Halaman

Monday, March 13, 2006

Menjadi Ruh

Sewaktu kuliah, sejak tingkat pertama saya mendapatkan amanah untuk menjadi bagian dari departemen pembinaan mushola fakultas. Tugas yang harus dilakukan adalah di antaranya menyelenggarakan event keislaman yang diadakan setiap awal semester perkuliahan. Pasca kegiatan itu, kami harus menangani beberapa kelompok mentoring di fakultas yang telah terbentuk. Menjaganya agar tetap stabil, merekrut anggota baru, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pendukung. Aktivitas di departemen pembinaan ini bisa dikatakan cenderung monoton dan tidak kelihatan. Sebab memang tanggung jawab kami adalah untuk menjaga seluruh anggota kelompok mentoring agama Islam supaya meningkat pengetahuan keislamannya, sekaligus melibatkan mereka dalam acara-acara kerohanian fakultas, baik dari lembaga manapun.

Saya ingat sekali, pada waktu disodori amanah tersebut, saya hampir menolak karena saya lebih suka mengerjakan pekerjaan yang sifatnya keluar, seperti yang dilakukan para anggota departemen pengkajian atau syiar mushola. Hobi saya menulis, mengerjakan pernak-pernik, membuat mading, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu sepertinya mendukung saya untuk berada dalam departemen pengkajian mushola. Tetapi akhirnya saya menerima amanah untuk menjadi bagian dari departemen pembinaan, untuk empat tahun masa perkuliahan saya di kampus.

Betul sekali. Hingga saya lulus dari kampus, saya tidak diperkenankan melepaskan amanah tersebut, bahkan ketika saya berkeinginan untuk bergabung dengan lembaga dakwah tingkat universitas. Memang tugas yang akhirnya saya emban semakin berat, sebab tidak saja menjadi anggota departemen pembinaan, melainkan juga akhirnya menjadi ketua forum mentor, dan amanah-amanah lain yang berkaitan dengan itu. Saya juga menyadari, bahwa amanah yang cukup berat seperti itu tidak bisa disambi dengan yang lain, sebab hanya akan menjadikannya terbengkalai.

Jenuh. Saya sempat merasakannya. Apalagi ketika posisi saya tidak lagi menjadi seorang ‘bawahan’. Menghadapi anggota yang sedikit malas, tidak mengerjakan amanah dengan baik, merasa tidak kreatif dan tidak memiliki ide untuk memecahkan masalah, dan setumpuk lainnya yang pastinya saya selalu hadapi. Empat tahun. Dan saya tetap bertahan. Bahkan saya menemukan sebuah lingkungan baru, walau masih dalam amanah yang sama, dimana ketua dan para anggotanya memiliki hubungan yang saya dekat. Saya menjadi bagian dari departemen pembinaan tingkat universitas. Saya selalu ingat, bahwa ketika akhirnya saya kembali menjadi ‘bawahan’, saya dan teman-teman pun terkadang membandel. Tapi si ketua sungguh memiliki cara sendiri untuk membuat kami makin mencintai amanah tersebut. Saya tidak pernah akan melupakan saat-saat terakhir menjalani amanah itu, hingga saya lulus kuliah, bekerja dan melepaskan amanah itu untuk kepengurusan selanjutnya.

Tahun 2004 akhir, saya mendapatkan amanah baru lagi, dalam bidang yang sangat berbeda dari yang pernah saya jalani di kampus. Tetapi keikutsertaan saya dalam organisasi ini sungguh merupakan hal yang saya sangat inginkan. Saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena cabang Bekasi. Niat saya bergabung adalah ingin belajar dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari pertemuan rutin yang biasa dilakukan. Tetapi ternyata Allah memberikan saya amanah yang cukup besar lagi kepada saya. Saya menjadi ketua FLP Bekasi. Membawahi kepengurusan yang langsung dibentuk setelah pembentukan kembali FLP Bekasi, dan melakukan perekrutan serta memberikan pelatihan kepada anggota baru. Berarti termasuk untuk diri saya sendiri.

