul, sungguh beruntung mereka yang memiliki cinta. Melakukan sesuatu dengan cinta, pasti akan terasa indah dan bermakna. Bukan begitu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7730414227590752353?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7730414227590752353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7730414227590752353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7730414227590752353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7730414227590752353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/berawal-dari-cinta.html' title='Berawal dari Cinta'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8607749161072238483</id><published>2009-09-14T13:01:00.002+07:00</published><updated>2009-09-14T13:09:44.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SALIMAH Kutim'/><title type='text'>SALIMAH Kutim Berbagi THR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sq3doZx4fzI/AAAAAAAAAHc/by2L_hfiHEo/s1600-h/all.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sq3doZx4fzI/AAAAAAAAAHc/by2L_hfiHEo/s320/all.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381200815962226482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (6/09) yang lalu, SALIMAH (Persaudaraan Muslimah) Kutim kembali mengadakan bakti sosial bertajuk SALIMAH Kutim Berbagi. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Baiturrahman (Panorama, Swarga Bara), sejak pukul 9 pagi hingga sebelum zuhur. Pengurus mengundang anak yatim, para janda, dan dhuafa lainnya sebagai peserta acara yang direkomendasikan oleh Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim maupun perorangan, yang mendapatkan santunan berupa sejumlah uang yang dibagikan pada masing-masing undangan tersebut. &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan yang menyertakan partisipasi donatur dari berbagai kalangan ini terlaksana dengan koordinasi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Panitia yang sekaligus merupakan pengurus SALIMAH Kutim mengupayakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pembagian jatah peserta. Jika di satu wilayah sudah menyertakan cukup banyak calon penerima santunan, maka ia tidak diperkenankan menambah kuota, melainkan harus diberikan kepada wilayah lain yang belum mendapatkan kesempatan. Panitia juga menerapkan aturan bahwa di hari H tidak lagi menerima peserta baru, tetapi pada kenyataannya ada satu dua orang yang akhirnya diterima padahal belum mendaftar sebelumnya. “Hal ini tidak akan terjadi lagi tahun depan, sebab kita harus konsisten dalam menerapkan aturan. Supaya adil bagi semua pihak.” Begitu komentar Ningsih, salah seorang panitia yang bertugas menjadi pembawa acara. Adapun peserta acara berasal dari wilayah Kampung Kajang, Kenyamukan, Jl Sangkima, dan sekitar Sangatta/Teluk Lingga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Total dana yang terkumpul dari berbagai sumber donatur adalah sebesar Rp 25.990.000,- dan telah terdistribusikan dalam 176 paket THR. Sebanyak 55 paket THR untuk janda tidak mampu, dan 121 paket THR untuk anak yatim dan fakir miskin lainnya. Acara berlangsung lancar, tidak ada kekisruhan yang tidak diinginkan, sebab seluruh undangan sangat kooperatif dan tertib mengikuti jalannya acara demi acara. Selain dihadiri oleh penerima santunan, acara ini juga dihadiri oleh beberapa orang perwakilan Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim dan juga perwakilan donatur sebagai saksi penyelenggaraan kegiatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengurus SALIMAH Kutim mengharapkan acara ini dapat dilakukan rutin setiap tahun, dengan jumlah donatur yang bertambah. Sehingga harta yang menjadi bagian dari hak fakir miskin dan anak yatim dapat tersalurkan dan mereka yang membutuhkan dapat merasakannya walau tak seberapa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8607749161072238483?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8607749161072238483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8607749161072238483' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8607749161072238483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8607749161072238483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/salimah-kutim-berbagi-thr.html' title='SALIMAH Kutim Berbagi THR'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sq3doZx4fzI/AAAAAAAAAHc/by2L_hfiHEo/s72-c/all.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-5166042099387981042</id><published>2009-09-09T10:25:00.002+07:00</published><updated>2009-09-09T11:04:58.183+07:00</updated><title type='text'>Ketinting</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sqcg0xcNwhI/AAAAAAAAAHM/-9TNIBWp2oM/s1600-h/Ketinting.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sqcg0xcNwhI/AAAAAAAAAHM/-9TNIBWp2oM/s320/Ketinting.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379304370914312722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini namanya 'ketinting' atau ada juga yang menyebutnya 'ponton'.  Alat transportasi air yang berfungsi 'memindahkan' orang atau barang dari sisi sungai yang satu ke sisi yang lain. Sungainya juga nggak lebar sih, tapi kadang katanya arusnya deras dan bisa 'makan korban'. Hiiiy... nggak tau bener apa nggak sih. Belum pernah naik (dan nggak akan mau naik kalau nggak terpaksaaaaa banget).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa di seberang sungai? Ada wilayah 'Sangatta Lama'. Rumah-rumah penduduk dan pasar. Pasar Sangatta Lama adalah tempat belanja yang termurah, karena jangkauannya juga jauh dari pusat kota. Tapi dulunya daerah Sangatta Lama inilah yang dinamakan kota Sangatta. Tapi semenjak banyak perkembangan, wilayah pusat kota beralih ke Sangatta Baru alias lokasi Swarga Bara dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinting ini lumayan populer di kalangan masyarakat Sangatta, dan menjadi sarana tercepat untuk menjangkau wilayah Sangatta Lama. Sebab jika harus menempuh jalan darat, harus memutar jauh dan tidak praktis bagi pengendara motor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-5166042099387981042?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/5166042099387981042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=5166042099387981042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5166042099387981042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5166042099387981042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/ketinting.html' title='Ketinting'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Sqcg0xcNwhI/AAAAAAAAAHM/-9TNIBWp2oM/s72-c/Ketinting.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-9035198059579421057</id><published>2009-09-09T10:03:00.003+07:00</published><updated>2009-09-09T10:25:20.658+07:00</updated><title type='text'>Padang Golf di Tengah Hutan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcbKLeCraI/AAAAAAAAAHE/aZZJYPuPHFQ/s1600-h/Golf+Course.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 251px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcbKLeCraI/AAAAAAAAAHE/aZZJYPuPHFQ/s320/Golf+Course.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379298141608783266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Padang Golf mini di tengah hutan :) ... lokasinya ya di sekitar wilayah Tanjung Bara (sekitar setengah jam dari pusat kota Sangatta). Biasanya yang bersantai sambil ayun-ayun stik golf adalah para pejabat KPC ... hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, hanya pernah sesekali menengok beberapa orang yang tengah asyik main golf di hari libur. Biasanya pagi-pagi sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-9035198059579421057?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/9035198059579421057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=9035198059579421057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/9035198059579421057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/9035198059579421057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/padang-golf-di-tengah-hutan.html' title='Padang Golf di Tengah Hutan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcbKLeCraI/AAAAAAAAAHE/aZZJYPuPHFQ/s72-c/Golf+Course.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7356797668112281014</id><published>2009-09-09T09:56:00.002+07:00</published><updated>2009-09-09T10:03:07.183+07:00</updated><title type='text'>Welcome to Tanjung Bara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcZqNOJBhI/AAAAAAAAAG8/z6XCj3dNc6U/s1600-h/BandaraTanjung+Bara015.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcZqNOJBhI/AAAAAAAAAG8/z6XCj3dNc6U/s320/BandaraTanjung+Bara015.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379296492811519506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bandar udara Tanjung Bara, Sangatta. Satu-satunya 'tempat singgah' pesawat seukuran Airfast yang lagi nangkring itu. Bangunan yang atapnya bertulisan 'Tanjung Bara' itulah 'airport'nya ... hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, barangsiapa yang ingin mengunjungi Sangatta, ia harus berangkat dengan pesawat dari daerahnya masing-masing menuju Balikpapan (Bandara Sepinggan), lalu dari situ naik pesawat Airfast ini ke Tanjung Bara. Jarak tempuh dari Sepinggan ke Tanjung Bara adalah 1 jam. Lumayan lelah ya? Total perjalanan dari Jakarta-Sangatta adalah 3 jam di udara. Fiuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandara Tanjung Bara ini padat sekali dengan jadwal penerbangan terbatasnya. Maksimal penumpang dalam satu kali penerbangan adalah 20 orang, dan tentunya diutamakan karyawan PT Kaltim Prima Coal atau keluarganya. Untuk saat ini, sepertinya hanya satu buah pesawat ini saja yang menjadi andalan semua orang yang ingin bepergian dari Tanjung Bara. Adakah alternatif lain? Ada. Jalur darat, melewati jalanan Sangatta-Bontang, lalu menuju Samarinda atau Balikpapan, atau wilayah lain yang ingin dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah Sangatta, dengan terbatasnya akses jalan dan sarana transportasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7356797668112281014?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7356797668112281014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7356797668112281014' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7356797668112281014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7356797668112281014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/welcome-to-tanjung-bara.html' title='Welcome to Tanjung Bara'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcZqNOJBhI/AAAAAAAAAG8/z6XCj3dNc6U/s72-c/BandaraTanjung+Bara015.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4872028683066267233</id><published>2009-09-09T09:49:00.001+07:00</published><updated>2009-09-09T09:54:56.861+07:00</updated><title type='text'>The Beauty of Aquatic</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcYeoFWLSI/AAAAAAAAAG0/Dtm0tgJfik0/s1600-h/Aquatic.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcYeoFWLSI/AAAAAAAAAG0/Dtm0tgJfik0/s320/Aquatic.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379295194352332066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hmm ... keren ya? Ini pemandangan sebuah kapal pengangkut yang diambil dari pantai Aquatic, Tanjung Bara, Sangatta. Pantai? Di Sangatta emang ada pantai? Hehehe ... ada. Salah satunya ya Aquatic ini. Nggak besar sih, tapi cukup sebagai salah satu tempat hiburan keluarga. Ini pemandangan waktu malam hari pastinya, ya. Indah dengan kerlap-kerlip lampu dari kapal itu. Kapal pengangkut apa? Ya, batubara lah! Hehehe...padahal sok tau aja nih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4872028683066267233?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4872028683066267233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4872028683066267233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4872028683066267233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4872028683066267233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/09/beauty-of-aquatic.html' title='The Beauty of Aquatic'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SqcYeoFWLSI/AAAAAAAAAG0/Dtm0tgJfik0/s72-c/Aquatic.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-3676655328198756583</id><published>2009-08-27T20:58:00.002+07:00</published><updated>2009-08-27T21:12:12.610+07:00</updated><title type='text'>Demi Sebuah Cinta</title><content type='html'>Malam ini melewatkan sebuah momen yang sudah saya nantikan sejak tadi pagi. Momen yang seharusnya bisa membangkitkan kembali kenangan masa SMA dan kuliah dulu. Duduk rapi, pegang pulpen dan buku tulis siap terbentang di hadapan, manggut-manggut sambil terpesona dengan penjelasan demi penjelasan si pemateri. Saya begitu merindukannya. Selepas itu, hati dan pikiran jadi segar, seolah terguyur embun yang menyejukkan. Istilah kerennya: habis nge-charge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta ijin dengan sangat berat hati, hampir menangis bahkan. Semua padahal sudah siap: gembolan isi baju anak-anak, snack, buku-buku yang diperlukan, diapers, lengkap. Keduanya juga sudah siap dengan 'baju perang' masing-masing. Detik demi detik berlalu, pukul sembilan malam. Saya melirik cemas, kurcaci-kurcaci itu mulai kuyu. Dan beberapa menit setelah sedikit rewel mereka tertidur di kamar. Saya agak cemas, akankah batal lagi? Hiks ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali ada momen seperti ini. Si pemateri pun bukan sembarang orang. Dan yang paling penting adalah: saya butuh charger yang super oke saat ini! Pikiran saya campur aduk, dan mulai menghubungi seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jiwa yang terus menerus dibiarkan lesu lama kelamaan akan tumpul dan mandul. Tapi ia yang terasah dan terpakai tanpa henti pun perlu waktu sejenak untuk menyegarkan diri kembali. Yang terus terpakai tanpa perawatan akan aus, dan bisa-bisa jadi tak bisa dipakai lagi. Bukankah setiap hal perlu keseimbangan? Memberikan lebih, maka asupannya juga musti lebih. Begitulah kira-kira alam pikiran saya berandai-andai. Andaikan semua tertata dengan rapi, andaikan semua berjalan seiring sejalan, andaikan semua seimbang rata ... tapi di dunia ini tidak ada satu pun yang sempurna. Yang baik pasti terselip kekhilafan juga. Namanya saja sekumpulan manusia, bukan para malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untungnya kemarin sore saya mendapatkan beberapa menit siraman itu, walaupun tidak sedahsyat yang diadakan malam ini sepertinya. Tapi cukuplah membuat saya kembali kepada kesadaran semula. Bahwa setiap hal yang diperoleh pasti akan lebih berharga jika tertoreh sebuah pengorbanan penuh cinta di sana. Dan semoga inilah yang sedang saya lakukan. Berkorban demi sebuah cinta dan ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk mendekati-Mu lebih saat ini,&lt;br /&gt;Ampunilah setiap khilaf yang mengotori hati dan pikiranku hari ini, hari kemarin, dan hari-hari mendatang ...&lt;br /&gt;Berkahilah kami dengan cinta dan kasih sayang-Mu,&lt;br /&gt;hingga yang tersisa hanyalah ketaatan dan kesadaran penuh untuk berpasrah diri kepada-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk melakukan lebih dari yang kulakukan saat ini,&lt;br /&gt;Berikanlah jalan bagiku dan bagi keluargaku untuk senantiasa taat dan patuh pada setiap perintah-Mu, mengikuti sunnah Rasul-Mu, dan berada pada jalan yang lurus bersama orang-orang yang Engkau ridhoi,&lt;br /&gt;hingga Hari Akhir nanti.&lt;br /&gt;Aamiiin ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~with tears, to my beloved ones, here and everywhere~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-3676655328198756583?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/3676655328198756583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=3676655328198756583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3676655328198756583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3676655328198756583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/08/demi-sebuah-cinta.html' title='Demi Sebuah Cinta'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-489274228286666763</id><published>2009-08-26T12:34:00.002+07:00</published><updated>2009-08-26T13:18:18.900+07:00</updated><title type='text'>Biar Anak Belajar Mandiri</title><content type='html'>Suatu pagi, saya kembali menemani Firna sekolah di salah satu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di daerah Lembah Hijau, Sengata. Seperti biasa, saya langsung bergabung dengan para bunda yang sedang repot membujuk anaknya untuk masuk kelas, atau yang sedang mengerjakan pernak-pernik persiapan karnaval kemerdekaan, atau yang sambil mengasuh adik kecil si sulung yang berlarian ke sana ke mari. Repot yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pastinya sibuk mengamati tingkah polah Firna dan teman-temannya, tapi kali itu yang jadi perhatian saya bukan Firna seorang, melainkan para bunda dan reaksi mereka terhadap tingkah anak-anaknya. Saya banyak sekali belajar dari mereka, bahwa kemandirian anak akan terbangun atau tidak terbangun karena sikap orang tuanya juga. Namanya anak usia 2 sampai 3 tahun, perkara menempel terus pada ibunya pasti hal biasa. Tapi jika berada di lingkungan sekolah yang penuh hal-hal menarik dan teman-teman sebaya ia masih bersikap demikian, maka tindakan si ibu akan menentukan keberaniannya. Dan pastinya sikap satu anak akan menular ke anak yang lain. Jika ada seorang bunda yang bolak-balik masuk ke dalam kelas, terlalu khawatir dengan anaknya yang padahal sedang asyik mengikuti pelajaran, maka bisa dipastikan anak yang lain pun akan merengek meminta bundanya ikut masuk ke dalam. Atau malah para bunda yang berada di luar ikutan masuk karena ikut-ikutan khawatir dengan keadaan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya memerhatikan kondisi tersebut, dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam. Saya melirik sebentar dari jendela, Firna menoleh dan melihat saya, lalu ia berteriak kencang, "Bundaaaaaa ...!!!" Saya cepat-cepat pergi dari jendela, dan duduk bersama bunda-bunda lainnya. Teriakan Firna masih terdengar selama beberapa saat, tapi tidak saya hiraukan. Seorang bunda menegur saya sambil tertawa,"Memang begitu, mbak, makanya nggak usah ditengok-tengok. Mereka nggak mandiri nantinya." Saya nyengir lebar dan kami pun asyik mengobrol ini-itu. Perilaku yang satu menjadi pelajaran bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memutuskan untuk menyekolahkan Firna di PAUD, saya mempertimbangkan kondisi anak itu sendiri. Firna sudah bisa memakai dan melepas baju sendiri, memakai dan melepas sepatu dan kaos kaki, sudah paham instruksi ini-itu dan selalu ingin terlibat di semua aktivitas saya di rumah. Tapi kemandirian Firna harus dilengkapi dengan kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Ini yang masih lemah, apalagi Firna memiliki seorang adik yang jarak usianya tak jauh. Firna sempat cenderung egois, kurang bisa berbagi, dan dominan sekali di rumah. Menempatkannya di lingkungan teman sebaya mungkin akan sedikit mengubah hal-hal tersebut. Tapi, sekali lagi, tidak ada yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan minimnya pengetahuan saya, saya berusaha membahas setiap kejadian penting di sekolahnya, dan mengembalikan kepada diri Firna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Firna, tadi di sekolah lihat ada teman yang nangis, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Iya, Bunda, tadi teman nangis, Loh!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kenapa dia nangis?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Tadi teman pukul ..." (maksudnya nangis karena dipukul teman yang lain)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kalau Firna gimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Firna nggak boleh pukul teman ya, main sama-sama, kalau pukul teman nanti teman nangis, Loh!" (ini kalimat khas Firna, diulang-ulang setiap kali melihat kejadian yang sama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ketika waktu pulang sekolah, Firna langsung ngeloyor pergi tanpa salim dan pamit dengan Bunda Guru (sebutan untuk para guru di PAUD-nya). Pasti saya akan mengajak Firna masuk kembali ke dalam kelas, dan menyalami satu per satu gurunya. Tanpa diperlakukan begitu, anak mungkin akan menganggap hal itu bukan sesuatu yang penting. Walaupun harus berlarian dulu mengejar Firna yang sudah sibuk dengan ayunan dan perosotannya, atau harus membujuk-bujuk begitu lama karena ia sudah ingin pulang. Yang lain mungkin melihat, kok ibu ini repot sekali sih, tapi saya tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terngiang saat pertemuan orang tua murid dengan kepala PAUD. Pesan-pesan beliau singkat saja namun jelas. Yang membuat anak tidak mandiri dan bersikap negatif di sekolah adalah lingkungan terdekatnya. Tentu maksudnya orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud untuk terlalu perfeksionis, kita memang harus berusaha keras untuk mendidik anak sebaik mungkin. Gagal dan berhasil itu hal yang sangat wajar. Bagaimanapun hasilnya, semoga yang terbaik, utamakan saja prosesnya supaya optimal. Jangan menganggap anak tidak mengerti apa yang diajarkan walau usia mereka masih sangat muda. Semakin muda kebaikan ditanam, ia akan dengan sendirinya membentuk akhlak si anak nantinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-489274228286666763?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/489274228286666763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=489274228286666763' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/489274228286666763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/489274228286666763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/08/biar-anak-belajar-mandiri.html' title='Biar Anak Belajar Mandiri'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7619265475227381919</id><published>2009-08-26T10:53:00.004+07:00</published><updated>2009-08-26T12:11:48.687+07:00</updated><title type='text'>Menulis dan Mencerahkan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpS534IIeYI/AAAAAAAAAGk/mokT4l8FL9E/s1600-h/FLP-pengurus1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 275px; height: 187px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpS534IIeYI/AAAAAAAAAGk/mokT4l8FL9E/s320/FLP-pengurus1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374124624970283394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru selesai baca tulisannya mbak Sinta Yudisia di milis FLP. Fiuh ... jadi mau terharu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kembali motivasi saya dalam menulis, untuk apa sebenarnya? Sebagai pembuktian bakat, atau ajang curhat alias ember perasaan, latihan pencerdasan emosi, cari penghasilan tambahan, atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, saya masih ingat, betapa saya terkesan dengan sebuah cerita pendek karya Helvy Tiana Rosa (yang menurut saya 'cerpen abadi' hehe) yang bisa membuat pembaca tersadar dan bergiat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Atau cerpen-cerpen karyanya yang bertahun-tahun tersebar di berbagai media, yang mengetengahkan konflik yang sedang terjadi, ataupun kisah sehari-hari. Helvy Tiana Rosa salah satu penulis favorit saya pastinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keinginan saya beberapa tahun silam (sampai-sampai saya jadikan salah satu resolusi tahunan yang harus dicapai), yang saya buat tahun 2002 dan baru tercapai pada tahun 2004: menjadi anggota Forum Lingkar Pena. Hehehe ... agak konyol, ya? Tapi bagi saya, organisasi yang satu ini begitu memikat hati, sebab memang sejak lama sekali saya ingin menjadi bagian darinya (mungkin sejak akrab dengan majalah ANNIDA sejak tahun 1998), dan berjanji dalam hati bahwa saya harus bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bagian dari FLP cabang Bekasi adalah awalnya. Bertemu teman-teman baru yang lucu, sama-sama mendirikan kembali FLP Bekasi, berjuang dengan anggota yang datang dan pergi (dan kini makin berkibar tampaknya...congrats FLP Bekasi :) ) dan akhirnya hijrah ke FLP cabang Sengata tahun 2006. Menjadi bagian dari FLP pastinya berpengaruh besar bagi aktivitas menulis yang saya lakukan. Kala merasa malas, maka pertemuan dengan teman-teman di FLP akan mencambuk kembali diri saya untuk aktif berkarya. Kala merasa puas dengan hasil karya yang diterbitkan, maka bertemu dengan sekumpulan penulis muda dan hebat di FLP akan menjadi teguran keras bagi saya bahwa apa yang sudah saya lakukan belumlah apa-apa. Saya masih harus banyak belajar, dan menjadi penulis yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bukan juga menjadi pelampiasan emosi semata, apalagi hanya untuk sebuah popularitas. Menulis untuk dakwah, adalah visi yang harus selalu tertanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang percakapan maya dengan Afifah Afra dua hari lalu (tepatnya menjelang subuh),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;afra: lagi nerusin buku kedua dari tetralogi De Winst, sudah hampir setahun belum kelar (kira-kira begitu isinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun menulis novel? Wow, hebat sekali. Pikir saya waktu itu. Dan mbak Afra menceritakan tentang begitulah konsekuensi dari mempertahankan idealismenya. Saya tahu, beliau adalah seorang penulis yang rajin sekali riset mendalam untuk sebuah tulisan yang pastinya apik. Setahun yang produktif, dan mungkin seluruhnya efektif. Kalau saya? Ya iya sih, merampungkan novel dalam kurun tahunan juga, tapi bolong karena malas, nggak sempat, nyicil nggak kelar-kelar, dan riset seadanya. Jauuuh...deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpTCc7bpmnI/AAAAAAAAAGs/SZF656-3LYY/s1600-h/talkshow-cdm2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpTCc7bpmnI/AAAAAAAAAGs/SZF656-3LYY/s320/talkshow-cdm2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374134057605634674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tadi pagi, soulmate saya (predikat ini Ganjar Widhiyoga yang memberikan) menelpon dari Yogyakarta, dan bisa ditebak, kami berbincang hampir sejam untuk berbagai hal yang sedang melintas di kepala kami. Mengenai FLP juga, dan yang lain-lain. Ide untuk merintis hubungan harmonis antara FLP Kaltim dengan dunia sastra di Kaltim, mengenai perbaikan kualitas FLP Sengata, dan banyak lagi. Namanya Nurika Nugraheni, dulu saya mengenalnya secara maya juga via Yahoo Messenger, lalu bertemu di Munas ke 1 FLP tahun 2005, dan secara mengejutkan tahun 2007 kalau tidak salah ia menjadi penghuni Sengata mengikuti suami tercintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLP dan dunia menulis saya sudah memberikan banyak sekali warna dalam kehidupan saya bertahun-tahun ini. Kalau belajar tidak pernah mengenal waktu, maka sama saja dengan menulis. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki yang sudah dilakukan. Bukankah dengan menulis kita bisa mencerahkan umat? Ya, tentu tergantung apa yang ditulis :) dan jiwa setiap penulis ada dalam tulisannya. Begitulah yang saya yakini. Menulis untuk dakwah, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada lingkungan, kepada umat ini. Jika saya tak mampu memberikan lebih pada umat ini, setidaknya tulisan saya semoga bisa mencerahkan hati yang membaca. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7619265475227381919?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7619265475227381919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7619265475227381919' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7619265475227381919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7619265475227381919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/08/menulis-dan-mencerahkan-hati.html' title='Menulis dan Mencerahkan Hati'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpS534IIeYI/AAAAAAAAAGk/mokT4l8FL9E/s72-c/FLP-pengurus1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4665021695982620437</id><published>2009-08-25T12:35:00.005+07:00</published><updated>2009-08-25T13:04:28.429+07:00</updated><title type='text'>Something about Firna (part two)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpN-1WddvoI/AAAAAAAAAGc/lB8rp-zAymE/s1600-h/IMG0005A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpN-1WddvoI/AAAAAAAAAGc/lB8rp-zAymE/s320/IMG0005A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373778235410464386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa seorang anak kecil adalah 'penyerap yang luar biasa hebatnya'. Makanya jangan heran jika suatu ketika mereka mengatakan sesuatu yang mengejutkan, padahal mereka baru mendengarnya sekali atau dua kali saja. Hal ini sudah terjadi berkali-kali pada Firna, anak saya, dan setiap kali yang ia sebutkan adalah hal yang tidak baik (yang mungkin ia dengar dari orang lain, dari televisi, maupun ayah dan bundanya) saya harus segera memperbaikinya. Segera. Sebab jika dibiarkan, anak akan menganggap bahwa hal tersebut boleh-boleh saja dikatakan. Atau bahkan, jika kita mendengarnya lalu tertawa geli, ia mungkin akan berpikir bahwa hal itu hal baik sebab reaksi orang dewasa di sekitarnya adalah reaksi yang ia anggap positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saya dan suami sedang menonton berita di salah satu stasiun televisi, dan kebetulan hari itu (secara berulang-ulang hingga membosankan) dikabarkan seorang yang dianggap fenomenal telah meninggal, namanya Mbah Surip. Terus terang saja, akhir-akhir ini saya memang membatasi tontonan televisi apalagi pada waktu pagi hingga malam ketika anak-anak sedang bermain. Jadi, malam itu adalah kali pertama saya mengetahui ada seorang Mbah Surip yang mendadak kaya raya dengan lagunya yang fenomenal  (tapi menurut saya sih syairnya "nggak penting banget").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, ini toh lagunya," gumam saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firna yang kala itu sedang makan malam dengan ayahnya tiba-tiba nyeletuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak gendong, ke mana-mana ..." dengan raut tanpa ekspresi dan wajah menunduk menatapi piringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja saya melirik suami yang nyaris terbahak, saya pun hampir tertawa mendengar Firna menggumamkan lagu tersebut, lalu ia menatap wajah saya dan suami sambil tersenyum. Saya hafal betul, saat itu Firna menantikan reaksi kami. Bila kami tertawa, ia akan ikut tertawa dan terus akan mengulang-ulang lagu tersebut. Ia seakan meminta 'persetujuan' bahwa kalimat baru yang ia hafal adalah lagu yang boleh ia nyanyikan. Sebelumnya suami saya memang sudah cerita, bahwa ketika mereka menonton berita yang menayangkan meninggalnya penyanyi gaek itu, Firna langsung bisa menghafal lagunya. Mungkin karena liriknya yang ear-catching atau entah apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Firna, tidak usah nyanyi lagu itu ya. Itu lagu nggak bagus." tukas saya dengan tegas. Ayahnya mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo lagu bintang kecil, boleh?" tanya Firna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kalau lagu bintang kecil boleh. Lagu balonku juga boleh." kata saya, lega. Setelah itu Firna mengulang-ulang lagu bintang kecil, balonku, dan lagu-lagu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah setelah itu Firna lupa dengan lagu fenomenal itu? Tentu tidak. Hari-hari berikutnya ia sekali dua kali mengatakan bait pertama lagu itu, dan bertanya pada saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda, nggak boleh lagu 'pak gendong' ya? Kalau lagu Kakak Mia, boleh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah Firna. Alhamdulillah, ia memang tidak merekam keseluruhan lagu itu karena memang kecelakaan kecil ketika ia mendengarnya pertama kali langsung kami alihkan. Tetapi, bagaimanapun ia bisa sewaktu-waktu mengingatna bila ada stimulusnya. Di sinilah pentingnya kesabaran dan konsistensi kami untuk menjaga Firna dari faktor buruk lingkungan, terutama televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya sayangkan adalah, tayangan berita (yang selama ini menurut saya relatif aman untuk ditonton) pun bisa memberi dampak buruk bagi anak-anak. Apabila memang tayangan beritanya seperti itu contohnya. Belum lagi jika yang dipublikasikan adalah soal perselingkuhan anggota dewan, artis yang terjerat narkoba atau sedang stres, dan sebagainya. Ya, peran orang tua memang besar sekali untuk mendampingi dan menjelaskan apapun pada anak-anak kita. Jangan sampai mereka merekam hal yang tidak baik, dan kemudian melakukan hal yang tidak baik pula. Na'udzubillah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal ini, pandangan setiap orang pasti berbeda-beda. Tapi bagi saya, bersusah payah sejak dini tentu sangat penting jika kita peduli pada perkembangan anak-anak kita. Tidak ada yang sempurna memang, tapi bukan berarti kita akan lelah dan putus asa dalam berusaha, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4665021695982620437?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4665021695982620437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4665021695982620437' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4665021695982620437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4665021695982620437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/08/something-about-firna-part-two.html' title='Something about Firna (part two)'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SpN-1WddvoI/AAAAAAAAAGc/lB8rp-zAymE/s72-c/IMG0005A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4915601285947683742</id><published>2009-08-11T20:30:00.003+07:00</published><updated>2009-08-11T20:54:58.812+07:00</updated><title type='text'>Something about Firna :)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SoFzSBtefPI/AAAAAAAAAGE/h86UiPEE638/s1600-h/IMG0148A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 248px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SoFzSBtefPI/AAAAAAAAAGE/h86UiPEE638/s320/IMG0148A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368698984336358642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini Firna sangat bisa diandalkan. Nggak pernah lagi 'gangguin' adek Fakhry sampai nangis, selalu semangat bantuin bunda jaga adek (walaupun kalau adeknya tetep aja nangis gara-gara ditinggal bunda jemur baju atau mandi akhirnya Firna bengong aja terus asyik sendiri), bantuin bunda rapikan baju ke dalam lemari, dan sederet hal-hal kecil yang rasanya jadi pelajaran baru setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak sudah pasti butuh kesabaran, setiap orang tua pasti paham. Tapi kesabaran yang saya maksud di sini adalah sabar untuk memperhatikan hasil dari didikan yang kita lakukan pada mereka. Jangan pernah berharap sekali atau dua kali mengajarkan sesuatu pada anak kemudian langsung dipahami dan diikuti. Butuh waktu, butuh berkali-kali mencoba, dan akhirnya ketika si anak melakukannya sudah pasti senang sekali hati ini rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, Firna memiliki kebiasaan baru yang sangat tidak saya inginkan, yaitu berteriak dan membentak. Menurut berbagai sumber, anak usia dua tahun bisa dikatakan sedang dalam masa 'terrible years'. Wah, saya terus terang tidak menyangka akan sesulit itu menghadapi kondisi tersebut. Kuping juga lama-lama panas mendengar seorang anak kecil yang tiba-tiba hobi berteriak-teriak dan menghardik setiap orang. SETIAP ORANG. Ini nggak bisa dibiarkan. Saya pun mencari cara, putar otak, trials dan errors, dan akhirnya ketemu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, ketika akan memandikan Firna, saya mendapatinya melakukan kedua hal itu lagi. Dan saya langsung menghampirinya, menatap lurus padanya dan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Firna, kalau Firna membentak, teriak-teriak, atau nakal sama adek, Firna duduk di kursi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakannya tegas-tegas, sambil menunjuk ke arah 'kursi hukuman' yang sudah lama saya berlakukan pada Firna. Reaksinya? Bisa ditebak. Ia teriak-teriak dan membentak saya. Ini dia. Saya langsung mengangkatnya, dan mendudukkannya di kursi itu. Ia berteriak lagi, membentak lagi, saya tinggalkan. Selama sekitar dua menit saja. Ia masih berteriak-teriak ditambah menangis. Tapi tidak turun dari kursi. Karena hukuman 'duduk diam di kursi' sudah ia pahami sejak lama. Cara itu efektif untuk Firna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat ya, Firna. Kalau Firna membentak, teriak-teriak, atau nakal sama adek, Firna dihukum di kursi ini." tegas saya lagi setelah waktu 'hukumannya' selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia langsung menurut. Tentu saja tidak. Setelah tiga atau empat hari, baru saya mendapatinya berubah. Ketika ia mulai akan berteriak, saya langsung mengingatkannya tentang 'perjanjian' itu, dan ia tidak jadi berulah. Begitu terus selama beberapa waktu, sampai Firna benar-benar paham bahwa saya serius dengan larangan itu. Ini bukan masalah sepele, ini salah satu bagian dari mendidik kesopanan dalam sikap dan perkataannya. Setidaknya ini menurut saya. Membentak dan berteriak pada orang tua bukan suatu hal yang patut ditolerir, juga kepada siapapun sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SoF2qChLspI/AAAAAAAAAGM/He02N74Eog8/s1600-h/IMG0057A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 202px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SoF2qChLspI/AAAAAAAAAGM/He02N74Eog8/s320/IMG0057A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368702695404974738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya satu peristiwa dengan putri kecil saya yang ceriwis itu. Kali lain saya mendapat sebuah pelajaran, bahwa otak seorang anak kecil memang benar-benar jernih, hingga saking jernihnya dapat menyerap apapun dengan begitu cepat. Kita sebagai orang tua hanya perlu bersabar dan tidak pernah bosan mengajarkan mereka. Berulang-ulang diucapkan (atau dinyanyikan), sampai mereka menghapalnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firna anak yang cerdas musik. Apapun yang saya sampaikan dalam bentuk nyanyian akan dilahapnya. Sekarang malah ditambah menari. Geli kadang-kadang melihatnya megal-megol menirukan instruksi di film Sesame Street yang sering ditontonnya. Tapi yang membahagiakan adalah ketika Firna sudah mulai hapal huruf-huruf hijaiyah (ada beberapa huruf yang ia nggak tau menyebutnya gimana), dan dua buah doa pendek. Optimis dan bersabar! Pasti anak-anak kita bisa menyerap kebaikan sebanyak-banyaknya, asalkan kita sebagai orang tua mampu dan yakin bahwa kita bisa mengajarkannya pada mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4915601285947683742?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4915601285947683742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4915601285947683742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4915601285947683742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4915601285947683742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/08/something-about-firna.html' title='Something about Firna :)'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SoFzSBtefPI/AAAAAAAAAGE/h86UiPEE638/s72-c/IMG0148A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2941780191046056469</id><published>2009-07-14T20:11:00.003+07:00</published><updated>2009-07-14T20:35:14.388+07:00</updated><title type='text'>Yang Kuat dan Lemah</title><content type='html'>Terkadang, ketika iman sedang lemah, sebagai seorang manusia kita semua butuh penyangga. Supaya kondisi hati yang sedang rapuh tak lekas merubuhkan pertahanan diri dari hal-hal yang tidak baik. Namanya saja manusia, makhluk yang seringkali sombong padahal ia punya segudang kelemahan. Tak mungkin seorang manusia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, dan lebih tak mungkin lagi seorang manusia mengesampingkan peran Sang Pencipta dari kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, kita juga sering tidak menyadari, bahwa orang terdekat kita selalu memberikan cinta dan sayangnya dalam berbagai bentuk. Mungkin tidak dengan cara yang spektakuler, mungkin tidak dengan sesuatu yang paling kita inginkan, mungkin tidak banyak hingga tak diketahui. Tetapi apakah itu berarti kita bisa meragukannya? Bukankah tak adil jika menyamaratakan seseorang dengan seseorang lainnya? Padahal orang-orang terdekat kita, keluarga kita, adalah tempat berpulang yang paling nyaman. Tetapi seringkali keegoisan dan emosi tak terkendali yang berasal dari diri kita sendiri mengaburkan semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelemahan-kelemahan sifat manusia, sebenarnya terdapat celah untuk saling menguatkan satu sama lainnya. Kelemahan dari yang satu bisa ditutupi oleh kekuatan yang lainnya. Manusia yang satu bisa menjadi penolong bagi yang lainnya. Di atas semua itu, tentu yang Maha Kuasa puncak segalanya. Bagaimana bisa seorang hamba yang lemah mengaku adikuasa untuk menjadi penolong yang lainnya tanpa kehendak dan ketentuan dari Allah SWT? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seperti sebuah pelangi yang menceriakan isi bumi,&lt;br /&gt;Manusia punya rasa rindu yang terkadang seperti mimpi,&lt;br /&gt;Tak usah risau pada mereka yang meneriakkan cinta seperti guruh,&lt;br /&gt;atau pada mereka yang lantang meminta cinta datang kembali padanya,&lt;br /&gt;Ke mana pun cintamu berlabuh,&lt;br /&gt;seharusnya hanyalah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(menyudahi rasa gundah, ayo tersenyum kembali!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2941780191046056469?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2941780191046056469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2941780191046056469' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2941780191046056469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2941780191046056469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/07/yang-kuat-dan-lemah.html' title='Yang Kuat dan Lemah'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-1426792659164735551</id><published>2009-07-10T11:34:00.003+07:00</published><updated>2009-07-10T12:08:29.117+07:00</updated><title type='text'>Rihlah SALIMAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SlbIth9EUKI/AAAAAAAAAF8/3ZQiD3P73vo/s1600-h/IMG0081A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SlbIth9EUKI/AAAAAAAAAF8/3ZQiD3P73vo/s320/IMG0081A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356689491337957538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SlbItQCD3TI/AAAAAAAAAF0/kAE4KKnYzuc/s1600-h/IMG0075A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SlbItQCD3TI/AAAAAAAAAF0/kAE4KKnYzuc/s320/IMG0075A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356689486527061298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rihlah SALIMAH Kutim pertama kalinya. Cuaca pagi itu memang kurang mendukung, hujan deras sejak semalaman, dan pagi-pagi gerimis hingga mendekati waktu pelaksanaan acara. Untungnya tinggal di Sengata, jarak ke mana-mana tak terhalang macet atau lamanya waktu perjalanan karena jarak yang ditempuh tak seberapa. Dalam waktu setengah jam saja bisa sampai ke ujung Sengata. Tapi, alhamdulillah, sebagian besar pengurus bisa hadir, beserta suami dan anak-anaknya. Tak ramai, tapi cukup menghangatkan rihlah perdana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun berlangsung sederhana. Dimulai dengan sedikit sambutan dari ibu Sundari selaku PJS Ketua SALIMAH Kutim, dilanjutkan dengan serah terima jabatan bendahara (dari mbak Mugi Suhartini beralih ke mbak Wiwik Budiati). Bendahara kita itu akan bertolak ke Palangkaraya untuk melanjutkan studi. Selanjutnya, games. Games ringan yang memunculkan kesegaran dan tawa ringan di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakhiri dengan makan siang bersama, dan semoga semangat baru menyentuh setiap diri kami. Bagaimanapun, SALIMAH Kutim terus dibutuhkan keberadaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-1426792659164735551?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/1426792659164735551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=1426792659164735551' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1426792659164735551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1426792659164735551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/07/rihlah-salimah.html' title='Rihlah SALIMAH'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SlbIth9EUKI/AAAAAAAAAF8/3ZQiD3P73vo/s72-c/IMG0081A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7690136171909693433</id><published>2009-07-07T09:34:00.002+07:00</published><updated>2009-07-07T09:50:15.285+07:00</updated><title type='text'>Rindu</title><content type='html'>Rasanya beberapa hari ini lelah fisik dan pikiran. Seringkali karena jenuh. Jenuh terhadap apa? Banyak hal. Banyak hal yang sulit untuk diubah menjadi lebih baik. Atau saya yang kurang berupaya lebih keras lagi untuk mengubahnya menjadi lebih baik? Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar Jakarta?&lt;br /&gt;Rindu sekali. Rindu dengan aneka ragamnya orang-orang di sana. Dengan berbagai ide dan pikiran yang meluaskan wawasan saya. Yang juga bisa membuat saya menangis haru atau tertawa gembira. Mereka yang selalu mengisi ruang kosong di hati saya: teman-teman lama di sekolah dan kampus. Saya rindu sekali dengan kalian. Rindu dengan bagaimana kita dulu sering bergandengan tangan mengerjakan sesuatu yang kita yakini sebagai sebuah amal soleh. Rindu akan segala hal yang dulu bisa membuat mata dan pikiran saya terbuka lebar. Selebar ruang Jakarta yang menerima berbagai kesibukan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar Bintaro?&lt;br /&gt;Walau hanya 'singgah' selama 6 bulan di sana, tetapi secuil kenangan manis membekas sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada waktu untuk bermalasan. Akhir tahun tinggal beberapa bulan lagi. Saya menantikan bulan Januari :) bismillah ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7690136171909693433?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7690136171909693433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7690136171909693433' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7690136171909693433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7690136171909693433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/07/rindu.html' title='Rindu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-6330497007872456746</id><published>2009-06-27T22:43:00.001+07:00</published><updated>2009-06-27T22:45:54.528+07:00</updated><title type='text'>Mencari Kesempurnaan</title><content type='html'>Manusia sampai kapanpun tidak pernah akan menjadi sempurna. Dan seorang manusia lebih tidak mungkin lagi mampu membuat manusia lain menjadi sempurna, sesuai keinginannya. Dua kalimat itu patut saya pancangkan dalam-dalam di hati ini. Sebab seringkali kemauan pribadi mengalahkan realita yang ada. Dan akhirnya ujung yang ditemui adalah kekecewaan semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menemukan seseorang yang merasa dirinyalah yang paling sempurna, yang selalu bisa berbuat apa saja, dan orang lain selalu berbuat salah di matanya, maka di saat itulah tampak ketidaksempurnaannya. Bahwa ia merasa dirinya lebih penting dibandingkan yang lainnya, merasa lebih bisa, dan segala hal yang akhirnya berujung kepada satu hal yaitu: kesombongan. Karena, sekali lagi, manusia sampai kapanpun tidak pernah bisa menjadi sempurna. Kecuali satu orang saja, seseorang yang mulia dan telah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang, yang mendapat koreksi langsung dari Allah Swt untuk kekhilafannya. Muhammad Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Suatu ketika, saya mendapatkan cerita dari seorang teman tentang pengalamannya mengikuti sebuah forum diskusi terbatas. Ia mengatakan bahwa saat itu adalah waktunya saling mengoreksi dan menyampaikan masukan. Saat yang pastinya ditunggu-tunggu. Sebagai sesama aktivis dakwah, pastinya sudah saling tahu dan paham etika menyampaikan kritik dan bagaimana mengutarakan isi hati tanpa menyinggung perasaan yang lainnya. Dan begitulah yang terjadi, masing-masing menyampaikan pendapat, pesan kesan, kritikan, usulan dengan cara yang santun dan bahkan mencairkan suasana yang tadinya tegang dan kaku akibat kelelahan dari semua peserta yang hadir. Semua berjalan lancar, sampai seseorang angkat bicara dan memotong perkataan seorang peserta yang tengah menyampaikan pendapatnya. Ia menukas setiap pendapat yang peserta tadi sampaikan dengan cara yang sepertinya membuat setiap yang mendengar merasa kerdil dan malu akan pendapat-pendapat yang telah disampaikan. Sepertinya mereka telah melakukan hal yang memalukan dengan mengutarakan usulan-usulan tersebut.&lt;br /&gt;Dan itu telah terjadi berkali-kali. Di forum yang berbeda-beda, oleh orang yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu seorang sarjana psikologi, dan saya seorang peminat ilmu psikologi. Kami pun cukup sering membahas panjang lebar alasan kenapa orang tersebut berlaku demikian, bagaimanakah analisa karakternya, apa terapi yang tepat untuknya, sebab perilaku yang tidak menyenangkan seperti itu tidak akan membangun suasana kondusif untuk belajar dan saling berinteraksi. Adakah yang bisa kami lakukan untuknya? Terus terang saja, saya jadi merasa kasihan dengan tipikal orang yang seperti itu. Merasa dirinya paling benar dengan cara menjatuhkan orang lain di setiap kesempatan. Lalu, saya bertanya dalam hati, apakah saya pernah melakukan sikap seperti itu? Astaghfirullahal’azhiim … semoga saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali diri kita melewati hal-hal penting yang berseliweran di sekitar kita. Melewatkannya bisa jadi sama dengan menganggapnya tidak atau kurang penting. Oleh sebab kekurangpentingannya itulah makanya sesuatu hal itu bisa terlewatkan begitu saja. Sebab, mana  mungkin sesuatu hal yang dianggap penting bisa dengan mudah terlupakan. Contohnya saja, kalau membaca Alquran setiap hari sudah menjadi sebuah kebutuhan, maka ketika sekali saja terlupa atau tidak dapat membaca disebabkan hal lain, perasaan menyesal bukan kepalang akan terasa. Lain jika ibadah yang satu itu belum menjadi sebuah kebutuhan, maka melewatkannya akan terasa biasa saja. &lt;br /&gt;Bicara soal kebutuhan, tidak semua orang memiliki kebutuhan untuk bisa ‘memperbaiki keburukan yang ada pada orang lain’. Memperbaiki bukanlah dimaksudkan sebagai ‘upaya turut campur’. Berbeda. Yang saya maksudkan adalah kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk dapat menasehati saudara saya sesama muslim lainnya bila ia melakukan sebuah kekhilafan. Menasehati di sini bisa jadi tidak dalam artian berbicara empat mata lalu menceramahinya panjang lebar. Sungguh banyak varian yang bisa dilakukan untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Hanya sekadar mengingatkan, selebihnya urusan dirinya sendiri apakah mau memperbaiki diri atau tidak. Ini hanyalah sebuah ikhtiar demi kebaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, kebutuhan setiap orang berbeda. Mungkin saja ketika saya merasa perlu untuk bertindak demikian terhadap orang tersebut, bagi orang lain hal itu tidaklah penting. Bagaimanapun, bertindak atau tidak bertindak, menasehati atau tidak, kita akan menghadapi konsekuensi perilaku setiap orang di sekitar kita. Demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempurnaan memang hanya milik Sang Pencipta. Tetapi Ia memberi kita semua begitu banyak potensi untuk diarahkan menuju kebaikan dan kesempurnaan sikap. Tinggal kitalah yang akan memilih, akan memanfaatkan potensi tersebut, atau membuangnya sia-sia. Menyeru kebaikan pada orang lain sama dengan upaya kita membenahi diri sendiri. Semuanya berawal dari hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-6330497007872456746?