Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Wednesday, February 15, 2006
Berbagi Cinta dan Empati
Biasanya orang-orang akan bertanya, “Dikuret? Kok bisa sih? Kenapa? Kecapean, ya? Kurang istirahat kali? Terkena virus apa? Kenapa bisa ada bekuan darah? Tenang aja, biasanya habis dikuret pasti cepat hamil lagi ....“ dan seterusnya. Bosan. Tapi ya wajar saja, dan saya tahu pertanyaan-pertanyaan tersebut tak bisa dihindari. Setelah menjelaskan panjang lebar, biasanya saya akan mengatakan,“Ya, jadiin pelajaran aja deh. Doain ya, supaya bisa sehat dan hamil lagi.“ Habis perkara. No hurt feelings, lah. Saya tahu mereka semua hanya memberikan perhatian dan bermaksud menghibur. Walau rasa sedih itu tetap saja ada.
Email yang saya baca itu, tidak berisikan pertanyaan bertubi-tubi tentang apa yang saya alami. Seseorang itu hanya menceritakan mengenai apa yang ia alami, yang ternyata hampir mirip dengan yang saya alami. Ia seorang wanita, yang telah kehilangan bayinya setelah sembilan bulan dalam kandungan. Bayangkan saja, harapan yang telah memenuhi hatinya pupus seketika ia mendapati bayinya tak lagi bernyawa, tak lama setelah melahirkan, kalau tidak salah. Ia mengatakan bahwa perasaan sedihnya tak terkira, yang pastinya sama dengan apa yang saya rasakan. Ia tergerak untuk mengontak saya via email dan menceritakan pengalamannya itu setelah membaca tulisan saya. Saya tidak mengenal wanita itu, dan bisa jadi itu kali pertamanya membaca tulisan saya pada blog pribadi saya. Sebuah tulisan yang langsung membuat hati saya benar-benar tersentuh, dan sekali lagi menyadari bahwa kesedihan seperti yang saya rasakan bukanlah sesuatu hal yang istimewa dan perlu dibesar-besarkan. Toh, pastinya banyak sekali wanita yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih lagi dari yang saya alami. Seperti wanita itu. Sesungguhnya saya memang bersyukur, bahwa kehilangan itu saya alami ketika usia kandungan dua bulan. Saya tak bisa membayangkan bila kandungan itu telah membesar, saya telah merasakan gerak janin, atau bahkan setelah ia dilahirkan. Kesedihan macam apa yang akan saya alami? Allah Maha Tahu kesanggupan hamba-Nya.
Sepertinya berbagi sesuatu dengan orang lain telah menjadi sebuah kebutuhan yang akhirnya dapat memberikan pelajaran-pelajaran baru bagi diri saya. Mengalami sebuah musibah atau kejadian apapun tentu saja membuahkan hikmah yang tak terkira nilainya. Namun mendapatkan tanggapan atas apa yang saya alami, baik berupa nasehat, kalimat-kalimat yang menyatakan rasa simpati, dan berbagai bentuk kepedulian lainnya dari teman-teman saya, pun mengajarkan saya hal lain. Bahwa dalam menjalani kehidupan, seorang manusia sungguh amat lemah, dan tak mungkin terlepas dari orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Tak bisa kita menghadapi semuanya sendirian. Keberadaan orang lain dalam hidup kita sesungguhnya menjadi salah satu penguat agar kita tidak jatuh tersungkur terlalu dalam, berlarut dalam duka, dan melupakan bahwa ketika kita merasa ada di bawah, ada orang lain yang menempati posisi yang sama, bahkan banyak lagi yang lebih menderita. Kadang, ketika kita merasakan duka, kita lupa bahwa bukan diri kita sendiri yang mengalaminya.
Satu hal lagi, yang saya dapatkan dari kalimat terakhir dari paragraf di atas. Saya sempat memiliki pemikiran ini: Tidak mungkin ada seorang pun yang memahami apa yang saya alami, toh mereka berbicara demikian hanya karena rasa simpati yang dimunculkan. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang saya rasakan. Maka percuma saja kalimat-kalimat menghibur itu diucapkan. Sungguh jahat pemikiran saya itu. Tentu saja, emosi memuncak yang menyelimuti hati saya yang menyebabkannya. Dan saya pun sempat berpandangan negatif terhadap beberapa reaksi dan tanggapan orang-orang di sekitar saya. Bukannya mengurangi beban, sikap saya itu hanya menambah tumpukan stres yang merugikan diri saya sendiri.
