Halaman

Saturday, December 02, 2006

Jakarta-Sangatta

Balikpapan-Sangatta

Setelah satu hari beristirahat di sebuah hotel di Balikpapan, akhirnya tiba juga saatnya berangkat menuju Sangatta. Setibanya di airport, saya rada deg-degan. Sedikit gugup dan sibuk menebak-nebak, seperti apa bentuknya pesawat CASA yang akan mengangkut kami menuju Sangatta. Petugas dari Aircraft tersebut memeriksa selembar kertas yang berisikan informasi pemesanan tempat yang dibawa suami saya. Tak lama, ia meminta kami bergantian menimbang berat badan di sebuah timbangan raksasa (yang saya pikir timbangan semacam itu hanya diperuntukkan barang-barang besar, karung goni, atau semacamnya). Saya melirik benda aneh itu, dan sedikit ragu untuk menggunakannya, atau lebih tepatnya takut terlihat baru pertama kali naik CASA dan dengan bodohnya melakukan hal-hal yang memalukan. Tapi melihat suami saya menaiki timbangan tersebut dengan santainya, lengkap beserta sepatu yang dipakai dan tas ransel di punggung, saya memutuskan untuk juga melakukannya seolah sudah pernah sebelumnya. Namun tak urung celoteh-celoteh heran pun meluncur deras dari mulut saya kepada suami yang saat itu hanya menanggapi dengan cengar-cengir.

Pesawat CASA

Saya tidak boleh lupa menyebutkan bahwa di counter check in tadi kami berdua masing-masing diberikan sebuah bungkusan berwarna kuning. Hampir saya mau mengantonginya saja dan berpikir akan membukanya nanti atau bahkan melupakannya. Suami saya mengingatkan bahwa benda empuk di dalamnya adalah sepasang penyumbat telinga yang sangat dianjurkan untuk dipakai ketika pesawat akan lepas landas. Ups … lagi-lagi hampir saya lupa bahwa saya akan menaiki kendaraan yang masih asing sama sekali, yang kabarnya super berisik serta berguncang-guncang. Tak sadar saya mengelus-elus perut yang mulai membuncit berisikan janin usia 3 bulan.

Tak lama menunggu, kami berdua (beserta beberapa belas orang penumpang) dipanggil untuk menaiki pesawat. Ha. Akhirnya saya bertemu muka dengan pesawat kecil itu. Jantung saya berdebar cukup kencang, antara penasaran karena belum pernah dan khawatir akan mengalami guncangan kencang di dalamnya nanti. Sepertinya saya akan memegangi perut saya terus sepanjang perjalanan.

Ruang dalam pesawat mungkin benar-benar didesain pas untuk 20 orang penumpang beserta dua atau tiga orang awak pesawat. Si pramugari (kalau memang bsia disebut begitu) sampai hapal nama-nama kami dan dengan sigap menunjuk tempat duduk yang akan kami tempati. Sepertinya ia memang petugas yang tadi mendata kami di counter check in. Saya dan suami menempati tempat duduk nomor dua dari depan. Dua lajur tempat duduk tersebut masing-masing berisi dua tempat duduk di tiap barisnya, dan terdapat sekitar lima baris ke belakang. Jangan membayangkan tempat duduk empuk dan lebar dari pesawat tipe BOEING. Saya hampir-hampir sibuk berpikir, bagaimana dengan penumpang yang memiliki bobot berlebih dan postur badan lebar, sepertinya tidak akan muat duduk di kursi tersebut. Setelah mengenakan sabuk pengaman, saya sibuk menenangkan diri dengan membaca doa-doa. Itu juga saya lakukan setelah bersusah payah menggunakan penyumbat telinga dengan benar, dengan sebelumnya melirik ke kiri dan kanan, memperhatikan bagaimana orang-orang menggunakannya.

Jarak Balikpapan-Tanjung Bara ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan. Terbayang kan betapa jauhnya Sangatta dari 'pusat peradaban' Kalimantan Timur? Bila berkenan menempuhnya lewat darat, siap-siap saja tertidur panjang atau malah duduk sambil pegal-pegal selama kurang lebih tujuh jam.

Tanjung Bara

Airport yang benar-benar kecil. Mungkin kurang tepat kalau disebut sebagai bandar udara ya? Landasan pesawat CASA, sebuah bangunan beratap tanpa pintu dan jendela tak begitu besar, dan lapangan parkir cukup luas merupakan bagian dari 'airport' tersebut. Cukup untuk menjadi tempat turun-naik penumpang beserta bagasinya, dengan ruang tunggu seadanya.