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/6330497007872456746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=6330497007872456746' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6330497007872456746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6330497007872456746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/06/mencari-kesempurnaan.html' title='Mencari Kesempurnaan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8067687127899016016</id><published>2009-06-26T21:27:00.001+07:00</published><updated>2009-06-26T21:27:59.732+07:00</updated><title type='text'>Biarpun Berkali-kali Jatuh</title><content type='html'>Pernahkah Anda menemukan seseorang yang begitu pesimis menghadapi kehidupannya? Dan ia yang hampir selalu memiliki pandangan negatif terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya?&lt;br /&gt; Saya mengenal seseorang yang seperti itu. Hampir di sepanjang hidupnya, ia mengalami kejadian-kejadian buruk yang begitu menyakitkan hati. Hubungan saya dengannya bisa dikatakan cukup dekat, hingga saya seolah bisa merasakan sendiri pedihnya mengalami peristiwa-peristiwa tersebut. Bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa merasakan langsung perasaannya. Saya hanya bisa mencoba untuk mengerti, bahwa di setiap sikap pesimisnya, tersimpan amarah akan hal-hal buruk yang menimpanya. Sekaligus kesedihan karena ketidaksanggupan untuk mencegah hal-hal buruk itu supaya tidak terjadi, dan juga rasa malu yang kini ditanggung atas bad ending yang ia jalani. Menyedihkan, bukan?&lt;br /&gt; Kehidupan ini seperti roda yang berputar, begitu kata orang. Kadang ia membawa kita ke atas, lalu ia berputar ke bawah. Kadang terhampar kemudahan, namun selanjutnya bisa pula badai menghadang. Dan sebagai seorang manusia yang lemah ini, kita seringkali terjebak akan ‘lubang-lubang’ keangkuhan dan keserakahan apabila kesenangan yang sedang digenggam. Atau kita seringkali terjerembab masuk ke dalam jebakan keingkaran dan kelalaian saat menerima kesedihan. Tak pernah ada puasnya. Hidup memang tempatnya salah dan lupa, tempatnya belajar dan berusaha, tempatnya kegagalan, dan sekaligus tempat manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik atau berpasrah diri menjadi yang terburuk tanpa upaya apapun. Semua tergantung apa yang kita pilih. &lt;br /&gt; Kadang kita sering bertanya, mengapa si anu yang tampaknya biasa-biasa saja ibadahnya bisa selalu merasa senang dalam hidupnya? Bukankah Sang Pemilik Jiwa mencintai orang-orang saleh yang rajin memanjatkan doa serta beribadah dengan segenap jiwa? Bukankah keimanan yang menghujam dalam dada ini sanggup mendobrak penghalang apapun dan menumbuhkan semangat juang berkali-kali lipat dari yang lainnya?&lt;br /&gt; Memang. Tetapi di balik setiap peristiwa pasti terkandung pelajaran dari-Nya. Ada rahasia-rahasia hidup yang tak disingkap, yang akan menguji sejauh mana kesetiaan kita sebagai seorang hamba.&lt;br /&gt; Seseorang yang saya sebutkan di atas, mungkin saja memiliki sikap yang demikian karena mengalami kepahitan hidup yang telah membuatnya jatuh berkali-kali. Orang lain yang melihat dari luar mungkin akan menganggapnya rapuh, tak punya pendirian, pesimistik, tak punya semangat hidup, dan penilaian negatif lainnya. Sedangkan mereka tak benar-benar mengetahui apa saja yang pernah ia alami. Apa yang membuatnya berkali-kali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan apa yang ia lakukan setelah berkali-kali jatuh. Tidak banyak yang tahu. &lt;br /&gt; Tetapi biasanya, seseorang yang telah mengalami berbagai kesulitan dalam hidup, akan bisa bersikap lebih dewasa dan bijak dalam menanggapinya. Dan pastinya ia memiliki hati yang lebih tegar, karena terbiasa tertoreh rasa sakit. Biarpun berkali-kali jatuh, dengan iman di dada, ia pasti akan kembali bangkit.&lt;br /&gt; Kesedihan dan kepedihan sebesar apapun, bila kita senantiasa mengingat bahwa hanya Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, niscaya yang tertinggal dalam hati adalah keikhlasan untuk menerima. Dan prasangka baik bahwa memang apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk diri kita saat ini. Bukankah Sang Pencipta tak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya?&lt;br /&gt; Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Insyaallah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8067687127899016016?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8067687127899016016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8067687127899016016' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8067687127899016016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8067687127899016016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/06/biarpun-berkali-kali-jatuh.html' title='Biarpun Berkali-kali Jatuh'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-6834005510434906398</id><published>2009-06-26T20:06:00.002+07:00</published><updated>2009-06-26T20:19:05.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Kangen ...</title><content type='html'>Sudah lama sekali tak menengok blog yang satu ini, rasanya kangen...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini perasaan saya campur aduk. Jenuh, penat, tapi sekaligus juga bersemangat untuk melakukan hal-hal yang baru. Atau pindah ke tempat baru? Rasanya ide yang bagus juga. Tapi, kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa 'pekerjaan' menumpuk di file yang tersimpan dalam otak. Ada yang mendesak keluar, ada yang 'mendem' di pojokan, sebagian lagi samar-samar menghilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang belum dikerjakan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan naskah yang tertunda, melanjutkan naskah baru, menulis surat-surat untuk FLP Sengata, merapikan pembukuan bisnis kecil-kecilan ... masih ada lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini penat itu reda dengan dua buku yang membawa benak ini melayang sebentar karena keindahannya: Dilatasi Memori dan Diorama Sepasang AlBanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to Ari Nur, (wah, Ry, jangan ge-er yah...istrimu memang pandai menulis :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Everything's inspiring me now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayo, mulai lagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-6834005510434906398?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/6834005510434906398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=6834005510434906398' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6834005510434906398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6834005510434906398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/06/kangen.html' title='Kangen ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8200621187075857233</id><published>2009-04-25T19:31:00.002+07:00</published><updated>2009-04-25T19:32:07.962+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Profesi atau Bukan, Tetaplah Mulia</title><content type='html'>Saya seringkali mendapati pendapat-pendapat miring tentang profesi ‘ibu rumah tangga’. Bagaimanapun sepertinya banyak orang yang berpendapat bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pilihan terpaksa yang harus diambil oleh seorang perempuan ketika ia ‘terjebak’ dalam aktivitas rumah tangga, tidak memiliki profesi lain, dilarang bekerja oleh keluarga atau oleh suami, dan seterusnya. Sehingga muncul stigma negatif tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, dulu saya menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki pendapat negatif tersebut. Tepatnya, sekadar ikut-ikutan tanpa pernah mendalami maknanya. Saya hanya beranggapan, bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga artinya berdiam diri di rumah hanya mengurusi hal-hal yang itu-itu saja, dan seterusnya. Kadang, kita memang sering terlarut dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun setelah menjalaninya, pikiran saya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman kuliah saya pernah menuliskan dalam sebuah situs pribadi bahwa profesi yang ia geluti sekarang adalah: a housewife. Seorang ibu rumah tangga. Awalnya saya hanya mengerenyit membacanya, sebab pada saat itu saya belum menikah dan sedang asyik-asyiknya menjalani pekerjaan saya. Seorang teman saya yang lain, ia seorang penulis, meyakinkan saya dengan ceritanya tentang kesehariannya yang mengurusi kelima orang anaknya dan dalam kondisi seperti itu ia produktif menerbitkan buku. Di tempat tinggal saya sekarang, ada seorang janda yang memiliki lima orang anak, ia tidak bekerja pada sebuah perusahaan manapun, tetapi memiliki keterampilan memasak yang akhirnya menjadi salah satu peluang mendapatkan rezeki, dan sekarang ia malah sedang menekuni kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian saya merenungkan jalan hidup yang dilakoni ibu saya tercinta. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan merelakan banyak hal pergi dari dirinya demi keluarganya. Begitu banyak yang ia korbankan. Seseorang yang sangat supel, gigih dalam meraih sesuatu, luwes, punya banyak ide kreatif, terampil dalam berbagai hal. Ibu saya sejak dulu bisa dibilang selalu sukses menjual segala macam hal, baik itu buatan sendiri maupun tidak. Semua orang mengenalnya sebagai seseorang yang luwes dalam berdagang, dan kenyataannya, keterampilannya tersebut memberinya kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, menyekolahkan saya dan adik saya, dan ia mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun. Mengagumkan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya saya menikah, saya sedang berada dalam keasyikan menekuni pekerjaan yang sangat saya sukai di sebuah perusahaan. Waktu berlalu, dan pikiran untuk memiliki anak mulai sering menghampiri saya dan suami tentunya. Kebetulan saya termasuk seseorang yang selalu memikirkan segala sesuatu dengan detail, merencanakannya, baru memutuskannya. Dan saya waktu itu mulai berpikir serius, apakah ketika saya nantinya memiliki anak akan terus bekerja atau tidak? Apakah saya akan membayar seorang babysitter untuk mengurus anak-anak saya di rumah dan saya tetap bekerja? Bagaimana dengan rencana saya untuk mengurus anak-anak saya sendiri? Dan, memiliki seorang pembantu rumah tangga, benarkah itu yang saya inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya, dan mengejar mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Bercermin pada beberapa orang teman penulis yang menjadikan ‘menulis’ sebagai profesi, kemudian bahkan bisa menghidupi diri sendiri serta keluarga dari profesi tersebut, saya mulai merajut mimpi itu dan menjadikannya kenyataan. Tentu keputusan ini bukan tanpa pemikiran terlebih dulu. Tentu saya pun mengukur kemampuan diri dan suami untuk memutuskan hal ini. Suami sangat mendukung, dan ternyata Allah SWT memang memberikan jalan ini sebagai salah satu pintu rezeki bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah saya, dengan profesi baru saya sebagai ibu rumah tangga yang bisa menulis.&lt;br /&gt;Dua tahun ini, saya banyak merenungkan hal ini, dan kemudian berkembanglah pikiran-pikiran positif tentang profesi sebagai ibu rumah tangga. Toh, memutuskan untuk berada di rumah dan sepenuhnya mengurus rumah tangga bukan berarti menjadi halangan bagi kreativitas diri untuk berkembang. Apalagi jika kita bisa mensiasati waktu untuk bisa menggali potensi diri, mengembangkannya, dan bahkan akhirnya mencari penghasilan sendiri dari rumah. Seorang ibu rumah tangga yang pandai berdagang, seorang ibu rumah tangga yang punya bisnis sendiri di rumah, seorang ibu rumah tangga yang pandai menulis, seorang ibu rumah tangga yang pandai berkebun dan akhirnya melakukan sesuatu dengan keterampilan itu, dan seterusnya. Bukankah banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dari rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran tersebut akhirnya menjadikan saya lebih bersemangat menjalani hari-hari bersama keluarga kecil saya. Kepercayaan diri saya meningkat, dan bahkan saya makin produktif menulis. Kegembiraan ini sedapat mungkin saya tularkan pada mereka yang sering mengeluhkan hal serupa pada saya. Yang merasa tak bisa berbuat apa-apa atau kadang jenuh beraktivitas rutin di rumah. Pengalaman saya berumah tangga memang baru seumur jagung, tetapi semangat yang saya punya, boleh lah ditularkan kepada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya kemudian menghadapi beberapa anggota pengajian yang saya tangani yang berprofesi sebagai karyawati perusahaan, saya menjadikannya bahan tambahan bagi perenungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menginspirasi saya, dan beberapa yang lain membuat saya merenung lebih dalam. Seseorang di antara mereka memiliki tiga orang anak, dua di antaranya sudah bersekolah. Ia kadang mengantar jemput sendiri anak-anaknya, memasak sendiri makanan di rumah, dan teratur menelpon ke rumah untuk mengontrol kondisi anak-anak dengan pembantu rumah tangga yang menjaganya, ketika pulang ia tekun mendampingi anak-anaknya belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, seseorang seperti yang saya contohkan di atas adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan kebetulan bekerja pada sebuah perusahaan. Ia tidak mengkonsentrasikan diri untuk bekerja saja, tetapi bisa dikatakan melakukan keduanya dengan sama baiknya. Memang ada lebih kurangnya, tetapi tetaplah ia melakukan kebaikan dengan menjalaninya dengan ikhlas dan penuh senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumit sekali jika harus mendebat ini-itu tentang hal ini. Saya hanya tak ingin kita terjebak pada profesi A atau B yang lebih mulia dan ‘bergengsi’, lalu akhirnya mengecilkan yang lainnya. Sepertinya melakukan hal-hal tersebut malah akan mengurangi keikhlasan dari yang sedang mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang ibu rumah tangga saja, atau yang didampingi dengan profesi lainnya, tetaplah ia sebuah pekerjaan yang mulia. Dan bagi yang mengerjakannya dengan ikhlas sepenuh hati, baginya ganjaran kebaikan yang telah dijanjikan Allah SWT. Subhanallah …&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8200621187075857233?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8200621187075857233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8200621187075857233' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8200621187075857233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8200621187075857233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/sebuah-profesi-atau-bukan-tetaplah.html' title='Sebuah Profesi atau Bukan, Tetaplah Mulia'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8428779316598198191</id><published>2009-04-25T19:31:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:31:29.191+07:00</updated><title type='text'>Dakwah dan Sebuah Proses Belajar</title><content type='html'>Semenjak saya berkecimpung dalam dakwah, saya telah diajarkan bahwa siapapun yang melakukan dan apapun caranya (asalkan tidak melanggar perintah Allah Swt dan Sunnah Rasulullah SAW) maka tujuan yang sama yaitu berdakwah kepada Islam tidaklah boleh menjadi awal pertentangan. Toh, tujuan kita sama: berdakwah kepada Islam dengan tujuan lillahi ta'ala. Dan apapun sarananya, akan tetap menjadi sebuah sarana saja, tidak boleh berubah menjadi tujuan utama. Sebab jika berubah, maka itu akan mengubah niat lurus tulus ikhlas menjadi melenceng. Bukankah sebuah amal yang tidak didasari niat yang ikhlas maka amal itu tidak diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian saya merenungkan perjalanan dakwah yang telah semenjak tahun 1994 saya tekuni. Saya telah bersama-sama dengan orang-orang yang sabar, yang rajin mengkaji Islam serta memacu saya untuk meningkatkan ibadah harian, yang mengajarkan saya cara menyampaikan kebaikan pada orang lain dengan simpatik, dan juga memahamkan pada saya bahwa walaupun sekian banyak orang menentang dakwah namun langkah tak boleh berhenti. Sebab proses perjalanan dakwah itu sendiri lah yang terpenting; bagaimana kita berinteraksi, bagaimana perlahan pemahaman mulai terbentuk, bagaimana belajar berkorban untuk kepentingan orang lain, dan bagaimana menang dan kalah harus dihadapi. Jawabannya tetap sama: jika konsisten, maka apapun hasilnya akan selalu terasa membanggakan. Bukankah kita semua adalah para pembelajar? Dan orang-orang yang belajar harus terbiasa dengan kegagalan serta keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan hasil maksimal yang selalu menjadi target sebuah tindakan, dan harapan tinggi dari sebuah upaya? Tentu saja hal tersebut patut diperhitungkan. Sebab dari mencanangkan sebuah target, semangat dan kerja keras akan termunculkan. Seseorang yang memiliki impian tinggi dan kemauan untuk mewujudkannya, suatu saat akan mengubah mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Dan saat itu ia akan menikmati sebuah hasil membanggakan dari upayanya selama ini. Tetapi memang waktu dimana impian itu terwujud tidak pernah bisa diatur oleh si pelaku. Sebab manusia memang hanya bisa berusaha, dan selebihnya akan berlaku ketentuan Sang Maha Kuasa. Bila memang terwujudnya sebuah mimpi merupakan kebaikan baginya, maka Allah SWT akan mengabulkan, namun bila ternyata itu bukanlah sebuah kebaikan, bisa jadi Allah SWT tidak memberikannya atau menundanya hingga saat yang tepat. Wallahu A’lam. Hidup memang misteri, sebab itulah kita semua hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Siapa tahu, impian tersebut akan terwujud ketika kelak anak dan cucu kita yang menjadi pelakunya. Hingga kita sendiri tak bisa menikmati, namun bukankah dengan tetap berusaha dengan ikhlas berarti kita sedang merajut investasi untuk generasi mendatang? Berarti tidak ada satu pun usaha manusia di dunia yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berpindah-pindah tempat tinggal, tentunya lebih beragam lagi orang yang saya temui. Berbagai karakter pribadi, berbagai pemahaman. Pengetahuan seseorang memang sepertinya tidak bisa diukur dengan umur. Artinya, seseorang yang berusia 40 tahun misalnya, bukan berarti lebih paham dan lebih banyak pengetahuannya daripada seseorang yang berusia 20 tahun. Dan sebaliknya, seseorang yang berusia 20 tahun memang belum tentu lebih berpengalaman daripada seseorang yang berusia 40 tahun. Bagaimanapun, setiap orang telah menjalani kehidupannya masing-masing, dan itu akan menjadi penentu bagi lebih dan kurangnya pemahaman seseorang akan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan sikap berbeda yang ditunjukkan masing-masing orang terhadap kemenangan maupun kekalahan. Seperti yang dipaparkan di atas. Karakter pribadi, kekuatan iman, dan pemahaman akan hidup akan menjadikan reaksi itu berbeda-beda. Kadang, ketidaksiapan menghadapi sebuah kemenangan akan membuat sikap seseorang menjadi konyol di hadapan orang lain. Dan juga sebaliknya, ketidaksiapan seseorang dalam menghadapi kekalahan akan membuat orang tersebut terlihat betul sebagai seorang pecundang. Padahal tidak perlu seperti itu, sebab kita semua adalah pembelajar. Dan pembelajar sejati tak pernah berlebihan dalam menanggapi kemenangan dan kekalahan yang mesti ada dalam kehidupan. Tapi, ya memang, manusia tetaplah seorang manusia. Ia selamanya tidak pernah menjadi malaikat. Jadi, tak perlu risau dengan ketidaksempurnaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik keberhasilan dan kegagalan selalu ada pelajaran besar bagi kelanjutan hidup ini. Bukankah dakwah tidak akan pernah berhenti selama masih ada orang-orang yang perlu didakwahi? Dan bukankah inti darinya adalah proses belajar? Dan proses belajar yang selama ini dijalani tidak boleh berkurang atau bahkan berhenti hanya karena kita semua sedang sibuk bertarung. Seperti juga Rasulullah dan para sahabat dulu, yang tidak pernah melupakan aktivitas peningkatan ruhiyah ketika pun sedang perang. Jadi, ketika Allah belum menakdirkan kemenangan itu hadir, berarti ada satu dua pelajaran yang perlu kita pahami. Mungkin kesibukan bekerja menjadikan kita lupa akan esensi dari dakwah yang dilakukan? Yaitu belajar dan mengajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, kembali kepada orisinalitas dakwah ini. Mari beningkan hati kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8428779316598198191?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8428779316598198191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8428779316598198191' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8428779316598198191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8428779316598198191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/dakwah-dan-sebuah-proses-belajar.html' title='Dakwah dan Sebuah Proses Belajar'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7792200532971395660</id><published>2009-04-25T19:30:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:30:32.429+07:00</updated><title type='text'>Sebab Cinta Selalu Ada</title><content type='html'>Tak mengapa bila rindu tak berlabuh,&lt;br /&gt;Sebab cinta selalu ada.&lt;br /&gt;Di antara kepingan duka dan luka yang menganga&lt;br /&gt;Harap yang tersisa hanyalah untuk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian perjuangan hidup manusia, salah satunya adalah perjuangan dalam mendapatkan cinta. Entah mengapa, persoalan yang satu ini hampir selalu dihubungkan dengan jiwa melankolis tak tertahankan dari diri manusia. Padahal tak semestinya selalu begitu. Bagi mereka yang bergelimang bahagia, mungkin persoalan ini tak berarti apa-apa. Tapi bagaimana dengan mereka yang tak bisa mencicipi kehidupan yang lega? Apakah tak patut mereka mempertanyakan cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah diingat, adakah satu dua peristiwa yang masih terekam dalam memori kita yang menyiratkan pendaman rindu akan sebuah cinta? Misalnya sebuah kenangan indah saat dulu remaja, atau kerinduan akan keluarga yang kini terpisah jarak, sebuah mimpi yang hingga hari ini tak kunjung tiba di dunia nyata, atau mungkin kedamaian hati yang dulu pernah dirasa tetapi kini menghilang entah ke mana. Memang, kedengarannya begitu menyedihkan. Tetapi sepertinya kita harus sepenuhnya sadar, bahwa tidak setiap orang hidup bahagia. Apabila kita menjadi salah satunya, mungkin kita baru mengakui. Tapi manusia memang selalu menjadi manusia dengan segala kelalaiannya. Saat bahagia ia selalu terlupa akan segala derita yang dulu dilewati, namun ketika masa susah tiba ia tak bisa membendung penyesalan dan terus menyesali. Bukankah seharusnya kita tetap bersyukur, dengan kondisi apapun yang sedang kita alami? Karena sepertinya, masih terlalu banyak orang di luar sana yang sanggup menelan segala penderitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang, ketidakbahagiaan memang bisa menghanyutkan. Entah itu dalam keputusasaan, atau kemarahan, mungkin juga dalam kesedihan mendalam yang tidak ada akhirnya, atau apalagi? Ketidakbahagiaan memang selalu menjadi hal yang tidak diinginkan oleh setiap orang. Sayangnya, hal itu telah menjadi teman akrab dari yang namanya kehidupan. Tak mungkin hidup ini berjalan lurus dan mulus terus menerus. Tak mungkin seorang manusia tak mengalami musibah dan ujian dalam detik-detik hidupnya. Tak mungkin bila kita berharap untuk tak pernah sekalipun merasakan derita. Sebab ketidakbahagiaan membuat diri kita bangkit untuk mencarinya. Sebab musibah dan ujian adalah rahmat apabila kita mau mensyukuri dan mengambil hikmahnya. Sebab derita adalah awal dari bahagia. Sebab di setiap kesulitan tersimpan kemudahan untuk melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin kita semua memunculkan harap walau hanya secercah. Sebab selama roda kehidupan masih berputar, pencarian akan sekeping cinta selalu akan menumbuhkan gairah yang indah dalam hati kita. Walaupun begitu berat cobaan yang sedang menimpa. Walaupun kita berpikir tak ada lagi yang menjadi tumpuan. Tetapi percayalah, pikiran itu salah. Sebab cinta selalu ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7792200532971395660?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7792200532971395660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7792200532971395660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7792200532971395660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7792200532971395660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/sebab-cinta-selalu-ada.html' title='Sebab Cinta Selalu Ada'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4822909218287448545</id><published>2009-04-25T19:29:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:29:33.727+07:00</updated><title type='text'>Pendar Kasih Ibu</title><content type='html'>Ketika senyummu pudar,&lt;br /&gt;Sewaktu kedua matamu tak lagi berbinar,&lt;br /&gt;Saat gundah menghilangkan tempat bersandar,&lt;br /&gt;Maka seorang ibu akan merengkuhmu,&lt;br /&gt;Dengan sejuta kasihnya yang kian berpendar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang ibu adalah sejuta harap yang terpenuhi bagi diri seorang perempuan. Menjadi seorang istri dari lelaki yang dicintai bagaikan memenuhi keinginan hati untuk menjadi seorang kekasih sekaligus permaisuri. Tak lengkap, apabila keduanya tak diraih. Tak sempurna, apabila waktu yang tersisa menghadiahkan kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian juta perempuan yang ada, tak pernah ada cerita yang sama yang dijalani. Kadang, ketika derita sedang ditanggung, kita sering merasa menjadi seseorang yang nasibnya paling malang sedunia. Tanpa mau menoleh bahwa masih banyak orang lain yang mungkin sedang menanggung beban yang lebih berat. Kadang tak berpikir bahwa mensyukuri yang sedang dijalani adalah pilihan sikap yang senantiasa melegakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu, bagaimanapun, adalah kedamaian bagi keluarganya. Banyak hal indah yang diucapkan, dituliskan, didendangkan, mengenai seorang ibu. Namun yang terjadi di dunia nyata seringkali berkebalikan. Satu kata yang kerap kali membuat bulu kuduk berdiri dan hal terburuk yang mungkin terjadi pada seorang perempuan yang dizalimi: kekerasan. Satu hal yang sepertinya kian hari kian menjadi teman akrab telinga dan mata kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit saja pengaruh buruk dari kejadian-kejadian menyedihkan yang menimpa seorang perempuan dengan berbagai statusnya (istri, ibu, calon istri, calon ibu, dan sebagainya) adalah ketakutan dan keputusasaan akan ‘profesi mulia’ diri sebagai seorang pendamping hidup laki-laki sekaligus ibu bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, banyak pula perempuan yang menjalani proses menuju kebahagiaan dengan jalan yang tak semulus yang dialami perempuan lainnya. Sebagian mungkin terasa lucu bila diingat kembali, sebagian lagi menyisakan derita yang menyayat memori, atau meninggalkan luka yang menggores tak terperi. Yang kadang akan menumbuhkan satu ketakutan menjadi ketakutan lainnya. Dan bila kebahagiaan itu akhirnya datang, seperti goresan gambar di atas pasir yang luruh akibat sapuan ombak. Yang teringat adalah bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin tak pandai menganalisa setiap peristiwa. Pun tak banyak hal yang telah saya ketahui untuk dibagikan pada semua. Yang saya tahu, hidup memang tak hanya berisikan kebahagiaan saja. Namun tetap saja, setiap orang pantas untuk bahagia. Dan kebahagiaan yang akan menjadi pelengkap pada diri seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, ketika saya telah dewasa dan mencari penghasilan sendiri, saya telah puas menjadi seorang anak. Ingin ‘pergi’ jauh dari orang tua. Tetapi rasanya pikiran itu salah. Dan ketika saya telah menikah, pikiran itu muncul lagi. Demikian pula ketika Allah telah mengaruniakan seorang anak. Saya pikir saya akan ‘berhenti bersikap sebagai seorang anak’. Tidak lagi manja, tidak lagi membutuhkan rengkuhan ibu, dan sebagainya. Tapi nyatanya saya makin yakin bahwa pikiran itu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru ketika saya telah menjadi seorang ibu, saya makin membutuhkan sosok ibu saya. Dan saya makin menghargai dan lebih lagi mencintai ibu saya. Bagaimanapun saya mulai merasakan hal-hal yang pastinya dulu pernah ia rasakan. Letihnya, gundahnya, cemasnya, bahagianya ... semua hal yang dirasakan oleh semua ibu untuk keluarganya tercinta. Dan kini hari-hari saya banyak terisi oleh renungan, betapa ibu begitu berharga bagi diri saya. Terlebih untuk semua pengorbanan yang rasanya tak pernah sanggup saya balas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjalanan kehidupan setiap perempuan memang tak sama. Saya benar-benar bersyukur telah diberi kesempatan untuk merasakan semuanya kini. Menjadi seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Kebahagiaan apalagi yang saya cari?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4822909218287448545?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4822909218287448545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4822909218287448545' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4822909218287448545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4822909218287448545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/pendar-kasih-ibu.html' title='Pendar Kasih Ibu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4471317421004586213</id><published>2009-04-25T19:27:00.002+07:00</published><updated>2009-04-25T19:29:04.244+07:00</updated><title type='text'>Biarkan jadi Berbeda</title><content type='html'>Setiap diri kita punya keunikan masing-masing. Dan rasanya tidak ada seorang pun yang ingin dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Menjadi diri sendiri, dengan menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada, mungkin akan lebih sulit dibandingkan melihat apa yang ada pada orang lain kemudian memujinya, atau bahkan melecehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi diri sendiri dan memiliki rasa percaya diri untuk itu, entah kenapa menjadi suatu hal yang membutuhkan perjuangan keras untuk mencapainya. Sebab kini sudah begitu banyak orangyang merasa “senang” menjadi orang lain. Menjadi seseorang yang bukan dirinya yang asli. Supaya juga dipandang hebat oleh orang lain yang melihat, supaya mendapatkan sebuah penghormatan yang sama, tidak bisa menerima perbedaan yang ada. Berusaha terlihat bagus di hadapan orang lain, sama saja menipu. Tidak percaya dengan diri sendiri, dan tidak menghargai keunikan yang diri kita punya. Bukankah akhlak yang baik itu muncul tanpa direkayasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah percakapan ringan antara saya dan teman baik saya. Waktu itu ia mengeluhkan beberapa hal yang sepertinya sama dengan apa yang ada di pikiran saya. Kemudian saya berkomentar: “Entah kenapa, akhir-akhir ini orang-orang yang saya kenal berubah jadi aneh.” Dan ia menanggapi dengan sebuah tulisan yang isinya mengatakan bahwa berbeda itu unik, dan unik itu seni.&lt;br /&gt;Saya tersenyum membacanya. Menarik sekali kesimpulan yang diberikan teman saya itu. Kalau setiap orang berbeda, maka setiap orang itu unik, dan setiap orang berarti memiliki nilai seni tersendiri. Sepertinya saya setuju dengan kalimat tersebut. Dengan begitu, kita akan belajar menghargai setiap perilaku yang berbeda yang ditampakkan oleh orang lain. Tidak malah menghujatnya dengan penilaian macam-macam, walaupun apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Memang, untuk apa berharap macam-macam pada seorang manusia yang tidak kuasa memberikan apapun untuk kita? Bukankah Yang Maha Pemberi itu adalah Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya ketika kita sedang terlibat dalam sebuah forum musyawarah. Dari sekian kepala yang hadir, sangat mungkin masing-masing membawa pikiran yang berlainan. Karena memang setiap individu berasal dari lingkungan dan pemahaman yang berbeda satu sama lain. Jadi, tak mungkin dipaksakan sama. Jikalau ada yang memaksakan untuk sama, rasanya sungguh egois dan otoriter sekali. Yang bisa dilakukan adalah saling berargumentasi, mengutarakan alasan-alasan yang logis, kemudian mencari jalan keluar atau solusi yang terbaik dari semua pendapat yang ada. Merangkul yang bawah dulu, baru kemudian memutuskan. Itu kan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang setiap manusia pasti berbeda. Siapapun dia, bagaimanapun kedudukannya, berapapun banyak hartanya, ia akan menjadi berarti di hadapan Allah jika perbedaan itu membawanya kepada keimanan yang tinggi. Bukankah Allah hanya menilai ketakwaan seseorang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebaiknya kita tak repot-repot mencari-cari kesalahan orang lain karena merasa ia berbeda dengan diri kita. Cukuplah di akhirat kelak Allah Yang Maha Kuasa yang menilainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4471317421004586213?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4471317421004586213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4471317421004586213' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4471317421004586213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4471317421004586213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/biarkan-jadi-berbeda.html' title='Biarkan jadi Berbeda'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4819749039993874596</id><published>2009-04-25T19:27:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:27:43.870+07:00</updated><title type='text'>Perubahan itu Pasti</title><content type='html'>Saya mengenal seseorang yang menurut saya sedang mengalami trauma terhadap beberapa hal dalam hidupnya. Ia kemudian jadi takut untuk memutuskan sesuatu, selalu gundah berkepanjangan, dan sulit untuk melangkahkan kakinya untuk beralih ke fase yang lebih maju dalam karirnya maupun kehidupan pribadinya. Dan saya mengamati bahwa sekian orang yang sudah menyemangatinya tak digubris atau bahkan ditanggapi dengan hanya tertawa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya hampir setiap orang pernah mengalami semacam trauma, baik kecil maupun besar. Sebab perjalanan hidup manusia tidak selalu berjalan di jalanan yang mulus tanpa hambatan. Sungguh penting merasakan ujian-ujian yang Allah berikan, sebab itu adalah sarana untuk belajar dan memperbaiki diri. Jika lulus, maka bersyukurlah. Jika gagal, maka selalu ada kesempatan untuk mencobanya lagi, jika diri kita bersedia. Masalahnya, tidak setiap orang siap untuk mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah tentang pernikahan. Seseorang yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis akan cenderung merasa takut untuk menjalani sebuah pernikahan. Takut gagal, seperti orang tua atau saudaranya yang lain yang mengalami kegagalan dalam pernikahan. Takut untuk merasakan sakit sebab sakit tidak pernah terasa enak. Untuk apa menambah rasa tak enak dalam hidup, mungkin begitu pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukankah takdir setiap manusia itu berbeda-beda? Dan usaha keras serta panjatan doa akan menentukan arahnya? Dan Allah sungguh yang Maha Tahu yang paling tepat bagi hamba-hamba-Nya? Merasakan sakit berkali-kali atau gagal berkali-kali belum tentu akan membawa ujung yang tak enak pula? Selalu ada harapan untuk bisa mendapatkan yang baik, yang lebih baik, yang terbaik. Tetapi memang, tidak setiap orang pula siap untuk bersusah-payah menjalani aral melintang dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya sulit untuk menerima sebuah perubahan dalam hidup saya sendiri. Dulu, saya termasuk yang paling takut untuk menghadapi sesuatu tanpa persiapan matang terlebih dulu. Saya sebenarnya tidak terlalu suka kejutan, sebab kejutan itu bisa membahagiakan atau menyedihkan. Dan saya terbiasa mengenang masa lalu dengan penuh penghayatan, bahkan mengharapkan masa lalu itu terus hadir hingga sekarang. Sehingga tidak ada yang berubah, semua tetap menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal tersebut tidak akan terjadi. Perubahan selalu akan ada, dan masa depan adalah misteri. Jika kita bisa berpikir positif, bukankah ‘misteri’ tersebut akan membantu kita untuk bersikap lebih kreatif dalam berusaha sehingga hasil yang diterima lebih optimal, dan akan menjadikan diri kita ‘siap tempur’ kapan saja. Sebab rintangan yang ringan ataupun berat sudah pasti ada dalam jalan hidup manusia. Menyadari bahwa ‘perubahan’ adalah sebuah ‘kewajaran’ tentunya akan menjadikan diri kita lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu, tidak melulu menanggapinya dengan emosi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang sangat saya sayangi itu hingga kini tampaknya masih terkukung dalam ketakutannya. Saya turut prihatin, namun selalu mendoakannya supaya bisa membuka mata lebih lebar dan meniupkan keberanian pada dirinya supaya mengambil kesempatan yang ada di hadapan mata. Sebab kesempatan tidak selalu mampir setiap hari. Dan dalam kesempatan yang mampir, tidak harus berakhir suka, bisa saja duka tetapi itulah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat ini kita sedang mengalami masa-masa sulit dan membekaskan trauma baru dalam diri, maka yakinlah bahwa suatu saat nanti keadaan itu akan berbalik, berubah menjadi lebih baik. Keyakinan adalah sesuatu yang tidak boleh hilang. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa akan memberikan hamba-hamba-Nya perubahan untuk yang lebih baik jika kita sendiri tekun berusaha dan berdoa. Yakin saja. Sebab perubahan itu sebuah kepastian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4819749039993874596?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4819749039993874596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4819749039993874596' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4819749039993874596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4819749039993874596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/perubahan-itu-pasti.html' title='Perubahan itu Pasti'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2975442872259015353</id><published>2009-04-25T19:26:00.000+07:00</published><updated>2009-04-25T19:27:07.824+07:00</updated><title type='text'>Tutup Mulut, Buka Telinga</title><content type='html'>Bagian penting dalam sebuah masyarakat adalah adanya keteraturan. Dan untuk mencapai sebuah keteraturan pastinya perlu kesepakatan yang dicapai dengan jalan terbaik yaitu: musyawarah. Saya meyakini benar hal itu, dan memang seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam lingkup masyarakat terkecil saja kita diajarkan untuk bermusyawarah. Misalkan dalam hal merencanakan pendidikan bagi anak, orang tua pastinya bermusyawarah terlebih dulu untuk memutuskan akan menjalankan pola pendidikan seperti apa di rumah, akan menyekolahkan anak di mana, dan sebagainya. Dalam lingkungan kerja, sudah pasti sekian pertemuan penting dilakukan untuk menentukan langkah bisnis. Atau bila kita sedang berbelanja di pasar, tentunya proses tawar-menawar merupakan bagian dari musyawarah antara kita dengan pedagang untuk mencapai harga yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sepertinya tidak ada satu bagianpun dalam kehidupan manusia yang luput dari hal ini. Menjalankannya memang merupakan sebuah keharusan, jika kita ingin mendapatkan solusi menang-menang atas segala permasalahan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Saya sendiri merasakan betul pentingnya musyawarah ketika saya menjalankan amanah di beberapa organisasi yang pernah saya ikuti. Membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan. Dan menutup mulut rapat-rapat untuk kritik atau perintah yang mungkin belum tepat waktunya untuk dikeluarkan. Sulit. Sulit sekali. Tetapi teori tidak boleh berhenti sampai di dalam kepala dan mulut saja, menjalankannya adalah tantangan sekaligus juga keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian membayangkan, apabila sebuah forum harus memutuskan sebuah perkara penting kemudian mengeluarkan keputusan tanpa adanya musyawarah alias hanya omong-omong sambil lalu dan menetapkan begitu saja hasil akhirnya. Apa yang akan terjadi? Demikian pula dengan seorang pemimpin yang tak peduli dengan saran serta kritikan dari anak buahnya, sehingga misalnya dalam forum tersebut ia dengan kerasnya menekankan bahwa apa yang ia rencanakan maka itulah yang terbaik dan harus dilaksanakan. Berusaha tampak tegas, tetapi yang terjadi malah sikap keras. Seperti membangun tembok tinggi antara dirinya dan bawahannya. Bukankah sikap tersebut tak akan menimbulkan rasa cinta dan dukungan dari yang dipimpin? Bisalah kemudian dihitung waktu kehancuran dari organisasi tersebut. Sebab sikap diam dan penurut dari bawahan bisa jadi tercipta karena rasa tertekan dan ketidakrelaan yang tak tersampaikan. Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermusyawarah berarti meminta kesediaan dari setiap anggota musyawarah untuk memberikan sumbangsih pikirannya, mendiskusikan mana yang baik dan mana yang beresiko, mencoba mencari jalan tengah dari sekian pendapat, dan yang terutama adalah bermusyawarah berarti menyediakan tempat serta kelapangan hati untuk mendengarkan pikiran orang lain. Sebab manusia selalu membutuhkan tempat untuk mencurahkan pikirannya. Sebab manusia selalu butuh untuk didengarkan pendapatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah indah apabila setiap orang merasakan haknya terpenuhi dengan diberi kesempatan untuk berbicara lalu dihargai pendapatnya? Dan sungguh indah bila setiap orang mau menutup mulutnya rapat-rapat dahulu untuk membuka lebar kedua telinganya mendengarkan yang lain. Yang akan terjadi adalah kita semua akan lebih saling mengerti, dan kemudian mendapatkan berbagai sudut pandang yang akan memperkaya.&lt;br /&gt;Ini sebuah hal yang sulit, namun bukan berarti tak mungkin dilakukan. Karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan ajaran bagi manusia terhadap hal yang memang dibutuhkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2975442872259015353?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2975442872259015353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2975442872259015353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2975442872259015353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2975442872259015353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/tutup-mulut-buka-telinga.html' title='Tutup Mulut, Buka Telinga'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-898267749452907238</id><published>2009-04-25T19:25:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:25:34.607+07:00</updated><title type='text'>Batu dan Air</title><content type='html'>Suatu malam, saya terlibat percakapan dengan seseorang. Ia punya jabatan lumayan di kantornya, pun juga sedang mengemban amanah di sebuah lembaga sebagai seorang ketua. Saat itu saya belum terlalu lama mengenalnya, dan mencoba menggali pola pikir dan pendapatnya tentang berbagai hal, yang memang telah menjadi kebiasaan saya. Kami sedang membicarakan tentang permasalahan organisasi, dan kemudian saya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut saya, Pak, untuk meningkatkan kinerja anggota perlu sekali diadakan pelatihan atau pembekalan. Karena banyak orang yang bergerak tanpa pemahaman, dan itu butuh waktu untuk melatih mereka dengan memberikan pelatihan atau semacamnya. Sepertinya agak jarang diadakan, ya?”&lt;br /&gt;Tanpa saya duga, ia menjawab dengan ketus, padahal sebelumnya pembicaraan itu berlangsung santai dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu nggak perlu! Buang-buang waktu dan tenaga saja. Yang penting itu prakteknya. Kalau teori mereka semua sudah hafal. Praktek itu bisa langsung memberikan hasil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam. Dan mulai sedikit mencerna bagaimana sifat orang yang sedang saya ajak bicara. Saat itu saya belum menyimpulkan apa-apa, tetapi di dalam hati saya tetap tak setuju. Praktek untuk hasil maksimal akan terjadi bila seseorang memiliki pemahaman utuh tentang apa yang akan ia lakukan. Manusia kan bukan kambing yang bisa diikat pakai tali lalu diseret ke mana pun majikannya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, saya terlibat dalam sebuah diskusi untuk memutuskan sebuah perkara penting. Saya sudah siap dengan segala argumentasi dan usulan, begitu juga dengan beberapa teman lain yang hadir, dan kami bersemangat untuk mempelajari banyak hal dari kesempatan yang jarang itu. Acara dimulai, pemimpin diskusi menjelaskan, bahwa kami akan memilih beberapa orang untuk menjadi perwakilan organisasi dalam sebuah acara besar yang akan diikuti. Di benak saya terbayang berbagai mekanisme yang pernah saya lakukan di kampus dulu. Bermusyawarah untuk menentukan nama-nama, menentukan kriteria calon yang akan dipilih, atau yang lebih bagus lagi yaitu melakukan fit and proper test supaya perwakilan yang akan kami pilih tersebut benar-benar mumpuni dan bisa menjadi delegasi yang baik nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usulan itu diajukan, saya cukup senang karena ada dua atau tiga orang selain saya yang juga mengusulkan dan melengkapi usulan tersebut. Saya mulai merasakan semangat yang sama ketika dulu beraktivitas di kampus, dan hal ini memang saya rindukan sejak lama. Tetapi, seketika perasaan itu berubah drastis ketika saya mendapati sebagian dari peserta diskusi (termasuk pemimpin forum) tertawa lepas. Seolah menertawakan usulan yang baru kami sampaikan. Saya kebingungan, menoleh ke sana ke mari. Apa ada yang salah? Saya melewatkan sesuatu yang lucu? Ada apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pemimpin forum dan satu orang lagi menjelaskan bahwa sudah terpilih nama-nama yang akan mewakili, dan malam itu kami hanya perlu memutuskan yang mana yang disetujui dengan cara voting supaya cepat. Atau jika ada usulan tambahan langsung saja dimasukkan, sebab hasilnya sedang ditunggu malam itu juga. Saya langsung lemas. Dan malas melirik ke kanan dan kiri lagi. Jadi, apa maksudnya ini? Tetapi saya tetap berusaha mengikuti diskusi dengan konsentrasi. Mungkin karena saya baru saja datang, saya jadi kurang memahami sesungguhnya apa yang sudah mereka diskusikan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, ketika tiba waktu pemungutan suara, peserta diskusi laki-laki sibuk sendiri melontarkan nama ini dan itu, lalu tertawa sesekali, dan langsung menulis-nulis hasil usulan di papan tulis. Saya mendesak teman saya untuk mengacungkan jari dan meminta penjelasan kenapa peserta perempuan tidak diikutsertakan. Bukankah di antara delegasi tersebut diharuskan ada perwakilan perempuan? Saya bertambah bingung dengan arah forum tersebut. Si pemimpin diskusi yang ditanya hanya tersenyum sedikit tertawa menanggapi, dan salah satu peserta laki-laki berujar nyaring, “Ibu-ibu nggak usah ikut, biar bapak-bapak aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak kuat. Lalu memandangi teman di sebelah saya, meminta penjelasan. Ia tersenyum getir, dan mengusap-usap punggung saya. Saya mengerti, bahwa kondisi seperti ini rupanya telah terjadi sejak dulu dan sulit sekali diubah. Saya mengerti, sepertinya teman saya itu tak sanggup menjadi pengubahnya karena entah apa. Saya permisi keluar ruangan, dan menangis di depan kran air. Saya tak peduli ketika kedua mata saya terlihat jelas merah habis menangis oleh seluruh peserta diskusi. Malam itu emosi saya tidak terkontrol. Titik lemah saya tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama saya berinteraksi dengan si bapak yang malam itu saya ajak diskusi (yang juga memimpin forum diskusi), saya makin mengenali sifatnya yang keras seperti batu. Begitulah saya menyebutnya. Ia sulit sekali menerima pendapat orang lain, dan selalu memajukan pikirannya sendiri. Sebagian orang terbawa oleh gaya kepemimpinannya itu. Dan sudah berlangsung sekian tahun kondisi memprihatinkan ini. Saya lantas terpikir berbagai strategi dan cara untuk mengubah keadaan, menjadi pendobrak, dan segala macam yang sifatnya heroik. Tampaknya beberapa teman pun mengharapkan sikap itu muncul dari saya dan beberapa orang yang sependapat. Tapi, sekali lagi, perubahan tak akan terjadi apabila si manusia tak mau berubah. Dan hanya Allah lah yang kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semangat untuk memperbaiki keadaan tak surut dari diri saya, dan semoga niatnya tetap lurus hanyalah untuk beramal soleh memperbaiki umat. Jikalau memang kelemahan diri ini tak sanggup melakukan hal-hal heroik itu, maka saya tak akan berhenti menjadi ‘air’. Yang dengan perlahan tetapi pasti menetesi sebongkah batu untuk memecahkannya. Jika tak sekarang perubahan itu terjadi, maka kelak, dengan izin-Nya, akan tercapai. Jika bukan saya yang menikmati perubahan kondisi ke arah yang lebih baik, maka generasi selanjutnya akan mendapatkan buahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-898267749452907238?