gunung rinduku mengaduh
ia memanggil namamu, jauh
dan kini rasanya nafasku tinggal separuh
di sini,
menunggumu
bersabar aku mengayuh cinta,
membawanya
biarkan aku menemuimu,
walau bukan dengan ragaku.
~tanggal 22 masih lama ya?...hiks..~
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Tuesday, March 15, 2005
Wednesday, March 09, 2005
Sambil Menunggunya Pulang….
Menjadi seorang istri dan sekaligus seorang ibu memang berat. Tak hanya waktu luang untuk diri sendiri yang harus dikikis sekian persen demi kepentingan keluarga, namun juga porsi pencerdasan diri yang sepertinya lambat laun mengalami degradasi. Akibat sibuknya mengurus rumah tangga kah? Begitu kira-kira yang menjadi alasan sebagian wanita.
Saya menemui banyak teman wanita yang sudah menikah, yang mengeluhkan hal-hal di atas. Mereka mengatakan bahwa banyak dari waktu mereka tersita untuk hanya mengurusi pernak-pernik rumah tangga, dari mulai urusan dapur, cuci-mencuci, membereskan rumah, melayani suami, dan menjaga anak hingga tertidur sampai larut malam. Tenaga dan pikiran sudah pasti terkuras. Dan ujungnya, pemaafan yang seringkali jadi senjata andalan untuk tidak lagi rajin membaca buku, perbanyak tilawah, dan melakukan ibadah sunnah lainnya.
Padahal menjadi seorang ibu dan istri membutuhkan kekuatan, tidak hanya dalam hal kekuatan fisik. Seorang ibu yang memiliki wawasan yang luas, akan menjadi ‘sekolah’ abadi bagi anak-anaknya kelak, dan kesalihahannya akan membentuk mereka menjadi seorang yang penuh dengan keimanan. Seorang istri yang memiliki kecerdasan, pastinya akan menjadi teman bicara dan bercurah hati yang sangat menyenangkan bagi suami. Pun ibadahnya yang terjaga, akan menjadikan suami bertambah sayang serta termotivasi untuk saling meningkatkan kualitas diri.
Masalahnya sekarang adalah pada keterampilan diri masing-masing wanita untuk memanajemen seluruh aktivitasnya. Sehingga tak lagi ada alasan ‘tak ada waktu’ atau ‘tidak sempat’. Tidak ada seorang ibu dan istri yang sempurna, namun kita semua bisa berusaha untuk mengoptimalkan tenaga yang ada, untuk tetap menjadikan diri ini ‘berseri’ tak hanya dari luarnya saja.
Saya mengenal seorang ibu muda yang telah memiliki empat orang anak. Usianya sendiri mungkin sekitar tiga puluhan. Ia seorang penulis yang cukup produktif, dan bahkan baru-baru ini telah mengeluarkan lagi buku terbarunya. Saya langsung tertarik untuk bertanya mengenai kiat-kiatnya dalam meluangkan waktu untuk menulis, sedangkan tiga orang anaknya telah sekolah. Saya membayangkan, betapa repotnya ia harus membagi waktunya untuk mereka. Salah satu kiat yang saya dapatkan adalah, menulis di waktu pagi hari sekitar pukul delapan hingga sebelas siang. Saat itu, ketiga anaknya sedang berada di sekolah, dan suami berada di kantor, hingga ia punya cukup waktu untuk menyicil menyelesaikan naskah. Wah, kalau begitu, tak ada ‘istirahat pagi’ atau ‘tidur siang’ dong?! Begitu pikir saya seketika. Namun jawabnya, “Sambil menunggu mereka pulang, waktu yang ada musti dimanfaatkan sebaik-baiknya.”
Berusaha menjadi mandiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi, memang tak salah. Apalagi bila diri kita sanggup untuk membagi waktu sedemikian rupa hingga tak ada prioritas yang dikorbankan.
Kemudian bila hari telah siang dan kesemua anak telah berkumpul, sempatkan diri untuk menyebarkan perhatian dan kasih sayang itu kepada mereka. Yang kecil mungkin akan tertidur hingga sore tiba, dan mereka yang sudah sibuk dengan urusan sekolah dapat berkumpul bersama bunda-nya, menceritakan kejadian-kejadian apa yang dialami di sekolah, sampai urusan menyelesaikan pekerjaan rumah.
Ketika tiba waktu sore, kita bisa membebaskan mereka untuk bermain sebentar, dan mengajak adiknya yang kecil bersama bila memungkinkan, sementara kita menyiapkan diri untuk memasak makan malam dan menyambut suami. Bersihkan dan percantik diri, itu penting. Dengan tubuh yang segar, keletihan yang mungkin sudah menyerang sejak siang setidaknya bisa terobati sedikit. Bersantai sejenak sambil membaca buku, bisa juga dijadikan pilihan aktivitas untuk rehat.