Bersama penumpang lainnya (yang sebagian besar adalah pegawai KPC) kami mengantri di tempat pengambilan bagasi. Agak lama juga, sebab koper-koper dan barang-barang lain milik penumpang diturunkan dan diantar dengan menggunakan troli khusus yang didorong dengan tenaga manusia sampai ke tempat pengambilan. Troli tersebut hanya ada satu, jadi dua orang petugas itu harus bolak-balik mengambilnya kembali dari bagasi pesawat.

Kami berdua dijemput oleh seorang sopir kantor KPC yang telah dihubungi sebelumnya oleh suami saya. Di dalam mobil, suami saya cepat-cepat mengingatkan mengenai aturan ketat dari KPC bagi pengguna kendaraan, yaitu memasang seat belt (baik yang duduk di depan maupun di belakang) apabila menggunakan mobil kantor. Katanya bila aturan itu tidak dipatuhi, ada denda sekian rupiah yang harus dibayar, beserta teguran keras. Hmm … cukup bagus juga sebagai motivasi untuk mendisiplinkan diri. Namun saya dengan payah memasangkan seat belt itu dengan nyaman di perut saya yang sudah berubah bentuk.

Perjalanan dari Tanjung Bara ke Lembah Hijau (nama komplek perumahan tempat kami akan tinggal) membawa nuansa berbeda ke dalam hati saya. Apalagi sebelumnya kami sempat singgah ke komplek perumahan Tanjung Bara mengantarkan seorang pegawai KPC yang ikut di mobil bersama kami. Suasana yang rasanya tidak bisa ditemui di Jakarta. Sepanjang jalan yang agak berkelok-kelok, saya mengedarkan pandangan ke kiri-kanan jalan yang masih terlihat 'hijau' dan berbukit-bukit. Sepertinya kontur tanah di Sangatta memang begitu.

Rumah-rumah yang terletak di komplek Tanjung Bara sekilas terlihat tidak 'tertata rapi' seperti halnya yang ada di kota-kota besar lain. Dari satu rumah ke rumah lainnya agak berjauhan, tapi itu malah memberi kesan lega dan tidak bertumpuk-tumpuk apalagi padat. Disamping penyebabnya adalah kontur tanah yang memang berbukit-bukit. Pihak kontraktor perumahan mungkin memutuskan untuk tidak mengubah kontur tanah, dan menyiasatinya dengan mendirikan perumahan dengan struktur bangunan semacam 'rumah panggung', berdinding kayu, beratap genting atau asbes (tergantung jenis perumahan). Sebab bahan bangunan macam semen, batu, pasir, dan sebagainya memang super mahal. Maklum, keterbatasan transportasi.

Katanya memang komplek di Tanjung Bara diperuntukkan mereka yang jabatan di PT KPC sudah lebih senior dengan gaji yang sudah pasti jauh lebih besar dari kebanyakan pegawai. Sebab bila mau, bisa saja rumah-rumah tersebut ditempati oleh siapa saja, asal mampu membayar uang sewanya yang bisa dua-tiga kali lipat dari pasaran harga sewa di komplek lain. Kelebihannya, komplek Tanjung Bara memang tertata lebih apik, asri, dengan bahan bangunan yang lebih bagus, ukuran rumah lebih besar, yang menurut saya suasananya mirip 'luar negeri'. Bukan hanya saya saja yang berkomentar begitu. Seorang teman saya yang kebetulan juga agak mengenal kondisi Sangatta dan suasananya pun menyatakan hal yang sama.

Sangatta Baru dan Sangatta Lama

Keluar dari wilayah Tanjung Bara, sampailah kami di kota Sangatta. PT KPC mendirikan area yang kemudian dinamakan Sangatta Baru atau orang-orang sering menyebutnya komplek KPC atau daerah 'dalam'. Tidak usah repot-repot membayangkan ada semacam gerbang besar yang memisahkan satu daerah ke daerah lainnya. Sebab yang saya visualisasikan sebagai Sangatta Baru dan Lama adalah seperti ini:

Bayangkan dua buah garis yang membentuk huruf T, dengan ukuran masing-masing garis yang tidak usah dipusingkan mana yang lebih panjang. Garis yang terletak melintang adalah wilayah Sangatta Lama atau Luar, dan yang terletak vertikal adalah wilayah Sangatta Baru atau Dalam. Pertigaan yang mempertemukan kedua garis tersebut ditandai dengan berdirinya bangunan Plasa Telkom di sebelah kanan garis yang vertikal. Nah, mulai dari Plasa Telkom hingga garis lurus ke bawah tersebut terletak berbagai fasilitas umum dan komplek perumahan yang agak sulit saya sebutkan satu persatu. Tetapi tentu saja, Yayasan Sangatta Baru atau PT KPC mengatur bangunan-bangunan tersebut demikian rapi, dan fasilitas umum terletak di pinggir jalan supaya mudah dijangkau. Seperti Medical Center, masjid Darussalam, gereja, Radio GWP, PMI, Town Hall, dll. Sedangkan komplek-komplek perumahan diatur terpisah dari sarana-sarana umum tersebut, terletak agak ke belakang dengan ciri khas yang berbeda-beda.

Walaupun sepertinya di Sangatta Baru segala macam keperluan bisa didapat di Town Hall (seperti pasar tradisional, mini market dan koperasi yang cukup besar, bank BRI, beberapa ATM, medical center, pusat makanan, bahkan perpustakaan dan sekolah), tetapi tentu saja beranjak ke Sangatta Lama kerap kali dilakukan untuk mendapatkan barang-barang dengan harga lebih murah dan alternatif yang lebih banyak. Walaupun sepanjang 'garis horizontal' tersebut hanya terdapat toko-toko kecil di pinggir jalanan yang terlihat lurus hingga entah sampai ke mana. Ada pasar Teluk Lingga yang lebih lengkap serta menjual berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih murah. Ada toko-toko meubel yang menjual perabot rumah semacam tempat tidur, meja rias, lemari pakaian, dan lain-lain. Cukup lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan para pendatang baru, walaupun jangan berharap terlalu banyak pilihan yang bisa didapat. Bahkan ada sebuah toko yang terletak di ujung jalan Sangatta Lama, yang menerima kreditan bagi pegawai PT KPC maupun perusahaan kontraktor lain yang ada di Sangatta, atau siapa saja yang sudah berlangganan di toko tersebut.

(to be continued)

Saturday, October 14, 2006

Kabar dari Sangatta

Assalamu'alaikum semuanya ...

Akhirnya 'kembali' ke peradaban. Hehehe ...
Saya sudah satu bulan di Sangatta, Kutai Timur. Dalam rangka apa? Nggak usah diceritain lagi, dong. Homesick? Pastinya. Kira-kira dua minggu pertama di sini agak terlalu sering inget yang di Jakarta n Bekasi. Norak sih, tapi mau diapain lagi? Saya kangen keluarga, kangen sepupu-sepupu kecil saya, kangen teman-teman, kangen FLP, kangen semuanya!

Tapi sekarang sudah bisa mengendalikan diri. Nggak baik stres lama-lama, karena si kecil yang udah mulai rajin akrobat di perut bisa terpengaruh. Masa belum lahir udah disuruh stres?! Oya, kandungan saya sudah hampir 5 bulan, kondisi alhamdulillah baik, terakhir USG hampir sebulan yang lalu dan ternyata calon buah hati saya itu agak-agak 'aktivis' alias nggak bisa diem. Hehehe...mirip siapa?

Sebenarnya banyak...sekali yang ingin saya bagi. Saya sudah merencanakan menulis panjang lebar tentang Sangatta. Menarik pastinya. Tapi kayaknya bukan sekarang ya. Saat ini saya 'numpang' nge-net (dengan perasaan bahagia) di Perpustakaan YPPSB (Yayasan Pendidikan Prima Sangatta Baru) yang dibatasi per orang hanya 20 menit saja. Dari 6 komputer yang tersedia, cuma 1 saja yang lengkap bersama keyboard dan CPU-nya. Hehehe ... mungkin karena musim liburan sekolah ya. Tapi tenang aja ... I'll be back soon!

Salam cinta buat semuanya. Doakan supaya saya tidak pernah berhenti menulis.

Friday, August 25, 2006

Kangen? Pastinya.

Assalamu'alaikum semuanya ...