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/898267749452907238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=898267749452907238' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/898267749452907238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/898267749452907238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/batu-dan-air.html' title='Batu dan Air'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4738678971861053902</id><published>2009-04-25T19:12:00.000+07:00</published><updated>2009-04-25T19:14:07.088+07:00</updated><title type='text'>Dengarkan Hatimu</title><content type='html'>Saya seringkali ditanya oleh ibu-ibu peserta pengajian yang saya asuh, mengenai bagaimana cara bersikap konsisten dalam ibadah dan menjaga keimanan agar tidak cepat naik-turun. Pertanyaan yang sepertinya sangat populer dan kerap kali kita pertanyaan pula pada diri sendiri. Dan hampir selalu pertanyaan itu saya jawab dengan: “Berada pada lingkungan yang kondusif untuk menjaga keimanan, berkumpul dengan orang-orang saleh, mendisiplinkan diri untuk senantiasa rutin mengerjakan amal ibadah harian, dan berdoa supaya Allah menetapkan keimanan dalam hati.” Teoritis. Tapi begitulah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan diri kita ataupun orang lain untuk disiplin mungkin memang awalnya harus dengan keras dan kesannya seperti sebuah pemaksaan. Tetapi tujuannya hanyalah untuk membiasakan diri ini melakukan kebaikan tersebut. Dan biarpun seribu orang memaksa kita untuk berubah menjadi lebih baik, apabila hati kita menolak dan tak siap untuk mengubah diri, maka hasilnya nihil. Seseorang bisa konsisten atau tidak, keimanannya terjaga atau tidak, semua tergantung daripada kemauan dan tekad kuat untuk melakukannya. Orang lain yang menceramahi dan mengajak hanyalah sebuah dorongan luar yang bisa saja diindahkan atau tidak oleh diri kita sendiri. Perubahan berawal dari diri kita sendiri. Dan niat untuk berbuat baik dan menjadi lebih baik munculnya dari hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda suatu saat merasakan diri sedang berada dalam kondisi ‘terjatuh’? Rasa malas betah sekali bercokol dalam diri, seperti tak ada motivasi untuk meraih kebaikan setiap hari, dan kedua telinga serasa tuli dari ajakan kebaikan yang mendatangi. Saya sungguh takut jika itu terjadi pada diri saya. Sebab sepertinya hal-hal itu bisa membawa saya pada kondisi ‘tak lagi mau mendengar, dan tak lagi mau peduli’ dengan kondisi keimanan diri ini. Jika didiamkan lebih lama, maka waktu akan melenakan kita, dan tak terasa kedua kaki akan melangkah lebih jauh lagi berbelok ke arah yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi masalahnya adalah tak setiap orang bisa merasakan dan menyadari kondisi khilaf dan lalai yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Malah mungkin orang lain yang lebih sering mengingatkannya. Padahal setiap hari kita disodori oleh berbagai pilihan kebaikan dan keburukan. Jika saja kita membiasakan diri untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri setiap hari, maka mungkin saja hati kita akan semakin terasah untuk cermat mengenali mana yang benar dan mana yang salah. Sebab sebuah hati yang dibiarkan mati tak dipergunakan untuk berperan sebagai penentu arah tubuh ini melangkah, ibaratnya sebilah pisau yang dibiarkan tergeletak di lemari dapur. Ia akan tumpul. Jika hati telah mati, maka apalagi yang bisa menuntun kita untuk berjalan ke arah yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mungkin berpendapat, melakukan aktivitas muhasabah atau merenung bukanlah pekerjaan yang prestisius dan tak ada hasilnya, hanya akan membuat diri kita jadi cengeng dan membuang-buang waktu. Tetapi gerak kehidupan memang bukan hanya berputar pada hal-hal yang tampak di depan mata saja, tidak hanya melulu soal materi dan apa yang bisa digenggam oleh tangan. Apalah artinya sebuah amalan tanpa adanya niat ikhlas dalam mengerjakannya? Dan niat itu terdapat dalam hati. Maka, memperbarui selalu niat kita dalam beraktivitas, menjadikan setiap kegiatan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT, serta menobatkan hati ini sebagai ‘panglima’, niscaya akan menggerakkan diri kita ke arah perbaikan dan perbaikan terus setiap waktu. Sebab, bukankah seseorang yang ingin ibadahnya diterima selalu berusaha untuk meluruskan hatinya? Apabila ia tergelincir, maka ia akan lurus kembali, apabila sedikit berbelok maka hati akan mengingatkannya, lalu setiap ada pilihan-pilihan datang di kehidupannya, ia akan senantiasa mengembalikannya pada hatinya. Apakah sesuai atau tidak, ragu-ragu atau yakin, terasa benar atau menjurus salah? Hatilah yang akan menjawabnya. Tentu, hati yang bersih, bening, dan mampu untuk membedakan yang haq dan bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita selalu berada dalam kondisi bersemangat untuk membersihkan hati, sehingga ia akan berperan optimal dalam mengarahkan diri kita untuk terus melakukan kebaikan. Dan ketika ada suatu hal mengganggu atau meragukan dalam sesuatu yang harus kita putuskan, dengarkanlah hatimu. Ia akan menjawabnya dengan terang atau buram, sesuai apa yang kau lakukan terhadapnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4738678971861053902?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4738678971861053902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4738678971861053902' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4738678971861053902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4738678971861053902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/dengarkan-hatimu.html' title='Dengarkan Hatimu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-6225528392291975015</id><published>2009-04-25T18:59:00.001+07:00</published><updated>2009-04-25T19:12:12.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Desau Angin Maastricht</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SfL-CXuhjTI/AAAAAAAAAEk/l4ooeDnNQBQ/s1600-h/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 215px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SfL-CXuhjTI/AAAAAAAAAEk/l4ooeDnNQBQ/s320/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328600625815063858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Category:Books&lt;br /&gt;Genre:  Romance&lt;br /&gt;Author: DH Devita&lt;br /&gt;Judul: Desau Angin Maastricht&lt;br /&gt;Penulis: DH Devita&lt;br /&gt;Penerbit: Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;Tebal: 250 Hal.&lt;br /&gt;Terbit: Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DH Devita adalah seorang penulis yang kini berdomisili di Sengata, Kutai Timur. Ia tergabung dalam kepengurusan Forum Lingkar Pena (FLP) sejak tahun 2004, dan kepindahannya ke Sengata membawanya untuk menjadi bagian dari FLP cabang Sengata sejak tahun 2006. Buku pertamanya diterbitkan tahun 2007 (Bercermin pada Hatimu, Pro U Media) dan pada tahun yang sama menyusul buku kedua (Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, AFRA Publishing) yang ditulis duet dengan Rien Hanafiah, penulis asal Sengata juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Desau Angin Maastricht adalah novel pertamanya. Sebuah cerita roman khas anak muda tetapi sarat dengan hikmah yang terkandung di dalamnya. Latar cerita bertempat di Maastricht, Belanda, adalah salah satu hal yang menjadikan novel ini menarik untuk dibaca. Sebab mungkin tak banyak penulis yang menampilkan kota kecil di negeri kincir angin itu dalam tulisan mereka. Mengambil latar di luar dari jangkauan penulis adalah satu tantangan yang bisa dikatakan cukup berat, sebab membutuhkan penelitian kecil untuk menjadikannya tampak nyata di mata pembaca. Dan hal ini pula yang menjadi daya tarik yang kuat atas novel ini, mengingat tren penulisan sekarang mengarah pada literatur berbau ‘jalan-jalan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arin, tokoh utama dalam buku ini, adalah seorang mahasiswi pasca sarjana yang melanjutkan studi di Universiteit Maastricht, Belanda. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan aplikasi beasiswa pasca sarjana ke NEC (Netherlands Education Center), dan ternyata diterima. Dina, sahabat Arin di kampus, banyak membantu Arin dalam mempersiapkan kepergiannya ke Maastricht, termasuk meminjamkan sejumlah dana yang diperlukan. Dina memahami betul keinginan Arin untuk meneruskan kuliah sekaligus mencari pengalaman baru di luar negeri. Namun yang paling terbaca dari niat tiba-tiba Arin itu adalah kejadian yang Arin alami beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk mengirimkan aplikasi ke NEC. Yaitu peristiwa dimana Arin mengetahui yang sebenarnya perasaan Dodi, sosok lelaki yang tadinya sangat ia harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di Maastricht sama dengan menyepi dan menghindarkan diri dari seorang Dodi, sekaligus menjadi momen panjang kontemplasi diri bagi Arin. Masalah yang selama ini dipendam dalam, menguak perlahan. Perjumpaannya dengan berbagai tipikal orang di Unimaas justru menjadi pembelajaran berarti bagi keterbukaan diri Arin, dan membangkitkan kesadaran akan adanya permasalahan lain yang lebih besar yang ada di sekitarnya. Maria, gadis Spanyol teman sekamar Arin, menyadarkannya untuk mensyukuri keluarga yang ia miliki selama ini. Mengenal Niema, gadis asal Maroko, membawa gairah baru yang menyadarkan Arin akan pentingnya sebuah kepedulian akan Islam. Arin menyadari bahwa persoalan apapun yang selama ini mengganggunya tak berhak membuatnya menjadi seorang yang paling menderita. Dan bersikap menghindari masalah tidak akan menyelesaikan apapun dari masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik percintaan dalam buku ini memang tak berakhir happy ending, seperti yang mungkin diharapkan banyak pembaca. Karena memang inti utama cerita bukanlah pada urusan cinta antara Arin dengan Dodi. Hal lain yang ingin ditonjolkan penulis adalah tentang bagaimana kita memaknai cinta, yang memang sangat tergantung pada apa yang menurut diri kita penting dalam kehidupan yang dijalani. Memantapkan hati dalam menjalani sebuah keputusan pun menjadi hal yang menyulitkan jika kita tidak menyadari betapa besar arti hidup kita bagi orang lain, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tampaknya ingin memberi pesan bahwa ketika kita melihat dunia luar dengan lebih luas, akan tampak banyak hal yang lebih penting daripada hanya sekadar urusan cinta yang belum pasti ujung pangkalnya. Dan hal-hal tersebut di antaranya adalah persahabatan dan kepedulian akan lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah novel percintaan, sepertinya Desau Angin Maastricht tidak mampir di dunia penerbitan hanya untuk menambah deretan bacaan cengeng dan membuai perasaan saja. Walaupun ada beberapa kekurangan, seperti sinopsis cerita di sampul belakang buku yang kurang mewakili isi buku yang sebenarnya, dan beberapa hal teknis lain, secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-6225528392291975015?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/6225528392291975015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=6225528392291975015' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6225528392291975015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6225528392291975015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/04/desau-angin-maastricht.html' title='Desau Angin Maastricht'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/SfL-CXuhjTI/AAAAAAAAAEk/l4ooeDnNQBQ/s72-c/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-5999411922342209702</id><published>2009-01-20T10:06:00.000+07:00</published><updated>2009-01-20T10:10:33.425+07:00</updated><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>Kehilangan seseorang, apalagi jika ia selalu bersama-sama denganmu selama ini, memang sungguh membuat hati ini perih. Walaupun rasa kehilangan itu bisa saja dirasakan oleh siapa saja, tapi jika diri kita sendiri yang mengalaminya, rasanya berjuta-juta kali perihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakannya kira-kira setahun ini. Dia tadinya begitu dengan diri saya. Kami seringkali menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol tentang bermacam hal. Hal-hal yang ingin ia ketahui dari saya, hal-hal lucu dan menyenangkan yang kami pernah alami bersama, sewaktu kami berada di dalam perjalanan, di meja makan, di ruang keluarga, di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, sebuah SMS yang ia kirimkan mengejutkan saya. Ia menyatakan bahwa ia akan memilih kehidupan yang lain. Ia sudah memutuskan sesuatu yang menyakiti hati saya, ia bilang bahwa ia tidak akan menjauh dari saya dan kami akan tetap bersama. Itu semua bohong. Saya sungguh mengerti bahwa apa yang ia pilih membuahkan konsekuensi yang begitu berat bagi kami. Sanggupkan ia menanggungnya? Waktu itu saya begitu marah padanya, dan saya menyatakan bahwa ia harus bersiap diri jika saya yang memilih untuk menjauh darinya. Ia, dengan emosi yang entah apa, menyatakan hal yang serupa. Saya tak peduli. Keputusannya untuk meninggalkan kami adalah sesuatu yang harusnya ia pahami sebagai cara untuk menjauhkan kami satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, ia berulang kali mencoba menghubungi saya, mencoba memperbaiki hubungan kami yang telah rusak, tapi luka itu sudah terlalu dalam ia torehkan. Yang ia perbuat dulu sebelum pergi adalah hal yang sulit saya maafkan. Kini, ketika saya diam-diam membaca apa yang ia tuliskan tentang keadaannya di sana, saya merasakan kerinduan. Perasaan marah dan kesal berulang-ulang melanda hati saya. Tapi sekali lagi, dengan segenap kekuatan hati, saya hapus. Begitu berkali-kali. Dan saya berusaha tak memedulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ia menyatakan niatnya untuk pergi dulu, saya sudah menyadari sepenuhnya dalam hati saya, bahwa saya telah kehilangan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ditulis untuk KLUB FLP Sengata tgl 18 Januari 2009, truly from my heart...]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-5999411922342209702?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/5999411922342209702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=5999411922342209702' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5999411922342209702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5999411922342209702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2009/01/kehilangan.html' title='Kehilangan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4622525569282442494</id><published>2008-10-31T09:25:00.000+07:00</published><updated>2008-10-31T09:26:11.838+07:00</updated><title type='text'>Melihat ke Luar Jendela</title><content type='html'>Sepertinya setiap orang memang memiliki arah hidup masing-masing. Selain karena memang atas kehendak Allah SWT, kita sebagai manusia memiliki potensi untuk menentukan arah hidup masing-masing. Semua adalah tentang pilihan. Bukankah Allah SWT mengaruniakan kita semua akal dan hati untuk memilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membicarakan tentang semua orang yang pernah mampir dalam hidup saya. Sebagiannya adalah sahabat-sahabat saya sendiri. Yang sudah lama sekali saya kenal, ataupun yang baru setahun-dua tahun ini dekat dengan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah sahabat saya Attin. Beberapa hari ini saya sibuk melihat-lihat dan membaca kembali tulisan-tulisannya dalam blog www.fragmensore.blogspot.com. Attin yang selalu membuat saya rindu. Tadi malam, baru saja saya iseng menelponnya. Ternyata Attin sedang sibuk sekali pulang pergi Jakarta-Bandung, katanya. Urusan pekerjaan, pasti. Sahabat tersayang saya ini sudah menyelesaikan program master di Maastricht, Belanda. Hebat, kan? Menurut saya, orang-orang yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk kuliah atau bekerja di sana atas biaya sendiri ataupun beasiswa adalah orang-orang yang hebat. Pergi jauh k negeri orang, meninggalkan rumah yang nyaman beserta seluruh kerabat keluarga, beradaptasi dengan kultur yang sama sekali berbeda, dan hal-hal hebat lainnya yang entahlah apakah saya bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dengan kerinduan yang sama, Inggrid. Setahun lebih cepat dari Attin mengambil program master atas biaya sendiri di IIUM (Malaysia). Dan akhirnya bekerja di sana kalau tidak salah, tinggal di sana setelah menikah, dan mungkin juga sampai sekarang masih di sana. Inggrid seseorang yang berjiwa pejuang, memang. Mandiri, cerdas, dan sangat disiplin. Saya rasa, setiap yang ingin sukses (baik di Indonesia maupun yang tinggal di negara lain) harus memiliki tiga sifat itu. Setidaknya, modal dasar untuk bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat-sahabat saya yang lain, memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di sebuah kota terpencil yang sulit dijangkau dari ibukota propinsi. Demi sebuah idealisme, mungkin juga kesadaran dan niat tulus membangun dan membesarkan dakwah di tempat tersebut. Bagaimana dengan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Hasan Al Banna, mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi saya terbangun dan terus dibangun untuk menjelajah ke luar sana. Seperti seseorang yang melihat ke luar jendela, saya menerawangkan kedua mata dan jiwa ini ke luar sana. Membangun mimpi tentu saja akan sia-sia tanpa diserta kekuatan doa dan jerih payah usaha mewujudkannya. Saat ini, tapak kaki ini sedang melangkah perlahan, dan kedua tangan ini bergegas untuk merajut kepingan mimpi itu menjadi lembaran baru yang indah, nantinya, insyaallah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;to my beloved husband, yang selalu merajutkan mimpi yang indah dan kemudian mewujudkannya dengan cinta &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4622525569282442494?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4622525569282442494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4622525569282442494' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4622525569282442494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4622525569282442494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/10/melihat-ke-luar-jendela.html' title='Melihat ke Luar Jendela'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-3129412902900507775</id><published>2008-06-24T20:24:00.000+07:00</published><updated>2008-06-24T21:39:32.413+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Langit</title><content type='html'>Mencermati sebuah peristiwa Isra’ Mi’raj memang membawa persepsi bermacam-macam bagi setiap orang. Memahaminya sebagai sebuah mukjizat pun bisa menimbulkan ‘pernak-pernik’ lain dalam keyakinan yang tertanam dalam diri masing-masing. Dan sesungguhnya, peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi pada momen tersebut bukanlah satu-satunya yang menjadi tema utama bagi sebuah keyakinan. Melainkan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Hiburan yang Menakjubkan&lt;br /&gt;Menapaki awal perjalanan dakwah yang penuh rintangan telah menjadi ujian tersendiri bagi Rasulullah SAW. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar atau membaca tentang peristiwa Thaif, dimana beliau mengalami penghinaan dan siksaan dari penduduk kota tersebut. Sebelum itu pun Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengalami ujian berat, dengan menjalani tiga tahun pemboikotan total oleh kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian tak terperi berikutnya adalah meninggalnya dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan Rasulullah SAW, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Seorang istri tercinta yang selalu menjadi pendukung utama dakwah beliau, dan paman tercinta yang telah menjadi pelindung dan penjaga beliau dari intimidasi kaum kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perisitwa Isra’ dan Mi’raj menjadi sebuah bentuk hiburan tak biasa yang hanya dialami oleh seorang Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjaran bagi Sebuah Kesabaran&lt;br /&gt;Sebuah ujian yang paling ringan sekali pun, tak mungkin sukses dilewati tanpa adanya kesabaran. Hakikatnya sabar adalah tidak terbatas. Maka keberhasilan Rasulullah SAW menjalani setiap kesulitan –yang rasanya tak mungkin bisa dihadapi dengan sukses oleh manusia mana pun- sebelum perisitwa Isra dan Mi’raj memang mewajarkan adanya ganjaran luar biasa dari-Nya. Yaitu berjumpa dan berbicara langsung dengan Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membawa Perintah Shalat&lt;br /&gt;Menemui Allah SWT secara langsung dan mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat lima waktu tidak sesederhana seperti seorang murid yang menerima perintah mengerjakan tugas dari gurunya. Ketika pada awalnya Rasulullah SAW menerima perintah dari Allah SWT untuk menjalankan shalat sebanyak 50 kali sehari semalam, terjadilah dialog antara dirinya dengan Nabi Musa as. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya umat manusia, umat Muhammad SAW, adalah lemah. Tak mungkin sanggup melaksanakan sekian banyak waktu shalat yang awalnya ditetapkan. Demikian yang digambarkan oleh percakapan antara Nabi Musa as dengan Rasulullah SAW. Jika saja kita mau mengintrospeksi diri, apakah lima waktu shalat wajib yang sudah ‘diperjuangkan’ oleh Nabi tercinta di hadapan Allah SWT telah kita jalani dengan sempurna? Sedangkan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah SAW mengatakan bahwa jika salah seorang di antara umatnya mengerjakan shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, maka ganjarannya adalah pahala sebanyak lima puluh shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Pembuktian akan Kekuasaan Allah SWT&lt;br /&gt;Sadarkah kita semua, bahwa waktu yang harus ditempuh antara kota Makkah dan Palestina adalah lebih kurang selama 40 hari, jika ditempuh pada zaman Rasulullah SAW hidup. Dimana pada waktu itu belum tersedia kendaraan modern seperti yang ada sekarang. Dan perjalanan menuju langit hingga ke hadapan Sang Pencipta sungguh merupakan jenak waktu yang tak terbayangkan bagi manusia mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kesemua dari detail perjalanan Rasulullah menuju Allah SWT tak mungkin terhitung oleh penelitian empirik mana pun, melainkan oleh sebuah keyakinan mantap akan kekuasaan Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, Maha Suci Ia yang telah memperjalankan seorang Muhammad dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Sebuah perjalanan agung yang tak mungkin terulang dan dialami oleh manusia mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mendekatlah selalu kepada-Nya dalam setiap amal baik yang kita lakukan. Jalani kehidupan yang singkat ini dengan langkah yang selalu menuju kebaikan. [dev]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ditulis untuk rubrik "Bahasan Utama" buletin MEMORI FLP Sengata&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-3129412902900507775?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/3129412902900507775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=3129412902900507775' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3129412902900507775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3129412902900507775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/perjalanan-ke-langit.html' title='Perjalanan ke Langit'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-1161724262825015353</id><published>2008-06-24T19:41:00.001+07:00</published><updated>2008-06-24T20:19:58.117+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Perjalanan Hati</title><content type='html'>Bagi kita, selama ini yang dinamakan ‘sebuah perjalanan’ mungkin hampir selalu diidentikkan dengan pergi jarak jauh, sibuk membawa perbekalan lengkap, dan keluar banyak uang. Apalagi bagi para perantau yang tinggal jauh dari rumah. Mereka yang bersekolah di luar kota kelahiran misalnya, atau yang mencari rezeki di tanah orang. Sudah pasti momen ‘pulang kampung’ selalu ditunggu-tunggu. Tetapi, ada saja yang tak seberuntung itu. Yang tidak memiliki cukup uang untuk bepergian, atau memang sedang menghemat pengeluaran sehingga liburan cukup dihabiskan di tempat berdomisili saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebuah perjalanan, entah untuk momen liburan atau lainnya, pastinya tidak harus selalu dengan mengeluarkan banyak uang atau waktu dan tenaga. Hakikatnya, melakukan sebuah ‘perjalanan hati’ akan lebih banyak menyisakan bekas yang indah untuk dikenang, dijadikan pelajaran, dan mengawali sebuah perubahan ke arah kebaikan. Dan pastinya tidak harus selalu dilakukan pada saat liburan panjang atau meluangkan waktu khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa saja yang bisa dilakukan untuk merehatkan hati dan pikiran sejenak dari kelelahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku-buku yang menginspirasi.&lt;br /&gt;Pernah mencoba? Cobalah temukan beberapa judul buku yang menarik, dan bisa menyiram hati ini dari segala penat keseharian yang selama berbulan-bulan ini kita penuhi dengan urusan dunia. Bisa saja buku-buku fiksi berupa kumpulan cerpen atau novel islami, yang pasti membawa nuansa berbeda ke setiap hati kita. Disamping bisa meliburkan hati dari pikiran-pikiran yang melelahkan, juga bisa meninggalkan hikmah luar biasa yang nantinya dapat menjadi pelajaran penting bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke masjid terdekat untuk beri’tikaf (berdiam diri)&lt;br /&gt;Nah, aktivitas yang satu ini tidak hanya bisa dilakukan saat sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Di waktu luang misalnya ketika liburan, bisa saja kita menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid terdekat, ataupun masjid yang tidak biasa dikunjungi karena jarak yang tak terlalu dekat dari rumah. Untuk apa? Yang pasti merehatkan diri sekaligus mendekatkan diri pada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawalah ‘bekal’ untuk beri’tikaf supaya kegiatan tersebut lebih khusyu’ dilakukan. Misalnya, sebuah mushaf Alquran beserta terjemahannya. Membaca Alquran disertai dengan terjemahannya akan membuat kita semakin mengerti akan ayat-ayat Allah. Lalu, seperangkat alat shalat untuk menunaikan shalat wajib dan sunnah di masjid tercinta. Kemudian satu atau dua buku yang menyejukkan hati pun bisa kita bawa, sebagai kegiatan selingan di sela-sela waktu shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan i’tikaf sederhana ini juga makin asyik jika dilakukan bersama teman-teman terdekat. Supaya pahala kebaikan yang kita dapatkan bisa dinikmati bersama yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film, mengharu-biru, menambah semangat!&lt;br /&gt;Nonton film? Pastinya film-film yang mengisahkan perjalanan hidup nabi atau orang-orang salih, yang senantiasa akan memompakan semangat baru ke dalam jiwa kita. Rehat yang asyik, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pernah menyaksikan kegigihan seorang Hamzah bin Abdul Muththalib dalam film “The Messenger”? Film yang satu ini merupakan ‘remake’ dari film “Ar Risalah”, yang salah satu pemainnya adalah bintang film Hollywood yang kabarnya ‘nyaris’ menjadi seorang muslim ketika film tersebut diproduksi. Beliau adalah Anthony Quinn. Seru, dan pastinya mengharukan. Akan selalu menjadi pengingat akan sulitnya dakwah yang dilakukan Rasulullah beserta para sahabat dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau film “Fatahillah”, misalnya. Film asli buatan anak negeri yang, walaupun banyak kritik terhadapnya, selalu membangkitkan memori tentang perjuangan kaum muslimin di Indonesia jaman ‘baheula’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terinspirasi? Berhentilah sejenak dari kesibukan untuk sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendekatkan diri kita pada-Nya. Yuk, isi waktu dengan melakukan perjalanan hati! [dev]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ditulis untuk dimuat dalam rubrik "Tambahan Tema Utama" buletin MEMORI FLP Sengata&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-1161724262825015353?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/1161724262825015353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=1161724262825015353' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1161724262825015353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1161724262825015353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/sebuah-perjalanan-hati.html' title='Sebuah Perjalanan Hati'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4336463209882843827</id><published>2008-06-20T09:40:00.002+07:00</published><updated>2008-06-20T10:00:50.620+07:00</updated><title type='text'>Merindukan Taubat</title><content type='html'>Pernahkah Anda merasa begitu penat dengan semua kesibukan yang sedang dikerjakan dan yang menanti untuk diselesaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saya menjelang tidur dengan pikiran penuh dengan berbagai macam hal yang tak bisa saya enyahkan. Hari itu, beberapa tugas belum diselesaikan, esok hari ada tugas lain yang menanti untuk dirampungkan, lalu &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt; dari dua orang 'adik' yang baru saja memenuhi kepala saya, kemudian problem kecil di rumah yang rasanya begitu menghimpit dada. Terlalu banyak bagi saya, pikir saya malam itu. Dan mata saya tak bisa terpejam hingga sekitar sejam setelah saya membaringkan badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah, hampir di semua persendian dan tulang-tulang rasanya sedang merintih-rintih kesakitan. Tapi entah bagaimana, berbagai hal yang memenuh-sesakkan kepala ini mencuat ke segala sisi, seakan seperti berontak ingin diselesaikan satu per satu. Dan sepertinya malam itu saya tertidur dengan otak terus bekerja keras, hingga pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, semua penat itu berkumpul jadi satu dan 'menyerang' saya, ketika sebuah insiden kecil terjadi. Tangis saya seketika tumpah, tanpa bisa saya tahan. Dan saya beraktivitas sepanjang pagi dengan membiarkan air mata saya mengalir deras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dhuha, dan saya memutuskan untuk bersimpuh pada-Nya. Setelahnya, saya menutup pintu kamar rapat-rapat, dan menikmati lembaran ayat-ayat cinta-Nya, yang sepertinya pagi itu terasa begitu merindukan. Mungkin sekitar satu jam saya terpekur, dan terus membaca. Kedua tangan saya rasanya betah untuk berlama-lama menggenggam erat mushaf bersampul merah itu. Dan saya menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak yang menganggap ini adalah sebuah hal klise yang bisa saja dialami setiap orang. Memang betul. Selepas dhuha dan tilawah, saya keluar dari kamar. Perasaan saya jauh lebih ringan. Satu per satu tumpukan masalah di kepala saya seperti tertata sendiri di 'laci' masing-masing. Sore harinya, ketika saya bercuap-cuap di sebuah stasiun radio untuk sebuah program 'Zona Inspirasi', sepertinya benak saya merenung jauh, dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya menambah kesejukan ke dalam hati saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa, apa yang keluar dari lisan kita akan sesuai dengan apa yang tersimpan dalam hati kita. Jika ruh ini 'penuh' dengan rasa cinta pada-Nya, maka kita akan mampu menjadi 'ruh' bagi orang lain. Bukti nyata tentu saja harus ada. Tidak mungkin tampilan luar akan baik apabila isi hati tak baik pula. Kecuali jika ia termasuk golongan orang-orang munafik. Na'udzubillahi min dzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah ... pagi ini, hati saya segar. Dan mushaf merah itu terus saya rindukan. Rupanya penat yang menumpuk itu sempat menyisakan lalai pada diri saya, hari-hari kemarin. Semoga Ia berkenan untuk kembali menerima taubat saya hari ini, dan juga hari-hari setelah ini. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4336463209882843827?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4336463209882843827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4336463209882843827' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4336463209882843827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4336463209882843827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/merindukan-taubat.html' title='Merindukan Taubat'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4988917358519539761</id><published>2008-06-10T11:26:00.000+07:00</published><updated>2008-06-10T11:27:12.074+07:00</updated><title type='text'>Mengawali Sebuah Perubahan</title><content type='html'>Setiap manusia pastinya menginginkan segala sesuatu yang terbaik yang terjadi pada dirinya. Dan bila sesuatu yang baik sudah terjadi, di kemudian hari ia akan menginginkan hal yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu terus berjalan, setiap orang memang pasti menginginkan perubahan untuk kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya berada pada lingkungan yang sangat kondusif untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Artinya, cukup banyak orang yang berpotensi untuk melakukan perubahan, dan sebagian besar masyarakat terlihat antusias dengan keberadaan orang-orang tersebut yang sepertinya bisa menjadi bagian dari ‘penolong’ masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Subhanallah … tak terbayang betapa besar manfaat yang bisa diberikan lingkungan kecil itu kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut pastinya memberikan harapan lebih sekaligus bisa menjadi ranjau bagi mereka. Harapan lebih untuk bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat, melihat tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi. Sekaligus ranjau berbahaya, yaitu kesombongan yang bisa jadi menyelip di antara ruang keikhlasan yang selama ini dibangun dengan susah payah. Yaitu dalam wujud perasaan ‘akan mendapat dukungan besar’, ‘rencana pasti berhasil’, dan ‘semua di tangan kita’. Bukankah kita seharusnya menyadari, bahwa kesombongan adalah awal dari kehancuran? Sedangkan tak ada yang patut kita sombongkan dari diri kita, sebab tak mungkin kesempurnaan itu kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah masalah kembali muncul, ketika orang-orang yang memiliki potensi sebagai perubah tidak mau berbuat apa-apa, bersikap pasif, dan mengurungkan niat untuk menyebarkan kebaikan. Entah dengan alasan mendahulukan yang lain, sungkan, tidak mampu menyampaikan dengan baik, dan seribu alasan lainnya. Sesungguhnya, bersikap demikian hanya akan menjadikan potensi yang sudah dikaruniakan Allah tersebut terkubur sia-sia, tanpa bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Menumpulkan pisau tajam dengan sengaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah akan membukakan pintu perubahan bagi sebuah kaum apabila kaum tersebut mau berupaya untuk berubah? Artinya tidak mungkin turun hujan uang dari langit, dan tidak mungkin pula kesuksesan didulang tanpa kerja keras dan doa panjang dipanjatkan. Dan sungguh sayang, apabila terdapat sekumpulan orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan perubahan dalam masyarakatnya, namun bungkam tak mau berkata dan bertindak apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas saya bertanya pada diri sendiri, termasuk dalam bagian yang manakah diri saya? Seseorang yang mampu berbuat, tetapi kemudian tergelincir dalam kesombongan yang tidak pada tempatnya? Atau seseorang yang mampu berbuat, tetapi tenggelam dalam kemalasan untuk berupaya mengubah keadaan dikarenakan berbagai alasan yang berasal dari syahwat untuk menyenangkan diri sendiri. Semoga tidak keduanya. Semoga Allah berkenan untuk selalu menempatkan diri saya dan Anda semua ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berikhtiar, mengawali setiap perubahan ke arah yang baik, dan selalu bersemangat untuk menebarkan manfaat kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setiap peristiwa pasti menyisakan hikmah untuk dipelajari. Jika diri kita adalah seseorang yang dapat menangkapnya, alangkah sangat bermanfaat jika kemudian kita sebarkan pada yang lain. Sehingga kebaikan itu terus menyebar dan mengawali sebuah perubahan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sambil merenungkan kejadian semalam ...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4988917358519539761?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4988917358519539761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4988917358519539761' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4988917358519539761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4988917358519539761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/mengawali-sebuah-perubahan.html' title='Mengawali Sebuah Perubahan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7327718310730008874</id><published>2008-06-09T09:15:00.002+07:00</published><updated>2008-06-09T09:55:06.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Pernikahan Itu ...</title><content type='html'>Selama ini saya selalu berpikir bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Maka tidak heran jika ada sebagian perempuan yang menunda pernikahan atau bahkan bersikap enggan bila membicarakan urusan pernikahan karena alasan yang satu. Sudah jelas, menikah dengan seseorang akan membawa langkah ini ke tahap berikutnya, yaitu menjadi ibu dari anak-anak si lelaki tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga yang berpikir sebaliknya. Ia dengan kesadaran penuh begitu bersemangat untuk menjadi seorang istri dan ibu nantinya. Bahkan sedari usianya baru beranjak dari 20-an. Seperti teman saya Anggi. Dulu, di tingkat pertama perkuliahan, saya selalu terheran-heran sekaligus kagum dengan semangatnya itu. Bahkan kadang saya jadi 'takut' sendiri, dan kadang suka menghindar dari dirinya yang tengah berbinar-binar membicarakan rencana ini-itu seputar pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini semua masalah kesiapan. Dan soal kesiapan adalah satu hal yang bercampur-baur dengan berbagai hal lainnya, seperti pola asuh yang diterapkan orang tua kita, pengalaman pribadi dengan berbagai hal seputar pernikahan, atau persepsi yang terbentuk dari berbagai informasi yang diterima, dan sebagainya. Dan ini juga masalah pilihan. Pilihan untuk menetapkan target waktu untuk menikah, atau kriteria si calon pendamping hidup, dan lain-lain. Rumit? Bisa iya, bisa tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hidup. Sebagiannya adalah mengenai pilihan-pilihan. Dan saya mendapati teman-teman perempuan saya mengalami hal-hal yang berbeda mengenai pernikahan. Yang membawa pikiran saya melayang sejenak ke saat dulu saya menetapkan bahwa 'saya akan menikah'. Bagi saya, mencari pendamping hidup dan kemudian menjalani kehidupan pernikahan membutuhkan konsentrasi penuh. Dan tentu saja berbekal kesiapan mental dan material. Bagaimanapun, saya menyadari bahwa saya tidak hanya akan menjalani 'keindahan' pernikahan saja, tetapi juga pernak-pernik lain yang mungkin terjadi. Pada saya, suami saya, keluarga besar kami, dan juga anak-anak kami nantinya. Rasa takut pasti ada. Tapi ketika saya sudah berikhtiar sebaik yang saya bisa untuk mendapatkan yang terbaik disertai dengan memasrahkan diri pada-Nya dan meraih ridho orang tua, hati saya menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tentang menjadi seorang ibu. Siapapun, pastinya akan mendapati pengalaman berbeda untuk yang satu ini. Dan percayalah, tidak ada yang akan bisa menjadi 'super woman' dalam hidupnya. Ketika dulu bisa teratur dan perfect menjaga kerapian rumah, menyenangkan hati suami, melakukan semuanya sesempurna mungkin, tapi setelah hadir bidadari dan jagoan kecil, tampaknya 'kesempurnaan' itu akan menjadi semakin sulit dilakukan. Setidaknya butuh upaya ekstra keras, karena perhatian akan terbagi-bagi. Satu hal yang menjadi pernik unik yang akan ditemui setiap istri pastinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada saja teman saya yang akhirnya ragu dan berpikir berkali-kali dulu sebelum memastikan diri siap menjalaninya, karena pengalaman yang satu itu. Apalagi jika kini ia sedang asyik tenggelam dalam pekerjaannya yang mapan, segudang kegiatannya di luar kantor, dan lain-lain alasannya. Saya paling hanya tersenyum-senyum dan menggeleng-geleng. Yah, setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kadang sepertinya kita perlu menentukan saja dengan 'nekat' pilihan hidup kita, berbekal sedikit keberanian dan pemikiran matang tentunya. Masalah apa yang dihadapi kemudian, hadapilah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pernikahan, kadar 'nekat' yang saya maksudkan pastinya tidak 100% 'nekat'. Alias sebaiknya punya persiapan-persiapan yang riil, sebab hidup tak bisa hanya bermodalkan cinta dan keinginan saja. Bukankah begitu? Setidaknya bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang juga cerita saya tentang yang satu ini. Yah, usia pernikahan saya baru beranjak dari tahun ke 3, lebih beberapa bulan. Belum ada apa-apanya. Dan saya dan suami masih sangat bersemangat menjelajahi tempat-tempat lain selain kota kelahiran untuk mencari pernak-pernik baru. Semoga ada rezeki dan izin Allah. Amiin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7327718310730008874?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7327718310730008874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7327718310730008874' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7327718310730008874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7327718310730008874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/pernikahan-itu.html' title='Pernikahan Itu ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-76276544726229788</id><published>2008-06-07T19:48:00.002+07:00</published><updated>2008-06-09T09:15:26.500+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kepenulisan'/><title type='text'>Si Kutu Buku yang Lucu</title><content type='html'>Sewaktu saya kecil, saya bisa dikatakan adalah seorang ‘kutu buku’ cerita. Masih ingat tulisan saya dalam rubrik SMS yang lalu tentang Si Noddy? Ya, seperti itulah. Bila sedang berhadapan dengan buku-buku cerita, terutama yang bergambar, saya bisa ‘lupa segalanya’. Istilah yang sering dilontarkan oleh ibu saya terhadap kebiasaan saya tersebut adalah ‘lupa dunia’. Yah, istilah ‘kutu buku’ seringkali diidentikkan dengan seseorang yang maniak baca buku, dengan kaca mata tebal bertengger di atas hidung, dan penampilan yang nerd alias aneh. Tapi masa sih anak kecil seperti saya dulu juga diistilahkan dengan ‘kutu buku’ bila penjelasannya seperti itu? Yah, mungkin bisa juga. Kutu buku yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya dengan teknik menulis? Tentu ada. Sekarang ini, ketika saya sedang memacu diri untuk lebih produktif menulis, sedikitnya saya merasakan manfaat besar dari kegemaran membaca (yang kini sudah meningkat, tidak lagi hanya membaca buku komik saja). Apa saja? Daya imajinasi yang berkembang, referensi atas berbagai hal yang bisa didapat dari buku fiksi maupun non fiksi, gaya menulis yang berbeda dari tiap pengarang, dan kekayaan bahasa. Nah! Yang terakhir ini, yang menurut saya akan membuat seorang penulis bisa menghasilkan karya-karya yang ‘kaya’. Kaya isi, kaya makna, kaya kosa kata, dan sebagainya. Tulisan yang tidak berisi kalimat-kalimat membosankan yang akan membuat pembacanya mengantuk atau malah melempar bukunya di sudut rak hingga tak terbaca lagi di kemudian hari. Tulisan yang membuat pembacanya terkagum-kagum akan keindahan, keunikan, dan berbagai istilah lain yang bisa menggambarkan bahwa si penulis adalah seseorang yang ‘cerdas’, ‘terampil’, serta ‘kaya bahasa’. Sampai di sini, sepertinya saya kesulitan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan lebih jauh tentang diksi. DIKSI. Sudah pernah dengar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah kesempatan kegiatan SMS khusus pengurus, kami sempat melakukan simulasi sederhana tentang diksi. Masing-masing menuliskan satu paragraf tulisan fiksi, dan syaratnya adalah tidak boleh membuat pembacanya bosan dengan paragraf yang telah ditulis tersebut. Simulasi sekenanya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memacu masing-masing dari kami untuk memperkaya kosa kata yang dimiliki, sehingga ketika menulis tidak lagi ada kata ‘stagnan’, ‘kehabisan kata-kata’, atau apalah. Ada beberapa yang cukup berhasil, ada juga yang masih terpaku pada kalimat-kalimat klise atau malah terlalu kaku seperti bukan sebuah tulisan fiksi. Satu pertemuan singkat tersebut memang tidak mungkin akan membuat seorang penulis langsung pandai dan memiliki diksi yang ‘kaya’, kalau boleh saya katakan begitu. Karena, sekali lagi menurut saya, kekayaan kosa kata serta keragaman gaya bahasa bisa dimiliki apabila kita rajin mengumpulkan ilmunya sejak lama. Melalui proses yang dinamakan: membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenal dengan Karl May? Beliau adalah pengarang novel Winnetou yang terkenal itu dan juga beberapa judul novel yang mendunia. Favorit saya adalah novel yang berjudul “Dan Damai di Bumi”, sebuah novel tebal yang sangat indah dari segi bahasa. Kalau boleh ber-hiperbola, saya akan mengatakannya: menakjubkan. Saya bisa mendapati satu paragraf yang panjangnya hampir satu halaman, yang isinya adalah sebuah dialog yang ditulis begitu indah, penuh kata-kata yang tidak biasa didapati dalam bacaan lain, walaupun hanya untuk mengungkapkan sebuah makna sederhana. Saya yakin, si penerjemah buku turut andil dalam membahasakan teks aslinya dengan nyaris sempurna. Atau pengarang asli Indonesia Remy Silado, yang begitu detail dalam mendeskripsikan latar tulisan, yang membuat pembacanya seolah-olah berada tepat di lokasi peristiwa. Atau J.K Rowling dengan Harry Potter-nya? Pasti masih banyak lagi. Saya yakin, disamping imajinasi yang kuat, tentu para penulis tersebut adalah para ‘kutu buku’ yang senang melahap berbagai buku sebagai modal kesuksesan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, membacalah! Karena membaca bisa memperkaya tulisanmu. Dan belilah buku! Karena membeli buku berarti menabung ilmu. Bagi Anda, para orang tua, membiasakan anak-anak membaca sejak dini tak pernah rugi. Mereka akan menjadi ‘para kutu buku yang lucu’, yang nantinya bisa merambah dunia dengan ilmu yang mereka punya, atau bahkan dengan tulisannya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[artikel ini dimuat dalam rubrik SMS pada buletin MEMORI FLP Sengata]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-76276544726229788?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/76276544726229788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=76276544726229788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/76276544726229788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/76276544726229788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/si-kutu-buku-yang-lucu.html' title='Si Kutu Buku yang Lucu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2218225139004992802</id><published>2008-06-05T18:54:00.002+07:00</published><updated>2008-06-05T19:17:23.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Dua bulan menjelang partus</title><content type='html'>Salam'alaikum semuanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar menyapa nih ... di tengah terengah-engahnya diriku mengerjakan buku yang satu ini. Subhanallah ... nyaris aja kehilangan semangat dan nyaris 'dicampakkan' begitu saja. But, I need the money...hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan menjelang partus...nyaris nggak kerasa sebenernya. Mungkin karena udah ngalamin yang pertama, jadi yang kedua ini malah kadang lupa kalo lagi hamil :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan menjelang partus, dan Firna makin lincah aja. Kadang sedih kalo inget Firna bakal punya 'saingan', tapi seneng juga karena gosipnya adeknya Firna laki-laki :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan menjelang partus, apa yang belum disiapin? Hmm ... banyak. Tenggelam oleh kesibukan-kesibukan yang lagi dicoba dikurangin pelan-pelan. Tapi nulis harus terus. Hiks, kejar setoran ceritanya. Buku yang satu ini...hiks. Buku apa sih emangnya? Haha...sudahlah nggak usah dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini break dulu dari nerusin ngebut perbaikan buku itu. Tapi paling bentar lagi juga dikerjain...hiks....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2218225139004992802?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2218225139004992802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2218225139004992802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2218225139004992802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2218225139004992802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/06/dua-bulan-menjelang-partus.html' title='Dua bulan menjelang partus'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4646476097663192660</id><published>2008-03-10T19:53:00.002+07:00</published><updated>2008-03-10T20:00:32.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Tentang Dua Orang</title><content type='html'>Kangen banget sama Jakarta. Bukan kotanya, melainkan orang-orangnya. Terutama dua orang spesial yang selama hampir 15 tahun ini sudah menjadi 'soulmates' saya. Dua orang yang tahu segalanya tentang kehidupan saya. Dua orang yang selalu menanggapi cerita-cerita saya dengan penuh antusias dan empati tiada tara (hiperbola mode on). Dua orang yang paling saya butuhkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan ke Jakarta tahun lalu tidak memuaskan. Saya tidak menjumpai keduanya bersamaan, tidak punya banyak waktu untuk ngobrol, tidak memenuhi kebutuhan saya. Memang, bagaimanapun, there's no place like home. Rumah? Yang mana rumah saya? Sekarang, ya tentu aja di Sangatta. Tapi mereka berdua adalah 'rumah' saya yang lain, yang selalu saya butuhkan, terutama di saat-saat penat seperti sekarang ini. Dan saya sedang berusaha menyabar-nyabarkan diri sambil menghitung hari. Bulan ini saya akan 'pulang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, sepertinya semua orang perlu beberapa waktu untuk 'bernapas'. Termasuk juga diri saya. Sebentar lagi ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4646476097663192660?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4646476097663192660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4646476097663192660' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4646476097663192660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4646476097663192660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/03/tentang-dua-orang.html' title='Tentang Dua Orang'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8600382124885232424</id><published>2008-03-08T20:39:00.004+07:00</published><updated>2008-03-08T21:25:32.