Halaman

Monday, December 13, 2010

Kumpulan Esai "Sebutir Debu Saja"


Judul Buku: Sebutir Debu Saja

Jenis Buku: Kumpulan Esai
Penulis: DH Devita
Penerbit: Leutika Prio
Jumlah Halaman: 102hlm
Harga Buku: Rp 30.000,-

Dapatkan buku ini dengan memesan pada akun facebook Leutika Prio, ongkos kirim flat untuk Jabodetabek Rp 10.000,- dan untuk luar Jabodetabek Rp 15.000,-

Buku ini cukup istimewa buat saya, karena proses penulisannya mengalami jalan berlika-liku. Sebagian besar artikel di dalamnya saya tulis berdasarkan pengalaman sendiri atas berbagai hal yang cukup membekaskan berbagai perasaan. Sedih, marah, kecewa, sakit hati, namun juga sekaligus memberikan saya pelajaran-pelajaran penting setelahnya.

Dalam hati kecil kita, seringkali terbersit rasa tak enak atau malu ketika menyadari berbagai kesalahan yang selama ini mungkin pernah kita lakukan. Karena rasa tak enak itulah, manusia seringkali tak mampu mengakui kesalahannya sendiri dan kemudian berubah untuk memperbaikinya. Rasa tak enak itu sering menghalangi kejujuran hati untuk mengedepankan kebaikan daripada egoisme pribadi.

Sedikit pengalaman untuk bisa direnungi dan mengantarkan kita pada kejujuran hati dan keinginan untuk memperbaiki. Ini yang saya inginkan untuk terjadi pada diri saya ketika menuliskan macam-macam peristiwa menarik yang saya alami tersebut. Ini pula yang semoga bisa menjadi hikmah yang dibagikan kepada siapa saja yang membacanya. Sederhana saja. Semua yang tertulis dalam buku ini ibarat sebutir debu nasihat bagi kita semua. Manusia.

Thursday, December 09, 2010

Kumpulan Cerpen "Seribu Luka Ayie"



Judul: Seribu Luka Ayie
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
Penulis: DH Devita
Penerbit: Tres-F Publishing
Tebal Buku: 207 hlm
Harga: Rp 50.000 (buku bisa dibeli di http://www.nulisbuku.com)


Buku ini adalah buku kumpulan cerpen pertama saya. Beberapa cerpen di dalam buku ini pernah dimuat di majalah ALIA edisi tahun 2004-2006.

Menerbitkan kumpulan cerpen di masa sekarang ini, saat penerbitan buku kumpulan cerpen tampaknya sedang lesu, memiliki tantangan sekaligus resiko tersendiri. Tentu saja tantangan berat (antusiasme pasar) dan resiko (buku tidak laku) seperti ini sangat dihindari oleh penerbit-penerbit kenamaan di negara kita. Pun mereka yang belum menggapai kelas nasional pastinya lebih memilih untuk menerbitkan buku yang mengikuti arus permintaan pasar. Seperti misalnya novel percintaan untuk remaja atau dewasa, buku panduan ini-itu yang memang selalu digemari, atau buku cerita anak yang sekarang sepertinya sedang booming.

Tetapi seseorang yang gemar menulis, yang sedang belajar menulis dan menerbitkan karya, yang ingin karyanya dibaca sekaligus (semoga) bisa mencerahkan hati banyak orang, tentunya punya harapan besar untuk selalu bisa menerbitkan karyanya. Apalagi ketika buku berhasil 'terbit' dalam bentuk apapun, maka selain kebahagiaan yang dirasakan, penulisnya pun seperti mendapat suntikan semangat baru untuk terus melahirkan karya-karya lainnya.

Demikian pula yang saya rasakan ketika akhirnya memutuskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen ini. Memilih penerbitan independen (mencoba, tepatnya) adalah salah satu upaya saya untuk meneguhkan semangat untuk terus menulis dan melahirkan karya baru. Kebetulan saja akhirnya buku Seribu Luka Ayie ini adalah percobaan pertama saya, sekaligus ingin menyuntikkan semangat yang sama pada teman-teman seperjuangan di Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Kalimantan Timur. Bukan hanya itu, ternyata akhirnya saya mendapatkan ide untuk membuat workshop sederhana yang melengkapi peluncurannya di Sangatta, Kutai Timur.

Judul buku ini saya ambil dari salah satu judul cerpen dalam buku tersebut: Seribu Luka Ayie. Cerpen ini terinspirasi dari pengalaman saya ketika pada tahun 2000-2002 menjadi praktikan di Pusat Krisis Terpadu RSCM, sebuah lembaga penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Cerpen-cerpen lainnya bertema sama: perempuan. Lika-liku perjalanan hidup seorang perempuan dengan berbagai latar kehidupan, yang tidak melulu berbicara mengenai kebahagiaan. Perempuan-perempuan yang kisah hidupnya mungkin mewakili dari apa yang kita alami sekarang ini.

Cerpen Ayyasy Kecil adalah favorit saya. Dimana ketika menuliskannya saya belum lagi menikah, apalagi mempunyai seorang anak. Tetapi kekuatan dari si 'ibu' dalam cerpen itu merupakan cita-cita terpendam saya, bahwa seberat apapun kehidupan yang dijalani, tetaplah ibu adalah surga bagi anaknya.

Yang Terlupakan merupakan kisah masa silam yang pernah saya alami, sebagiannya. Ia mewakili kerinduan saya pada beberapa orang yang namanya saya samarkan dalam kisah tersebut. Lalu cerpen Senja di Kuta, adalah sedikit memori yang saya bawa ketika pertemuan keluarga besar di Denpasar sekitar lima tahun lalu berlangsung, diramu menjadi sebuah peringatan kecil tentang kejadian tragis bom Bali.

Tampaknya memang keseluruhan isi buku ini mewakili jiwa saya. Yang selalu ingin memperoleh ketegaran dan semangat baru dari apa saja yang mampir dalam kehidupan saya maupun orang lain.


Klik link berikut untuk mendapatkan bukunya:

http://www.nulisbuku.com/books/view/seribu-luka-ayie

Wednesday, October 21, 2009

Berdamai dengan Hati

Sebagai seorang manusia biasa, setiap kita pasti pernah mengalami berbagai peristiwa yang membekaskan perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing. Bahagia, sedih, kecewa, marah, kesal, gundah, bimbang, dan seterusnya. Kadang perasaan-perasaan itu hanya terbersit saja, tapi sering juga bekasnya tak terhapus selamanya. Tergantung dari peristiwa yang kita alami. Tergantung dari bagaimana kita memaknai perasaan tersebut.

Saya sedang berhadapan dengan seorang sahabat, yang kali ini (tak seperti biasanya) ia terlihat begitu rapuh. Saya berusaha melihat jauh ke dalam hatinya, berusaha mencari dan ingin sekali menemukan sebuah gundah yang sedang ia rasakan. Tapi tak berhasil. Saya tak menemukannya. Padahal biasanya penerawangan saya tak meleset, tapi kali itu ia begitu lihai menyembunyikannya. Bagi saya, saat itu ia tengah meracau tak tentu arah, menyembunyikan perasaannya, lalu menampakkannya sedikit, dan kembali memutar-mutar sederet cerita yang tak runut ia lontarkan.

Ia, sahabat saya itu, adalah seorang dari sekian banyak orang yang dideskripsikan sebagai: seorang yang rapuh di balik ketegaran sikapnya. Itu penilaian saya padanya, setelah beberapa tahun berhubungan. Dan kali itu, sesuatu yang membuatnya rapuh adalah sesuatu yang patut menjadi pelajaran bagi orang lain.

Mari berbicara tentang perasaan, walau akan membuatmu bosan nyaris tertidur membahasnya. Tapi kadang diri kita harus disadarkan, bahwa tak selamanya sebuah 'perasaan' bermakna remeh-temeh atau 'menye-menye'. Karena dari sesuatu yang 'menye-menye' inilah seseorang akan dapat menjadi kuat atau malah sebaliknya.

Perasaan yang bahagia dapat membawa seseorang bersemangat menjalani hari-harinya. Bahagia seperti mendatangkan kekuatan untuk terus beraktivitas, dan kemudian bersemangat untuk melakukan banyak hal lain yang dapat mendatangkan seribu kebahagiaan lagi. Tapi terkadang, kebahagiaan yang berlebihan dapat membuat seseorang lupa dan terlena. Ia hanya terbawa ke langit ketujuh dengan perasaannya, namun terlupa untuk tetap berpijak ke bumi, dan terlebih lagi: lupa untuk bersyukur.

Perasaan sedih dan marah biasanya akan mengaburkan akal sehat seseorang untuk sesaat. Terbakar emosi yang berlebihan akan menjadikannya lupa bahwa banyak lagi orang di sekitarnya yang juga merasakan sakit yang sama, atau bahkan melebihi yang ia rasakan. Bukan tak boleh bersedih, tetapi jangan lupa bahwa masih banyak sekali yang bisa dilakukan selain meratapi kesedihan secara berlebihan dan mengasihani diri sendiri.