Menjelang maghrib, ajak anak-anak untuk berkumpul sambil membaca doa-doa harian. Mungkin mereka juga akan sangat senang bila sang bunda berkenan membacakan cerita-cerita perjuangan para Nabi dan Sahabat, atau cerita penuh hikmah lainnya. Tentu hal ini pun bisa dilakukan menjelang mereka tidur. Bercerita atau mendongeng adalah salah satu bentuk komunikasi dan pembelajaran efektif untuk anak.
Dan ketika suami telah pulang, alangkah indahnya bila seluruh anggota keluarga dapat menunaikan shalat berjamaah, dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Sungguh, tak mudah menjadi seorang istri dan ibu, dan rasanya mustahil untuk mewujudkan mimpi menjadi ‘super mom’ atau ‘super wife’. Sekian aktivitas yang dipaparkan di atas tentunya akan menemui berbagai kendala, sesuai dengan kondisi masing-masing yang berbeda. Tetapi, tetap optimis dan berusaha untuk melakukan yang terbaik, juga suatu hal yang patut diperjuangkan. Bukankah kesibukan di rumah adalah salah satu bentuk jihad bagi kaum wanita?
Maka, bersemangatlah! Jangan jadikan peran mulia ini sebagai momen di mana kita biarkan degradasi keimanan menjadi godaan. Sambil menunggunya (mereka) pulang, tetapkan hati kita untuk tetap bisa meningkatkan kualitas diri!
Hadiah untuk semua yang telah jadi istri dan ibu
dh_devita@yahoo.com
Saya menemui banyak teman wanita yang sudah menikah, yang mengeluhkan hal-hal di atas. Mereka mengatakan bahwa banyak dari waktu mereka tersita untuk hanya mengurusi pernak-pernik rumah tangga, dari mulai urusan dapur, cuci-mencuci, membereskan rumah, melayani suami, dan menjaga anak hingga tertidur sampai larut malam. Tenaga dan pikiran sudah pasti terkuras. Dan ujungnya, pemaafan yang seringkali jadi senjata andalan untuk tidak lagi rajin membaca buku, perbanyak tilawah, dan melakukan ibadah sunnah lainnya.
Padahal menjadi seorang ibu dan istri membutuhkan kekuatan, tidak hanya dalam hal kekuatan fisik. Seorang ibu yang memiliki wawasan yang luas, akan menjadi ‘sekolah’ abadi bagi anak-anaknya kelak, dan kesalihahannya akan membentuk mereka menjadi seorang yang penuh dengan keimanan. Seorang istri yang memiliki kecerdasan, pastinya akan menjadi teman bicara dan bercurah hati yang sangat menyenangkan bagi suami. Pun ibadahnya yang terjaga, akan menjadikan suami bertambah sayang serta termotivasi untuk saling meningkatkan kualitas diri.
Masalahnya sekarang adalah pada keterampilan diri masing-masing wanita untuk memanajemen seluruh aktivitasnya. Sehingga tak lagi ada alasan ‘tak ada waktu’ atau ‘tidak sempat’. Tidak ada seorang ibu dan istri yang sempurna, namun kita semua bisa berusaha untuk mengoptimalkan tenaga yang ada, untuk tetap menjadikan diri ini ‘berseri’ tak hanya dari luarnya saja.
Saya mengenal seorang ibu muda yang telah memiliki empat orang anak. Usianya sendiri mungkin sekitar tiga puluhan. Ia seorang penulis yang cukup produktif, dan bahkan baru-baru ini telah mengeluarkan lagi buku terbarunya. Saya langsung tertarik untuk bertanya mengenai kiat-kiatnya dalam meluangkan waktu untuk menulis, sedangkan tiga orang anaknya telah sekolah. Saya membayangkan, betapa repotnya ia harus membagi waktunya untuk mereka. Salah satu kiat yang saya dapatkan adalah, menulis di waktu pagi hari sekitar pukul delapan hingga sebelas siang. Saat itu, ketiga anaknya sedang berada di sekolah, dan suami berada di kantor, hingga ia punya cukup waktu untuk menyicil menyelesaikan naskah. Wah, kalau begitu, tak ada ‘istirahat pagi’ atau ‘tidur siang’ dong?! Begitu pikir saya seketika. Namun jawabnya, “Sambil menunggu mereka pulang, waktu yang ada musti dimanfaatkan sebaik-baiknya.”