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel ibu'/><title type='text'>Menolehkan Hati kepada Ibu</title><content type='html'>Ketika saya menjadi seorang ibu, saya menjalani semuanya dengan sangat berbeda. Seolah-olah saya seperti menjadi orang lain, bukan diri saya sendiri. Tetapi ternyata tidak ada satu pun yang berubah dalam kehidupan saya, melainkan hidup saya menjadi lebih lengkap dan sempurna. Rupanya itulah yang membuatnya terasa berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang membicarakan segala tingkah polah putri mungil saya dan bagaimana saya menghadapinya. Saya ingin mengatakan bahwa, setelah menjadi seorang ibu, saya jadi lebih mencintai dan menghargai ibu saya sendiri. Dan sepertinya kepala saya penuh dengan bermacam ide untuk menuliskan sesuatu tentang ibu. Sekonyong-konyong begitu banyak hal yang ingin saya ungkapkan mengenai ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya seorang wanita sederhana. Ia tidak berpendidikan tinggi, ia tak banyak memberikan materi, tetapi ia mungkin adalah seseorang yang bisa membuat banyak mata memandang iri. Bahwa ia tetap bisa bertahan dan tersenyum ceria ketika kesulitan demi kesulitan melandanya. Bahwa ia bisa menyekolahkan saya hingga lulus kuliah dengan hasil kerja kerasnya. Bahwa ia sangat mudah bergaul, diterima banyak orang, dan punya banyak kenalan berbisnis karena sifatnya yang ramah dan pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya masih kecil, ibu tak pernah bosan bekerja keras. Padahal waktu itu ayah cukup sukses dengan pekerjaannya. Ketika kondisi keuangan terguncang, ia makin bekerja keras. Dan ketika keadaan sudah benar-benar payah, ia dengan tenang tetap bekerja keras. Seolah 'kerja keras' adalah teman akrab dalam hidupnya, layaknya sebuah napas yang kita hembuskan tanpa beban. Semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia seorang wanita tangguh yang mampu memikul segudang tanggungan selama puluhan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saya ditanya oleh ibu mertua saya tercinta, tentang mengapa ibu saya bisa tertawa-tawa di kala kesulitan terberat sedang dihadapinya saat itu. Saya hanya tersenyum dan mengatakan, "Justru masalah tersebut telah membuatnya lega." Sebuah kalimat yang kedengarannya tidak masuk akal, tetapi itulah ibu. Ia tak pernah menyerah untuk berapa pun kesusahan yang mampir di kehidupannya. Ia tetap sering menelpon saya dengan ceria, kami tertawa-tawa, menceritakan hal-hal seru, atau membicarkan perkembangan putri mungil saya yang selalu membuatnya rindu. Apakah ada tangis? Sudah pasti. Tetapi keesokan harinya, ia menceritakan pada saya bahwa bisnisnya berjualan &lt;em&gt;peyek&lt;/em&gt; kian maju, walaupun harus berpacu dengan sedikitnya modal dan banjir yang menggenangi Jakarta. Tak ada kendaraan pribadi, berpeluh dengan ojek, dan berbagai kisah yang sepertinya malah menjadi hiburan baginya ketika menceritakannya pada saya sambil terkikik geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memang jarang menceramahi saya tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Kadang ia memang mencetuskan satu dua hal yang berkaitan dengan pengalamannya. Dulu, saya sempat kebingungan mencari ‘referensi’ bagi kehidupan baru saya setelah menikah. Apalagi ketika akhirnya saya melahirkan anak pertama. Tapi sekarang, rupanya saya kian sering mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukan ibu untuk saya dan adik saya. Dan saya tak pernah lupa betapa dulu ibu berpayah-payah menjaga kami ketika kami sakit atau saat kami malas belajar. Dan melihat tingkah putri mungil saya sekarang, saya makin yakin bahwa penat dan letih yang dulu menghinggapi ibu tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, di tahun pertama saya menjadi seorang ibu, saya seolah menemukan 'pintu baru' di mana saya dapat melongok sepuas hati, mencari pelajaran apalagi yang bisa saya temukan pada diri ibu saya. Satu hal yang saya tanamkan dalam benak saya adalah saya juga akan berjuang semampu saya untuk menjaga dan membesarkan anak-anak saya, seperti halnya ibu saya yang telah berjuang menjaga dan membesarkan saya dan adik perempuan saya. Saya pun tidak akan menyerah dengan 'hanya' sebuah kesulitan ekonomi bila saya menghadapinya, seperti halnya ibu saya yang tak pernah lelah ke sana ke mari mencari tambahan penghasilan. Walaupun saya tak bisa menikmati semua materi yang mampir dalam hidup saya, walaupun yang saya dapatkan harus saya korbankan untuk keluarga saya, walaupun saya harus berjualan &lt;em&gt;peyek&lt;/em&gt; sambil naik ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya makin mencintai ibu saya. Bila dulu, ketika saya dan adik saya kecil, ibu telah menjaga kami dari apapun yang membahayakan hidup kami. Maka inilah saatnya saya menjaga ibu saya, menenangkannya, dan membahagiakannya hingga akhir hidupnya nanti. Walaupun saya tahu, semua upaya saya itu tak akan dapat membalas secuil pun kebaikan ibu terhadap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang telah ibu lakukan pada saya, memang akhirnya menjadi semangat dalam diri saya untuk juga melakukan yang terbaik. Saya kian menyadari, bahwa kehidupan yang telah dilewati ibu, terlalu berharga untuk saya lewatkan begitu saja. Kini, saya tak lagi enggan untuk 'menolehkan' hati saya ke kehidupan ibu yang telah berjasa besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8600382124885232424?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8600382124885232424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8600382124885232424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8600382124885232424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8600382124885232424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/03/menolehkan-hati-kepada-ibu.html' title='Menolehkan Hati kepada Ibu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-1937931563176283226</id><published>2008-02-28T20:46:00.003+07:00</published><updated>2008-02-28T20:50:20.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kepenulisan'/><title type='text'>Si Noddy dan Tulisan yang Membosankan</title><content type='html'>Dulu, saya pernah berpikir bahwa saya selamanya tidak akan pernah bisa menulis tulisan non fiksi. Bagi saya, yang sangat gandrung pada buku cerita, membaca tulisan selain dongeng atau cerita khayalan terasa sangat tidak menarik dan membosankan. Memang, sejak kecil saya sudah tenggelam dalam dunia buku yang semuanya adalah cerita anak-anak dan komik. Saya sangat akrab dengan seri Noddy (yang ditulis oleh Enid Blyton), yang bukunya sampai lecek-lecek karena terlalu sering saya baca. Buku Noddy adalah cerita dengan ilustrasi lucu di setiap halamannya. Hampir mirip komik, dalam bentuk buku yang mini (kalau ibu saya membaca tulisan ini, ia pasti tertawa geli mengingat bagaimana dulu kedua mata saya hampir copot membaca semua serial Noddy). Saya juga menyukai cerita-cerita karangan Hans C. Andersen, maupun majalah Bobo atau komik-komik lainnya. Dunia saya adalah imajinasi, dan saya mulai tertarik menulis ketika kelas 2 SD membaca komik “Buku Harian Penari Ballet” yang ditampilkan bersambung pada majalah Bobo. Sejak saat itu, saya mulai rajin menulis cerita-cerita pendek versi anak kecil, bertema “Star Trek” yang kebetulan juga menjadi salah satu tontonan favorit saya dulu. Saya bahkan mempunyai buku kumpulan cerpen dengan tema film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran ‘tak bisa menulis non fiksi’ tersebut terus saya tanamkan dalam benak saya, dan ternyata itu berpengaruh terhadap selera membaca saya. Saya cenderung menarik diri dari bacaan-bacaan selain cerpen, dongeng, novelet, dan sejenisnya. Kalau bukan cerita fiksi, saya tak akan menjamahnya. Itu yang saya lakukan hingga saya duduk di bangku SMP atau SMU. Tentu saja, bacaan-bacaan wajib seperti buku pelajaran atau buku-buku pendukung pelajaran tetap saya akrabi, tetapi itu tidak termasuk dalam daftar ‘buku menarik yang harus saya baca di waktu luang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan terus, dan kemampuan menulis saya begitu-begitu saja. Belajar secara otodidak, menulis dengan meniru, dan tidak dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir tahun 2004, saya bekerja sebagai sekretaris redaksi Eramuslim.com. Pada tahun 2004 itu pula, di tempat kerja saya itu, saya baru ‘menemukan’ sisi menarik dari tulisan non fiksi, yang dulu saya buang jauh-jauh. Rubrik ‘Oase Iman’ pada situs Eramuslim.com, yang isinya tentang pengalaman hidup atau berbagai peristiwa yang ditulis secara ringan, berisi, dan penuh dengan hikmah yang menggetarkan jiwa, telah membuka alam sadar saya bahwa: tulisan non fiksi tidak selalu membosankan. Buktinya, rubrik tersebut selalu menempati urutan pertama rubrik terpopuler dan yang terbanyak dibaca. Saya pun langsung terpacu untuk mengembangkan kemampuan menulis saya, dan mengakrabkan diri dengan Bayu Gautama (pada saat itu ia penanggung jawab rubrik ‘Oase Iman’), yang kemudian saya panggil dengan sebutan “Suhu Gaw” karena melalui dirinyalah saya menemukan gaya lain dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Bayu Gautama begitu digemari orang, sederhana, menyentuh, dan selalu membuat iri. Karena begitu kaya pengalaman hidupnya yang ternyata bisa membawa perubahan pada orang-orang yang membacanya. Bentuk tulisan seperti itu kemudian saya kenal dengan sebutan tulisan feature. Atau sebut saja artikel, atau karangan khas. Karena hingga kini belum ada definisi yang jelas dan disepakati tentang bentuk tulisan yang satu itu. Saya terus menempa diri saya, memanfaatkan waktu saya di Eramuslim.com, dan mendapatkan hasilnya dengan dipublikasikannya “Bercermin pada Hatimu” (buku pertama saya, yang merupakan kumpulan artikel saya yang dimuat pada rubrik ‘Oase Iman’ sepanjang tahun 2004-2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang, memiliki pandangan negatif terhadap satu hal bisa membawa kita menutup diri terhadap hal lainnya. Contohnya adalah soal keengganan membaca non fiksi itu tadi, dan kemudian berimbas pada kurangnya kemampuan saya menulis non fiksi, padahal tidaklah sepayah dan se-membosankan itu. Banyak sekali yang bisa didapat dari memperkaya diri dengan membaca dan menulis tulisan non fiksi. Di antaranya adalah, kita terlatih untuk membaca dan menulis sesuatu yang informatif, tidak hanya mengandalkan kemampuan berimajinasi, namun menguatkan kemampuan menuliskan fakta dalam bentuk dan gaya menarik, hingga sebuah berita yang sederhana dan tidak terperhatikan sebelumnya bisa menjadi sesuatu yang bernilai. Mengolah urutan peristiwa menjadi cerita yang berhikmah. Memberikan pelajaran dari sesuatu yang nyata, memberikan sentuhan manis pada sesuatu yang sepele, dan sebagainya. Serta, meningkatkan kemampuan menggali data dan menempatkannya dengan ramah di dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengisi acara Bedah Karya dan Diskusi Hari Valentine di SMPN 1 Sengata Utara, saya cukup terkejut dengan respon dari peserta. Semua peserta yang hadir membawa satu berkas tulisan lengkap, hingga saya dan mbak Rien kewalahan harus membacanya satu per satu sebelum dibedah. Permintaan panitia waktu itu adalah: menulis artikel tentang Hari Valentine. Saya tak mengira bahwa kemampuan menulis para peserta sudah sebaik itu. Beberapa tulisan bahkan sudah dilengkapi dengan data-data lengkap yang didapat dari berbagai sumber, disajikan rapi dan dituliskan ulang dalam bentuk yang sangat layak baca. Walaupun di antaranya memberikan tulisan fiksi dalam bentuk cerpen, yang artinya tidak sesuai dengan persyaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa orang yang menyerahkan tulisan sederhana sesuai dengan data yang didapat, ada satu dua yang bisa menganalisis tema dan menyajikan tulisan yang tajam dan penuh dengan dalil Alquran dan hadits serta data-data lain hingga terasa sangat ilmiah. Tetapi, yang menarik, ada yang menuliskannya dalam bentuk feature seperti gaya khas rubrik Oase Iman yang saya ceritakan di atas. Mungkin si penulis tidak menyadari apa dan bagaimana bentuk dan jenis tulisan yang mereka hasilkan. Tapi saya membacakan beberapa yang menulis dalam bentuk feature, atau sebutlah curhat, yang di dalamnya secara implisit juga menampilkan pendapat pribadi mereka tentang tema yang diangkat. Sederhana, tapi menarik. Inilah bentuk tulisan yang tepat sebagai sarana belajar penulis pemula yang ingin menghasilkan tulisan non fiksi. Seperti juga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali teringat akan keasyikan saya menulis feature, dan sampai-sampai beberapa orang teman bertanya: “Mana cerpen-cerpenmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya kemampuan yang berbeda, sesuai dengan mana yang lebih banyak diasah. Saya sih percaya, bahwa kalau saja kita mengasah keduanya seimbang (kemampuan menulis fiksi dan non fiksi), insyaallah kita akan dapat menjadi seorang penulis yang pandai menulis keduanya. Jadi, masih ragu menulis? [dev]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ditulis untuk mengisi rubrik SMS dalam Bulletin MEMORI FLP Sengata&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-1937931563176283226?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/1937931563176283226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=1937931563176283226' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1937931563176283226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1937931563176283226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/02/si-noddy-dan-tulisan-yang-membosankan.html' title='Si Noddy dan Tulisan yang Membosankan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-6978107438119564988</id><published>2008-02-24T20:57:00.001+07:00</published><updated>2008-02-24T21:04:51.568+07:00</updated><title type='text'>Pancingan Jitu</title><content type='html'>Pernahkah kita mengukur, seberapa berprestasi negara tercinta ini dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya? Jawabannya pasti bervariasi. Mungkin ada yang mengatakan tidak pernah, tidak tahu, tidak peduli, atau bagi mereka yang memiliki kebanggaan tinggi sepenuh hati sebagai warga negara Indonesia, pastinya selalu akan berpikir positif bahwa bagaimanapun Indonesia tetaplah negara tercinta yang kaya raya serta mampu bersaing dalam berbagai hal di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sisi saja, bila kita berkenan untuk menengok lebih dekat, kita akan mendapati betapa banyak pengabaian yang dilakukan oleh perusahaan terhadap tenaga kerjanya yang berakibat tingginya tingkat kecelakaan kerja, dan sebaliknya betapa banyak tenaga kerja Indonesia yang bermental rendah alias pemalas dalam hal mendisiplinkan diri mengikuti aturan hukum keselamatan dan kesehatan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan tahun 2002, ILO (International Labour Organization) mencatat Indonesia sebagai negara yang menduduki peringkat ke-26 dari 27 negara dalam hal keselamatan kerja. Menurut data tersebut, tercatat tidak kurang dari 52 ribu kasus kecelakaan kerja atau lebih dari 400 kasus setiap harinya. Dari kasus-kasus tersebut, lebih dari 5400 tenaga kerja mengalami cacat sebagian, 317 lainnya mengalami cacat total, serta 1049 meninggal dunia. Data yang tidak menggembirakan, dan itu baru yang ‘tercatat’. Sudah pasti kasus-kasus kecelakaan kerja sama halnya dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga misalnya, bahwa jumlah yang tercatat menduduki puncak gunung es, dan jumlah yang lebih besar lagi tenggelam di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua tahun kemudian, Indonesia kembali meraih ‘prestasi’ besar yang sangat tak bisa dibanggakan. Faktor keselamatan dan kesehatan tenaga kerja Indonesia menduduki urutan nomor 5 se-ASEAN, atau yang terburuk dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Pada tahun 2004 tersebut, terjadi sekitar 95 ribu kasus kecelakaan kerja yang tercatat, yang 1,28 persennya mengakibatkan kematian. Total biaya yang dikeluarkan perusahaan pada saat itu sekitar Rp 102 milyar. Bayangkan apabila jumlah tersebut dikeluarkan untuk peningkatan produksi perusahaan atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja yang menggambarkan betapa penting dan mendesaknya perhatian terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk lebih ditingkatkan. Dan jangan hanya menuding sepihak, tanpa keterlibatan perusahaan dan tenaga kerja sekaligus, tujuan tersebut tidak mungkin tercapai dengan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja perusahaan meningkatkan perhatian kepada jaminan K3 para tenaga kerja, perhatian dalam bentuk lain misalnya sosialisasi intens kepada karyawan serta masyarakat umum, dan imbalan menarik bagi tercapainya prestasi sekian waktu tanpa kecelakaan kerja, maka semua itu menambah poin positif bagi peningkatan perhatian dan kepedulian tenaga kerja akan K3, yang merupakan penentu keselamatan dan kesehatan diri mereka sendiri. Tampaknya memang sesuatu yang ingin diraih harus menyediakan pancingan jitu sebagai penariknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja tenaga kerja yang ada menyadari betul pentingnya K3 dan tidak lagi mengenakan motto hidup ‘aturan ada buat dilanggar’, maka perusahaan tidak akan dirugikan dengan berkurangnya produktivitas kerja serta pemborosan dalam hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah. Dan sekaligus mereka akan membuat keluarga tercinta merasa lega bahwa si tulang punggung keluarga berada di tempat yang aman dengan disiplinnya ia mengikuti peraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila negara ini sudah banyak dirugikan dengan dicomotnya kekayaan negara melalui korupsi serta pungli, maka janganlah lagi menambah dengan memperbesar biaya penanggulangan kecelakaan kerja bermilyar-milyar, padahal banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengetahuan say&lt;img alt="Italic" src="http://www.blogger.com/img/gl.italic.gif" border="0" /&gt;a yang terlalu sederhana, apa yang dilakukan PT Kaltim Prima Coal cukup menarik dan sepertinya jitu mencegah laju kecelakaan kerja. Sebut saja berbagai imbalan yang diterima secara berkala, penghargaan bagi tercapainya sekian jam kerja tanpa lost time injury atau tidak adanya fatality, sosialisasi intens di media setempat, dan sebagainya. Satu hal yang cukup efektif memberikan semangat meningkatkan produktivitas kerja serta efisiensi bagi pengeluaran perusahaan. Pertanyaannya, apakah selalu harus ada pancing dan umpan menggiurkan bagi sesuatu yang menyelamatkan dan menenteramkan banyak jiwa? Begitulah kita, yang selalu harus diberi sebelum memberi. Bahkan untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ditulis dalam rangka mengikuti lomba K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) PT Kaltim Prima Coal. (duh, lolos gak ya? hehe...deg-degan...)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-6978107438119564988?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/6978107438119564988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=6978107438119564988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6978107438119564988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/6978107438119564988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/02/pancingan-jitu.html' title='Pancingan Jitu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2350394782492836113</id><published>2008-02-22T08:42:00.004+07:00</published><updated>2008-02-22T09:00:38.481+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>As a Mom ...</title><content type='html'>As a Mom ... Siapa sih yang nggak panik dan super cemas ketika anak sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua minggu lalu, Firna sakit. Awalnya pilek, meler terus, dan akhirnya jadi batuk berdahak yang lumayan mengkhawatirkan. Tidur malam selalu terganggu, dan jadi agak rewel, walaupun tetep lincah ke sana ke mari. Saya hampir-hampir nggak tahan mendengarnya selalu terbatuk-batuk, dengan wajah sedikit terlihat kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan bulat, konsultasi ke dokter anak yang konon kabarnya 'killer' alias ditakuti para ibu. Tapi juga sama banyaknya dengan yang merekomendasikan, karena pengalaman yang sudah lama dan banyak yang cocok. Saya nggak tahu, katanya untuk urusan dokter anak biasanya cocok-cocokan. Yang jelas, dengan dokter spesialis anak yang sebelumnya Firna 'nggak cocok'. Kalau memang itu istilahnya. Kenapa? Setiap kali sakit, obat-obat yang diberikan 'nggak ngaruh'. Setidaknya itu pemikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah Firna ke dokter baru ini. Kesan saya? Nggak 'killer' sama sekali. Memang tegas, kalau bicara langsung pada pokok masalah, tapi sangat mendetail menjelaskan bila ditanya maupun tidak, dan cerewet mewanti-wanti para ibu untuk senantiasa disiplin memberikan obat. Reaksi Firna? Gembira ria mendapati ruangan dokter yang penuh mainan bergelantungan, walaupun nangis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pertama lewat, obat habis, kontrol lagi, sudah ada perbaikan walaupun lendir masih banyak. Harus dijemur, disiplin obat, banyak makan. Syarat pertama, ini yang susah. Matahari nggak mau kompromi. Giliran udah siap di luar, malah ngumpet dan mendung jadinya. Giliran siap, taunya hujan. Paling hanya beberapa kali. Minggu pertama Firna sakit, saya benar-benar cemas setiap hari. Syarat kedua, disiplin obat, alhamdulillah terlewati, dibantu suami tercinta, walaupun harus menghadapi Firna menjerit-jerit karena obatnya pahit sekali. Syarat ketiga, banyak makan? Jawab saya: "Jangan khawatir, Dok, Firna tukang makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi baru aja kontrol terakhir sebelum obat habis. Batuk sudah hilang, dan lendir tidak kedengaran lagi, walaupun sesekali ada. Katanya kalau masih batuk sampai 3 kali berobat dengan antibiotik, harus fisioterapi dan tes darah. Bayangan saya udah ke mana-mana. Saya sampai searching soal ISPA, bronkitis, dan sebagainya. Mereka-reka gejala apakah yang mirip dengan kondisi Firna. Dan ketika saya ceritakan ke si dokter, beliau cuma cengar-cengir nggak menanggapi. Artinya, saya terlalu cemas. Cemas berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kontrol tadi pagi berlangsung singkat. Kondisi fisik bagus, katanya. Dan saya semakin bersemangat masak macem-macem untuk nasi tim Firna, yang selalu dimakan lahap (walaupun kadang 'dilepeh' sambil ketawa-ketawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a mom ... tingkah saya yang memperlakukan Firna seakan-akan sakit parah dua minggu kemarin, rasanya udah sepantasnya ya. Karena kalau ada sesuatu yang buruk terjadi (na'udzubillah...) saya akan sangat merasa menyesal tidak berbuat semaksimal mungkin untuk kesembuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahi robbil 'alamiin ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2350394782492836113?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2350394782492836113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2350394782492836113' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2350394782492836113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2350394782492836113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/02/as-mom.html' title='As a Mom ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8334673687113379720</id><published>2008-02-18T09:15:00.003+07:00</published><updated>2008-11-13T18:05:56.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku-ku'/><title type='text'>Sebab Cinta Tak Kenal Waktu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/R7jrbFDlWVI/AAAAAAAAAAw/qhVa7KRD4A8/s1600-h/SEBAB+CINTA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168139422853847378" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/R7jrbFDlWVI/AAAAAAAAAAw/qhVa7KRD4A8/s320/SEBAB+CINTA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buku ini hasil duet dengan Rien Hanafiah, seorang penulis dari Sengata yang sekarang jadi Ketua FLP cabang Sengata periode 2007-2009. Waktu itu saya maksa beliau untuk nulis 13 artikel dalam seminggu. Kejam sekali, bukan? Yah, dalam rangka ngotot mengambil peluang diterbitkan oleh AFRA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, prosesi launching-nya yang bersamaan dengan launching "Bercermin pada Hatimu" berjalan cukup lancar dan menyenangkan, dengan peserta yang lumayan banyak dari berbagai kalangan serta usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, saya sendiri masih dalam proses berjuang untuk kembali produktif menulis. Semoga kembali berkarya tahun ini. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8334673687113379720?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8334673687113379720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8334673687113379720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8334673687113379720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8334673687113379720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/02/sebab-cinta-tak-kenal-waktu.html' title='Sebab Cinta Tak Kenal Waktu'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/R7jrbFDlWVI/AAAAAAAAAAw/qhVa7KRD4A8/s72-c/SEBAB+CINTA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7537285295769935946</id><published>2008-02-18T09:02:00.002+07:00</published><updated>2008-02-18T09:12:03.128+07:00</updated><title type='text'>Gersang</title><content type='html'>Pernahkah merasakan hati yang gersang?&lt;br /&gt;Mungkin ketika kita sendiri merasakan baik-baik saja, tapi orang lain di sekitar yang malah merasakannya. Biasanya, hati yang gersang ditandai dengan apa yang terlihat kasat mata, tapi bisa juga tidak. Katanya, bila hati gersang, lawan bicara akan dengan mudah mengenali. Artinya, setiap perkataan yang kita ucapkan bisa jadi tidak 'mengena' di hati lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya percaya, nurani yang terjaga baik akan langsung memberikan 'tanda' apabila ia telah mulai kering, belum sampai gersang. Ada sesuatu yang terasa tak enak, dan mestinya ia langsung 'disiram' supaya segar kembali. Bayangkan, apabila waktu-waktu yang kita punya dialokasikan untuk memberikan cinta kepada banyak orang, tetapi suatu saat ia dalam kondisi kering atau gersang, maka cinta itu tak dapat menumbuhkan sesuatu pada diri orang lain. Atau bahkan, yang kita keluarkan dari diri kita bukanlah cinta sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sepertinya menyebabkan 'gersang' adalah penat. Dan Rasulullah SAW pernah mengatakan pada sahabatnya yang sungguh teladan,&lt;br /&gt;"Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Akankah sholat menjadi pilihan utama tatkala hati ini gersang dan penuh dengan penat?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7537285295769935946?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7537285295769935946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7537285295769935946' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7537285295769935946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7537285295769935946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2008/02/gersang.html' title='Gersang'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-7381374147932190962</id><published>2007-09-07T19:58:00.000+07:00</published><updated>2007-09-07T20:13:24.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>[belom tau judulnya apa]</title><content type='html'>Fiuh ...&lt;br /&gt;Kesampean juga ya mau nulisin blog. Beberapa hari ini kayaknya udah gatel banget mau ngetik. Lirik-lirik komputer, tapi kok ya gak sempet terus. Udah log in, taunya mesti ini dan mesti itu. Duhhh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru baca (fast reading aja sih) bukunya mbak Afifah Afra, yang judulnya "How to be a Smar Writer". Menarik, dan menarik. Kata mbak Afra, ide itu nggak boleh dibuang, harus diiket. Diiket dalam bentuk menuliskan ide tersebut. Saya langsung mangut-mangut bacanya. Selama saya mulai produktif nulis, saya malah nggak pernah nulis langsung tuh ide kalo tiba-tiba nongol di kepala. Misalnya dioret-oret dulu di kertas. Males. Padahal, dulu saya sempet jadi seseorang yang kalo ada laler lewat aja (hiperbolanya) ditulis. Sekarang kayaknya kalo ada ide, trus langsung aja mikir 'yap, bakal jadi tulisan selanjutnya' dan ide itu ngantri bersama tumpukan ide-ide lainnya. Sampe kepala saya rasanya penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ups...pending dulu deh ya. badan lagi gak enak banget. mual meriang masuk angin*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-7381374147932190962?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/7381374147932190962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=7381374147932190962' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7381374147932190962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/7381374147932190962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/09/belom-tau-judulnya-apa.html' title='[belom tau judulnya apa]'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-1727404106775600050</id><published>2007-08-25T10:26:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T18:05:56.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku-ku'/><title type='text'>Finally ... sudah beredar!!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Rs-iQQWgfyI/AAAAAAAAAAk/muLSezNpPC0/s1600-h/Bercermin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5102475302985039650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Rs-iQQWgfyI/AAAAAAAAAAk/muLSezNpPC0/s320/Bercermin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Menjadi cermin bagi orang lain, merupakan satu hal yang pasti dari setiap diri kita. Tetapi, mampukah kita memantulkan bayangan yang baik? Atau kita hanya memantulkan gambar buram yang tak sudi dilirik orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh:&lt;br /&gt;Pro-U Media, Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kunjungi toko buku kesayangan Anda, dan beli bukunya ya!!! :-)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-1727404106775600050?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/1727404106775600050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=1727404106775600050' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1727404106775600050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/1727404106775600050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/finally-segera-hadir.html' title='Finally ... sudah beredar!!!'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/Rs-iQQWgfyI/AAAAAAAAAAk/muLSezNpPC0/s72-c/Bercermin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4877781876477745765</id><published>2007-08-16T19:53:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T18:05:56.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Main, yuk!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRKyQWgfwI/AAAAAAAAAAU/k1i2sXm-GeE/s1600-h/S4021191.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5099282905333530370" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRKyQWgfwI/AAAAAAAAAAU/k1i2sXm-GeE/s320/S4021191.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;OOooppsss ... !!!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hehehe ... siapa sih yang bisa nerjemahin bahasa bayi? Saya sebagai bunda-nya kadang-kadang juga sok tau aja nebak-nebak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Firna udah hampir lima bulan nih. Rambutnya udah digundulin dua kali, supaya rata tumbuhnya. Sekarang udah guling-gulingan, dan belajar merangkak. Udah makin lancar, kedua kakinya udah berenang-renang gaya katak di lantai. Lucu? Bangettt!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4877781876477745765?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4877781876477745765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4877781876477745765' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4877781876477745765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4877781876477745765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/main-yuk.html' title='Main, yuk!'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRKyQWgfwI/AAAAAAAAAAU/k1i2sXm-GeE/s72-c/S4021191.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2732110223658628809</id><published>2007-08-16T19:41:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T18:05:56.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Firna !</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRHOwWgfvI/AAAAAAAAAAM/qMcRl6jB_QI/s1600-h/firna-biru-EDITED.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5099278996913290994" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRHOwWgfvI/AAAAAAAAAAM/qMcRl6jB_QI/s320/firna-biru-EDITED.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firna Sabila Husna.&lt;br /&gt;Artinya "Segera Menuju Jalan Kebaikan".&lt;br /&gt;Firna-ku lahir tanggal 1 Maret 2007, di Klinik Medika Plaza, Sengata. Sejak jam setengah lima sore di ruang bersalin sampe jam delapan malam. Berat 3,1Kg dan panjang 50cm. Perjuangan berat, nggak bisa dilupakan, sekaligus seru untuk diceritain berkali-kali ke khalayak ramai ... ;p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini foto Firna waktu usia kira-kira satu bulan. Mumpung ada kamera pinjeman, cepet-cepet deh fotoin Firna banyak-banyak. Tapi sayang, pas setting internet di komputer lagi error berat. Jadi agak basi deh baru diposting sekarang. Nggak apa-apa dehh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Firna udah lima bulan lebih. Udah nggak kayak gini lagi mukanya. Duh, pengen cepet-cepet ke Jakarta, trus ajak Firna ketemu orang-orang. (kangen berat mode on)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2732110223658628809?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2732110223658628809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2732110223658628809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2732110223658628809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2732110223658628809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/firna.html' title='Firna !'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/RsRHOwWgfvI/AAAAAAAAAAM/qMcRl6jB_QI/s72-c/firna-biru-EDITED.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-3523623226057535950</id><published>2007-08-16T09:51:00.000+07:00</published><updated>2007-08-16T09:54:09.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat deh'/><title type='text'>Ganti Template Lagi ... ???</title><content type='html'>Ups ... yah, ganti template lagi? Yep. Template sebelumnya bagus, saya suka banget, tapi kok jadi kacau gitu tampilan side bar-nya. Jadi males ngeliatnya, deh. Kembali aja deh ke sebelumnya, kayaknya kok lebih rapi. Sambil cari-cari inspirasi buat bikin yang baru (lagi). Hehe. Bisa aja &lt;em&gt;ngelesnya&lt;/em&gt; ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-3523623226057535950?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/3523623226057535950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=3523623226057535950' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3523623226057535950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3523623226057535950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/ganti-template-lagi.html' title='Ganti Template Lagi ... ???'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-3116471870806961073</id><published>2007-08-16T09:23:00.000+07:00</published><updated>2007-08-16T09:24:57.131+07:00</updated><title type='text'>Selalu Memberikan Maaf</title><content type='html'>Dari dulu, saya selalu yakin bahwa sepanjang nyawa masih menempel di raga, Allah pasti akan menerima taubat seseorang. Betapapun seseorang tersebut berkali-kali melakukan kesalahan. Betapapun seseorang tersebut tak menyadari betapa Allah telah berulang kali memberikannya kesempatan untuk bertaubat. Oleh karena itulah, saya tidak pernah putus asa menyemangati seseorang yang saya kenal, yang saya tahu sudah begitu banyak kesalahan yang ia perbuat semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanyakan kepada orang lain, mungkin beragam tanggapan yang akan saya terima. Ada yang langsung bersikap sinis dan mengatakan bahwa dosa orang tersebut terlalu besar. Dan mungkin ada pula yang memilih bersikap skeptis bahwa seseorang tersebut tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Saya adalah salah seorang terdekat dari seseorang tersebut, sebut saja si A, yang cukup mengetahui sejarah panjang ‘kelakuannya’ yang tak pernah tidak membuat orang lain geleng-geleng kepala. Bahkan untuk beberapa kasus, saya sendiri terhitung menjadi korban akibat perilakunya yang tidak bertanggung jawab. Tetapi, entah kenapa, saya tetap saja ‘membela’ si A di hadapan orang lain seraya mengatakan: “Ia sedang berusaha untuk bertaubat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mungkin merasa heran dengan sikap saya tersebut. Padahal mereka mengetahui apa saja yang telah diperbuat oleh si A terhadap diri saya. Saya sendiri memang merasakan tak sedikit penderitaan yang saya rasakan akibat ulah si A tersebut. Tetapi, sekali lagi, entah kenapa saya selalu berusaha memaafkannya. Mungkin rasa sayang saya begitu besar pada si A. Mungkin di lubuk hati saya yang paling dalam, saya begitu mengharapkan si A untuk berubah, bertaubat, dan tidak lagi mengulangi perbuatannya. Saya rasanya masih bisa membuka lebar-lebar hati saya untuknya. Apalagi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini si A memang benar-benar berubah, menurut saya. Saya jadi mensyukuri keputusan saya untuk memaafkan segala perbuatan buruknya yang dilakukan pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perubahan demi perubahan yang terjadi pada dirinya, saya tak habis-habis mengucap syukur pada Allah. Bahkan kadang-kadang saya tidak percaya, bahwa si A bisa begitu berubah. Ia tak pernah tidak menunaikan shalat tepat waktu. Ketika adzan berkumandang, ia langsung bangkit dari aktivitasnya dan langsung mengambil wudhu. Saat hari Jumat tiba, ia dengan begitu bersemangat berjalan kaki dari rumah menuju masjid terdekat. Seringkali saya terharu melihatnya tersenyum-senyum pulang ke rumah dengan sajadah tersampir di pundak. Pun ketika saya mendapatinya begitu rajin berpuasa sunnah setiap hari Senin dan Kamis. Sewaktu ia berada di luar rumah, misalnya sedang berjalan-jalan ke sebuah mal, ia dengan percaya dirinya langsung menghampiri mushala untuk menunaikan shalat apabila waktunya telah tiba. Saya melihat semangat menuju kebaikan yang tak habis-habisnya pada diri si A. Dan rasanya saya ingin melakukan apapun untuk membuatnya tambah bersemangat, dan memberikan sedikit ilmu yang saya punya untuknya. Ternyata benar, memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah bisa jadi akan menimbulkan semangat pada dirinya untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah saja mengampuni seluruh dosa hamba-hamba-Nya, masa manusia tidak? Begitu keyakinan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak diskusi yang kami lakukan, saya pun mendapati dirinya penuh keingintahuan tentang Islam. Tak jarang kami mengobrol lama mengenai hal-hal yang ingin diketahuinya. Dan saya sendiri merasakan bahwa sepertinya saya yang jadi bersemangat untuk menceritakan dan memberitahukan segala hal yang saya tahu kepadanya. Tak henti-hentinya saya bersyukur pada Allah akan kesempatan yang Ia berikan pada si A untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, secara tak sengaja saya mendengar sebuah kabar mengejutkan dari seorang saudara saya. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui si A melakukan lagi perbuatan yang sudah lama ia tinggalkan. Saya kontan saja kaget. Benar-benar tidak menyangka. Saya meminta saudara saya itu untuk memeriksa kembali, bahkan memintanya untuk memberikan bukti-bukti kepada saya akan perbuatan yang dilakukan si A. Dan demikianlah, beberapa bukti yang secara tidak sengaja ditemukan oleh saudara saya itu, benar-benar membuat saya kaget. Sepertinya saya tidak mau percaya. Dan si A berusaha untuk berkilah, menghindari pertanyaan yang kami berdua sodorkan. Awalnya saya menemukan rasa sesal dan mungkin sedikit rasa takut pada diri si A bahwa perbuatannya telah diketahui. Tetapi ketika kedua kalinya saya memintanya untuk menjelaskan, pernyataan yang saya dapatkan adalah ”Apa ada yang salah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasanya tidak bisa lagi mengobati rasa kecewa ini, pada saat ini. Dan saya tidak tahu kapan saya akan bisa memberikan maaf untuknya yang ke sekian kalinya menyakiti lagi diri saya, dan juga keluarga kami. Kesalahan yang diperbuat untuk yang kedua kalinya, atau entah ke sekian kali. Memang ada saja ulah setan untuk menggoda manusia yang sedang berusaha bertaubat. Memang selalu ada ujian-ujian bagi orang-orang yang ingin meningkatkan keimanannya. Memang hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan dan mencabut hidayah pada diri seseorang. Saya benar-benar kecewa. Tetapi satu hal yang saat ini sedang saya usahakan dengan sangat keras untuk tetap mendiami hati saya. Sebuah keyakinan bahwa taubat seseorang akan selalu diterima oleh Allah, sampai waktu ajalnya tiba nanti. Dan saya berdoa, agar Allah masih berkenan untuk memberikan ampunan serta kesempatan pada si A untuk sekali lagi bertaubat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-3116471870806961073?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/3116471870806961073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=3116471870806961073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3116471870806961073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/3116471870806961073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/selalu-memberikan-maaf.html' title='Selalu Memberikan Maaf'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2384694249454236001</id><published>2007-08-16T09:07:00.000+07:00</published><updated>2007-08-16T09:21:03.001+07:00</updated><title type='text'>Jatuh untuk yang Kedua Kalinya</title><content type='html'>Seekor hewan yang selalu menjadi perumpamaan jelek untuk seseorang yang berbuat kesalahan adalah seekor keledai. Bila seseorang sekali berbuat kesalahan, kemudian nasehat yang muncul adalah: jangan seperti seekor keledai, yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Ibaratnya, jika manusia yang memiliki kesempurnaan akal dan hati bisa berbuat kesalahan yang sama berkali-kali, ia sama saja seperti seekor keledai, hewan yang tidak memiliki akal dan hati. Memang, sebagai seorang makhluk yang penciptaannya begitu sempurna, agak keterlaluan bila tidak bisa mengoptimalkan potensi akal dan hatinya untuk melindungi diri dari kebodohan tersebut. Tetapi, sungguh tidak sedikit orang yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang kerabat saya yang telah melakukannya. Saya telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Kesalahan pertama yang ia perbuat bertahun-tahun yang lalu demikian menyakitkan bagi istri dan anak-anaknya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana dampak yang diakibatkan dari perbuatannya tersebut dahulu. Yang saya tahu, beberapa keluhan serta gejala-gejala traumatik dapat dilihat dengan jelas pada proses perkembangan kedua anak-anaknya. Yang satu, tumbuh menjadi anak yang sedikit penakut bahkan bisa histeris dan panik bila sewaktu-waktu mendengar pertengkaran kecil kedua orang tuanya, atau mendengar suara-suara berintonasi keras dari orang lain. Walaupun seiring dengan pertumbuhannya, trauma itu berangsur-angsur berkurang, tetapi tidak bisa hilang sama sekali. Yang satunya lagi, seringkali secara tidak sadar bersikap kasar sekali kepada ayahnya tersebut, dan sedikit memiliki potensi sifat pendendam. Memang, kejadian yang menyebabkan trauma tersebut terjadi ketika mereka berdua masih sangat kecil. Tentu saja, apapun yang dialami seorang anak, sekecil apapun dia, pasti akan terus membekas hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bertahun-tahun kemudian, sampailah hidayah yang membuahkan keterbukaan hati pada kerabat saya itu. Alhamdulillah. Banyak sekali orang yang lega dan senang akan perubahannya tersebut. Saya sendiri termasuk salah seorang yang mendukung perubahannya menuju kebaikan. Saya tak lelah menyemangatinya untuk terus berubah menjadi lebih baik, yang tentu saja hal itu akan membahagiakan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, campur tangan setan untuk menyesatkan tak akan pernah jera menghantui manusia. Saya sendiri tak mengerti, dari mana godaan itu berasal, dalam tempo yang sangat singkat, perilaku kerabat saya tersebut berubah total. Hal ini mengagetkan istri dan anak-anaknya, terlebih diri saya yang tadinya begitu optimis akan dirinya. Dan ia pun mengulangi kesalahan yang telah ia perbuat dulu. Begitu cepat terjadinya. Hingga kedua anaknya sendiri pun tak mampu mencegah atau menyadarkan ayahnya akan kesalahannya tersebut. Tak sedikit orang yang akhirnya turun tangan menasehatinya, tetapi tidak mempan. Sungguh benar, ketika seseorang sudah memilih untuk menempuh jalan yang sesat dan tak lagi mengindahkan kebenaran, maka siksa Allah akan menimpanya. Ia pun semakin tersesat. Jatuh ke lubang yang sama dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ’lubang kesalahan’ memiliki tanda, maka bisa jadi setiap orang akan mudah untuk menghindarinya supaya tidak terjatuh. Atau bila ketika berbuat sebuah dosa seseorang akan tercoreng hitam mukanya, maka bisa jadi tak ada orang yang mau berbuat dosa. Masalahnya, dosa dan kemaksiatan diselimuti dengan pagar kenikmatan serta kesenangan yang akan memuaskan nafsu manusia. Sedangkan kebaikan dan jalan menuju surga diliputi kerikil yang tampak menyusahkan. Dan memang tidak semua orang di dunia ini mengerti tujuan akhir kehidupannya. Sehingga yang ia cari hanyalah kenikmatan dan kesenangan untuk sesaat, tanpa memikirkan ganjaran apa yang akan ia terima atas perbuatannya tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2384694249454236001?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2384694249454236001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2384694249454236001' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2384694249454236001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2384694249454236001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/jatuh-untuk-yang-kedua-kalinya.html' title='Jatuh untuk yang Kedua Kalinya'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-2460284105883053566</id><published>2007-08-14T21:16:00.000+07:00</published><updated>2007-08-14T21:19:22.499+07:00</updated><title type='text'>Jakarta-Sengata (part two)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mati Lampu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir dua bulan ini Sangatta benar-benar menjadi seperti asal-usul namanya: Sangat Menderita. Kami harus merasakan satu hari mati lampu selama sekitar 6 jam di pagi hari, dan kemudian keesokan harinya mati lampu sekitar 5 jam di malam hari. Kalau lagi ‘tega’, kami semua dikagetkan dengan mati lampu selama 12 jam. Mungkin sudah beberapa kali terjadi. Biasanya jam-jam mati lampu bergiliran bisa ditebak. Kalau giliran pagi, pasti mulai pukul 8 hingga sekitar pukul 4 atau 5 sore. Kalau giliran malam, bila pukul 5 sore atau menjelang maghrib mati lampu, maka siap-siap bergelap ria hingga pukul 10 malam. Awalnya memang terasa menyebalkan, tapi lama-lama sepertinya terbiasa juga. Tapi, beberapa waktu belakangan, mati lampu tak bisa ditebak. Kadang jam 6 pagi, atau jam 11 siang, bahkan kemarin malam mati lampu hanya berlangsung 2 jam, dan kembali terang pukul 8 malam. Dan menjelang saat tidur, sekitar pukul 10, tiba-tiba semua gelap lagi. Ya sudah pasrah saja lah. Sempat ada kabar bahwa seluruh Sangatta akan ‘dimatikan’ selama seharian penuh, dalam rangka perbaikan listrik seluruh Sangatta. Kami sempat berharap-harap cemas, terserah lah mau dimatikan berapa jam asal setelahnya tidak terjadi lagi mati lampu bergantian seperti dua bulan ini. Ternyata???? Mati lampu se-Sangatta tidak jadi, dan hingga sekarang kami masih cukup hafal dengan jadwal mati lampu ‘siang-malam’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mati Air&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan yang satu ini memang nggak dirasakan oleh penghuni komplek perumahan KPC di Swarga Bara alias Sangatta Baru. Tapi rasanya saya perlu tulis, karena ini menyangkut penderitaan banyak sekali teman-teman saya yang memang tinggal di daerah Sangatta Lama, Teluk Lingga dan sekitarnya. Sudah sekitar dua minggu terakhir mereka sama sekali tidak mendapatkan aliran air dari PAM. Bayangkan saja, biasanya mereka harus berebut menampung air yang hanya ‘lewat’ satu atau dua kali seminggu, biasanya keluar di malam hari, sehingga mereka harus bergadang hingga pukul dua dini hari untuk menunggui tampungan air. Kemudian hari-hari berikut mereka harus mengirit pemakaian air, terbatas hanya untuk mencuci baju dan mandi saja. Saya membayangkan kalau hidup seperti itu, apa jadinya nasib saya yang selalu kepanasan di siang hari hingga bisa mandi berkali-kali untuk menghilangkan gerah. Nah, sekarang ini, dua minggu berturut-turut mereka sama sekali tidak mendapatkan pasokan air, hingga banyak di antara mereka yang harus menampung air hujan untuk mandi dan mencuci. Dan akibatnya? Seorang bapak, namanya pak Gatot (saya sih nggak kenal), masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah akibat dari sekali waktu itu mandi pakai air tampungan hujan. Mungkin terkena jentik-jentik yang berkembang di tempat tampungan tersebut. Akhirnya banyak orang yang menampung hujan waspada dengan meneteskan obat pada air tampungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Uang Belanja Bengkak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saya pikir hidup di Jakarta bisa menghabiskan uang karena semua barang mahal. Saya pikir hidup di daerah (apalagi daerah kecil) pasti lebih enak, karena lebih banyak uang yang bisa ditabung. Ternyata????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ‘menyentuh’ pasar Town Hall, saya sempat terpelongo lama sekali di stan sayuran, daging, ayam, dll. Harga-harga bisa dua kali lipat lebih mahal dari pengeluaran belanja saya di Bintaro dulu. Bahkan ada beberapa penjual yang tidak bersedia melakukan tawar-menawar. Walaupun pembeli dibolehkan untuk menyebutkan harga sekian untuk membeli dagangan mereka. Tapi menyebutkan ‘seribu rupiah’ untuk membeli cabe merah sama saja dengan mendapatkan cabe merah sekitar hampir sepuluh biji. Kadang-kadang, hanya membeli beberapa jenis sayuran beserta bumbu-bumbu saja bisa menghabiskan uang dua puluh ribu rupiah lebih. Jadi, semangat saya untuk menawar dan mendapatkan harga murah di pasar Town Hall menurun drastis. Akhirnya saya lebih sering mencomot barang-barang yang saya perlukan, dan menyerahkan pada si penjual untuk dihitung, lalu pasrah saja menyerahkan uangnya. Walau saya sering mendapat ‘korting’ lima ratus rupiah, karena si penjual sudah kenal dan baik sekali pada saya. Tapi lima ratus rupiah itu sama saja dengan sebutir jeruk nipis. Haha. Bahkan saya sempat ragu untuk membeli buah-buahan. Disamping karena harganya memang relatif mahal (apel sekilo sekitar dua puluh tiga ribu rupiah), dan hanya sedikit jenis buah yang ada di pasar Town Hall. Tapi semenjak saya tidak tahan lagi untuk makan buah, jadilah buah pepaya ditabur jeruk nipis jadi cemilan favorit saya. Selain karena harganya lebih murah dari jenis buah lainnya, saya juga butuh si pepaya untuk mencegah sembelit akibat si bayi kecil di perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah punggung saya sudah semakin sering pegal-pegal dan kaki berat dipakai jalan, saya sering menitip belanja pada mbak Siti (menantu ibu kontrakan). Beliau sering berbelanja ke pasar Teluk Lingga (di Sangatta Lama) atau ke warung komplek G-House (perumahan di sebelah Lembah Hijau) dengan sepeda motor. Dan sepertinya saya akan sering menitip-nitip begitu, sebab harga akan berbeda cukup jauh. Sekitar dua ribu hingga tiga ribu rupiah untuk daging dan sejenisnya, atau seribu rupiah untuk sayuran. Yah, mungkin para pedagang di pasar Town Hall menganggap penduduk perumahan KPC cukup ‘kaya raya’ untuk dihabiskan uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota Berdebu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali sampai di Sangatta, saya mengirimkan sms kepada seorang teman FLP Sangatta. Beliau membalas dengan kalimat “Selamat datang di kota berdebu”. Wah, pada waktu itu, karena saya berada dalam mobil dan masih memandangi hijaunya lingkungan Tanjung Bara, saya tidak berpikir sampai ke sana. Malah saya memuji-muji Sangatta dan mengatakan bahwa pemandangannya indah. Ternyata????