Selama ini saya selalu berpikir bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Maka tidak heran jika ada sebagian perempuan yang menunda pernikahan atau bahkan bersikap enggan bila membicarakan urusan pernikahan karena alasan yang satu. Sudah jelas, menikah dengan seseorang akan membawa langkah ini ke tahap berikutnya, yaitu menjadi ibu dari anak-anak si lelaki tercinta.
Tapi ada juga yang berpikir sebaliknya. Ia dengan kesadaran penuh begitu bersemangat untuk menjadi seorang istri dan ibu nantinya. Bahkan sedari usianya baru beranjak dari 20-an. Seperti teman saya Anggi. Dulu, di tingkat pertama perkuliahan, saya selalu terheran-heran sekaligus kagum dengan semangatnya itu. Bahkan kadang saya jadi 'takut' sendiri, dan kadang suka menghindar dari dirinya yang tengah berbinar-binar membicarakan rencana ini-itu seputar pernikahan.
Bagi saya, ini semua masalah kesiapan. Dan soal kesiapan adalah satu hal yang bercampur-baur dengan berbagai hal lainnya, seperti pola asuh yang diterapkan orang tua kita, pengalaman pribadi dengan berbagai hal seputar pernikahan, atau persepsi yang terbentuk dari berbagai informasi yang diterima, dan sebagainya. Dan ini juga masalah pilihan. Pilihan untuk menetapkan target waktu untuk menikah, atau kriteria si calon pendamping hidup, dan lain-lain. Rumit? Bisa iya, bisa tidak.
Begitulah hidup. Sebagiannya adalah mengenai pilihan-pilihan. Dan saya mendapati teman-teman perempuan saya mengalami hal-hal yang berbeda mengenai pernikahan. Yang membawa pikiran saya melayang sejenak ke saat dulu saya menetapkan bahwa 'saya akan menikah'. Bagi saya, mencari pendamping hidup dan kemudian menjalani kehidupan pernikahan membutuhkan konsentrasi penuh. Dan tentu saja berbekal kesiapan mental dan material. Bagaimanapun, saya menyadari bahwa saya tidak hanya akan menjalani 'keindahan' pernikahan saja, tetapi juga pernak-pernik lain yang mungkin terjadi. Pada saya, suami saya, keluarga besar kami, dan juga anak-anak kami nantinya. Rasa takut pasti ada. Tapi ketika saya sudah berikhtiar sebaik yang saya bisa untuk mendapatkan yang terbaik disertai dengan memasrahkan diri pada-Nya dan meraih ridho orang tua, hati saya menjadi lebih tenang.
Kembali tentang menjadi seorang ibu. Siapapun, pastinya akan mendapati pengalaman berbeda untuk yang satu ini. Dan percayalah, tidak ada yang akan bisa menjadi 'super woman' dalam hidupnya. Ketika dulu bisa teratur dan perfect menjaga kerapian rumah, menyenangkan hati suami, melakukan semuanya sesempurna mungkin, tapi setelah hadir bidadari dan jagoan kecil, tampaknya 'kesempurnaan' itu akan menjadi semakin sulit dilakukan. Setidaknya butuh upaya ekstra keras, karena perhatian akan terbagi-bagi. Satu hal yang menjadi pernik unik yang akan ditemui setiap istri pastinya.
Dan ada saja teman saya yang akhirnya ragu dan berpikir berkali-kali dulu sebelum memastikan diri siap menjalaninya, karena pengalaman yang satu itu. Apalagi jika kini ia sedang asyik tenggelam dalam pekerjaannya yang mapan, segudang kegiatannya di luar kantor, dan lain-lain alasannya. Saya paling hanya tersenyum-senyum dan menggeleng-geleng. Yah, setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kadang sepertinya kita perlu menentukan saja dengan 'nekat' pilihan hidup kita, berbekal sedikit keberanian dan pemikiran matang tentunya. Masalah apa yang dihadapi kemudian, hadapilah saja.
Untuk pernikahan, kadar 'nekat' yang saya maksudkan pastinya tidak 100% 'nekat'. Alias sebaiknya punya persiapan-persiapan yang riil, sebab hidup tak bisa hanya bermodalkan cinta dan keinginan saja. Bukankah begitu? Setidaknya bagi saya.