Setelah membaca email tersebut, saya seakan baru menyadari bahwa saya bukanlah orang yang paling malang sedunia. Saya sungguh berterima kasih pada seseorang yang mengirimkan saya email itu. Isi email tersebut merupakan ‘cara menegur’ yang sungguh baik, menurut saya. Walaupun hanya dengan menceritakan kembali apa yang ia alami, walaupun sepertinya tidak ada kata-kata nasehat ataupun teguran secara eksplisit di sana. Tapi cukup untuk memberikan sebuah ‘tamparan’ yang menyadarkan saya. Tidak ada sebuah cobaan pun yang Allah turunkan melainkan untuk menguji hamba-Nya, memberikan ujian untuk mengukuhkan keimanannya, menjadikan kita lebih dekat pada-Nya, memberikan kesadaran untuk melangkah maju dan berbuat lebih baik dari sebelumnya.
Berbagi dan berbicara dengan seseorang yang juga mengalami musibah yang sama, sepertinya memberikan saya ketenangan yang baru. Bahwa saya tidak sendirian, dan banyak orang yang benar-benar mengerti apa yang saya rasakan, sebab mereka sendiri mengalaminya. Dan terhadap mereka yang tidak mengalaminya, tentu jawaban serta cerita saat saya berbagi dengan mereka akan memberikan pelajaran yang sama. Tak peduli apapun kalimat yang mereka lontarkan, mereka sesungguhnya menunjukkan cinta yang besar dengan segala bentuk perhatian tersebut. Memang, berpikir rasional saat hati sedang diliputi kesedihan bukan sesuatu yang mudah. Dan saya akhirnya menyadari bahwa walaupun mereka, teman-teman dan keluarga saya itu, tidak mengalami apa yang saya alami, namun mereka merasakan kesedihan yang sama. Itulah sesungguhnya cinta dan ikatan hati, bahwa ketika kita mengalami sesuatu, maka orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita pun merasakan hal yang sama.
Tuesday, February 07, 2006
Karena Mereka Cinta
Being annoyed by others, mungkin itu yang sebagian besar dialami oleh anak-anak remaja, atau mereka yang berusia dewasa dini. Sepertinya orang-orang di sekitar yang lebih dewasa, terutama mungkin orang tua dan anggota keluarga lain, selalu mengatakan hal-hal yang ‘mengganggu’ semangat keremajaan kita. Entah itu memprotes pilihan model pakaian, kegiatan luar sekolah, teman-teman, sampai pilihan jalan hidup. Mungkin tidak semua orang mengalami hal ini, tapi saya sendiri mengalaminya. Memang sih, sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang orang-orang dewasa itu katakan. Mungkin hanya caranya saja yang kurang pas atau waktu yang tidak tepat. Tapi, dengan emosi seorang remaja atau usia tanggung seperti itu, mana mungkin mau bersabar-sabar meladeni. Bagi mereka yang lost control, bisa jadi akan menghadapi pertengkaran atau hubungan yang renggang dengan keluarga, oleh sebab hanya masalah-masalah yang seharusnya bisa dibicarakan. Kalau ditanya alasan mengapa bersikap demikian, just being annoyed dan tak ingin dicampuri, mungkin itu jawaban gampangnya.
