Halaman

Thursday, January 19, 2006

Kuretage

Saat itu pikiranku benar-benar kosong. Apa yang dikatakan oleh dokter Anti tak lagi kedengaran. Entah dengan suamiku yang duduk di sebelah, mungkin ia juga termangu, sama bodohnya denganku. Beberapa kali tergagap aku menanyakan hal-hal penting yang harus dilakukan setelah ini. Kapan jadwal kuretage, mendaftar ke mana, apa yang perlu dilakukan setelahnya, dan semua itu tak mampu kuingat dengan baik. Hanya satu hal yang ada di benak: aku harus ke kamar mandi sekarang juga!

“Wah, Sayang, ternyata janinnya nggak berkembang. Bekuan darahnya nggak berubah, pasti menghalangi plasenta ngasih makanan ke bayinya. Harus dibersihin ini, ya.” Kalimat yang diucapkan dokter Anti terus berputar-putar di kepalaku. Di-kuret … kuretage … aaah!!! Bagiku sama saja dengan aborsi! Partus sebelum waktunya! Astaghfirullahal’azhiim ….

Dengan surat pengantar di amplop tertutup di genggaman, langkahku bergegas mengalahi suamiku yang pastinya tengah bingung. Berkali-kali ia memanggil, tapi telingaku serasa tuli. Mataku tertuju lurus ke arah sebuah pintu. Aku harus cepat-cepat, sebelum semuanya tumpah di tempat yang tak seharusnya. Seorang perempuan muda penjaga toilet tersenyum kecil melihatku masuk. Segera kubuka pintu toilet paling ujung, menutup pintunya, dan menumpahkan segalanya tanpa suara. Sungguh aku tak butuh perhatian dari orang-orang pada saat seperti ini. Aku menangis diam-diam. Pikiranku melayang, sekaligus berharap bahwa saat ini adalah hanya mimpi buruk yang paling buruk di antara yang kualami akhir-akhir ini. Ya, ini adalah sebuah mimpi buruk. Nyaris saja ingin kucubit pergelangan tanganku untuk membangunkan diriku darinya. Tetapi tangisku menyadarkanku bahwa semua ini nyata. Aku telah kehilangan!

Mungkinkah firasat buruk yang muncul belakangan menandakan hal ini akan terjadi? Entahlah. Tak ada lagi yang ingin kupercayai saat ini. Kebahagiaan itu hilang hanya dalam sekejap. Aku mengingat sebuah momen, di saat suamiku mengelus-elus perutku dan berkata, “Kayaknya perutnya udah mulai besar, ya?” dan saat itu yang kukatakan untuk menjawabnya adalah, “Iya, mudah-mudahan dedek-nya juga makin besar ya, nggak 3 mm kayak kemarin lagi.” Sebenarnya setelah mengatakan itu sebelah hatiku berharap cemas, dan bertanya-tanya, mengapa aku mengucapkan kalimat seperti itu? Bukankah kalimat itu menandakan bahwa aku pesimis terhadap kehamilan ini? Apakah aku sudah merasakannya sejak mengetahui kehamilanku?

Suamiku mengenggam tanganku erat, tapi nyatanya tak mampu meredakan apapun yang sedang merasuki hati dan pikiranku. Berbagai pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelum muncul pertanyaan berikutnya. Berbagai perasaan yang tak mampu kuterjemahkan satu per satu pada saat itu. Ketakutan, rasa kehilangan, kesedihan, perih, nyeri, dan seterusnya. Aku tahu, dalam kondisi emosi seperti itu, banyak hal bodoh yang pasti bisa kulakukan terhadap siapa saja termasuk diri sendiri. Sejak awal, aku sudah bertekad untuk tidak akan melakukan hal-hal bodoh itu, dan bersikap sewajarnya.

Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah terasa sangat lama. Satu hal yang sangat ingin kulakukan saat itu: menangis keras-keras. Dan tidak mungkin aku melakukannya di dalam angkot dan membiarkan semua orang berpikir bahwa aku ini gila atau sedang stres. Walau kenyataannya mungkin hampir.