Panjang juga cerita saya tentang yang satu ini. Yah, usia pernikahan saya baru beranjak dari tahun ke 3, lebih beberapa bulan. Belum ada apa-apanya. Dan saya dan suami masih sangat bersemangat menjelajahi tempat-tempat lain selain kota kelahiran untuk mencari pernak-pernik baru. Semoga ada rezeki dan izin Allah. Amiin...
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Monday, June 09, 2008
Saturday, June 07, 2008
Si Kutu Buku yang Lucu
Sewaktu saya kecil, saya bisa dikatakan adalah seorang ‘kutu buku’ cerita. Masih ingat tulisan saya dalam rubrik SMS yang lalu tentang Si Noddy? Ya, seperti itulah. Bila sedang berhadapan dengan buku-buku cerita, terutama yang bergambar, saya bisa ‘lupa segalanya’. Istilah yang sering dilontarkan oleh ibu saya terhadap kebiasaan saya tersebut adalah ‘lupa dunia’. Yah, istilah ‘kutu buku’ seringkali diidentikkan dengan seseorang yang maniak baca buku, dengan kaca mata tebal bertengger di atas hidung, dan penampilan yang nerd alias aneh. Tapi masa sih anak kecil seperti saya dulu juga diistilahkan dengan ‘kutu buku’ bila penjelasannya seperti itu? Yah, mungkin bisa juga. Kutu buku yang lucu.
Apa hubungannya dengan teknik menulis? Tentu ada. Sekarang ini, ketika saya sedang memacu diri untuk lebih produktif menulis, sedikitnya saya merasakan manfaat besar dari kegemaran membaca (yang kini sudah meningkat, tidak lagi hanya membaca buku komik saja). Apa saja? Daya imajinasi yang berkembang, referensi atas berbagai hal yang bisa didapat dari buku fiksi maupun non fiksi, gaya menulis yang berbeda dari tiap pengarang, dan kekayaan bahasa. Nah! Yang terakhir ini, yang menurut saya akan membuat seorang penulis bisa menghasilkan karya-karya yang ‘kaya’. Kaya isi, kaya makna, kaya kosa kata, dan sebagainya. Tulisan yang tidak berisi kalimat-kalimat membosankan yang akan membuat pembacanya mengantuk atau malah melempar bukunya di sudut rak hingga tak terbaca lagi di kemudian hari. Tulisan yang membuat pembacanya terkagum-kagum akan keindahan, keunikan, dan berbagai istilah lain yang bisa menggambarkan bahwa si penulis adalah seseorang yang ‘cerdas’, ‘terampil’, serta ‘kaya bahasa’. Sampai di sini, sepertinya saya kesulitan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan lebih jauh tentang diksi. DIKSI. Sudah pernah dengar?
Pada sebuah kesempatan kegiatan SMS khusus pengurus, kami sempat melakukan simulasi sederhana tentang diksi. Masing-masing menuliskan satu paragraf tulisan fiksi, dan syaratnya adalah tidak boleh membuat pembacanya bosan dengan paragraf yang telah ditulis tersebut. Simulasi sekenanya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memacu masing-masing dari kami untuk memperkaya kosa kata yang dimiliki, sehingga ketika menulis tidak lagi ada kata ‘stagnan’, ‘kehabisan kata-kata’, atau apalah. Ada beberapa yang cukup berhasil, ada juga yang masih terpaku pada kalimat-kalimat klise atau malah terlalu kaku seperti bukan sebuah tulisan fiksi. Satu pertemuan singkat tersebut memang tidak mungkin akan membuat seorang penulis langsung pandai dan memiliki diksi yang ‘kaya’, kalau boleh saya katakan begitu. Karena, sekali lagi menurut saya, kekayaan kosa kata serta keragaman gaya bahasa bisa dimiliki apabila kita rajin mengumpulkan ilmunya sejak lama. Melalui proses yang dinamakan: membaca.