Ternyata kangen banget ya, dah lama nggak nulis. Sekarang saya baik-baik aja, masih di Bekasi. Belom bisa nyusul suami tercinta ke Kaltim karena lagi nunggu kandungan usia 3 bulan. What? Kandungan? Hehe...yep, saya (alhamdulillah) hamil lagi. Mudah-mudahan kali ini Allah berkenan untuk memberikan kesehatan dan kekuatan, nggak ada masalah apapun hingga melahirkan. Amin.

Aktivitas sekarang? Nyaris di rumah aja. Baru pertama kali ngerasain 'sakit'nya tiga bulan pertama nih. Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran. Amin. Trimester pertama tanpa suami di samping saya? Hiks ... bisa 'hujan' tiap hari. Hehehe ... tapi nggak apa-apa. Setiap ujian pasti ada ganjarannya, kan?

Yang jelas, saya udah kangen banget nulis. Yah, anggap aja istirahat deh. Toh saya nggak akan bisa berhenti nulis. Siapa tau di Sangatta nanti saya bisa lebih produktif. Amin. Banyak harapan dan keinginan di tempat baru.

Ups...ternyata angka jumlah mail di inbox saya masih menunjukkan 1000-sekian. Jadi, mungkin kapan-kapan saya kembali lagi ya. Cukup sekian lepas kangennya...

Wednesday, July 05, 2006

Di Antara Pilihan-pilihan

Sekali lagi saya menuliskan sesuatu tentang seorang teman. Saya mengenalnya sejak awal tahun perkuliahan. Tahun pertama dan kedua, saya tidak bisa beranjak dekat kepadanya. Entah. Mungkin waktu itu saya terlalu disibukkan oleh urusan organisasi di kampus. Saya pun tak pusing-pusing berusaha untuk dekat dengannya. Tapi ternyata di tahun ketiga, hingga akhir kuliah, dan sampai kami lulus, Allah menakdirkan saya mengenalnya lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan. Saya tidak menyangka bisa begitu dekat dengannya. Mungkin juga teman-teman lain berpikir hal yang sama, saya tidak tahu. Saya mendapati teman saya itu ternyata sangat cerdas, memiliki pikiran-pikiran yang menarik-walau kadang agak keterlaluan, dan talkative sekali. Rasanya saya betah mengobrol lama-lama dengannya, tentang berbagai hal. Pada beberapa bidang, kami ternyata memiliki minat yang sama.

Pelan-pelan saya mencoba mengerti 'dunia'nya, dan demikian juga dia. Kadang bahkan saya merasa saya terlalu 'masuk' ke dalam dunianya, dan cukup sering bertanya pada diri sendiri "Ngapain saya di sini?" serta merasa bahwa sebenarnya saya tidak nyaman bila menempatkan diri terlalu 'dalam'. Saya tahu bahwa awalnya saya sekadar tertarik untuk mengetahuinya, dan pada akhirnya toh saya mengeluarkan diri, bersikap biasa, dan sedikit membuat jarak supaya saya tahu bahwa saya lebih nyaman menjadi seperti apa adanya diri saya. Saya tetap berteman seperti biasa dengannya. Untuk satu dua hal, ia sering menelpon saya lama sekali untuk bertanya ini-itu dan mengobrol sedikit ngelantur. Kami berdua rasanya memang kadang memiliki ide-ide aneh yang disepakati bersama sebagai hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Contohnya adalah menulis novel. Padahal saya sempat berkata pada diri sendiri bahwa rasanya saya tidak mungkin membuat sebuah novel. Saya belum punya 'napas yang cukup panjang' untuk menghasilkan karya sepanjang itu. Itu perkataan saya dulu.

Teman saya itu, tentu saja, seringkali membicarakan topik-topik novel yang akan atau sedang ia tulis. Dan saya tidak pernah tahu apakah ia benar-benar menuliskannya. Yang jelas setiap kali ia mendeskripsikan cerita yang sedang ia imajinasikan, atau baru menyebutkan judulnya saja sudah membuat saya terpingkal-pingkal dan saya berkata akan mendukungnya seratus persen untuk menyelesaikan novel itu. Sepertinya kepalanya penuh dengan ide-ide gila (setingkat lebih tinggi dari kreatif) yang kalau benar-benar bisa dituliskan dalam bentuk novel, pasti saya adalah orang pertama yang akan menertawainya habis-habisan, lalu membelinya.

