Halaman

Tuesday, August 14, 2007

Pertemuan-pertemuan Cahaya

Pertama kali saya bertemu muka dengannya adalah saat saya mengikuti sebuah acara pelatihan khusus muslimah yang diadakan saat bulan Ramadhan. Saat itu juga adalah pertama kalinya saya menghadiri sebuah acara dimana tidak seorang pun yang saya kenal, sebab saat itu merupakan kali kedua ‘pemunculan’ diri saya di muka umum. Hari ke sekian di tempat baru, Sengata. Waktu itu, ia menjadi seorang pembawa acara di pelatihan tersebut, dan saya langsung saja menyukai dirinya yang sepertinya tak lepas dari senyum lebar sambil dengan lantang membawakan acara. Entah kenapa, saya biasanya bisa langsung tertarik pada seseorang pada perjumpaan pertama dari berbagai kesan yang saya tangkap. Kali itu, perhatian saya tertuju pada postur tubuhnya yang terlihat ‘tak biasa’. Setelah saya perhatikan, rupanya ia tengah hamil cukup besar. Saya agak kaget juga, sebab nyaris tak tampak dari gerak-geriknya yang luwes, lincah, namun tetap terlihat tenang. Dalam hati saya terbetik sebuah pikiran, “Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan, kok hamil besar begitu disuruh jadi panitia acara.”

Kali berikutnya pertemuan saya dengannya, adalah ketika saya bergabung dalam sebuah kelompok pengajian, yang ternyata ia juga turut di dalamnya. Hati saya bersorak, sebab saya begitu penasaran ingin mengenalnya lebih dekat. Walaupun pada acara pelatihan tersebut kami sudah berkenalan, dan ternyata ia juga seorang pengurus Forum Lingkar Pena.

Ketiga kalinya saya bertemu dengannya adalah ketika kami menghadiri sebuah acara tabligh di sebuah masjid besar yang biasa mengkoordinir acara-acara saat bulan Ramadhan tiba, atau di hari-hari lainnya. Di tempat itu kami sempat berbincang cukup lama, dan saya berkenalan dengan seorang lagi anggota FLP. Kami bertiga bertukar cerita tentang pengalaman di FLP dan sampailah pada pembicaraan mengenai kehamilan dan aktivitas keseharian. Kemudian wanita yang saya kagumi itu berkata,

“Dulu ketika Nida –anak pertama saya- masih beberapa bulan, saya berangkat ke Bontang bersama rombongan FLP Sengata. Panitia dan peserta di sana sampai heboh karena saya membawa-bawa bayi begitu. Tapi saya pikir, acara seperti itu jarang sekali ada, dan saya nggak mau melewatkan. Nah, kalau lagi hamil begini, enaknya bisa ke mana-mana, karena bayinya masih di dalam perut. Kalau sudah keluar, jadi agak repot. Paling tidak istirahat selama satu bulan lah, baru setelah itu bisa dibawa-bawa lagi.”

Ia mengatakan hal itu menanggapi sikap seorang temannya yang, menurut cerita, sempat ragu dan takut untuk terus beraktivitas selama hamil dan apalagi setelah punya anak. Saya yang mendengar langsung merasa malu. Sebab saya sama sekali belum terpikir untuk tetap aktif seperti itu kala hamil atau nanti setelah punya anak. Tak sadar saya memegang perut, dan membatin, “Kuatkah saya seperti dia?”

Ia melanjutkan bicaranya,
“Karena di Sengata sumber daya manusianya sedikit sekali, jadi setiap ada kesempatan dakwah, ada amanah apapun, kita harus siap. Kondisi seperti itu bikin kita jadi kuat. Kalau yang masih single atau belum punya anak bisa ke mana-mana, itu sih sudah biasa. Tapi kalau yang lagi hamil atau sudah punya anak berapa tapi tetap aktif, itu baru luar biasa.”

