Memiliki pasangan hidup yang berbeda sifat dan karakter mungkin akan menjadi satu hal yang menyenangkan. Sebab satu sama lain akan saling melengkapi. Apa yang tidak ada pada diri kita, mungkin akan didapatkan dari pasangan, dan sebaliknya. Bila ditanggapi secara positif, perbedaan yang ada akan menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan untuk ditaklukkan.
Saya sendiri memiliki prinsip demikian. Sejak dulu, saya telah memiliki keinginan untuk menikah dengan seseorang yang bukan dari lingkungan pertemanan yang saya miliki. Saya ingin mendampingi seseorang yang belum mengenal saya, dan saya pun belum mengenalnya, dibandingkan menikah dengan seseorang yang sudah menjadi teman sekolah atau pernah bekerja sama dengan saya dalam suatu aktivitas atau pekerjaan. Bagi saya, memiliki suami yang belum saya kenal kepribadiannya, adalah merupakan tantangan yang pasti sangat menyenangkan. Saya membayangkan, hari demi hari saya menjalani pernikahan itu, akan menjadi sebuah petualangan yang seru yang tak habis-habisnya. Saya pastinya akan menikmati setiap detik dimana saya secara perlahan akan mengenal dan memahami diri suami tercinta. Tapi tentu saja, hal ini tidak bisa diberlakukan kepada setiap orang. Bisa saja hal ini berhasil untuk diri saya, tapi tidak demikian dengan orang lain. Tentu saja. Saya hanya ingin berbagi sebuah pengalaman lucu dan mengharukan dari apa yang saya alami sendiri.
Pada bulan November tahun 2004, tepat pada saat saya menjalani I’tikaf Ramadhan, saya membuat keputusan besar. Saya memutuskan untuk menerima lamaran dari seorang pria. Saat itu, tentu saja menjadi momen yang begitu menggembirakan sekaligus membuat jantung saya tak henti berdetak kencang. Saya akan menikah. Dan begitu tahu bahwa calon suami saya itu adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang cukup berbeda dengan diri saya, saya menjadi lebih bersemangat lagi.
Suami saya adalah seseorang yang bisa dikatakan cukup pendiam, tak banyak berkata-kata, dan sangat tenang. Sedangkan saya sendiri adalah kebalikannya. Saya hampir selalu memiliki komentar terhadap apapun, suka sekali mengobrol, dan gemar sekali melontarkan istilah atau ungkapan tertentu yang ‘tidak biasa’. Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan kegemaran saya menulis. Teman-teman saya bilang, saya selalu punya seribu istilah yang aneh dan menarik, yang akhirnya bisa menjadi istilah-istilah yang sering kami gunakan dalam percakapan.
Bulan Januari 2005, saya menikah. Di benak saya sudah terbayang berbagai hal yang ingin saya lakukan bersama. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk lebih mengenal pria yang telah menjadi suami saya itu, dan juga berbagai cara untuk membuatnya ‘tidak pendiam’. Ha. Ini satu hal yang pastinya akan menarik, begitu pikir saya. Saya memiliki beberapa orang adik-adik kelas yang menjadi murid-murid saya dalam sebuah kelompok mentoring agama. Di antara mereka tadinya ada yang memiliki sifat begitu pendiam. Tetapi, tak lama setelah mereka menjadi ‘adik-mentoring’ saya, si pendiam itu berubah. Saya telah berhasil membuatnya sedikit lebih terbuka. Saya pikir, saya pun bisa melakukannya lagi.
Untuk membuat seseorang terbuka pada diri kita, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengorek informasi apapun darinya, atau memaksanya untuk membuka mulut untuk mengobrol sepanjang hari. Memulainya dari diri sendiri, itu jauh lebih efektif. Seseorang akan merasa nyaman dan percaya untuk membuka dirinya pada kita, apabila kita sendiri mau membuka diri padanya. Begitu teori yang saya dapatkan ketika saya kuliah dulu. Dan saya pun memulainya.
Suatu kali, saya menulis surat untuk suami saya. Di dalamnya saya selipkan sebuah puisi, sebab surat itu akan saya berikan di pagi hari, saat ia akan berangkat ke kantor. Hari itu adalah hari lahir suami saya tercinta. Maka, begitulah. Pagi itu ketika ia hendak berangkat, saya mencium tangannya dan menyelipkan lipatan surat itu ke dalam saku kemejanya. Ia terbengong. Saya hanya nyengir dan berpesan supaya surat itu dibaca ketika ia tiba di kantor. Sebuah kejutan kecil. Tapi itu begitu menyenangkan hati saya sendiri. Dan surat-surat kecil selanjutnya pun cukup sering saya selipkan untuknya. Sebuah surat, adalah salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif menurut saya.
Di suatu pagi, saat saya baru sampai di kantor, saya tiba-tiba teringat suami dan ingin memberikan kejutan kecil lain untuknya. Kemudian saya membuatkannya puisi singkat, dan saya kirim lewat sms. Selanjutnya, saya mulai sering mengirimkan email dari kantor, berisi puisi atau hanya sekedar menanyakan kabar dan menceritakan aktivitas saya hari itu. Kami pun jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu berkirim email dan sms. Sebenarnya lucu juga, sebab toh setiap malam kami bertemu kembali di rumah. Tapi saya merasa perlu untuk melakukannya.