Suatu kali, saya mengalami kesulitan dalam memilih jurusan ketika hendak lulus dari SMU. Saya menyadari betul minat yang sejak kecil sudah muncul, tetapi dengan beragam aktivitas dan kurangnya arahan, saya belum benar-benar menyadari bahwa saya menginginkan minat saya itulah yang akan menjadi profesi saya kelak. Dan sayangnya, hal ini pun tak disadari oleh keluarga saya. Dan akhirnya, saya mengalami sedikit perbedaan pendapat dengan orang tua dalam memutuskan apa yang akan saya pilih. Pada akhirnya, saya mengalah juga. Dan meninggalkan minat saya tersebut. Tapi setiap kali salah satu anggota keluarga saya menyinggung urusan pekerjaan, masa depan, dan pilihan hidup (dan tentu saja mereka menawarkan berbagai bidang yang menurut mereka baik), saya menjadi super malas menanggapinya. Saya lebih suka berkata, “Ya … ya, itu memang bagus.” Ketimbang menjelaskan apa yang benar-benar saya mau. Suatu sikap yang salah, belakangan saya sadari. Atau bila di lain kesempatan mereka melakukannya lagi, dan saya sedang dalam kondisi ‘tidak siap’ dan mood yang jelek, akhir dari percakapan itu akan menjadi tidak enak. Dan saya benar-benar merasa terganggu dengan kejadian yang terus berulang itu.
Pada masa-masa lepas dari bangku SMU hingga masuk dunia perkuliahan, saya masih saja menghadapi situasi tersebut. Dan lucunya, saya tidak benar-benar berusaha untuk memahami permasalahan, dan mencari jalan keluar dalam berdialog yang baik. Supaya saya tidak lagi merasa tidak nyaman ketika topik tersebut dibahas kembali. Supaya saya tidak terus mengatakan, “Mereka benar-benar pengganggu terhebat.” Lagipula, apa enaknya menjalani hubungan yang seperti demikian dengan orang-orang yang paling dekat dengan diri kita? Bukankah masalah ini harusnya bisa menjadi pelajaran untuk bersikap lebih dewasa? Seharusnya. Tapi saya sungguh lambat mempelajarinya dan akhirnya mengubah sikap.
Daripada bersusah-susah meyakinkan apa yang saya mau kepada keluarga, saya malah mengambil sikap: Ya sudahlah, ikuti saja arusnya. Dan saya pun berusaha menyukai bidang yang saya pilih dalam perkuliahan, walau sebenarnya itu saya pilih hanya karena mendekati minat saya dalam dunia psikologi. Padahal cita-cita saya bukanlah menjadi seorang psikolog. Saya hanya menyukai ilmu tersebut. Dan itu tidak cukup untuk menjadi dasar semangat dalam menjalani fase kehidupan berikutnya. Begitulah, saya berkubang dalam kesalahan berkali-kali. Dan setiap kali membicarakan masalah profesi, dunia kerja, dan semacamnya, saya tetap merasa being annoyed by my own family. Bayangkan saja! Betapa menyedihkannya perasaan itu.
Entah bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Harus! Bila saya tak ingin cita-cita idaman saya itu terkubur dalam. Saya menyelesaikan kuliah dengan baik, dan menemukan hal-hal positif yang Allah karuniakan pada saya dalam bidang kuliah yang saya pilih. Dan saya pun kembali berusaha meraih cita-cita saya itu. Berusaha mengenal dan terlibat dalam komunitas yang akan mengantarkan saya pada impian itu, berusaha menghasilkan karya-karya yang lebih baik dengan target: harus dipublikasikan di media massa, dan belajar dari siapa saja yang saya temui.
Tahun 2004, mungkin bisa dikatakan bahwa itu tahun ‘kebangkitan’ diri saya. Saya ‘menemukan’ kembali gairah itu! Cita-cita saya: ingin menjadi penulis. Dan itu yang saya tanam kuat-kuat dalam benak saya sampai kapanpun. Saya lulus dari bangku kuliah, bekerja, dan berusaha untuk tetap menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik. Publikasi karya saya di media, walau belum banyak, sedikitnya membuktikan hal itu. Dalam hati, saya merasa senang sekali.
Still being annoyed? Hm, saya rasa itu hanya salah satu ion negatif yang berterbangan di pikiran dan hati saya selama ini. Saya merasa demikian sebab saya menyadari ketidakmampuan saya untuk memberi penjelasan dengan cara yang bisa mereka terima. Atau pada saat itu, saya belum benar-benar yakin dapat membuktikan bahwa cita-cita ini adalah sebuah jalan hidup yang saya pilih. Apapun pandangan orang tentang itu. Membuat orang lain mengerti, sepertinya memang tidak bisa hanya melalui kata-kata atau bahkan angan-angan saja.
