Halaman

Thursday, May 12, 2005

Bila Harus Kehilangan...

Seringkali sesuatu yang tadinya menjadi milik kita, atau sesuatu yang berada dekat dengan diri kita, menjadi begitu berharga ketika ia telah pergi, meninggalkan diri kita. Entah itu karena dipaksa, terpaksa, atau dengan sukarela. Seringkali, ketika ia masih menjadi bagian dalam hidup kita, ia tak mendapatkan penghargaan selayaknya, atau setidaknya mendapatkan perhatian cukup dari diri kita. Namun, bila ia telah pergi atau hilang, rasanya penyesalan yang terasa tak kan berkesudahan.

Contoh paling sederhana adalah ketika kita jatuh sakit, seringan atau seberat apapun, pastinya kita akan merindukan masa-masa ketika sehat. Betapa menderitanya bila harus menanggung sakit, sedangkan kita menyaksikan orang lain yang sehat dapat beraktivitas dengan optimal tanpa terganggu. Mungkin saja, ketika penyakit itu belum menghampiri, kita sering lupa untuk mensyukuri, betapa nikmat sehat itu mahal harganya.

Saat kedua orangtua masih menunggu kita pulang ke rumah, menjadi tempat berbagi yang setia, yang selalu siap mencurahkan segenap kasih sayang mereka dan memberikan segalanya untuk diri kita, kita tak menyadari bahwa ketika kelak mereka telah tiada, kita baru akan merasakan bahwa keberadaan mereka tak tergantikan.

Memiliki teman sungguh menyenangkan, dan masing-masing dari mereka pastinya meninggalkan bekas tersendiri dalam benak kita. Terhadap seorang teman dekat, kita mungkin berpikir bahwa senang sekali bila kebersamaan dengannya dapat terjaga sampai kapanpun. Namun kehidupan menjalankan skenario yang seringkali tak terduga. Kita tak akan pernah menyangka, kapan kebersamaan itu akan ternoda bahkan rusak oleh sesuatu yang menggangu dari luar, ataupun yang timbul dari dalam diri masing-masing. Atau perpisahan harus terjadi oleh sebab lainnya.

Bergelimang harta kekayaan tak selamanya akan membuat hidup seseorang menjadi tenang. Bahkan berbagai kekhawatiran akan muncul, dan kerap meresahkan. Takut kehilangan, sebab sekian banyak harta yang dimiliki telah dikumpulkan susah payah, dengan cara apapun. Demikian juga dengan keluarga, anak-anak dan istri atau suami. Mereka semua ibaratnya permata yang ingin selalu dijaga. Bayangkan, apabila suatu saat musibah datang, dan kita harus kehilangan salah satu atau bahkan semua.

Seringkali seorang manusia yang tidak bisa menghargai apa yang telah diamanahkan untuk menjadi miliknya, akan menyesal sejadi-jadinya bila kelak ia kehilangan sesuatu tersebut. Penyesalan itu berbuahkan air mata tak habis-habis serta kesal yang berkepanjangan, bahkan tak jarang yang lantas menyalahkan takdir bahkan menuding ketidakadilan Tuhan sebagai penyebab. Padahal Allah memberikan serta mencabut sesuatu dari kehidupan kita pasti disertai maksud dan tujuan di baliknya. Bila kita mau merenungkan segala kejadian yang dialami, lautan hikmah yang akan kita temui. Pasti terdapat hikmah besar di balik setiap peristiwa yang kita alami. Apakah itu akan membuat kita semakin dekat dengan-Nya, ataukah semakin jauh, hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Seseorang yang berusaha demikian keras untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, baik dengan ‘menguncinya’ rapat-rapat, menyembunyikannya supaya tak hilang, atau menyewa sekian banyak bodyguard demi menyelamatkan harta miliknya itu, tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa bila harus kehilangan. Entah dengan cara apapun kehilangan itu terjadi.