Sampai di rumah, aku segera menaruh tas, mengganti baju, dan suamiku menghampiriku di kamar depan. Ia hampir tidak berkata apa-apa, hanya sebaris kalimat yang langsung membuatku menubruknya dan melampiaskan semua sampai beberapa lama. Hari itu adalah pertama kalinya aku menangis sekeras itu di hadapannya. Aku mengharapkan ia juga menangis sama sepertiku, tapi ternyata laki-laki memilih untuk bersikap tegar dan menyembunyikannya sampai waktu ia benar-benar sendiri. Sepertinya begitu. Ia mengatakan hal-hal yang rasional, tapi semua tidak mempan. Aku sudah tahu, bahwa bila kehamilan ini dibiarkan pasti akan membawa penyakit untukku sendiri, sedang si janin tak lagi bisa bertumbuh. Aku sudah tahu, bahwa ini semua hanya cobaan yang perlu dilewati dengan sabar, tapi aku ingin menangis keras-keras untuk kali ini saja. Aku sudah tahu bahwa ini bukan salah siapa-siapa, tapi aku menangis bukan untuk menyalahkan siapapun, melainkan untuk diri sendiri karena sebentar lagi akan melepas sesuatu yang sangat diharap-harapkan sejak lama.

Aku tertidur cukup lama, hingga rasanya sudah tiba waktu ashar. Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, terlihat ada sajadah yang menghampar. Rupanya suamiku tengah menunaikan shalat ashar. Dalam setengah sadar, kudengar isak tangis tertahan. Ia menangis. Mungkinkah? Entah mengapa sepertinya ada sedikit rasa lapang di hati. Kami merasakan kesedihan yang sama. Dan aku menangis lagi.

Ruang bersalin itu terasa lapang, terlalu lapang malah. Sebuah televisi 14 inch tergantung tepat di depan tempat tidur lebar yang cukup nyaman. Aku nyaris tak bisa membedakan, apakah itu ruang bersalin atau ruang rawat inap. Beberapa perangkat persalinan yang telah disiapkan menyadarkanku, bahwa sebentar lagi waktunya tiba. Aku nyaris tersenyum sendiri, melahirkan sebelum waktunya. Atau bisa disebut aku ini mendahului beberapa temanku yang sedang hamil.

Sejam telah lewat, televisi di depanku masih menayangkan film-film lama dari channel HBO. Seorang perawat yang ramah menyuruhku untuk mengganti baju yang kukenakan dengan sebuah baju berlengan pendek selutut dengan pita-pita di belakang. Cukup terbuka dan memang didisain khusus untuk mereka yang akan menjalani operasi macam begini. Untuk memudahkan. Tapi tetap saja pertanyaanku kepada perawat itu terdengar bodoh,

“Suster, jilbabnya boleh dipakai kan?” Perawat itu tersenyum kecil. “Boleh aja sih, tapi bajunya juga terbuka kok.”

Lantas aku memutuskan untuk tetap mengenakan jilbab sampai waktu operasi tiba. Aneh memang, tapi toh aku berada di balik selimut di tempat tidur. Tidak ada yang akan melihat keanehan pemandangan itu. Yang sangat aku hargai adalah, para perawat itu tak ada satu pun yang memaksaku atau berkomentar apapun mengenai jilbab yang tetap kukenakan.

Sambil berbaring, peralatan yang akan digunakan terpampang di hadapan. Di atas sebuah meja dorong dari besi yang ditutupi kain lebar berwarna hijau. Aku dapat melihatnya. Sendok-sendok sepanjang sekitar 30 cm dari besi, ada dua buah, lalu entah berapa lagi yang bentuknya bermacam-macam. Kepalaku mendadak pening. Alat-alat itulah yang nantinya akan mengorek-ngorek rahimku. Melukai janin kecilku, mengambilnya keluar. Aku nyaris menangis lagi. Teringat nama-nama yang sudah kusiapkan untuk anakku kelak. Kulirik suamiku, ia terdiam dengan wajah serius. Seperti biasanya.

Hingga beberapa saat ke depan, suamiku tetap setia menunggu di dalam bersamaku, setelah sebelumnya ia mengisi perut di kantin bawah. Aku sendiri berpuasa sejak semalam, sebab hari ini harus menjalani pembiusan. Total sepertinya. Baguslah. Setidaknya dokter Anti dan perawat tidak menyaksikanku menjerit-jerit nantinya. Waktu operasi diundur sejam. Kegelisahanku hampir memuncak menjelang setengah jam sebelum operasi dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha melakukan relaksasi sebisaku. Aku sudah merelakannya, Ya Allah … aku sudah ikhlas. Berulang-ulang kalimat itu kuucapkan. Aku tak lagi membayangkan reaksi apa yang akan terjadi setelah operasi selesai, yang penting aku bisa tenang menghadapi berbagai jarum suntik yang akan menusuk tangan kiriku. Suamiku, ia berdiri sambil tersenyum-senyum, berusaha untuk tidak tampak lebih panik daripada aku. Aku sendiri tak menghiraukan apapun reaksinya. Aku tahu ia selalu ada. Itu saja sudah membuatku tenang.