Merasakan sebuah kebahagiaan, ataupun sebuah kesedihan, adalah hal yang pasti dialami oleh setiap manusia yang memang dikaruniai hati dan perasaan oleh Sang Pencipta. Tetapi kadang, ada pula yang tidak mau atau tidak berani untuk memiliki dan mengakui perasaan tersebut. Bahkan berusaha untuk menghindarkan diri dari merasakannya.

Bagi saya, perasaan sedih dan bahagia itu seperti sebuah peristiwa suka dan duka yang kita alami setiap hari. Bagaimanapun rasanya, satu hal yang selalu harus diupayakan terhadapnya: mensyukuri. Karena apapun itu, selalu ada pelajaran berharga yang Allah Swt karuniakan untuk setiap hamba-Nya. Berusaha untuk menyikapinya dengan positif, insyaallah akan membawa diri kita untuk melihat lebih dekat hikmah yang tersimpan di balik setiap peristiwa. Bukankah segala ciptaan-Nya tidak pernah ada yang sia-sia?

Tetapi, begitulah manusia dengan segala kelemahannya. Kita bisa menjadi begitu rapuh jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita sukai, atau yang tidak kuasa kita hadapi. Dan dari hatilah semuanya bermula. Bila yang menjadi sandaran kita selama ini adalah Allah Swt, Sang Pemilik Hati, maka insyaallah Ia akan selalu bersama kita dalam setiap sedih, susah, dan senang. Tapi jika kita mulai lupa dengan-Nya, maka hati ini akan dipenuhi oleh yang lain: setan dan hawa nafsu kita sendiri.

Jadi, berdamailah dengan perasaanmu, syukurilah, dan hadapi dengan segenap kekuatan hati. Bukankah kita adalah orang-orang pemberani yang selalu bersemangat menjalani hidup ini? Sesungguhnya di balik setiap kesusahan ada kemudahan.

Saturday, October 10, 2009

Resensi Buku di PRO 2 FM


Alhamdulillah, pada hari Minggu tanggal 27 September 2009 lalu saya jadi juga berkunjung ke Pro 2 FM Jakarta. Buat apa? Promo buku pastinya. Acara Pro Resensi yang dibawakan oleh Lia Achmadi tersebut memang sudah menarik perhatian saya sejak lama, tetapi sekitar dua bulan sebelumnya baru sempat untuk mengajukan buku-buku untuk diresensi di acara tersebut.

Saya menghubungi mereka via email dan multiply, dan kemudian direspon oleh mbak Vira (asistennya mbak Lia), dan saya segera mengirimkan 3 buah buku yang saya ajukan untuk diresensi. Dua di antaranya disetujui: Bercermin pada Hatimu dan Desau Angin Maastricht. Tahap selanjutnya adalah kesepakatan waktu. Saya memohon supaya disesuaikan dengan kunjungan saya ke Jakarta dalam rangka mudik. Alhamdulillah, dimudahkan, dan terlaksana. Dan beberapa waktu sebelum tanggal tersebut saya sibuk mengirimkan sms ke banyak sekali kenalan maupun keluarga saya sendiri supaya mereka mendengarkan program tersebut. Biasa, promosi murah pakai sms. "Jangan lupa nyalain radio ya!" gitu. Tapi lupa nulis salurannya berapa, alhasil banyak juga yang sms balik "Saluran berapa sih itu?" Heheh. Pro 2 105 FM.

Program ini rasanya sayang untuk dilewatkan oleh para pecinta buku. Mbak Lia tampaknya cukup update juga dengan buku-buku baru, dan pastinya acara ini dimanfaatkan juga oleh para penulis untuk mempromosikan bukunya. Simbiosis mutualisme, bukan? Dan nggak kecewa lah, karena saya merasa lebih puas menceritakan novel saya di acara ini daripada saat launching di Sengata tempo hari. Yang menariknya, acara ini dibawakan secara interaktif dengan pendengar atau para facebook-er, atau blogger, atau multiplier. Ada kuisnya juga, berhadiah buku-buku yang sedang diresensi.

Awalnya saya sempat bingung juga, gimana ya siaran sambil bawa krucil? Tapi ternyata Firna diajak jalan-jalan sama nenek-neneknya, dan saya berangkat ke Pro 2 bersama suami tercinta dan Fakhry. Cemas lagi, gimana ya kalau saya di ruang siaran terus Fakhry rewel? Ini kan bukan GWP FM Sangatta yang bisa nitipin anak sama penyiar lainnya ... hehe ... tapi alhamdulillah, ternyata mbak Lia dan mbak Vira dengan senyum lebar menyambut Fakhry yang asyik berkeliaran di dalam ruang siaran. Dimudahkan lagi, Fakhry asyik seliweran sambil mainin apa aja yang ada di ruangan itu. Lancar deh semuanya.

Ketika mbak Lia membuka acara, saya baru tahu kalau paruh waktu pertama (1 jam pertama) adalah waktunya meresensi buku saya, dan paruh waktu kedua (1 jam berikutnya) adalah giliran buku-buku berikutnya, yang salah satunya adalah buku antologi puisi. Pertama dengar judulnya, saya teringat buku antologi puisi FLP. Dan ketika disebut nama "Lia Octavia", saya tambah semangat, wah! Ketemu Lia Octavia! (padahal belum kenal sama sekali, hihihi)

Cerita tentang Lia Octavia lain lagi. Saya tahu kerja kerasnya membantu pelaksanaan Silnas FLP kemarin dari beragam berita yang dipublikasikan di milis maupun dari teman-teman pengurus FLP, kemudian tanggal 19 September 2009 kemarin saya dengar kabar bahwa beliau datang dari Jakarta ke Balikpapan dan ingin silaturahmi dengan teman-teman FLP Balikpapan. Saat itu saya memang sedang di Balikpapan, transit sebelum berangkat mudik ke Denpasar. Ingin sekali ketemuan, tapi ternyata jadwal berangkat dimajukan, dan batal deh.

Acara berlangsung lancar sampai selesai. Menjawab beberapa pertanyaan dari pendengar, terus foto-foto dengan mbak Lia dan buku-buku yang diresensi. Sore yang menyenangkan, dan kami pun bersiap pulang karena Fakhry juga sudah ngantuk.

Di pintu studio, bertemu dua orang perempuan berkerudung, saya langsung membatin, salah satunya pasti Lia Octavia. Benar aja, mbak Lia keluar studio cepat-cepat dan memanggil saya "Mbak Vita, ini lho mbak Lia Octavia!" katanya. Sebelumnya saya memang cerita bahwa saya penasaran ingin ketemu beliau. Dan akhirnya ketawa-ketiwi sedikit dengan mbak Lia Octavia yang ramah sekali dan full senyum. Memang dasar FLP'ers, di mana-mana rasanya rindu aja gitu. Hehe.

Yah, begitulah. Kunjungan ke Jakarta membuahkan banyak hasil. Nggak cuma ke Jakarta sebenarnya, karena mudik kemarin langsung ke 3 tempat: Denpasar, Jakarta, dan Surabaya. Pastinya nggak menghabiskan waktu hanya dengan jalan-jalan atau belanja, dong. Harus ada produktivitasnya! Salah satunya ya yang satu ini. Yang lain? Tenang ... tunggu tulisan berikutnya ya!!!

Friday, September 18, 2009

Berawal dari Cinta

Suatu hari, saya berkesempatan hadir pada sebuah acara diskusi buku. Acara ini hanya menghadirkan sekitar 20 orang saja, dan hampir semuanya adalah ibu-ibu, hanya beberapa orang saja yang masih 'single'. Buku yang dibahas berjudul "Quantum Tarbiyah", karangan Solikhin Abu Izzuddin. Sebuah buku yang menarik, dengan pembahasan spesifik pada hal-hal positif yang bisa kita dapatkan dalam proses tarbiyah atau memperdalam keislaman secara intensif.

Pembahasan buku tersebut pada hari itu masuk ke sesi kedua, setelah pekan sebelumnya telah rampung dipresentasikan beberapa bagiannya. Ada satu bagian yang begitu menarik, hingga saya terpikir untuk langsung menuliskannya, tapi tertunda hingga sekarang ini.

Seorang peserta mengajukan sebuah pertanyaan ketika sesi pertama untuk tanya jawab dibuka.

"Saya pernah mengalami hal ini. Suatu ketika, saya begitu lelah dengan pekerjaan rutin di rumah yang tidak ada habisnya, dan menghendaki suami saya untuk sedikitnya membantu. Bukankah tiap kali seorang ibu pergi ke luar rumah dan meninggalkan anak-anak pastilah pikirannya selalu kembali tertuju ke rumah? Sedangkan seorang ayah/suami yang pergi ke luar beraktivitas pastinya tidak memiliki beban pikiran yang seperti itu. Saat itu saya mencetus pada suami supaya ia membantu saya, tapi dengan kalimat yang mungkin bernada marah atau jengkel. Kemudian suami saya berkomentar: "Berarti kamu kurang ikhlas". Saat itu saya langsung menjawabnya: "Ikhlas itu bisa dicapai jika ada faktor pendukungnya.""