Kenal dengan Karl May? Beliau adalah pengarang novel Winnetou yang terkenal itu dan juga beberapa judul novel yang mendunia. Favorit saya adalah novel yang berjudul “Dan Damai di Bumi”, sebuah novel tebal yang sangat indah dari segi bahasa. Kalau boleh ber-hiperbola, saya akan mengatakannya: menakjubkan. Saya bisa mendapati satu paragraf yang panjangnya hampir satu halaman, yang isinya adalah sebuah dialog yang ditulis begitu indah, penuh kata-kata yang tidak biasa didapati dalam bacaan lain, walaupun hanya untuk mengungkapkan sebuah makna sederhana. Saya yakin, si penerjemah buku turut andil dalam membahasakan teks aslinya dengan nyaris sempurna. Atau pengarang asli Indonesia Remy Silado, yang begitu detail dalam mendeskripsikan latar tulisan, yang membuat pembacanya seolah-olah berada tepat di lokasi peristiwa. Atau J.K Rowling dengan Harry Potter-nya? Pasti masih banyak lagi. Saya yakin, disamping imajinasi yang kuat, tentu para penulis tersebut adalah para ‘kutu buku’ yang senang melahap berbagai buku sebagai modal kesuksesan mereka.
Jadi, membacalah! Karena membaca bisa memperkaya tulisanmu. Dan belilah buku! Karena membeli buku berarti menabung ilmu. Bagi Anda, para orang tua, membiasakan anak-anak membaca sejak dini tak pernah rugi. Mereka akan menjadi ‘para kutu buku yang lucu’, yang nantinya bisa merambah dunia dengan ilmu yang mereka punya, atau bahkan dengan tulisannya!
[artikel ini dimuat dalam rubrik SMS pada buletin MEMORI FLP Sengata]
Apa hubungannya dengan teknik menulis? Tentu ada. Sekarang ini, ketika saya sedang memacu diri untuk lebih produktif menulis, sedikitnya saya merasakan manfaat besar dari kegemaran membaca (yang kini sudah meningkat, tidak lagi hanya membaca buku komik saja). Apa saja? Daya imajinasi yang berkembang, referensi atas berbagai hal yang bisa didapat dari buku fiksi maupun non fiksi, gaya menulis yang berbeda dari tiap pengarang, dan kekayaan bahasa. Nah! Yang terakhir ini, yang menurut saya akan membuat seorang penulis bisa menghasilkan karya-karya yang ‘kaya’. Kaya isi, kaya makna, kaya kosa kata, dan sebagainya. Tulisan yang tidak berisi kalimat-kalimat membosankan yang akan membuat pembacanya mengantuk atau malah melempar bukunya di sudut rak hingga tak terbaca lagi di kemudian hari. Tulisan yang membuat pembacanya terkagum-kagum akan keindahan, keunikan, dan berbagai istilah lain yang bisa menggambarkan bahwa si penulis adalah seseorang yang ‘cerdas’, ‘terampil’, serta ‘kaya bahasa’. Sampai di sini, sepertinya saya kesulitan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan lebih jauh tentang diksi. DIKSI. Sudah pernah dengar?
Pada sebuah kesempatan kegiatan SMS khusus pengurus, kami sempat melakukan simulasi sederhana tentang diksi. Masing-masing menuliskan satu paragraf tulisan fiksi, dan syaratnya adalah tidak boleh membuat pembacanya bosan dengan paragraf yang telah ditulis tersebut. Simulasi sekenanya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memacu masing-masing dari kami untuk memperkaya kosa kata yang dimiliki, sehingga ketika menulis tidak lagi ada kata ‘stagnan’, ‘kehabisan kata-kata’, atau apalah. Ada beberapa yang cukup berhasil, ada juga yang masih terpaku pada kalimat-kalimat klise atau malah terlalu kaku seperti bukan sebuah tulisan fiksi. Satu pertemuan singkat tersebut memang tidak mungkin akan membuat seorang penulis langsung pandai dan memiliki diksi yang ‘kaya’, kalau boleh saya katakan begitu. Karena, sekali lagi menurut saya, kekayaan kosa kata serta keragaman gaya bahasa bisa dimiliki apabila kita rajin mengumpulkan ilmunya sejak lama. Melalui proses yang dinamakan: membaca.