Hingga saat perawat pendamping dokter datang. “Sebentar lagi dokter Anti datang. Sekarang siap-siap ya, Bu.” Ia pun memintaku secara tidak langsung untuk membuka jilbabku, “Jilbabnya musti tetap dipakai, ya? Soalnya mau pasang selang oksigen, Bu.” Aku baru tersadar. Waktunya sudah tiba. Suamiku pun beranjak keluar, setelah aku mencium tangannya, dan ia berkata, “Yang tenang ya, Dek.” Aku pun menjawab lirih, “Doain ya, Mas.”

Tak lama setelah selang oksigen dipakai, lengan kananku dipasangi alat pendeteksi tensi darah dan denyut jantung, serta tangan kiri siap dengan jarum tempat akan disuntikkan obat bius. Dokter anastesi yang bertugas membius datang. Laki-laki. Muncul rasa risih. Apalagi jilbab telah terbuka, dan penutup kaki mulai digeser. Namun ia tampak tenang saja, dan menyuntikkan cairan bening untuk mengetes apakah aliran darah lancar. Setelah aku menyatakan tidak sakit dan cairan dapat masuk dengan lancar, ia pun mulai membius. Yang sempat kusaksikan hanya cairan itu tampak lebih kental dan berwarna putih, dokter Anti beserta perawat bersiap-siap di depan tempat tidurku, kedua kaki telah disangga, dan aku masih merasa tak enak dengan keberadaan si dokter anastesi. Kalimat yang sempat kulontarkan hanyalah, “Dok, nanti antibiotiknya jangan selain amoxicilin ya, karena saya alergi.” Dalam hati mengucap bismilllah dan beberapa doa, lalu semua gelap.

“Diana … Diana …” sayup-sayup sebuah suara membangunkanku dari tidur tak bermimpi. Sepertinya baru beberapa detik saja aku tertidur. Mataku membuka perlahan. Yang pertama kali kulihat adalah dua sosok yang pelan-pelan menjadi jelas, dokter Anti dan suamiku. Ketika melihatku sudah membuka mata, dokter Anti tersenyum dan berkata,

“Nah, udah sadar, tuh.” Lalu ia beranjak keluar. Suamiku duduk atau berdiri di samping kiriku.

“Emangnya udah selesai ya, Mas?” tanyaku takut-takut. Ia mengangguk,

“Iya, operasinya udah selesai.”

Tanpa sadar air mataku langsung keluar deras sekali, sampai sedikit sesengukan. Persis seperti anak kecil. Biar saja. Aku tak bisa merasakan apapun. Kesadaranku belum pulih benar, tetapi satu hal yang benar-benar aku sadari: aku telah kehilangan! Suamiku tak berkata apapun kecuali mengelus-elus tangan kiriku yang masih terbalut perban dan jarum. Pastinya ia tahu, kata-kata apapun tak mampu meredakanku. Aku melirik perutku. Tak ada bedanya. Janinku sudah tidak ada lagi!

“Dedek-nya udah nggak ada …” rintihku antara sadar dan tidak. Seorang perawat yang mundar-mandir membereskan peralatan yang tertinggal tampaknya menanyakan sesuatu kepada suamiku. Lelaki tercinta itu mengulangi apa yang aku katakan barusan. Menyadari akan banyak orang yang masuk ke ruangan, aku cepat-cepat meminta tissue dan menyeka air mata yang masih terus keluar.

“Loh, kok nangis sih, Sayang?” suara ceria dokter Anti ternyata masih bisa membuatku tersenyum sedikit. Memang wanita itu baik sekali, selalu ceria dan bersikap santai. Ya, mau apalagi selain menangis? Toh aku tak mungkin memasukkan kembali janin yang telah mati itu ke dalam rahimku lantas menghidupkannya. Biar saja aku menumpahkan semuanya hari ini. Begitu pikirku. Sesaat terlintas pikiran-pikiran dalam benak, bagaimana kejinya para ibu yang membuang atau menyiksa anak mereka, betapa bodohnya perempuan nakal yang berlaku seks bebas lantas dengan mudahnya mengaborsi janin mereka. Rasanya ingin kutampar mereka semua itu.