Selepas si ibu melontarkan pertanyaan tersebut, seorang ibu yang tadi bertugas mempresentasikan sebuah bagian dalam buku itu menanggapinya dengan cukup sentimentil. Pastilah. Lontaran pertanyaan tersebut saya rasa adalah bagian yang pasti dialami oleh setiap istri dan ibu. Betul saja, beberapa orang berikutnya yang menanggapi pun mengutarakan pendapat masing-masing dengan nada curhat yang mengharu-biru. Tetapi, subhanallah, banyak sekali nasihat dan kalimat-kalimat saling menguatkan yang saya dapatkan. Pernyataan yang terkesan 'keluhan klise' tersebut malah membawa suasana pada perenungan akan arti ikhlas dan pengorbanan yang mendalam. Tentu hal ini tidak bisa dimaknai tanpa rasa cinta dan keimanan yang juga mendalam kepada Allah Swt. Yang akan mendasari sebuah pemahaman bahwa apa yang dilakukan oleh seorang perempuan di rumahnya, asalkan ia mematri kuat sebuah keikhlasan dalam hatinya dan niat untuk beribadah kepada Sang Pencipta, insyaallah Ia juga menyediakan ganjaran kebaikan yang begitu besarnya.

Selanjutnya, diskusi buku kali itu berlangsung seru. Masing-masing memaknai bab yang dibaca dengan pengalaman sehari-hari, dan menguatkan diri bahwa bagaimanapun kita semua memerlukan bekal yang tak habis-habis untuk menjalani semua aktivitas.

Saya banyak sekali merenung selepas pertemuan pagi itu. Saya melihat binar semangat, dan juga lelah, dalam mata para mujahidah itu. Subhanallah ... saya menyebut mereka sebagai 'mujahidah' bukan tanpa alasan. Mereka adalah para istri dan ibu yang masih bisa meluangkan waktu untuk berdakwah ke sana ke mari, sambil menjalankan tugas mereka di rumah masing-masing. Pergi mengisi pengajian sambil membawa satu atau dua orang anak, adalah hal biasa di Sengata. Bahkan sampai mengunjungi mereka yang tinggal di pinggiran, dengan jalur darat yang lumayan tak nyaman dan sulit ditempuh ketika cuaca buruk, atau banyak lagi hal yang sampai sekarang selalu menjadi penyemangat bagi diri saya sendiri. Saya banyak sekali belajar dari mereka semua. Dan pagi itu, menambah keistimewaan mereka di mata saya.

Bagi saya, pernyataan yang kemudian menjadi perbincangan serius pagi itu bukanlah sekadar keluh kesah belaka. Hal itu adalah gundah yang mungkin seringkali menggelayuti benak tiap perempuan yang memikul tanggung jawab berlipat-lipat. Menjadi seorang istri yang harus melayani kebutuhan suami dan anak-anak setiap hari, menjadi seorang ibu yang harus menggandakan kesabaran bagi tingkah laku anak-anak tercintanya, menjadi seorang karyawati atau wirausaha demi sebuah kemandirian ekonomi sekaligus peran ganda membantu suami mencari nafkah, menjadi seorang da'iyah karena itulah kewajiban asasi setiap diri kita: menyampaikan kebaikan pada siapapun juga sesuai kemampuan diri, menjadi anggota dan pengurus sebuah (atau dua buah) organisasi untuk membantu dakwah sekaligus menjadi sarana aplikasi kemampuan diri. Subhanallah. Tidak ada manusia super yang bisa mengerjakan itu semua dengan sempurna. Tidak ada. Jadi, gundah itu bukanlah sesuatu yang harus enyah dari diri mereka (dan kita semua), melainkan memerlukan sebuah pelipur yang dengan sangat mudah dan sederhana bisa dilakukan oleh seseorang yang bernama 'suami'.

Seseorang yang lain berkomentar dengan nada geli:
"Memang sih, abinya juga ngebantuin. Tapi ya gitu-gitu doang. Udah cuman sebentar, belum selesai dikerjakan dan anak rewel pastinya udah bilang: 'Mi, udahan belom sholatnya? Udah rewel nih.'"

Dan semua peserta terbahak mendengarnya. Ada yang benar-benar terbahak, ada yang sambil menghapus air mata, ada yang hanya senyum-senyum simpul. Pastilah. Semua mengalaminya.

Saya pikir, ketika membahas persoalan ini hanya dari sisi perempuan, tidak adil juga. Karena ternyata sudut pandang yang seringkali berbeda antara seorang perempuan dan laki-laki malah akan membawa pertengkaran tak berujung. Padahal intinya sama saja. Ketika si istri sedang gundah, dan mengharapkan suami hadir untuk menghiburnya, yang dimaksud dengan 'menghibur' di sini bisa jadi adalah sebuah sikap manis yang ditunjukkan suami, disertai dengan kata-kata:

"Subhanallah, Ummi/Bunda/Sayang (apapun sebutannya), hari ini pasti capek sekali, ya? Gimana tadi anak-anak? Sabar ya, Sayang ... semoga Allah memberimu ganjaran kebaikan yang banyak, ya. Sekarang, Abi/Ayah/Mas (apapun sebutannya) bisa bantu apalagi?"

Coba saja, pasti habis itu si istri langsung tersenyum, dan merasakan beban di hatinya hilang separuh. Karena ia merasakan 'kehadiran' sang suami untuknya, dan dukungan akan tugasnya yang berat sebagai ibu rumah tangga. Kadang, kelemahan memerlukan penyangga yang unik.

Tetapi, jika hal ini tidak dikomunikasikan (sayang sekali, komunikasi memang benar-benar penting dan diperlukan sampai kapanpun), maka yang terjadi bisa jadi adalah hal ini:

Si suami pulang kerja, melihat si istri sedang gundah, wajahnya ditekuk walau kedua tangannya tetap sibuk. Saat itu, suami langsung menyadari bahwa istrinya sedang lelah dan ada yang sedang dipikirkan. Yang terlihat di matanya adalah kesibukan kedua tangan si istri, dan menurutnya cara untuk membuat istrinya tersenyum kembali adalah membantu pekerjaan rumahnya yang belum selesai. Maka ia pun langsung turun tangan: mencuci piring, menjaga anak-anak, membersihkan yang perlu dibersihkan, dan kesibukan itu berlanjut hingga waktunya keduanya telah lelah dan bersiap tidur. Si suami berpikir bahwa ia telah banyak membantu dan menghibur istri tercinta (dan memang banyak yang sudah ia lakukan, atau bisa juga tidak), sedangkan si istri malah berang dan berpikir: suamiku ini tidak perhatian sekali.

Apakah kedua hal di atas ada yang salah? Saya rasa tidak. Tetapi kedua hal tersebut sangat berbeda. Berbeda sudut pandang, padahal tujuannya sama: ingin dibahagiakan, dan ingin membahagiakan. Tetapi, ujungnya bukanlah sebuah kebahagiaan. Karena apa? Tidak adanya komunikasi yang baik.

Saya tidak bermaksud menggeneralisasi semua peristiwa. Karena pastilah cerita yang dialami setiap pasangan berbeda-beda. Dan tentunya kebutuhan dari tiap istri dan suami tidak sama. Tapi, saya ingin mengatakan bahwa seringkali ketidakbahagiaan itu berawal dari persepsi yang tidak sama akan suatu hal. Dan hal ini bukannya tidak memiliki solusi, malah sebenarnya mudah sekali penyelesaiannya. Satu saja: luangkan waktu untuk bicara.

Sedikit mengulas tentang keikhlasan yang disebutkan di atas, mari kita luruskan suatu hal yang dinamakan 'pemahaman'. Karena yang mendasari segala perilaku adalah pemahaman kita akan hal-hal yang kita lakukan. Jika motivasi untuk melakukannya adalah niat beribadah dan ditujukan kepada Allah Swt semata, maka insyaallah hal itu akan menggiring kita untuk senantiasa memperbarui niat ikhlas kita setiap saat. Mengapa memperbarui? Karena manusia pastilah bisa saja khilaf dan tergoda hingga niat tersebut terkotori. Memahami bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, akan memperoleh ridho dari Allah Swt atau tidaknya, maka pemahaman itu akan membawa serta keikhlasan dalam hati ini untuk senantiasa terjaga. Jika melenceng, kembali luruskan. Begitu seterusnya. Sesudah itu, maka apapun perbuatan kita, sepenuhnya akan menjadi deretan amal ibadah yang ditujukan untuk meraih keridhoan Allah Swt. Dan tentu saja, amal yang berlandaskan niat ikhlas adalah tabungan berharga untuk kita di akhirat kelak.