Saya merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan kecil yang saya lakukan itu. Suami istri yang keduanya bekerja, tentu memiliki pikiran dan kesibukan masing-masing yang bisa jadi akan menjauhkan keduanya. Belum lagi keletihan sepulang kerja, entah bila ditambah dengan permasalahan yang dihadapi di kantor, dan sebagainya. Saya tidak mau itu terjadi, dan saya ingin menjadikan kemesraan dan keharmonisan di antara kami berdua tetap terjaga. Dan, saya pun memulainya lagi. Bila biasanya saya memanggil suami saya dengan sebutan ‘Mas’, maka saya merasa perlu melakukan lebih dari itu. Saya mengatakan padanya,
“Mas, kayaknya seru deh kalau kita punya panggilan lain.”
Dan saya mulai mengirimkan sms padanya dengan menyebutnya ‘Hunn’. “Apa kabar hari ini, Hunn?” begitu biasanya saya menyapanya di sms. Sekali, dua kali, saya selalu yang memiliki panggilan itu untuknya. Saya tak memikirkan kapan ia akan memanggil saya dengan panggilan khusus, sebab saya sudah cukup excited dengan apa yang saya lakukan itu. Dan saya tak berhenti mengirimkannya puisi atau email di sela-sela kesibukan di kantor.
Suatu hari, saya menerima sms darinya dan saya sedikit terkejut. Sebelumnya saya yang lebih dulu mengirimkan sms untuk menanyakan sesuatu. Dan ia pun membalas dengan isi yang sangat singkat tapi cukup membuat kedua alis saya terangkat.
“Iya, Sayang…” begitu balasnya.
Saya tersenyum lebar. Dan tambah bersemangat lagi ketika ia mengirimkan sms lain yang isinya,
“Rasanya memang seru juga ya punya panggilan khusus.”
Kini, ia selalu memanggil saya dengan panggilan khusus itu, entah ketika ber-sms atau ketika sedang berbicara. Dan saya makin bersemangat untuk mencari-cari panggilan khusus apalagi yang bisa saya temukan. Sedikit seperti sedang bereksperimen memang. Tapi, saya akan melakukan apapun untuk membuat hari-hari saya bersamanya senantiasa bersemangat dan penuh cinta.
Memulai lebih dulu untuk melakukan sesuatu tidak selalu jelek dan membosankan. Sebab kita akan merasakan manfaatnya di kemudian hari, entah cepat atau lambat. Dan saya menjadi sangat bersyukur atas apa yang sudah saya nikmati sekarang. Memiliki perbedaan memang kadang bisa terasa berat. Tetapi ketika diri kita bisa bersabar, dan menggunakan kecerdasan serta kreativitas dalam diri untuk menghadapinya, semua akan terasa lebih menyenangkan dan menentramkan.
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Tuesday, October 18, 2005
Mewarnai Kertas Putih
Memiliki anak yang bisa dibanggakan, berakhlak dan berprestasi baik, menyelamatkan di dunia maupun akhirat, adalah pastinya dambaan semua orang tua. Tetapi proses menuju ke arah sana tidaklah mudah, dan membutuhkan dukungan peran kedua orang tua. Melahirkan seorang anak ke dunia adalah bagaikan memiliki selembar kertas putih. Bersih. Entah dengan gambar dan warna apa kertas itu nantinya terisi, tinta pertama yang menyentuhnya adalah orang tua. Demikian kiranya sebuah ilustrasi sederhana mengenai betapa pentingnya mendidik anak sejak dini.
Setiap kali saya menulis artikel mengenai anak, keluarga, dan tema lainnya, adalah selalu berdasarkan apa yang saya alami maupun amati dari lingkungan terdekat saya. Walau tak semuanya merupakan kejadian yang menyenangkan dan menggembirakan hati, tapi selalu saya simpan dan renungkan baik-baik. Sebab semua itu adalah pelajaran tak ternilai yang dikaruniakan oleh Allah untuk ‘mampir’ dalam kehidupan saya.
Suatu malam, saya berkumpul bersama sepupu-sepupu saya. Ada seorang yang masih berusia empat tahun, laki-laki. Hubungan saya dengannya bisa dibilang sangat dekat. Sebab sejak ia masih bayi saya hampir selalu ada bersamanya. Rumah kami pun berdekatan. Sejak dulu saya selalu memerhatikan perkembangannya. Namun setelah saya menikah dan berpisah rumah dari orang tua, saya jarang sekali bertemu dengan sepupu saya itu. Pada malam itu, saya menemukan sebuah perkembangan lain dari dirinya.
Kami sedang duduk bersama menonton televisi, dan si kecil itu bersendawa cukup keras. Saya tertawa kecil dan berucap, “Alhamdulillah.” Seperti yang biasa saya lakukan sendiri. Kemudian, tanpa disangka si kecil itu menyahut,
“Nggak usah bilang gitu.” Katanya.
“Loh? Kenapa?” saya sedikit bingung menanggapi.
“Iya, nggak usah bilang gitu.” Katanya lagi. Saya mengerenyitkan kening. Heran. Kemudian sedikit memutar otak, mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan.
“Karena aku orang Islam, makanya baca alhamdulillah,” lanjut saya. Tanpa menunggu lama, si kecil itu terus menyahuti saya.