Maka, bila kita harus kehilangan, apapun yang kita cintai, relakanlah ia. Sebab mungkin saja Allah mengambilnya dari kita sebab akan digantikan oleh yang lebih baik lagi. Yang jelas, Sang Khalik pasti memiliki rencana tersendiri bagi setiap hamba-Nya. Apa yang menurut diri kita baik, belum tentu itu yang terbaik di hadapan Allah. Dan sebaliknya, apa yang kita tidak sukai, bisa jadi itu adalah yang terbaik dari Allah dan sesuai dengan yang kita butuhkan.

Sesungguhnya segala sesuatu yang berada dalam ‘genggaman’ kita, bukanlah milik kita sepenuhnya. Mereka hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh Sang Pemilik, kapanpun bila Ia berkehendak. Bila saat itu tiba, kita tidak akan berdaya untuk menahannya barang sedetikpun.


Image hosted by Photobucket.com

[to dear friends, yang sudah dan akan 'meninggalkanku' dalam 2 bulan ini]

Menurutku Penting, Menurutnya Bagaimana?

Kadangkala, sebuah rumah tangga bisa retak bahkan hancur berakhir dengan perceraian hanya oleh sebab permasalahan yang sepele. Hal kecil yang dibesar-besarkan, atau hal besar yang dianggap kecil. Sebagian berkasus adanya perbedaan pendapat dan perbedaan sudut pandang mengenai suatu permasalahan. Suasana yang tadinya adem ayem, bisa berubah menjadi perang dingin gara-gara ‘salah tangkap’ terhadap perkataan si pasangan. Kericuhan kecil itu bisa berbuahkan macam-macam. Saling mentertawakan ‘ketidaknyambungan’ masing-masing, atau bahkan berakhir dengan pertengkaran. Kalau yang terakhir ini, seringkali menjadi sad ending. Tak enak tentunya.

Banyak pakar kerumahtanggaan, atau konsultan perkawinan, sampai sesepuh yang telah banyak makan asam garam menyatakan, bahwa inti dari semuanya adalah masalah komunikasi. Bagaimana sepasang suami istri dapat menyatakan sikap dan pendapatnya dengan cara yang baik, pada waktu yang tepat. Seringkali, antara keduanya tidak match, alias tidak nyambung. Memang sulit, ketika permasalahan muncul, mungkin salah satu dari keduanya sedang mengalami bad mood dan tak tepat tentu bila harus menambah lagi beban perasaan dan pikiran padanya. Tetapi rasanya masalah itu demikian mendesak, hingga tak sabar untuk segera diungkapkan. Mulailah pembicaraan itu dilakukan dengan sedikit bumbu emosi, hingga ‘lupa’ akan kata-kata santun dan cara yang baik itu tadi. Ujung-ujungnya, bila lawan bicara tidak mengupayakan kesabaran dan kelegaan hati, pesan yang ingin disampaikan malah berbalik menjadi adu mulut. Pesan tak sampai, pertengkaran dituai. Habis mau bagaimana, sudah kadung emosi, jadinya mencak-mencak saja. Begitu apologinya.

Sedikit banyak, cara berpikir atau sudut pandang seorang pria dalam memandang sebuah permasalahan, bisa berbeda dari seorang wanita. Hal-hal yang dianggap begitu berarti dan meninggalkan kesan bagi seorang wanita, seringkali tak dipandang sebelah mata pun oleh seorang pria. Artinya, bagi mereka, hal-hal kecil tersebut tidak dianggap sebagai hal utama yang harus menguras hati dan pikiran. Sebab masih banyak hal-hal lain yang menempati prioritas tersebut. Contohnya, bagi seorang suami, memikirkan bagaimana caranya untuk menghemat pengeluaran ketika akan membetulkan genting rumah yang rusak, akan menempati sisi ruang pikirannya ketimbang bagaimana perasaan seorang istri yang merasa kesal, letih, dan mengeluhkan perasaannya ketika harus mengepel sendirian saat air bocoran atap menggenang di tiap sudut rumah. Seringkali, seorang pria memaknai suatu permasalahan dengan logikanya; di mana letak kesalahan, bagaimana cara memperbaiki, masuk akal atau tidak, seberapa penting urusan itu, dan sebagainya. Sedangkan wanita, sering memaknainya dengan perasaan dan hati; betapa sakit atau sedihnya ketika mengalami suatu kesulitan, seberapa besar kesan yang berbekas dari sebuah kejadian, apa yang dirasakan ketika sebuah pekerjaan dilakukan, dan lain-lain. Tidak selalu memang, tetapi hal ini seringkali dialami. Akibatnya, ada hal-hal yang terasa ‘tidak nyambung’ ketika suatu permasalahan (baik kecil maupun besar) terkuak dan harus segera diselesaikan.