Duduk melingkar di selasar masjid Islamic Center Bekasi setiap dua minggu sekali, membahas beberapa topik kepenulisan, membuat games dan simulasi seadanya, berusaha menjaga kuantitas peserta training, dan memberikan motivasi kepada mereka untuk menulis. Setahun pertama benar-benar tidak mudah. Kepengurusan pun direstrukturisasi ketika tengah tahun pertama karena ada beberapa yang tidak efektif. Anggota datang dan pergi, materi training diberikan dengan coba-coba sebab kurikulum dibuat sendiri, saya berjalan hampir terseok-seok dan merasa sulit sekali memberikan pencerahan dan pengembangan bagi organisasi ini.

Sempat suatu kali, ketika saya mengisi materi di pertemuan rutin itu, saya berada dalam kondisi yang nyaris ‘di bawah’. Saya merasa jenuh, sedikit kecewa dengan keaktifan pengurus yang hanya beberapa gelintir saja, namun harus dengan ceria menghadapi anggota yang masih antusias hadir dan menimba ilmu. Alhamdulillah, pada tahun pertama jumlah anggota yang rutin hadir sekitar lima belas orang. Dan itu berjalan cukup stabil, walau sempat berganti-ganti muka. Tetap saja, saya merasa stagnan dan nyaris tidak tahu harus berbuat apalagi untuk membuat organisasi ini lebih dinamis. Saya merasa sangat bosan.

Pada hari itu, malam harinya, saya merenungi kembali dua jam training yang telah saya hadiri di siang harinya. Saya sedang mencoba menata kembali hati saya dan berintrospeksi. Tiba-tiba saja sebuah sms masuk.

“Teh Vita, selama ini saya sering merasa jenuh dan tak bersemangat dengan segala kesibukan saya. Tapi hari ini saya sadar bahwa tugas seorang ketua sungguh lebih berat. Ia harus menjadi ruh bagi para anggotanya. Tetep semangat ya, Teh! Cayo!”

Saya tertegun cukup lama. Pesan itu datang dari Adnan, salah seorang anggota yang cukup komit dan sebenarnya cukup sering memberikan saya semangat seperti itu lewat sms. Kali itu Adnan bukan saja memberikan saya semangat, melainkan juga memberikan sentilan bagi diri saya.

Menjadi ruh. Istilah tersebut terngiang-ngiang terus-menerus. Dan saya tidak lagi merasa berat dan payah akan beban yang tadinya sempat membuat saya hampir ‘terjatuh’. Kalau saya bisa memberikan semangat kepada teman-teman saya di organisasi, dan apa yang saya sampaikan bisa menyuntikkan motivasi bagi mereka, sepertinya saya yang akan merasa benar-benar bahagia.

Memang benar, sebuah jamaah tidak akan bisa bergerak tanpa seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin tidak akan bisa melaksanakan tugasnya tanpa jamaah yang taat kepadanya. Pemimpin selemah apapun akan mampu melakukan tugasnya bila dibantu oleh jamaah yang kuat dan mendukungnya. Dan saya perlu menambahkan, bahwa sebenarnya yang menjadi ruh bukanlah hanya seorang pemimpinnya saja. Bahkan seringkali ruh itu didapat dari para anggota yang, secara sadar atau tidak, turut andil memberikan semangat di kala pemimpin sedang lemah.

Tuesday, February 28, 2006

Surabaya, Desember 2005

Image hosting by Photobucket



ki-ka : Ibuku sayang (mertua), My Dear Hendy Ferdian, diriku, dan Femmy



di Resepsi pernikahan Oki-Pipit (sepupunya suami), Surabaya




STIKOM Surabaya, Desember 2005

Image hosting by Photobucket




Bertigaan di Auditorium STIKOM Surabaya. Yang di tengah itu Femmy, si nakal adek iparku. Hehehe ...



Selamat ya, Fem ... jangan nakal2 lagi...

My Dear Cousin Anya




Image hosting by Photobucket



Anya emang selalu ngangenin. Rambut kritingnya, suara cemprengnya, senyum centilnya, pelukannya pas ketemu, pose-nya kalo difoto, semuanya deh!



Anak ini selalu jadi inspirasi. Seringkali kalo lagi keinget dia, sampe kebawa mimpi segala, ternyata dia lagi sakit or kenapa-kenapa. Kali ini juga gitu, keinget terus sama Anya. Mudah-mudahan gak ada apa-apa sama bidadari kecil itu, ya.



Siang ini mau nelpon Anya ah ....