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru menyadari bahwa Sangatta benar-benar ‘kota berdebu’ ketika mendapati lantai penuh pasir dan debu padahal setiap pagi dan sore selalu disapu dan dipel. Misalnya pagi harinya dipel, sekitar jam 10 pagi sudah mulai terasa ‘pasir-pasir’ di kaki. Juga perabotan lain, terutama meja makan yang terletak di dekat pintu samping dapur. Setiap kali membersihkan meja, saya selalu mengelapnya hingga ke sudut-sudut, tapi beberapa jam kemudian ketika saya ‘iseng’ mengelapkan selembar tissue, hasilnya ‘hitam legam’. Ada yang bilang debu-debu tersebut berasal dari tambang batu bara, ada juga yang dengan santainya bilang, “Ah, emang di sini aja yang ‘debuan’”. Hal ini dikeluhkan cukup banyak orang. Tapi pada akhirnya mungkin tiap orang memutuskan untuk menerima saja debu-debu yang berterbangan dengan tidak terlalu rajin dan ngotot menyapu tiap kali debu tersebut mampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pentol, Payau, dan Kates&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang merasa asing dengan tiga buah kata tersebut? Yang jelas, saya sendiri baru menemukannya di Sangatta. Mungkin bahasa Indonesia yang saya gunakan terlalu sedikit kosa katanya, hingga saya terbengong-bengong saat semua orang di Sangatta (baik yang pendatang maupun asli) begitu fasih mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pentolnya berapa nih, mbak?” suatu hari di pasar Town Hall, saya mendengar seorang ibu yang bertanya pada si penjual. Saya langsung melirik ke arah ‘benda’ yang ia sebut ‘pentol’ itu. Ternyata sebungkus bakso kecil-kecil yang biasa didapat di tukang sayur manapun. Apanya yang pentol? Begitu pikir saya. Tapi ternyata ibu kontrakan, mbak-mbak yang kost di rumah, dan semua orang dengan lancarnya menggunakan kata ‘pentol’ untuk menyebutkannya. Apakah kata ‘bakso’ di sini memang disebut dengan ‘pentol’? Atau mungkin ‘pentol’ itu bahasa kalimantan ya? Begitu yang ada di benak saya. Tapi sampai sekarang, walaupun saya sudah tahu bahwa sebutan untuk tiap benda yang dibentuk bulat-bulat seperti bakso dinamakan ‘pentol’, saya tetap ‘enggan’ menyebutkannya. Bakso ya bakso. Somay ya somay. Bakso yang kecil-kecil ya sebut saja bakso kecil, bakso urat, dan sebagainya. Bentuk seperti itu ya sebut saja ‘bulat’. Tapi saya selalu dikoreksi suami saya, yang dengan geli selalu bilang, “Bakso itu artinya pentol-pentolnya lengkap dengan mie, kuah, pangsit, dan semua isinya. Kalau pentol itu ya daging-daging yang bulet itu.” Dan saya tetap bilang, “Bakso.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita soal ‘payau’ lain lagi. Jangan bayangkan sebuah kalimat yang berbunyi “ikan itu berenang di air payau”. Karena maksud sebenarnya tidak nyambung ke arah sana sama sekali. Suatu hari, saya sedang mengobrol lewat pintu samping dengan menantu perempuan si ibu kontrakan. Mbak Siti, namanya. Mbak Siti bertanya,”Mbak suka makan payau, kah?” (soal dialek orang sini, itu lain cerita lagi) dan saya terbengong sedikit untuk mencerna maksudnya. “Maksudnya makan ikan payau gitu? Ikan apa?” sahut saya sok tahu. “Bukan, Mbak, tapi daging payau.” Baru saya mengerti bahwa ada istilah ajaib lagi yang saya tidak tahu. Akhirnya saya bertanya dengan nada heran, “Payau itu binatang apa?” (saya membayangkan jenis binatang yang belum ada di dunia tapi kemudian memutuskan untuk mendengarkan saja penjelasan mbak Siti) “Payau itu apa ya … sejenis rusa gitu, na!” (ini salah satu bagian dari dialek menarik orang sini) dan saya pun berkata dengan tenangnya, “Oh, rusa … bilang aja rusa gitu, mbak. Yang ada tanduknya itu kan?” mbak Siti belum puas, “Iya, tapi beda mbak. Yang ini lebih besar gitu, na. Bukan rusa, tapi payau. Dagingnya empuk dan rasanya enak. Murah kalau di sini, karena gampang nangkapnya.” Binatang sejenis rusa tapi bukan rusa? Nenek moyangnya kah? Binatang khas kalimantan? Saya belum pernah dengar. Saya putuskan saja untuk memvisualisasikan ‘payau’ dengan rusa. Akhirnya saya menyimpulkan, “Oh, bilang aja rusa. Nggak, nggak suka ah. Aneh. Kasian kan mereka yang dipajang-pajang di kebon raya bogor itu dimakanin orang.” Jawab saya sekenanya. Mbak Siti tertawa geli, demikian juga suami saya ketika malamnya saya ceritakan. Malah ia dengan antusiasnya bilang, “Enak lagi, dek, sate payau.” Dan saya pun dengan tegasnya bilang, “Jangan suruh aku masak payau, ya. Kasian. Masak bamby dimakan.” Saya menyebutkan sebuah nama tokoh kartun yang dipresentasikan dengan rusa betina muda. Suami saya tertawa geli lagi. Dalam hati saya: kok ya orang-orang ini suka sekali makan sesuatu yang tidak lazim ya? Sudah ada sapi, ayam, kambing yang bertebaran, masih juga makan rusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kates, suami saya duluan yang memancing pengetahuan saya. “Kalo ‘kates’ tahu nggak?” tanyanya. Saya langsung saja menggeleng. Ternyata ‘kates’ itu artinya pepaya. Baik orang jawa yang tinggal di sini maupun penjual ‘kates’ yang penduduk asli dengan lantangnya berteriak: “Kateeees … katesnya buuuu …”. Dan saya tetap bilang, “Bu, beli pepaya matang yang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sangatta atau Sengata?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika membaca koran Kaltim Post, saya dan suami terheran-heran. Seperti biasanya, di lembar-lembar tertentu, Kaltim Post memuat berita lokal yang meliput kegiatan sosial masyarakat di tiap kecamatan setempat. Seperti misalnya ada penyuluhan anu di Bontang, Tenggarong, dsb termasuk Sangatta. Nah, ini dia. Kami berdua saling bertanya, “Loh, kok tulisannya ‘sengata’ ya? Emang itu daerah mana lagi? Apa maksudnya ‘sangatta’?” tanya suami saya. Saya pun keheranan, “Apa mungkin salah tulis ya, mas?” Tapi kemudian, kami perhatikan setiap kolom berita tersebut dan keterangan tempatnya tetap tertulis ‘Sengata’. Jadi, tidak mungkin salah ketik rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, suami saya bilang, “Dek, ternyata tulisan ‘sengata’ itu nggak salah. Dan emang namanya diganti jadi itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pemerintah daerah memutuskan untuk mengganti nama kecamatan Sangatta, menjadi Sengata. Alasannya adalah nama ‘Sangatta’ sudah sangat identik disebutkan orang-orang sebagai kependekan dari kata ‘Sangat Menderita’, yang ternyata memang merupakan asal nama kota kecil ini. Disebut seperti itu karena memang bertahun-tahun lalu (sekitar 12 tahun lalu), ketika kota ini belum berkembang seperti sekarang, masyarakat pendatang terutama merasakan betapa menderitanya hidup di Sengata. Oleh karena sulitnya mendapatkan air bersih (di Sengata Lama dan daerah Teluk Lingga pun sampai sekarang air bersih hanya datang 2 kali seminggu), listrik, minim fasilitas, serta kondisi lingkungan yang masih terlihat ‘hutan sekali’. Lama kelamaan, setelah PT Kaltim Prima Coal ‘bekerja sama’ dengan pemerintah membangun Sengata, penduduk mulai merasakan kemajuan, walau dengan segala kekurangan yang masih ada, kata ‘Sangatta’ tetap diidentikkan dengan penderitaan itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah nama salah satu kecamatan di kabupaten Kutai Timur ini diganti menjadi ‘Sengata’, yang juga merupakan kependekan dari sebuah istilah lain. Sengata diambil dari dua kata: ‘Seng’ dan ‘Ata’. ‘Seng’ itu artinya sungai, dan ‘Ata’ berarti kucing kecebur. Jadi, apakah Sangatta menjadi Sengata membawa sebuah perubahan arti yang besar? Sepertinya tidak, ya. Sama-sama menggambarkan penderitaan. Haha. Dasar aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Tulisan ini ditulis berbulan-bulan yang lalu, saking lamanya jadi lupa. Sekarang, Sengata nggak se-menderita tulisan di atas. Haha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-2460284105883053566?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/2460284105883053566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=2460284105883053566' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2460284105883053566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/2460284105883053566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/jakarta-sengata-part-two.html' title='Jakarta-Sengata (part two)'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-8728588446958307267</id><published>2007-08-14T12:38:00.000+07:00</published><updated>2007-08-14T12:42:01.260+07:00</updated><title type='text'>Pertemuan-pertemuan Cahaya</title><content type='html'>Pertama kali saya bertemu muka dengannya adalah saat saya mengikuti sebuah acara pelatihan khusus muslimah yang diadakan saat bulan Ramadhan. Saat itu juga adalah pertama kalinya saya menghadiri sebuah acara dimana tidak seorang pun yang saya kenal, sebab saat itu merupakan kali kedua ‘pemunculan’ diri saya di muka umum. Hari ke sekian di tempat baru, Sengata. Waktu itu, ia menjadi seorang pembawa acara di pelatihan tersebut, dan saya langsung saja menyukai dirinya yang sepertinya tak lepas dari senyum lebar sambil dengan lantang membawakan acara. Entah kenapa, saya biasanya bisa langsung tertarik pada seseorang pada perjumpaan pertama dari berbagai kesan yang saya tangkap. Kali itu, perhatian saya tertuju pada postur tubuhnya yang terlihat ‘tak biasa’. Setelah saya perhatikan, rupanya ia tengah hamil cukup besar. Saya agak kaget juga, sebab nyaris tak tampak dari gerak-geriknya yang luwes, lincah, namun tetap terlihat tenang. Dalam hati saya terbetik sebuah pikiran, “Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan, kok hamil besar begitu disuruh jadi panitia acara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali berikutnya pertemuan saya dengannya, adalah ketika saya bergabung dalam sebuah kelompok pengajian, yang ternyata ia juga turut di dalamnya. Hati saya bersorak, sebab saya begitu penasaran ingin mengenalnya lebih dekat. Walaupun pada acara pelatihan tersebut kami sudah berkenalan, dan ternyata ia juga seorang pengurus Forum Lingkar Pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga kalinya saya bertemu dengannya adalah ketika kami menghadiri sebuah acara tabligh di sebuah masjid besar yang biasa mengkoordinir acara-acara saat bulan Ramadhan tiba, atau di hari-hari lainnya. Di tempat itu kami sempat berbincang cukup lama, dan saya berkenalan dengan seorang lagi anggota FLP. Kami bertiga bertukar cerita tentang pengalaman di FLP dan sampailah pada pembicaraan mengenai kehamilan dan aktivitas keseharian. Kemudian wanita yang saya kagumi itu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu ketika Nida –anak pertama saya- masih beberapa bulan, saya berangkat ke Bontang bersama rombongan FLP Sengata. Panitia dan peserta di sana sampai heboh karena saya membawa-bawa bayi begitu. Tapi saya pikir, acara seperti itu jarang sekali ada, dan saya nggak mau melewatkan. Nah, kalau lagi hamil begini, enaknya bisa ke mana-mana, karena bayinya masih di dalam perut. Kalau sudah keluar, jadi agak repot. Paling tidak istirahat selama satu bulan lah, baru setelah itu bisa dibawa-bawa lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan hal itu menanggapi sikap seorang temannya yang, menurut cerita, sempat ragu dan takut untuk terus beraktivitas selama hamil dan apalagi setelah punya anak. Saya yang mendengar langsung merasa malu. Sebab saya sama sekali belum terpikir untuk tetap aktif seperti itu kala hamil atau nanti setelah punya anak. Tak sadar saya memegang perut, dan membatin, “Kuatkah saya seperti dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melanjutkan bicaranya,&lt;br /&gt;“Karena di Sengata sumber daya manusianya sedikit sekali, jadi setiap ada kesempatan dakwah, ada amanah apapun, kita harus siap. Kondisi seperti itu bikin kita jadi kuat. Kalau yang masih single atau belum punya anak bisa ke mana-mana, itu sih sudah biasa. Tapi kalau yang lagi hamil atau sudah punya anak berapa tapi tetap aktif, itu baru luar biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. Kalimat yang terakhir diucapkannya pernah saya dengar dari guru ngaji saya semasa saya tinggal di Jakarta dulu. Wanita itu mengucapkannya tanpa maksud menggurui, bahkan saya merasa ia seperti sedang menceritakan sesuatu yang seru saja. Sebab raut wajahnya yang begitu bersemangat, tak lupa senyum lebarnya, dan intonasi suara yang sangat persuasif. Diam-diam rupanya hati saya memupuk sesuatu dari kesan yang saya dapatkan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, seringkali kondisi yang serba ada, atau kemudahan yang mengelilingi kita, akan membuat diri menjadi manja. Malah mungkin kita jadi terbiasa untuk mencetuskan berbagai kalimat ‘permakluman’ atau ‘permaafan’ untuk tidak mengikuti acara ini-itu, menolak tugas anu, dan sebagainya, dengan alasan yang bisa jadi kita buat-buat sendiri, padahal masih bisa diusahakan. Kalau mau mengikuti nafsu, mungkin saya akan memilih mendekam saja di rumah, tidak berpartisipasi dalam setiap aktivitas yang ada, supaya tidak ditugaskan macam-macam. Tetapi akhirnya saya teringat kehidupan yang saya jalani beberapa bulan tinggal di Bintaro, atau ketika menunggu waktu menyusul suami dan saya sementara tinggal di rumah orang tua di Bekasi. Kota besar macam Jakarta mungkin sudah berkelimpahan orang, sehingga potensi yang ada pada segelintir orang tidak termanfaatkan, dan akhirnya segelintir orang itu menjadi ‘pisau-pisau tumpul’ akibat tak sering dipakai. Saya pernah merasakannya, dan sungguh tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang melemahkan itu bahkan hampir terbawa hingga kepindahan saya ke Sengata. Kota kecil yang, seperti banyak dibilang orang, kalau ada acara pasti bertemu dengan ‘dia lagi-dia lagi’. Tak ada kata ‘menganggur’, dan siap-siap diberdayakan. Saya teringat perjumpaan pertama saya dengan wanita itu, dan langsung membandingkan. Bila di Jakarta, kondisi hamil atau yang sejenisnya mungkin akan menjadi excuse yang bisa selalu digunakan, dan semua orang maklum. Dan saya memang sering menemukan kondisi macam itu pada teman-teman saya dulu. Tapi di Sengata? Jangan ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Januari lalu, usia kehamilan saya memasuki bulan ke delapan. Dan dalam sebuah organisasi yang baru saya ikuti, saya dipilih untuk menjadi ketua pelaksana acara launching organisasi tersebut. Saya menyanggupi. Berkali-kali rapat persiapan sampai mendatangi nara sumber, saya jalani dengan perut besar saya. Anehnya, seringkali di tiap kesibukan itu saya hampir-hampir lupa akan kehamilan saya sendiri. Saya merasakan semangat yang mengembalikan kerinduan saya akan aktivitas ketika dulu di kampus dan di tempat lain. Saya merasa begitu bersemangat lagi, dan setiap pulang ke rumah, walau dengan membawa lelah, berbagai cerita seru mengalir dari mulut saya menjadi pembicaraan menarik bersama suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung seseorang yang apabila saudaranya melihat wajahnya, langsung akan mengingatkannya kepada Allah. Seseorang yang bila kita mengingatnya, maka diri kita akan tertegur dari kelalaian dan kembali bersemangat untuk memperbarui iman dan meningkatkan ibadah. Seseorang yang bila kita mengingatnya, maka yang terlintas di pikiran adalah kebaikan-kebaikannya. Bayangkan, bila kita berada di sekeliling orang-orang yang seperti itu. Dan memang diri kita membutuhkan orang-orang yang bisa senantiasa mengingatkan diri kita apabila rasa malas dan lalai menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hingga sekarang, saya berusaha terus memperbanyak amal ibadah sebagai bentuk rasa syukur saya, karena Allah telah menghadirkan wanita itu, sahabat baru saya, dalam kehidupan baru saya di tempat yang baru ini. Dan menjadikan setiap kali pertemuan saya dengannya menjadi pertemuan yang membuahkan cahaya dalam hati saya. Walaupun akhirnya ia sekeluarga pindah ke kota lain, sampai sekarang, ketika malas mulai menyerang, saya tak pernah lupa kata-katanya saat ia memberikan pesan-kesan di acara perpisahannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus semangat, jaga kesehatan, dan jangan malas. Allah lebih menyukai seorang muslim yang kuat daripada yang lemah.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-8728588446958307267?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/8728588446958307267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=8728588446958307267' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8728588446958307267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/8728588446958307267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/pertemuan-pertemuan-cahaya.html' title='Pertemuan-pertemuan Cahaya'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-4033767248135303077</id><published>2007-08-14T12:24:00.000+07:00</published><updated>2007-08-14T12:33:33.137+07:00</updated><title type='text'>Tak Berhenti Memberi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya pernah merasakan sebuah titik jenuh dimana saya memutuskan untuk tidak berusaha untuk bersikap aktif seperti biasanya pada sebuah organisasi dimana saya bergabung di dalamnya. Biasanya, saya tidak bisa tinggal diam dan kadang malah agak keterlaluan dalam ‘memuntahkan’ ide-ide yang berputar di kepala saya. Rasanya akan lebih ‘plong’ bila saya menceritakannya kepada teman-teman di organisasi, walaupun konsekuensinya saya akan ditunjuk untuk mengetuai kegiatan ini atau bertanggung jawab atas tugas itu. Sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri ataupun bertingkah ‘sok jagoan’. Melainkan saya hanya sering tak bisa mengendalikan diri saya yang kadang terlalu bersemangat untuk melakukan ini itu. Sebuah kelemahan saya, mungkin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu ketika, saya harus (sekali lagi) pindah rumah mengikuti suami yang diberikan rezeki untuk pindah bekerja ke perusahaan lain. Tidak masalah buat saya. Karena saya tahu bahwa di tempat yang baru saya tetap bisa bergabung dengan sebuah cabang organisasi yang telah menjadi tempat beraktivitas favorit saya selama dua tahun ini. Tentu saja, di kepala saya sudah berputar-putar berbagai ide untuk melakukan ini itu sesampainya saya di tempat baru. Semangat saya tumbuh seiring dengan harapan besar akan kemajuan diri saya di dalam organisasi tersebut nantinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ternyata, memang harapan tak pernah selalu seindah kenyataan. Saya agak terkejut dengan kondisi cabang organisasi tersebut. Kondisi anggota organisasi, pengurusnya, aktivitas organisasi, kegiatan-kegiatannya ... saya lantas membanding-bandingkan dengan cabang organisasi di tempat saya tinggal dulu. Jauh berbeda. Dan sebagai ’orang baru’, saya berusaha untuk ’tahu diri’ dengan tidak banyak berkomentar atau mengusulkan ide ini itu kepada para pengurus. Namanya sedang menyesuaikan diri di tempat baru, saya pun memutuskan untuk memerhatikan dulu kondisi di sekitar, nuansa baru yang saya terima di cabang organisasi tempat saya tinggal sekarang. Dan saya pun merasa jenuh. Bukan akibat terlalu padat kegiatan atau over loaded tugas, melainkan karena tidak ada kegiatan apa-apa, nyaris sama sekali. Lalu saya benar-benar merasa sangat kehilangan dengan segala kesibukan yang dulu pernah saya lakukan di organisasi tersebut. Seperti halnya sebuah pisau yang tak pernah dipakai, saya merasa ’tumpul’ sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tentang kondisi tersebut, terutama apa yang terjadi pada diri saya, seseorang pernah menanyakannya. Katanya, ”Kenapa bukan kamu saja yang memulai untuk mengadakan kegiatan?” dan pertanyaan bagus tersebut saya sambut dengan tidak antusias dengan menjawab sekenanya. Alasan tidak enak karena bukan pengurus, khawatir akan melangkahi wewenang ketua, jadi malas karena tiadanya semangat pada pengurus organisasi tersebut, dan sebagainya. Semua itu cukup untuk membuat diri saya berada pada titik stagnan selama beberapa bulan, dalam organisasi tersebut. Bila mengingat perjuangan saya untuk menjadi bagian darinya, hal yang saya lakukan tersebut memang sungguh konyol dan merugikan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akhirnya saya pun merasa tidak tahan dengan ’aksi diam’ yang saya lakukan tersebut. Saya mencoba untuk berinisiatif mengusulkan sebuah acara kecil-kecilan sebagai kegiatan kedua yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut pada tahun ini. Dan, begitulah. Pekan demi pekan berlalu dengan semangat yang kembali menyala dalam benak saya, dan sepertinya juga pada para pengurus. Saya yang tadinya pesimis terhadap kinerja dan kepedulian pengurus organisasi tersebut, akhirnya merasakan bahwa sepertinya kami memiliki semangat dan kepedulian yang sama. Acara berlangsung cukup lancar, dengan kelegaan yang tersirat pada masing-masing raut wajah kami semua. Puas. Bukan terhadap hasil dari acara yang akhirnya terlaksana itu. Melainkan terhadap keberhasilan saya untuk mengalahkan keegoisan diri dan mungkin juga keangkuhan untuk bersikap tidak peduli pada awalnya. Tidak pernah ada kata terlambat. Dan saya kembali menyadari bahwa selalu menjadi yang memberikan sesuatu tidaklah jelek sama sekali. Bahkan kepuasan batin yang dirasakan tak mungkin hilang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Satu hal yang menempati ruang hati saya sekarang. Bahwa bagaimanapun tidak kondusifnya kondisi lingkungan tempat kita berada, jangan pernah berhenti memberikan manfaat dan kebaikan. Hasilnya? Rasakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-4033767248135303077?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/4033767248135303077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=4033767248135303077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4033767248135303077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/4033767248135303077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/tak-berhenti-memberi.html' title='Tak Berhenti Memberi'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-5183516798152601952</id><published>2007-08-13T21:39:00.000+07:00</published><updated>2007-08-13T21:47:39.634+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i am back'/><title type='text'>I'm Back!</title><content type='html'>assalamu'alaikum semuanyaaaa ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya seperti berteriak di tepi pantai yang tidak ada seorang pun mendengar. Bergema. Dan gema yang sangat merdu. Haha. Sebegitu besar kah kerinduan saya pada dunia maya? Betul. Apalagi saat ini hampir setahun berada di kota kecil yang lama-kelamaan menorehkan begitu banyak cerita yang mungkin tidak akan saya temui bila saya menetap di Jakarta. Indah? Pastinya. Lain kali saya akan menceritakannya. Tidak sekarang. Ngantuk. Hehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-5183516798152601952?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/5183516798152601952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=5183516798152601952' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5183516798152601952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/5183516798152601952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2007/08/im-back.html' title='I&apos;m Back!'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-116502951231300936</id><published>2006-12-02T10:12:00.000+07:00</published><updated>2006-12-02T10:39:45.870+07:00</updated><title type='text'>Jakarta-Sangatta</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Balikpapan-Sangatta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu hari beristirahat di sebuah hotel di Balikpapan, akhirnya tiba juga saatnya berangkat menuju Sangatta. Setibanya di airport, saya rada deg-degan. Sedikit gugup dan sibuk menebak-nebak, seperti apa bentuknya pesawat CASA yang akan mengangkut kami menuju Sangatta. Petugas dari Aircraft tersebut memeriksa selembar kertas yang berisikan informasi pemesanan tempat yang dibawa suami saya. Tak lama, ia meminta kami bergantian menimbang berat badan di sebuah timbangan raksasa (yang saya pikir timbangan semacam itu hanya diperuntukkan barang-barang besar, karung goni, atau semacamnya). Saya melirik benda aneh itu, dan sedikit ragu untuk menggunakannya, atau lebih tepatnya takut terlihat baru pertama kali naik CASA dan dengan bodohnya melakukan hal-hal yang memalukan. Tapi melihat suami saya menaiki timbangan tersebut dengan santainya, lengkap beserta sepatu yang dipakai dan tas ransel di punggung, saya memutuskan untuk juga melakukannya seolah sudah pernah sebelumnya. Namun tak urung celoteh-celoteh heran pun meluncur deras dari mulut saya kepada suami yang saat itu hanya menanggapi dengan cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pesawat CASA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak boleh lupa menyebutkan bahwa di counter check in tadi kami berdua masing-masing diberikan sebuah bungkusan berwarna kuning. Hampir saya mau mengantonginya saja dan berpikir akan membukanya nanti atau bahkan melupakannya. Suami saya mengingatkan bahwa benda empuk di dalamnya adalah sepasang penyumbat telinga yang sangat dianjurkan untuk dipakai ketika pesawat akan lepas landas. Ups … lagi-lagi hampir saya lupa bahwa saya akan menaiki kendaraan yang masih asing sama sekali, yang kabarnya super berisik serta berguncang-guncang. Tak sadar saya mengelus-elus perut yang mulai membuncit berisikan janin usia 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama menunggu, kami berdua (beserta beberapa belas orang penumpang) dipanggil untuk menaiki pesawat. Ha. Akhirnya saya bertemu muka dengan pesawat kecil itu. Jantung saya berdebar cukup kencang, antara penasaran karena belum pernah dan khawatir akan mengalami guncangan kencang di dalamnya nanti. Sepertinya saya akan memegangi perut saya terus sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang dalam pesawat mungkin benar-benar didesain pas untuk 20 orang penumpang beserta dua atau tiga orang awak pesawat. Si pramugari (kalau memang bsia disebut begitu) sampai hapal nama-nama kami dan dengan sigap menunjuk tempat duduk yang akan kami tempati. Sepertinya ia memang petugas yang tadi mendata kami di counter check in. Saya dan suami menempati tempat duduk nomor dua dari depan. Dua lajur tempat duduk tersebut masing-masing berisi dua tempat duduk di tiap barisnya, dan terdapat sekitar lima baris ke belakang. Jangan membayangkan tempat duduk empuk dan lebar dari pesawat tipe BOEING. Saya hampir-hampir sibuk berpikir, bagaimana dengan penumpang yang memiliki bobot berlebih dan postur badan lebar, sepertinya tidak akan muat duduk di kursi tersebut. Setelah mengenakan sabuk pengaman, saya sibuk menenangkan diri dengan membaca doa-doa. Itu juga saya lakukan setelah bersusah payah menggunakan penyumbat telinga dengan benar, dengan sebelumnya melirik ke kiri dan kanan, memperhatikan bagaimana orang-orang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak Balikpapan-Tanjung Bara ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan. Terbayang kan betapa jauhnya Sangatta dari 'pusat peradaban' Kalimantan Timur? Bila berkenan menempuhnya lewat darat, siap-siap saja tertidur panjang atau malah duduk sambil pegal-pegal selama kurang lebih tujuh jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanjung Bara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airport yang benar-benar kecil. Mungkin kurang tepat kalau disebut sebagai bandar udara ya? Landasan pesawat CASA, sebuah bangunan beratap tanpa pintu dan jendela tak begitu besar, dan lapangan parkir cukup luas merupakan bagian dari 'airport' tersebut. Cukup untuk menjadi tempat turun-naik penumpang beserta bagasinya, dengan ruang tunggu seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama penumpang lainnya (yang sebagian besar adalah pegawai KPC) kami mengantri di tempat pengambilan bagasi. Agak lama juga, sebab koper-koper dan barang-barang lain milik penumpang diturunkan dan diantar dengan menggunakan troli khusus yang didorong dengan tenaga manusia sampai ke tempat pengambilan. Troli tersebut hanya ada satu, jadi dua orang petugas itu harus bolak-balik mengambilnya kembali dari bagasi pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua dijemput oleh seorang sopir kantor KPC yang telah dihubungi sebelumnya oleh suami saya. Di dalam mobil, suami saya cepat-cepat mengingatkan mengenai aturan ketat dari KPC bagi pengguna kendaraan, yaitu memasang seat belt (baik yang duduk di depan maupun di belakang) apabila menggunakan mobil kantor. Katanya bila aturan itu tidak dipatuhi, ada denda sekian rupiah yang harus dibayar, beserta teguran keras. Hmm … cukup bagus juga sebagai motivasi untuk mendisiplinkan diri. Namun saya dengan payah memasangkan seat belt itu dengan nyaman di perut saya yang sudah berubah bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Tanjung Bara ke Lembah Hijau (nama komplek perumahan tempat kami akan tinggal) membawa nuansa berbeda ke dalam hati saya. Apalagi sebelumnya kami sempat singgah ke komplek perumahan Tanjung Bara mengantarkan seorang pegawai KPC yang ikut di mobil bersama kami. Suasana yang rasanya tidak bisa ditemui di Jakarta. Sepanjang jalan yang agak berkelok-kelok, saya mengedarkan pandangan ke kiri-kanan jalan yang masih terlihat 'hijau' dan berbukit-bukit. Sepertinya kontur tanah di Sangatta memang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah yang terletak di komplek Tanjung Bara sekilas terlihat tidak 'tertata rapi' seperti halnya yang ada di kota-kota besar lain. Dari satu rumah ke rumah lainnya agak berjauhan, tapi itu malah memberi kesan lega dan tidak bertumpuk-tumpuk apalagi padat. Disamping penyebabnya adalah kontur tanah yang memang berbukit-bukit. Pihak kontraktor perumahan mungkin memutuskan untuk tidak mengubah kontur tanah, dan menyiasatinya dengan mendirikan perumahan dengan struktur bangunan semacam 'rumah panggung', berdinding kayu, beratap genting atau asbes (tergantung jenis perumahan). Sebab bahan bangunan macam semen, batu, pasir, dan sebagainya memang super mahal. Maklum, keterbatasan transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya memang komplek di Tanjung Bara diperuntukkan mereka yang jabatan di PT KPC sudah lebih senior dengan gaji yang sudah pasti jauh lebih besar dari kebanyakan pegawai. Sebab bila mau, bisa saja rumah-rumah tersebut ditempati oleh siapa saja, asal mampu membayar uang sewanya yang bisa dua-tiga kali lipat dari pasaran harga sewa di komplek lain. Kelebihannya, komplek Tanjung Bara memang tertata lebih apik, asri, dengan bahan bangunan yang lebih bagus, ukuran rumah lebih besar, yang menurut saya suasananya mirip 'luar negeri'. Bukan hanya saya saja yang berkomentar begitu. Seorang teman saya yang kebetulan juga agak mengenal kondisi Sangatta dan suasananya pun menyatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sangatta Baru dan Sangatta Lama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari wilayah Tanjung Bara, sampailah kami di kota Sangatta. PT KPC mendirikan area yang kemudian dinamakan Sangatta Baru atau orang-orang sering menyebutnya komplek KPC atau daerah 'dalam'. Tidak usah repot-repot membayangkan ada semacam gerbang besar yang memisahkan satu daerah ke daerah lainnya. Sebab yang saya visualisasikan sebagai Sangatta Baru dan Lama adalah seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan dua buah garis yang membentuk huruf T, dengan ukuran masing-masing garis yang tidak usah dipusingkan mana yang lebih panjang. Garis yang terletak melintang adalah wilayah Sangatta Lama atau Luar, dan yang terletak vertikal adalah wilayah Sangatta Baru atau Dalam. Pertigaan yang mempertemukan kedua garis tersebut ditandai dengan berdirinya bangunan Plasa Telkom di sebelah kanan garis yang vertikal. Nah, mulai dari Plasa Telkom hingga garis lurus ke bawah tersebut terletak berbagai fasilitas umum dan komplek perumahan yang agak sulit saya sebutkan satu persatu. Tetapi tentu saja, Yayasan Sangatta Baru atau PT KPC mengatur bangunan-bangunan tersebut demikian rapi, dan fasilitas umum terletak di pinggir jalan supaya mudah dijangkau. Seperti Medical Center, masjid Darussalam, gereja, Radio GWP, PMI, Town Hall, dll. Sedangkan komplek-komplek perumahan diatur terpisah dari sarana-sarana umum tersebut, terletak agak ke belakang dengan ciri khas yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sepertinya di Sangatta Baru segala macam keperluan bisa didapat di Town Hall (seperti pasar tradisional, mini market dan koperasi yang cukup besar, bank BRI, beberapa ATM, medical center, pusat makanan, bahkan perpustakaan dan sekolah), tetapi tentu saja beranjak ke Sangatta Lama kerap kali dilakukan untuk mendapatkan barang-barang dengan harga lebih murah dan alternatif yang lebih banyak. Walaupun sepanjang 'garis horizontal' tersebut hanya terdapat toko-toko kecil di pinggir jalanan yang terlihat lurus hingga entah sampai ke mana. Ada pasar Teluk Lingga yang lebih lengkap serta menjual berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih murah. Ada toko-toko meubel yang menjual perabot rumah semacam tempat tidur, meja rias, lemari pakaian, dan lain-lain. Cukup lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan para pendatang baru, walaupun jangan berharap terlalu banyak pilihan yang bisa didapat. Bahkan ada sebuah toko yang terletak di ujung jalan Sangatta Lama, yang menerima kreditan bagi pegawai PT KPC maupun perusahaan kontraktor lain yang ada di Sangatta, atau siapa saja yang sudah berlangganan di toko tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(to be continued)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-116502951231300936?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/116502951231300936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=116502951231300936' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/116502951231300936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/116502951231300936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/12/jakarta-sangatta.html' title='Jakarta-Sangatta'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-116079455019131788</id><published>2006-10-14T09:49:00.000+07:00</published><updated>2006-10-14T09:55:52.446+07:00</updated><title type='text'>Kabar dari Sangatta</title><content type='html'>Assalamu'alaikum semuanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya 'kembali' ke peradaban. Hehehe ...&lt;br /&gt;Saya sudah satu bulan di Sangatta, Kutai Timur. Dalam rangka apa? Nggak usah diceritain lagi, dong. Homesick? Pastinya. Kira-kira dua minggu pertama di sini agak terlalu sering inget yang di Jakarta n Bekasi. Norak sih, tapi mau diapain lagi? Saya kangen keluarga, kangen sepupu-sepupu kecil saya, kangen teman-teman, kangen FLP, kangen semuanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang sudah bisa mengendalikan diri. Nggak baik stres lama-lama, karena si kecil yang udah mulai rajin akrobat di perut bisa terpengaruh. Masa belum lahir udah disuruh stres?! Oya, kandungan saya sudah hampir 5 bulan, kondisi alhamdulillah baik, terakhir USG hampir sebulan yang lalu dan ternyata calon buah hati saya itu agak-agak 'aktivis' alias nggak bisa diem. Hehehe...mirip siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak...sekali yang ingin saya bagi. Saya sudah merencanakan menulis panjang lebar tentang Sangatta. Menarik pastinya. Tapi kayaknya bukan sekarang ya. Saat ini saya 'numpang' nge-net (dengan perasaan bahagia) di Perpustakaan YPPSB (Yayasan Pendidikan Prima Sangatta Baru) yang dibatasi per orang hanya 20 menit saja. Dari 6 komputer yang tersedia, cuma 1 saja yang lengkap bersama keyboard dan CPU-nya. Hehehe ... mungkin karena musim liburan sekolah ya. Tapi tenang aja ... I'll be back soon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam cinta buat semuanya. Doakan supaya saya tidak pernah berhenti menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-116079455019131788?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/116079455019131788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=116079455019131788' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/116079455019131788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/116079455019131788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/10/kabar-dari-sangatta.html' title='Kabar dari Sangatta'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-115647950016697058</id><published>2006-08-25T11:05:00.000+07:00</published><updated>2006-08-25T11:18:20.776+07:00</updated><title type='text'>Kangen? Pastinya.</title><content type='html'>Assalamu'alaikum semuanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kangen banget ya, dah lama nggak nulis. Sekarang saya baik-baik aja, masih di Bekasi. Belom bisa nyusul suami tercinta ke Kaltim karena lagi nunggu kandungan usia 3 bulan. What? Kandungan? Hehe...yep, saya (alhamdulillah) hamil lagi. Mudah-mudahan kali ini Allah berkenan untuk memberikan kesehatan dan kekuatan, nggak ada masalah apapun hingga melahirkan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas sekarang? Nyaris di rumah aja. Baru pertama kali ngerasain 'sakit'nya tiga bulan pertama nih. Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran. Amin. Trimester pertama tanpa suami di samping saya? Hiks ... bisa 'hujan' tiap hari. Hehehe ... tapi nggak apa-apa. Setiap ujian pasti ada ganjarannya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, saya udah kangen banget nulis. Yah, anggap aja istirahat deh. Toh saya nggak akan bisa berhenti nulis. Siapa tau di Sangatta nanti saya bisa lebih produktif. Amin. Banyak harapan dan keinginan di tempat baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups...ternyata angka jumlah mail di inbox saya masih menunjukkan 1000-sekian. Jadi, mungkin kapan-kapan saya kembali lagi ya. Cukup sekian lepas kangennya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-115647950016697058?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/115647950016697058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=115647950016697058' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115647950016697058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115647950016697058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/08/kangen-pastinya.html' title='Kangen? Pastinya.'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-115207331282347498</id><published>2006-07-05T11:04:00.000+07:00</published><updated>2006-07-05T11:21:52.946+07:00</updated><title type='text'>Di Antara Pilihan-pilihan</title><content type='html'>Sekali lagi saya menuliskan sesuatu tentang seorang teman. Saya mengenalnya sejak awal tahun perkuliahan. Tahun pertama dan kedua, saya tidak bisa beranjak dekat kepadanya. Entah. Mungkin waktu itu saya terlalu disibukkan oleh urusan organisasi di kampus. Saya pun tak pusing-pusing berusaha untuk dekat dengannya. Tapi ternyata di tahun ketiga, hingga akhir kuliah, dan sampai kami lulus, Allah menakdirkan saya mengenalnya lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan. Saya tidak menyangka bisa begitu dekat dengannya. Mungkin juga teman-teman lain berpikir hal yang sama, saya tidak tahu. Saya mendapati teman saya itu ternyata sangat cerdas, memiliki pikiran-pikiran yang menarik-walau kadang agak keterlaluan, dan talkative sekali. Rasanya saya betah mengobrol lama-lama dengannya, tentang berbagai hal. Pada beberapa bidang, kami ternyata memiliki minat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya mencoba mengerti 'dunia'nya, dan demikian juga dia. Kadang bahkan saya merasa saya terlalu 'masuk' ke dalam dunianya, dan cukup sering bertanya pada diri sendiri "Ngapain saya di sini?" serta merasa bahwa sebenarnya saya tidak nyaman bila menempatkan diri terlalu 'dalam'. Saya tahu bahwa awalnya saya sekadar tertarik untuk mengetahuinya, dan pada akhirnya toh saya mengeluarkan diri, bersikap biasa, dan sedikit membuat jarak supaya saya tahu bahwa saya lebih nyaman menjadi seperti apa adanya diri saya. Saya tetap berteman seperti biasa dengannya. Untuk satu dua hal, ia sering menelpon saya lama sekali untuk bertanya ini-itu dan mengobrol sedikit ngelantur. Kami berdua rasanya memang kadang memiliki ide-ide aneh yang disepakati bersama sebagai hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Contohnya adalah menulis novel. Padahal saya sempat berkata pada diri sendiri bahwa rasanya saya tidak mungkin membuat sebuah novel. Saya belum punya 'napas yang cukup panjang' untuk menghasilkan karya sepanjang itu. Itu perkataan saya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu, tentu saja, seringkali membicarakan topik-topik novel yang akan atau sedang ia tulis. Dan saya tidak pernah tahu apakah ia benar-benar menuliskannya. Yang jelas setiap kali ia mendeskripsikan cerita yang sedang ia imajinasikan, atau baru menyebutkan judulnya saja sudah membuat saya terpingkal-pingkal dan saya berkata akan mendukungnya seratus persen untuk menyelesaikan novel itu. Sepertinya kepalanya penuh dengan ide-ide gila (setingkat lebih tinggi dari kreatif) yang kalau benar-benar bisa dituliskan dalam bentuk novel, pasti saya adalah orang pertama yang akan menertawainya habis-habisan, lalu membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang orang yang sedikit aneh, teman saya itu. Saya tidak mau menyebutnya 'eksentrik', karena penampilannya benar-benar rapi jali seperti halnya dandanan pria-pria metropolis lainnya. Lho? Laki-laki? Ya tentu saja. Ia adalah seorang laki-laki yang rasanya bisa berteman dekat dengan semua wanita. Dan untuk 'jenis' yang seperti ini, tentu saja sangat oke untuk jadi teman ngobrol. Singkat cerita, soal ‘keanehannya’, saya tidak mau menjadikan kata ‘aneh’ sebagai standar atau patokan. Itu hanya istilah saja, karena saya tidak tahu harus mendefinisikannya dengan apa. Sebutlah ia sebagai seseorang yang punya banyak sekali keinginan-keinginan yang kadang membuat orang-orang menggeleng-geleng, bila tidak terbiasa mendengar hal-hal itu. Punya pendapat yang mungkin sebagaian orang bilang 'nyeleneh' atau 'tidak pantas' dan sebagainya. Sejak tingkat pertama kuliah, ia sudah begitu. Kadang kalau penyakit 'skeptis' saya timbul, saya hanya akan mendengus dan menolehkan kepala ke arah yang lain. Tidak peduli. Tapi semenjak saya berhubungan dekat dengannya, dan juga mulai mendapatkan informasi tambahan dari beberapa teman lain tentang dirinya, sepertinya hati dan pikiran saya memutuskan sesuatu. Ia butuh pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membicarakan akan memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Tentu tidak. Yang saya tahu, bertahun-tahun kemudian saya menjaga hubungan baik saya dengannya, dan mendengarkan setiap perkataannya yang paling konyol dan 'nyeleneh' sekalipun, tanpa menunjukkan rasa tertarik atau kaget. Sebab saya memang tidak kaget. Tertarik, mungkin sedikit. Ia sungguh mudah ditebak. So predictable. Saya jadi ingat seorang teman sekelas saya waktu SMA yang juga punya kecenderungan yang sama dengannya. Teman saya yang di SMA itu juga demikian, curhat habis-habisan pada saya, dan saya menjadi salah satu orang yang (secara tak terduga-duga) dekat dengan dirinya. Mungkin saya seperti punya magnet untuk orang-orang yang seperti itu, tidak tahu juga. Tapi saya sungguh-sungguh ingin membantunya. Walau saya tidak paham segala macam teori psikologi, dan saya memang bukan psikiater, tapi nilai mata kuliah psikiatri saya A, dan saya paham bahwa Sigmund Freud berkoar-koar tentang masa lalu seseorang yang mempengaruhi kehidupannya di masa depan bukan tanpa alasan. Walau sebagian orang kurang percaya dan menganggapnya sinting, tapi rasanya teori itu berguna juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan, saya berbicara blak-blakan padanya, bahkan setengah mengomelinya, dan memintanya untuk kali itu saja berpikir lebih waras. Hilangkan semua sisi kepribadiannya yang dibuat-buat atau jadilah normal sekali itu saja. Tapi kemudian, saya malah mendapatinya dalam kondisi yang 'lebih mengenaskan'. Dan saya mulai paham bahwa ia tak sekalipun pernah mengatakan sesuatu dengan jujur pada saya. Saya bahkan berkata bahwa seringkali bingung, manakah sisi kepribadian yang sesungguhnya yang ia tunjukkan selama ini. Kapan ia menjadi dirinya sendiri. Asal tahu saja, dalam lima atau enam tahun pertemanan kami, saya sudah melihatnya 'berganti-ganti' kepribadian (kalau tidak bisa dibilang 'gaya hidup') sebanyak tiga atau empat kali. Dan saya tidak pernah tahu mana yang benar, atau sejak kapan ia mulai menjadi labil seperti itu. Yah, sebenarnya saya tidak perlu ambil pusing. Seorang teman sekampus dulu pernah bicara serius dengan saya dan mewanti-wanti untuk tidak mempercayai setiap ucapan yang dilontarkan teman laki-laki saya itu. Saya sudah menduga. Dan mengira bahwa anak itu hanya butuh perhatian dan rasanya memang ingin dinilai sebagai seseorang yang 'hebat', 'tidak terduga', melakukan hal-hal yang tidak umum atau tidak dilakukan orang lain, gila, sinting, dan macam-macam lagi. Kalau saya pernah sekali 'mencela'nya, dan mengatakan bahwa dia sudah keterlaluan, maka reaksinya adalah nyengir lebar-lebar dan mengatakan "Itulah gue, gue sendiri juga nggak habis pikir. Kadang ide-ide itu muncul begitu aja dari otak gue." Kira-kira begitu katanya. Saya pun hanya geleng-geleng, dan meneruskan pertemanan itu tanpa beban. Walau dalam hati saya tetap berharap ia bisa berpikir jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang sekali cerita saya tentang dia. Dengan tidak bermaksud memujinya, ia memang salah seorang yang cukup unik. Tapi dari sudut pandang pikiran saya, saya justru sangat amat mengasihaninya. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres padanya di masa lalu, atau di keluarganya. Entah. Jumlah tahun pertemanan saya dengannya mungkin belum cukup banyak untuk membicarakan hal-hal yang serius seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, saya membaca sesuatu yang nyaris membuat saya membelalak, tapi sebenarnya tidak perlu. Teman saya itu kini tidak lagi tinggal di Jakarta, ia telah ‘merantau’ entah untuk apa ke kota lain yang cukup jauh. Ia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, dengan segala macam kenangan di sini. Dan menjadi seseorang yang lain. Saya tidak tahu apakah ia lantas berpindah keyakinan (agama), tapi yang cukup jelas ia sebutkan adalah ia memang berpindah keyakinan dalam hal identitas seksual. Saya tidak tahu apakah istilah itu tepat atau tidak. Ia memutuskan untuk menjadi seorang 'gay'. Saya tidak kaget. Tentu tidak. Yang pertama kali terbayang di benak saya adalah judul makalah yang dulu pernah ia bawakan dalam sebuah kelas mata kuliah: homoseksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya lantas menyambangi wajah-wajah teman-teman saya yang lain. Teman saya sejak SD, SMP, SMA, kuliah, dan teman-teman di kantor tempat saya bekerja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Bila pilihan hidup yang kita ambil jatuh pada jalan yang lurus, maka Allah akan melindungi dan menjaga. Bila pilihan itu berpaling pada kesesatan, maka kita akan semakin terjerumus. Ini adalah salah satu prinsip dasar kehidupan yang saya pegang terus sejak dulu. Tak perlu lagi tanya-tanya soal 'standar dan patokan'. Bagi saya sudah jelas. Bila ia muslim, maka lihat saja pedoman hidup yang sudah Allah berikan! Dan bila ia non-muslim, mereka tahu yang terbaik buat diri mereka sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya berdoa panjang sekali, memohon supaya segala perkataan yang dulu pernah saya ucapkan padanya terselip sedikit atau banyak nasehat atau peringatan. Kalau tidak, maka saya tidak menjadi teman yang baik baginya, dan saya tidak memberikan manfaat kebaikan apapun padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 April 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-115207331282347498?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/115207331282347498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=115207331282347498' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115207331282347498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115207331282347498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/07/di-antara-pilihan-pilihan.html' title='Di Antara Pilihan-pilihan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-115207223339828959</id><published>2006-07-05T10:59:00.000+07:00</published><updated>2006-07-05T11:03:53.653+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Orang-orang yang Dewasa</title><content type='html'>Ketika saya masih kecil, kabarnya kedua orang tua saya kewalahan menjawab segala macam pertanyaan yang saya ajukan, seringkali berturut-turut. Kadang, seingat saya, ada beberapa pertanyaan yang tidak dijawab karena ayah atau ibu saya tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi mereka biasanya berusaha menjawabnya, walau mungkin tidak dengan jawaban yang tepat atau tidak memuaskan saya. Begitulah anak kecil, dan sepertinya sekarang ini kelakuan anak-anak kecil sudah semakin luar biasa. Dalam hal positif atau negatif? Saya tidak mau bersilat lidah dengan ada atau tidaknya batasan yang jelas tentang 'alat ukur' ini, maka saya katakan dengan jelas bahwa sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang yang seharusnya digunakan oleh setiap muslim di dunia: Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang tua, atau orang yang lebih tua dari anak-anak itu, kadang memang merepotkan. Malah seringkali berita-berita tak enak seputar kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak terjadi hanya gara-gara masalah sepele: kurangnya kedewasaan si orang dewasa tersebut dalam menyikapi permasalahan hidup. Misalnya soal pekerjaan, urusan perut, masalah rumah tangga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang menuntut penyelesaian segera, namun karena berbagai kondisi tidak bisa dituntaskan. Akibatnya, orang-orang dewasa yang bermasalah tersebut jadi stres, dan kemudian melampiaskannya pada yang ada di sekitarnya, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukankah itu ciri-ciri ketidakdewasaan? Modal akal dan hati yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta Alam tentunya bisa digunakan untuk mencari penyelesaian yang tepat, dan sesuai dengan syariat agama. Tetapi ciri-ciri ketidakdewasaan tadi itulah yang menghambat. Mudahnya tersulut amarah, tidak bisa mengendalikan emosi, melampiaskannya pada hal-hal yang tidak benar, terperosok dalam kemaksiatan. Hal-hal itu bukan barang baru lagi di masyarakat kita. Sungguh menyedihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya pola hidup masyarakat kita sudah terbentuk pada suatu lingkaran yang itu-itu saja. Kriminalitas dan apa saja yang berbau maksiat begitu dekat dan sering dihubung-hubungkan dengan level paling bawah dari lapisan masyarakat. Walau tindakan tersebut juga bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang berlevel atas, dilihat dari sisi kemapanan ekonomi. Mengambil sesuatu yang bukan milik sendiri, mengadu domba, saling menjatuhkan, berebut kekuasaan, dan berbagai hal yang mencerminkan keburukan akhlak. Padahal orang-orang dewasa tersebut sama saja semuanya, sama-sama memiliki akal dan hati nurani. Dua anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Akibat dari ambisi-ambisi tersebut, kadang, mengakibatkan mereka bersikap kekanak-kanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa banyak jumlah orang-orang yang butuh pengingatan dari orang lain. Butuh nasehat supaya tak tersesat. Butuh bimbingan supaya tak salah arah. Butuh pegangan supaya berjalan lurus. Apalagi? Sudah pasti jawabannya adalah kembali kepada agama. Dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak masih dalam kandungan (baca: sedini mungkin) adalah kiat yang paling jitu untuk menghindarkan terbentuknya generasi yang kekanak-kanakan seperti ilustrasi di atas. Dengan mematuhi apa yang Allah turunkan, segala macam persoalan pasti selesai. Karena memang aturan-aturan dalam Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia. Mencari solusi yang tepat atas semua permasalahan? Kembali saja kepada Islam. Sayangnya, sejak entah berapa waktu lampau, sudah tak terhitung lagi jumlah upaya-upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita semua dari Allah. Mencoba mengisolir para remaja dari agama, menyuguhkan berbagai godaan yang sudah pasti lebih enak dinikmati ketimbang bersusah payah meraih jalan ke surga, membalut kaum muslimin dengan gemerlapnya dunia modern dan menghembuskan bujukan supaya meninggalkan agama sebab hal itu dipandang kuno. Sampai hari kiamat, musuh-musuh Allah itu tidak akan berhenti berupaya. Percaya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh kecil, yaitu enggannya orang-orang untuk memberi dan menerima nasehat. Dengan dalih kehidupan masing-masing adalah privasi, tidak ada waktu untuk saling bertanya-jawab soal agama, dan sebagainya. Padahal aktivitas memberi dan menerima nasehat sama dengan memberi nutrisi bagi jiwa kita, yang seharusnya selalu menjadi panglima yang menunjukkan mana kebenaran dan mana kebatilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya memilih untuk tidak skeptis terhadap hal ini. Bagaimanapun buruknya kondisi umat islam sekarang ini, pasti masih ada orang-orang yang mau merendahkan hatinya untuk bisa menerima nasehat dari siapa saja yang bersedia menasehatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam, saya mendapatkan pesan di handphone saya. Pesan tersebut dikirimkan oleh paman saya dan ditujukan kepada ayah saya. Pesan itu kemudian diteruskan oleh ayah saya kepada saya. Bunyinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insyaallah mulai minggu depan aku belajar ngaji lagi sama gurunya Raihan. Ngobrol sama dia, Raihan bilang katanya banyak orang yang sudah berumur belum bisa baca Alquran tapi malu mau belajar karena ngerasa terlambat dan udah ketuaan. Padahal, kata dia, banyak orang lupa, Alquran itu diturunkan untuk orang tua. Waktu pertama diturunkan, Rasul SAW berusia 40 tahun kan? Subhanallah…ayo belajar ngaji!