Hal tersebut memang tidak bisa digeneralisasi, walaupun banyak penelitian membuktikannya dengan berbagai studi kasus. Sebab, setiap manusia memang diciptakan Allah dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Mengapa perbedaan tersebut ada pada diri tiap pria dan wanita, adalah karena Allah menciptakan dua makhluk tersebut untuk saling melengkapi dan saling menentramkan. Kelebihan yang ada pada diri seorang pria, akan dapat menutupi dan melengkapi kekurangan yang ada pada diri seorang wanita, dan sebaliknya. Bila dikatakan seorang pria berasal dari Planet Mars, hingga mereka terkesan begitu ‘asing’ bagi seorang wanita, mungkin agak terlalu berlebihan adanya. Malah bisa jadi, ungkapan tersebut akan ‘mendorong’ otak dan hati kita untuk berpikir macam-macam dan mencari-cari sisi perbedaan dari lawan jenis atau pasangan kita. Yang akhirnya akan timbul, adalah perasaan nelangsa bahwa harus menghadapi perbedaan itu seumur hidup.

Mengapa tak utamakan saja berpikiran positif? Bahwa ketika ‘konflik kecil’ muncul akibat perbedaan cara berpikir itu, masing-masing bisa menjelaskan alasan dari pernyataan sikapnya. Menjelaskan manfaat dan mudharat-nya, sehingga bisa dilihat, mana argumen yang lebih baik, yang bisa diterima dan dilaksanakan. Apalagi bila menyangkut urusan rumah tangga. Menyelesaikan konflik dengan emosi hanya akan menimbulkan perdebatan panjang yang tidak akan membawa hasil yang baik bagi keduanya. Sebab bila emosi sudah muncul, maka amarah akan mudah untuk tersulut, dan bila api sudah menyala besar, maka sangat sulit untuk meredamnya. Mendahulukan kelapangan hati untuk menerima segala pendapat yang dikeluarkan pasangan, untuk kemudian sama-sama merundingkan dan memikirkannya dengan baik, adalah langkah yang bijaksana. Sehingga keduanya bisa saling memberikan masukan positif dan diterima dengan baik, tentunya dengan memperhatikan cara penyampaian dan waktu yang tepat. Memang tak mudah, sebab untuk melakukannya diperlukan pertimbangan cermat akan kondisi hati dan fisik pasangan. Saat ia lelah dan kelihatan sedang menanggung beban berat, bukan gerutuan dan keluh panjang yang ia butuhkan. Sepertinya memang diperlukan kemauan kuat untuk dapat mengatur diri dalam menghadapi segala situasi ketika masalah itu muncul. Menahan diri untuk tidak menyampaikannya sampai kondisi benar-benar memungkinkan, akan jauh lebih efektif dibandingkan langsung ‘dimuntahkan’ ditambah emosi pula. Bila dalam pekerjaan dan aktivitas keseharian kita dapat berlaku efektif, mengapa sulit untuk mengusahakannya demi kelancaran berkomunikasi dengan pasangan?