Pada akhirnya, walau belum sepenuhnya yakin dan mendukung, saya tahu bahwa mereka hanya ingin yang terbaik terjadi pada diri saya. Bila mereka tidak mengerti apakah hal itu, maka kewajiban saya untuk menjelaskan. Semua mereka katakan tentu tidak pernah bermaksud mencampuri atau mengganggu hidup saya, melainkan karena mereka cinta. Ya. Cinta.
Bukankah dengan memandang suatu hal dengan pandangan positif jauh lebih menyenangkan?
Thursday, January 19, 2006
Kuretage
“Wah, Sayang, ternyata janinnya nggak berkembang. Bekuan darahnya nggak berubah, pasti menghalangi plasenta ngasih makanan ke bayinya. Harus dibersihin ini, ya.” Kalimat yang diucapkan dokter Anti terus berputar-putar di kepalaku. Di-kuret … kuretage … aaah!!! Bagiku sama saja dengan aborsi! Partus sebelum waktunya! Astaghfirullahal’azhiim ….
Dengan surat pengantar di amplop tertutup di genggaman, langkahku bergegas mengalahi suamiku yang pastinya tengah bingung. Berkali-kali ia memanggil, tapi telingaku serasa tuli. Mataku tertuju lurus ke arah sebuah pintu. Aku harus cepat-cepat, sebelum semuanya tumpah di tempat yang tak seharusnya. Seorang perempuan muda penjaga toilet tersenyum kecil melihatku masuk. Segera kubuka pintu toilet paling ujung, menutup pintunya, dan menumpahkan segalanya tanpa suara. Sungguh aku tak butuh perhatian dari orang-orang pada saat seperti ini. Aku menangis diam-diam. Pikiranku melayang, sekaligus berharap bahwa saat ini adalah hanya mimpi buruk yang paling buruk di antara yang kualami akhir-akhir ini. Ya, ini adalah sebuah mimpi buruk. Nyaris saja ingin kucubit pergelangan tanganku untuk membangunkan diriku darinya. Tetapi tangisku menyadarkanku bahwa semua ini nyata. Aku telah kehilangan!
Mungkinkah firasat buruk yang muncul belakangan menandakan hal ini akan terjadi? Entahlah. Tak ada lagi yang ingin kupercayai saat ini. Kebahagiaan itu hilang hanya dalam sekejap. Aku mengingat sebuah momen, di saat suamiku mengelus-elus perutku dan berkata, “Kayaknya perutnya udah mulai besar, ya?” dan saat itu yang kukatakan untuk menjawabnya adalah, “Iya, mudah-mudahan dedek-nya juga makin besar ya, nggak 3 mm kayak kemarin lagi.” Sebenarnya setelah mengatakan itu sebelah hatiku berharap cemas, dan bertanya-tanya, mengapa aku mengucapkan kalimat seperti itu? Bukankah kalimat itu menandakan bahwa aku pesimis terhadap kehamilan ini? Apakah aku sudah merasakannya sejak mengetahui kehamilanku?
Suamiku mengenggam tanganku erat, tapi nyatanya tak mampu meredakan apapun yang sedang merasuki hati dan pikiranku. Berbagai pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelum muncul pertanyaan berikutnya. Berbagai perasaan yang tak mampu kuterjemahkan satu per satu pada saat itu. Ketakutan, rasa kehilangan, kesedihan, perih, nyeri, dan seterusnya. Aku tahu, dalam kondisi emosi seperti itu, banyak hal bodoh yang pasti bisa kulakukan terhadap siapa saja termasuk diri sendiri. Sejak awal, aku sudah bertekad untuk tidak akan melakukan hal-hal bodoh itu, dan bersikap sewajarnya.
Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah terasa sangat lama. Satu hal yang sangat ingin kulakukan saat itu: menangis keras-keras. Dan tidak mungkin aku melakukannya di dalam angkot dan membiarkan semua orang berpikir bahwa aku ini gila atau sedang stres. Walau kenyataannya mungkin hampir.