Di ruang rawat inap, suasana sedikit berbeda. Sudah ada pasien lain di kiri dan kanan. Ruangan itu tak begitu besar, tapi cukup nyaman, dihuni tiga orang pasien termasuk aku. Aku menempati tempat tidur di tengah. Keuntungannya adalah mendapat televisi tepat di tengah, satu-satunya benda hiburan di ruangan itu. Tak ada pengaruhnya. Sampai di sana, setelah semua perawat keluar dan berpesan ini itu, yang tak lagi kuingat, aku dan suamiku terdiam cukup lama. Dan aku masih saja berusaha keras menghilangkan sisa tangis. Suamiku menyampaikan pesan bahwa tadi mbak Rahma menelpon, Eci juga, ada beberapa sms yang masuk, dan aku segera mengingatkannya untuk memberitahu papa serta Jannah, sahabat dekatku, bahwa aku sudah di kamar rawat inap. Sambil menahan isak yang masih bersisa aku berpesan,

“Mas, nanti kalau ada yang dateng terus nangis-nangis jangan bolehin masuk, ya.” Maksudku supaya aku tidak tergoda untuk menangis lagi. Tapi suamiku bertanya,

“Yang nangis? Memangnya siapa?”

“Ya mama gitu.” Jawabku sambil memalingkan muka. Beberapa detik kemudian, benar saja, mama, papa, dan adikku datang. Tak ada satu pun dari mereka yang datang sambil menangis. Yang ada malah aku sendiri terisak hebat dan tak mampu berkata apapun selain sibuk menghapus air mata. Sepertinya mereka ikut terisak juga. Sudahlah. Sekali ini lagi saja.

12 Januari 2006, sepuluh hari lagi setahun pernikahan kami. Memang kami tidak merasakan bertahun-tahun lamanya tidak memiliki anak. Tetapi tetap saja kejadian ini adalah tekanan hebat bagiku. Rupanya Allah memang selalu mengujiku untuk setiap apa yang akan kudapat. Tak ada sesuatu yang dengan mudah kudapat begitu saja. Pasti sebelumnya akan menghadapi cobaan terlebih dulu. Tidak apa-apa. Sepertinya ujian-ujian ini akan menguatkanku dan juga suamiku. Ia menginap di rumah sakit, hampir saja tidur sambil duduk di kursi. Membantu dan membereskan semua perlengkapanku. Sampai kami tiba di Bekasi. Harus banyak istirahat katanya. Padahal dua hari pertama setelah operasi aku tak merasakan sakit yang dikhawatirkan. Tetapi rupanya itu harus juga aku lewati. Hari ketiga, perut ini terasa begitu sakit sampai aku tak bisa bangun dari tempat tidur, walaupun untuk duduk. Mulanya pukul 4 pagi, dan hingga malamnya suamiku tak beranjak dari kamar untuk mendampingi. Sakit, perih, nyeri, ngilu sampai ke tulang.

Aku telah kehilangan, sesuatu yang mungkin belum waktunya didapat. Atau bukan yang terbaik untuk didapatkan saat ini. Sebab yang muncul dalam setiap doaku adalah: Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik dari kehamilan ini, dan janin yang sehat serta tak tersentuh penyakit atau virus apapun yang membahayakannya. Ridhoilah aku dalam menjalani hari-hari kehamilanku ini, dan jadikanlah ia nantinya anak yang sehat dan soleh atau solehah. Yang akan membahagiakanku, mas Hendy, serta keluarga kami, dunia dan akhirat.

Doa itu tak bersalah apapun, dan akan kuulangi lagi saat kehamilanku berikutnya nanti. Yang berlalu sudah terkubur di halaman rumah orang tuaku. Seorang teman kerja suamiku yang kebetulan datang menjenguk di rumah sakit mengatakan sesuatu yang menguatkanku agar tetap bersyukur,

“Kalian semua masih sangat beruntung, nggak seperti aku dan istri yang sudah lima tahun tapi belum punya anak.”