“Iya, walaupun orang Islam, tapi nggak perlu bilang begitu.” Ia mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh pada saya. Saya ternganga. Astaghfirullahal’azhiim ….
Saya sempat menceritakan pada ibu mengenai kejadian tersebut. Dan ibu saya kembali mengingatkan saya pada pentingnya mendidik anak sedari kecil. Tak terlihat ada rasa heran pada raut wajah ibu. Sebenarnya, saya pun begitu. Saya mengenal orang tua si kecil itu tidak seperti ibu saya dulu. Seharusnya saya tidak usah merasa heran, dan langsung saja memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan padanya yang benar. Membetulkan kalimat yang ia ucapkan pada saya. Walaupun ia tak mendapatkan pelajaran itu di rumahnya, bukan berarti ia tak mendapatkannya ketika ia berada di rumah saya. Itu satu prinsip yang saya dan ibu saya pegang sejak dulu. Kami memang benar-benar menyayangi si kecil itu.
Beberapa hari setelahnya, di benak saya selalu terngiang-ngiang, bagaimana dulu ibu dengan keras dan sedikit memaksa saya untuk mengaji, melakukan salat lima waktu, berpuasa, salat tarawih di masjid. Saya ingat sekali, betapa malasnya saya dulu. Seringkali saya pura-pura tertidur ketika guru mengaji saya sudah datang ke rumah. Ketika tiba waktu salat, saya sering berlama-lama main di luar rumah sampai ibu memanggil-manggil. Waktu salat tarawih saya seringkali mengobrol dan bermain-main di dalam masjid, walau saya dengan senang hati keluar rumah setiap malam. Tetapi ternyata itu semua begitu membekas hingga sekarang. Sedikit banyak, omelan dan semangat ibu dulu mengajarkan saya patuh pada perintah agama sangat berperan dalam membentuk diri saya yang sekarang ini. Saya menyadari hal ini ketika saya sudah dewasa. Bagaimanapun, bila nilai-nilai itu tak ditanamkan sejak kecil, bila tidak segera membiasakannya dekat dengan agama, akan cukup sulit mengajarkannya ketika anak sudah beranjak besar.
Si kecil itu, saya tak tahu apakah kesempatan yang saya miliki untuk mengajarkannya masih cukup banyak. Mungkin tidak sebanyak dulu, sebab intensitas pertemuan saya dengannya yang juga berkurang. Saya berjanji dalam hati, dimana ada kesempatan yang sama, saya tidak akan melewatkannya begitu saja. Walau sedikit, walau tak banyak, saya masih bisa berperan untuk membagi pengajaran yang baik untuknya. Dan yang pasti, saya makin mawas diri, untuk tidak lengah dan lalai dalam mengajarkan agama pada anak saya kelak. Anak saya, adalah ‘kertas putih’ yang dititipkan Allah pada kita. Kita, orang tua, adalah si pemegang ‘pensil warna’.
Setiap kali saya menulis artikel mengenai anak, keluarga, dan tema lainnya, adalah selalu berdasarkan apa yang saya alami maupun amati dari lingkungan terdekat saya. Walau tak semuanya merupakan kejadian yang menyenangkan dan menggembirakan hati, tapi selalu saya simpan dan renungkan baik-baik. Sebab semua itu adalah pelajaran tak ternilai yang dikaruniakan oleh Allah untuk ‘mampir’ dalam kehidupan saya.
Suatu malam, saya berkumpul bersama sepupu-sepupu saya. Ada seorang yang masih berusia empat tahun, laki-laki. Hubungan saya dengannya bisa dibilang sangat dekat. Sebab sejak ia masih bayi saya hampir selalu ada bersamanya. Rumah kami pun berdekatan. Sejak dulu saya selalu memerhatikan perkembangannya. Namun setelah saya menikah dan berpisah rumah dari orang tua, saya jarang sekali bertemu dengan sepupu saya itu. Pada malam itu, saya menemukan sebuah perkembangan lain dari dirinya.
Kami sedang duduk bersama menonton televisi, dan si kecil itu bersendawa cukup keras. Saya tertawa kecil dan berucap, “Alhamdulillah.” Seperti yang biasa saya lakukan sendiri. Kemudian, tanpa disangka si kecil itu menyahut,
“Nggak usah bilang gitu.” Katanya.
“Loh? Kenapa?” saya sedikit bingung menanggapi.
“Iya, nggak usah bilang gitu.” Katanya lagi. Saya mengerenyitkan kening. Heran. Kemudian sedikit memutar otak, mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan.
“Karena aku orang Islam, makanya baca alhamdulillah,” lanjut saya. Tanpa menunggu lama, si kecil itu terus menyahuti saya.
“Iya, walaupun orang Islam, tapi nggak perlu bilang begitu.” Ia mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh pada saya. Saya ternganga. Astaghfirullahal’azhiim ….
Saya sempat menceritakan pada ibu mengenai kejadian tersebut. Dan ibu saya kembali mengingatkan saya pada pentingnya mendidik anak sedari kecil. Tak terlihat ada rasa heran pada raut wajah ibu. Sebenarnya, saya pun begitu. Saya mengenal orang tua si kecil itu tidak seperti ibu saya dulu. Seharusnya saya tidak usah merasa heran, dan langsung saja memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan padanya yang benar. Membetulkan kalimat yang ia ucapkan pada saya. Walaupun ia tak mendapatkan pelajaran itu di rumahnya, bukan berarti ia tak mendapatkannya ketika ia berada di rumah saya. Itu satu prinsip yang saya dan ibu saya pegang sejak dulu. Kami memang benar-benar menyayangi si kecil itu.