Wednesday, February 15, 2006

The Great Teachers

Beberapa kali saya sempat menyaksikan sebuah film produksi Jepang tentang kehidupan para guru di sebuah sekolah. Tokoh utama film tersebut adalah seorang guru laki-laki yang bergaya nyentrik dengan sikap yang terkesan seenaknya, tidak serius, dan tampak tak baik menjadi teladan bagi murid-muridnya. Berbagai intrik akibat sikap culas dan iri para guru lainnya pun muncul ketika ternyata guru tersebut menjadi favorit murid-murid di sekolah tersebut. Mereka tak habis pikir, kebaikan apa yang ada pada diri guru nyentrik tersebut hingga murid-murid begitu memujanya. Kedengkian itu terus muncul tak hanya dari guru-guru di sekolah tersebut, melainkan juga sekolah elit lainnya dan juga dari pihak departemen pendidikan. Alhasil, si guru dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang dibuat-buat, dan sekolah tersebut difitnah hingga nyaris dihancurkan demi kepentingan pihak departemen pendidikan dan sekolah elit tersebut. Namun kesetiaan dan semangat para murid demi membela si guru menggugah para orang tua murid serta guru-guru lain yang tadinya tak menyukainya. Kehancuran sekolah tersebut akhirnya digagalkan oleh pengorbanan dan jerih payah seluruh murid dan guru sekolah, yang dipimpin oleh si guru nyentrik itu.

Pada awalnya, si guru nyentrik mendapat reaksi keras dan berbagai alasan ketidaksukaan seluruh sekolah terhadap dirinya. Memang benar, ia sering bertindak seenaknya (dengan memanfaatkan ruang kepala sekolah untuk tidur siang), berpenampilan nyentrik (mengajar di depan kelas hanya dengan menggunakan kaos oblong), dan terkesan tidak tahu malu (bersenang-senang di dalam sekolah walau ia mendapat hukuman tidak boleh mengajar dan harus membersihkan kamar mandi). Tetapi ia dapat membuktikan bahwa ia pantas diperhitungkan sebagai seorang guru, dengan menolong satu per satu muridnya dari bahaya maupun permasalahan yang mereka hadapi. Ia bahkan mengorbankan dirinya dicemooh orang lain demi sikapnya itu, dan bahkan sempat nyaris tak selamat dari upaya percobaan pembunuhan. Hasilnya, murid yang paling membencinya pun berubah pandangan. Sebuah kalimat yang saya ingat diucapkan oleh murid-muridnya adalah, “Kami bersedia melakukan apa saja untuk Onisuka. Kau pasti mengerti apa yang dimaksud dengan ‘apa saja’.” Film yang amat mengharukan.

Saya teringat, entah sudah berapa banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh para guru di sekolah terhadap murid-muridnya. Entah dengan latar belakang apa, sikap demikian bukannya akan menambah kecerdasan murid, melainkan akan menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan. Saya tak tahu, apakah hal tersebut disadari atau tidak. Kasus-kasus tersebut hanyalah terkuak sebagian, entah berapa banyak yang sesungguhnya telah terjadi. Sebut saja, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Ketika saya bekerja sebagai pekerja sosial di sebuah LSM, beberapa orang murid sekolah dasar datang bersama orang tua mereka, mengadukan pelecehan yang dilakukan oleh guru mereka di sekolah. Sepertinya memang tidak ada luka fisik yang diderita, tetapi saya memuji keberanian mereka mengadukan kasus tersebut untuk mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk. Dan, bayangkan saja, pelecehan tersebut dilakukan di dalam kelas di depan murid-murid lain saat pelajaran berlangsung. Anak-anak usia sekitar 8-10 tahun tersebut menceritakannya dengan semangat dan seru sekali pada saya, seolah tak ada kejadian buruk yang menimpa mereka. Trauma masa kecil biasanya akan mengendap untuk beberapa lama, dan kemudian muncul di saat dewasa dengan menampakkan dampak-dampak tertentu terhadap perilaku mereka terhadap diri sendiri maupun orang lain. Teori psikoanalisa dari ilmuwan terkenal, Sigmund Freud, sepertinya bisa dijadikan salah satu dasar pemikiran yang harusnya membuat para pendidik dan kita semua cemas. Akan jadi seperti apakah anak-anak itu kelak?