Saya tersenyum. Kalimat yang terakhir diucapkannya pernah saya dengar dari guru ngaji saya semasa saya tinggal di Jakarta dulu. Wanita itu mengucapkannya tanpa maksud menggurui, bahkan saya merasa ia seperti sedang menceritakan sesuatu yang seru saja. Sebab raut wajahnya yang begitu bersemangat, tak lupa senyum lebarnya, dan intonasi suara yang sangat persuasif. Diam-diam rupanya hati saya memupuk sesuatu dari kesan yang saya dapatkan darinya.

Memang, seringkali kondisi yang serba ada, atau kemudahan yang mengelilingi kita, akan membuat diri menjadi manja. Malah mungkin kita jadi terbiasa untuk mencetuskan berbagai kalimat ‘permakluman’ atau ‘permaafan’ untuk tidak mengikuti acara ini-itu, menolak tugas anu, dan sebagainya, dengan alasan yang bisa jadi kita buat-buat sendiri, padahal masih bisa diusahakan. Kalau mau mengikuti nafsu, mungkin saya akan memilih mendekam saja di rumah, tidak berpartisipasi dalam setiap aktivitas yang ada, supaya tidak ditugaskan macam-macam. Tetapi akhirnya saya teringat kehidupan yang saya jalani beberapa bulan tinggal di Bintaro, atau ketika menunggu waktu menyusul suami dan saya sementara tinggal di rumah orang tua di Bekasi. Kota besar macam Jakarta mungkin sudah berkelimpahan orang, sehingga potensi yang ada pada segelintir orang tidak termanfaatkan, dan akhirnya segelintir orang itu menjadi ‘pisau-pisau tumpul’ akibat tak sering dipakai. Saya pernah merasakannya, dan sungguh tidak enak.

Kondisi yang melemahkan itu bahkan hampir terbawa hingga kepindahan saya ke Sengata. Kota kecil yang, seperti banyak dibilang orang, kalau ada acara pasti bertemu dengan ‘dia lagi-dia lagi’. Tak ada kata ‘menganggur’, dan siap-siap diberdayakan. Saya teringat perjumpaan pertama saya dengan wanita itu, dan langsung membandingkan. Bila di Jakarta, kondisi hamil atau yang sejenisnya mungkin akan menjadi excuse yang bisa selalu digunakan, dan semua orang maklum. Dan saya memang sering menemukan kondisi macam itu pada teman-teman saya dulu. Tapi di Sengata? Jangan ditanya.

Bulan Januari lalu, usia kehamilan saya memasuki bulan ke delapan. Dan dalam sebuah organisasi yang baru saya ikuti, saya dipilih untuk menjadi ketua pelaksana acara launching organisasi tersebut. Saya menyanggupi. Berkali-kali rapat persiapan sampai mendatangi nara sumber, saya jalani dengan perut besar saya. Anehnya, seringkali di tiap kesibukan itu saya hampir-hampir lupa akan kehamilan saya sendiri. Saya merasakan semangat yang mengembalikan kerinduan saya akan aktivitas ketika dulu di kampus dan di tempat lain. Saya merasa begitu bersemangat lagi, dan setiap pulang ke rumah, walau dengan membawa lelah, berbagai cerita seru mengalir dari mulut saya menjadi pembicaraan menarik bersama suami.

Sungguh beruntung seseorang yang apabila saudaranya melihat wajahnya, langsung akan mengingatkannya kepada Allah. Seseorang yang bila kita mengingatnya, maka diri kita akan tertegur dari kelalaian dan kembali bersemangat untuk memperbarui iman dan meningkatkan ibadah. Seseorang yang bila kita mengingatnya, maka yang terlintas di pikiran adalah kebaikan-kebaikannya. Bayangkan, bila kita berada di sekeliling orang-orang yang seperti itu. Dan memang diri kita membutuhkan orang-orang yang bisa senantiasa mengingatkan diri kita apabila rasa malas dan lalai menyerang.