Beberapa hari setelahnya, di benak saya selalu terngiang-ngiang, bagaimana dulu ibu dengan keras dan sedikit memaksa saya untuk mengaji, melakukan salat lima waktu, berpuasa, salat tarawih di masjid. Saya ingat sekali, betapa malasnya saya dulu. Seringkali saya pura-pura tertidur ketika guru mengaji saya sudah datang ke rumah. Ketika tiba waktu salat, saya sering berlama-lama main di luar rumah sampai ibu memanggil-manggil. Waktu salat tarawih saya seringkali mengobrol dan bermain-main di dalam masjid, walau saya dengan senang hati keluar rumah setiap malam. Tetapi ternyata itu semua begitu membekas hingga sekarang. Sedikit banyak, omelan dan semangat ibu dulu mengajarkan saya patuh pada perintah agama sangat berperan dalam membentuk diri saya yang sekarang ini. Saya menyadari hal ini ketika saya sudah dewasa. Bagaimanapun, bila nilai-nilai itu tak ditanamkan sejak kecil, bila tidak segera membiasakannya dekat dengan agama, akan cukup sulit mengajarkannya ketika anak sudah beranjak besar.
Si kecil itu, saya tak tahu apakah kesempatan yang saya miliki untuk mengajarkannya masih cukup banyak. Mungkin tidak sebanyak dulu, sebab intensitas pertemuan saya dengannya yang juga berkurang. Saya berjanji dalam hati, dimana ada kesempatan yang sama, saya tidak akan melewatkannya begitu saja. Walau sedikit, walau tak banyak, saya masih bisa berperan untuk membagi pengajaran yang baik untuknya. Dan yang pasti, saya makin mawas diri, untuk tidak lengah dan lalai dalam mengajarkan agama pada anak saya kelak. Anak saya, adalah ‘kertas putih’ yang dititipkan Allah pada kita. Kita, orang tua, adalah si pemegang ‘pensil warna’.
Belajar Disiplin dari Anya
Suatu kali saya mengunjungi salah satu keluarga favorit saya. Mereka adalah kedua sepupu kecil saya: Rey dan Anya, dan kedua orang tua mereka. Atas tawaran dari mereka, saya pun menghabiskan satu malam menginap di kediaman yang baru mereka tempati di daerah Cilandak. Ketika saya sampai di kediaman mereka, hari sudah beranjak malam. Saya mengetuk pagar, dan tak lama Rey dan Anya berlari keluar menyambut saya dan membukakan pintu pagar.
Setelah sejenak melepas lelah, Anya dan Rey menarik tangan saya untuk masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
“Kak Vita pakai kamar mandi di dalam kamar aja. Handuknya ada kan di situ? Keran shower-nya bisa buka sendiri kan? Ayo, Dek, jangan gangguin, kak Vita mau mandi.” Kata Rey. Saya mengangguk-angguk menanggapi. Anak usia sepuluh tahun ini seperti ibu-ibu saja, pikir saya. Tapi rupanya Anya tidak menurut. Ia malah sibuk mengacungkan sebuah botol kecil kepada saya dan mengoceh panjang lebar.
“Kak Vita, kemarin kan si mbak bilang ada yang kena demam berdarah. Jadi mama beliin Lavenda, aku setiap hari musti pakai Lavenda supaya nggak kena demam berdarah. Ini Lavendanya, aku taruh di sini, ya. Nanti kak Vita pakai habis mandi, ya.” Katanya.
Wah, mau mandi saja repot sekali, pikir saya waktu itu. Pakai lotion anti nyamuk? Malas ah. Saya hanya meletakkannya di atas meja, dan kemudian tak menyentuhnya lagi sehabis mandi.
Sejam kemudian, kami bertiga makan malam sambil menonton televisi. Di sela-sela kegiatan itu, Anya mengingatkan saya,
“Eh, kak Vita! Udah pakai Lavendanya belum?”
“Eh … belum. Nanti aja deh, ya.” Kilah saya.
“Ya udah, tapi nanti jangan lupa, ya. Kan bisa kena demam berdarah.” Anya menasehati. Saya sedikit merasa geli mendengarnya. Kalimatnya barusan, dan mimik wajahnya yang bersungguh-sungguh mengingatkan saya pada ibu saya bila sedang memarahi atau mengingatkan saya untuk melakukan sesuatu. Anak sekecil itu ….
Malam itu saya dan Rey menghabiskan waktu dengan menonton film Star Wars. Ketika ayah dan ibu mereka pulang, kami makin seru menonton sambil mengomentari adegan ini dan itu. Malam kian larut, saya dan Rey belum tidur, demikian pula Anya. Tetapi wajahnya yang sudah setengah mengantuk tidak bisa bertahan lama di depan televisi di ruang tamu. Ia pun masuk ke kamar, dan tidak lupa kembali berkata pada saya dengan gaya yang sangat lucu,
“Ya ampun, kak Vita! Lavendanya belum dipakai juga?”