Memang orang yang sedikit aneh, teman saya itu. Saya tidak mau menyebutnya 'eksentrik', karena penampilannya benar-benar rapi jali seperti halnya dandanan pria-pria metropolis lainnya. Lho? Laki-laki? Ya tentu saja. Ia adalah seorang laki-laki yang rasanya bisa berteman dekat dengan semua wanita. Dan untuk 'jenis' yang seperti ini, tentu saja sangat oke untuk jadi teman ngobrol. Singkat cerita, soal ‘keanehannya’, saya tidak mau menjadikan kata ‘aneh’ sebagai standar atau patokan. Itu hanya istilah saja, karena saya tidak tahu harus mendefinisikannya dengan apa. Sebutlah ia sebagai seseorang yang punya banyak sekali keinginan-keinginan yang kadang membuat orang-orang menggeleng-geleng, bila tidak terbiasa mendengar hal-hal itu. Punya pendapat yang mungkin sebagaian orang bilang 'nyeleneh' atau 'tidak pantas' dan sebagainya. Sejak tingkat pertama kuliah, ia sudah begitu. Kadang kalau penyakit 'skeptis' saya timbul, saya hanya akan mendengus dan menolehkan kepala ke arah yang lain. Tidak peduli. Tapi semenjak saya berhubungan dekat dengannya, dan juga mulai mendapatkan informasi tambahan dari beberapa teman lain tentang dirinya, sepertinya hati dan pikiran saya memutuskan sesuatu. Ia butuh pertolongan.

Saya tidak membicarakan akan memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Tentu tidak. Yang saya tahu, bertahun-tahun kemudian saya menjaga hubungan baik saya dengannya, dan mendengarkan setiap perkataannya yang paling konyol dan 'nyeleneh' sekalipun, tanpa menunjukkan rasa tertarik atau kaget. Sebab saya memang tidak kaget. Tertarik, mungkin sedikit. Ia sungguh mudah ditebak. So predictable. Saya jadi ingat seorang teman sekelas saya waktu SMA yang juga punya kecenderungan yang sama dengannya. Teman saya yang di SMA itu juga demikian, curhat habis-habisan pada saya, dan saya menjadi salah satu orang yang (secara tak terduga-duga) dekat dengan dirinya. Mungkin saya seperti punya magnet untuk orang-orang yang seperti itu, tidak tahu juga. Tapi saya sungguh-sungguh ingin membantunya. Walau saya tidak paham segala macam teori psikologi, dan saya memang bukan psikiater, tapi nilai mata kuliah psikiatri saya A, dan saya paham bahwa Sigmund Freud berkoar-koar tentang masa lalu seseorang yang mempengaruhi kehidupannya di masa depan bukan tanpa alasan. Walau sebagian orang kurang percaya dan menganggapnya sinting, tapi rasanya teori itu berguna juga.

Dalam sebuah kesempatan, saya berbicara blak-blakan padanya, bahkan setengah mengomelinya, dan memintanya untuk kali itu saja berpikir lebih waras. Hilangkan semua sisi kepribadiannya yang dibuat-buat atau jadilah normal sekali itu saja. Tapi kemudian, saya malah mendapatinya dalam kondisi yang 'lebih mengenaskan'. Dan saya mulai paham bahwa ia tak sekalipun pernah mengatakan sesuatu dengan jujur pada saya. Saya bahkan berkata bahwa seringkali bingung, manakah sisi kepribadian yang sesungguhnya yang ia tunjukkan selama ini. Kapan ia menjadi dirinya sendiri. Asal tahu saja, dalam lima atau enam tahun pertemanan kami, saya sudah melihatnya 'berganti-ganti' kepribadian (kalau tidak bisa dibilang 'gaya hidup') sebanyak tiga atau empat kali. Dan saya tidak pernah tahu mana yang benar, atau sejak kapan ia mulai menjadi labil seperti itu. Yah, sebenarnya saya tidak perlu ambil pusing. Seorang teman sekampus dulu pernah bicara serius dengan saya dan mewanti-wanti untuk tidak mempercayai setiap ucapan yang dilontarkan teman laki-laki saya itu. Saya sudah menduga. Dan mengira bahwa anak itu hanya butuh perhatian dan rasanya memang ingin dinilai sebagai seseorang yang 'hebat', 'tidak terduga', melakukan hal-hal yang tidak umum atau tidak dilakukan orang lain, gila, sinting, dan macam-macam lagi. Kalau saya pernah sekali 'mencela'nya, dan mengatakan bahwa dia sudah keterlaluan, maka reaksinya adalah nyengir lebar-lebar dan mengatakan "Itulah gue, gue sendiri juga nggak habis pikir. Kadang ide-ide itu muncul begitu aja dari otak gue." Kira-kira begitu katanya. Saya pun hanya geleng-geleng, dan meneruskan pertemanan itu tanpa beban. Walau dalam hati saya tetap berharap ia bisa berpikir jernih.