Sampai di rumah, aku segera menaruh tas, mengganti baju, dan suamiku menghampiriku di kamar depan. Ia hampir tidak berkata apa-apa, hanya sebaris kalimat yang langsung membuatku menubruknya dan melampiaskan semua sampai beberapa lama. Hari itu adalah pertama kalinya aku menangis sekeras itu di hadapannya. Aku mengharapkan ia juga menangis sama sepertiku, tapi ternyata laki-laki memilih untuk bersikap tegar dan menyembunyikannya sampai waktu ia benar-benar sendiri. Sepertinya begitu. Ia mengatakan hal-hal yang rasional, tapi semua tidak mempan. Aku sudah tahu, bahwa bila kehamilan ini dibiarkan pasti akan membawa penyakit untukku sendiri, sedang si janin tak lagi bisa bertumbuh. Aku sudah tahu, bahwa ini semua hanya cobaan yang perlu dilewati dengan sabar, tapi aku ingin menangis keras-keras untuk kali ini saja. Aku sudah tahu bahwa ini bukan salah siapa-siapa, tapi aku menangis bukan untuk menyalahkan siapapun, melainkan untuk diri sendiri karena sebentar lagi akan melepas sesuatu yang sangat diharap-harapkan sejak lama.
Aku tertidur cukup lama, hingga rasanya sudah tiba waktu ashar. Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, terlihat ada sajadah yang menghampar. Rupanya suamiku tengah menunaikan shalat ashar. Dalam setengah sadar, kudengar isak tangis tertahan. Ia menangis. Mungkinkah? Entah mengapa sepertinya ada sedikit rasa lapang di hati. Kami merasakan kesedihan yang sama. Dan aku menangis lagi.
Ruang bersalin itu terasa lapang, terlalu lapang malah. Sebuah televisi 14 inch tergantung tepat di depan tempat tidur lebar yang cukup nyaman. Aku nyaris tak bisa membedakan, apakah itu ruang bersalin atau ruang rawat inap. Beberapa perangkat persalinan yang telah disiapkan menyadarkanku, bahwa sebentar lagi waktunya tiba. Aku nyaris tersenyum sendiri, melahirkan sebelum waktunya. Atau bisa disebut aku ini mendahului beberapa temanku yang sedang hamil.
Sejam telah lewat, televisi di depanku masih menayangkan film-film lama dari channel HBO. Seorang perawat yang ramah menyuruhku untuk mengganti baju yang kukenakan dengan sebuah baju berlengan pendek selutut dengan pita-pita di belakang. Cukup terbuka dan memang didisain khusus untuk mereka yang akan menjalani operasi macam begini. Untuk memudahkan. Tapi tetap saja pertanyaanku kepada perawat itu terdengar bodoh,
“Suster, jilbabnya boleh dipakai kan?” Perawat itu tersenyum kecil. “Boleh aja sih, tapi bajunya juga terbuka kok.”
Lantas aku memutuskan untuk tetap mengenakan jilbab sampai waktu operasi tiba. Aneh memang, tapi toh aku berada di balik selimut di tempat tidur. Tidak ada yang akan melihat keanehan pemandangan itu. Yang sangat aku hargai adalah, para perawat itu tak ada satu pun yang memaksaku atau berkomentar apapun mengenai jilbab yang tetap kukenakan.
Sambil berbaring, peralatan yang akan digunakan terpampang di hadapan. Di atas sebuah meja dorong dari besi yang ditutupi kain lebar berwarna hijau. Aku dapat melihatnya. Sendok-sendok sepanjang sekitar 30 cm dari besi, ada dua buah, lalu entah berapa lagi yang bentuknya bermacam-macam. Kepalaku mendadak pening. Alat-alat itulah yang nantinya akan mengorek-ngorek rahimku. Melukai janin kecilku, mengambilnya keluar. Aku nyaris menangis lagi. Teringat nama-nama yang sudah kusiapkan untuk anakku kelak. Kulirik suamiku, ia terdiam dengan wajah serius. Seperti biasanya.