Persoalan memakai lotion anti nyamuk rupanya bukan hal yang sepele bagi sebagian orang, termasuk keluarga Rey dan Anya. Bagi saya, cukup semprotkan saja obat nyamuk, beres. Mudah-mudahan tidak tergigit. Tapi memang mencegah sangat jauh lebih baik daripada mengobati. Saya sendiri menyadari kalimat itu, tapi rupanya belum sepenuhnya memahami bahwa peringatan itu tidak boleh hanya berlaku sebagai slogan belaka. Perlu kekuatan untuk mengusir kemalasan untuk mempraktekkannya. Bila sudah terlanjur jatuh sakit, kita sendiri yang rugi. Begitulah, menanamkan kedisiplinan memang perlu kesadaran dan kemauan.
Omong-omong soal mengagumi, saya memang mengagumi keluarga favorit saya ini. Salah satunya adalah bagaimana si ayah dan ibu berusaha menanamkan kedisiplinan pada diri anak-anaknya. Bagi saya, menyaksikan seorang anak sekecil Anya yang begitu repot-repot menasehati saya untuk memakai lotion itu, adalah bukan sekadar menyadari bahwa ia menyayangi saya sehingga tak mau saya terkena penyakit demam berdarah. Melainkan juga menyaksikan buah kecil dari sebuah tekad kedisiplinan yang telah ditanamkan si ibu sejak dini. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Tentu saja.
Wednesday, September 28, 2005
Menyeimbangkan Keinginan
Saya baru saja menyadari betapa saya banyak merugikan diri saya sendiri, setelah saya membaca sebuah buku. Judulnya “Don’t Sweat the Small Stuff with Your Family”, karya Richard Carlson. Sebuah buku yang, menurut saya, sederhana. Isinya sebenarnya adalah kisah-kisah keseharian si penulis, yang sangat baik dan cerdas dalam mengambil hikmah dalam setiap kejadian kecil dalam kehidupannya. Ditulis dengan bahasa ringan, mudah dimengerti, dan ‘akrab’. Mengapa saya katakan akrab? Sebab sepertinya ketika membacanya, kita akan tertegur keras, bahwa setiap kejadian tersebut pernah kita alami sendiri.
Contohnya adalah salah satu chapter dalam buku itu yang kira-kira berjudul “Let Go Off Your Expectations”. Satu chapter yang hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman itu menceritakan tentang bagaimana si penulis seringkali memiliki pengharapan-pengharapan tertentu terhadap masing-masing anggota keluarganya. Seperti ketika suatu pagi yang cerah, ia dengan sangat antusias mengajak istri dan anak-anaknya untuk berlibur dengan pergi ke kolam renang. Tentu saja, ia mengharapkan reaksi atau respon yng sama antusiasnya dengan apa yang ia tunjukkan. Namun pagi itu, ia tidak mendapatkannya. Komentar yang dilontarkan oleh istrinya lebih kepada, “Ya, terserah, deh.” Dan itu sama sekali bukan sebuah kalimat yang menunjukkan sikap antusias. Tentu saja si penulis merasa ‘terganggu’ dengan sikap keluarganya, dan ia pun ‘terjebak’. Ia berkata, “Ada apa sih dengan keluarga ini?” dengan nada tinggi. Mendengar kalimat tersebut, istrinya pun tersenyum lebar dan berdiri di hadapannya sambil mengatakan, “Nah? Bagaimana dengan perkataanmu tentang pengharapan terhadap orang lain?”
Kejadian tersebut memang sepertinya sangat sepele. Namun, bagi orang yang tidak dapat mengontrol emosi akibat terjebak oleh situasi seperti di atas, tentu akan berakibat buruk bagi hubungan antar anggota keluarga. Padahal, reaksi seperti itu tak perlu dilakukan, kalau saja kita bisa sedikit bersikap tenang dan santai. Berusaha untuk menerima bahwa tidak setiap orang, termasuk anggota keluarga kita sendiri, dapat memiliki sifat yang sama seperti diri kita. Tidak setiap orang memiliki antusiasme yang sama ketika menghadapi berbagai situasi. Yang jelas, setiap orang adalah bukan diri kita. Jadi, memiliki pengharapan yang berlebihan terhadap orang lain tentu hanya akan membuat kita stres.
Dalam keluarga terutama, dimana kita menemui orang-orang yang sangat kita cintai itu nyaris setiap waktu dalam hidup kita, kita harus berusaha banyak bertoleransi bila ingin mencapai hubungan keluarga yang baik dan menyenangkan. Menerima kondisi perbedaan tersebut bukanlah berarti kita ‘menurunkan standar’, melainkan mengurangi tuntutan bahwa ‘setiap orang harus memiliki sikap, reaksi, dan respon yang sama’ dengan diri kita. Dengan kata lain, diri kita tetaplah diri kita, yang memiliki berbagai keinginan, baik untuk diri sendiri maupun terhadap orang lain. Bagaimana menyeimbangkannya dengan kemampuan dan karakteristik orang-orang tercinta yang hidup bersama kita, itu satu hal yang perlu terus diupayakan.