Berusaha menjadi mandiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi, memang tak salah. Apalagi bila diri kita sanggup untuk membagi waktu sedemikian rupa hingga tak ada prioritas yang dikorbankan.
Kemudian bila hari telah siang dan kesemua anak telah berkumpul, sempatkan diri untuk menyebarkan perhatian dan kasih sayang itu kepada mereka. Yang kecil mungkin akan tertidur hingga sore tiba, dan mereka yang sudah sibuk dengan urusan sekolah dapat berkumpul bersama bunda-nya, menceritakan kejadian-kejadian apa yang dialami di sekolah, sampai urusan menyelesaikan pekerjaan rumah.
Ketika tiba waktu sore, kita bisa membebaskan mereka untuk bermain sebentar, dan mengajak adiknya yang kecil bersama bila memungkinkan, sementara kita menyiapkan diri untuk memasak makan malam dan menyambut suami. Bersihkan dan percantik diri, itu penting. Dengan tubuh yang segar, keletihan yang mungkin sudah menyerang sejak siang setidaknya bisa terobati sedikit. Bersantai sejenak sambil membaca buku, bisa juga dijadikan pilihan aktivitas untuk rehat.
Menjelang maghrib, ajak anak-anak untuk berkumpul sambil membaca doa-doa harian. Mungkin mereka juga akan sangat senang bila sang bunda berkenan membacakan cerita-cerita perjuangan para Nabi dan Sahabat, atau cerita penuh hikmah lainnya. Tentu hal ini pun bisa dilakukan menjelang mereka tidur. Bercerita atau mendongeng adalah salah satu bentuk komunikasi dan pembelajaran efektif untuk anak.
Dan ketika suami telah pulang, alangkah indahnya bila seluruh anggota keluarga dapat menunaikan shalat berjamaah, dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Sungguh, tak mudah menjadi seorang istri dan ibu, dan rasanya mustahil untuk mewujudkan mimpi menjadi ‘super mom’ atau ‘super wife’. Sekian aktivitas yang dipaparkan di atas tentunya akan menemui berbagai kendala, sesuai dengan kondisi masing-masing yang berbeda. Tetapi, tetap optimis dan berusaha untuk melakukan yang terbaik, juga suatu hal yang patut diperjuangkan. Bukankah kesibukan di rumah adalah salah satu bentuk jihad bagi kaum wanita?
Maka, bersemangatlah! Jangan jadikan peran mulia ini sebagai momen di mana kita biarkan degradasi keimanan menjadi godaan. Sambil menunggunya (mereka) pulang, tetapkan hati kita untuk tetap bisa meningkatkan kualitas diri!
Hadiah untuk semua yang telah jadi istri dan ibu
dh_devita@yahoo.com
Kangen Berat....
Uh,...baru ditinggal 3 hari aja udah kangen berat gini...hiks
Gimana kalo berbulan-bulan ya?
Ayo, Vit! Semangat, donk!!!!
*cheering up myself...*
hunn, cepet pulang dong...
Gimana kalo berbulan-bulan ya?
Ayo, Vit! Semangat, donk!!!!
*cheering up myself...*
hunn, cepet pulang dong...
Menjadi Pilar
Bukan tak mungkin ada seseorang yang tak bisa menjadi pilar. Keberadaannya yang diharapkan dapat menjadi penyangga yang tangguh bagi atap di atasnya, dan juga mengokohkan tiap jengkal bahan baku yang menyelimutinya, adalah sia-sia bila si pilar tak bersedia untuk berdiri.
Pilar itu adalah kekuatan. Bayangkan saja, ia harus berdiri tegak sepanjang bangunan itu ada. Bayangkan saja, bila sebuah pilar harus permisi dan mengundurkan diri barang sedetik, maka tak ayal bangunan itu harus rela kehilangan satu penopangnya dan perlahan menjadi rapuh. Mudah runtuh. Sebab, pilar adalah penahan segala dan penguat tegaknya.
Pilar adalah kegagahan. Walaupun keberadaannya tertutup oleh lapisan batu, semen, cat, dan sekian banyak lagi yang menyembunyikan perannya. Ia pun menyendiri, walau tak mungkin pula hanya sebuah yang berdiri, namun tetap sepi. Sebab tegaknya yang gagah itu tak berada berhimpitan. Hingga tak heran, bila ia kesepian. Tugasnya seolah ia laksanakan seorang diri, padahal tak sedikit pilar-pilar lain yang merasakan hal yang sama.