Kenal dengan Karl May? Beliau adalah pengarang novel Winnetou yang terkenal itu dan juga beberapa judul novel yang mendunia. Favorit saya adalah novel yang berjudul “Dan Damai di Bumi”, sebuah novel tebal yang sangat indah dari segi bahasa. Kalau boleh ber-hiperbola, saya akan mengatakannya: menakjubkan. Saya bisa mendapati satu paragraf yang panjangnya hampir satu halaman, yang isinya adalah sebuah dialog yang ditulis begitu indah, penuh kata-kata yang tidak biasa didapati dalam bacaan lain, walaupun hanya untuk mengungkapkan sebuah makna sederhana. Saya yakin, si penerjemah buku turut andil dalam membahasakan teks aslinya dengan nyaris sempurna. Atau pengarang asli Indonesia Remy Silado, yang begitu detail dalam mendeskripsikan latar tulisan, yang membuat pembacanya seolah-olah berada tepat di lokasi peristiwa. Atau J.K Rowling dengan Harry Potter-nya? Pasti masih banyak lagi. Saya yakin, disamping imajinasi yang kuat, tentu para penulis tersebut adalah para ‘kutu buku’ yang senang melahap berbagai buku sebagai modal kesuksesan mereka.
Jadi, membacalah! Karena membaca bisa memperkaya tulisanmu. Dan belilah buku! Karena membeli buku berarti menabung ilmu. Bagi Anda, para orang tua, membiasakan anak-anak membaca sejak dini tak pernah rugi. Mereka akan menjadi ‘para kutu buku yang lucu’, yang nantinya bisa merambah dunia dengan ilmu yang mereka punya, atau bahkan dengan tulisannya!
[artikel ini dimuat dalam rubrik SMS pada buletin MEMORI FLP Sengata]
Thursday, June 05, 2008
Dua bulan menjelang partus
Salam'alaikum semuanya...
Sekedar menyapa nih ... di tengah terengah-engahnya diriku mengerjakan buku yang satu ini. Subhanallah ... nyaris aja kehilangan semangat dan nyaris 'dicampakkan' begitu saja. But, I need the money...hehe...
Dua bulan menjelang partus...nyaris nggak kerasa sebenernya. Mungkin karena udah ngalamin yang pertama, jadi yang kedua ini malah kadang lupa kalo lagi hamil :)
Dua bulan menjelang partus, dan Firna makin lincah aja. Kadang sedih kalo inget Firna bakal punya 'saingan', tapi seneng juga karena gosipnya adeknya Firna laki-laki :)
Dua bulan menjelang partus, apa yang belum disiapin? Hmm ... banyak. Tenggelam oleh kesibukan-kesibukan yang lagi dicoba dikurangin pelan-pelan. Tapi nulis harus terus. Hiks, kejar setoran ceritanya. Buku yang satu ini...hiks. Buku apa sih emangnya? Haha...sudahlah nggak usah dibahas.
Hari ini break dulu dari nerusin ngebut perbaikan buku itu. Tapi paling bentar lagi juga dikerjain...hiks....
Sekedar menyapa nih ... di tengah terengah-engahnya diriku mengerjakan buku yang satu ini. Subhanallah ... nyaris aja kehilangan semangat dan nyaris 'dicampakkan' begitu saja. But, I need the money...hehe...
Dua bulan menjelang partus...nyaris nggak kerasa sebenernya. Mungkin karena udah ngalamin yang pertama, jadi yang kedua ini malah kadang lupa kalo lagi hamil :)
Dua bulan menjelang partus, dan Firna makin lincah aja. Kadang sedih kalo inget Firna bakal punya 'saingan', tapi seneng juga karena gosipnya adeknya Firna laki-laki :)
Dua bulan menjelang partus, apa yang belum disiapin? Hmm ... banyak. Tenggelam oleh kesibukan-kesibukan yang lagi dicoba dikurangin pelan-pelan. Tapi nulis harus terus. Hiks, kejar setoran ceritanya. Buku yang satu ini...hiks. Buku apa sih emangnya? Haha...sudahlah nggak usah dibahas.
Hari ini break dulu dari nerusin ngebut perbaikan buku itu. Tapi paling bentar lagi juga dikerjain...hiks....
Monday, March 10, 2008
Tentang Dua Orang
Kangen banget sama Jakarta. Bukan kotanya, melainkan orang-orangnya. Terutama dua orang spesial yang selama hampir 15 tahun ini sudah menjadi 'soulmates' saya. Dua orang yang tahu segalanya tentang kehidupan saya. Dua orang yang selalu menanggapi cerita-cerita saya dengan penuh antusias dan empati tiada tara (hiperbola mode on). Dua orang yang paling saya butuhkan saat ini.