Dan, bukankah berumah tangga adalah ibadah kepada-Nya juga? Rumah tangga yang dilandasi oleh motivasi beribadah kepada-Nya, insyaallah akan dinaungi keberakahan, ketenangan, dan penuh rasa cinta.

Ah, lagi-lagi cinta. Memang betul, sungguh beruntung mereka yang memiliki cinta. Melakukan sesuatu dengan cinta, pasti akan terasa indah dan bermakna. Bukan begitu?

Monday, September 14, 2009

SALIMAH Kutim Berbagi THR




Minggu (6/09) yang lalu, SALIMAH (Persaudaraan Muslimah) Kutim kembali mengadakan bakti sosial bertajuk SALIMAH Kutim Berbagi. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Baiturrahman (Panorama, Swarga Bara), sejak pukul 9 pagi hingga sebelum zuhur. Pengurus mengundang anak yatim, para janda, dan dhuafa lainnya sebagai peserta acara yang direkomendasikan oleh Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim maupun perorangan, yang mendapatkan santunan berupa sejumlah uang yang dibagikan pada masing-masing undangan tersebut.

Kegiatan yang menyertakan partisipasi donatur dari berbagai kalangan ini terlaksana dengan koordinasi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Panitia yang sekaligus merupakan pengurus SALIMAH Kutim mengupayakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pembagian jatah peserta. Jika di satu wilayah sudah menyertakan cukup banyak calon penerima santunan, maka ia tidak diperkenankan menambah kuota, melainkan harus diberikan kepada wilayah lain yang belum mendapatkan kesempatan. Panitia juga menerapkan aturan bahwa di hari H tidak lagi menerima peserta baru, tetapi pada kenyataannya ada satu dua orang yang akhirnya diterima padahal belum mendaftar sebelumnya. “Hal ini tidak akan terjadi lagi tahun depan, sebab kita harus konsisten dalam menerapkan aturan. Supaya adil bagi semua pihak.” Begitu komentar Ningsih, salah seorang panitia yang bertugas menjadi pembawa acara. Adapun peserta acara berasal dari wilayah Kampung Kajang, Kenyamukan, Jl Sangkima, dan sekitar Sangatta/Teluk Lingga.

Total dana yang terkumpul dari berbagai sumber donatur adalah sebesar Rp 25.990.000,- dan telah terdistribusikan dalam 176 paket THR. Sebanyak 55 paket THR untuk janda tidak mampu, dan 121 paket THR untuk anak yatim dan fakir miskin lainnya. Acara berlangsung lancar, tidak ada kekisruhan yang tidak diinginkan, sebab seluruh undangan sangat kooperatif dan tertib mengikuti jalannya acara demi acara. Selain dihadiri oleh penerima santunan, acara ini juga dihadiri oleh beberapa orang perwakilan Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim dan juga perwakilan donatur sebagai saksi penyelenggaraan kegiatan.

Pengurus SALIMAH Kutim mengharapkan acara ini dapat dilakukan rutin setiap tahun, dengan jumlah donatur yang bertambah. Sehingga harta yang menjadi bagian dari hak fakir miskin dan anak yatim dapat tersalurkan dan mereka yang membutuhkan dapat merasakannya walau tak seberapa.

Wednesday, September 09, 2009

Ketinting


Ini namanya 'ketinting' atau ada juga yang menyebutnya 'ponton'. Alat transportasi air yang berfungsi 'memindahkan' orang atau barang dari sisi sungai yang satu ke sisi yang lain. Sungainya juga nggak lebar sih, tapi kadang katanya arusnya deras dan bisa 'makan korban'. Hiiiy... nggak tau bener apa nggak sih. Belum pernah naik (dan nggak akan mau naik kalau nggak terpaksaaaaa banget).

Ada apa di seberang sungai? Ada wilayah 'Sangatta Lama'. Rumah-rumah penduduk dan pasar. Pasar Sangatta Lama adalah tempat belanja yang termurah, karena jangkauannya juga jauh dari pusat kota. Tapi dulunya daerah Sangatta Lama inilah yang dinamakan kota Sangatta. Tapi semenjak banyak perkembangan, wilayah pusat kota beralih ke Sangatta Baru alias lokasi Swarga Bara dan sekitarnya.

Ketinting ini lumayan populer di kalangan masyarakat Sangatta, dan menjadi sarana tercepat untuk menjangkau wilayah Sangatta Lama. Sebab jika harus menempuh jalan darat, harus memutar jauh dan tidak praktis bagi pengendara motor.

Padang Golf di Tengah Hutan


Padang Golf mini di tengah hutan :) ... lokasinya ya di sekitar wilayah Tanjung Bara (sekitar setengah jam dari pusat kota Sangatta). Biasanya yang bersantai sambil ayun-ayun stik golf adalah para pejabat KPC ... hehehe.

Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, hanya pernah sesekali menengok beberapa orang yang tengah asyik main golf di hari libur. Biasanya pagi-pagi sekali.

Welcome to Tanjung Bara


Ini adalah bandar udara Tanjung Bara, Sangatta. Satu-satunya 'tempat singgah' pesawat seukuran Airfast yang lagi nangkring itu. Bangunan yang atapnya bertulisan 'Tanjung Bara' itulah 'airport'nya ... hihihi.

Nah, barangsiapa yang ingin mengunjungi Sangatta, ia harus berangkat dengan pesawat dari daerahnya masing-masing menuju Balikpapan (Bandara Sepinggan), lalu dari situ naik pesawat Airfast ini ke Tanjung Bara. Jarak tempuh dari Sepinggan ke Tanjung Bara adalah 1 jam. Lumayan lelah ya? Total perjalanan dari Jakarta-Sangatta adalah 3 jam di udara. Fiuh!

Bandara Tanjung Bara ini padat sekali dengan jadwal penerbangan terbatasnya. Maksimal penumpang dalam satu kali penerbangan adalah 20 orang, dan tentunya diutamakan karyawan PT Kaltim Prima Coal atau keluarganya. Untuk saat ini, sepertinya hanya satu buah pesawat ini saja yang menjadi andalan semua orang yang ingin bepergian dari Tanjung Bara. Adakah alternatif lain? Ada. Jalur darat, melewati jalanan Sangatta-Bontang, lalu menuju Samarinda atau Balikpapan, atau wilayah lain yang ingin dituju.

Yah, begitulah Sangatta, dengan terbatasnya akses jalan dan sarana transportasi.

The Beauty of Aquatic


Hmm ... keren ya? Ini pemandangan sebuah kapal pengangkut yang diambil dari pantai Aquatic, Tanjung Bara, Sangatta. Pantai? Di Sangatta emang ada pantai? Hehehe ... ada. Salah satunya ya Aquatic ini. Nggak besar sih, tapi cukup sebagai salah satu tempat hiburan keluarga. Ini pemandangan waktu malam hari pastinya, ya. Indah dengan kerlap-kerlip lampu dari kapal itu. Kapal pengangkut apa? Ya, batubara lah! Hehehe...padahal sok tau aja nih.

Thursday, August 27, 2009

Demi Sebuah Cinta

Malam ini melewatkan sebuah momen yang sudah saya nantikan sejak tadi pagi. Momen yang seharusnya bisa membangkitkan kembali kenangan masa SMA dan kuliah dulu. Duduk rapi, pegang pulpen dan buku tulis siap terbentang di hadapan, manggut-manggut sambil terpesona dengan penjelasan demi penjelasan si pemateri. Saya begitu merindukannya. Selepas itu, hati dan pikiran jadi segar, seolah terguyur embun yang menyejukkan. Istilah kerennya: habis nge-charge.

Saya meminta ijin dengan sangat berat hati, hampir menangis bahkan. Semua padahal sudah siap: gembolan isi baju anak-anak, snack, buku-buku yang diperlukan, diapers, lengkap. Keduanya juga sudah siap dengan 'baju perang' masing-masing. Detik demi detik berlalu, pukul sembilan malam. Saya melirik cemas, kurcaci-kurcaci itu mulai kuyu. Dan beberapa menit setelah sedikit rewel mereka tertidur di kamar. Saya agak cemas, akankah batal lagi? Hiks ...

Jarang sekali ada momen seperti ini. Si pemateri pun bukan sembarang orang. Dan yang paling penting adalah: saya butuh charger yang super oke saat ini! Pikiran saya campur aduk, dan mulai menghubungi seorang teman.

Sebuah jiwa yang terus menerus dibiarkan lesu lama kelamaan akan tumpul dan mandul. Tapi ia yang terasah dan terpakai tanpa henti pun perlu waktu sejenak untuk menyegarkan diri kembali. Yang terus terpakai tanpa perawatan akan aus, dan bisa-bisa jadi tak bisa dipakai lagi. Bukankah setiap hal perlu keseimbangan? Memberikan lebih, maka asupannya juga musti lebih. Begitulah kira-kira alam pikiran saya berandai-andai. Andaikan semua tertata dengan rapi, andaikan semua berjalan seiring sejalan, andaikan semua seimbang rata ... tapi di dunia ini tidak ada satu pun yang sempurna. Yang baik pasti terselip kekhilafan juga. Namanya saja sekumpulan manusia, bukan para malaikat.