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihan adalah anak dari paman saya itu, dan ia berusia sekitar 9 tahun. Subhanallah … Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan kedewasaan kepada Raihan (yang dengan berani menasehati orang tuanya) dan kepada paman saya (yang dengan lapang hati menerima nasehat dari anaknya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-115207223339828959?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/115207223339828959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=115207223339828959' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115207223339828959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115207223339828959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/07/menjadi-orang-orang-yang-dewasa.html' title='Menjadi Orang-orang yang Dewasa'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-115077532920042938</id><published>2006-06-20T10:35:00.000+07:00</published><updated>2006-06-20T11:07:23.210+07:00</updated><title type='text'>Me Going Distance</title><content type='html'>Hahahahahaha …. Udah banyak juga yang rada ngomel-ngomelin saya. "Mau pergi ke mana sih?" gitu mereka tanya. Saya sih masih senyum-senyum aja jawabnya. Seneng juga sekali-sekali bikin orang penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Going distance? Saya memang suka sekali nyoba-nyoba hal-hal baru. Termasuk 'pindah' ke tempat baru. Walaupun sebenarnya saya termasuk orang yang sangat suka 'kemapanan' (artinya menetap di satu tempat saja dengan damai), tapi 'pindah' juga sesuatu yang menyenangkan. Akan sangat menantang kemampuan saya untuk beradaptasi di lingkungan baru (yang sebenarnya sulit juga). Tapi toh kita perlu mengembangkan diri. Berpindah ke sebuah tempat baru yang jauh sekali dari keluarga dan teman-teman, tetapi bila itu membawa kebaikan dan kemajuan dalam hidup, kenapa nggak? Dan kali ini memang cukup jauh juga. Bukan sekedar 'pindah' ke Bintaro, lalu bisa bulak-balik ke Bekasi. Ada banyak yang mendukung, tapi ada juga yang menentang. Sebenarnya bukan menentang sih, mungkin mereka khawatir atau takut terlalu merindukan saya nantinya … hahahaha….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya benar-benar berlega hati, ketika mendengar kepastian kepergian kami ke sana. Ups … kami? Ya, tentu saja, saya dan suami tercinta. Ngapain juga pergi jauh-jauh sendirian? Justru saya rela 'pindah' ke tempat yang jauh dalam rangka biar selalu dekat dengan suami. Iya lah, kalau pergi jauh untuk berpisah, bodoh itu namanya. Hehe. Mudah-mudahan kepergian ini membawa banyak manfaat dan berkah. Dan supaya Allah selalu ridho. Kalau nggak ada ridho dari Allah dan orang tua, rasanya kepergian kami tak ada artinya. (duh…kayak mau pergi perang aja…hehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke mana sih????&lt;br /&gt;Hehe … iya, saya akhirnya akan jawab pertanyaan itu: Sangatta. Yep. That's our next destination. Di mana tuh? Kalimantan Timur or mungkin orang-orang lebih 'ngeh' dengan Kutai Timur. Samarinda sonoan dikit deh. Hehe. Ngapain? Suami saya (insyaallah) akan bekerja di sebuah perusahaan di sana. Trus saya ngapain? Haha … pertanyaan bodoh. Ya mendampingi suami lah. Dan, pastinya, can't wait to be a mom. Doakan kami ya, semoga proses kepindahan ke sana lancar, dan di sana bisa memulai hidup baru (lagi) dengan semangat baru. Musti mulai dari bawah lagi? Ya nggak apa-apa. Kan gak sendirian! Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi … ayo reunian!!!! (farewel party…dugem…dugem….hehehe!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. file ini udah kelamaan baru di post, mudah-mudahan gak basi. dan sekarang saya masih nunggu aba-aba dari yang tercinta (yang udah duluan pergi)kapan bisa nyusul, coz dirinya harus nyari kontrakan dulu. hiks...kangen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-115077532920042938?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/115077532920042938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=115077532920042938' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115077532920042938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/115077532920042938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/06/me-going-distance.html' title='Me Going Distance'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114873506390672725</id><published>2006-05-27T20:02:00.000+07:00</published><updated>2006-05-27T20:04:24.273+07:00</updated><title type='text'>Muhasabah, yuk!</title><content type='html'>Amalan apakah yang dapat membawaku ke surga? &lt;br /&gt;Sedangkan salat yang telah rutin kujalankan semenjak baligh seringkali dihiasi oleh mimpi dan lamunan sesaat yang menghilangkan ikhlas dari hatiku. Dan setan selalu tertawa melihatku kebingungan menghitung rakaat dalam hati. Sungguh, aku tak percaya amalan salatku akan lolos dari perhitungan di hari Penghisaban nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah aku sanggup melewati detik mendebarkan di titian sirath-Nya?&lt;br /&gt;Sedangkan lapar dan hausku saat berpuasa menjadikanku lemah dan tak berdaya melakukan ibadah pada-Nya. Dan tak sanggup kumenahan hasrat yang menyisakan ganjaran berpuasa hanya sedikit saja. Padahal prajurit Badar begitu tangguh menerjang musuh di medan juang. Aku kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah aku bisa meraih ridho dan kebahagiaan orang-orang miskin?&lt;br /&gt;Tetapi aku terlalu sibuk merawat dan menumpuk harta benda hingga tak terjamah. Aku takut kehilangan, maka aku mendekapnya erat-erat. Kupikir jerih payahku lah yang menjadikannya menggunung tinggi. Sedangkan aku lupa bahwa ini semua karena rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah kesaksianku akan keesaan-Nya menyelamatkanku?&lt;br /&gt;Tetapi tak terhitung lagi waktu yang habis untukku memamerkan amal baik yang sudah kulakukan pada orang-orang di sekitarku. Kujejerkan bak pameran lukisan dan benda-benda berharga, sebagai bukti yang menerangkan kesalehanku. Dan aku sibuk menyembah-nyembah diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinkah aku akan mendapatkan singgasana cahaya?&lt;br /&gt;Padahal hati ini tak juga bersih dari prasangka terhadap sesama. Cinta dan kasih sayang sulit tumbuh sebab kerak yang ada telah membeku. Dan hati ini mudah tersulut amarah juga tak mudah memaafkan. Jadi, bagaimanakah benih ukhuwah akan bersemi di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak punya apa-apa. Tapi aku selalu berpikir bahwa memiliki segala. Perjalananku di dunia membawaku menjajaki usia, namun tak juga tersentuh hati ini untuk menggerakkan diri ke surga. Padahal sungguh banyak pintu yang masih terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah … akankah diri ini kekal menghuni dasar neraka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak punya apa-apa. Dan aku tak berhenti meminta-Mu mencurahkan ampunan untuk semua dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb-ku, sungguh aku telah zalim, maka ampunilah aku, dan berilah rahmat padaku agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114873506390672725?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114873506390672725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114873506390672725' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114873506390672725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114873506390672725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/05/muhasabah-yuk.html' title='Muhasabah, yuk!'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114819871708663782</id><published>2006-05-21T15:03:00.000+07:00</published><updated>2006-05-26T15:58:21.256+07:00</updated><title type='text'>Bercermin pada Kehidupan</title><content type='html'>Suatu hari, saya akan menghadiri sebuah majelis ta'lim yang terdiri dari ibu-ibu yang bertempat tinggal di daerah Jombang, Bintaro dan sekitarnya. Tak banyak anggotanya, sekitar sebelas orang. Awal bergabung dengan mereka, saya merasa agak jengah dan sedikit tidak nyaman. Maklumlah, pertama kalinya saya merasakan 'bergaul' dengan ibu-ibu muda berusia rata-rata sepuluh tahun lebih tua daripada saya. Sempat saya ingin pindah ke kelompok majelis ta'lim yang lain saja, bila ada. Tapi sampai sekarang, saya masih bertahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, kegiatan akan diadakan di rumah salah seorang anggota, yang tidak begitu jauh dari rumah saya. Bahkan inilah rumah terdekat yang pernah saya datangi sejak pindah ke Bintaro. Biasanya bila akan menghadiri majelis ta'lim itu, saya harus naik angkot sampai dua kali. Lumayan jauh. Saya berangkat sekitar setengah jam sebelum acara dimulai. Saat itu saya sama sekali tidak tahu alamat pasti si empunya rumah, melainkan hanya mengandalkan arahan dari seorang teman saya saja. Yah, pastinya tidak jauh dari jalan masuk yang tadi ia sebutkan, pikir saya begitu. Dan sekitar lima menit kemudian, sampailah saya di jalan masuk tersebut. Tadinya saya berniat untuk naik ojek saja ke dalam. Tinggal sebutkan nama pemilik rumah dan ciri-ciri rumah, biasanya mereka tahu, begitu petunjuk berikutnya. Tapi sayangnya, tidak satu pun tukang ojek yang saya temui. Lantas saya putuskan untuk berjalan saja masuk ke dalam, siapa tahu ada pangkalan ojek lainnya atau ojek yang lewat. Saya tidak ingin terlambat, malu dong, masa rumah paling dekat malah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjalan terus sampai kira-kira beberapa ratus meter. Kaki mulai pegal, dan saya belum menemukan petunjuk apapun yang mendekati ciri-ciri rumah itu. Saya berinisiatif menelpon seorang teman, dan komentarnya adalah: "Wah! Kalau jalan sih masih jauh! Masuk-masuk ke dalam, susah juga ngasih taunya. Mending kamu tanya sama orang di warung aja deh." Begitu katanya. Saat saya menelpon itu, saya berada di depan sebuah masjid lumayan besar yang pastinya bisa jadi patokan. Dan saya pun lupa menanyakan nomor telepon si pemilik rumah. Ya sudahlah, pasti bisa sampai, begitu tekad saya. Saya bertanya ke sebuah warung, dan petunjuk yang diberikan adalah: "Dari jalan itu masuk aja ke dalam, belok kanan, nanti kalau ada warung tanya lagi aja. Rumahnya masih jauh banget!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, saya akhirnya berjalan saja dan setiap kali ada warung, saya bertanya, dan mereka memberikan informasi yang sama dengan orang terakhir yang saya tanya. Rupanya daerah tersebut belum memiliki nama-nama jalan. Rumah-rumah penduduknya pun jarang-jarang, dari rumah satu ke rumah yang lain berjarak beberapa meter. Padahal lokasi tersebut berdekatan dengan komplek perumahan yang lumayan besar. Jadi petunjuk yang paling praktis ya sebutkan saja nama si pemilik rumah. Dan itu yang saya lakukan berulang-ulang: "Rumahnya bu Yuli, guru SD Annisa, istrinya pak Muslim yang punya kandang kambing itu di mana ya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jalanan sudah hampir tak berujung, dan di sebelah kanan saya adalah tanah lapang yang besar sekali, di sebelah kiri hanya terdapat satu-dua rumah yang terkunci rapat, saya mulai khawatir tersasar. Tapi dari kejauhan saya melihat dua orang wanita berjalan. Mungkin penduduk setempat. Saya langsung berlari mengejar mereka. Alhamdulillah…ternyata memang selalu ada petunjuk bila kita tak segan bertanya. Mereka mengantar saya sampai sekitar dua puluh meter dari rumah yang dicari. Saat itu saya tak memikirkan bagaimana cara pulang, yang tentu saja harus ditempuh dengan berjalan kaki juga. Saya sudah lupa rutenya. Sudahlah, nanti saja. Saya langsung menuju rumah besar bercat oranye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu’alaikum! Bu Yuli ada, bu?"&lt;br /&gt;"Bu Yuli? Wah, dia jam segini belum pulang kerja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nyaris pingsan mendengarnya. Seorang wanita setengah tua itu menatap saya dengan agak heran. Duh, sudah hampir nyasar begini, orangnya tidak ada? Lantas acara dipindahkan ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya itu hanya kejutan kecil saja. Seorang laki-laki yang duduk bersama wanita itu beranjak dari kursi, dan tersenyum pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuk aja lewat samping sini. Rumahnya menempel di belakang situ, Neng." Katanya. Saya ragu sejenak. Tapi kemudian wanita tadi berseru, "Oh iya! Ini kan hari Sabtu ya? Berarti ada tuh orangnya!" katanya. Saya nyengir, lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan panjang itu berakhir juga. Waktu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh. Hampir satu setengah jam di perjalanan? Hebat juga kedua kaki saya ini. Saya duduk kelelahan. Dan satu per satu anggota majelis ta'lim itu mulai berdatangan, dua orang membawa anak-anak mereka. Mereka sampai dengan wajah yang hampir sama dengan saya, tetapi tidak ada satu pun yang berjalan kaki dari depan hingga sampai di situ. Kami semua tertawa-tawa kelelahan, mereka menertawakan saya yang dengan sangat mengenaskan musti menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki. Lalu kami menyantap makanan kecil yang dihidangkan, dan mengobrol sebentar melepas lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu semua hadir di majelis dengan penat. Saya bersiap untuk kecewa bila acara tidak berjalan atau datang hanya untuk bersantai. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Acara dibuka dengan tertib, kami bergantian tilawah quran, salah satu dari kami membacakan tafsir surat al-lahab, lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai permasalahan majelis ta'lim lain yang ada di daerah tempat tinggal kami, seterusnya sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. &lt;em&gt;Subhanallah&lt;/em&gt;. Saya nyaris tidak percaya bahwa kondisi-kondisi tak terduga, seperti kesulitan mencapai lokasi dan keterlambatan dimulainya acara, tidak menjadikan pertemuan yang hanya seminggu sekali itu menjadi tidak efektif. Jiwa saya kembali segar, penat saya hilang, dan saya siap bila harus pulang dengan berjalan kaki lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekitar lima bulan saya menjadi bagian dari mereka. Dan rupanya saya mulai merasakan ikatan hati yang cukup kuat pada mereka semua. Bahkan saya mengagumi mereka. Saya nyaris yang paling muda di antara mereka semua. Hampir semua sudah menikah, memiliki anak dua-tiga-atau empat orang, tapi mereka tetap konsisten hadir di pertemuan, mengerjakan tugas dengan lumayan tertib, bersemangat membahas permasalahan yang ada, dan saya tak segan untuk bercermin pada ketegaran mereka semua. Sedikitnya saya mengetahui permasalahan keluarga yang mereka hadapi, terhadap suami dan anak-anak, pekerjaan, dan lingkungan. Mereka mungkin tak semua berasal dari keluarga berkecukupan. Tapi semangat mereka untuk menghadiri majelis ta'lim rutin, juga semangat dan tindakan konkret berkontribusi dalam dakwah, itu semua menjadi bahan renungan yang tak habis-habis buat saya. Dan saya seringkali bertanya dalam hati, akankah saya tetap &lt;em&gt;istiqomah&lt;/em&gt; seperti mereka sepuluh tahun dari sekarang? Semoga saja. &lt;em&gt;Insyaallah&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Amiin&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114819871708663782?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114819871708663782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114819871708663782' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114819871708663782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114819871708663782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/05/bercermin-pada-kehidupan.html' title='Bercermin pada Kehidupan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114813449307889145</id><published>2006-05-20T21:12:00.000+07:00</published><updated>2006-05-20T21:14:53.543+07:00</updated><title type='text'>Berjuang untuk Menang</title><content type='html'>Ketika diri kita sudah terbiasa menghadapi berbagai macam rintangan dalam kehidupan, kita akan mengerti bahwa rintangan itu ada untuk dilewati, dan melewatinya perlu kerja keras dan kesungguhan. Dan bukan hanya itu, setelah kita berhasil melewatinya, kita akan mendapatkan kepuasan dan memperoleh nikmat sesudah kepayahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang teman yang pernah mengatakan bahwa betapa beruntungnya si anu yang diberi kemudahan oleh Allah dalam hidupnya. Pada waktu itu yang ia sebutkan sebagai kemudahan adalah: cepat lulus kuliah dan mudah mendapat pekerjaan. Si anu yang sedang dibicarakan memang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan. Teman saya itu menceritakannya dengan maksud membandingkan dengan dirinya yang hingga waktu itu belum bekerja, dan sudah 3 bulan lulus dari kampus. Mendengar ia mengucapkan keluhan itu, saya berkata dalam hati, betapa ia tidak tahu berbagai kesulitan yang telah si anu lewati sebelum akhirnya Allah menurunkan rezeki sebuah pekerjaan untuknya. Saya mengenal si anu sama baiknya dengan teman saya itu. Si anu sudah dua tahun lebih lulus dari kampus, lebih dulu dari teman saya itu, dan belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Saya tahu upaya yang telah dikerahkan olehnya selama ini, dan berbagai sandungan yang ia alami. Ia pernah ditipu oleh seorang teman, dan akhirnya beberapa juta uangnya hilang. Ia pernah berusaha mendirikan usaha sendiri, namun akhirnya ditutup setelah setahun tak memberi hasil bahkan merugi. Ia sudah melamar ke mana-mana dan menjalani banyak sekali proses interview, tapi tak juga diterima. Dan banyak lagi yang sudah ia lakukan, dan menurut saya hal-hal itu tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu, tiga bulan setelah lulus, ia diterima bekerja sebagai seorang sekretaris pada sebuah perusahaan. Sejak itu saya tidak pernah menanyakan padanya, apakah sekarang ia masih mengatakan bahwa si anu sangat beruntung dan iri hati padanya. Dan saya pun tidak pernah lagi mendengar ia berkeluh-kesah tentang keberhasilan si anu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah manusia. Sepertinya hal-hal yang berada di luar dirinya kelihatan jauh lebih baik dan bagus daripada yang telah ada padanya. Tidak pernah puas, sering lupa bersyukur, dan setiap kali mendapatkan sesuatu, ia pasti menginginkan hal yang lain lagi. Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa sifat seperti itu memang selalu ada pada diri manusia. Sebab manusia memiliki kelemahan dalam syahwat yang bersemayam. Padahal di luar dirinya masih banyak sekali orang-orang yang mengalami penderitaan yang jauh lebih berat, sedangkan mereka masih bisa memaknai hidup dengan lebih positif. Bukankah pikiran yang membawa kita pada perbuatan? Dan akar dari pikiran adalah aqidah yang benar. Maka bila akar tersebut telah terpancang kuat, ia akan membentuk pikiran-pikiran positif yang mendorong diri kita untuk berbuat yang lebih baik dalam kehidupan. Tanpa harus memandang kiri-kanan dengan perasaan iri, dengki, bahkan akhirnya bernafsu untuk saling menjatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang datang kepada tiap diri kita tidak pernah sama. Ia akan turun sesuai porsi kemampuan kita menghadapinya. Semakin baik kualitas keimanan seseorang, maka semakin kencang pula badai menerpa. Hal ini pasti sudah diketahui banyak orang, tapi banyak orang sering lupa bila ia sendiri yang sedang menghadapinya. Menanggapi ujian yang datang dengan lapang hati memang tidak mudah. Tapi itu adalah salah satu cara untuk menjaga keikhlasan dalam diri untuk setiap perbuatan, dan meneguhkan diri untuk menang dari segala macam ujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu mau menyebutkannya sebagai apa, tapi menurut saya, bersyukur kala ujian datang akan memudahkan kita untuk berjuang melewatinya. Sebab ketika Allah menurunkan lagi sebuah ujian pada diri kita, saat itu harusnya kita tahu, bahwa Allah menyimpan sebuah kenikmatan lagi di baliknya. Bila kita lulus, maka kenikmatan itu akan terasa jauh berkali lipat. Sesuatu yang diperoleh dengan perjuangan biasanya akan terasa lebih indah. Dan kepuasan seperti itu tidak hanya akan berakibat kenikmatan dunia, melainkan juga merupakan saham pribadi untuk membuka pintu surga. Jadi, kita semua memang harus berjuang untuk menang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114813449307889145?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114813449307889145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114813449307889145' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114813449307889145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114813449307889145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/05/berjuang-untuk-menang.html' title='Berjuang untuk Menang'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114567585094724374</id><published>2006-04-22T09:44:00.000+07:00</published><updated>2006-04-22T10:17:31.216+07:00</updated><title type='text'>Cantik, Tinggi, Putih ... bla ... bla ...</title><content type='html'>Apa maksudnya judul di atas?&lt;br /&gt;Yah, anggap aja itu bagian dari stereotipe tipe perempuan ideal dambaan hati para pria. Ups ... tentu aja nggak semua pria mendambakan tipe perempuan seperti itu ya? Mungkin ada juga yang menyukai tampilan fisik yang berbeda dari yang tiga di atas. Kan memang setiap orang memiliki 'selera' yang berbeda dalam hal 'menikmati pandangan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nggak membicarakan tentang profil model gadis sampul atau semacamnya. Tapi saya membicarakan soal kriteria calon istri. Nah loh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya ada seseorang yang menyodorkan kriteria tertentu yang diharapkan dari seorang calon istri. Kriterianya: cantik, tinggi, putih, latar belakang pendidikan sama (kalau bisa kuliah di kedokteran), kesehatan sempurna, dll. Hal ini bukan rekaan, alias benar-benar terjadi. Nah, tentu aja agak susah mencari seseorang yang memenuhi semua kriteria itu. Kalaupun ada, bukankah nggak ada seseorang yang sempurna? Dan pasti tetap saja ada satu-dua hal yang tidak 'lolos kriteria'. Mungkin giginya kurang putih? Senyumnya kurang manis? Tingginya kurang dua centi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak pusing juga kalau harus mencarikan permintaan yang seperti itu. Saya sendiri sih biasanya langsung 'ogah' dan akan menyuruh si pria mencari saja sendiri. Saya nggak punya pengalaman kerja sebagai agensi model atau juri kontes kecantikan dan ratu sejagad. Kalau mencari seseorang yang solehah, beraktivitas di organisasi kemasyarakatan, sudah siap menikah, dan berakhlak baik, sepertinya saya masih sanggup. Tapi mencarikan seperti yang di atas, duh, kalaupun ada, kayaknya saya khawatir ada satu-dua kriteria lagi yang tidak memuaskannya. Bukankah sudah sifat manusia selalu tidak merasa puas dengan apa yang ia dapatkan? Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seringkali bertanya-tanya sendiri: kenapa sih seseorang yang hebat seperti mbak anu tidak kunjung mendapatkan jodoh? Maksud saya hebat di sini adalah: ia punya dedikasi tinggi terhadap kegiatan keislaman, pemahaman agama baik, prestasi kerja tidak diragukan, kepribadian yang menyenangkan, dan sebagainya. Dan saya punya beberapa 'unggulan' yang memiliki semua itu. Yah, pertanyaan saya tersebut tentu sudah ada jawabannya: hanya Allah yang tahu. Saya hanya sedikit merasa terganggu dan sedih aja, ketika seorang pria melihat perempuan yang ingin dia nikahi sebatas dari penampilan fisik saja, atau penampilan yang pertama, yang lain-lain dipikirkan kemudian. Dan itu dengan alasan: fitrah seorang laki-laki. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya sepertinya benar, ya? Saya begitu ingin tahu dan akhirnya bertanya kepada beberapa orang tentang hal ini. Katanya itu hal yang wajar. Mau tidak mau, saya menerima, masih dengan setengah hati. Memangnya tahan memiliki pasangan hidup yang cantik tapi bodoh? Ups ... hehe ... sepertinya saya mulai sinis. Astaghfirullahal'azhiim....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak sesedih itu sekarang. Allah menunjukkan pada saya bahwa ada juga pria-pria yang mengutamakan kriteria pertama dari yang Rasulullah SAW sebutkan tentang mencari istri: dari agamanya. Contohnya adalah yang sedang dialami oleh seorang teman terbaik saya. Saya benar-benar mengharapkannya mendapat yang terbaik. Kalaupun ia tidak terlahir sebagai seorang perempuan yang berkriteria: cantik, tinggi, putih, berat badan proporsional, maka Allah akan memberikannya seorang suami yang tidak memandang semua itu. Oh, dan sebaliknya ya. Ada juga kok perempuan yang menginginkan 'good looking' sebagai salah satu kriteria dari pasangan hidupnya. Tidak ada bias gender di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memang memiliki kebutuhan masing-masing, yang pasti saling berbeda. Saya menyadari hal itu. Maka, saya tidak lagi bisa menyamakan apa yang ada di pikiran saya terhadap setiap orang. Yah, biar saja Allah yang menilai niat dan amal kita masing-masing di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadits tersebut membicarakan tentang 'niat seseorang dalam beramal'. Yah, hadits yang sangat populer. Begini bunyinya penggalannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk apa yang diniatkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Bila mencari pasangan hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan pemuasan pandangan mata saja, maka itu yang akan kita dapat. Tapi bukankah kita menikah untuk memenuhi sunnah Rasul-Nya dan untuk memenuhi setengah dien-Nya dan untuk keselamatan dunia dan akhirat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah ... saya musti banyak belajar untuk merenungi lagi niat-niat yang bersemayam dalam hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya begitu tidak bisa menahan diri sampai-sampai menuliskan uneg-uneg ini ya? Semoga bisa direnungi bersama ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114567585094724374?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114567585094724374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114567585094724374' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114567585094724374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114567585094724374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/04/cantik-tinggi-putih-bla-bla.html' title='Cantik, Tinggi, Putih ... bla ... bla ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114510941750758242</id><published>2006-04-15T20:56:00.000+07:00</published><updated>2006-04-15T21:06:11.690+07:00</updated><title type='text'>My Dear Pren Eci</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="WIDTH: 186px; HEIGHT: 222px" height="241" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v240/dh_devita/witheci.jpg" width="148" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ini foto vita bareng eci, temen di Era, yang sekarang beliau udah berpindah gawe di kuningan. Temen yang satu ini kadang suka nyebelin, karena kalo udah ngomong pasti bikin orang ketawa sampe kegelian. Ngangenin, sekaligus bikin gemes. Pertama kali kenal dia, kayaknya udah punya feeling bakal suka ama nih anak. Ups ... maksudnye ape tu? Ya...sebut aja chemistry di antara kita berdua oke banget. Hihihi ... jangan ge-er lu, ci! Tapi beneran aja deh...apalagi waktu itu, sore-sore pulang kerja, kita berdua 'dugem' di sebuah resto di jalan Wolter Monginsidi, si eci ini menyatakan rasa cintanya padaku. Huhuhuhu!!!! Apa nggak girang tuh dengernya. Dan dia sampe belagak mau muntah gitu ngomongnya. Alaaahh...kalo cinta mah bilang aja cinta! Kagak usah malu-malu begitu, ci...gue juga kok. Hehe...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Duh ... pisah sama eci? Nggak kebayang deh!!! Kalo itu sampe terjadi, hiks, kita musti sering-sering dugem mulai sekarang, ci!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114510941750758242?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114510941750758242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114510941750758242' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114510941750758242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114510941750758242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/04/my-dear-pren-eci.html' title='My Dear Pren Eci'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114506410575371577</id><published>2006-04-15T07:49:00.000+07:00</published><updated>2006-04-15T08:30:57.813+07:00</updated><title type='text'>Ujian Sekaligus Kenikmatan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000066;"&gt;Belakangan ini saya sering memikirkan sesuatu dan setiap kali sesuatu itu terlintas dalam pikiran saya, saya langsung bersyukur dan beristighfar karena seringkali lalai untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu itu ada dalam kehidupan saya. Ketika saya akan menikah pada tahun 2004 lalu, sebelum saat itu tiba, ada beberapa cobaan cukup berat yang saya alami. Cobaan berat itu menimpa keluarga saya, tepat sekitar satu bulan sebelum saya mengenal suami saya (pada saat itu tentu saja "calon suami"). Pada waktu itu, saya berpikir mungkin untuk menikah, saya harus menunda saja dulu. Keadaan sepertinya belum memungkinkan. Tapi skenario Allah berjalan terus, dan saya memasuki tahap-tahap proses mencari pendamping hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah sembarangan menerima seseorang yang berniat akan menikahi saya. Bila saya sudah siap, dan cara yang baik untuk memulai proses tersebut selalu saya perhatikan. Saya ingin segalanya sempurna, dari sudut pandang syariat agama tentu saja. Dan ketika akhirnya saya memberanikan untuk memulai sebuah proses, saya dihadapkan dengan orang-orang yang menguji keimanan saya. Malas juga sih menceritakannya, dan rasanya tidak perlu. Ya, sudahlah ... mungkin Allah memang ingin menguji kesiapan saya untuk menikah. Toh saya tidak dirugikan apapun, jadikan saja semua itu pengalaman saya. Walau rasa kesal tetap ada. Hehehe ... namanya juga manusia. Dengan lapang hati saya mengundurkan diri dari proses-proses tersebut, sebab sepertinya mereka butuh seseorang yang lebih cantik, lebih tinggi, lebih putih, lebih segalanya daripada saya. Ups ... keluar juga deh keselnya! (iseng mode on) Awalnya saya agak sulit menerima prinsip 'kriteria pasangan hidup' yang seperti itu. Memangnya mau cari model iklan? (hayo, vit, sabar ...) Tapi ternyata saya harus berpuas diri dengan penjelasan yang lebih masuk akal (daripada masuk emosi) dari suami saya. Tapi itu nanti saja ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan menjelang, dan saya berkonsentrasi untuk menjalankan Ramadhan pertama full di kantor. Mendekati sepuluh hari terakhir, Allah memberikan saya ujian lagi. Saya menjalani sebuah proses lagi, yang kali itu saya lakukan dengan setengah antusias setengah lagi tetap bersemangat. Prinsip saya, kita tidak akan pernah tahu apa yang sedang Allah persiapkan untuk hidup kita, jadi jalani saja dengan tenang. Dan ternyata, proses itu berjalan lancar (di luar dari dugaan saya sebelumnya), bahkan agak terlalu lancar, saya sampai heran sendiri dan tahu-tahu laki-laki itu sudah datang di rumah saya untuk meng-khitbah saya di hadapan ayah dan ibu. Wah, tampaknya serius nih ... Saya menjalani itu di kala hari-hari terakhir Ramadhan berlangsung. Dan Allah memberikan kado Ramadhan yang terindah kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun pertama pernikahan sudah saya lewati. Tentu saja muncul cobaan-cobaan yang lain lagi dalam kehidupan saya. Memulai segalanya dari bawah. Tapi saya menguatkan diri, sebab saya kan tidak sendirian sekarang. Dan saya tahu, kalau ingin bahagia, kita harus berusaha. Kadang saya memang melihat sedikit kesedihan dari raut wajah orang tua maupun keluarga saya yang lain. Mereka mungkin tidak menyangka saya akan melewati hari-hari saya seperti itu, karena biasanya kan saya tenang-tenang di rumah. Saya sendiri tidak pernah menganggap hal itu sesuatu yang mengganggu. Mereka saja yang tidak terbiasa. Pindah dari satu kontrakan, lalu ke kontrakan yang kedua, dan akhirnya menempati rumah sendiri di bilangan Bintaro. Subhanallah ... betapa Allah memudahkan kami berdua. Rasanya rezeki dan nikmat itu mengalir terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, Allah memberikan kami sebuah cobaan lagi. Tahu kan, beradaptasi di tempat yang baru adalah sebuah tantangan yang berat. Tapi kalau menguatkan tekad dan yakin, pasti selalu bisa dilewati. Santai aja, sepertinya saya menjadi lebih plegmatis lama-kelamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, akan ada lagi yang kami berdua akan lewati. Dan ini menjadi 'hadiah' setahun pernikahan kami sepertinya. Mendapatkan kenikmatan yang besar, sekaligus cobaan yang juga besar, mungkin. Suami saya berkali-kali bertanya, "Siap nggak?" dan saya berkali-kali menjawab, "Kalau nggak siap, aku pasti udah bilang 'nggak' sejak awal." Dan memang begitu. Saya siap untuk melakukan apa saja yang terbaik dan untuk kemajuannya. Tentu saja. Saya kan mencintainya. (gombal mode on)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Hidup terus berjalan dengan skenario yang telah dituliskan Allah pada setiap garis hidup manusia. Mau tenang? Jalani saja dengan lapang hati dan terus berusaha meraih yang terbaik. Allah tidak akan memberikan sesuatu cobaan yang di luar kesanggupan kita. Bismillah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Makin penasarankah? Hehehe ...&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114506410575371577?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114506410575371577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114506410575371577' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114506410575371577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114506410575371577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/04/ujian-sekaligus-kenikmatan.html' title='Ujian Sekaligus Kenikmatan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114456022749157895</id><published>2006-04-09T12:19:00.000+07:00</published><updated>2006-04-09T12:23:47.553+07:00</updated><title type='text'>Siap-siap ...</title><content type='html'>Biasanya ketika seseorang akan melalui sebuah perubahan, maka akan ada berbagai macam godaan yang menghalangi. Padahal mungkin perubahan tersebut akan membawa kebaikan, kemajuan, dan merupakan kesempatan untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Dulu, saya mungkin akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk berubah. Saya termasuk seseorang yang sangat cinta kemapanan, dalam bentuk apapun. Cari aman aja deh. Tapi sekarang, rasanya saya begitu bersemangat untuk segera berubah. Hehehe... berubah apanya ya? Rasanya sih sebentar lagi akan ada perubahan dalam kehidupan saya. Saya sama sekali tidak keberatan menjalaninya. Toh ini kan demi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehehe ... sok romantis? Emang!&lt;br /&gt;Penasaran? Tunggu aja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114456022749157895?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114456022749157895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114456022749157895' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114456022749157895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114456022749157895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/04/siap-siap.html' title='Siap-siap ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114309159507125810</id><published>2006-03-23T12:23:00.000+07:00</published><updated>2006-03-23T12:26:35.390+07:00</updated><title type='text'>"Berpisah"</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Menjelang cinta,&lt;br /&gt;Hatiku terkubur dalam keheningan yang tercipta&lt;br /&gt;Oleh desir hasratku memilikinya,&lt;br /&gt;Cinta,&lt;br /&gt;Tiada penghalang batinku meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang cinta,&lt;br /&gt;Hembusan napas menjadi derita&lt;br /&gt;Saat lelah merusak raga,&lt;br /&gt;Cinta,&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau genap jiwaku merana,&lt;br /&gt;Dan hitungan hari memisahkan kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah,&lt;br /&gt;Di mana kau,&lt;br /&gt;Di situ aku ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(24 Februari 2006)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114309159507125810?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114309159507125810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114309159507125810' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114309159507125810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114309159507125810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/03/berpisah.html' title='&quot;Berpisah&quot;'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114222263998979289</id><published>2006-03-13T10:59:00.000+07:00</published><updated>2006-04-15T10:24:56.053+07:00</updated><title type='text'>World Book Day 2006</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(153,51,153)"&gt;Kamis, 2 Maret 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,51,153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#009900;"&gt;Saya tergopoh-gopoh memasuki gerbang Depdiknas sambil menenteng sebuah kantong plastik besar dan dua buah styrofoam yang sudah disulap menjadi mading foto dan buletin. Jam menunjukkan pukul 10.30 (kira-kira), dan sepertinya FLP’ers lain yang sudah datang sejak pukul 9 pagi menunggu saya. Ada satu buah missed call dari Koko Nata. Semua barang-barang display dari FLP Bekasi memang saya yang pegang. Feeling guilty juga. Hanya karena sudah lama nggak berangkat dari Bekasi (saya kan sekarang tinggal di Bintaro), dan lupa bahwa tol selalu saja MACET, akhirnya jadi telat satu setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tadi malam, tiba-tiba HP saya berdering dan muncul nomor tak dikenal.&lt;br /&gt;“Halo, Vita, ini Dala, Vita.” Mbak Dala menelpon untuk menanyakan apa saya bisa membawa karpet atau tikar. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan detail stan dan barang-barang apa yang bisa dipajang. Mbak Dala menyambut antusias ketika saya bilang bahwa saya akan bawa dua styrofoam berisi foto dan buletin. Beliau juga menanyakan soal brosur berisi profil FLP pusat, dan akhirnya menyambut antusias lagi ketika saya bilang saya sudah memfotokopi brosur FLP Bekasi (karena hanya itu yang ada) dan buletin MOZAIK. Hmm … tampaknya persiapan menghadapi World Book Day sangat kurang. Saya bersyukur bahwa tahun ini sie dokumentasi dan buletin FLP Bekasi menjalankan tugasnya dengan baik (thanks to Nadiah n all MOZAIK Crew!). Setidaknya tahun ini kami berhasil menyumbangkan sesuatu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan Hall A Depdiknas dari kejauhan sudah tampak ramai. Spanduk-spanduk dibentangkan sejak di luar pagar sampai pintu masuk. Lokasi yang sangat strategis. Menginjakkan kaki di ruangan besar itu, saya terpana. Waaah … sudah ramai juga! Malah kursi-kursi di depan panggung utama (yang tepat berada di tengah-tengah ruangan) sudah terisi hampir penuh. Stan-stan pameran tersusun membentuk huruf U mengelilingi panggung, dan sepertinya nyaris tak ada yang masih kosong. Saya kebingungan, duh … stan FLP sebelah mana ya? Bukannya berjalan ke meja informasi, saya malah berjalan ke arah kiri, mengitari hampir semua stan sambil celingukan mencari-cari. Para penjaga stan tersenyum-senyum melihat saya. Wah, ada penjaga stan yang datang telat nih, mungkin begitu pikir mereka. Dulu, jaman saya masih suka jaim, saya pasti sudah panik dan berjalan mengendap-endap. Tapi karena sekarang sepertinya saya sudah lebih plegmatis, maka saya dengan cuek berjalan pelan-pelan sambil membaca satu per satu nama stan tersebut. Akhirnya saya kembali ke depan, dan bertanya ke bagian informasi. Yap. Ternyata stan FLP tercinta itu letaknya di sebelah kanan, di samping panggung, hampir di pojok pas di sebelah stan Rumah Dunia (yang penataannya cukup keren, disamping mereka dapat stan yang agak lebih luas). Sampai di sana, saya nyengir lebar pada Echa dan Elshi (dua orang rajin dari FLP Jakarta) dan berkata, “Hihihi … aku hampir nyasar, nih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah styrofoam yang saya bawa (dengan cemas, karena takut nggak boleh dipajang) ternyata disambut gembira oleh mereka. Stand mungil itu ternyata masih bisa dihias lebih heboh lagi. Sebuah kursi panjang, dua buah kursi standar dan sebuah meja tak terlalu besar yang semuanya terbuat dari bambu. Semua benda itu telah diisi oleh buku-buku pameran pinjaman dari Rumah Cahaya. Tak ada tempat duduk, dan akhirnya Koko Nata (FLP Depok) membeli alas duduk yang terbuat dari busa warna-warni yang bisa dilepas-pasang. Saya menempelkan mading foto dan buletin FLP Bekasi di sebuah pembatas stan (yang juga terbuat dari bambu). Pas sekali memang, dan rasanya panitia cukup mengerti bahwa semua peserta pasti membutuhkan tempat untuk memasang mading atau entah apa. Tadinya saya pikir kedua styrofoam itu akan diletakkan begitu saja di lantai bersandarkan kursi atau meja. Dan karena stan tersebut pas berada di bawah perpustakaan, tembok yang menjadi pemisah antara lantai satu dan perpustakaan dapat digunakan untuk menempelkan sesuatu (dan kedua orang rajin itu pasti sudah susah payah menempelkan buku-buku dari RumCay dengan double tape hingga terpajang dengan manis). Jadi lokasi dan bentuk stan sebenarnya sangat nyaman dan cukup fasilitas. Tadinya saya mendapat informasi bahwa stan tidak dapat dihias banyak sebab sangat sempit, dan tidak ada tempat untuk memajang sesuatu. Wah, lain kali tim survey musti lebih jeli lagi memberi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kesederhanaan dan sedikit kreativitas (lagi-lagi dari Echa, Elshi, dan akhirnya kami semua turut membantu), stan itu telah siap. Tapi sepertinya kami semua tidak bisa bersempit-sempit di dalamnya, sebab akan menghalangi orang-orang yang akan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berdatangan, walau belum terlalu banyak. Kami membagikan profil FLP Bekasi, MOZAIK, dan pembatas buku dari LPPH. Ketika ada yang bertanya tentang FLP, saya, Koko, atau Evin (bener nggak tulisannya?) dari FLP Jakarta, menjawab sebisa kami, dan memberikan nomor kontak FLP Pusat dengan menuliskannya pada brosur, kertas yang mereka bawa, atau di balik pembatas buku. Sebab yang tertera di brosur FLP Bekasi yang nomor kontak kami saja. Sebuah teguran lagi untuk persiapan yang lebih matang. Tapi saya sendiri, terus terang saja, sangat senang menghampiri-menjawab-dan berpromosi ini itu pada pengunjung stan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak berumur sekitar 50-an tahun menghampiri stan, dan bertanya pada Fitta atau Nonon (dari FLP Bekasi) yang langsung memanggil saya. Beliau mengaku berasal dari Komunitas Radio (sebuah komunitas independen yang entah resmi entah tidak). Setua itu beliau masih siaran dan katanya akan melaporkan kegiatan di WBD ini termasuk beberapa stan yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya, saya akan membacakan profil stan pameran termasuk Lingkar Pena ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Saya mendapat peluang menjalin relasi lagi. Dengan bersemangat saya menceritakan kegiatan FLP secara umum, cabang-cabangnya, dan lain-lain. Beliau tertarik sepertinya. Dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari dulu saya sudah menulis. Sejak kelas 4 SD. Tapi sekarang sudah tidak menulis lagi. Yang jelas saya sangat mendukung kegiatan membaca dan menulis seperti ini. Forum Lingkar Pena ya … bagus. Bagus sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang nggak nulis lagi? Dimulai lagi dong, Pak …” ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya … ya … saya akan menulis lagi.” begitu katanya. Dan ia pun berpamitan, setelah sebelumnya mengatakan akan menghubungi kami suatu saat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang yang bertanya untuk diri sendiri, mewakili instansi atau untuk kepentingan lain, mereka yang meminta ijin untuk mengambil gambar untuk koleksi atau membuat liputan, semuanya adalah peluang untuk menjalin dan melebarkan jaringan kepada komunitas lain. Sebuah peluang bagus sekali untuk lebih ‘memasyarakatkan FLP’, begitu pikir saya. Tetapi kemudian saya memperhatikan kondisi stan itu (yang sampai sore belum terpasang sebuah logo pun), lalu beberapa orang penjaga stan. Teringat Fitta dan Nonon yang beberapa kali memanggil saya untuk meladeni pengunjung (wajar sih, mereka memang anggota baru), atau Echa yang berkata, “Harusnya yang jaga stan itu orang-orang yang te-pe (=tebar pesona). Nggak kayak kita yang nggak bisa te-pe.” Betul juga, pikir saya. Sehingga pengunjung akan tertarik (atau nggak enak buat nolak dan akhirnya masuk), mendapatkan brosur, dan melihat bahwa FLP sudah membuahkan banyak sekali buku-buku. Saya ingat seorang perempuan muda yang berkomentar,”Jadi itu semua buku-buku dari penulis FLP?” sambil menunjuk kursi-kursi dan tembok yang dipenuhi buku. Itu belum semua, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas istirahat dan salat, saya berjalan-jalan berdua Nonon mengitari ruangan besar yang semakin panas karena mulai dipenuhi pengunjung. Walau tidak sepenuh ketika datang ke Bookfair, tapi saya benar-benar bersemangat. Rasanya seperti ada di surga … hehehe. Saya sangat suka berada di antara buku-buku dan orang-orang yang menyukai buku. Dan beberapa stan memang ditata dengan sangat menarik. Stan dengan penataan terunik menurut saya adalah stan klub penggemar Lord of The Rings (entah apa nama perkumpulannya) dan stan klub penggemar Karl May. Si penjaga stan LoTR bahkan mengenakan jubah abu-abu dengan tudung kepala yang dibuka, menghias pintu masuk dengan gerbang daun, memajang beberapa souvenir khas LoTR, buku-bukunya, dengan standing banner yang cukup besar. Demikian juga dengan klub Karl May, yang menebarkan buku-buku edisi lama dan baru, versi komik dan novel, terbitan dalam dan luar negeri, serta sebuah lantai kosong berwarna kotak-kotak hitam-putih (seperti lantai kamar mandi) dengan sebuah kakus mainan di atasnya dengan sebuah benda berwarna aneh menyerupai otak manusia. Tulisan di bawahnya kira-kira berbunyi “kalau tidak membaca maka otak anda seperti ini”. Saya cengengesan memandangi kakus itu. Hebat sekali idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Kadang sebuah peluang akan pergi ketika kita tak cekatan menangkapnya. Tapi sekali lagi saya menyayangkan tidak adanya koordinasi FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar untuk WBD ini (maksud saya secara resmi atau diprogram). Walau mungkin, menurut Koko, ini adalah tugas FLP Pusat, tapi saya sendiri menganggap wilayah DKI-lah yang seharusnya dengan otomatis merasa bertanggung jawab akan pengalihan tugas tersebut. Apalagi event seperti ini akan berulang tiap tahun. Bukan hanya itu, saya juga menyayangkan sedikitnya (atau bahkan tidak ada?) inisiatif pengurus FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar (yang baru melakukan satu kali koordinasi atau pertemuan pembentukan atau apalah namanya, selama beberapa bulan sejak terpilihnya ketua) untuk berkoordinasi (mengenai hal ini dan lainnya) ketika sang ketua sedang berhalangan. Sayang sekali, ya. Tulisan ini sekaligus menegur diri saya sendiri. Bagaimanapun, ini kan amanah …. Semoga kita semua bisa berbuat lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.35 ketika saya melirik jam, dan saya langsung berlari kecil kembali ke stan FLP. Segera berpamitan ke seluruh penjaga stan FLP (yang sedang asyik duduk membaca buku, atau bengong), sebab jadwal bus Trans Bintaro yang akan lewat adalah pukul 14.50. Terlambat beberapa detik saja, maka saya harus menunggu lagi sampai sore. Kata Echa, “Tumben banget ada bus tepat waktu kayak gitu.” Saya pun memamerkan jadwal bus Trans Bintaro yang selalu saya bawa ke mana-mana. Lalu saya pun meninggalkan empat orang cewek manis itu. Echa dan Elshi harus menunggu Koko kembali dari Depok (katanya mau cetak standing banner), sebab penjaga shift kedua belum jelas. Sabar ya Cha, Shi, … kalian mustinya dapat penghargaan anggota FLP ter-rajin. Hehehe….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114222263998979289?