Kepulangan ke Jakarta tahun lalu tidak memuaskan. Saya tidak menjumpai keduanya bersamaan, tidak punya banyak waktu untuk ngobrol, tidak memenuhi kebutuhan saya. Memang, bagaimanapun, there's no place like home. Rumah? Yang mana rumah saya? Sekarang, ya tentu aja di Sangatta. Tapi mereka berdua adalah 'rumah' saya yang lain, yang selalu saya butuhkan, terutama di saat-saat penat seperti sekarang ini. Dan saya sedang berusaha menyabar-nyabarkan diri sambil menghitung hari. Bulan ini saya akan 'pulang'.
Yap, sepertinya semua orang perlu beberapa waktu untuk 'bernapas'. Termasuk juga diri saya. Sebentar lagi ...
Kepulangan ke Jakarta tahun lalu tidak memuaskan. Saya tidak menjumpai keduanya bersamaan, tidak punya banyak waktu untuk ngobrol, tidak memenuhi kebutuhan saya. Memang, bagaimanapun, there's no place like home. Rumah? Yang mana rumah saya? Sekarang, ya tentu aja di Sangatta. Tapi mereka berdua adalah 'rumah' saya yang lain, yang selalu saya butuhkan, terutama di saat-saat penat seperti sekarang ini. Dan saya sedang berusaha menyabar-nyabarkan diri sambil menghitung hari. Bulan ini saya akan 'pulang'.
Yap, sepertinya semua orang perlu beberapa waktu untuk 'bernapas'. Termasuk juga diri saya. Sebentar lagi ...
Saturday, March 08, 2008
Menolehkan Hati kepada Ibu
Ketika saya menjadi seorang ibu, saya menjalani semuanya dengan sangat berbeda. Seolah-olah saya seperti menjadi orang lain, bukan diri saya sendiri. Tetapi ternyata tidak ada satu pun yang berubah dalam kehidupan saya, melainkan hidup saya menjadi lebih lengkap dan sempurna. Rupanya itulah yang membuatnya terasa berbeda.
Saya tidak sedang membicarakan segala tingkah polah putri mungil saya dan bagaimana saya menghadapinya. Saya ingin mengatakan bahwa, setelah menjadi seorang ibu, saya jadi lebih mencintai dan menghargai ibu saya sendiri. Dan sepertinya kepala saya penuh dengan bermacam ide untuk menuliskan sesuatu tentang ibu. Sekonyong-konyong begitu banyak hal yang ingin saya ungkapkan mengenai ibu saya.
Ibu saya seorang wanita sederhana. Ia tidak berpendidikan tinggi, ia tak banyak memberikan materi, tetapi ia mungkin adalah seseorang yang bisa membuat banyak mata memandang iri. Bahwa ia tetap bisa bertahan dan tersenyum ceria ketika kesulitan demi kesulitan melandanya. Bahwa ia bisa menyekolahkan saya hingga lulus kuliah dengan hasil kerja kerasnya. Bahwa ia sangat mudah bergaul, diterima banyak orang, dan punya banyak kenalan berbisnis karena sifatnya yang ramah dan pantang menyerah.
Sejak saya masih kecil, ibu tak pernah bosan bekerja keras. Padahal waktu itu ayah cukup sukses dengan pekerjaannya. Ketika kondisi keuangan terguncang, ia makin bekerja keras. Dan ketika keadaan sudah benar-benar payah, ia dengan tenang tetap bekerja keras. Seolah 'kerja keras' adalah teman akrab dalam hidupnya, layaknya sebuah napas yang kita hembuskan tanpa beban. Semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia seorang wanita tangguh yang mampu memikul segudang tanggungan selama puluhan tahun ini.