Jangan tanyakan mengenai kasus kekerasan fisik, sebab sudah tak terhitung lagi banyaknya. Setiap hari program penyiaran berita di semua saluran televisi menayangkan berbagai kisah yang mencengangkan, nyaris membuat bosan. Sekitar tahun 2000-an, saya mendapati beberapa buah kasus saja per bulan dalam catatan rekam medis di LSM tempat saya pernah praktek kerja. Tetapi dua tahun setelahnya, sepertinya LSM tersebut kekurangan petugas untuk menanganinya. Dan tahun 2005-2006 sekarang ini, entah apa yang membuat isu ini menjadi marak kembali, dan semua media berlomba mencari kasus baru yang lebih menghebohkan. Terlepas dari peran media yang kadang membesar-besarkan hal ini, coba tengok kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh para guru di sekolah, dan tanyakan pada diri masing-masing: pernahkah kita mengalaminya? Jangan bayangkan kejadian pemukulan hingga luka parah, atau semacamnya. Hal-hal sederhana, seperti mencubit, menarik rambut, memukul dengan penggaris, dan lainnya pun bisa dikatakan sebagai bentuk kekerasan fisik. Bagaimana dengan kekerasan non fisik, contohnya dalam bentuk pelontaran kata-kata makian dan cacian? Sadarkah bahwa sebuah kalimat makian atau umpatan pun menghasilkan dampak yang sama terhadap anak? Lalu, jangan heran bila beberapa tahun mendatang negeri ini akan penuh dengan orang-orang dewasa serta anak-anak yang suka memaki, berkata kasar, dan bersumpah serapah. Bukankah anak belajar dari orang dewasa yang dekat dengannya? Apalagi bila orang dewasa tersebut adalah seorang guru yang selama berjam-jam dalam sehari berinteraksi dengannya.

Saya teringat seorang sepupu kecil saya yang dengan sengaja ’menjatuhkan’ nilai salah satu mata pelajarannya di sekolah, hingga nyaris meraih angka merah. Sedangkan nilai-nilai lainnya nyaris sempurna. Ia dengan sengaja tak mau memperhatikan pelajaran tersebut di kelas, tak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan hal itu sempat menyebabkan amarah kedua orang tuanya. Ia pun mengejutkan ayah ibunya ketika memberikan alasan bahwa: pak guru pelajaran itu sadis, suka menyakiti dan berkata kasar. Sikap pak guru itulah yang menyebabkannya tidak menyukai pelajaran tersebut, bukan karena ia tidak tertarik terhadapnya.

Film yang saya tonton itu berjudul The Great Teacher Onisuka. Mungkin bagi sebagian orang film itu hanyalah salah satu tontonan biasa seperti halnya sinetron-sinetron Indonesia. Tapi bagi saya, membayangkan bersekolah di tempat dimana para guru mengajar dengan semangat dan penuh kecintaan terhadap murid-muridnya, dan para murid belajar dengan penuh kebanggaan terhadap sekolahnya, sungguh indah dan pasti menyenangkan.

Walaupun Jepang terkenal dengan sistem pendidikannya yang ketat, dan terdapat sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan para siswa akibat stres, namun sisi baik dari keberhasilan mereka menanamkan kecintaan para murid untuk belajar dan kecintaan para guru untuk mengajar, patut dicontoh. Saya rasa, di setiap kejadian pastilah terdapat sebuah hikmah yang bisa diambil. Toh, memang mereka dapat memetik buah hasil dari perhatian besar mereka terhadap pendidikan di negeri itu. Seperti halnya murid-murid dan para guru di sekolah dalam film itu, yang akhirnya menyadari kecintaan mereka terhadap sekolah mereka.

Sepertinya nyaris tak mungkin menemui keadaan seperti itu sekarang ini. Entah apabila film tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Jepang. Tetap saja, menurut saya, sesuatu tak mungkin terjadi bila tidak dimulai. Dan memulai sesuatu sendirian tanpa adanya dukungan dari lingkungan biasanya akan perlahan memudarkan semangat dan idealisme itu. Dan yang menjadi pionir biasanya akan menemui ujian sekeras batu karang, bahkan untuk waktu yang tak bisa ditentukan lamanya. Buah kenikmatan memang tidak bisa diraih dengan mudah, dan perjuangan serta pengorbanan yang dilakukan untuk meraihnya akan menambah kenikmatan buah tersebut nantinya. Tidak hanya harapan dan keyakinan saja yang diperlukan, usaha keras dan dukungan benar-benar menjadi kebutuhan riil untuk mewujudkan sebuah mimpi.