Panjang sekali cerita saya tentang dia. Dengan tidak bermaksud memujinya, ia memang salah seorang yang cukup unik. Tapi dari sudut pandang pikiran saya, saya justru sangat amat mengasihaninya. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres padanya di masa lalu, atau di keluarganya. Entah. Jumlah tahun pertemanan saya dengannya mungkin belum cukup banyak untuk membicarakan hal-hal yang serius seperti itu.

Pagi ini, saya membaca sesuatu yang nyaris membuat saya membelalak, tapi sebenarnya tidak perlu. Teman saya itu kini tidak lagi tinggal di Jakarta, ia telah ‘merantau’ entah untuk apa ke kota lain yang cukup jauh. Ia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, dengan segala macam kenangan di sini. Dan menjadi seseorang yang lain. Saya tidak tahu apakah ia lantas berpindah keyakinan (agama), tapi yang cukup jelas ia sebutkan adalah ia memang berpindah keyakinan dalam hal identitas seksual. Saya tidak tahu apakah istilah itu tepat atau tidak. Ia memutuskan untuk menjadi seorang 'gay'. Saya tidak kaget. Tentu tidak. Yang pertama kali terbayang di benak saya adalah judul makalah yang dulu pernah ia bawakan dalam sebuah kelas mata kuliah: homoseksualitas.

Pikiran saya lantas menyambangi wajah-wajah teman-teman saya yang lain. Teman saya sejak SD, SMP, SMA, kuliah, dan teman-teman di kantor tempat saya bekerja dulu.

Allah memang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Bila pilihan hidup yang kita ambil jatuh pada jalan yang lurus, maka Allah akan melindungi dan menjaga. Bila pilihan itu berpaling pada kesesatan, maka kita akan semakin terjerumus. Ini adalah salah satu prinsip dasar kehidupan yang saya pegang terus sejak dulu. Tak perlu lagi tanya-tanya soal 'standar dan patokan'. Bagi saya sudah jelas. Bila ia muslim, maka lihat saja pedoman hidup yang sudah Allah berikan! Dan bila ia non-muslim, mereka tahu yang terbaik buat diri mereka sendiri.

Hari ini saya berdoa panjang sekali, memohon supaya segala perkataan yang dulu pernah saya ucapkan padanya terselip sedikit atau banyak nasehat atau peringatan. Kalau tidak, maka saya tidak menjadi teman yang baik baginya, dan saya tidak memberikan manfaat kebaikan apapun padanya.

6 April 2006

Menjadi Orang-orang yang Dewasa

Ketika saya masih kecil, kabarnya kedua orang tua saya kewalahan menjawab segala macam pertanyaan yang saya ajukan, seringkali berturut-turut. Kadang, seingat saya, ada beberapa pertanyaan yang tidak dijawab karena ayah atau ibu saya tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi mereka biasanya berusaha menjawabnya, walau mungkin tidak dengan jawaban yang tepat atau tidak memuaskan saya. Begitulah anak kecil, dan sepertinya sekarang ini kelakuan anak-anak kecil sudah semakin luar biasa. Dalam hal positif atau negatif? Saya tidak mau bersilat lidah dengan ada atau tidaknya batasan yang jelas tentang 'alat ukur' ini, maka saya katakan dengan jelas bahwa sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang yang seharusnya digunakan oleh setiap muslim di dunia: Islam.

Menjadi orang tua, atau orang yang lebih tua dari anak-anak itu, kadang memang merepotkan. Malah seringkali berita-berita tak enak seputar kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak terjadi hanya gara-gara masalah sepele: kurangnya kedewasaan si orang dewasa tersebut dalam menyikapi permasalahan hidup. Misalnya soal pekerjaan, urusan perut, masalah rumah tangga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang menuntut penyelesaian segera, namun karena berbagai kondisi tidak bisa dituntaskan. Akibatnya, orang-orang dewasa yang bermasalah tersebut jadi stres, dan kemudian melampiaskannya pada yang ada di sekitarnya, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukankah itu ciri-ciri ketidakdewasaan? Modal akal dan hati yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta Alam tentunya bisa digunakan untuk mencari penyelesaian yang tepat, dan sesuai dengan syariat agama. Tetapi ciri-ciri ketidakdewasaan tadi itulah yang menghambat. Mudahnya tersulut amarah, tidak bisa mengendalikan emosi, melampiaskannya pada hal-hal yang tidak benar, terperosok dalam kemaksiatan. Hal-hal itu bukan barang baru lagi di masyarakat kita. Sungguh menyedihkan.