Segalanya memang keluar dari hati, dan dasarnya adalah keimanan. Ketaqwaan dan kedekatan diri pada Allah akan menjadikan diri ini lebih bersabar dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu. Bukankan setan memang selalu ada untuk menggoda manusia? Ia tak akan henti-hentinya menghembus-hembuskan kebencian dan kedengkian, hanya untuk merusak hubungan yang telah terjalin indah, berdasarkan cinta karena-Nya. Dan kita tak boleh lupa, bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia.

Image hosted by Photobucket.com



Mulailah dengan mengintrospeksi diri masing-masing, melihat lebih dalam pada suatu hal yang ingin dibicarakan dengan pasangan. Pahami bahwa setiap diri kita memiliki sifat yang berbeda, dan perbedaan itu seharusnya dapat menjadi sebuah kebaikan sebab akan dapat saling melengkapi. Proses mengetahui dan memahami karakter dan sifat pasangan adalah proses pengenalan yang akan berlaku sepanjang masa. Membuka dengan lapang hati dan pikiran sehingga komunikasi berjalan lancar, akan berbuahkan rasa cinta yang besar dan rasa saling membutuhkan. Sehingga perkataan “menurutku penting, menurutnya bagaimana”, yang biasanya diungkapkan ketika sedang curhat kepada teman-teman dekat, akan berganti menjadi “menurutku penting, menurutmu bagaimana”. Buka keran komunikasi itu selebar-lebarnya dengan pasangan, supaya ia tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh pasangannya. Dengan demikian, masing-masing kita akan belajar memahami dan membuka diri terhadap pasangan. Tidak lantas mengeluh, memendam sendirian kekesalan itu, atau bahkan membuka ‘rahasia’ itu kepada teman-teman terdekat kita. Bukankah jauh lebih baik bila keterbukaan itu kita bangun bersama dengan suami atau istri tercinta?

Selalu tak mudah dalam memulai sebuah kebiasaan baru. Namun, memulai berusaha untuk mendengarkan baik-baik dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan waktu yang tepat, akan menjadi awal bagi keterbukaan yang indah. Belajarlah untuk berempati, dan berpikirlah positif dahulu sebelum menilai sesuatu. Mengapa ia menganggap satu hal ini sebagai hal kecil dan sepele? Mungkin alasannya adalah demikian dan demikian. Jawaban itu ada bila dibicarakan.

Menurutku penting, menurutmu bagaimana? Mari kita bicarakan bersama.

Dear Cinta...

Image hosted by Photobucket.com

Dear Cinta,

Rupanya hanya cinta yang bersemayam di hatiku,
untukmu.
Sebab tak lelah kedua pelupuk mata ini
meneteskan buah rindu dan galauku.
Ketika malam telah lalu hingga mentari telah kembali,
dan kudapati perpisahan itu setiap pagi.

Rupanya hanya cinta,
untukmu.
Dan kesahku setiap kali kutemukan lelah berbayang
di wajahmu.
Juga keluh itu kusimpan dalam hati,
takut ia akan melukai
jasad dan jiwamu yang telah lelap mengendarai malam.
Aku rindu.

Image hosted by Photobucket.com

Aku rindu,
merinduimu.
Dan apakah denyut hari-hari akan mampir dan lalu
pergi,
tanpa menggoreskan apapun,
sementara sebentar lagi kau pun tak di sini?

Cinta,
jawab aku dengan pelukmu.

Wednesday, May 11, 2005

Joyeuse Anniversaire!!!

Di penghujung hari, walau sedikit telat, tapi nggak apa-apa lah daripada nggak sama sekali.

Joyeuse Anniversaire!