Dan hingga sekarang, saya berusaha terus memperbanyak amal ibadah sebagai bentuk rasa syukur saya, karena Allah telah menghadirkan wanita itu, sahabat baru saya, dalam kehidupan baru saya di tempat yang baru ini. Dan menjadikan setiap kali pertemuan saya dengannya menjadi pertemuan yang membuahkan cahaya dalam hati saya. Walaupun akhirnya ia sekeluarga pindah ke kota lain, sampai sekarang, ketika malas mulai menyerang, saya tak pernah lupa kata-katanya saat ia memberikan pesan-kesan di acara perpisahannya:

“Terus semangat, jaga kesehatan, dan jangan malas. Allah lebih menyukai seorang muslim yang kuat daripada yang lemah.”

Tak Berhenti Memberi

Saya pernah merasakan sebuah titik jenuh dimana saya memutuskan untuk tidak berusaha untuk bersikap aktif seperti biasanya pada sebuah organisasi dimana saya bergabung di dalamnya. Biasanya, saya tidak bisa tinggal diam dan kadang malah agak keterlaluan dalam ‘memuntahkan’ ide-ide yang berputar di kepala saya. Rasanya akan lebih ‘plong’ bila saya menceritakannya kepada teman-teman di organisasi, walaupun konsekuensinya saya akan ditunjuk untuk mengetuai kegiatan ini atau bertanggung jawab atas tugas itu. Sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri ataupun bertingkah ‘sok jagoan’. Melainkan saya hanya sering tak bisa mengendalikan diri saya yang kadang terlalu bersemangat untuk melakukan ini itu. Sebuah kelemahan saya, mungkin.

Suatu ketika, saya harus (sekali lagi) pindah rumah mengikuti suami yang diberikan rezeki untuk pindah bekerja ke perusahaan lain. Tidak masalah buat saya. Karena saya tahu bahwa di tempat yang baru saya tetap bisa bergabung dengan sebuah cabang organisasi yang telah menjadi tempat beraktivitas favorit saya selama dua tahun ini. Tentu saja, di kepala saya sudah berputar-putar berbagai ide untuk melakukan ini itu sesampainya saya di tempat baru. Semangat saya tumbuh seiring dengan harapan besar akan kemajuan diri saya di dalam organisasi tersebut nantinya

Ternyata, memang harapan tak pernah selalu seindah kenyataan. Saya agak terkejut dengan kondisi cabang organisasi tersebut. Kondisi anggota organisasi, pengurusnya, aktivitas organisasi, kegiatan-kegiatannya ... saya lantas membanding-bandingkan dengan cabang organisasi di tempat saya tinggal dulu. Jauh berbeda. Dan sebagai ’orang baru’, saya berusaha untuk ’tahu diri’ dengan tidak banyak berkomentar atau mengusulkan ide ini itu kepada para pengurus. Namanya sedang menyesuaikan diri di tempat baru, saya pun memutuskan untuk memerhatikan dulu kondisi di sekitar, nuansa baru yang saya terima di cabang organisasi tempat saya tinggal sekarang. Dan saya pun merasa jenuh. Bukan akibat terlalu padat kegiatan atau over loaded tugas, melainkan karena tidak ada kegiatan apa-apa, nyaris sama sekali. Lalu saya benar-benar merasa sangat kehilangan dengan segala kesibukan yang dulu pernah saya lakukan di organisasi tersebut. Seperti halnya sebuah pisau yang tak pernah dipakai, saya merasa ’tumpul’ sekali.