Suatu hari, saya ditanya oleh ibu mertua saya tercinta, tentang mengapa ibu saya bisa tertawa-tawa di kala kesulitan terberat sedang dihadapinya saat itu. Saya hanya tersenyum dan mengatakan, "Justru masalah tersebut telah membuatnya lega." Sebuah kalimat yang kedengarannya tidak masuk akal, tetapi itulah ibu. Ia tak pernah menyerah untuk berapa pun kesusahan yang mampir di kehidupannya. Ia tetap sering menelpon saya dengan ceria, kami tertawa-tawa, menceritakan hal-hal seru, atau membicarkan perkembangan putri mungil saya yang selalu membuatnya rindu. Apakah ada tangis? Sudah pasti. Tetapi keesokan harinya, ia menceritakan pada saya bahwa bisnisnya berjualan peyek kian maju, walaupun harus berpacu dengan sedikitnya modal dan banjir yang menggenangi Jakarta. Tak ada kendaraan pribadi, berpeluh dengan ojek, dan berbagai kisah yang sepertinya malah menjadi hiburan baginya ketika menceritakannya pada saya sambil terkikik geli.
Ibu memang jarang menceramahi saya tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Kadang ia memang mencetuskan satu dua hal yang berkaitan dengan pengalamannya. Dulu, saya sempat kebingungan mencari ‘referensi’ bagi kehidupan baru saya setelah menikah. Apalagi ketika akhirnya saya melahirkan anak pertama. Tapi sekarang, rupanya saya kian sering mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukan ibu untuk saya dan adik saya. Dan saya tak pernah lupa betapa dulu ibu berpayah-payah menjaga kami ketika kami sakit atau saat kami malas belajar. Dan melihat tingkah putri mungil saya sekarang, saya makin yakin bahwa penat dan letih yang dulu menghinggapi ibu tak terhitung.
Saat ini, di tahun pertama saya menjadi seorang ibu, saya seolah menemukan 'pintu baru' di mana saya dapat melongok sepuas hati, mencari pelajaran apalagi yang bisa saya temukan pada diri ibu saya. Satu hal yang saya tanamkan dalam benak saya adalah saya juga akan berjuang semampu saya untuk menjaga dan membesarkan anak-anak saya, seperti halnya ibu saya yang telah berjuang menjaga dan membesarkan saya dan adik perempuan saya. Saya pun tidak akan menyerah dengan 'hanya' sebuah kesulitan ekonomi bila saya menghadapinya, seperti halnya ibu saya yang tak pernah lelah ke sana ke mari mencari tambahan penghasilan. Walaupun saya tak bisa menikmati semua materi yang mampir dalam hidup saya, walaupun yang saya dapatkan harus saya korbankan untuk keluarga saya, walaupun saya harus berjualan peyek sambil naik ojek.
Saya makin mencintai ibu saya. Bila dulu, ketika saya dan adik saya kecil, ibu telah menjaga kami dari apapun yang membahayakan hidup kami. Maka inilah saatnya saya menjaga ibu saya, menenangkannya, dan membahagiakannya hingga akhir hidupnya nanti. Walaupun saya tahu, semua upaya saya itu tak akan dapat membalas secuil pun kebaikan ibu terhadap saya.
Semua yang telah ibu lakukan pada saya, memang akhirnya menjadi semangat dalam diri saya untuk juga melakukan yang terbaik. Saya kian menyadari, bahwa kehidupan yang telah dilewati ibu, terlalu berharga untuk saya lewatkan begitu saja. Kini, saya tak lagi enggan untuk 'menolehkan' hati saya ke kehidupan ibu yang telah berjasa besar.
Saya tidak sedang membicarakan segala tingkah polah putri mungil saya dan bagaimana saya menghadapinya. Saya ingin mengatakan bahwa, setelah menjadi seorang ibu, saya jadi lebih mencintai dan menghargai ibu saya sendiri. Dan sepertinya kepala saya penuh dengan bermacam ide untuk menuliskan sesuatu tentang ibu. Sekonyong-konyong begitu banyak hal yang ingin saya ungkapkan mengenai ibu saya.
Ibu saya seorang wanita sederhana. Ia tidak berpendidikan tinggi, ia tak banyak memberikan materi, tetapi ia mungkin adalah seseorang yang bisa membuat banyak mata memandang iri. Bahwa ia tetap bisa bertahan dan tersenyum ceria ketika kesulitan demi kesulitan melandanya. Bahwa ia bisa menyekolahkan saya hingga lulus kuliah dengan hasil kerja kerasnya. Bahwa ia sangat mudah bergaul, diterima banyak orang, dan punya banyak kenalan berbisnis karena sifatnya yang ramah dan pantang menyerah.