Saya tersenyum dan mulai mencerna ulang segala apa yang saya serap dari chapter itu. Saya mungkin memiliki sifat yang tak jauh beda dari si penulis buku tersebut, yaitu hampir selalu bersikap dan mengatakan sesuatu dengan antusias kepada orang lain. Ya, saya adalah seseorang yang ‘ber-emosi’, begitu apa yang teman-teman saya katakan. Hampir tak pernah saya tak melibatkan perasaan dalam setiap perkataan ataupun tindakan saya. Maka, bila ada orang lain yang tidak menanggapinya seantusias diri saya, saya akan berpikir bahwa orang tersebut sangat tidak pengertian dan tidak peduli dengan orang lain. Setidaknya, orang tersebut tidak mengerti bahwa sesuatu itu sangat penting bagi diri saya.
Hal itu cukup sering terjadi dalam kehidupan keseharian saya. Dan akhir-akhir ini, saya menjadi kurang bisa bertoleransi terhadap hal itu. Saya menginginkan apapun cerita yang keluar dari mulut saya ditanggapi sama antusiasnya dengan bagaimana saya menceritakannya. Setiap perilaku sedih, marah, kecewa, dan bahagia saya, saya pun ingin mendapatkan respon serupa dari keluarga saya, dalam arti mereka memiliki perasaan yang sama dengan saya.
Di chapter lain pada buku tersebut, ada sebuah yang juga membuat saya tertarik. Judulnya kira-kira “Let Him/Her Know”. Isinya tentang bagaimana kita seharusnya menyampaikan isi hati dan keinginan kita kepada orang-orang tercinta di rumah. Mungkin saja, banyak hal yang terjadi di luar dari apa yang kita harapkan, adalah karena kita sendiri tidak pernah menyampaikannya kepada mereka. Kemudian, saya pun merenungkan kembali, apakah kondisi tersebut pernah saya alami?
Hasilnya? Sama seperti si penulis, rupanya saya telah berkali-kali terjebak dalam emosi saya sendiri. Memiliki prasangka dan dugaan buruk yang hanya akan membuat hati saya gundah, dan merasa bahwa tidak seorang pun dapat memahami keinginan saya. Sungguh malang. Saya benar-benar merasa rugi kini, setelah menyadari bahwa bersikap demikian tidaklah membawa manfaat apapun terhadap diri saya. Bahkan, mungkin saja perasaan gundah tersebut membuat sikap saya menjadi berbeda kepada orang-orang tercinta di rumah. Bisa jadi, kekecewaan saya tersebut membuahkan perilaku saya yang berbeda kepada mereka, dan mungkin saja telah menyakiti perasaan keluarga saya. Dan kesudahannya, setelah emosi yang berlebihan tersebut lewat, saya selalu menyesali sikap saya itu. Bayangkan saja, betapa saya mungkin telah menyakiti dan membuat keluarga saya sedih!
Kejadian seperti itu, bukan tak mungkin telah kita alami berkali-kali. Dan selama berkali-kali itu, entah ke mana perginya akal sehat dan kejernihan pikiran saya, sehingga saya amat sulit menggali hikmah dan tindakan tepat apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi situasi macam itu. Dan selama ini, saya selalu tenggelam dalam perasaan dan pikiran saya sendiri, yang mungkin cenderung negatif, hingga menyebabkan kegundahan dalam hati saya berlangsung lama.
Suatu malam, beberapa hari setelah saya membaca buku itu, saya melakukannya. Saya menahan emosi ini kuat-kuat, melebarkan senyum hingga dapat menekan nada suara saya serendah mungkin, menatap lekat-lekat mata orang yang saya sayangi di rumah, dan mulai menyampaikan satu per satu keinginan dan harapan saya terhadapnya. Dan ternyata berhasil! Ia mendengarkan dengan serius, tampak memikirkan bahwa yang saya sampaikan itu memang benar-benar penting bagi diri saya, dan sesudah itu ia mengatakan bahwa ia pun sebenarnya telah memikirkan hal yang sama.
Hati saya terasa lapang sekali setelahnya. Dalam hati, saya mulai mendaftar ulang ‘keinginan-keinginan’ yang selama ini belum terkomunikasikan dengan baik, untuk saya pikirkan kembali, dan mungkin saja akan saya sampaikan di suatu kesempatan lain. Dan malam itu, saya tertidur dengan sangat nyenyak.
Alhamdulillah ... saya telah menemukan tulisan sederhana dalam buku tersebut. Yang akhirnya memberikan pukulan keras bagi saya, bahwa tidak semua hal yang terjadi perlu dimasukkan dalam ‘daftar tuntutan besar yang harus dipenuhi’. Mungkin ketika kita menanggapinya dengan ringan, hal tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang dipendam lama hingga menjadi ‘bom waktu’ yang akan meledak kapan saja. Ketika kita berusaha keras untuk menyingkirkan ego, membuka hati dan pikiran untuk mengkomunikasikannya dengan cara yang baik apapun itu keinginan dan harapan yang kita miliki, tentu akan membawa hasil yang lebih baik, dibandingkan hanya memendamnya atau langsung bereaksi keras. Dan jangan lupa, bagaimanapun, jangan pernah berharap bahwa apa yang kita inginkan akan seratus persen diterima dan ditanggapi seperti yang kita harapkan. Dan bila itu terjadi, bukan berarti mereka tidak mengerti atau tidak menyayangi diri kita.