Betul. Bagaimana dengan wanita yang harus di-kuret berkali-kali akibat gagalnya pertumbuhan janin atau rahim yang lemah? Bagaimana dengan wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa anak yang dilahirkannya meninggal setelah beberapa saat karena adanya kelainan atau virus sejak dalam kandungan? Bagaimana dengan … ah! Masih terlalu banyak wanita lain yang merasakan kepedihan lebih dari yang kurasakan.

Aku sudah ikhlas. Bye bye, Baby….


Bekasi, 15-16 Januari 2006.

Tuesday, December 27, 2005

Seorang Calon Bunda ...

Ada apa dengan dunia?

Sepertinya akhir-akhir ada 'sepi' yang merayapi, perlahan. Walau nggak terlalu mengganggu sebenernya. Saya punya cukup banyak 'jendela' yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir 'sepi' yang bisa menggerogoti hati.

Lebih sering nonton berita (dan akhir-akhir ini tak banyak berita gembira yang tersiar), mulai membaca satu per satu tumpukan buku yang selama ini tidak tersentuh, menghubungi teman-teman melalui telepon, sms, maupun mengunjungi warnet seminggu sekali. Kegiatan rutin, tapi harus dilakukan, bila saya tidak ingin 'mengubur' diri dalam 'sepi'. Sambil perlahan-lahan, merencanakan kembali apa-apa yang ingin dilakukan ke depan. Satu yang sudah pasti: Saya harus tetap menulis!

Setiap perubahan yang terjadi dalam hidup ini pastilah memerlukan ekstra tenaga dan pikiran untuk menjadikannya menyenangkan dan tidak memberatkan. Ada satu perubahan membahagiakan yang hadir dalam hidup saya sekarang: Saya akan menjadi seorang bunda! Banyak doa dan harap yang sekarang lebih sering hadir dalam sujud dan hari-hari saya. Cemas, gelisah, bahkan tangis yang diam-diam menjadi 'penggoda', adalah kewajaran bagi hormon-hormon yang 'mengubah' tubuh seorang calon bunda. Menjadi lemah dan nelangsa sendiri? Tentu tidak! Saya sekuat tenaga mencoba untuk selalu berpikir positif. Hamil kan nggak harus mual, muntah atau bahkan pingsan segala. Dan, alhamdulillah, Allah memudahkan saya dalam hal ini. Walau cobaan-cobaan itu pasti ada. Seperti hari ini, si calon bunda ini mendapat 'serangan kaget' ketika membaca hasil USG. Lantas? Tersenyum saja, banyak-banyak berdoa, berusaha menjaga dan membesarkan calon janin dengan gizi yang baik, dan cukup istirahat. Pikiran yang sehat akan membantu calon bunda dan si janin untuk tetap sehat secara fisik dan emosi.

Benarkah 'sepi' itu menghalangi? Tentu tidak. Kalau saja kemalasan tidak menghalangi mata dan hati untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sekitar, kenyamanan itu pasti akan menggantikannya.

Jangan buang waktu, bergiatlah! Niat yang baik dan ikhlas menjadi awal dari setiap tindak laku yang menjadikan perubahan kehidupan suatu keindahan, bukannya hal yang menakutkan.

*menyemangati diri sendiri*
"Salam cinta untuk semua"

Wednesday, December 07, 2005

Masihkah Rindumu?

Aku bertanya tentang waktu,
saat kita pertama kali bertemu
dan kisah cinta kita tertuang dalam lagu,
yang sering kita nyanyikan begitu merdu.
Ingatkah engkau tentang saat itu?
Suatu ketika, di koridor itu,
mataku menatap penuh harap pada sosok-sosokmu,
yang bahkan lebih dariku
menyalakan suara bagai semangat yang menyatu.
Koridor itu, mungkin adalah tempat pertama kali kita bertemu.
Aku ingat, di lapangan terik itu,
seketika bayang-bayang tak lagi semu.
Jabat tanganmu menghangatkanku,
ketika kusadari langkah-langkah ini akan berpadu
denganmu.
Di bangku panjang, di taman itu,
entah berapa waktu bersaksi bisu
ketika kau menangis karena susahmu,
ketika aku mengadukan lelahku,
ketika kau dan aku menapaki letih, duka, dan gembira itu,
ketika semua penat itu jadi rindu,
mungkinkah kini kau ragu?
Bimbangku kini tentangmu.
Suatu ketika di koridor itu,
kau dan aku,
kita menggandeng lengan-lengan baru,
dengan bara yang satu,
semangat itu.
Mereka telah menjadi nafasku yang memburu,
mereka tak pernah enyah, walau aku sempat ragu,
mereka menguatkan separuh jiwaku,
saat jatuhku begitu menderu.
Mereka adalah lagu,
yang selalu berdegup menghidupkanku.
Dulu,
saat pertama kali kita bertemu,
dan berulang sepanjang waktu.
Masihkah itu menjadi rindumu?
Atau kini kau beranjak pergi,
meninggalkanku?