Hingga beberapa saat ke depan, suamiku tetap setia menunggu di dalam bersamaku, setelah sebelumnya ia mengisi perut di kantin bawah. Aku sendiri berpuasa sejak semalam, sebab hari ini harus menjalani pembiusan. Total sepertinya. Baguslah. Setidaknya dokter Anti dan perawat tidak menyaksikanku menjerit-jerit nantinya. Waktu operasi diundur sejam. Kegelisahanku hampir memuncak menjelang setengah jam sebelum operasi dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha melakukan relaksasi sebisaku. Aku sudah merelakannya, Ya Allah … aku sudah ikhlas. Berulang-ulang kalimat itu kuucapkan. Aku tak lagi membayangkan reaksi apa yang akan terjadi setelah operasi selesai, yang penting aku bisa tenang menghadapi berbagai jarum suntik yang akan menusuk tangan kiriku. Suamiku, ia berdiri sambil tersenyum-senyum, berusaha untuk tidak tampak lebih panik daripada aku. Aku sendiri tak menghiraukan apapun reaksinya. Aku tahu ia selalu ada. Itu saja sudah membuatku tenang.
Hingga saat perawat pendamping dokter datang. “Sebentar lagi dokter Anti datang. Sekarang siap-siap ya, Bu.” Ia pun memintaku secara tidak langsung untuk membuka jilbabku, “Jilbabnya musti tetap dipakai, ya? Soalnya mau pasang selang oksigen, Bu.” Aku baru tersadar. Waktunya sudah tiba. Suamiku pun beranjak keluar, setelah aku mencium tangannya, dan ia berkata, “Yang tenang ya, Dek.” Aku pun menjawab lirih, “Doain ya, Mas.”
Tak lama setelah selang oksigen dipakai, lengan kananku dipasangi alat pendeteksi tensi darah dan denyut jantung, serta tangan kiri siap dengan jarum tempat akan disuntikkan obat bius. Dokter anastesi yang bertugas membius datang. Laki-laki. Muncul rasa risih. Apalagi jilbab telah terbuka, dan penutup kaki mulai digeser. Namun ia tampak tenang saja, dan menyuntikkan cairan bening untuk mengetes apakah aliran darah lancar. Setelah aku menyatakan tidak sakit dan cairan dapat masuk dengan lancar, ia pun mulai membius. Yang sempat kusaksikan hanya cairan itu tampak lebih kental dan berwarna putih, dokter Anti beserta perawat bersiap-siap di depan tempat tidurku, kedua kaki telah disangga, dan aku masih merasa tak enak dengan keberadaan si dokter anastesi. Kalimat yang sempat kulontarkan hanyalah, “Dok, nanti antibiotiknya jangan selain amoxicilin ya, karena saya alergi.” Dalam hati mengucap bismilllah dan beberapa doa, lalu semua gelap.
“Diana … Diana …” sayup-sayup sebuah suara membangunkanku dari tidur tak bermimpi. Sepertinya baru beberapa detik saja aku tertidur. Mataku membuka perlahan. Yang pertama kali kulihat adalah dua sosok yang pelan-pelan menjadi jelas, dokter Anti dan suamiku. Ketika melihatku sudah membuka mata, dokter Anti tersenyum dan berkata,
“Nah, udah sadar, tuh.” Lalu ia beranjak keluar. Suamiku duduk atau berdiri di samping kiriku.
“Emangnya udah selesai ya, Mas?” tanyaku takut-takut. Ia mengangguk,
“Iya, operasinya udah selesai.”
Tanpa sadar air mataku langsung keluar deras sekali, sampai sedikit sesengukan. Persis seperti anak kecil. Biar saja. Aku tak bisa merasakan apapun. Kesadaranku belum pulih benar, tetapi satu hal yang benar-benar aku sadari: aku telah kehilangan! Suamiku tak berkata apapun kecuali mengelus-elus tangan kiriku yang masih terbalut perban dan jarum. Pastinya ia tahu, kata-kata apapun tak mampu meredakanku. Aku melirik perutku. Tak ada bedanya. Janinku sudah tidak ada lagi!
“Dedek-nya udah nggak ada …” rintihku antara sadar dan tidak. Seorang perawat yang mundar-mandir membereskan peralatan yang tertinggal tampaknya menanyakan sesuatu kepada suamiku. Lelaki tercinta itu mengulangi apa yang aku katakan barusan. Menyadari akan banyak orang yang masuk ke ruangan, aku cepat-cepat meminta tissue dan menyeka air mata yang masih terus keluar.