Dan untungnya kemarin sore saya mendapatkan beberapa menit siraman itu, walaupun tidak sedahsyat yang diadakan malam ini sepertinya. Tapi cukuplah membuat saya kembali kepada kesadaran semula. Bahwa setiap hal yang diperoleh pasti akan lebih berharga jika tertoreh sebuah pengorbanan penuh cinta di sana. Dan semoga inilah yang sedang saya lakukan. Berkorban demi sebuah cinta dan ketaatan.

Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk mendekati-Mu lebih saat ini,
Ampunilah setiap khilaf yang mengotori hati dan pikiranku hari ini, hari kemarin, dan hari-hari mendatang ...
Berkahilah kami dengan cinta dan kasih sayang-Mu,
hingga yang tersisa hanyalah ketaatan dan kesadaran penuh untuk berpasrah diri kepada-Mu.
Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk melakukan lebih dari yang kulakukan saat ini,
Berikanlah jalan bagiku dan bagi keluargaku untuk senantiasa taat dan patuh pada setiap perintah-Mu, mengikuti sunnah Rasul-Mu, dan berada pada jalan yang lurus bersama orang-orang yang Engkau ridhoi,
hingga Hari Akhir nanti.
Aamiiin ...

~with tears, to my beloved ones, here and everywhere~

Wednesday, August 26, 2009

Biar Anak Belajar Mandiri

Suatu pagi, saya kembali menemani Firna sekolah di salah satu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di daerah Lembah Hijau, Sengata. Seperti biasa, saya langsung bergabung dengan para bunda yang sedang repot membujuk anaknya untuk masuk kelas, atau yang sedang mengerjakan pernak-pernik persiapan karnaval kemerdekaan, atau yang sambil mengasuh adik kecil si sulung yang berlarian ke sana ke mari. Repot yang menyenangkan.

Saya pastinya sibuk mengamati tingkah polah Firna dan teman-temannya, tapi kali itu yang jadi perhatian saya bukan Firna seorang, melainkan para bunda dan reaksi mereka terhadap tingkah anak-anaknya. Saya banyak sekali belajar dari mereka, bahwa kemandirian anak akan terbangun atau tidak terbangun karena sikap orang tuanya juga. Namanya anak usia 2 sampai 3 tahun, perkara menempel terus pada ibunya pasti hal biasa. Tapi jika berada di lingkungan sekolah yang penuh hal-hal menarik dan teman-teman sebaya ia masih bersikap demikian, maka tindakan si ibu akan menentukan keberaniannya. Dan pastinya sikap satu anak akan menular ke anak yang lain. Jika ada seorang bunda yang bolak-balik masuk ke dalam kelas, terlalu khawatir dengan anaknya yang padahal sedang asyik mengikuti pelajaran, maka bisa dipastikan anak yang lain pun akan merengek meminta bundanya ikut masuk ke dalam. Atau malah para bunda yang berada di luar ikutan masuk karena ikut-ikutan khawatir dengan keadaan anaknya.

Saat itu saya memerhatikan kondisi tersebut, dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam. Saya melirik sebentar dari jendela, Firna menoleh dan melihat saya, lalu ia berteriak kencang, "Bundaaaaaa ...!!!" Saya cepat-cepat pergi dari jendela, dan duduk bersama bunda-bunda lainnya. Teriakan Firna masih terdengar selama beberapa saat, tapi tidak saya hiraukan. Seorang bunda menegur saya sambil tertawa,"Memang begitu, mbak, makanya nggak usah ditengok-tengok. Mereka nggak mandiri nantinya." Saya nyengir lebar dan kami pun asyik mengobrol ini-itu. Perilaku yang satu menjadi pelajaran bagi yang lain.

Ketika memutuskan untuk menyekolahkan Firna di PAUD, saya mempertimbangkan kondisi anak itu sendiri. Firna sudah bisa memakai dan melepas baju sendiri, memakai dan melepas sepatu dan kaos kaki, sudah paham instruksi ini-itu dan selalu ingin terlibat di semua aktivitas saya di rumah. Tapi kemandirian Firna harus dilengkapi dengan kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Ini yang masih lemah, apalagi Firna memiliki seorang adik yang jarak usianya tak jauh. Firna sempat cenderung egois, kurang bisa berbagi, dan dominan sekali di rumah. Menempatkannya di lingkungan teman sebaya mungkin akan sedikit mengubah hal-hal tersebut. Tapi, sekali lagi, tidak ada yang mudah.

Dengan minimnya pengetahuan saya, saya berusaha membahas setiap kejadian penting di sekolahnya, dan mengembalikan kepada diri Firna.

"Firna, tadi di sekolah lihat ada teman yang nangis, ya?"
"Iya, Bunda, tadi teman nangis, Loh!"
"Kenapa dia nangis?"
"Tadi teman pukul ..." (maksudnya nangis karena dipukul teman yang lain)
"Kalau Firna gimana?"
"Firna nggak boleh pukul teman ya, main sama-sama, kalau pukul teman nanti teman nangis, Loh!" (ini kalimat khas Firna, diulang-ulang setiap kali melihat kejadian yang sama)

Atau ketika waktu pulang sekolah, Firna langsung ngeloyor pergi tanpa salim dan pamit dengan Bunda Guru (sebutan untuk para guru di PAUD-nya). Pasti saya akan mengajak Firna masuk kembali ke dalam kelas, dan menyalami satu per satu gurunya. Tanpa diperlakukan begitu, anak mungkin akan menganggap hal itu bukan sesuatu yang penting. Walaupun harus berlarian dulu mengejar Firna yang sudah sibuk dengan ayunan dan perosotannya, atau harus membujuk-bujuk begitu lama karena ia sudah ingin pulang. Yang lain mungkin melihat, kok ibu ini repot sekali sih, tapi saya tidak peduli.

Saya terus terngiang saat pertemuan orang tua murid dengan kepala PAUD. Pesan-pesan beliau singkat saja namun jelas. Yang membuat anak tidak mandiri dan bersikap negatif di sekolah adalah lingkungan terdekatnya. Tentu maksudnya orang tua.

Tanpa bermaksud untuk terlalu perfeksionis, kita memang harus berusaha keras untuk mendidik anak sebaik mungkin. Gagal dan berhasil itu hal yang sangat wajar. Bagaimanapun hasilnya, semoga yang terbaik, utamakan saja prosesnya supaya optimal. Jangan menganggap anak tidak mengerti apa yang diajarkan walau usia mereka masih sangat muda. Semakin muda kebaikan ditanam, ia akan dengan sendirinya membentuk akhlak si anak nantinya.

Menulis dan Mencerahkan Hati


Baru selesai baca tulisannya mbak Sinta Yudisia di milis FLP. Fiuh ... jadi mau terharu :)

Mengingat kembali motivasi saya dalam menulis, untuk apa sebenarnya? Sebagai pembuktian bakat, atau ajang curhat alias ember perasaan, latihan pencerdasan emosi, cari penghasilan tambahan, atau apa?

Yang jelas, saya masih ingat, betapa saya terkesan dengan sebuah cerita pendek karya Helvy Tiana Rosa (yang menurut saya 'cerpen abadi' hehe) yang bisa membuat pembaca tersadar dan bergiat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Atau cerpen-cerpen karyanya yang bertahun-tahun tersebar di berbagai media, yang mengetengahkan konflik yang sedang terjadi, ataupun kisah sehari-hari. Helvy Tiana Rosa salah satu penulis favorit saya pastinya.

Lalu keinginan saya beberapa tahun silam (sampai-sampai saya jadikan salah satu resolusi tahunan yang harus dicapai), yang saya buat tahun 2002 dan baru tercapai pada tahun 2004: menjadi anggota Forum Lingkar Pena. Hehehe ... agak konyol, ya? Tapi bagi saya, organisasi yang satu ini begitu memikat hati, sebab memang sejak lama sekali saya ingin menjadi bagian darinya (mungkin sejak akrab dengan majalah ANNIDA sejak tahun 1998), dan berjanji dalam hati bahwa saya harus bisa menulis.

Menjadi bagian dari FLP cabang Bekasi adalah awalnya. Bertemu teman-teman baru yang lucu, sama-sama mendirikan kembali FLP Bekasi, berjuang dengan anggota yang datang dan pergi (dan kini makin berkibar tampaknya...congrats FLP Bekasi :) ) dan akhirnya hijrah ke FLP cabang Sengata tahun 2006. Menjadi bagian dari FLP pastinya berpengaruh besar bagi aktivitas menulis yang saya lakukan. Kala merasa malas, maka pertemuan dengan teman-teman di FLP akan mencambuk kembali diri saya untuk aktif berkarya. Kala merasa puas dengan hasil karya yang diterbitkan, maka bertemu dengan sekumpulan penulis muda dan hebat di FLP akan menjadi teguran keras bagi saya bahwa apa yang sudah saya lakukan belumlah apa-apa. Saya masih harus banyak belajar, dan menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Bukan saja untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bukan juga menjadi pelampiasan emosi semata, apalagi hanya untuk sebuah popularitas. Menulis untuk dakwah, adalah visi yang harus selalu tertanam.