Tak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin? Memang benar. Tapi ternyata tak juga semua bisa menjadi seorang anggota. Menjadi pemimpin yang memberikan instruksi dan perintah memang tak mudah, sebab ia pun harus mengatur dan mengendalikan sekian banyak orang di bawahnya. Tetapi, ternyata tak kalah sulitnya menjadi seorang yang tugasnya menjalankan perencanaan yang telah dibuat dan menguatkan barisan agar makin melangkah maju ke depan. Tak kalah sulitnya, bahkan untuk mengatasi sebuah kejenuhan akan tugas-tugas yang terasa membosankan, butuh sebuah kekuatan.
Menjadi pilar, adalah menjadi penentu kuat rapuhnya sebuah bangunan. Bila ia enggan berdiri, maka tak mungkin lah bangunan tersebut dapat berdiri gagah dan indah. Bila ia bosan dan memutuskan untuk lari, maka bangunan itu akan kehilangan keseimbangan, goyah, dan bisa-bisa hancur rubuh terpecah-pecah. Jadi, bukankah menjadi sebuah pilar adalah menjadi sebuah kekuatan besar? Pilar yang tak gentar melawan hingar bingar cobaan yang menghajar, akan dengan setia menyandang sampai bangunan itu tak diperlukan lagi ada. Namun pilar yang selalu kalut dan takut menghadapi angin ribut, akan dengan mudah minggir atau terpinggirkan.
Setiap diri kita adalah seumpama sebuah pilar. Di manapun kita berada, pasti akan berhadapan dengan seseorang lain yang menjadi pemimpin dan bertugas mengarahkan gerak yang kita lakukan, juga bersinggungan dengan sekian aturan dan perencanaan-perencanaan untuk setiap aktivitas keseharian. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kampus, di tempat kerja....
Menjadi pilar adalah bertahan. Ketika pondasi yang terletak menginginkan kekokohan penyangga, ketika rangka dan bahan baku lainnya membutuhkannya sebagai penunjang terwujudnya keindahan, ketika atap yang menaungi tak mungkin terbentang tanpa ditopang olehnya. Dan harus tetap tegak walau tak disokong oleh kualitas kulit luar dan bahan baku yang baik, walau kian banyak keropos yang menggerogoti tubuh bangunan.
Mengalami kejenuhan akan aktivitas keseharian yang lama-lama terasa monoton, adalah suatu hal yang biasa. Sukses mengatasinya dan tidak menyerah begitu saja terhadap kejenuhan, barulah luar biasa. Seringkali, seseorang yang tak memiliki daya tahan yang kuat terhadap rasa jenuh, memilih untuk pergi meninggalkan segala tugas-tugasnya atau rutinitas yang dirasa membosankan itu, untuk mendapatkan sesuatu hal yang baru. Bukan semata-mata untuk mencari sebuah tantangan, melainkan menyerah sebab tak menemukan cara untuk bertahan. Bila saja mau meluangkan waktu untuk mengasah diri ini menjadi lebih kreatif, maka tiap jenak kebosanan itu akan digantikan oleh berbagai ragam aktivitas lainnya, sebagai penawar. Menjadikan kegiatan-kegiatan sampingan selain aktivitas rutin, seperti mengikuti sebuah organisasi sosial dan melakukan aktivitas yang digemari, sebagai ‘obat’ bagi rasa jenuh yang selalu berusaha ‘mematahkan’ semangat diri kita untuk menyelesaikan tugas dengan baik.
Bertahan sebagai seorang anggota dengan berbagai keterbatasannya memang tidak mudah. Diri kita akan dibatasi oleh berbagai aturan, sejumlah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, dan berbagai hal lain yang seakan mengekang kebebasan untuk berekspresi sekehendak hati. Tetapi, bukankah di setiap jalan kehidupan membutuhkan aturan untuk memastikannya berjalan lancar minim hambatan? Dan bukankah aturan-aturan tersebut akan membantu anggota yang satu dengan yang lainnya agar mudah berkomunikasi dan bekerja sama? Menjadi sebuah pilar, tidaklah ringan sebab ia memegang peranan penting. Dan sesungguhnya setiap diri kita adalah seorang pilar bagi setiap komunitas kecil maupun besar yang kita masuki.
Maka, seberapa kuatkah ‘model’ pilar yang kita mainkan bagi sebuah bangunan yang sedang kita topang?
Untuk teman-teman tersayang dan diri sendiri
dh_devita@yahoo.com
Pilar itu adalah kekuatan. Bayangkan saja, ia harus berdiri tegak sepanjang bangunan itu ada. Bayangkan saja, bila sebuah pilar harus permisi dan mengundurkan diri barang sedetik, maka tak ayal bangunan itu harus rela kehilangan satu penopangnya dan perlahan menjadi rapuh. Mudah runtuh. Sebab, pilar adalah penahan segala dan penguat tegaknya.