Dedicated to 9868sisterhood&brotherhood
"Sebuah kerinduan panjang untuk kalian"

Thursday, November 17, 2005

Sebuah Kehangatan

Menjadi seorang anak tunggal selalu tidak mudah. Saya sendiri nyaris mengalaminya. Sewaktu kecil dulu, saya hampir tidak memiliki saudara kandung sampai saya berumur delapan tahun. Tiba-tiba saja ibu saya melahirkan seorang adik perempuan untuk saya. Mungkin karena sebelumnya saya sudah merengek-rengek dan memainkan segala macam peran khayalan menjadi seorang kakak selama beberapa lama. Mungkin juga karena memang orang tua saya belum merencanakannya, dan Allah mengaruniakan seorang adik untuk saya ketika saya sudah berusia delapan tahun.

Saya memiliki seorang saudara sepupu laki-laki. Saat ini ia berusia sekitar sepuluh tahun. Ia seorang anak tunggal, dan memiliki orang tua yang keduanya bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana ia kesepian. Setiap hari sepulang sekolah, mungkin hanya pembantu di rumah, dan mainan serta play station favoritnya yang menjadi teman. Saya tidak begitu memerhatikan, seberapa besar pengaruh ‘rasa kesepian’ itu padanya, hingga pada suatu waktu ia menjadi murid privat seorang teman saya.
Sepupu saya itu cukup pintar, bahkan menurut saya cukup cerdas untuk anak seusianya. Dan ia memiliki tipe kinestetik dalam menyerap pelajaran, dalam arti tak bisa duduk diam dan menunggu guru selesai menerangkan. Istilah lain yang biasa orang gunakan, padahal mungkin dalam pemahaman yang salah, adalah hiperaktif. Bahkan tante saya sempat membawanya ke seorang psikolog. Pasalnya, seorang guru privatnya tak sanggup untuk menghadapi sepupu saya itu. Entah berapa kali telah ‘dikerjainya’, dan mungkin si guru privat sudah tidak sanggup lagi. Kemudian, saya menawarkan seorang teman kampus saya untuk menjadi guru privat pengganti. Seorang guru yang jauh lebih muda dari yang sebelumnya. Dalam hati, saya sempat khawatir, akankah teman saya itu menjadi ‘sasaran empuk’ berikutnya? Rupanya, tante saya ‘betah’ mempekerjakannya, dan demikian juga sepupu saya. Menurut tante saya, ia seperti mendapatkan seorang ‘kakak laki-laki’ sekaligus teman bermain disamping menjadi guru privatnya.

Selama ini, saya sendiri seringkali menganggap bahwa seorang anak tunggal adalah anak yang egois, manja, dan sulit untuk bergaul dengan orang lain. Sebuah kesimpulan yang memang saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya. Tapi rupanya hal itu tidak bisa diberlakukan bagi semua orang. Bagi sepupu saya, menjadi anak tunggal berarti ia harus mengusir kesepian dengan caranya sendiri. Yang belakangan saya ketahui adalah bahwa ada sebuah kehangatan yang ia ajarkan pada orang lain.
Ibu saya selalu mengajarkan pada saya dan adik saya untuk selalu memuliakan tamu. Mulai dari membiasakan kami untuk membuatkan dan menyajikan sendiri minuman atau suguhan lain bila ada tamu yang datang, atau membantunya untuk bersiap-siap menghias rumah dan menyajikan kue-kue menjelang hari raya Idul Fitri, walaupun sebenarnya tamu yang akan datang berkunjung ketika hari raya tidaklah banyak. Tetapi kami benar-benar mengubah suasana rumah menjadi nyaman dan cantik sekali, lain dari hari-hari biasanya. Ada atau tidak ada tamu yang datang, kami selalu dalam kondisi siap untuk menerima dan menjamu. Hal ini merupakan pengajaran yang sangat baik. Keramahan dan keterbukaan seperti ini bisa jadi tak dimiliki oleh keluarga yang lain. Atau mungkin anak-anak yang lain tidak turut andil dalam ‘menjamu’ tamu kecuali bila teman-teman kecil mereka datang. Keterlibatan seorang anak dalam menerima dan menjamu tamu adalah satu hal yang susah-susah gampang untuk dibiasakan.