Terkenang percakapan maya dengan Afifah Afra dua hari lalu (tepatnya menjelang subuh),

afra: lagi nerusin buku kedua dari tetralogi De Winst, sudah hampir setahun belum kelar (kira-kira begitu isinya)

Setahun menulis novel? Wow, hebat sekali. Pikir saya waktu itu. Dan mbak Afra menceritakan tentang begitulah konsekuensi dari mempertahankan idealismenya. Saya tahu, beliau adalah seorang penulis yang rajin sekali riset mendalam untuk sebuah tulisan yang pastinya apik. Setahun yang produktif, dan mungkin seluruhnya efektif. Kalau saya? Ya iya sih, merampungkan novel dalam kurun tahunan juga, tapi bolong karena malas, nggak sempat, nyicil nggak kelar-kelar, dan riset seadanya. Jauuuh...deh!


Tadi pagi, soulmate saya (predikat ini Ganjar Widhiyoga yang memberikan) menelpon dari Yogyakarta, dan bisa ditebak, kami berbincang hampir sejam untuk berbagai hal yang sedang melintas di kepala kami. Mengenai FLP juga, dan yang lain-lain. Ide untuk merintis hubungan harmonis antara FLP Kaltim dengan dunia sastra di Kaltim, mengenai perbaikan kualitas FLP Sengata, dan banyak lagi. Namanya Nurika Nugraheni, dulu saya mengenalnya secara maya juga via Yahoo Messenger, lalu bertemu di Munas ke 1 FLP tahun 2005, dan secara mengejutkan tahun 2007 kalau tidak salah ia menjadi penghuni Sengata mengikuti suami tercintanya.

FLP dan dunia menulis saya sudah memberikan banyak sekali warna dalam kehidupan saya bertahun-tahun ini. Kalau belajar tidak pernah mengenal waktu, maka sama saja dengan menulis. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki yang sudah dilakukan. Bukankah dengan menulis kita bisa mencerahkan umat? Ya, tentu tergantung apa yang ditulis :) dan jiwa setiap penulis ada dalam tulisannya. Begitulah yang saya yakini. Menulis untuk dakwah, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada lingkungan, kepada umat ini. Jika saya tak mampu memberikan lebih pada umat ini, setidaknya tulisan saya semoga bisa mencerahkan hati yang membaca. Amin.

Tuesday, August 25, 2009

Something about Firna (part two)


Berkali-kali saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa seorang anak kecil adalah 'penyerap yang luar biasa hebatnya'. Makanya jangan heran jika suatu ketika mereka mengatakan sesuatu yang mengejutkan, padahal mereka baru mendengarnya sekali atau dua kali saja. Hal ini sudah terjadi berkali-kali pada Firna, anak saya, dan setiap kali yang ia sebutkan adalah hal yang tidak baik (yang mungkin ia dengar dari orang lain, dari televisi, maupun ayah dan bundanya) saya harus segera memperbaikinya. Segera. Sebab jika dibiarkan, anak akan menganggap bahwa hal tersebut boleh-boleh saja dikatakan. Atau bahkan, jika kita mendengarnya lalu tertawa geli, ia mungkin akan berpikir bahwa hal itu hal baik sebab reaksi orang dewasa di sekitarnya adalah reaksi yang ia anggap positif.

Suatu malam, saya dan suami sedang menonton berita di salah satu stasiun televisi, dan kebetulan hari itu (secara berulang-ulang hingga membosankan) dikabarkan seorang yang dianggap fenomenal telah meninggal, namanya Mbah Surip. Terus terang saja, akhir-akhir ini saya memang membatasi tontonan televisi apalagi pada waktu pagi hingga malam ketika anak-anak sedang bermain. Jadi, malam itu adalah kali pertama saya mengetahui ada seorang Mbah Surip yang mendadak kaya raya dengan lagunya yang fenomenal (tapi menurut saya sih syairnya "nggak penting banget").

"Oh, ini toh lagunya," gumam saya.

Firna yang kala itu sedang makan malam dengan ayahnya tiba-tiba nyeletuk,

"Pak gendong, ke mana-mana ..." dengan raut tanpa ekspresi dan wajah menunduk menatapi piringnya.

Kontan saja saya melirik suami yang nyaris terbahak, saya pun hampir tertawa mendengar Firna menggumamkan lagu tersebut, lalu ia menatap wajah saya dan suami sambil tersenyum. Saya hafal betul, saat itu Firna menantikan reaksi kami. Bila kami tertawa, ia akan ikut tertawa dan terus akan mengulang-ulang lagu tersebut. Ia seakan meminta 'persetujuan' bahwa kalimat baru yang ia hafal adalah lagu yang boleh ia nyanyikan. Sebelumnya suami saya memang sudah cerita, bahwa ketika mereka menonton berita yang menayangkan meninggalnya penyanyi gaek itu, Firna langsung bisa menghafal lagunya. Mungkin karena liriknya yang ear-catching atau entah apa.

"Firna, tidak usah nyanyi lagu itu ya. Itu lagu nggak bagus." tukas saya dengan tegas. Ayahnya mengatakan hal yang sama.

"Kalo lagu bintang kecil, boleh?" tanya Firna.

"Ya, kalau lagu bintang kecil boleh. Lagu balonku juga boleh." kata saya, lega. Setelah itu Firna mengulang-ulang lagu bintang kecil, balonku, dan lagu-lagu lainnya.

Apakah setelah itu Firna lupa dengan lagu fenomenal itu? Tentu tidak. Hari-hari berikutnya ia sekali dua kali mengatakan bait pertama lagu itu, dan bertanya pada saya,

"Bunda, nggak boleh lagu 'pak gendong' ya? Kalau lagu Kakak Mia, boleh?"

Seperti itulah Firna. Alhamdulillah, ia memang tidak merekam keseluruhan lagu itu karena memang kecelakaan kecil ketika ia mendengarnya pertama kali langsung kami alihkan. Tetapi, bagaimanapun ia bisa sewaktu-waktu mengingatna bila ada stimulusnya. Di sinilah pentingnya kesabaran dan konsistensi kami untuk menjaga Firna dari faktor buruk lingkungan, terutama televisi.

Satu hal yang saya sayangkan adalah, tayangan berita (yang selama ini menurut saya relatif aman untuk ditonton) pun bisa memberi dampak buruk bagi anak-anak. Apabila memang tayangan beritanya seperti itu contohnya. Belum lagi jika yang dipublikasikan adalah soal perselingkuhan anggota dewan, artis yang terjerat narkoba atau sedang stres, dan sebagainya. Ya, peran orang tua memang besar sekali untuk mendampingi dan menjelaskan apapun pada anak-anak kita. Jangan sampai mereka merekam hal yang tidak baik, dan kemudian melakukan hal yang tidak baik pula. Na'udzubillah ...

Untuk hal ini, pandangan setiap orang pasti berbeda-beda. Tapi bagi saya, bersusah payah sejak dini tentu sangat penting jika kita peduli pada perkembangan anak-anak kita. Tidak ada yang sempurna memang, tapi bukan berarti kita akan lelah dan putus asa dalam berusaha, kan?

Tuesday, August 11, 2009

Something about Firna :)




Belakangan ini Firna sangat bisa diandalkan. Nggak pernah lagi 'gangguin' adek Fakhry sampai nangis, selalu semangat bantuin bunda jaga adek (walaupun kalau adeknya tetep aja nangis gara-gara ditinggal bunda jemur baju atau mandi akhirnya Firna bengong aja terus asyik sendiri), bantuin bunda rapikan baju ke dalam lemari, dan sederet hal-hal kecil yang rasanya jadi pelajaran baru setiap harinya.

Mendidik anak sudah pasti butuh kesabaran, setiap orang tua pasti paham. Tapi kesabaran yang saya maksud di sini adalah sabar untuk memperhatikan hasil dari didikan yang kita lakukan pada mereka. Jangan pernah berharap sekali atau dua kali mengajarkan sesuatu pada anak kemudian langsung dipahami dan diikuti. Butuh waktu, butuh berkali-kali mencoba, dan akhirnya ketika si anak melakukannya sudah pasti senang sekali hati ini rasanya.