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114222263998979289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114222263998979289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114222263998979289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114222263998979289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/03/world-book-day-2006.html' title='World Book Day 2006'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114222139329879088</id><published>2006-03-13T10:39:00.000+07:00</published><updated>2006-04-15T20:51:02.063+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Ruh</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#663333;"&gt;Sewaktu kuliah, sejak tingkat pertama saya mendapatkan amanah untuk menjadi bagian dari departemen pembinaan mushola fakultas. Tugas yang harus dilakukan adalah di antaranya menyelenggarakan event keislaman yang diadakan setiap awal semester perkuliahan. Pasca kegiatan itu, kami harus menangani beberapa kelompok mentoring di fakultas yang telah terbentuk. Menjaganya agar tetap stabil, merekrut anggota baru, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pendukung. Aktivitas di departemen pembinaan ini bisa dikatakan cenderung monoton dan tidak kelihatan. Sebab memang tanggung jawab kami adalah untuk menjaga seluruh anggota kelompok mentoring agama Islam supaya meningkat pengetahuan keislamannya, sekaligus melibatkan mereka dalam acara-acara kerohanian fakultas, baik dari lembaga manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat sekali, pada waktu disodori amanah tersebut, saya hampir menolak karena saya lebih suka mengerjakan pekerjaan yang sifatnya keluar, seperti yang dilakukan para anggota departemen pengkajian atau syiar mushola. Hobi saya menulis, mengerjakan pernak-pernik, membuat mading, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu sepertinya mendukung saya untuk berada dalam departemen pengkajian mushola. Tetapi akhirnya saya menerima amanah untuk menjadi bagian dari departemen pembinaan, untuk empat tahun masa perkuliahan saya di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul sekali. Hingga saya lulus dari kampus, saya tidak diperkenankan melepaskan amanah tersebut, bahkan ketika saya berkeinginan untuk bergabung dengan lembaga dakwah tingkat universitas. Memang tugas yang akhirnya saya emban semakin berat, sebab tidak saja menjadi anggota departemen pembinaan, melainkan juga akhirnya menjadi ketua forum mentor, dan amanah-amanah lain yang berkaitan dengan itu. Saya juga menyadari, bahwa amanah yang cukup berat seperti itu tidak bisa disambi dengan yang lain, sebab hanya akan menjadikannya terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenuh. Saya sempat merasakannya. Apalagi ketika posisi saya tidak lagi menjadi seorang ‘bawahan’. Menghadapi anggota yang sedikit malas, tidak mengerjakan amanah dengan baik, merasa tidak kreatif dan tidak memiliki ide untuk memecahkan masalah, dan setumpuk lainnya yang pastinya saya selalu hadapi. Empat tahun. Dan saya tetap bertahan. Bahkan saya menemukan sebuah lingkungan baru, walau masih dalam amanah yang sama, dimana ketua dan para anggotanya memiliki hubungan yang saya dekat. Saya menjadi bagian dari departemen pembinaan tingkat universitas. Saya selalu ingat, bahwa ketika akhirnya saya kembali menjadi ‘bawahan’, saya dan teman-teman pun terkadang membandel. Tapi si ketua sungguh memiliki cara sendiri untuk membuat kami makin mencintai amanah tersebut. Saya tidak pernah akan melupakan saat-saat terakhir menjalani amanah itu, hingga saya lulus kuliah, bekerja dan melepaskan amanah itu untuk kepengurusan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004 akhir, saya mendapatkan amanah baru lagi, dalam bidang yang sangat berbeda dari yang pernah saya jalani di kampus. Tetapi keikutsertaan saya dalam organisasi ini sungguh merupakan hal yang saya sangat inginkan. Saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena cabang Bekasi. Niat saya bergabung adalah ingin belajar dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari pertemuan rutin yang biasa dilakukan. Tetapi ternyata Allah memberikan saya amanah yang cukup besar lagi kepada saya. Saya menjadi ketua FLP Bekasi. Membawahi kepengurusan yang langsung dibentuk setelah pembentukan kembali FLP Bekasi, dan melakukan perekrutan serta memberikan pelatihan kepada anggota baru. Berarti termasuk untuk diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk melingkar di selasar masjid Islamic Center Bekasi setiap dua minggu sekali, membahas beberapa topik kepenulisan, membuat games dan simulasi seadanya, berusaha menjaga kuantitas peserta training, dan memberikan motivasi kepada mereka untuk menulis. Setahun pertama benar-benar tidak mudah. Kepengurusan pun direstrukturisasi ketika tengah tahun pertama karena ada beberapa yang tidak efektif. Anggota datang dan pergi, materi training diberikan dengan coba-coba sebab kurikulum dibuat sendiri, saya berjalan hampir terseok-seok dan merasa sulit sekali memberikan pencerahan dan pengembangan bagi organisasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat suatu kali, ketika saya mengisi materi di pertemuan rutin itu, saya berada dalam kondisi yang nyaris ‘di bawah’. Saya merasa jenuh, sedikit kecewa dengan keaktifan pengurus yang hanya beberapa gelintir saja, namun harus dengan ceria menghadapi anggota yang masih antusias hadir dan menimba ilmu. Alhamdulillah, pada tahun pertama jumlah anggota yang rutin hadir sekitar lima belas orang. Dan itu berjalan cukup stabil, walau sempat berganti-ganti muka. Tetap saja, saya merasa stagnan dan nyaris tidak tahu harus berbuat apalagi untuk membuat organisasi ini lebih dinamis. Saya merasa sangat bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, malam harinya, saya merenungi kembali dua jam training yang telah saya hadiri di siang harinya. Saya sedang mencoba menata kembali hati saya dan berintrospeksi. Tiba-tiba saja sebuah sms masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teh Vita, selama ini saya sering merasa jenuh dan tak bersemangat dengan segala kesibukan saya. Tapi hari ini saya sadar bahwa tugas seorang ketua sungguh lebih berat. Ia harus menjadi ruh bagi para anggotanya. Tetep semangat ya, Teh! Cayo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun cukup lama. Pesan itu datang dari Adnan, salah seorang anggota yang cukup komit dan sebenarnya cukup sering memberikan saya semangat seperti itu lewat sms. Kali itu Adnan bukan saja memberikan saya semangat, melainkan juga memberikan sentilan bagi diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ruh. Istilah tersebut terngiang-ngiang terus-menerus. Dan saya tidak lagi merasa berat dan payah akan beban yang tadinya sempat membuat saya hampir ‘terjatuh’. Kalau saya bisa memberikan semangat kepada teman-teman saya di organisasi, dan apa yang saya sampaikan bisa menyuntikkan motivasi bagi mereka, sepertinya saya yang akan merasa benar-benar bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, sebuah jamaah tidak akan bisa bergerak tanpa seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin tidak akan bisa melaksanakan tugasnya tanpa jamaah yang taat kepadanya. Pemimpin selemah apapun akan mampu melakukan tugasnya bila dibantu oleh jamaah yang kuat dan mendukungnya. Dan saya perlu menambahkan, bahwa sebenarnya yang menjadi ruh bukanlah hanya seorang pemimpinnya saja. Bahkan seringkali ruh itu didapat dari para anggota yang, secara sadar atau tidak, turut andil memberikan semangat di kala pemimpin sedang lemah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114222139329879088?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114222139329879088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114222139329879088' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114222139329879088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114222139329879088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/03/menjadi-ruh.html' title='Menjadi Ruh'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114110272659764270</id><published>2006-02-28T11:58:00.000+07:00</published><updated>2006-03-10T09:59:12.850+07:00</updated><title type='text'>Surabaya, Desember 2005</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="WIDTH: 279px; HEIGHT: 180px" height="388" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v240/dh_devita/IMG_0020Small.jpg" width="444" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;ki-ka : Ibuku sayang (mertua), My Dear Hendy Ferdian, diriku, dan Femmy&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;di Resepsi pernikahan Oki-Pipit (sepupunya suami), Surabaya&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114110272659764270?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114110272659764270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114110272659764270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110272659764270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110272659764270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/surabaya-desember-2005.html' title='Surabaya, Desember 2005'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114110253559637103</id><published>2006-02-28T11:55:00.000+07:00</published><updated>2006-03-10T10:03:14.730+07:00</updated><title type='text'>STIKOM Surabaya, Desember 2005</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 130px" height="364" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v240/dh_devita/wisudafemmy-4Small.jpg" width="431" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, Courier, mono;font-size:130%;"&gt;Bertigaan di Auditorium STIKOM Surabaya. Yang di tengah itu Femmy, si nakal adek iparku. Hehehe ...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;font-size:130%;"&gt;Selamat ya, Fem ... jangan nakal2 lagi...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114110253559637103?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114110253559637103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114110253559637103' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110253559637103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110253559637103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/stikom-surabaya-desember-2005.html' title='STIKOM Surabaya, Desember 2005'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-114110221622247044</id><published>2006-02-28T11:50:00.000+07:00</published><updated>2006-03-10T10:05:15.796+07:00</updated><title type='text'>My Dear Cousin Anya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="WIDTH: 174px; HEIGHT: 106px" height="355" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v240/dh_devita/.jpg" width="513" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:130%;"&gt;Anya emang selalu ngangenin. Rambut kritingnya, suara cemprengnya, senyum centilnya, pelukannya pas ketemu, pose-nya kalo difoto, semuanya deh!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:130%;"&gt;Anak ini selalu jadi inspirasi. Seringkali kalo lagi keinget dia, sampe kebawa mimpi segala, ternyata dia lagi sakit or kenapa-kenapa. Kali ini juga gitu, keinget terus sama Anya. Mudah-mudahan gak ada apa-apa sama bidadari kecil itu, ya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:130%;"&gt;Siang ini mau nelpon Anya ah ....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-114110221622247044?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/114110221622247044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=114110221622247044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110221622247044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/114110221622247044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/my-dear-cousin-anya.html' title='My Dear Cousin Anya'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113997106504347478</id><published>2006-02-15T09:33:00.000+07:00</published><updated>2006-02-15T09:37:45.176+07:00</updated><title type='text'>The Great Teachers</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#003300;"&gt;Beberapa kali saya sempat menyaksikan sebuah film produksi Jepang tentang kehidupan para guru di sebuah sekolah. Tokoh utama film tersebut adalah seorang guru laki-laki yang bergaya nyentrik dengan sikap yang terkesan seenaknya, tidak serius, dan tampak tak baik menjadi teladan bagi murid-muridnya. Berbagai intrik akibat sikap culas dan iri para guru lainnya pun muncul ketika ternyata guru tersebut menjadi favorit murid-murid di sekolah tersebut. Mereka tak habis pikir, kebaikan apa yang ada pada diri guru nyentrik tersebut hingga murid-murid begitu memujanya. Kedengkian itu terus muncul tak hanya dari guru-guru di sekolah tersebut, melainkan juga sekolah elit lainnya dan juga dari pihak departemen pendidikan. Alhasil, si guru dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang dibuat-buat, dan sekolah tersebut difitnah hingga nyaris dihancurkan demi kepentingan pihak departemen pendidikan dan sekolah elit tersebut. Namun kesetiaan dan semangat para murid demi membela si guru menggugah para orang tua murid serta guru-guru lain yang tadinya tak menyukainya. Kehancuran sekolah tersebut akhirnya digagalkan oleh pengorbanan dan jerih payah seluruh murid dan guru sekolah, yang dipimpin oleh si guru nyentrik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, si guru nyentrik mendapat reaksi keras dan berbagai alasan ketidaksukaan seluruh sekolah terhadap dirinya. Memang benar, ia sering bertindak seenaknya (dengan memanfaatkan ruang kepala sekolah untuk tidur siang), berpenampilan nyentrik (mengajar di depan kelas hanya dengan menggunakan kaos oblong), dan terkesan tidak tahu malu (bersenang-senang di dalam sekolah walau ia mendapat hukuman tidak boleh mengajar dan harus membersihkan kamar mandi). Tetapi ia dapat membuktikan bahwa ia pantas diperhitungkan sebagai seorang guru, dengan menolong satu per satu muridnya dari bahaya maupun permasalahan yang mereka hadapi. Ia bahkan mengorbankan dirinya dicemooh orang lain demi sikapnya itu, dan bahkan sempat nyaris tak selamat dari upaya percobaan pembunuhan. Hasilnya, murid yang paling membencinya pun berubah pandangan. Sebuah kalimat yang saya ingat diucapkan oleh murid-muridnya adalah, “Kami bersedia melakukan apa saja untuk Onisuka. Kau pasti mengerti apa yang dimaksud dengan ‘apa saja’.” Film yang amat mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat, entah sudah berapa banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh para guru di sekolah terhadap murid-muridnya. Entah dengan latar belakang apa, sikap demikian bukannya akan menambah kecerdasan murid, melainkan akan menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan. Saya tak tahu, apakah hal tersebut disadari atau tidak. Kasus-kasus tersebut hanyalah terkuak sebagian, entah berapa banyak yang sesungguhnya telah terjadi. Sebut saja, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Ketika saya bekerja sebagai pekerja sosial di sebuah LSM, beberapa orang murid sekolah dasar datang bersama orang tua mereka, mengadukan pelecehan yang dilakukan oleh guru mereka di sekolah. Sepertinya memang tidak ada luka fisik yang diderita, tetapi saya memuji keberanian mereka mengadukan kasus tersebut untuk mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk. Dan, bayangkan saja, pelecehan tersebut dilakukan di dalam kelas di depan murid-murid lain saat pelajaran berlangsung. Anak-anak usia sekitar 8-10 tahun tersebut menceritakannya dengan semangat dan seru sekali pada saya, seolah tak ada kejadian buruk yang menimpa mereka. Trauma masa kecil biasanya akan mengendap untuk beberapa lama, dan kemudian muncul di saat dewasa dengan menampakkan dampak-dampak tertentu terhadap perilaku mereka terhadap diri sendiri maupun orang lain. Teori psikoanalisa dari ilmuwan terkenal, Sigmund Freud, sepertinya bisa dijadikan salah satu dasar pemikiran yang harusnya membuat para pendidik dan kita semua cemas. Akan jadi seperti apakah anak-anak itu kelak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanyakan mengenai kasus kekerasan fisik, sebab sudah tak terhitung lagi banyaknya. Setiap hari program penyiaran berita di semua saluran televisi menayangkan berbagai kisah yang mencengangkan, nyaris membuat bosan. Sekitar tahun 2000-an, saya mendapati beberapa buah kasus saja per bulan dalam catatan rekam medis di LSM tempat saya pernah praktek kerja. Tetapi dua tahun setelahnya, sepertinya LSM tersebut kekurangan petugas untuk menanganinya. Dan tahun 2005-2006 sekarang ini, entah apa yang membuat isu ini menjadi marak kembali, dan semua media berlomba mencari kasus baru yang lebih menghebohkan. Terlepas dari peran media yang kadang membesar-besarkan hal ini, coba tengok kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh para guru di sekolah, dan tanyakan pada diri masing-masing: pernahkah kita mengalaminya? Jangan bayangkan kejadian pemukulan hingga luka parah, atau semacamnya. Hal-hal sederhana, seperti mencubit, menarik rambut, memukul dengan penggaris, dan lainnya pun bisa dikatakan sebagai bentuk kekerasan fisik. Bagaimana dengan kekerasan non fisik, contohnya dalam bentuk pelontaran kata-kata makian dan cacian? Sadarkah bahwa sebuah kalimat makian atau umpatan pun menghasilkan dampak yang sama terhadap anak? Lalu, jangan heran bila beberapa tahun mendatang negeri ini akan penuh dengan orang-orang dewasa serta anak-anak yang suka memaki, berkata kasar, dan bersumpah serapah. Bukankah anak belajar dari orang dewasa yang dekat dengannya? Apalagi bila orang dewasa tersebut adalah seorang guru yang selama berjam-jam dalam sehari berinteraksi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang sepupu kecil saya yang dengan sengaja ’menjatuhkan’ nilai salah satu mata pelajarannya di sekolah, hingga nyaris meraih angka merah. Sedangkan nilai-nilai lainnya nyaris sempurna. Ia dengan sengaja tak mau memperhatikan pelajaran tersebut di kelas, tak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan hal itu sempat menyebabkan amarah kedua orang tuanya. Ia pun mengejutkan ayah ibunya ketika memberikan alasan bahwa: pak guru pelajaran itu sadis, suka menyakiti dan berkata kasar. Sikap pak guru itulah yang menyebabkannya tidak menyukai pelajaran tersebut, bukan karena ia tidak tertarik terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang saya tonton itu berjudul The Great Teacher Onisuka. Mungkin bagi sebagian orang film itu hanyalah salah satu tontonan biasa seperti halnya sinetron-sinetron Indonesia. Tapi bagi saya, membayangkan bersekolah di tempat dimana para guru mengajar dengan semangat dan penuh kecintaan terhadap murid-muridnya, dan para murid belajar dengan penuh kebanggaan terhadap sekolahnya, sungguh indah dan pasti menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Jepang terkenal dengan sistem pendidikannya yang ketat, dan terdapat sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan para siswa akibat stres, namun sisi baik dari keberhasilan mereka menanamkan kecintaan para murid untuk belajar dan kecintaan para guru untuk mengajar, patut dicontoh. Saya rasa, di setiap kejadian pastilah terdapat sebuah hikmah yang bisa diambil. Toh, memang mereka dapat memetik buah hasil dari perhatian besar mereka terhadap pendidikan di negeri itu. Seperti halnya murid-murid dan para guru di sekolah dalam film itu, yang akhirnya menyadari kecintaan mereka terhadap sekolah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya nyaris tak mungkin menemui keadaan seperti itu sekarang ini. Entah apabila film tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Jepang. Tetap saja, menurut saya, sesuatu tak mungkin terjadi bila tidak dimulai. Dan memulai sesuatu sendirian tanpa adanya dukungan dari lingkungan biasanya akan perlahan memudarkan semangat dan idealisme itu. Dan yang menjadi pionir biasanya akan menemui ujian sekeras batu karang, bahkan untuk waktu yang tak bisa ditentukan lamanya. Buah kenikmatan memang tidak bisa diraih dengan mudah, dan perjuangan serta pengorbanan yang dilakukan untuk meraihnya akan menambah kenikmatan buah tersebut nantinya. Tidak hanya harapan dan keyakinan saja yang diperlukan, usaha keras dan dukungan benar-benar menjadi kebutuhan riil untuk mewujudkan sebuah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113997106504347478?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113997106504347478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113997106504347478' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997106504347478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997106504347478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/great-teachers.html' title='The Great Teachers'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113997071792181750</id><published>2006-02-15T09:30:00.000+07:00</published><updated>2006-02-15T09:31:58.043+07:00</updated><title type='text'>Terjebak Perangkap Setan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#330000;"&gt;Manusia seringkali melakukan hal-hal yang membawanya dekat kepada kemaksiatan tanpa disadari. Akibat seringnya memaklumi sebuah kesalahan kecil yang diperbuat. Padahal tumpukan dosa-dosa kecil itulah yang menjadi awal ‘ketertarikan’nya terhadap dosa yang lebih besar, dan lebih besar lagi. Ibaratnya seseorang yang berbohong, ia akan berbohong untuk kedua kalinya untuk menutupi kebohongan yang pertama, dan kemudian berbohong lagi untuk menutupi kebohongan kedua, dan begitu seterusnya sampai batas dimana ia tak lagi sanggup berbohong sebab tak lagi ada orang yang mempercayainya, atau karena ia tak bisa membedakan mana kejujuran mana kebohongan. Kebaikan dan kebatilan pun dengan mudah menjadi hal yang sama dalam pandangannya. Kebohongan bisa disamakan dengan kemaksiatan apapun, yang akan menjelma menjadi lingkaran setan yang menjerat manusia manapun yang terperangkap di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkap setan itu diciptakan khusus untuk manusia yang tidak mau bersikap waspada dan menjaga diri. Ia terbuat dari sepuh emas dengan harum semerbak bagai bunga cantik penuh madu menarik lebah. Siapapun akan tergoda olehnya. Memang demikianlah sebuah kemaksiatan dibungkus oleh tampilan memikat. Sehingga untuk sesaat, kita akan langsung terpikat dan jatuh dalam lubang hitam, bila tidak menghindarinya. Dan setan pun tertawa. Sekali lagi mereka berhasil menarik manusia untuk menjadi bagian dari golongannya. Dan golongan setan itu akan berbaris rapi menuju neraka, dimana bahan bakarnya terbuat dari batu dan manusia. Semakin banyak, dan semakin banyak lagi, menjadi penghuni kerak neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal peringatan tentang perangkap setan itu telah disebut berkali-kali dalam Alquran. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secaa keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.“ (Al Baqarah, Qs.2:208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mengira perintah menaati syariat Allah hanya sebatas melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, dan berzakat saja. Padahal seluruh sisi kehidupan kita di dunia telah diatur sampai hal-hal yang paling kecil. Dan semua itu adalah untuk kebaikan manusia sendiri. Tetapi, tentu saja, sebuah kebaikan dan perintah agama rasanya akan seperti memakan buah berduri dan melihat sebuah tampilan tak menarik bahkan mungkin dihindari sebab dirasa menyusahkan dan mengekang kebebasan. Lantas berpikir bahwa kehidupan dunia dan akhirat akan selamat hanya dengan menjalankan perintah-Nya sesuai kehendak hati, bila tak berkenan bisa ditinggalkan. Masihkah bertanya tentang perangkap setan padahal sudah jelas-jelas terlihat di sekeliling kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.“ (Al Baqarah, Qs. 2:204)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini sepertinya terkuak sebagian dari perangkap setan itu, dan bila mata hati kita jeli, pasti dapat dibedakan dengan jelas mana yang haq dan batil. Memang apa yang ditampilkan dalam media cetak dan elektronik dapat dengan mudah merasuk dalam benak setiap orang. Pembentukan opini mengenai berbagai hal pun terjadi dengan cukup mudah, namun tidak bagi orang-orang yang mau berpikir sebelum meyakini. Benarkah sebuah klaim kebebasan berpendapat dan kebebasan memilih jalan hidup dapat menjadi jaminan akan sebuah kebebasan yang sesungguhnya? Atau pada saat itu kita akan terjebak pada nafsu kapitalisme para pedagang yang berusaha membuat arus baru sebuah modernisasi, lantas mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk menjadi saksi dan pelaku tren mode kehidupan. Sedangkan pada saat yang bersamaan, aqidah serta akhlak dihancurkan sehancur-hancurnya, hingga tak berbekas. Bila hal ini berlangsung terus selama beberapa lama tanpa ada perbaikan, kelak akan terbentuk generasi model baru pengusung nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sudah jelas peringatan Allah dalam surat An-Naas:&lt;br /&gt;Katakanlah,“Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113997071792181750?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113997071792181750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113997071792181750' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997071792181750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997071792181750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/terjebak-perangkap-setan.html' title='Terjebak Perangkap Setan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113997061418486857</id><published>2006-02-15T09:27:00.000+07:00</published><updated>2006-02-15T09:30:14.280+07:00</updated><title type='text'>Meyakini Kekafiran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;Konon katanya bulan Februari dinyatakan sebagai bulan kesuburan dan cinta. Asosiasi tersebut sudah ada sejak dulu. Menurut kalender Athena kuno, periode antara Januari dan pertengahan Februari disebut dengan bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Pada kebudayaan bangsa Roma kuno, ada juga yang menyebutkan kebudayaan pagan bangsa Roma, perayaan bulan tersebut dilakukan sebagai ekspresi ‘cinta suci’. Sebuah sumber menyebutkan bahwa hari raya ‘cinta’ tersebut jatuh pada tanggal 15 Februari, dan disebut sebagai Hari Raya Lupercalia. Yaitu sebuah perayaan Lupercus (dewa kesuburan), yang dilambangkan dengan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus mempersembahkan korban kambing kepada sang dewa dan setelah meminum anggur, mereka akan berlarian di jalan-jalan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba, dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Karena ritual tersebut berkaitan dengan kesuburan, maka para wanita muda pun dengan sukarela berebut maju untuk menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penganut Katolik, perayaan hari cinta itu agak berbeda dari apa yang dilakukan para kaum pagan Roma. Paus Gelasius II menetapkan tanggal 14 Februari (sehari sebelum perayaan Lupercalia) sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. Nama tersebut merujuk pada beberapa nama martir atau santo (orang suci) yang berbeda dan tak jelas asal-usulnya. Namun ia terkait dengan sebuah legenda yang dipercaya muncul pada abad ke-14, ketika Kaisar Claudius II melarang para serdadu Romawi untuk menikah. Pada saat itu, Santo Valentinus muncul sebagai pahlawan dengan membantu menikahkan mereka. Hukuman pun dijatuhkan, dan sore hari sebelum ia menerima hukuman mati, sebuah catatan kecil yang diberikannya pada anak dari sipir penjara menjadi ‘inspirasi’ bagi pengikutnya sampai sekarang untuk merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari raya cinta. Dan berbondong-bondonglah kemudian para pasangan memanggil kekasih mereka dengan sebutan “Valentine-ku” (my Valentine). Selanjutnya, setiap tanggal tersebut, gereja dibuka untuk menyambut wisatawan yang ingin menziarahi jenazah Santo Valentinus. Pada tahun 1969, hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi sebagai bagian dari usaha untuk menghapus santo-santo yang asal muasalnya tak jelas dan hanya berbasis legenda saja. Namun bagi paroki-paroki tertentu, pesta cinta itu masih dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era modern, hari raya tersebut (kemudian dikenal sebagai Valentine’s Day) berubah menjadi ajang pengerukan uang bagi para pebisnis seantero dunia. Dimulai dari dicetaknya kartu ucapan cinta pada abad ke-19. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia beredar sekitar satu milyar kartu valentine yang dikirimkan tiap tahun. Dan ini membuat Hari Valentine sebagai hari raya terbesar kedua setelah Natal dimana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Kemudian pada pertengahan abad ke-20, tradisi tersebut menuai keuntungan lagi bagi para pebisnis dengan dimulainya pemberian segala macam hadiah (bunga mawar dan cokelat misalnya) kepada para wanita oleh pasangannya. Dan mulai tahun 1980-an, industri berlian pun turut andil ‘menyemarakkan’ tradisi membuang-buang uang tersebut. Rupanya ‘ritual suci’ tersebut mulai berubah menjadi lebih mahal. Bahkan perayaan di Jepang mengharuskan para wanita memberi para pria yang mereka senangi dengan permen cokelat, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat pada teman kerja pria mereka, dan kadang dengan biaya yang cukup besar. Tradisi ini disebut sebagai giri choco (giri = kewajiban, choco = kependekan dari chokoreeto atau cokelat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan singkat tentang asal muasal Valentine’s Day di atas sepertinya cukup jelas untuk menggambarkan bahwa tak ada satu pun dari kisah, ritual, dan pernak-pernik lainnya yang berkaitan dengan sejarah dunia Islam. Sebuah perayaan, dalam bentuk kecil maupun besar, terhadap sesuatu pastilah berkaitan dengan sebuah hukum atau aturan tertentu yang menjadikan perayaan tersebut sebuah keharusan dan atau kelayakan untuk dilakukan. “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhan-Mu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (Al Hajj, Qs. 22:67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sudah jelas bahwa tidak ada perbedaan antara ikut serta merayakan perayaan tersebut dan atau melakukan salah satu bagian dari ritual perayaan tersebut. Baik dengan mengucapkan selamat, memberikan hadiah, datang pada acara-acara yang diselenggarakan untuk merayakannya, dan lain sebagainya. Meyakini keseluruhan dari ritual dan perayaan itu berarti meyakini kekafiran. Meyakini sebagian darinya sama dengan mendekati jalan kekafiran (entah itu mengikuti jalan keyakinan bangsa pagan Roma, atau umat Katolik yang merayakannya, serta siapa saja yang merayakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah mereka merayakan cinta. Mengikuti ritual-ritual yang bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah, membesar-besarkan sesuatu yang berasal dari sebuah legenda atau cerita yang diciptakan sendiri, kemudian mengembangkannya menjadi sebuah budaya konsumerisme berlebihan yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, mematok hari-hari tertentu untuk berterus terang dalam menyatakan cinta (atau melakukan sesuatu yang lebih dari itu) kepada seseorang yang bukan muhrimnya, dan bahkan ketika semua alasan tersebut tidak mau diakui oleh mereka yang mengikutinya, mereka akan dengan mudahnya berkata, “Just for fun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kalimat terakhir di atas, ijinkan saya mengingatkan satu hal: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al Israa’, Qs. 17:36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia&lt;br /&gt;www.ukhuwah.or.id &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113997061418486857?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113997061418486857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113997061418486857' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997061418486857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997061418486857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/meyakini-kekafiran.html' title='Meyakini Kekafiran'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113997038468843770</id><published>2006-02-15T09:07:00.000+07:00</published><updated>2006-02-15T09:26:25.043+07:00</updated><title type='text'>Berbagi Cinta dan Empati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#006600;"&gt;Baru-baru ini saya mendapat sebuah email dari seseorang yang kebetulan membaca sebuah tulisan yang saya tampilkan pada blog pribadi. Tulisan itu adalah sebuah cerpen mengenai proses kuretage yang saya alami sekitar sebulan lalu. Tentu saja, membaca email itu mengingatkan saya pada kesedihan dan berbagai perasaan yang saya rasakan, dan tidak terlupakan sampai sekarang. Email tersebut cukup panjang, namun saya tidak merasakan bosan atau marah saat membacanya. Terus terang saja, menanggapi pertanyaan-pertanyaan seputar proses kuretage tersebut sesungguhnya hanya akan membuat saya sedih kembali, walaupun saya selalu menjawab dengan lengkap dan menerangkannya dengan senang hati. Sebab apa yang saya alami merupakan pengalaman yang dapat diambil pelajaran oleh semua orang. Saya senang berbagi. Tapi kesedihan itu tidak bisa tidak muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya orang-orang akan bertanya, “Dikuret? Kok bisa sih? Kenapa? Kecapean, ya? Kurang istirahat kali? Terkena virus apa? Kenapa bisa ada bekuan darah? Tenang aja, biasanya habis dikuret pasti cepat hamil lagi ....“ dan seterusnya. Bosan. Tapi ya wajar saja, dan saya tahu pertanyaan-pertanyaan tersebut tak bisa dihindari. Setelah menjelaskan panjang lebar, biasanya saya akan mengatakan,“Ya, jadiin pelajaran aja deh. Doain ya, supaya bisa sehat dan hamil lagi.“ Habis perkara. No hurt feelings, lah. Saya tahu mereka semua hanya memberikan perhatian dan bermaksud menghibur. Walau rasa sedih itu tetap saja ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email yang saya baca itu, tidak berisikan pertanyaan bertubi-tubi tentang apa yang saya alami. Seseorang itu hanya menceritakan mengenai apa yang ia alami, yang ternyata hampir mirip dengan yang saya alami. Ia seorang wanita, yang telah kehilangan bayinya setelah sembilan bulan dalam kandungan. Bayangkan saja, harapan yang telah memenuhi hatinya pupus seketika ia mendapati bayinya tak lagi bernyawa, tak lama setelah melahirkan, kalau tidak salah. Ia mengatakan bahwa perasaan sedihnya tak terkira, yang pastinya sama dengan apa yang saya rasakan. Ia tergerak untuk mengontak saya via email dan menceritakan pengalamannya itu setelah membaca tulisan saya. Saya tidak mengenal wanita itu, dan bisa jadi itu kali pertamanya membaca tulisan saya pada blog pribadi saya. Sebuah tulisan yang langsung membuat hati saya benar-benar tersentuh, dan sekali lagi menyadari bahwa kesedihan seperti yang saya rasakan bukanlah sesuatu hal yang istimewa dan perlu dibesar-besarkan. Toh, pastinya banyak sekali wanita yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih lagi dari yang saya alami. Seperti wanita itu. Sesungguhnya saya memang bersyukur, bahwa kehilangan itu saya alami ketika usia kandungan dua bulan. Saya tak bisa membayangkan bila kandungan itu telah membesar, saya telah merasakan gerak janin, atau bahkan setelah ia dilahirkan. Kesedihan macam apa yang akan saya alami? Allah Maha Tahu kesanggupan hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya berbagi sesuatu dengan orang lain telah menjadi sebuah kebutuhan yang akhirnya dapat memberikan pelajaran-pelajaran baru bagi diri saya. Mengalami sebuah musibah atau kejadian apapun tentu saja membuahkan hikmah yang tak terkira nilainya. Namun mendapatkan tanggapan atas apa yang saya alami, baik berupa nasehat, kalimat-kalimat yang menyatakan rasa simpati, dan berbagai bentuk kepedulian lainnya dari teman-teman saya, pun mengajarkan saya hal lain. Bahwa dalam menjalani kehidupan, seorang manusia sungguh amat lemah, dan tak mungkin terlepas dari orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Tak bisa kita menghadapi semuanya sendirian. Keberadaan orang lain dalam hidup kita sesungguhnya menjadi salah satu penguat agar kita tidak jatuh tersungkur terlalu dalam, berlarut dalam duka, dan melupakan bahwa ketika kita merasa ada di bawah, ada orang lain yang menempati posisi yang sama, bahkan banyak lagi yang lebih menderita. Kadang, ketika kita merasakan duka, kita lupa bahwa bukan diri kita sendiri yang mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, yang saya dapatkan dari kalimat terakhir dari paragraf di atas. Saya sempat memiliki pemikiran ini: Tidak mungkin ada seorang pun yang memahami apa yang saya alami, toh mereka berbicara demikian hanya karena rasa simpati yang dimunculkan. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang saya rasakan. Maka percuma saja kalimat-kalimat menghibur itu diucapkan. Sungguh jahat pemikiran saya itu. Tentu saja, emosi memuncak yang menyelimuti hati saya yang menyebabkannya. Dan saya pun sempat berpandangan negatif terhadap beberapa reaksi dan tanggapan orang-orang di sekitar saya. Bukannya mengurangi beban, sikap saya itu hanya menambah tumpukan stres yang merugikan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca email tersebut, saya seakan baru menyadari bahwa saya bukanlah orang yang paling malang sedunia. Saya sungguh berterima kasih pada seseorang yang mengirimkan saya email itu. Isi email tersebut merupakan ‘cara menegur’ yang sungguh baik, menurut saya. Walaupun hanya dengan menceritakan kembali apa yang ia alami, walaupun sepertinya tidak ada kata-kata nasehat ataupun teguran secara eksplisit di sana. Tapi cukup untuk memberikan sebuah ‘tamparan’ yang menyadarkan saya. Tidak ada sebuah cobaan pun yang Allah turunkan melainkan untuk menguji hamba-Nya, memberikan ujian untuk mengukuhkan keimanannya, menjadikan kita lebih dekat pada-Nya, memberikan kesadaran untuk melangkah maju dan berbuat lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi dan berbicara dengan seseorang yang juga mengalami musibah yang sama, sepertinya memberikan saya ketenangan yang baru. Bahwa saya tidak sendirian, dan banyak orang yang benar-benar mengerti apa yang saya rasakan, sebab mereka sendiri mengalaminya. Dan terhadap mereka yang tidak mengalaminya, tentu jawaban serta cerita saat saya berbagi dengan mereka akan memberikan pelajaran yang sama. Tak peduli apapun kalimat yang mereka lontarkan, mereka sesungguhnya menunjukkan cinta yang besar dengan segala bentuk perhatian tersebut. Memang, berpikir rasional saat hati sedang diliputi kesedihan bukan sesuatu yang mudah. Dan saya akhirnya menyadari bahwa walaupun mereka, teman-teman dan keluarga saya itu, tidak mengalami apa yang saya alami, namun mereka merasakan kesedihan yang sama. Itulah sesungguhnya cinta dan ikatan hati, bahwa ketika kita mengalami sesuatu, maka orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita pun merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113997038468843770?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113997038468843770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113997038468843770' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997038468843770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113997038468843770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/berbagi-cinta-dan-empati.html' title='Berbagi Cinta dan Empati'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113927788520206465</id><published>2006-02-07T09:01:00.000+07:00</published><updated>2006-02-07T09:04:45.433+07:00</updated><title type='text'>Karena Mereka Cinta</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Being annoyed by others&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;, mungkin itu yang sebagian besar dialami oleh anak-anak remaja, atau mereka yang berusia dewasa dini. Sepertinya orang-orang di sekitar yang lebih dewasa, terutama mungkin orang tua dan anggota keluarga lain, selalu mengatakan hal-hal yang ‘mengganggu’ semangat keremajaan kita. Entah itu memprotes pilihan model pakaian, kegiatan luar sekolah, teman-teman, sampai pilihan jalan hidup. Mungkin tidak semua orang mengalami hal ini, tapi saya sendiri mengalaminya. Memang sih, sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang orang-orang dewasa itu katakan. Mungkin hanya caranya saja yang kurang pas atau waktu yang tidak tepat. Tapi, dengan emosi seorang remaja atau usia tanggung seperti itu, mana mungkin mau bersabar-sabar meladeni. Bagi mereka yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;lost control&lt;/i&gt;, bisa jadi akan menghadapi pertengkaran atau hubungan yang renggang dengan keluarga, oleh sebab hanya masalah-masalah yang seharusnya bisa dibicarakan. Kalau ditanya alasan mengapa bersikap demikian, just being annoyed dan tak ingin dicampuri, mungkin itu jawaban gampangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Suatu kali, saya mengalami kesulitan dalam memilih jurusan ketika hendak lulus dari SMU. Saya menyadari betul minat yang sejak kecil sudah muncul, tetapi dengan beragam aktivitas dan kurangnya arahan, saya belum benar-benar menyadari bahwa saya menginginkan minat saya itulah yang akan menjadi profesi saya kelak. Dan sayangnya, hal ini pun tak disadari oleh keluarga saya. Dan akhirnya, saya mengalami sedikit perbedaan pendapat dengan orang tua dalam memutuskan apa yang akan saya pilih. Pada akhirnya, saya mengalah juga. Dan meninggalkan minat saya tersebut. Tapi setiap kali salah satu anggota keluarga saya menyinggung urusan pekerjaan, masa depan, dan pilihan hidup (dan tentu saja mereka menawarkan berbagai bidang yang menurut mereka baik), saya menjadi super malas menanggapinya. Saya lebih suka berkata, “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Ya … ya, itu memang bagus&lt;/i&gt;.” Ketimbang menjelaskan apa yang benar-benar saya mau. Suatu sikap yang salah, belakangan saya sadari. Atau bila di lain kesempatan mereka melakukannya lagi, dan saya sedang dalam kondisi ‘tidak siap’ dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;mood&lt;/i&gt; yang jelek, akhir dari percakapan itu akan menjadi tidak enak. Dan saya benar-benar merasa terganggu dengan kejadian yang terus berulang itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Pada masa-masa lepas dari bangku SMU hingga masuk dunia perkuliahan, saya masih saja menghadapi situasi tersebut. Dan lucunya, saya tidak benar-benar berusaha untuk memahami permasalahan, dan mencari jalan keluar dalam berdialog yang baik. Supaya saya tidak lagi merasa tidak nyaman ketika topik tersebut dibahas kembali. Supaya saya tidak terus mengatakan, “Mereka benar-benar pengganggu terhebat.” Lagipula, apa enaknya menjalani hubungan yang seperti demikian dengan orang-orang yang paling dekat dengan diri kita? Bukankah masalah ini harusnya bisa menjadi pelajaran untuk bersikap lebih dewasa? Seharusnya. Tapi saya sungguh lambat mempelajarinya dan akhirnya mengubah sikap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Daripada bersusah-susah meyakinkan apa yang saya mau kepada keluarga, saya malah mengambil sikap: Ya sudahlah, ikuti saja arusnya. Dan saya pun berusaha menyukai bidang yang saya pilih dalam perkuliahan, walau sebenarnya itu saya pilih hanya karena mendekati minat saya dalam dunia psikologi. Padahal cita-cita saya bukanlah menjadi seorang psikolog. Saya hanya menyukai ilmu tersebut. Dan itu tidak cukup untuk menjadi dasar semangat dalam menjalani fase kehidupan berikutnya. Begitulah, saya berkubang dalam kesalahan berkali-kali. Dan setiap kali membicarakan masalah profesi, dunia kerja, dan semacamnya, saya tetap merasa &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;being annoyed by my own family&lt;/i&gt;. Bayangkan saja! Betapa menyedihkannya perasaan itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Entah bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Harus! Bila saya tak ingin cita-cita idaman saya itu terkubur dalam. Saya menyelesaikan kuliah dengan baik, dan menemukan hal-hal positif yang Allah karuniakan pada saya dalam bidang kuliah yang saya pilih. Dan saya pun kembali berusaha meraih cita-cita saya itu. Berusaha mengenal dan terlibat dalam komunitas yang akan mengantarkan saya pada impian itu, berusaha menghasilkan karya-karya yang lebih baik dengan target: harus dipublikasikan di media massa, dan belajar dari siapa saja yang saya temui. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Tahun 2004, mungkin bisa dikatakan bahwa itu tahun ‘kebangkitan’ diri saya. Saya ‘menemukan’ kembali gairah itu! Cita-cita saya: ingin menjadi penulis. Dan itu yang saya tanam kuat-kuat dalam benak saya sampai kapanpun. Saya lulus dari bangku kuliah, bekerja, dan berusaha untuk tetap menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik. Publikasi karya saya di media, walau belum banyak, sedikitnya membuktikan hal itu. Dalam hati, saya merasa senang sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Still being annoyed&lt;/i&gt;? Hm, saya rasa itu hanya salah satu ion negatif yang berterbangan di pikiran dan hati saya selama ini. Saya merasa demikian sebab saya menyadari ketidakmampuan saya untuk memberi penjelasan dengan cara yang bisa mereka terima. Atau pada saat itu, saya belum benar-benar yakin dapat membuktikan bahwa cita-cita ini adalah sebuah jalan hidup yang saya pilih. Apapun pandangan orang tentang itu. Membuat orang lain mengerti, sepertinya memang tidak bisa hanya melalui kata-kata atau bahkan angan-angan saja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Pada akhirnya, walau belum sepenuhnya yakin dan mendukung, saya tahu bahwa mereka hanya ingin yang terbaik terjadi pada diri saya. Bila mereka tidak mengerti apakah hal itu, maka kewajiban saya untuk menjelaskan. Semua mereka katakan tentu tidak pernah bermaksud mencampuri atau mengganggu hidup saya, melainkan karena mereka cinta. Ya. Cinta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;Bukankah dengan memandang suatu hal dengan pandangan positif jauh lebih menyenangkan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113927788520206465?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113927788520206465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113927788520206465' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113927788520206465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113927788520206465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/02/karena-mereka-cinta.html' title='Karena Mereka Cinta'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113765111350746295</id><published>2006-01-19T13:08:00.000+07:00</published><updated>2006-01-19T13:11:53.713+07:00</updated><title type='text'>Kuretage</title><content type='html'>Saat itu pikiranku benar-benar kosong. Apa yang dikatakan oleh dokter Anti tak lagi kedengaran. Entah dengan suamiku yang duduk di sebelah, mungkin ia juga termangu, sama bodohnya denganku. Beberapa kali tergagap aku menanyakan hal-hal penting yang harus dilakukan setelah ini. Kapan jadwal kuretage, mendaftar ke mana, apa yang perlu dilakukan setelahnya, dan semua itu tak mampu kuingat dengan baik. Hanya satu hal yang ada di benak: aku harus ke kamar mandi sekarang juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Sayang, ternyata janinnya nggak berkembang. Bekuan darahnya nggak berubah, pasti menghalangi plasenta ngasih makanan ke bayinya. Harus dibersihin ini, ya.” Kalimat yang diucapkan dokter Anti terus berputar-putar di kepalaku. Di-kuret … kuretage … aaah!!! Bagiku sama saja dengan aborsi! Partus sebelum waktunya! Astaghfirullahal’azhiim ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan surat pengantar di amplop tertutup di genggaman, langkahku bergegas mengalahi suamiku yang pastinya tengah bingung. Berkali-kali ia memanggil, tapi telingaku serasa tuli. Mataku tertuju lurus ke arah sebuah pintu. Aku harus cepat-cepat, sebelum semuanya tumpah di tempat yang tak seharusnya. Seorang perempuan muda penjaga toilet tersenyum kecil melihatku masuk. Segera kubuka pintu toilet paling ujung, menutup pintunya, dan menumpahkan segalanya tanpa suara. Sungguh aku tak butuh perhatian dari orang-orang pada saat seperti ini. Aku menangis diam-diam. Pikiranku melayang, sekaligus berharap bahwa saat ini adalah hanya mimpi buruk yang paling buruk di antara yang kualami akhir-akhir ini. Ya, ini adalah sebuah mimpi buruk. Nyaris saja ingin kucubit pergelangan tanganku untuk membangunkan diriku darinya. Tetapi tangisku menyadarkanku bahwa semua ini nyata. Aku telah kehilangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah firasat buruk yang muncul belakangan menandakan hal ini akan terjadi? Entahlah. Tak ada lagi yang ingin kupercayai saat ini. Kebahagiaan itu hilang hanya dalam sekejap. Aku mengingat sebuah momen, di saat suamiku mengelus-elus perutku dan berkata, “Kayaknya perutnya udah mulai besar, ya?” dan saat itu yang kukatakan untuk menjawabnya adalah, “Iya, mudah-mudahan dedek-nya juga makin besar ya, nggak 3 mm kayak kemarin lagi.” Sebenarnya setelah mengatakan itu sebelah hatiku berharap cemas, dan bertanya-tanya, mengapa aku mengucapkan kalimat seperti itu? Bukankah kalimat itu menandakan bahwa aku pesimis terhadap kehamilan ini? Apakah aku sudah merasakannya sejak mengetahui kehamilanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku mengenggam tanganku erat, tapi nyatanya tak mampu meredakan apapun yang sedang merasuki hati dan pikiranku. Berbagai pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelum muncul pertanyaan berikutnya. Berbagai perasaan yang tak mampu kuterjemahkan satu per satu pada saat itu. Ketakutan, rasa kehilangan, kesedihan, perih, nyeri, dan seterusnya. Aku tahu, dalam kondisi emosi seperti itu, banyak hal bodoh yang pasti bisa kulakukan terhadap siapa saja termasuk diri sendiri. Sejak awal, aku sudah bertekad untuk tidak akan melakukan hal-hal bodoh itu, dan bersikap sewajarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah terasa sangat lama. Satu hal yang sangat ingin kulakukan saat itu: menangis keras-keras. Dan tidak mungkin aku melakukannya di dalam angkot dan membiarkan semua orang berpikir bahwa aku ini gila atau sedang stres. Walau kenyataannya mungkin hampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, aku segera menaruh tas, mengganti baju, dan suamiku menghampiriku di kamar depan. Ia hampir tidak berkata apa-apa, hanya sebaris kalimat yang langsung membuatku menubruknya dan melampiaskan semua sampai beberapa lama. Hari itu adalah pertama kalinya aku menangis sekeras itu di hadapannya. Aku mengharapkan ia juga menangis sama sepertiku, tapi ternyata laki-laki memilih untuk bersikap tegar dan menyembunyikannya sampai waktu ia benar-benar sendiri. Sepertinya begitu. Ia mengatakan hal-hal yang rasional, tapi semua tidak mempan. Aku sudah tahu, bahwa bila kehamilan ini dibiarkan pasti akan membawa penyakit untukku sendiri, sedang si janin tak lagi bisa bertumbuh. Aku sudah tahu, bahwa ini semua hanya cobaan yang perlu dilewati dengan sabar, tapi aku ingin menangis keras-keras untuk kali ini saja. Aku sudah tahu bahwa ini bukan salah siapa-siapa, tapi aku menangis bukan untuk menyalahkan siapapun, melainkan untuk diri sendiri karena sebentar lagi akan melepas sesuatu yang sangat diharap-harapkan sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertidur cukup lama, hingga rasanya sudah tiba waktu ashar. Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, terlihat ada sajadah yang menghampar. Rupanya suamiku tengah menunaikan shalat ashar. Dalam setengah sadar, kudengar isak tangis tertahan. Ia menangis. Mungkinkah? Entah mengapa sepertinya ada sedikit rasa lapang di hati. Kami merasakan kesedihan yang sama. Dan aku menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang bersalin itu terasa lapang, terlalu lapang malah. Sebuah televisi 14 inch tergantung tepat di depan tempat tidur lebar yang cukup nyaman. Aku nyaris tak bisa membedakan, apakah itu ruang bersalin atau ruang rawat inap. Beberapa perangkat persalinan yang telah disiapkan menyadarkanku, bahwa sebentar lagi waktunya tiba. Aku nyaris tersenyum sendiri, melahirkan sebelum waktunya. Atau bisa disebut aku ini mendahului beberapa temanku yang sedang hamil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam telah lewat, televisi di depanku masih menayangkan film-film lama dari channel HBO. Seorang perawat yang ramah menyuruhku untuk mengganti baju yang kukenakan dengan sebuah baju berlengan pendek selutut dengan pita-pita di belakang. Cukup terbuka dan memang didisain khusus untuk mereka yang akan menjalani operasi macam begini. Untuk memudahkan. Tapi tetap saja pertanyaanku kepada perawat itu terdengar bodoh, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suster, jilbabnya boleh dipakai kan?” Perawat itu tersenyum kecil. “Boleh aja sih, tapi bajunya juga terbuka kok.