Sepupu saya yang berusia sepuluh tahun itu beberapa kali memberikan kejutan pada saya. Setelah mereka pindah menempati tempat tinggal baru, yang jauhnya paling hanya beberapa blok saja dari tempat tinggal yang lama, saya berkesempatan untuk menginap di sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah berkunjung dan sesekali menginap di rumahnya, namun cukup jarang sebab rumahnya memang jauh dari tempat tinggal saya. Dari saat itulah saya memerhatikan satu hal yang menarik dari diri lelaki kecil itu.
Ketika itu saya membuat janji untuk bertemu tante dan sepupu saya itu di sebuah pertokoan di dekat kantor tempat tante saya bekerja. Rupanya sepupu saya memerlukan beberapa bahan untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Untuk menghemat ongkos dan efektivitas waktu, saya pun bertemu mereka di pertokoan itu untuk kemudian pulang bersama ke rumah mereka. Saat itu sekitar pukul enam sore, sepulang dari kantor saya segera menuju ke sana. Saya menemui mereka di toko buku yang terdapat di dalam pertokoan itu. Sepupu saya berteriak memanggil saya yang sedang celingukan mencari-cari mereka.

“Kak Vita nginep berapa hari?” ia bertanya, dan saya sedikit tergagap mau menjawabnya. Saya melirik tante saya yang berada di dekat kami sambil tersenyum-senyum.
“Iya, katanya kak Vita nggak boleh cuma satu hari nginepnya.” Sambung tante saya.
“Emangnya musti berapa hari nginepnya?” saya balik bertanya. Ia tersenyum-senyum.
“Tiga hari!” katanya bersemangat. Saya tersenyum kecil, dalam hati sedikit terharu. Sepertinya ia begitu senang bila ada orang yang menginap di rumahnya, pikir saya waktu itu.

Di lain kesempatan, saya kembali diajak untuk menginap di rumahnya. Kali itu saya menginap bersama adik perempuan saya dan seorang tante saya yang lain. Seperti biasa, ketika saya datang bersama adik saya, sepupu saya itu menyambut kami dengan gembira. Ia bahkan betah untuk menunggui kami hingga waktu tidur, mengobrol berlama-lama, atau menemani kami sambil ia sendiri bermain.
Pagi harinya, saya melihat adik saya duduk di depan televisi sambil meminum susu kotak. Saya sempat kaget dan menegurnya. Saya tahu pasti itu milik Imam, sepupu kecil saya itu. Biasanya seorang anak kecil akan ngambek atau mengamuk bila tahu kepunyaannya diambil orang lain tanpa sepengetahuannya. Saat itu saya menunggu Imam keluar dari kamarnya, dan mungkin akan marah besar melihat adik saya seenaknya mengambil susu kotak kesukaannya dari kulkas.
Lalu Imam pun bangun dan menghampiri kami,
“Kak Dede, itu susu siapa?” tanyanya pada adik saya. Saya dan adik saya saling lirik sambil tersenyum-senyum.
“Susunya Imam. Kak Dede ambil dari kulkas.” Jawab adik saya jujur. Saya menanti reaksi apa yang akan Imam lakukan.
“Oh, iya. Ada banyak kan di kulkas. Kalau mau lagi ambil aja. Imam mau juga ah…” katanya singkat. Dan ia pun beranjak ke kulkas untuk mengambil sekotak susu yang sama. Saya sedikit terbengong. Dan kemudian menghela napas lega. Reaksinya tak seperti apa yang saya bayangkan.
Sejak hari itu, saya dan adik saya sering membicarakan bagaimana Imam memperlakukan kami selama di rumahnya, dan mungkin juga orang-orang lain yang datang dan atau menginap di sana. Ia tak pernah bosan menyambut kami datang, dan menanyakan apa-apa yang kami perlukan, sampai dengan bersemangatnya menceritakan rencananya untuk mengajak kami berjalan-jalan ke tempat ini dan itu. Sungguh sebuah sikap yang cukup jarang dimiliki oleh seorang anak kecil. Ia sangat mengerti cara membuat tamu merasa nyaman di rumahnya.