Contohnya adalah salah satu chapter dalam buku itu yang kira-kira berjudul “Let Go Off Your Expectations”. Satu chapter yang hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman itu menceritakan tentang bagaimana si penulis seringkali memiliki pengharapan-pengharapan tertentu terhadap masing-masing anggota keluarganya. Seperti ketika suatu pagi yang cerah, ia dengan sangat antusias mengajak istri dan anak-anaknya untuk berlibur dengan pergi ke kolam renang. Tentu saja, ia mengharapkan reaksi atau respon yng sama antusiasnya dengan apa yang ia tunjukkan. Namun pagi itu, ia tidak mendapatkannya. Komentar yang dilontarkan oleh istrinya lebih kepada, “Ya, terserah, deh.” Dan itu sama sekali bukan sebuah kalimat yang menunjukkan sikap antusias. Tentu saja si penulis merasa ‘terganggu’ dengan sikap keluarganya, dan ia pun ‘terjebak’. Ia berkata, “Ada apa sih dengan keluarga ini?” dengan nada tinggi. Mendengar kalimat tersebut, istrinya pun tersenyum lebar dan berdiri di hadapannya sambil mengatakan, “Nah? Bagaimana dengan perkataanmu tentang pengharapan terhadap orang lain?”
Kejadian tersebut memang sepertinya sangat sepele. Namun, bagi orang yang tidak dapat mengontrol emosi akibat terjebak oleh situasi seperti di atas, tentu akan berakibat buruk bagi hubungan antar anggota keluarga. Padahal, reaksi seperti itu tak perlu dilakukan, kalau saja kita bisa sedikit bersikap tenang dan santai. Berusaha untuk menerima bahwa tidak setiap orang, termasuk anggota keluarga kita sendiri, dapat memiliki sifat yang sama seperti diri kita. Tidak setiap orang memiliki antusiasme yang sama ketika menghadapi berbagai situasi. Yang jelas, setiap orang adalah bukan diri kita. Jadi, memiliki pengharapan yang berlebihan terhadap orang lain tentu hanya akan membuat kita stres.
Dalam keluarga terutama, dimana kita menemui orang-orang yang sangat kita cintai itu nyaris setiap waktu dalam hidup kita, kita harus berusaha banyak bertoleransi bila ingin mencapai hubungan keluarga yang baik dan menyenangkan. Menerima kondisi perbedaan tersebut bukanlah berarti kita ‘menurunkan standar’, melainkan mengurangi tuntutan bahwa ‘setiap orang harus memiliki sikap, reaksi, dan respon yang sama’ dengan diri kita. Dengan kata lain, diri kita tetaplah diri kita, yang memiliki berbagai keinginan, baik untuk diri sendiri maupun terhadap orang lain. Bagaimana menyeimbangkannya dengan kemampuan dan karakteristik orang-orang tercinta yang hidup bersama kita, itu satu hal yang perlu terus diupayakan.
Saya tersenyum dan mulai mencerna ulang segala apa yang saya serap dari chapter itu. Saya mungkin memiliki sifat yang tak jauh beda dari si penulis buku tersebut, yaitu hampir selalu bersikap dan mengatakan sesuatu dengan antusias kepada orang lain. Ya, saya adalah seseorang yang ‘ber-emosi’, begitu apa yang teman-teman saya katakan. Hampir tak pernah saya tak melibatkan perasaan dalam setiap perkataan ataupun tindakan saya. Maka, bila ada orang lain yang tidak menanggapinya seantusias diri saya, saya akan berpikir bahwa orang tersebut sangat tidak pengertian dan tidak peduli dengan orang lain. Setidaknya, orang tersebut tidak mengerti bahwa sesuatu itu sangat penting bagi diri saya.
Hal itu cukup sering terjadi dalam kehidupan keseharian saya. Dan akhir-akhir ini, saya menjadi kurang bisa bertoleransi terhadap hal itu. Saya menginginkan apapun cerita yang keluar dari mulut saya ditanggapi sama antusiasnya dengan bagaimana saya menceritakannya. Setiap perilaku sedih, marah, kecewa, dan bahagia saya, saya pun ingin mendapatkan respon serupa dari keluarga saya, dalam arti mereka memiliki perasaan yang sama dengan saya.
Di chapter lain pada buku tersebut, ada sebuah yang juga membuat saya tertarik. Judulnya kira-kira “Let Him/Her Know”. Isinya tentang bagaimana kita seharusnya menyampaikan isi hati dan keinginan kita kepada orang-orang tercinta di rumah. Mungkin saja, banyak hal yang terjadi di luar dari apa yang kita harapkan, adalah karena kita sendiri tidak pernah menyampaikannya kepada mereka. Kemudian, saya pun merenungkan kembali, apakah kondisi tersebut pernah saya alami?
Hasilnya? Sama seperti si penulis, rupanya saya telah berkali-kali terjebak dalam emosi saya sendiri. Memiliki prasangka dan dugaan buruk yang hanya akan membuat hati saya gundah, dan merasa bahwa tidak seorang pun dapat memahami keinginan saya. Sungguh malang. Saya benar-benar merasa rugi kini, setelah menyadari bahwa bersikap demikian tidaklah membawa manfaat apapun terhadap diri saya. Bahkan, mungkin saja perasaan gundah tersebut membuat sikap saya menjadi berbeda kepada orang-orang tercinta di rumah. Bisa jadi, kekecewaan saya tersebut membuahkan perilaku saya yang berbeda kepada mereka, dan mungkin saja telah menyakiti perasaan keluarga saya. Dan kesudahannya, setelah emosi yang berlebihan tersebut lewat, saya selalu menyesali sikap saya itu. Bayangkan saja, betapa saya mungkin telah menyakiti dan membuat keluarga saya sedih!