Pilar adalah kegagahan. Walaupun keberadaannya tertutup oleh lapisan batu, semen, cat, dan sekian banyak lagi yang menyembunyikan perannya. Ia pun menyendiri, walau tak mungkin pula hanya sebuah yang berdiri, namun tetap sepi. Sebab tegaknya yang gagah itu tak berada berhimpitan. Hingga tak heran, bila ia kesepian. Tugasnya seolah ia laksanakan seorang diri, padahal tak sedikit pilar-pilar lain yang merasakan hal yang sama.
Tak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin? Memang benar. Tapi ternyata tak juga semua bisa menjadi seorang anggota. Menjadi pemimpin yang memberikan instruksi dan perintah memang tak mudah, sebab ia pun harus mengatur dan mengendalikan sekian banyak orang di bawahnya. Tetapi, ternyata tak kalah sulitnya menjadi seorang yang tugasnya menjalankan perencanaan yang telah dibuat dan menguatkan barisan agar makin melangkah maju ke depan. Tak kalah sulitnya, bahkan untuk mengatasi sebuah kejenuhan akan tugas-tugas yang terasa membosankan, butuh sebuah kekuatan.
Menjadi pilar, adalah menjadi penentu kuat rapuhnya sebuah bangunan. Bila ia enggan berdiri, maka tak mungkin lah bangunan tersebut dapat berdiri gagah dan indah. Bila ia bosan dan memutuskan untuk lari, maka bangunan itu akan kehilangan keseimbangan, goyah, dan bisa-bisa hancur rubuh terpecah-pecah. Jadi, bukankah menjadi sebuah pilar adalah menjadi sebuah kekuatan besar? Pilar yang tak gentar melawan hingar bingar cobaan yang menghajar, akan dengan setia menyandang sampai bangunan itu tak diperlukan lagi ada. Namun pilar yang selalu kalut dan takut menghadapi angin ribut, akan dengan mudah minggir atau terpinggirkan.
Setiap diri kita adalah seumpama sebuah pilar. Di manapun kita berada, pasti akan berhadapan dengan seseorang lain yang menjadi pemimpin dan bertugas mengarahkan gerak yang kita lakukan, juga bersinggungan dengan sekian aturan dan perencanaan-perencanaan untuk setiap aktivitas keseharian. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kampus, di tempat kerja....
Menjadi pilar adalah bertahan. Ketika pondasi yang terletak menginginkan kekokohan penyangga, ketika rangka dan bahan baku lainnya membutuhkannya sebagai penunjang terwujudnya keindahan, ketika atap yang menaungi tak mungkin terbentang tanpa ditopang olehnya. Dan harus tetap tegak walau tak disokong oleh kualitas kulit luar dan bahan baku yang baik, walau kian banyak keropos yang menggerogoti tubuh bangunan.
Mengalami kejenuhan akan aktivitas keseharian yang lama-lama terasa monoton, adalah suatu hal yang biasa. Sukses mengatasinya dan tidak menyerah begitu saja terhadap kejenuhan, barulah luar biasa. Seringkali, seseorang yang tak memiliki daya tahan yang kuat terhadap rasa jenuh, memilih untuk pergi meninggalkan segala tugas-tugasnya atau rutinitas yang dirasa membosankan itu, untuk mendapatkan sesuatu hal yang baru. Bukan semata-mata untuk mencari sebuah tantangan, melainkan menyerah sebab tak menemukan cara untuk bertahan. Bila saja mau meluangkan waktu untuk mengasah diri ini menjadi lebih kreatif, maka tiap jenak kebosanan itu akan digantikan oleh berbagai ragam aktivitas lainnya, sebagai penawar. Menjadikan kegiatan-kegiatan sampingan selain aktivitas rutin, seperti mengikuti sebuah organisasi sosial dan melakukan aktivitas yang digemari, sebagai ‘obat’ bagi rasa jenuh yang selalu berusaha ‘mematahkan’ semangat diri kita untuk menyelesaikan tugas dengan baik.
Bertahan sebagai seorang anggota dengan berbagai keterbatasannya memang tidak mudah. Diri kita akan dibatasi oleh berbagai aturan, sejumlah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, dan berbagai hal lain yang seakan mengekang kebebasan untuk berekspresi sekehendak hati. Tetapi, bukankah di setiap jalan kehidupan membutuhkan aturan untuk memastikannya berjalan lancar minim hambatan? Dan bukankah aturan-aturan tersebut akan membantu anggota yang satu dengan yang lainnya agar mudah berkomunikasi dan bekerja sama? Menjadi sebuah pilar, tidaklah ringan sebab ia memegang peranan penting. Dan sesungguhnya setiap diri kita adalah seorang pilar bagi setiap komunitas kecil maupun besar yang kita masuki.