Saya memiliki seorang sepupu kecil lagi, namanya Andra. Ia berusia tak jauh berbeda dari Imam. Andra seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya berusia sepuluh tahun lebih tua daripadanya, dan keduanya telah sibuk dengan dunia remaja masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Imam, pastinya Andra merasakan kesepian yang sama.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi Andra dan keluarganya ketika saya dan suami bermaksud untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung. Kami pun dengan senang hati menginap di rumah Andra.
Kami sampai di Bandung sekitar pukul dua pagi, dan beristirahat di rumah Andra tanpa membangunkan siapapun kecuali tante saya yang memang belum tidur. Keesokan paginya, ketika yang lain sudah menghabiskan sarapan, saya dan suami masih tertidur setelah menunaikan salat subuh. Andra mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya.

“Kak Vita, kak Hendy, tehnya udah siap tuh. Ayo bangun, sarapan.” Panggilnya. Kami pun beranjak ke ruang makan, dan memang di atas meja sudah terhidang dua cangkir teh dan makanan. Andra menemani kami sarapan sambil sesekali bertanya, “Enak nggak tehnya?” atau “Enak kan makanannya?” Dan begitulah seterusnya. Setiap kali waktu makan tiba, Andra selalu memanggil kami berdua, dan mengajak serta menemani kami makan bersama. Di saat sepupu saya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing, si kecil ini sibuk memerhatikan kenyamanan kami berdua di rumahnya. Dibandingkan dengan Imam, Andra sangat beruntung memiliki dua orang kakak laki-laki dan perempuan serta seorang ibu yang tidak bekerja office hours seperti ibunya Imam. Tetapi rupanya ia mengalami kesepian yang sama, dan memberikan kehangatan yang sama dengan apa yang Imam lakukan terhadap para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Sederhana memang. Saya rasa semua anak pun bisa melakukannya. Tetapi di balik kelebihan itu, pastinya ditumbuhkan oleh pola didik tertentu yang sangat baik yang diterapkan oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kita memperlakukan tamu dan memberikan yang terbaik untuk kenyamanan mereka, itu pula yang akan ditiru oleh anak-anak kita kelak. Sebuah kehangatan. Rasanya tidak salah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ambillah hikmah dan pelajaran dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.



From Bintaro with Love ...

Assalamu'alaikum wr wb

Fiuh! Lega rasanya, akhirnya 'menyentuh' dunia maya kembali. Hehehe ... rupanya saya sudah addicted to internet. Kalo nggak cek email barang seminggu aja, pasti jadi bete. Soalnya email-email yang datang pasti akan menumpuk, dan malas sekali rasanya untuk menghapus-hapusnya (ups...berarti banyak email yang nggak kebaca dong? emang. hihi...)

Finally ... tinggal di Bintaro, di Graha Bintaro tepatnya. Akhirnya, rumah sendiri, dengan menyicil untuk bertahun-tahun ke depan. Kecil, sederhana, tapi membawa kesejukan baru. Pertama kali menginap di sana, rasanya berbunga-bunga, deh! Pencarian selama ini bersama my dear husband terbayar sudah. Rumah idaman kah? Yang jelas kami berdua (semoga cepet-cepet jadi bertiga) akan berusaha keras merajut keindahan-keindahan di sana. Ceilee....jadi romantis gini??? hihihi...

Seminggu di rumah baru, masih berkeringat dan bercapek-capek beresin rumah, benerin ini, tambahin itu, pelan-pelan semuanya akan selesai, insyaallah. Alhamdulillah ... bersyukur yang teramat sangat. Belum setahun nikah, tapi sudah diberi rizki menempati rumah sendiri. Mudah-mudahan membawa keberkahan bagi kami yang berada di dalamnya. Menimbulkan berjuta-juta inspirasi sehingga tetap terus bisa berkarya...amiiin! Ayo dong, Vit! Katanya mau jadi penulis! hehehe....

Mohon doa dari semua, semoga kami bisa 'menciptakan' surga di dalamnya ...

Wassalamu'alaikum wr wb

ps. Vita kembali beredar! hehehe