Tentang kondisi tersebut, terutama apa yang terjadi pada diri saya, seseorang pernah menanyakannya. Katanya, ”Kenapa bukan kamu saja yang memulai untuk mengadakan kegiatan?” dan pertanyaan bagus tersebut saya sambut dengan tidak antusias dengan menjawab sekenanya. Alasan tidak enak karena bukan pengurus, khawatir akan melangkahi wewenang ketua, jadi malas karena tiadanya semangat pada pengurus organisasi tersebut, dan sebagainya. Semua itu cukup untuk membuat diri saya berada pada titik stagnan selama beberapa bulan, dalam organisasi tersebut. Bila mengingat perjuangan saya untuk menjadi bagian darinya, hal yang saya lakukan tersebut memang sungguh konyol dan merugikan diri saya sendiri.

Akhirnya saya pun merasa tidak tahan dengan ’aksi diam’ yang saya lakukan tersebut. Saya mencoba untuk berinisiatif mengusulkan sebuah acara kecil-kecilan sebagai kegiatan kedua yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut pada tahun ini. Dan, begitulah. Pekan demi pekan berlalu dengan semangat yang kembali menyala dalam benak saya, dan sepertinya juga pada para pengurus. Saya yang tadinya pesimis terhadap kinerja dan kepedulian pengurus organisasi tersebut, akhirnya merasakan bahwa sepertinya kami memiliki semangat dan kepedulian yang sama. Acara berlangsung cukup lancar, dengan kelegaan yang tersirat pada masing-masing raut wajah kami semua. Puas. Bukan terhadap hasil dari acara yang akhirnya terlaksana itu. Melainkan terhadap keberhasilan saya untuk mengalahkan keegoisan diri dan mungkin juga keangkuhan untuk bersikap tidak peduli pada awalnya. Tidak pernah ada kata terlambat. Dan saya kembali menyadari bahwa selalu menjadi yang memberikan sesuatu tidaklah jelek sama sekali. Bahkan kepuasan batin yang dirasakan tak mungkin hilang.

Satu hal yang menempati ruang hati saya sekarang. Bahwa bagaimanapun tidak kondusifnya kondisi lingkungan tempat kita berada, jangan pernah berhenti memberikan manfaat dan kebaikan. Hasilnya? Rasakan sendiri.

Monday, August 13, 2007

I'm Back!

assalamu'alaikum semuanyaaaa ....

Rasanya seperti berteriak di tepi pantai yang tidak ada seorang pun mendengar. Bergema. Dan gema yang sangat merdu. Haha. Sebegitu besar kah kerinduan saya pada dunia maya? Betul. Apalagi saat ini hampir setahun berada di kota kecil yang lama-kelamaan menorehkan begitu banyak cerita yang mungkin tidak akan saya temui bila saya menetap di Jakarta. Indah? Pastinya. Lain kali saya akan menceritakannya. Tidak sekarang. Ngantuk. Hehe.

Saturday, December 02, 2006

Jakarta-Sangatta

Balikpapan-Sangatta

Setelah satu hari beristirahat di sebuah hotel di Balikpapan, akhirnya tiba juga saatnya berangkat menuju Sangatta. Setibanya di airport, saya rada deg-degan. Sedikit gugup dan sibuk menebak-nebak, seperti apa bentuknya pesawat CASA yang akan mengangkut kami menuju Sangatta. Petugas dari Aircraft tersebut memeriksa selembar kertas yang berisikan informasi pemesanan tempat yang dibawa suami saya. Tak lama, ia meminta kami bergantian menimbang berat badan di sebuah timbangan raksasa (yang saya pikir timbangan semacam itu hanya diperuntukkan barang-barang besar, karung goni, atau semacamnya). Saya melirik benda aneh itu, dan sedikit ragu untuk menggunakannya, atau lebih tepatnya takut terlihat baru pertama kali naik CASA dan dengan bodohnya melakukan hal-hal yang memalukan. Tapi melihat suami saya menaiki timbangan tersebut dengan santainya, lengkap beserta sepatu yang dipakai dan tas ransel di punggung, saya memutuskan untuk juga melakukannya seolah sudah pernah sebelumnya. Namun tak urung celoteh-celoteh heran pun meluncur deras dari mulut saya kepada suami yang saat itu hanya menanggapi dengan cengar-cengir.