Sejak saya masih kecil, ibu tak pernah bosan bekerja keras. Padahal waktu itu ayah cukup sukses dengan pekerjaannya. Ketika kondisi keuangan terguncang, ia makin bekerja keras. Dan ketika keadaan sudah benar-benar payah, ia dengan tenang tetap bekerja keras. Seolah 'kerja keras' adalah teman akrab dalam hidupnya, layaknya sebuah napas yang kita hembuskan tanpa beban. Semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia seorang wanita tangguh yang mampu memikul segudang tanggungan selama puluhan tahun ini.
Suatu hari, saya ditanya oleh ibu mertua saya tercinta, tentang mengapa ibu saya bisa tertawa-tawa di kala kesulitan terberat sedang dihadapinya saat itu. Saya hanya tersenyum dan mengatakan, "Justru masalah tersebut telah membuatnya lega." Sebuah kalimat yang kedengarannya tidak masuk akal, tetapi itulah ibu. Ia tak pernah menyerah untuk berapa pun kesusahan yang mampir di kehidupannya. Ia tetap sering menelpon saya dengan ceria, kami tertawa-tawa, menceritakan hal-hal seru, atau membicarkan perkembangan putri mungil saya yang selalu membuatnya rindu. Apakah ada tangis? Sudah pasti. Tetapi keesokan harinya, ia menceritakan pada saya bahwa bisnisnya berjualan peyek kian maju, walaupun harus berpacu dengan sedikitnya modal dan banjir yang menggenangi Jakarta. Tak ada kendaraan pribadi, berpeluh dengan ojek, dan berbagai kisah yang sepertinya malah menjadi hiburan baginya ketika menceritakannya pada saya sambil terkikik geli.
Ibu memang jarang menceramahi saya tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Kadang ia memang mencetuskan satu dua hal yang berkaitan dengan pengalamannya. Dulu, saya sempat kebingungan mencari ‘referensi’ bagi kehidupan baru saya setelah menikah. Apalagi ketika akhirnya saya melahirkan anak pertama. Tapi sekarang, rupanya saya kian sering mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukan ibu untuk saya dan adik saya. Dan saya tak pernah lupa betapa dulu ibu berpayah-payah menjaga kami ketika kami sakit atau saat kami malas belajar. Dan melihat tingkah putri mungil saya sekarang, saya makin yakin bahwa penat dan letih yang dulu menghinggapi ibu tak terhitung.
Saat ini, di tahun pertama saya menjadi seorang ibu, saya seolah menemukan 'pintu baru' di mana saya dapat melongok sepuas hati, mencari pelajaran apalagi yang bisa saya temukan pada diri ibu saya. Satu hal yang saya tanamkan dalam benak saya adalah saya juga akan berjuang semampu saya untuk menjaga dan membesarkan anak-anak saya, seperti halnya ibu saya yang telah berjuang menjaga dan membesarkan saya dan adik perempuan saya. Saya pun tidak akan menyerah dengan 'hanya' sebuah kesulitan ekonomi bila saya menghadapinya, seperti halnya ibu saya yang tak pernah lelah ke sana ke mari mencari tambahan penghasilan. Walaupun saya tak bisa menikmati semua materi yang mampir dalam hidup saya, walaupun yang saya dapatkan harus saya korbankan untuk keluarga saya, walaupun saya harus berjualan peyek sambil naik ojek.
Saya makin mencintai ibu saya. Bila dulu, ketika saya dan adik saya kecil, ibu telah menjaga kami dari apapun yang membahayakan hidup kami. Maka inilah saatnya saya menjaga ibu saya, menenangkannya, dan membahagiakannya hingga akhir hidupnya nanti. Walaupun saya tahu, semua upaya saya itu tak akan dapat membalas secuil pun kebaikan ibu terhadap saya.
Semua yang telah ibu lakukan pada saya, memang akhirnya menjadi semangat dalam diri saya untuk juga melakukan yang terbaik. Saya kian menyadari, bahwa kehidupan yang telah dilewati ibu, terlalu berharga untuk saya lewatkan begitu saja. Kini, saya tak lagi enggan untuk 'menolehkan' hati saya ke kehidupan ibu yang telah berjasa besar.
Subscribe to:
Posts (Atom)