“Loh, kok nangis sih, Sayang?” suara ceria dokter Anti ternyata masih bisa membuatku tersenyum sedikit. Memang wanita itu baik sekali, selalu ceria dan bersikap santai. Ya, mau apalagi selain menangis? Toh aku tak mungkin memasukkan kembali janin yang telah mati itu ke dalam rahimku lantas menghidupkannya. Biar saja aku menumpahkan semuanya hari ini. Begitu pikirku. Sesaat terlintas pikiran-pikiran dalam benak, bagaimana kejinya para ibu yang membuang atau menyiksa anak mereka, betapa bodohnya perempuan nakal yang berlaku seks bebas lantas dengan mudahnya mengaborsi janin mereka. Rasanya ingin kutampar mereka semua itu.
Di ruang rawat inap, suasana sedikit berbeda. Sudah ada pasien lain di kiri dan kanan. Ruangan itu tak begitu besar, tapi cukup nyaman, dihuni tiga orang pasien termasuk aku. Aku menempati tempat tidur di tengah. Keuntungannya adalah mendapat televisi tepat di tengah, satu-satunya benda hiburan di ruangan itu. Tak ada pengaruhnya. Sampai di sana, setelah semua perawat keluar dan berpesan ini itu, yang tak lagi kuingat, aku dan suamiku terdiam cukup lama. Dan aku masih saja berusaha keras menghilangkan sisa tangis. Suamiku menyampaikan pesan bahwa tadi mbak Rahma menelpon, Eci juga, ada beberapa sms yang masuk, dan aku segera mengingatkannya untuk memberitahu papa serta Jannah, sahabat dekatku, bahwa aku sudah di kamar rawat inap. Sambil menahan isak yang masih bersisa aku berpesan,
“Mas, nanti kalau ada yang dateng terus nangis-nangis jangan bolehin masuk, ya.” Maksudku supaya aku tidak tergoda untuk menangis lagi. Tapi suamiku bertanya,
“Yang nangis? Memangnya siapa?”
“Ya mama gitu.” Jawabku sambil memalingkan muka. Beberapa detik kemudian, benar saja, mama, papa, dan adikku datang. Tak ada satu pun dari mereka yang datang sambil menangis. Yang ada malah aku sendiri terisak hebat dan tak mampu berkata apapun selain sibuk menghapus air mata. Sepertinya mereka ikut terisak juga. Sudahlah. Sekali ini lagi saja.
12 Januari 2006, sepuluh hari lagi setahun pernikahan kami. Memang kami tidak merasakan bertahun-tahun lamanya tidak memiliki anak. Tetapi tetap saja kejadian ini adalah tekanan hebat bagiku. Rupanya Allah memang selalu mengujiku untuk setiap apa yang akan kudapat. Tak ada sesuatu yang dengan mudah kudapat begitu saja. Pasti sebelumnya akan menghadapi cobaan terlebih dulu. Tidak apa-apa. Sepertinya ujian-ujian ini akan menguatkanku dan juga suamiku. Ia menginap di rumah sakit, hampir saja tidur sambil duduk di kursi. Membantu dan membereskan semua perlengkapanku. Sampai kami tiba di Bekasi. Harus banyak istirahat katanya. Padahal dua hari pertama setelah operasi aku tak merasakan sakit yang dikhawatirkan. Tetapi rupanya itu harus juga aku lewati. Hari ketiga, perut ini terasa begitu sakit sampai aku tak bisa bangun dari tempat tidur, walaupun untuk duduk. Mulanya pukul 4 pagi, dan hingga malamnya suamiku tak beranjak dari kamar untuk mendampingi. Sakit, perih, nyeri, ngilu sampai ke tulang.
Aku telah kehilangan, sesuatu yang mungkin belum waktunya didapat. Atau bukan yang terbaik untuk didapatkan saat ini. Sebab yang muncul dalam setiap doaku adalah: Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik dari kehamilan ini, dan janin yang sehat serta tak tersentuh penyakit atau virus apapun yang membahayakannya. Ridhoilah aku dalam menjalani hari-hari kehamilanku ini, dan jadikanlah ia nantinya anak yang sehat dan soleh atau solehah. Yang akan membahagiakanku, mas Hendy, serta keluarga kami, dunia dan akhirat.