Sepertinya pola hidup masyarakat kita sudah terbentuk pada suatu lingkaran yang itu-itu saja. Kriminalitas dan apa saja yang berbau maksiat begitu dekat dan sering dihubung-hubungkan dengan level paling bawah dari lapisan masyarakat. Walau tindakan tersebut juga bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang berlevel atas, dilihat dari sisi kemapanan ekonomi. Mengambil sesuatu yang bukan milik sendiri, mengadu domba, saling menjatuhkan, berebut kekuasaan, dan berbagai hal yang mencerminkan keburukan akhlak. Padahal orang-orang dewasa tersebut sama saja semuanya, sama-sama memiliki akal dan hati nurani. Dua anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Akibat dari ambisi-ambisi tersebut, kadang, mengakibatkan mereka bersikap kekanak-kanakan.

Entah berapa banyak jumlah orang-orang yang butuh pengingatan dari orang lain. Butuh nasehat supaya tak tersesat. Butuh bimbingan supaya tak salah arah. Butuh pegangan supaya berjalan lurus. Apalagi? Sudah pasti jawabannya adalah kembali kepada agama. Dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak masih dalam kandungan (baca: sedini mungkin) adalah kiat yang paling jitu untuk menghindarkan terbentuknya generasi yang kekanak-kanakan seperti ilustrasi di atas. Dengan mematuhi apa yang Allah turunkan, segala macam persoalan pasti selesai. Karena memang aturan-aturan dalam Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia. Mencari solusi yang tepat atas semua permasalahan? Kembali saja kepada Islam. Sayangnya, sejak entah berapa waktu lampau, sudah tak terhitung lagi jumlah upaya-upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita semua dari Allah. Mencoba mengisolir para remaja dari agama, menyuguhkan berbagai godaan yang sudah pasti lebih enak dinikmati ketimbang bersusah payah meraih jalan ke surga, membalut kaum muslimin dengan gemerlapnya dunia modern dan menghembuskan bujukan supaya meninggalkan agama sebab hal itu dipandang kuno. Sampai hari kiamat, musuh-musuh Allah itu tidak akan berhenti berupaya. Percaya saja.

Satu contoh kecil, yaitu enggannya orang-orang untuk memberi dan menerima nasehat. Dengan dalih kehidupan masing-masing adalah privasi, tidak ada waktu untuk saling bertanya-jawab soal agama, dan sebagainya. Padahal aktivitas memberi dan menerima nasehat sama dengan memberi nutrisi bagi jiwa kita, yang seharusnya selalu menjadi panglima yang menunjukkan mana kebenaran dan mana kebatilan.

Tapi saya memilih untuk tidak skeptis terhadap hal ini. Bagaimanapun buruknya kondisi umat islam sekarang ini, pasti masih ada orang-orang yang mau merendahkan hatinya untuk bisa menerima nasehat dari siapa saja yang bersedia menasehatinya.

Kemarin malam, saya mendapatkan pesan di handphone saya. Pesan tersebut dikirimkan oleh paman saya dan ditujukan kepada ayah saya. Pesan itu kemudian diteruskan oleh ayah saya kepada saya. Bunyinya begini:

"Insyaallah mulai minggu depan aku belajar ngaji lagi sama gurunya Raihan. Ngobrol sama dia, Raihan bilang katanya banyak orang yang sudah berumur belum bisa baca Alquran tapi malu mau belajar karena ngerasa terlambat dan udah ketuaan. Padahal, kata dia, banyak orang lupa, Alquran itu diturunkan untuk orang tua. Waktu pertama diturunkan, Rasul SAW berusia 40 tahun kan? Subhanallah…ayo belajar ngaji!"

Raihan adalah anak dari paman saya itu, dan ia berusia sekitar 9 tahun. Subhanallah … Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan kedewasaan kepada Raihan (yang dengan berani menasehati orang tuanya) dan kepada paman saya (yang dengan lapang hati menerima nasehat dari anaknya).