Maka, seberapa kuatkah ‘model’ pilar yang kita mainkan bagi sebuah bangunan yang sedang kita topang?
Untuk teman-teman tersayang dan diri sendiri
dh_devita@yahoo.com
Thursday, March 03, 2005
Menggoreskan Cinta (di Munas I FLP)
Perasaan dan kedekatan pada seseorang biasanya akan muncul ketika ada suatu hal berkesan yang kita alami bersama dengan orang tersebut maupun tidak. Setiap orang berbeda mengalaminya. Ada yang merasakan ikatan hati ketika sudah menjalani tahun-tahun persahabatan, ada yang merasakannya seketika saat mengalami sebuah kejadian, ada pula yang begitu awal bertemu langsung terpaut hati.
Saya sendiri, pernah mengalami kesemuanya terhadap teman-teman yang saya miliki sekarang.
Akhir pekan kemarin, saat harus melewati weekend di Kaliurang, Yogyakarta. Momen yang tidak bisa dinikmati sebagai liburan, melainkan dua hari tak cukup tidur untuk menuntaskan tugas sebagai delegasi FLP Cabang Bekasi. Saya bertemu dengan banyak sekali orang, semuanya adalah penulis. Sebagian di antaranya adalah nama-nama yang sudah dikenal oleh peminat sastra dan fiksi Islami. Sebagian lagi adalah mereka yang sudah produktif menulis dan berprestasi pula. Sebagian lagi adalah para pengurus Forum Lingkar Pena berbagai cabang dan wilayah di seluruh Indonesia, dan juga perwakilan FLP dari luar negeri. Mereka semua orang-orang hebat, tidak saya ragukan lagi. Berjuang dengan pena, begitu istilahnya. Dan saya selalu jatuh hati dengan semangat yang saya dapatkan sejak bergabung dengan mereka, setiap kali melihat raut-raut penuh hasrat untuk makin mengibarkan komunitas tercinta ini.
Ramah dan hangat, adalah yang saya rasakan sejak tiba di Kaliurang. Padahal hanya beberapa orang yang saya kenal cukup dekat. Tapi di mata mereka semua ada cinta, dan sepertinya ia menyebarkan hangatnya ke semua. Saya sekamar dengan Muttaqwiati, seorang penulis yang sudah produktif sejak lama dan baru saja launching buku terbarunya. Mbak Titaq, begitu kami memanggilnya, langsung akrab menyapa saya dan mbak Rahma dengan sebutan ‘Dek’. Keakraban yang langsung terjalin walau belum lah banyak perbincangan di antara kami. Satu orang lagi teman sekamar saya adalah mbak Rofiah, perwakilan FLP dari Hongkong. Sosok yang selalu membuat saya kagum sejak menyaksikannya menerima anugerah PENA AWARDS untuk kategori FLP Wilayah terpuji. Sederhana, dan tutur kata serta binar matanya menyiratkan nyala semangat.
Saya bertemu Helvy Tiana Rosa, di ruang makan. Ketika itu saya dan satu orang delegasi dari FLP Bekasi sedang menikmati santap malam sebelum acara dimulai. Sedikit terkejut, saat tiba-tiba beliau menarik kursi di sebelah saya dan langsung duduk sambil tersenyum lebar. Saya membalas senyum dan menegurnya. Awalnya saya pikir ia tak mungkin ingat siapa kami berdua. Wajar saja, sebab tak seratus-dua ratus orang pastinya yang telah ia jumpai di acara-acara semacam ini. Namun ternyata perkiraan saya salah.
Saya merasakan hangatnya seorang Pipiet Senja, yang tiap kali bertemu dengannya saya selalu merasakan betapa ia bisa menularkan virus cinta dan semangat bagi tiap ‘adik-adiknya’ di forum ini. Sosok tegar nan ramah, dengan segenap latar dirinya yang saya tangkap bulat-bulat saat ia tiba-tiba saja bercerita mengenai seluk dalam hati dan pikirnya yang tak saya ketahui sebelumnya. Saya nyaris terperangah sambil berusaha mengeluarkan ekspresi serta kata-kata yang tepat. Belum tuntas usaha saya memahami apa yang baru saja saya dengar darinya, dan pelukan hangat serta ciuman di kedua pipi secepat kilat menggentarkan hati saya. Ah, teh, bukankah seharusnya saya yang memberikannya padamu?