Doa itu tak bersalah apapun, dan akan kuulangi lagi saat kehamilanku berikutnya nanti. Yang berlalu sudah terkubur di halaman rumah orang tuaku. Seorang teman kerja suamiku yang kebetulan datang menjenguk di rumah sakit mengatakan sesuatu yang menguatkanku agar tetap bersyukur,
“Kalian semua masih sangat beruntung, nggak seperti aku dan istri yang sudah lima tahun tapi belum punya anak.”
Betul. Bagaimana dengan wanita yang harus di-kuret berkali-kali akibat gagalnya pertumbuhan janin atau rahim yang lemah? Bagaimana dengan wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa anak yang dilahirkannya meninggal setelah beberapa saat karena adanya kelainan atau virus sejak dalam kandungan? Bagaimana dengan … ah! Masih terlalu banyak wanita lain yang merasakan kepedihan lebih dari yang kurasakan.
Aku sudah ikhlas. Bye bye, Baby….
Bekasi, 15-16 Januari 2006.
Tuesday, December 27, 2005
Seorang Calon Bunda ...
Sepertinya akhir-akhir ada 'sepi' yang merayapi, perlahan. Walau nggak terlalu mengganggu sebenernya. Saya punya cukup banyak 'jendela' yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir 'sepi' yang bisa menggerogoti hati.
Lebih sering nonton berita (dan akhir-akhir ini tak banyak berita gembira yang tersiar), mulai membaca satu per satu tumpukan buku yang selama ini tidak tersentuh, menghubungi teman-teman melalui telepon, sms, maupun mengunjungi warnet seminggu sekali. Kegiatan rutin, tapi harus dilakukan, bila saya tidak ingin 'mengubur' diri dalam 'sepi'. Sambil perlahan-lahan, merencanakan kembali apa-apa yang ingin dilakukan ke depan. Satu yang sudah pasti: Saya harus tetap menulis!
Setiap perubahan yang terjadi dalam hidup ini pastilah memerlukan ekstra tenaga dan pikiran untuk menjadikannya menyenangkan dan tidak memberatkan. Ada satu perubahan membahagiakan yang hadir dalam hidup saya sekarang: Saya akan menjadi seorang bunda! Banyak doa dan harap yang sekarang lebih sering hadir dalam sujud dan hari-hari saya. Cemas, gelisah, bahkan tangis yang diam-diam menjadi 'penggoda', adalah kewajaran bagi hormon-hormon yang 'mengubah' tubuh seorang calon bunda. Menjadi lemah dan nelangsa sendiri? Tentu tidak! Saya sekuat tenaga mencoba untuk selalu berpikir positif. Hamil kan nggak harus mual, muntah atau bahkan pingsan segala. Dan, alhamdulillah, Allah memudahkan saya dalam hal ini. Walau cobaan-cobaan itu pasti ada. Seperti hari ini, si calon bunda ini mendapat 'serangan kaget' ketika membaca hasil USG. Lantas? Tersenyum saja, banyak-banyak berdoa, berusaha menjaga dan membesarkan calon janin dengan gizi yang baik, dan cukup istirahat. Pikiran yang sehat akan membantu calon bunda dan si janin untuk tetap sehat secara fisik dan emosi.
Benarkah 'sepi' itu menghalangi? Tentu tidak. Kalau saja kemalasan tidak menghalangi mata dan hati untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sekitar, kenyamanan itu pasti akan menggantikannya.
Jangan buang waktu, bergiatlah! Niat yang baik dan ikhlas menjadi awal dari setiap tindak laku yang menjadikan perubahan kehidupan suatu keindahan, bukannya hal yang menakutkan.
*menyemangati diri sendiri*
"Salam cinta untuk semua"
Wednesday, December 07, 2005
Masihkah Rindumu?
Dedicated to 9868sisterhood&brotherhood
"Sebuah kerinduan panjang untuk kalian"