Suatu kali, Firna memiliki kebiasaan baru yang sangat tidak saya inginkan, yaitu berteriak dan membentak. Menurut berbagai sumber, anak usia dua tahun bisa dikatakan sedang dalam masa 'terrible years'. Wah, saya terus terang tidak menyangka akan sesulit itu menghadapi kondisi tersebut. Kuping juga lama-lama panas mendengar seorang anak kecil yang tiba-tiba hobi berteriak-teriak dan menghardik setiap orang. SETIAP ORANG. Ini nggak bisa dibiarkan. Saya pun mencari cara, putar otak, trials dan errors, dan akhirnya ketemu!

Suatu pagi, ketika akan memandikan Firna, saya mendapatinya melakukan kedua hal itu lagi. Dan saya langsung menghampirinya, menatap lurus padanya dan mengatakan:

"Firna, kalau Firna membentak, teriak-teriak, atau nakal sama adek, Firna duduk di kursi."

Saya mengatakannya tegas-tegas, sambil menunjuk ke arah 'kursi hukuman' yang sudah lama saya berlakukan pada Firna. Reaksinya? Bisa ditebak. Ia teriak-teriak dan membentak saya. Ini dia. Saya langsung mengangkatnya, dan mendudukkannya di kursi itu. Ia berteriak lagi, membentak lagi, saya tinggalkan. Selama sekitar dua menit saja. Ia masih berteriak-teriak ditambah menangis. Tapi tidak turun dari kursi. Karena hukuman 'duduk diam di kursi' sudah ia pahami sejak lama. Cara itu efektif untuk Firna.

"Ingat ya, Firna. Kalau Firna membentak, teriak-teriak, atau nakal sama adek, Firna dihukum di kursi ini." tegas saya lagi setelah waktu 'hukumannya' selesai.

Apakah ia langsung menurut. Tentu saja tidak. Setelah tiga atau empat hari, baru saya mendapatinya berubah. Ketika ia mulai akan berteriak, saya langsung mengingatkannya tentang 'perjanjian' itu, dan ia tidak jadi berulah. Begitu terus selama beberapa waktu, sampai Firna benar-benar paham bahwa saya serius dengan larangan itu. Ini bukan masalah sepele, ini salah satu bagian dari mendidik kesopanan dalam sikap dan perkataannya. Setidaknya ini menurut saya. Membentak dan berteriak pada orang tua bukan suatu hal yang patut ditolerir, juga kepada siapapun sebenarnya.




Itu hanya satu peristiwa dengan putri kecil saya yang ceriwis itu. Kali lain saya mendapat sebuah pelajaran, bahwa otak seorang anak kecil memang benar-benar jernih, hingga saking jernihnya dapat menyerap apapun dengan begitu cepat. Kita sebagai orang tua hanya perlu bersabar dan tidak pernah bosan mengajarkan mereka. Berulang-ulang diucapkan (atau dinyanyikan), sampai mereka menghapalnya sendiri.

Firna anak yang cerdas musik. Apapun yang saya sampaikan dalam bentuk nyanyian akan dilahapnya. Sekarang malah ditambah menari. Geli kadang-kadang melihatnya megal-megol menirukan instruksi di film Sesame Street yang sering ditontonnya. Tapi yang membahagiakan adalah ketika Firna sudah mulai hapal huruf-huruf hijaiyah (ada beberapa huruf yang ia nggak tau menyebutnya gimana), dan dua buah doa pendek. Optimis dan bersabar! Pasti anak-anak kita bisa menyerap kebaikan sebanyak-banyaknya, asalkan kita sebagai orang tua mampu dan yakin bahwa kita bisa mengajarkannya pada mereka.

Tuesday, July 14, 2009

Yang Kuat dan Lemah

Terkadang, ketika iman sedang lemah, sebagai seorang manusia kita semua butuh penyangga. Supaya kondisi hati yang sedang rapuh tak lekas merubuhkan pertahanan diri dari hal-hal yang tidak baik. Namanya saja manusia, makhluk yang seringkali sombong padahal ia punya segudang kelemahan. Tak mungkin seorang manusia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, dan lebih tak mungkin lagi seorang manusia mengesampingkan peran Sang Pencipta dari kehidupannya.

Terkadang, kita juga sering tidak menyadari, bahwa orang terdekat kita selalu memberikan cinta dan sayangnya dalam berbagai bentuk. Mungkin tidak dengan cara yang spektakuler, mungkin tidak dengan sesuatu yang paling kita inginkan, mungkin tidak banyak hingga tak diketahui. Tetapi apakah itu berarti kita bisa meragukannya? Bukankah tak adil jika menyamaratakan seseorang dengan seseorang lainnya? Padahal orang-orang terdekat kita, keluarga kita, adalah tempat berpulang yang paling nyaman. Tetapi seringkali keegoisan dan emosi tak terkendali yang berasal dari diri kita sendiri mengaburkan semua itu.

Di antara kelemahan-kelemahan sifat manusia, sebenarnya terdapat celah untuk saling menguatkan satu sama lainnya. Kelemahan dari yang satu bisa ditutupi oleh kekuatan yang lainnya. Manusia yang satu bisa menjadi penolong bagi yang lainnya. Di atas semua itu, tentu yang Maha Kuasa puncak segalanya. Bagaimana bisa seorang hamba yang lemah mengaku adikuasa untuk menjadi penolong yang lainnya tanpa kehendak dan ketentuan dari Allah SWT?


Seperti sebuah pelangi yang menceriakan isi bumi,
Manusia punya rasa rindu yang terkadang seperti mimpi,
Tak usah risau pada mereka yang meneriakkan cinta seperti guruh,
atau pada mereka yang lantang meminta cinta datang kembali padanya,
Ke mana pun cintamu berlabuh,
seharusnya hanyalah kepada-Nya.


(menyudahi rasa gundah, ayo tersenyum kembali!)

Friday, July 10, 2009

Rihlah SALIMAH




Rihlah SALIMAH Kutim pertama kalinya. Cuaca pagi itu memang kurang mendukung, hujan deras sejak semalaman, dan pagi-pagi gerimis hingga mendekati waktu pelaksanaan acara. Untungnya tinggal di Sengata, jarak ke mana-mana tak terhalang macet atau lamanya waktu perjalanan karena jarak yang ditempuh tak seberapa. Dalam waktu setengah jam saja bisa sampai ke ujung Sengata. Tapi, alhamdulillah, sebagian besar pengurus bisa hadir, beserta suami dan anak-anaknya. Tak ramai, tapi cukup menghangatkan rihlah perdana ini.

Acara pun berlangsung sederhana. Dimulai dengan sedikit sambutan dari ibu Sundari selaku PJS Ketua SALIMAH Kutim, dilanjutkan dengan serah terima jabatan bendahara (dari mbak Mugi Suhartini beralih ke mbak Wiwik Budiati). Bendahara kita itu akan bertolak ke Palangkaraya untuk melanjutkan studi. Selanjutnya, games. Games ringan yang memunculkan kesegaran dan tawa ringan di sana sini.

Diakhiri dengan makan siang bersama, dan semoga semangat baru menyentuh setiap diri kami. Bagaimanapun, SALIMAH Kutim terus dibutuhkan keberadaannya.

Tuesday, July 07, 2009

Rindu

Rasanya beberapa hari ini lelah fisik dan pikiran. Seringkali karena jenuh. Jenuh terhadap apa? Banyak hal. Banyak hal yang sulit untuk diubah menjadi lebih baik. Atau saya yang kurang berupaya lebih keras lagi untuk mengubahnya menjadi lebih baik? Mungkin saja.

Apa kabar Jakarta?
Rindu sekali. Rindu dengan aneka ragamnya orang-orang di sana. Dengan berbagai ide dan pikiran yang meluaskan wawasan saya. Yang juga bisa membuat saya menangis haru atau tertawa gembira. Mereka yang selalu mengisi ruang kosong di hati saya: teman-teman lama di sekolah dan kampus. Saya rindu sekali dengan kalian. Rindu dengan bagaimana kita dulu sering bergandengan tangan mengerjakan sesuatu yang kita yakini sebagai sebuah amal soleh. Rindu akan segala hal yang dulu bisa membuat mata dan pikiran saya terbuka lebar. Selebar ruang Jakarta yang menerima berbagai kesibukan di dalamnya.

Apa kabar Bintaro?
Walau hanya 'singgah' selama 6 bulan di sana, tetapi secuil kenangan manis membekas sampai sekarang.

Tidak ada waktu untuk bermalasan. Akhir tahun tinggal beberapa bulan lagi. Saya menantikan bulan Januari :) bismillah ...

Saturday, June 27, 2009

Mencari Kesempurnaan

Manusia sampai kapanpun tidak pernah akan menjadi sempurna. Dan seorang manusia lebih tidak mungkin lagi mampu membuat manusia lain menjadi sempurna, sesuai keinginannya. Dua kalimat itu patut saya pancangkan dalam-dalam di hati ini. Sebab seringkali kemauan pribadi mengalahkan realita yang ada. Dan akhirnya ujung yang ditemui adalah kekecewaan semata.