Pesawat CASA

Saya tidak boleh lupa menyebutkan bahwa di counter check in tadi kami berdua masing-masing diberikan sebuah bungkusan berwarna kuning. Hampir saya mau mengantonginya saja dan berpikir akan membukanya nanti atau bahkan melupakannya. Suami saya mengingatkan bahwa benda empuk di dalamnya adalah sepasang penyumbat telinga yang sangat dianjurkan untuk dipakai ketika pesawat akan lepas landas. Ups … lagi-lagi hampir saya lupa bahwa saya akan menaiki kendaraan yang masih asing sama sekali, yang kabarnya super berisik serta berguncang-guncang. Tak sadar saya mengelus-elus perut yang mulai membuncit berisikan janin usia 3 bulan.

Tak lama menunggu, kami berdua (beserta beberapa belas orang penumpang) dipanggil untuk menaiki pesawat. Ha. Akhirnya saya bertemu muka dengan pesawat kecil itu. Jantung saya berdebar cukup kencang, antara penasaran karena belum pernah dan khawatir akan mengalami guncangan kencang di dalamnya nanti. Sepertinya saya akan memegangi perut saya terus sepanjang perjalanan.

Ruang dalam pesawat mungkin benar-benar didesain pas untuk 20 orang penumpang beserta dua atau tiga orang awak pesawat. Si pramugari (kalau memang bsia disebut begitu) sampai hapal nama-nama kami dan dengan sigap menunjuk tempat duduk yang akan kami tempati. Sepertinya ia memang petugas yang tadi mendata kami di counter check in. Saya dan suami menempati tempat duduk nomor dua dari depan. Dua lajur tempat duduk tersebut masing-masing berisi dua tempat duduk di tiap barisnya, dan terdapat sekitar lima baris ke belakang. Jangan membayangkan tempat duduk empuk dan lebar dari pesawat tipe BOEING. Saya hampir-hampir sibuk berpikir, bagaimana dengan penumpang yang memiliki bobot berlebih dan postur badan lebar, sepertinya tidak akan muat duduk di kursi tersebut. Setelah mengenakan sabuk pengaman, saya sibuk menenangkan diri dengan membaca doa-doa. Itu juga saya lakukan setelah bersusah payah menggunakan penyumbat telinga dengan benar, dengan sebelumnya melirik ke kiri dan kanan, memperhatikan bagaimana orang-orang menggunakannya.

Jarak Balikpapan-Tanjung Bara ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan. Terbayang kan betapa jauhnya Sangatta dari 'pusat peradaban' Kalimantan Timur? Bila berkenan menempuhnya lewat darat, siap-siap saja tertidur panjang atau malah duduk sambil pegal-pegal selama kurang lebih tujuh jam.

Tanjung Bara

Airport yang benar-benar kecil. Mungkin kurang tepat kalau disebut sebagai bandar udara ya? Landasan pesawat CASA, sebuah bangunan beratap tanpa pintu dan jendela tak begitu besar, dan lapangan parkir cukup luas merupakan bagian dari 'airport' tersebut. Cukup untuk menjadi tempat turun-naik penumpang beserta bagasinya, dengan ruang tunggu seadanya.

Bersama penumpang lainnya (yang sebagian besar adalah pegawai KPC) kami mengantri di tempat pengambilan bagasi. Agak lama juga, sebab koper-koper dan barang-barang lain milik penumpang diturunkan dan diantar dengan menggunakan troli khusus yang didorong dengan tenaga manusia sampai ke tempat pengambilan. Troli tersebut hanya ada satu, jadi dua orang petugas itu harus bolak-balik mengambilnya kembali dari bagasi pesawat.