Kalimat pembuka dari sms kedua yang saya terima dini hari tadi, dari Kiki-salah seorang 'adik' tersayang-. Pertama baca, subuh tadi, jadi tersenyum-senyum sendiri. Kenapa? Pertama, jadi inget, ternyata hari ini tanggal 11 Mei. Kedua, ucapan selamat yang nggak biasa dan menyenangkan, coz ditulis pake bahasa Perancis (duh, pengen bener bisa cas cis cus pake Perancis-an gitu). Ketiga, nyengir lebar banget nih...sms itu nyampe pukul 01.17 dini hari. Hebat ya...itu anak pake begadang segala mungkin ya hanya untuk kirim sms...hihihi. Sms yang pertama, dari Papa. Rekor. Kalo yang ini mah bukan begadang, pasti emang lagi gak bisa tidur aja, or sibuk ngetik, as usual.

Joyeuse Anniversaire! Phew! What a life...what a great life! Rasanya cepet banget, tau-tau udah 25 tahun. Kata Hilda-salah satu 'adik' tersayang juga-"udah genap seperempat abad". Hah? Abad? Yaiks! Kesannya 'mumi' dan 'tua' banget. Hehehe...ya iya lah. Namanya aja manusia. Umur pasti bertambah, kesempatan hidup di dunia pun semakin berkurang. Maksudnya, kesempatan untuk bisa menambah amal dan memberatkan timbangan kebaikan. Itu yang paling penting. Hiks...gimana ya timbanganku sendiri? Gak tau deh miring ke kiri apa miring ke kanan...astaghfirullah....

Barusan dapet email di milis FLP, dari ayyesha (makasih ya, say), ucapan 'Mulidan Mubarokan' buat 3 orang FLP'ers yang milad tanggal 11 Mei ini. Dan dibales pula oleh Ari Condro, cepet banget lagi, lagi online juga kali ya. Hehehe. Senangnya! Rupanya Allah masih berkenan menebarkan cinta-cinta itu untuk saya, dari mana saja. Dari orang-orang yang gak disangka-sangka bakal ngasih ucapan selamat dan doa.

Tadi sempet liat 'pengumuman' dari Friendster di email. Temen-temen yang udah lama banget gak ketemuan, ternyata ikut 'ngeramein' hari ini...menambah cinta lagi di hati ini. Duh, jadi kangen, udah lama gak ketemuan.

Fiuh! Subhanallah wal hamdulillah...semoga Allah senantiasa memberikan semangat dan semangat untuk terus berbuat kebaikan, berbuat yang terbaik, menjadi lebih baik....amiin.


Friday, May 06, 2005

Akhiri dengan Indah...

Kita tidak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi di akhir hari. Mengawali hari dengan hati riang dan semangat menjulang, kadang bisa diakhiri dengan bersungut-sungut atau marah oleh sebab berbagai macam hal. Semangat dan keriangan yang tadinya dirasakan penuh, seolah-olah terkikis habis oleh satu atau dua kejadian yang dialami. Rasanya, keseluruhan hari itu menjadi begitu buruk oleh sebab peristiwa yang dialami di ujung hari.

Permulaan yang baik, selayaknya mendapatkan ‘penutupan’ yang baik pula. Di sinilah pentingnya menyadari dan memahami bahwa setiap aktivitas tidak hanya dinilai oleh awalnya yang bagus atau bagaimana hasil akhirnya. Keseluruhan dari aktivitas tersebut memiliki nilai. Sebab proses bagaimana aktivitas itu dilakukan, diawali-dijalankan-dan diakhiri, semuanya merupakan ‘permata’ yang sangat penting bagi diri seorang muslim. Bagaimana tidak? Allah tidak menilai amalan seseorang dari hasil akhirnya saja, melainkan dari keseluruhannya. Bukankah bagaimana akhir hidup seseorang pun menentukan di mana ‘tempat’ kelak ia berada? Dan perjalanan hidup seseorang itu, bagaimana ia menjalaninya, akan menjadi penentu arah mana yang akan ia ambil, jalan kebaikan atau sebaliknya. Bagaimana seseorang melewati hari demi hari dalam kehidupannya, akan menjadi catatan penting sebagai timbangan di hari akhir kelak.