Jika kita menemukan seseorang yang merasa dirinyalah yang paling sempurna, yang selalu bisa berbuat apa saja, dan orang lain selalu berbuat salah di matanya, maka di saat itulah tampak ketidaksempurnaannya. Bahwa ia merasa dirinya lebih penting dibandingkan yang lainnya, merasa lebih bisa, dan segala hal yang akhirnya berujung kepada satu hal yaitu: kesombongan. Karena, sekali lagi, manusia sampai kapanpun tidak pernah bisa menjadi sempurna. Kecuali satu orang saja, seseorang yang mulia dan telah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang, yang mendapat koreksi langsung dari Allah Swt untuk kekhilafannya. Muhammad Rasulullah SAW.
Suatu ketika, saya mendapatkan cerita dari seorang teman tentang pengalamannya mengikuti sebuah forum diskusi terbatas. Ia mengatakan bahwa saat itu adalah waktunya saling mengoreksi dan menyampaikan masukan. Saat yang pastinya ditunggu-tunggu. Sebagai sesama aktivis dakwah, pastinya sudah saling tahu dan paham etika menyampaikan kritik dan bagaimana mengutarakan isi hati tanpa menyinggung perasaan yang lainnya. Dan begitulah yang terjadi, masing-masing menyampaikan pendapat, pesan kesan, kritikan, usulan dengan cara yang santun dan bahkan mencairkan suasana yang tadinya tegang dan kaku akibat kelelahan dari semua peserta yang hadir. Semua berjalan lancar, sampai seseorang angkat bicara dan memotong perkataan seorang peserta yang tengah menyampaikan pendapatnya. Ia menukas setiap pendapat yang peserta tadi sampaikan dengan cara yang sepertinya membuat setiap yang mendengar merasa kerdil dan malu akan pendapat-pendapat yang telah disampaikan. Sepertinya mereka telah melakukan hal yang memalukan dengan mengutarakan usulan-usulan tersebut.
Dan itu telah terjadi berkali-kali. Di forum yang berbeda-beda, oleh orang yang sama.

Teman saya itu seorang sarjana psikologi, dan saya seorang peminat ilmu psikologi. Kami pun cukup sering membahas panjang lebar alasan kenapa orang tersebut berlaku demikian, bagaimanakah analisa karakternya, apa terapi yang tepat untuknya, sebab perilaku yang tidak menyenangkan seperti itu tidak akan membangun suasana kondusif untuk belajar dan saling berinteraksi. Adakah yang bisa kami lakukan untuknya? Terus terang saja, saya jadi merasa kasihan dengan tipikal orang yang seperti itu. Merasa dirinya paling benar dengan cara menjatuhkan orang lain di setiap kesempatan. Lalu, saya bertanya dalam hati, apakah saya pernah melakukan sikap seperti itu? Astaghfirullahal’azhiim … semoga saja tidak.

Seringkali diri kita melewati hal-hal penting yang berseliweran di sekitar kita. Melewatkannya bisa jadi sama dengan menganggapnya tidak atau kurang penting. Oleh sebab kekurangpentingannya itulah makanya sesuatu hal itu bisa terlewatkan begitu saja. Sebab, mana mungkin sesuatu hal yang dianggap penting bisa dengan mudah terlupakan. Contohnya saja, kalau membaca Alquran setiap hari sudah menjadi sebuah kebutuhan, maka ketika sekali saja terlupa atau tidak dapat membaca disebabkan hal lain, perasaan menyesal bukan kepalang akan terasa. Lain jika ibadah yang satu itu belum menjadi sebuah kebutuhan, maka melewatkannya akan terasa biasa saja.
Bicara soal kebutuhan, tidak semua orang memiliki kebutuhan untuk bisa ‘memperbaiki keburukan yang ada pada orang lain’. Memperbaiki bukanlah dimaksudkan sebagai ‘upaya turut campur’. Berbeda. Yang saya maksudkan adalah kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk dapat menasehati saudara saya sesama muslim lainnya bila ia melakukan sebuah kekhilafan. Menasehati di sini bisa jadi tidak dalam artian berbicara empat mata lalu menceramahinya panjang lebar. Sungguh banyak varian yang bisa dilakukan untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Hanya sekadar mengingatkan, selebihnya urusan dirinya sendiri apakah mau memperbaiki diri atau tidak. Ini hanyalah sebuah ikhtiar demi kebaikannya.

Dan memang, kebutuhan setiap orang berbeda. Mungkin saja ketika saya merasa perlu untuk bertindak demikian terhadap orang tersebut, bagi orang lain hal itu tidaklah penting. Bagaimanapun, bertindak atau tidak bertindak, menasehati atau tidak, kita akan menghadapi konsekuensi perilaku setiap orang di sekitar kita. Demikian juga sebaliknya.

Kesempurnaan memang hanya milik Sang Pencipta. Tetapi Ia memberi kita semua begitu banyak potensi untuk diarahkan menuju kebaikan dan kesempurnaan sikap. Tinggal kitalah yang akan memilih, akan memanfaatkan potensi tersebut, atau membuangnya sia-sia. Menyeru kebaikan pada orang lain sama dengan upaya kita membenahi diri sendiri. Semuanya berawal dari hati.

Friday, June 26, 2009

Biarpun Berkali-kali Jatuh

Pernahkah Anda menemukan seseorang yang begitu pesimis menghadapi kehidupannya? Dan ia yang hampir selalu memiliki pandangan negatif terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya?
Saya mengenal seseorang yang seperti itu. Hampir di sepanjang hidupnya, ia mengalami kejadian-kejadian buruk yang begitu menyakitkan hati. Hubungan saya dengannya bisa dikatakan cukup dekat, hingga saya seolah bisa merasakan sendiri pedihnya mengalami peristiwa-peristiwa tersebut. Bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa merasakan langsung perasaannya. Saya hanya bisa mencoba untuk mengerti, bahwa di setiap sikap pesimisnya, tersimpan amarah akan hal-hal buruk yang menimpanya. Sekaligus kesedihan karena ketidaksanggupan untuk mencegah hal-hal buruk itu supaya tidak terjadi, dan juga rasa malu yang kini ditanggung atas bad ending yang ia jalani. Menyedihkan, bukan?
Kehidupan ini seperti roda yang berputar, begitu kata orang. Kadang ia membawa kita ke atas, lalu ia berputar ke bawah. Kadang terhampar kemudahan, namun selanjutnya bisa pula badai menghadang. Dan sebagai seorang manusia yang lemah ini, kita seringkali terjebak akan ‘lubang-lubang’ keangkuhan dan keserakahan apabila kesenangan yang sedang digenggam. Atau kita seringkali terjerembab masuk ke dalam jebakan keingkaran dan kelalaian saat menerima kesedihan. Tak pernah ada puasnya. Hidup memang tempatnya salah dan lupa, tempatnya belajar dan berusaha, tempatnya kegagalan, dan sekaligus tempat manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik atau berpasrah diri menjadi yang terburuk tanpa upaya apapun. Semua tergantung apa yang kita pilih.
Kadang kita sering bertanya, mengapa si anu yang tampaknya biasa-biasa saja ibadahnya bisa selalu merasa senang dalam hidupnya? Bukankah Sang Pemilik Jiwa mencintai orang-orang saleh yang rajin memanjatkan doa serta beribadah dengan segenap jiwa? Bukankah keimanan yang menghujam dalam dada ini sanggup mendobrak penghalang apapun dan menumbuhkan semangat juang berkali-kali lipat dari yang lainnya?
Memang. Tetapi di balik setiap peristiwa pasti terkandung pelajaran dari-Nya. Ada rahasia-rahasia hidup yang tak disingkap, yang akan menguji sejauh mana kesetiaan kita sebagai seorang hamba.
Seseorang yang saya sebutkan di atas, mungkin saja memiliki sikap yang demikian karena mengalami kepahitan hidup yang telah membuatnya jatuh berkali-kali. Orang lain yang melihat dari luar mungkin akan menganggapnya rapuh, tak punya pendirian, pesimistik, tak punya semangat hidup, dan penilaian negatif lainnya. Sedangkan mereka tak benar-benar mengetahui apa saja yang pernah ia alami. Apa yang membuatnya berkali-kali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan apa yang ia lakukan setelah berkali-kali jatuh. Tidak banyak yang tahu.
Tetapi biasanya, seseorang yang telah mengalami berbagai kesulitan dalam hidup, akan bisa bersikap lebih dewasa dan bijak dalam menanggapinya. Dan pastinya ia memiliki hati yang lebih tegar, karena terbiasa tertoreh rasa sakit. Biarpun berkali-kali jatuh, dengan iman di dada, ia pasti akan kembali bangkit.
Kesedihan dan kepedihan sebesar apapun, bila kita senantiasa mengingat bahwa hanya Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, niscaya yang tertinggal dalam hati adalah keikhlasan untuk menerima. Dan prasangka baik bahwa memang apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk diri kita saat ini. Bukankah Sang Pencipta tak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya?
Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Insyaallah.