Kami berdua dijemput oleh seorang sopir kantor KPC yang telah dihubungi sebelumnya oleh suami saya. Di dalam mobil, suami saya cepat-cepat mengingatkan mengenai aturan ketat dari KPC bagi pengguna kendaraan, yaitu memasang seat belt (baik yang duduk di depan maupun di belakang) apabila menggunakan mobil kantor. Katanya bila aturan itu tidak dipatuhi, ada denda sekian rupiah yang harus dibayar, beserta teguran keras. Hmm … cukup bagus juga sebagai motivasi untuk mendisiplinkan diri. Namun saya dengan payah memasangkan seat belt itu dengan nyaman di perut saya yang sudah berubah bentuk.

Perjalanan dari Tanjung Bara ke Lembah Hijau (nama komplek perumahan tempat kami akan tinggal) membawa nuansa berbeda ke dalam hati saya. Apalagi sebelumnya kami sempat singgah ke komplek perumahan Tanjung Bara mengantarkan seorang pegawai KPC yang ikut di mobil bersama kami. Suasana yang rasanya tidak bisa ditemui di Jakarta. Sepanjang jalan yang agak berkelok-kelok, saya mengedarkan pandangan ke kiri-kanan jalan yang masih terlihat 'hijau' dan berbukit-bukit. Sepertinya kontur tanah di Sangatta memang begitu.

Rumah-rumah yang terletak di komplek Tanjung Bara sekilas terlihat tidak 'tertata rapi' seperti halnya yang ada di kota-kota besar lain. Dari satu rumah ke rumah lainnya agak berjauhan, tapi itu malah memberi kesan lega dan tidak bertumpuk-tumpuk apalagi padat. Disamping penyebabnya adalah kontur tanah yang memang berbukit-bukit. Pihak kontraktor perumahan mungkin memutuskan untuk tidak mengubah kontur tanah, dan menyiasatinya dengan mendirikan perumahan dengan struktur bangunan semacam 'rumah panggung', berdinding kayu, beratap genting atau asbes (tergantung jenis perumahan). Sebab bahan bangunan macam semen, batu, pasir, dan sebagainya memang super mahal. Maklum, keterbatasan transportasi.

Katanya memang komplek di Tanjung Bara diperuntukkan mereka yang jabatan di PT KPC sudah lebih senior dengan gaji yang sudah pasti jauh lebih besar dari kebanyakan pegawai. Sebab bila mau, bisa saja rumah-rumah tersebut ditempati oleh siapa saja, asal mampu membayar uang sewanya yang bisa dua-tiga kali lipat dari pasaran harga sewa di komplek lain. Kelebihannya, komplek Tanjung Bara memang tertata lebih apik, asri, dengan bahan bangunan yang lebih bagus, ukuran rumah lebih besar, yang menurut saya suasananya mirip 'luar negeri'. Bukan hanya saya saja yang berkomentar begitu. Seorang teman saya yang kebetulan juga agak mengenal kondisi Sangatta dan suasananya pun menyatakan hal yang sama.

Sangatta Baru dan Sangatta Lama

Keluar dari wilayah Tanjung Bara, sampailah kami di kota Sangatta. PT KPC mendirikan area yang kemudian dinamakan Sangatta Baru atau orang-orang sering menyebutnya komplek KPC atau daerah 'dalam'. Tidak usah repot-repot membayangkan ada semacam gerbang besar yang memisahkan satu daerah ke daerah lainnya. Sebab yang saya visualisasikan sebagai Sangatta Baru dan Lama adalah seperti ini:

Bayangkan dua buah garis yang membentuk huruf T, dengan ukuran masing-masing garis yang tidak usah dipusingkan mana yang lebih panjang. Garis yang terletak melintang adalah wilayah Sangatta Lama atau Luar, dan yang terletak vertikal adalah wilayah Sangatta Baru atau Dalam. Pertigaan yang mempertemukan kedua garis tersebut ditandai dengan berdirinya bangunan Plasa Telkom di sebelah kanan garis yang vertikal. Nah, mulai dari Plasa Telkom hingga garis lurus ke bawah tersebut terletak berbagai fasilitas umum dan komplek perumahan yang agak sulit saya sebutkan satu persatu. Tetapi tentu saja, Yayasan Sangatta Baru atau PT KPC mengatur bangunan-bangunan tersebut demikian rapi, dan fasilitas umum terletak di pinggir jalan supaya mudah dijangkau. Seperti Medical Center, masjid Darussalam, gereja, Radio GWP, PMI, Town Hall, dll. Sedangkan komplek-komplek perumahan diatur terpisah dari sarana-sarana umum tersebut, terletak agak ke belakang dengan ciri khas yang berbeda-beda.

Walaupun sepertinya di Sangatta Baru segala macam keperluan bisa didapat di Town Hall (seperti pasar tradisional, mini market dan koperasi yang cukup besar, bank BRI, beberapa ATM, medical center, pusat makanan, bahkan perpustakaan dan sekolah), tetapi tentu saja beranjak ke Sangatta Lama kerap kali dilakukan untuk mendapatkan barang-barang dengan harga lebih murah dan alternatif yang lebih banyak. Walaupun sepanjang 'garis horizontal' tersebut hanya terdapat toko-toko kecil di pinggir jalanan yang terlihat lurus hingga entah sampai ke mana. Ada pasar Teluk Lingga yang lebih lengkap serta menjual berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih murah. Ada toko-toko meubel yang menjual perabot rumah semacam tempat tidur, meja rias, lemari pakaian, dan lain-lain. Cukup lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan para pendatang baru, walaupun jangan berharap terlalu banyak pilihan yang bisa didapat. Bahkan ada sebuah toko yang terletak di ujung jalan Sangatta Lama, yang menerima kreditan bagi pegawai PT KPC maupun perusahaan kontraktor lain yang ada di Sangatta, atau siapa saja yang sudah berlangganan di toko tersebut.

(to be continued)

Saturday, October 14, 2006

Kabar dari Sangatta

Assalamu'alaikum semuanya ...

Akhirnya 'kembali' ke peradaban. Hehehe ...
Saya sudah satu bulan di Sangatta, Kutai Timur. Dalam rangka apa? Nggak usah diceritain lagi, dong. Homesick? Pastinya. Kira-kira dua minggu pertama di sini agak terlalu sering inget yang di Jakarta n Bekasi. Norak sih, tapi mau diapain lagi? Saya kangen keluarga, kangen sepupu-sepupu kecil saya, kangen teman-teman, kangen FLP, kangen semuanya!

Tapi sekarang sudah bisa mengendalikan diri. Nggak baik stres lama-lama, karena si kecil yang udah mulai rajin akrobat di perut bisa terpengaruh. Masa belum lahir udah disuruh stres?! Oya, kandungan saya sudah hampir 5 bulan, kondisi alhamdulillah baik, terakhir USG hampir sebulan yang lalu dan ternyata calon buah hati saya itu agak-agak 'aktivis' alias nggak bisa diem. Hehehe...mirip siapa?

Sebenarnya banyak...sekali yang ingin saya bagi. Saya sudah merencanakan menulis panjang lebar tentang Sangatta. Menarik pastinya. Tapi kayaknya bukan sekarang ya. Saat ini saya 'numpang' nge-net (dengan perasaan bahagia) di Perpustakaan YPPSB (Yayasan Pendidikan Prima Sangatta Baru) yang dibatasi per orang hanya 20 menit saja. Dari 6 komputer yang tersedia, cuma 1 saja yang lengkap bersama keyboard dan CPU-nya. Hehehe ... mungkin karena musim liburan sekolah ya. Tapi tenang aja ... I'll be back soon!

Salam cinta buat semuanya. Doakan supaya saya tidak pernah berhenti menulis.