Tak jarang amalan seseorang itu rusak sebab keikhlasan dalam mengerjakannya ternodai. Penyebabnya bisa bermacam-macam, baik itu yang timbul dari dalam diri sendiri, maupun karena diri kita tak bisa menahan ‘godaan’ yang datang dari luar. Memang, setan selalu berperan untuk menggoyahkan keikhlasan yang akan menjadikan sebuah amalan itu diterima atau tidak. Dan musuh nyata bagi manusia itu tak kan mau kompromi dan berbelas kasihan kepada kita. Kuncinya adalah, bagaimana diri kita dapat menjadikan setiap amalan kita indah, dengan selalu menjaga keikhlasan dan meneguhkan keimanan, supaya tak mudah keikhlasan itu rusak oleh sebab-sebab yang memang selalu mengitari. Masalahnya adalah, menjaga agar amalan tersebut tetap terjaga ‘keindahannya’ sampai akhir ia selesai dikerjakan, adalah satu tantangan tersendiri yang selalu menuntut manusia untuk melakukan yang terbaik yang ia bisa, kalau tak mau dibilang sulit.

Kita tak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi pada akhir hidup kita nanti. Apakah kebahagiaan abadi yang akan kita reguk, ataukah siksa berkepanjangan yang menjadi teman bagi kita untuk selamanya? Berada bersama orang-orang pilihan di surga-Nya, ataukah tenggelam bersama kesengsaraan di neraka? Itu semua, diri kita sendiri lah yang dapat menjawabnya. Bukan teman atau sahabat, bukan orang tua kita, bukan pula orang-orang yang telah menyaksikan segala tingkah polah kita di dunia. Sebab pada waktu seluruh manusia berkumpul untuk mendapat perhitungan atas semua amalnya, seluruh anggota tubuh kita akan bersaksi, menceritakan keseluruhan perilaku kita di dunia. Kita tak kan pernah bisa mengira-ngira, bagaimanakah nasib kita pada hari itu.


Seorang Thalhah yang sederhana dan rendah hati pernah menjadi bahan perbincangan serta menjadi pertanyaan besar oleh Abdullah bin Umar, ketika Rasulullah selama tiga kali berturut-turut menyebutnya sebagai ‘seorang ahli surga’ pada kesempatan berkumpul dengan para sahabat. Kemudian Ibnu Umar menemukan rahasia itu setelah menginap tiga malam di rumahnya. Thalhah, si ahli surga tersebut, rupanya tak pernah absen membersihkan hatinya dari segala dengki dan dendam terhadap sesama, setiap kali hendak tidur malam. Ia tak pernah sedikitpun memendam amarah terhadap orang-orang yang hari itu mungkin melukai dan menzaliminya. Begitu mulia, begitu sederhana. Namun rupanya, sebuah amalan penutup malam yang ia lakukan secara kontinu, mampu mengangkatnya ke sebuah tempat yang dinantikan oleh seluruh manusia.

Kisah di atas adalah sebuah contoh kecil, tapi selalu dapat menggetarkan hati saya setiap kali mengingatnya. Ia telah menjadi kisah populer yang diulang-ulang di banyak literatur. Betapa tidak, sungguh telah terbuktikan, bagaimana seseorang ‘mengakhiri’ harinya tersebut dengan baik, akan membawa keberuntungan besar baginya kelak. Menjaga keindahan amalan yang telah ia perbuat seharian penuh, dengan sebuah keikhlasan untuk dapat melapangkan hati yang telah sempit oleh maksiat dan dosa sepanjang hari.

Bagaimanakah amalan hari ini kita akhiri? Yakinlah, bahwa ganjaran Allah sungguh tak terkirakan bagi mereka yang senantiasa berbuat yang terbaik. Sebab Allah Maha Tahu niat yang tersembunyi di setiap hati hamba-Nya. Dan berusahalah, untuk mengakhirinya dengan indah…


Image hosted by Photobucket.com
[acara Khataman Quran, seminggu sebelum nikah]