Berjam-jam di sana kami lewati tanpa lepas dari lelah. Rasanya begitu banyak hal yang harus diselesaikan, dan tidak lah sempat untuk bersenang-senang menikmati libur akhir pekan. Dua hari memang waktu yang tak lama, dan ia menjadi titik tolak perjalanan forum yang kami cintai ini.
Ketegangan terjadi hampir di sepanjang perjalanan sidang-sidang komisi, pleno, serta pemilihan. Wajah-wajah nyaris kuyu dan lusuh namun binar cinta itu masih membayang di pelupuk mata para peserta. Dinginnya udara Kaliurang mulai sejak pagi hingga malam yang meninggi tak juga menghentikan pembahasan demi pembahasan yang seolah tiada habisnya. Pengarahan, komentar, argumentasi, celetukan ringan, gelak tawa, sorak-sorai saat ice breaking –yang diadakan secara spontan-menengahi letih yang terus menyerang padahal belum usai tugas kami malam itu. Kelelahan itu rasanya terbayar seketika saya menyaksikan kesungguhan semua delegasi mengikuti acara hingga dini hari. Mata yang semakin berat berkali-kali kembali segar mendapati seorang Izzatul Jannah seakan tak ada letihnya meneliti dan mengoreksi draft panjang itu. Kantuk pun tersentak berulang kali ketika telinga ini menangkap sanggahan penuh semangat dari peserta. Pertemuan itu, menggoreskan sedih dan sedikit sesal di hati saya, sebab tak banyak hal yang dapat saya bawa dan tuangkan dalam sekian sidang yang saya hadiri.
Gemas rasanya, sebab hampir dua hari di sana namun saya tak berhasil mengenal satu per satu dari mereka, orang-orang hebat yang ingin sekali saya masukkan ke dalam lingkaran terdalam dari hidup saya. Mereka yang seolah menjadikan kecintaan terhadap FLP sebagai nafas yang tak henti.
Munas I Forum Lingkar Pena telah lewat. Masing-masing delegasi telah membawa pulang dalam hati dan pikiran mereka sebentuk cinta yang telah tertanam, saya yakin. Perkenalan-perkenalan singkat itu memang rasanya tak mampu menyimpan semua kesan ke dalam memori. Namun tatap ramah, senyum, suara bersemangat yang senantiasa mewarnai dua hari saya di Kaliurang, membuat saya merasakan bahwa ikatan ini telah terjalin sejak lama. Rasanya pertemuan kali itu bukanlah yang pertama. Ah, mereka memang seperti magnet yang ‘memaksa’ saya untuk menggoreskan cinta. Bukan hanya menengadahkan tangan menerima.
2 Maret 2005
Mengenang dua hari di Kaliurang
Saya sendiri, pernah mengalami kesemuanya terhadap teman-teman yang saya miliki sekarang.
Akhir pekan kemarin, saat harus melewati weekend di Kaliurang, Yogyakarta. Momen yang tidak bisa dinikmati sebagai liburan, melainkan dua hari tak cukup tidur untuk menuntaskan tugas sebagai delegasi FLP Cabang Bekasi. Saya bertemu dengan banyak sekali orang, semuanya adalah penulis. Sebagian di antaranya adalah nama-nama yang sudah dikenal oleh peminat sastra dan fiksi Islami. Sebagian lagi adalah mereka yang sudah produktif menulis dan berprestasi pula. Sebagian lagi adalah para pengurus Forum Lingkar Pena berbagai cabang dan wilayah di seluruh Indonesia, dan juga perwakilan FLP dari luar negeri. Mereka semua orang-orang hebat, tidak saya ragukan lagi. Berjuang dengan pena, begitu istilahnya. Dan saya selalu jatuh hati dengan semangat yang saya dapatkan sejak bergabung dengan mereka, setiap kali melihat raut-raut penuh hasrat untuk makin mengibarkan komunitas tercinta ini.
Ramah dan hangat, adalah yang saya rasakan sejak tiba di Kaliurang. Padahal hanya beberapa orang yang saya kenal cukup dekat. Tapi di mata mereka semua ada cinta, dan sepertinya ia menyebarkan hangatnya ke semua. Saya sekamar dengan Muttaqwiati, seorang penulis yang sudah produktif sejak lama dan baru saja launching buku terbarunya. Mbak Titaq, begitu kami memanggilnya, langsung akrab menyapa saya dan mbak Rahma dengan sebutan ‘Dek’. Keakraban yang langsung terjalin walau belum lah banyak perbincangan di antara kami. Satu orang lagi teman sekamar saya adalah mbak Rofiah, perwakilan FLP dari Hongkong. Sosok yang selalu membuat saya kagum sejak menyaksikannya menerima anugerah PENA AWARDS untuk kategori FLP Wilayah terpuji. Sederhana, dan tutur kata serta binar matanya menyiratkan nyala semangat.