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas aku memutuskan untuk tetap mengenakan jilbab sampai waktu operasi tiba. Aneh memang, tapi toh aku berada di balik selimut di tempat tidur. Tidak ada yang akan melihat keanehan pemandangan itu. Yang sangat aku hargai adalah, para perawat itu tak ada satu pun yang memaksaku atau berkomentar apapun mengenai jilbab yang tetap kukenakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berbaring, peralatan yang akan digunakan terpampang di hadapan. Di atas sebuah meja dorong dari besi yang ditutupi kain lebar berwarna hijau. Aku dapat melihatnya. Sendok-sendok sepanjang sekitar 30 cm dari besi, ada dua buah, lalu entah berapa lagi yang bentuknya bermacam-macam. Kepalaku mendadak pening. Alat-alat itulah yang nantinya akan mengorek-ngorek rahimku. Melukai janin kecilku, mengambilnya keluar. Aku nyaris menangis lagi. Teringat nama-nama yang sudah kusiapkan untuk anakku kelak. Kulirik suamiku, ia terdiam dengan wajah serius. Seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga beberapa saat ke depan, suamiku tetap setia menunggu di dalam bersamaku, setelah sebelumnya ia mengisi perut di kantin bawah. Aku sendiri berpuasa sejak semalam, sebab hari ini harus menjalani pembiusan. Total sepertinya. Baguslah. Setidaknya dokter Anti dan perawat tidak menyaksikanku menjerit-jerit nantinya. Waktu operasi diundur sejam. Kegelisahanku hampir memuncak menjelang setengah jam sebelum operasi dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha melakukan relaksasi sebisaku. Aku sudah merelakannya, Ya Allah … aku sudah ikhlas. Berulang-ulang kalimat itu kuucapkan. Aku tak lagi membayangkan reaksi apa yang akan terjadi setelah operasi selesai, yang penting aku bisa tenang menghadapi berbagai jarum suntik yang akan menusuk tangan kiriku. Suamiku, ia berdiri sambil tersenyum-senyum, berusaha untuk tidak tampak lebih panik daripada aku. Aku sendiri tak menghiraukan apapun reaksinya. Aku tahu ia selalu ada. Itu saja sudah membuatku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat perawat pendamping dokter datang. “Sebentar lagi dokter Anti datang. Sekarang siap-siap ya, Bu.” Ia pun memintaku secara tidak langsung untuk membuka jilbabku, “Jilbabnya musti tetap dipakai, ya? Soalnya mau pasang selang oksigen, Bu.” Aku baru tersadar. Waktunya sudah tiba. Suamiku pun beranjak keluar, setelah aku mencium tangannya, dan ia berkata, “Yang tenang ya, Dek.” Aku pun menjawab lirih, “Doain ya, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah selang oksigen dipakai, lengan kananku dipasangi alat pendeteksi tensi darah dan denyut jantung, serta tangan kiri siap dengan jarum tempat akan disuntikkan obat bius. Dokter anastesi yang bertugas membius datang. Laki-laki. Muncul rasa risih. Apalagi jilbab telah terbuka, dan penutup kaki mulai digeser. Namun ia tampak tenang saja, dan menyuntikkan cairan bening untuk mengetes apakah aliran darah lancar. Setelah aku menyatakan tidak sakit dan cairan dapat masuk dengan lancar, ia pun mulai membius. Yang sempat kusaksikan hanya cairan itu tampak lebih kental dan berwarna putih, dokter Anti beserta perawat bersiap-siap di depan tempat tidurku, kedua kaki telah disangga, dan aku masih merasa tak enak dengan keberadaan si dokter anastesi. Kalimat yang sempat kulontarkan hanyalah, “Dok, nanti antibiotiknya jangan selain amoxicilin ya, karena saya alergi.” Dalam hati mengucap bismilllah dan beberapa doa, lalu semua gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diana … Diana …” sayup-sayup sebuah suara membangunkanku dari tidur tak bermimpi. Sepertinya baru beberapa detik saja aku tertidur. Mataku membuka perlahan. Yang pertama kali kulihat adalah dua sosok yang pelan-pelan menjadi jelas, dokter Anti dan suamiku. Ketika melihatku sudah membuka mata, dokter Anti tersenyum dan berkata, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, udah sadar, tuh.” Lalu ia beranjak keluar. Suamiku duduk atau berdiri di samping kiriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya udah selesai ya, Mas?” tanyaku takut-takut. Ia mengangguk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, operasinya udah selesai.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar air mataku langsung keluar deras sekali, sampai sedikit sesengukan. Persis seperti anak kecil. Biar saja. Aku tak bisa merasakan apapun. Kesadaranku belum pulih benar, tetapi satu hal yang benar-benar aku sadari: aku telah kehilangan! Suamiku tak berkata apapun kecuali mengelus-elus tangan kiriku yang masih terbalut perban dan jarum. Pastinya ia tahu, kata-kata apapun tak mampu meredakanku. Aku melirik perutku. Tak ada bedanya. Janinku sudah tidak ada lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dedek-nya udah nggak ada …” rintihku antara sadar dan tidak. Seorang perawat yang mundar-mandir membereskan peralatan yang tertinggal tampaknya menanyakan sesuatu kepada suamiku. Lelaki tercinta itu mengulangi apa yang aku katakan barusan. Menyadari akan banyak orang yang masuk ke ruangan, aku cepat-cepat meminta tissue dan menyeka air mata yang masih terus keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, kok nangis sih, Sayang?” suara ceria dokter Anti ternyata masih bisa membuatku tersenyum sedikit. Memang wanita itu baik sekali, selalu ceria dan bersikap santai. Ya, mau apalagi selain menangis? Toh aku tak mungkin memasukkan kembali janin yang telah mati itu ke dalam rahimku lantas menghidupkannya. Biar saja aku menumpahkan semuanya hari ini. Begitu pikirku. Sesaat terlintas pikiran-pikiran dalam benak, bagaimana kejinya para ibu yang membuang atau menyiksa anak mereka, betapa bodohnya perempuan nakal yang berlaku seks bebas lantas dengan mudahnya mengaborsi janin mereka. Rasanya ingin kutampar mereka semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang rawat inap, suasana sedikit berbeda. Sudah ada pasien lain di kiri dan kanan. Ruangan itu tak begitu besar, tapi cukup nyaman, dihuni tiga orang pasien termasuk aku. Aku menempati tempat tidur di tengah. Keuntungannya adalah mendapat televisi tepat di tengah, satu-satunya benda hiburan di ruangan itu. Tak ada pengaruhnya. Sampai di sana, setelah semua perawat keluar dan berpesan ini itu, yang tak lagi kuingat, aku dan suamiku terdiam cukup lama. Dan aku masih saja berusaha keras menghilangkan sisa tangis. Suamiku menyampaikan pesan bahwa tadi mbak Rahma menelpon, Eci juga, ada beberapa sms yang masuk, dan aku segera mengingatkannya untuk memberitahu papa serta Jannah, sahabat dekatku, bahwa aku sudah di kamar rawat inap. Sambil menahan isak yang masih bersisa aku berpesan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, nanti kalau ada yang dateng terus nangis-nangis jangan bolehin masuk, ya.” Maksudku supaya aku tidak tergoda untuk menangis lagi. Tapi suamiku bertanya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang nangis? Memangnya siapa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya mama gitu.” Jawabku sambil memalingkan muka. Beberapa detik kemudian, benar saja, mama, papa, dan adikku datang. Tak ada satu pun dari mereka yang datang sambil menangis. Yang ada malah aku sendiri terisak hebat dan tak mampu berkata apapun selain sibuk menghapus air mata. Sepertinya mereka ikut terisak juga. Sudahlah. Sekali ini lagi saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Januari 2006, sepuluh hari lagi setahun pernikahan kami. Memang kami tidak merasakan bertahun-tahun lamanya tidak memiliki anak. Tetapi tetap saja kejadian ini adalah tekanan hebat bagiku. Rupanya Allah memang selalu mengujiku untuk setiap apa yang akan kudapat. Tak ada sesuatu yang dengan mudah kudapat begitu saja. Pasti sebelumnya akan menghadapi cobaan terlebih dulu. Tidak apa-apa. Sepertinya ujian-ujian ini akan menguatkanku dan juga suamiku. Ia menginap di rumah sakit, hampir saja tidur sambil duduk di kursi. Membantu dan membereskan semua perlengkapanku. Sampai kami tiba di Bekasi. Harus banyak istirahat katanya. Padahal dua hari pertama setelah operasi aku tak merasakan sakit yang dikhawatirkan. Tetapi rupanya itu harus juga aku lewati. Hari ketiga, perut ini terasa begitu sakit sampai aku tak bisa bangun dari tempat tidur, walaupun untuk duduk. Mulanya pukul 4 pagi, dan hingga malamnya suamiku tak beranjak dari kamar untuk mendampingi. Sakit, perih, nyeri, ngilu sampai ke tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah kehilangan, sesuatu yang mungkin belum waktunya didapat. Atau bukan yang terbaik untuk didapatkan saat ini. Sebab yang muncul dalam setiap doaku adalah: Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik dari kehamilan ini, dan janin yang sehat serta tak tersentuh penyakit atau virus apapun yang membahayakannya. Ridhoilah aku dalam menjalani hari-hari kehamilanku ini, dan jadikanlah ia nantinya anak yang sehat dan soleh atau solehah. Yang akan membahagiakanku, mas Hendy, serta keluarga kami, dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa itu tak bersalah apapun, dan akan kuulangi lagi saat kehamilanku berikutnya nanti. Yang berlalu sudah terkubur di halaman rumah orang tuaku. Seorang teman kerja suamiku yang kebetulan datang menjenguk di rumah sakit mengatakan sesuatu yang menguatkanku agar tetap bersyukur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian semua masih sangat beruntung, nggak seperti aku dan istri yang sudah lima tahun tapi belum punya anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Bagaimana dengan wanita yang harus di-kuret berkali-kali akibat gagalnya pertumbuhan janin atau rahim yang lemah? Bagaimana dengan wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa anak yang dilahirkannya meninggal setelah beberapa saat karena adanya kelainan atau virus sejak dalam kandungan? Bagaimana dengan … ah! Masih terlalu banyak wanita lain yang merasakan kepedihan lebih dari yang kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah ikhlas. Bye bye, Baby….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, 15-16 Januari 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113765111350746295?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113765111350746295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113765111350746295' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113765111350746295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113765111350746295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2006/01/kuretage.html' title='Kuretage'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113566233990423142</id><published>2005-12-27T12:05:00.000+07:00</published><updated>2005-12-27T12:45:39.973+07:00</updated><title type='text'>Seorang Calon Bunda ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Ada apa dengan dunia?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Sepertinya akhir-akhir ada 'sepi' yang merayapi, perlahan. Walau nggak terlalu mengganggu sebenernya. Saya punya cukup banyak 'jendela' yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir 'sepi' yang bisa menggerogoti hati.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Lebih sering nonton berita (dan akhir-akhir ini tak banyak berita gembira yang tersiar), mulai membaca satu per satu tumpukan buku yang selama ini tidak tersentuh, menghubungi teman-teman melalui telepon, sms, maupun mengunjungi warnet seminggu sekali. Kegiatan rutin, tapi harus dilakukan, bila saya tidak ingin 'mengubur' diri dalam 'sepi'. Sambil perlahan-lahan, merencanakan kembali apa-apa yang ingin dilakukan ke depan. Satu yang sudah pasti: Saya harus tetap menulis!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Setiap perubahan yang terjadi dalam hidup ini pastilah memerlukan ekstra tenaga dan pikiran untuk menjadikannya menyenangkan dan tidak memberatkan. Ada satu perubahan membahagiakan yang hadir dalam hidup saya sekarang: Saya akan menjadi seorang bunda! Banyak doa dan harap yang sekarang lebih sering hadir dalam sujud dan hari-hari saya. Cemas, gelisah, bahkan tangis yang diam-diam menjadi 'penggoda', adalah kewajaran bagi hormon-hormon yang 'mengubah' tubuh seorang calon bunda. Menjadi lemah dan nelangsa sendiri? Tentu tidak! Saya sekuat tenaga mencoba untuk selalu berpikir positif. Hamil kan nggak harus mual, muntah atau bahkan pingsan segala. Dan, &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt;, Allah memudahkan saya dalam hal ini. Walau cobaan-cobaan itu pasti ada. Seperti hari ini, si calon bunda ini mendapat 'serangan kaget' ketika membaca hasil USG. Lantas? Tersenyum saja, banyak-banyak berdoa, berusaha menjaga dan membesarkan calon janin dengan gizi yang baik, dan cukup istirahat. Pikiran yang sehat akan membantu calon bunda dan si janin untuk tetap sehat secara fisik dan emosi.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Benarkah 'sepi' itu menghalangi? Tentu tidak. Kalau saja kemalasan tidak menghalangi mata dan hati untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sekitar, kenyamanan itu pasti akan menggantikannya. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jangan buang waktu, bergiatlah! Niat yang baik dan ikhlas menjadi awal dari setiap tindak laku yang menjadikan perubahan kehidupan suatu keindahan, bukannya hal yang menakutkan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;*menyemangati diri sendiri*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;"Salam cinta untuk semua"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113566233990423142?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113566233990423142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113566233990423142' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113566233990423142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113566233990423142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/12/seorang-calon-bunda.html' title='Seorang Calon Bunda ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113392402760686856</id><published>2005-12-07T09:41:00.000+07:00</published><updated>2005-12-07T09:53:47.796+07:00</updated><title type='text'>Masihkah Rindumu?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Aku bertanya tentang waktu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;saat kita pertama kali bertemu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;dan kisah cinta kita tertuang dalam lagu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;yang sering kita nyanyikan begitu merdu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Ingatkah engkau tentang saat itu?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Suatu ketika, di koridor itu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;mataku menatap penuh harap pada sosok-sosokmu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;yang bahkan lebih dariku&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;menyalakan suara bagai semangat yang menyatu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Koridor itu, mungkin adalah tempat pertama kali kita bertemu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Aku ingat, di lapangan terik itu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;seketika bayang-bayang tak lagi semu. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Jabat tanganmu menghangatkanku,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;ketika kusadari langkah-langkah ini akan berpadu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;denganmu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Di bangku panjang, di taman itu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;entah berapa waktu bersaksi bisu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;ketika kau menangis karena susahmu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;ketika aku mengadukan lelahku,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;ketika kau dan aku menapaki letih, duka, dan gembira itu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;ketika semua penat itu jadi rindu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;mungkinkah kini kau ragu?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Bimbangku kini tentangmu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Suatu ketika di koridor itu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;kau dan aku,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;kita menggandeng lengan-lengan baru,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;dengan bara yang satu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;semangat itu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka telah menjadi nafasku yang memburu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;mereka tak pernah enyah, walau aku sempat ragu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;mereka menguatkan separuh jiwaku,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;saat jatuhku begitu menderu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka adalah lagu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;yang selalu berdegup menghidupkanku.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Dulu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;saat pertama kali kita bertemu,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;dan berulang sepanjang waktu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Masihkah itu menjadi rindumu?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;Atau kini kau beranjak pergi,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;strong&gt;meninggalkanku?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dedicated to 9868sisterhood&amp;amp;brotherhood&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sebuah kerinduan panjang untuk kalian"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113392402760686856?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113392402760686856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113392402760686856' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113392402760686856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113392402760686856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/12/masihkah-rindumu.html' title='Masihkah Rindumu?'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113220838200629279</id><published>2005-11-17T13:16:00.000+07:00</published><updated>2005-11-17T13:19:42.366+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kehangatan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#6633ff;"&gt;Menjadi seorang anak tunggal selalu tidak mudah. Saya sendiri nyaris mengalaminya. Sewaktu kecil dulu, saya hampir tidak memiliki saudara kandung sampai saya berumur delapan tahun. Tiba-tiba saja ibu saya melahirkan seorang adik perempuan untuk saya. Mungkin karena sebelumnya saya sudah merengek-rengek dan memainkan segala macam peran khayalan menjadi seorang kakak selama beberapa lama. Mungkin juga karena memang orang tua saya belum merencanakannya, dan Allah mengaruniakan seorang adik untuk saya ketika saya sudah berusia delapan tahun.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Saya memiliki seorang saudara sepupu laki-laki. Saat ini ia berusia sekitar sepuluh tahun. Ia seorang anak tunggal, dan memiliki orang tua yang keduanya bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana ia kesepian. Setiap hari sepulang sekolah, mungkin hanya pembantu di rumah, dan mainan serta play station favoritnya yang menjadi teman. Saya tidak begitu memerhatikan, seberapa besar pengaruh ‘rasa kesepian’ itu padanya, hingga pada suatu waktu ia menjadi murid privat seorang teman saya.&lt;br /&gt;            Sepupu saya itu cukup pintar, bahkan menurut saya cukup cerdas untuk anak seusianya. Dan ia memiliki tipe kinestetik dalam menyerap pelajaran, dalam arti tak bisa duduk diam dan menunggu guru selesai menerangkan. Istilah lain yang biasa orang gunakan, padahal mungkin dalam pemahaman yang salah, adalah hiperaktif. Bahkan tante saya sempat membawanya ke seorang psikolog. Pasalnya, seorang guru privatnya tak sanggup untuk menghadapi sepupu saya itu. Entah berapa kali telah ‘dikerjainya’, dan mungkin si guru privat sudah tidak sanggup lagi. Kemudian, saya menawarkan seorang teman kampus saya untuk menjadi guru privat pengganti. Seorang guru yang jauh lebih muda dari yang sebelumnya. Dalam hati, saya sempat khawatir, akankah teman saya itu menjadi ‘sasaran empuk’ berikutnya? Rupanya, tante saya ‘betah’ mempekerjakannya, dan demikian juga sepupu saya. Menurut tante saya, ia seperti mendapatkan seorang ‘kakak laki-laki’ sekaligus teman bermain disamping menjadi guru privatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Selama ini, saya sendiri seringkali menganggap bahwa seorang anak tunggal adalah anak yang egois, manja, dan sulit untuk bergaul dengan orang lain. Sebuah kesimpulan yang memang saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya. Tapi rupanya hal itu tidak bisa diberlakukan bagi semua orang. Bagi sepupu saya, menjadi anak tunggal berarti ia harus mengusir kesepian dengan caranya sendiri. Yang belakangan saya ketahui adalah bahwa ada sebuah kehangatan yang ia ajarkan pada orang lain.&lt;br /&gt;            Ibu saya selalu mengajarkan pada saya dan adik saya untuk selalu memuliakan tamu. Mulai dari membiasakan kami untuk membuatkan dan menyajikan sendiri minuman atau suguhan lain bila ada tamu yang datang, atau membantunya untuk bersiap-siap menghias rumah dan menyajikan kue-kue menjelang hari raya Idul Fitri, walaupun sebenarnya tamu yang akan datang berkunjung ketika hari raya tidaklah banyak. Tetapi kami benar-benar mengubah suasana rumah menjadi nyaman dan cantik sekali, lain dari hari-hari biasanya. Ada atau tidak ada tamu yang datang, kami selalu dalam kondisi siap untuk menerima dan menjamu. Hal ini merupakan pengajaran yang sangat baik. Keramahan dan keterbukaan seperti ini bisa jadi tak dimiliki oleh keluarga yang lain. Atau mungkin anak-anak yang lain tidak turut andil dalam ‘menjamu’ tamu kecuali bila teman-teman kecil mereka datang. Keterlibatan seorang anak dalam menerima dan menjamu tamu adalah satu hal yang susah-susah gampang untuk dibiasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sepupu saya yang berusia sepuluh tahun itu beberapa kali memberikan kejutan pada saya. Setelah mereka pindah menempati tempat tinggal baru, yang jauhnya paling hanya beberapa blok saja dari tempat tinggal yang lama, saya berkesempatan untuk menginap di sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah berkunjung dan sesekali menginap di rumahnya, namun cukup jarang sebab rumahnya memang jauh dari tempat tinggal saya. Dari saat itulah saya memerhatikan satu hal yang menarik dari diri lelaki kecil itu.&lt;br /&gt;            Ketika itu saya membuat janji untuk bertemu tante dan sepupu saya itu di sebuah pertokoan di dekat kantor tempat tante saya bekerja. Rupanya sepupu saya memerlukan beberapa bahan untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Untuk menghemat ongkos dan efektivitas waktu, saya pun bertemu mereka di pertokoan itu untuk kemudian pulang bersama ke rumah mereka. Saat itu sekitar pukul enam sore, sepulang dari kantor saya segera menuju ke sana. Saya menemui mereka di toko buku yang terdapat di dalam pertokoan itu. Sepupu saya berteriak memanggil saya yang sedang celingukan mencari-cari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Kak Vita nginep berapa hari?” ia bertanya, dan saya sedikit tergagap mau menjawabnya. Saya melirik tante saya yang berada di dekat kami sambil tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;            “Iya, katanya kak Vita nggak boleh cuma satu hari nginepnya.” Sambung tante saya.&lt;br /&gt;            “Emangnya musti berapa hari nginepnya?” saya balik bertanya. Ia tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;            “Tiga hari!” katanya bersemangat. Saya tersenyum kecil, dalam hati sedikit terharu. Sepertinya ia begitu senang bila ada orang yang menginap di rumahnya, pikir saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di lain kesempatan, saya kembali diajak untuk menginap di rumahnya. Kali itu saya menginap bersama adik perempuan saya dan seorang tante saya yang lain. Seperti biasa, ketika saya datang bersama adik saya, sepupu saya itu menyambut kami dengan gembira. Ia bahkan betah untuk menunggui kami hingga waktu tidur, mengobrol berlama-lama, atau menemani kami sambil ia sendiri bermain.&lt;br /&gt;            Pagi harinya, saya melihat adik saya duduk di depan televisi sambil meminum susu kotak. Saya sempat kaget dan menegurnya. Saya tahu pasti itu milik Imam, sepupu kecil saya itu. Biasanya seorang anak kecil akan ngambek atau mengamuk bila tahu kepunyaannya diambil orang lain tanpa sepengetahuannya. Saat itu saya menunggu Imam keluar dari kamarnya, dan mungkin akan marah besar melihat adik saya seenaknya mengambil susu kotak kesukaannya dari kulkas.&lt;br /&gt;            Lalu Imam pun bangun dan menghampiri kami,&lt;br /&gt;            “Kak Dede, itu susu siapa?” tanyanya pada adik saya. Saya dan adik saya saling lirik sambil tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;            “Susunya Imam. Kak Dede ambil dari kulkas.” Jawab adik saya jujur. Saya menanti reaksi apa yang akan Imam lakukan.&lt;br /&gt;            “Oh, iya. Ada banyak kan di kulkas. Kalau mau lagi ambil aja. Imam mau juga ah…” katanya singkat. Dan ia pun beranjak ke kulkas untuk mengambil sekotak susu yang sama. Saya sedikit terbengong. Dan kemudian menghela napas lega. Reaksinya tak seperti apa yang saya bayangkan.&lt;br /&gt;            Sejak hari itu, saya dan adik saya sering membicarakan bagaimana Imam memperlakukan kami selama di rumahnya, dan mungkin juga orang-orang lain yang datang dan atau menginap di sana. Ia tak pernah bosan menyambut kami datang, dan menanyakan apa-apa yang kami perlukan, sampai dengan bersemangatnya menceritakan rencananya untuk mengajak kami berjalan-jalan ke tempat ini dan itu. Sungguh sebuah sikap yang cukup jarang dimiliki oleh seorang anak kecil. Ia sangat mengerti cara membuat tamu merasa nyaman di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya memiliki seorang sepupu kecil lagi, namanya Andra. Ia berusia tak jauh berbeda dari Imam. Andra seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya berusia sepuluh tahun lebih tua daripadanya, dan keduanya telah sibuk dengan dunia remaja masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Imam, pastinya Andra merasakan kesepian yang sama.&lt;br /&gt;            Saya berkesempatan untuk mengunjungi Andra dan keluarganya ketika saya dan suami bermaksud untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung. Kami pun dengan senang hati menginap di rumah Andra.&lt;br /&gt;            Kami sampai di Bandung sekitar pukul dua pagi, dan beristirahat di rumah Andra tanpa membangunkan siapapun kecuali tante saya yang memang belum tidur. Keesokan paginya, ketika yang lain sudah menghabiskan sarapan, saya dan suami masih tertidur setelah menunaikan salat subuh. Andra mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Kak Vita, kak Hendy, tehnya udah siap tuh. Ayo bangun, sarapan.” Panggilnya. Kami pun beranjak ke ruang makan, dan memang di atas meja sudah terhidang dua cangkir teh dan makanan. Andra menemani kami sarapan sambil sesekali bertanya, “Enak nggak tehnya?” atau “Enak kan makanannya?” Dan begitulah seterusnya. Setiap kali waktu makan tiba, Andra selalu memanggil kami berdua, dan mengajak serta menemani kami makan bersama. Di saat sepupu saya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing, si kecil ini sibuk memerhatikan kenyamanan kami berdua di rumahnya. Dibandingkan dengan Imam, Andra sangat beruntung memiliki dua orang kakak laki-laki dan perempuan serta seorang ibu yang tidak bekerja office hours seperti ibunya Imam. Tetapi rupanya ia mengalami kesepian yang sama, dan memberikan kehangatan yang sama dengan apa yang Imam lakukan terhadap para tamu yang berkunjung ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sederhana memang. Saya rasa semua anak pun bisa melakukannya. Tetapi di balik kelebihan itu, pastinya ditumbuhkan oleh pola didik tertentu yang sangat baik yang diterapkan oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kita memperlakukan tamu dan memberikan yang terbaik untuk kenyamanan mereka, itu pula yang akan ditiru oleh anak-anak kita kelak. Sebuah kehangatan. Rasanya tidak salah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ambillah hikmah dan pelajaran dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113220838200629279?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113220838200629279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113220838200629279' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113220838200629279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113220838200629279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/11/sebuah-kehangatan.html' title='Sebuah Kehangatan'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-113220758871493753</id><published>2005-11-17T12:55:00.000+07:00</published><updated>2005-11-17T13:06:28.733+07:00</updated><title type='text'>From Bintaro with Love ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Assalamu'alaikum wr wb&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Fiuh! Lega rasanya, akhirnya 'menyentuh' dunia maya kembali. Hehehe ... rupanya saya sudah addicted to internet. Kalo nggak cek email barang seminggu aja, pasti jadi bete. Soalnya email-email yang datang pasti akan menumpuk, dan malas sekali rasanya untuk menghapus-hapusnya (ups...berarti banyak email yang nggak kebaca dong? emang. hihi...)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Finally ... tinggal di Bintaro, di Graha Bintaro tepatnya. Akhirnya, rumah sendiri, dengan menyicil untuk bertahun-tahun ke depan. Kecil, sederhana, tapi membawa kesejukan baru. Pertama kali menginap di sana, rasanya berbunga-bunga, deh! Pencarian selama ini bersama my dear husband terbayar sudah. Rumah idaman kah? Yang jelas kami berdua (semoga cepet-cepet jadi bertiga) akan berusaha keras merajut keindahan-keindahan di sana. Ceilee....jadi romantis gini??? hihihi...&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Seminggu di rumah baru, masih berkeringat dan bercapek-capek beresin rumah, benerin ini, tambahin itu, pelan-pelan semuanya akan selesai, insyaallah. Alhamdulillah ... bersyukur yang teramat sangat. Belum setahun nikah, tapi sudah diberi rizki menempati rumah sendiri. Mudah-mudahan membawa keberkahan bagi kami yang berada di dalamnya. Menimbulkan berjuta-juta inspirasi sehingga tetap terus bisa berkarya...amiiin! Ayo dong, Vit! Katanya mau jadi penulis! hehehe....&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Mohon doa dari semua, semoga kami bisa 'menciptakan' surga di dalamnya ...&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Wassalamu'alaikum wr wb&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;ps. Vita kembali beredar! hehehe&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-113220758871493753?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/113220758871493753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=113220758871493753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113220758871493753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/113220758871493753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/11/from-bintaro-with-love.html' title='From Bintaro with Love ...'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-112961888030239852</id><published>2005-10-18T13:59:00.000+07:00</published><updated>2005-10-18T14:01:20.310+07:00</updated><title type='text'>Panggilan Sayang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#cc33cc;"&gt;Memiliki pasangan hidup yang berbeda sifat dan karakter mungkin akan menjadi satu hal yang menyenangkan. Sebab satu sama lain akan saling melengkapi. Apa yang tidak ada pada diri kita, mungkin akan didapatkan dari pasangan, dan sebaliknya. Bila ditanggapi secara positif, perbedaan yang ada akan menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan untuk ditaklukkan.&lt;br /&gt;            Saya sendiri memiliki prinsip demikian. Sejak dulu, saya telah memiliki keinginan untuk menikah dengan seseorang yang bukan dari lingkungan pertemanan yang saya miliki. Saya ingin mendampingi seseorang yang belum mengenal saya, dan saya pun belum mengenalnya, dibandingkan menikah dengan seseorang yang sudah menjadi teman sekolah atau pernah bekerja sama dengan saya dalam suatu aktivitas atau pekerjaan. Bagi saya, memiliki suami yang belum saya kenal kepribadiannya, adalah merupakan tantangan yang pasti sangat menyenangkan. Saya membayangkan, hari demi hari saya menjalani pernikahan itu, akan menjadi sebuah petualangan yang seru yang tak habis-habisnya. Saya pastinya akan menikmati setiap detik dimana saya secara perlahan akan mengenal dan memahami diri suami tercinta. Tapi tentu saja, hal ini tidak bisa diberlakukan kepada setiap orang. Bisa saja hal ini berhasil untuk diri saya, tapi tidak demikian dengan orang lain. Tentu saja. Saya hanya ingin berbagi sebuah pengalaman lucu dan mengharukan dari apa yang saya alami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada bulan November tahun 2004, tepat pada saat saya menjalani I’tikaf Ramadhan, saya membuat keputusan besar. Saya memutuskan untuk menerima lamaran dari seorang pria. Saat itu, tentu saja menjadi momen yang begitu menggembirakan sekaligus membuat jantung saya tak henti berdetak kencang. Saya akan menikah. Dan begitu tahu bahwa calon suami saya itu adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang cukup berbeda dengan diri saya, saya menjadi lebih bersemangat lagi.&lt;br /&gt;            Suami saya adalah seseorang yang bisa dikatakan cukup pendiam, tak banyak berkata-kata, dan sangat tenang. Sedangkan saya sendiri adalah kebalikannya. Saya hampir selalu memiliki komentar terhadap apapun, suka sekali mengobrol, dan gemar sekali melontarkan istilah atau ungkapan tertentu yang ‘tidak biasa’. Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan kegemaran saya menulis. Teman-teman saya bilang, saya selalu punya seribu istilah yang aneh dan menarik, yang akhirnya bisa menjadi istilah-istilah yang sering kami gunakan dalam percakapan.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Bulan Januari 2005, saya menikah. Di benak saya sudah terbayang berbagai hal yang ingin saya lakukan bersama. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk lebih mengenal pria yang telah menjadi suami saya itu, dan juga berbagai cara untuk membuatnya ‘tidak pendiam’. Ha. Ini satu hal yang pastinya akan menarik, begitu pikir saya. Saya memiliki beberapa orang adik-adik kelas yang menjadi murid-murid saya dalam sebuah kelompok mentoring agama. Di antara mereka tadinya ada yang memiliki sifat begitu pendiam. Tetapi, tak lama setelah mereka menjadi ‘adik-mentoring’ saya, si pendiam itu berubah. Saya telah berhasil membuatnya sedikit lebih terbuka. Saya pikir, saya pun bisa melakukannya lagi.&lt;br /&gt;            Untuk membuat seseorang terbuka pada diri kita, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengorek informasi apapun darinya, atau memaksanya untuk membuka mulut untuk mengobrol sepanjang hari. Memulainya dari diri sendiri, itu jauh lebih efektif. Seseorang akan merasa nyaman dan percaya untuk membuka dirinya pada kita, apabila kita sendiri mau membuka diri padanya. Begitu teori yang saya dapatkan ketika saya kuliah dulu. Dan saya pun memulainya.&lt;br /&gt;            Suatu kali, saya menulis surat untuk suami saya. Di dalamnya saya selipkan sebuah puisi, sebab surat itu akan saya berikan di pagi hari, saat ia akan berangkat ke kantor. Hari itu adalah hari lahir suami saya tercinta. Maka, begitulah. Pagi itu ketika ia hendak berangkat, saya mencium tangannya dan menyelipkan lipatan surat itu ke dalam saku kemejanya. Ia terbengong. Saya hanya nyengir dan berpesan supaya surat itu dibaca ketika ia tiba di kantor. Sebuah kejutan kecil. Tapi itu begitu menyenangkan hati saya sendiri. Dan surat-surat kecil selanjutnya pun cukup sering saya selipkan untuknya. Sebuah surat, adalah salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif menurut saya.&lt;br /&gt;            Di suatu pagi, saat saya baru sampai di kantor, saya tiba-tiba teringat suami dan ingin memberikan kejutan kecil lain untuknya. Kemudian saya membuatkannya puisi singkat, dan saya kirim lewat sms. Selanjutnya, saya mulai sering mengirimkan email dari kantor, berisi puisi atau hanya sekedar menanyakan kabar dan menceritakan aktivitas saya hari itu. Kami pun jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu berkirim email dan sms. Sebenarnya lucu juga, sebab toh setiap malam kami bertemu kembali di rumah. Tapi saya merasa perlu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;            Saya merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan kecil yang saya lakukan itu. Suami istri yang keduanya bekerja, tentu memiliki pikiran dan kesibukan masing-masing yang bisa jadi akan menjauhkan keduanya. Belum lagi keletihan sepulang kerja, entah bila ditambah dengan permasalahan yang dihadapi di kantor, dan sebagainya. Saya tidak mau itu terjadi, dan saya ingin menjadikan kemesraan dan keharmonisan di antara kami berdua tetap terjaga. Dan, saya pun memulainya lagi. Bila biasanya saya memanggil suami saya dengan sebutan ‘Mas’, maka saya merasa perlu melakukan lebih dari itu. Saya mengatakan padanya,&lt;br /&gt;            “Mas, kayaknya seru deh kalau kita punya panggilan lain.”&lt;br /&gt;Dan saya mulai mengirimkan sms padanya dengan menyebutnya ‘Hunn’. “Apa kabar hari ini, Hunn?” begitu biasanya saya menyapanya di sms. Sekali, dua kali, saya selalu yang memiliki panggilan itu untuknya. Saya tak memikirkan kapan ia akan memanggil saya dengan panggilan khusus, sebab saya sudah cukup excited dengan apa yang saya lakukan itu. Dan saya tak berhenti mengirimkannya puisi atau email di sela-sela kesibukan di kantor.&lt;br /&gt;            Suatu hari, saya menerima sms darinya dan saya sedikit terkejut. Sebelumnya saya yang lebih dulu mengirimkan sms untuk menanyakan sesuatu. Dan ia pun membalas dengan isi yang sangat singkat tapi cukup membuat kedua alis saya terangkat.&lt;br /&gt;            “Iya, Sayang…” begitu balasnya.&lt;br /&gt;Saya tersenyum lebar. Dan tambah bersemangat lagi ketika ia mengirimkan sms lain yang isinya,&lt;br /&gt;            “Rasanya memang seru juga ya punya panggilan khusus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kini, ia selalu memanggil saya dengan panggilan khusus itu, entah ketika ber-sms atau ketika sedang berbicara. Dan saya makin bersemangat untuk mencari-cari panggilan khusus apalagi yang bisa saya temukan. Sedikit seperti sedang bereksperimen memang. Tapi, saya akan melakukan apapun untuk membuat hari-hari saya bersamanya senantiasa bersemangat dan penuh cinta.&lt;br /&gt;            Memulai lebih dulu untuk melakukan sesuatu tidak selalu jelek dan membosankan. Sebab kita akan merasakan manfaatnya di kemudian hari, entah cepat atau lambat. Dan saya menjadi sangat bersyukur atas apa yang sudah saya nikmati sekarang. Memiliki perbedaan memang kadang bisa terasa berat. Tetapi ketika diri kita bisa bersabar, dan menggunakan kecerdasan serta kreativitas dalam diri untuk menghadapinya, semua akan terasa lebih menyenangkan dan menentramkan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-112961888030239852?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/112961888030239852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=112961888030239852' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961888030239852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961888030239852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/10/panggilan-sayang.html' title='Panggilan Sayang'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-112961865963179331</id><published>2005-10-18T13:53:00.000+07:00</published><updated>2005-10-18T13:57:39.636+07:00</updated><title type='text'>Mewarnai Kertas Putih</title><content type='html'>&lt;span style="color:#996633;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#996633;"&gt;&lt;strong&gt;Memiliki anak yang bisa dibanggakan, berakhlak dan berprestasi baik, menyelamatkan di dunia maupun akhirat, adalah pastinya dambaan semua orang tua. Tetapi proses menuju ke arah sana tidaklah mudah, dan membutuhkan dukungan peran kedua orang tua. Melahirkan seorang anak ke dunia adalah bagaikan memiliki selembar kertas putih. Bersih. Entah dengan gambar dan warna apa kertas itu nantinya terisi, tinta pertama yang menyentuhnya adalah orang tua. Demikian kiranya sebuah ilustrasi sederhana mengenai betapa pentingnya mendidik anak sejak dini.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Setiap kali saya menulis artikel mengenai anak, keluarga, dan tema lainnya, adalah selalu berdasarkan apa yang saya alami maupun amati dari lingkungan terdekat saya. Walau tak semuanya merupakan kejadian yang menyenangkan dan menggembirakan hati, tapi selalu saya simpan dan renungkan baik-baik. Sebab semua itu adalah pelajaran tak ternilai yang dikaruniakan oleh Allah untuk ‘mampir’ dalam kehidupan saya.&lt;br /&gt;            Suatu malam, saya berkumpul bersama sepupu-sepupu saya. Ada seorang yang masih berusia empat tahun, laki-laki. Hubungan saya dengannya bisa dibilang sangat dekat. Sebab sejak ia masih bayi saya hampir selalu ada bersamanya. Rumah kami pun berdekatan. Sejak dulu saya selalu memerhatikan perkembangannya. Namun setelah saya menikah dan berpisah rumah dari orang tua, saya jarang sekali bertemu dengan sepupu saya itu. Pada malam itu, saya menemukan sebuah perkembangan lain dari dirinya.&lt;br /&gt;            Kami sedang duduk bersama menonton televisi, dan si kecil itu bersendawa cukup keras. Saya tertawa kecil dan berucap, “Alhamdulillah.” Seperti yang biasa saya lakukan sendiri. Kemudian, tanpa disangka si kecil itu menyahut,&lt;br /&gt;            “Nggak usah bilang gitu.” Katanya.&lt;br /&gt;            “Loh? Kenapa?” saya sedikit bingung menanggapi.&lt;br /&gt;            “Iya, nggak usah bilang gitu.” Katanya lagi. Saya mengerenyitkan kening. Heran. Kemudian sedikit memutar otak, mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan.&lt;br /&gt;            “Karena aku orang Islam, makanya baca alhamdulillah,” lanjut saya. Tanpa menunggu lama, si kecil itu terus menyahuti saya.&lt;br /&gt;            “Iya, walaupun orang Islam, tapi nggak perlu bilang begitu.” Ia mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh pada saya. Saya ternganga. Astaghfirullahal’azhiim ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya sempat menceritakan pada ibu mengenai kejadian tersebut. Dan ibu saya kembali mengingatkan saya pada pentingnya mendidik anak sedari kecil. Tak terlihat ada rasa heran pada raut wajah ibu. Sebenarnya, saya pun begitu. Saya mengenal orang tua si kecil itu tidak seperti ibu saya dulu. Seharusnya saya tidak usah merasa heran, dan langsung saja memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan padanya yang benar. Membetulkan kalimat yang ia ucapkan pada saya. Walaupun ia tak mendapatkan pelajaran itu di rumahnya, bukan berarti ia tak mendapatkannya ketika ia berada di rumah saya. Itu satu prinsip yang saya dan ibu saya pegang sejak dulu. Kami memang benar-benar menyayangi si kecil itu.&lt;br /&gt;            Beberapa hari setelahnya, di benak saya selalu terngiang-ngiang, bagaimana dulu ibu dengan keras dan sedikit memaksa saya untuk mengaji, melakukan salat lima waktu, berpuasa, salat tarawih di masjid. Saya ingat sekali, betapa malasnya saya dulu. Seringkali saya pura-pura tertidur ketika guru mengaji saya sudah datang ke rumah. Ketika tiba waktu salat, saya sering berlama-lama main di luar rumah sampai ibu memanggil-manggil. Waktu salat tarawih saya seringkali mengobrol dan bermain-main di dalam masjid, walau saya dengan senang hati keluar rumah setiap malam. Tetapi ternyata itu semua begitu membekas hingga sekarang. Sedikit banyak, omelan dan semangat ibu dulu mengajarkan saya patuh pada perintah agama sangat berperan dalam membentuk diri saya yang sekarang ini. Saya menyadari hal ini ketika saya sudah dewasa. Bagaimanapun, bila nilai-nilai itu tak ditanamkan sejak kecil, bila tidak segera membiasakannya dekat dengan agama, akan cukup sulit mengajarkannya ketika anak sudah beranjak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Si kecil itu, saya tak tahu apakah kesempatan yang saya miliki untuk mengajarkannya masih cukup banyak. Mungkin tidak sebanyak dulu, sebab intensitas pertemuan saya dengannya yang juga berkurang. Saya berjanji dalam hati, dimana ada kesempatan yang sama, saya tidak akan melewatkannya begitu saja. Walau sedikit, walau tak banyak, saya masih bisa berperan untuk membagi pengajaran yang baik untuknya. Dan yang pasti, saya makin mawas diri, untuk tidak lengah dan lalai dalam mengajarkan agama pada anak saya kelak. Anak saya, adalah ‘kertas putih’ yang dititipkan Allah pada kita. Kita, orang tua, adalah si pemegang ‘pensil warna’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-112961865963179331?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/112961865963179331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=112961865963179331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961865963179331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961865963179331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/10/mewarnai-kertas-putih.html' title='Mewarnai Kertas Putih'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-112961837352843193</id><published>2005-10-18T13:46:00.000+07:00</published><updated>2005-10-18T13:52:53.536+07:00</updated><title type='text'>Belajar Disiplin dari Anya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;             &lt;span style="color:#336666;"&gt;&lt;strong&gt;Suatu kali saya mengunjungi salah satu keluarga favorit saya. Mereka adalah kedua sepupu kecil saya: Rey dan Anya, dan kedua orang tua mereka. Atas tawaran dari mereka, saya pun menghabiskan satu malam menginap di kediaman yang baru mereka tempati di daerah Cilandak. Ketika saya sampai di kediaman mereka, hari sudah beranjak malam. Saya mengetuk pagar, dan tak lama Rey dan Anya berlari keluar menyambut saya dan membukakan pintu pagar.&lt;br /&gt;            Setelah sejenak melepas lelah, Anya dan Rey menarik tangan saya untuk masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.&lt;br /&gt;            “Kak Vita pakai kamar mandi di dalam kamar aja. Handuknya ada kan di situ? Keran shower-nya bisa buka sendiri kan? Ayo, Dek, jangan gangguin, kak Vita mau mandi.” Kata Rey. Saya mengangguk-angguk menanggapi. Anak usia sepuluh tahun ini seperti ibu-ibu saja, pikir saya. Tapi rupanya Anya tidak menurut. Ia malah sibuk mengacungkan sebuah botol kecil kepada saya dan mengoceh panjang lebar.&lt;br /&gt;            “Kak Vita, kemarin kan si mbak bilang ada yang kena demam berdarah. Jadi mama beliin Lavenda, aku setiap hari musti pakai Lavenda supaya nggak kena demam berdarah. Ini Lavendanya, aku taruh di sini, ya. Nanti kak Vita pakai habis mandi, ya.” Katanya.&lt;br /&gt;            Wah, mau mandi saja repot sekali, pikir saya waktu itu. Pakai lotion anti nyamuk? Malas ah. Saya hanya meletakkannya di atas meja, dan kemudian tak menyentuhnya lagi sehabis mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sejam kemudian, kami bertiga makan malam sambil menonton televisi. Di sela-sela kegiatan itu, Anya mengingatkan saya,&lt;br /&gt;            “Eh, kak Vita! Udah pakai Lavendanya belum?”&lt;br /&gt;            “Eh … belum. Nanti aja deh,  ya.” Kilah saya.&lt;br /&gt;            “Ya udah, tapi nanti jangan lupa, ya. Kan bisa kena demam berdarah.” Anya menasehati. Saya sedikit merasa geli mendengarnya. Kalimatnya barusan, dan mimik wajahnya yang bersungguh-sungguh mengingatkan saya pada ibu saya bila sedang memarahi atau mengingatkan saya untuk melakukan sesuatu. Anak sekecil itu ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Malam itu saya dan Rey menghabiskan waktu dengan menonton film Star Wars. Ketika ayah dan ibu mereka pulang, kami makin seru menonton sambil mengomentari adegan ini dan itu. Malam kian larut, saya dan Rey belum tidur, demikian pula Anya. Tetapi wajahnya yang sudah setengah mengantuk tidak bisa bertahan lama di depan televisi di ruang tamu. Ia pun masuk ke kamar, dan tidak lupa kembali berkata pada saya dengan gaya yang sangat lucu,&lt;br /&gt;            “Ya ampun, kak Vita! Lavendanya belum dipakai juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Persoalan memakai lotion anti nyamuk rupanya bukan hal yang sepele bagi sebagian orang, termasuk keluarga Rey dan Anya. Bagi saya, cukup semprotkan saja obat nyamuk, beres. Mudah-mudahan tidak tergigit. Tapi memang mencegah sangat jauh lebih baik daripada mengobati. Saya sendiri menyadari kalimat itu, tapi rupanya belum sepenuhnya memahami bahwa peringatan itu tidak boleh hanya berlaku sebagai slogan belaka. Perlu kekuatan untuk mengusir kemalasan untuk mempraktekkannya. Bila sudah terlanjur jatuh sakit, kita sendiri yang rugi. Begitulah, menanamkan kedisiplinan memang perlu kesadaran dan kemauan.&lt;br /&gt;            Omong-omong soal mengagumi, saya memang mengagumi keluarga favorit saya ini. Salah satunya adalah bagaimana si ayah dan ibu berusaha menanamkan kedisiplinan pada diri anak-anaknya. Bagi saya, menyaksikan seorang anak sekecil Anya yang begitu repot-repot menasehati saya untuk memakai lotion itu, adalah bukan sekadar menyadari bahwa ia menyayangi saya sehingga tak mau saya terkena penyakit demam berdarah. Melainkan juga menyaksikan buah kecil dari sebuah tekad kedisiplinan yang telah ditanamkan si ibu sejak dini. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9604420-112961837352843193?l=ayyasykecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/feeds/112961837352843193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9604420&amp;postID=112961837352843193' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961837352843193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9604420/posts/default/112961837352843193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ayyasykecil.blogspot.com/2005/10/belajar-disiplin-dari-anya.html' title='Belajar Disiplin dari Anya'/><author><name>DH Devita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08473563101903121131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mBQQrrisTk0/TPjIcKzEJCI/AAAAAAAAAIQ/PAaKVzr0TXE/S220/bunda.fakhry.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9604420.post-112789230958784036</id><published>2005-09-28T14:23:00.000+07:00</published><updated>2005-09-28T14:25:09.596+07:00</updated><title type='text'>Menyeimbangkan Keinginan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saya baru saja menyadari betapa saya banyak merugikan diri saya sendiri, setelah saya membaca sebuah buku. Judulnya “Don’t Sweat the Small Stuff with Your Family”, karya Richard Carlson. Sebuah buku yang, menurut saya, sederhana. Isinya sebenarnya adalah kisah-kisah keseharian si penulis, yang sangat baik dan cerdas dalam mengambil hikmah dalam setiap kejadian kecil dalam kehidupannya. Ditulis dengan bahasa ringan, mudah dimengerti, dan ‘akrab’. Mengapa saya katakan akrab? Sebab sepertinya ketika membacanya, kita akan tertegur keras, bahwa setiap kejadian tersebut pernah kita alami sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Contohnya adalah salah satu chapter dalam buku itu yang kira-kira berjudul “Let Go Off Your Expectations”. Satu chapter yang hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman itu menceritakan tentang bagaimana si penulis seringkali memiliki penghara