Saya bertemu Helvy Tiana Rosa, di ruang makan. Ketika itu saya dan satu orang delegasi dari FLP Bekasi sedang menikmati santap malam sebelum acara dimulai. Sedikit terkejut, saat tiba-tiba beliau menarik kursi di sebelah saya dan langsung duduk sambil tersenyum lebar. Saya membalas senyum dan menegurnya. Awalnya saya pikir ia tak mungkin ingat siapa kami berdua. Wajar saja, sebab tak seratus-dua ratus orang pastinya yang telah ia jumpai di acara-acara semacam ini. Namun ternyata perkiraan saya salah.
Saya merasakan hangatnya seorang Pipiet Senja, yang tiap kali bertemu dengannya saya selalu merasakan betapa ia bisa menularkan virus cinta dan semangat bagi tiap ‘adik-adiknya’ di forum ini. Sosok tegar nan ramah, dengan segenap latar dirinya yang saya tangkap bulat-bulat saat ia tiba-tiba saja bercerita mengenai seluk dalam hati dan pikirnya yang tak saya ketahui sebelumnya. Saya nyaris terperangah sambil berusaha mengeluarkan ekspresi serta kata-kata yang tepat. Belum tuntas usaha saya memahami apa yang baru saja saya dengar darinya, dan pelukan hangat serta ciuman di kedua pipi secepat kilat menggentarkan hati saya. Ah, teh, bukankah seharusnya saya yang memberikannya padamu?
Berjam-jam di sana kami lewati tanpa lepas dari lelah. Rasanya begitu banyak hal yang harus diselesaikan, dan tidak lah sempat untuk bersenang-senang menikmati libur akhir pekan. Dua hari memang waktu yang tak lama, dan ia menjadi titik tolak perjalanan forum yang kami cintai ini.
Ketegangan terjadi hampir di sepanjang perjalanan sidang-sidang komisi, pleno, serta pemilihan. Wajah-wajah nyaris kuyu dan lusuh namun binar cinta itu masih membayang di pelupuk mata para peserta. Dinginnya udara Kaliurang mulai sejak pagi hingga malam yang meninggi tak juga menghentikan pembahasan demi pembahasan yang seolah tiada habisnya. Pengarahan, komentar, argumentasi, celetukan ringan, gelak tawa, sorak-sorai saat ice breaking –yang diadakan secara spontan-menengahi letih yang terus menyerang padahal belum usai tugas kami malam itu. Kelelahan itu rasanya terbayar seketika saya menyaksikan kesungguhan semua delegasi mengikuti acara hingga dini hari. Mata yang semakin berat berkali-kali kembali segar mendapati seorang Izzatul Jannah seakan tak ada letihnya meneliti dan mengoreksi draft panjang itu. Kantuk pun tersentak berulang kali ketika telinga ini menangkap sanggahan penuh semangat dari peserta. Pertemuan itu, menggoreskan sedih dan sedikit sesal di hati saya, sebab tak banyak hal yang dapat saya bawa dan tuangkan dalam sekian sidang yang saya hadiri.
Gemas rasanya, sebab hampir dua hari di sana namun saya tak berhasil mengenal satu per satu dari mereka, orang-orang hebat yang ingin sekali saya masukkan ke dalam lingkaran terdalam dari hidup saya. Mereka yang seolah menjadikan kecintaan terhadap FLP sebagai nafas yang tak henti.
Munas I Forum Lingkar Pena telah lewat. Masing-masing delegasi telah membawa pulang dalam hati dan pikiran mereka sebentuk cinta yang telah tertanam, saya yakin. Perkenalan-perkenalan singkat itu memang rasanya tak mampu menyimpan semua kesan ke dalam memori. Namun tatap ramah, senyum, suara bersemangat yang senantiasa mewarnai dua hari saya di Kaliurang, membuat saya merasakan bahwa ikatan ini telah terjalin sejak lama. Rasanya pertemuan kali itu bukanlah yang pertama. Ah, mereka memang seperti magnet yang ‘memaksa’ saya untuk menggoreskan cinta. Bukan hanya menengadahkan tangan menerima.
2 Maret 2005
Mengenang dua hari di Kaliurang
Subscribe to:
Posts (Atom)