Kejadian seperti itu, bukan tak mungkin telah kita alami berkali-kali. Dan selama berkali-kali itu, entah ke mana perginya akal sehat dan kejernihan pikiran saya, sehingga saya amat sulit menggali hikmah dan tindakan tepat apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi situasi macam itu. Dan selama ini, saya selalu tenggelam dalam perasaan dan pikiran saya sendiri, yang mungkin cenderung negatif, hingga menyebabkan kegundahan dalam hati saya berlangsung lama.
Suatu malam, beberapa hari setelah saya membaca buku itu, saya melakukannya. Saya menahan emosi ini kuat-kuat, melebarkan senyum hingga dapat menekan nada suara saya serendah mungkin, menatap lekat-lekat mata orang yang saya sayangi di rumah, dan mulai menyampaikan satu per satu keinginan dan harapan saya terhadapnya. Dan ternyata berhasil! Ia mendengarkan dengan serius, tampak memikirkan bahwa yang saya sampaikan itu memang benar-benar penting bagi diri saya, dan sesudah itu ia mengatakan bahwa ia pun sebenarnya telah memikirkan hal yang sama.
Hati saya terasa lapang sekali setelahnya. Dalam hati, saya mulai mendaftar ulang ‘keinginan-keinginan’ yang selama ini belum terkomunikasikan dengan baik, untuk saya pikirkan kembali, dan mungkin saja akan saya sampaikan di suatu kesempatan lain. Dan malam itu, saya tertidur dengan sangat nyenyak.
Alhamdulillah ... saya telah menemukan tulisan sederhana dalam buku tersebut. Yang akhirnya memberikan pukulan keras bagi saya, bahwa tidak semua hal yang terjadi perlu dimasukkan dalam ‘daftar tuntutan besar yang harus dipenuhi’. Mungkin ketika kita menanggapinya dengan ringan, hal tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang dipendam lama hingga menjadi ‘bom waktu’ yang akan meledak kapan saja. Ketika kita berusaha keras untuk menyingkirkan ego, membuka hati dan pikiran untuk mengkomunikasikannya dengan cara yang baik apapun itu keinginan dan harapan yang kita miliki, tentu akan membawa hasil yang lebih baik, dibandingkan hanya memendamnya atau langsung bereaksi keras. Dan jangan lupa, bagaimanapun, jangan pernah berharap bahwa apa yang kita inginkan akan seratus persen diterima dan ditanggapi seperti yang kita harapkan. Dan bila itu terjadi, bukan berarti mereka tidak mengerti atau tidak menyayangi diri kita.
Menjadi Teman Baik
Saya memiliki seorang teman dekat, kami telah saling mengenal selama lebih dari sepuluh tahun. Ketika kami duduk di bangku SMA, bisa dikatakan kami memiliki lingkungan pertemanan yang hampir sama. Ia mengenal teman-teman saya, dan sebaliknya. Walaupun kami tak satu sekolah, namun saya tahu bagaimana pergaulannya dan juga aktivitasnya. Demikian juga sebaliknya. Saya mengenalnya sebagai seseorang yang cukup supel, memiliki banyak teman, dan juga cukup menyenangkan. Pada waktu itu, saya pikir saya telah mengenalnya begitu dekat hingga saya memahami seluruh apa yang ada pada dirinya.
Ketika kami kuliah, ternyata saya pun masih diberikan kesempatan bertemu dengannya cukup sering. Karena kami kuliah di universitas yang sama. Sama seperti di SMA dulu, kami saling mengetahui kegiatan masing-masing. Walaupun ada sedikit perbedaan kondisi dibandingkan saat di bangku SMA dulu, yaitu lingkup pergaulan kami masing-masing menjadi lebih luas. Cukup banyak teman-temannya yang tak saya kenal, dan mungkin juga sebaliknya. Luas dan beragamnya lingkungan pergaulan di kampus memungkinkan teman saya itu untuk bergaul ke sana ke mari. Teman-temannya pun tersebar di berbagai fakultas. Tetapi ternyata saya lagi-lagi diberikan kesempatan untuk juga mengenal, walau tidak dekat, beberapa orang dari ‘lingkaran pertemanan’ teman dekat saya itu. Saya akui, kebiaaan dan pola pertemanan yang ada pada mereka memang tidak seperti yang saya punya. Namun, saya cukup bisa bertoleransi bahwa mereka adalah orang-orang yang baik. Tetapi, teman dekat saya itu mengalami cukup banyak perubahan. Sesaat, saya seperti tak lagi mengenalnya.
Suatu ketika, saya mendapati teman saya ini begitu menyukai seseorang. Seseorang itu adalah teman saya juga, katakanlah si A. Hubungan saya dan si A bisa dibilang juga cukup dekat, bahkan sebenarnya saya yang lebih dulu mengenal dan dekat dengan si A. Si A ini, juga seorang perempuan, adalah seseorang dengan kepribadian yang memang sangat menyenangkan. Dan saya sangat mengerti mengapa teman dekat saya itu begitu ‘memuja’ si A. Ia sepertinya berusaha memasuki setiap lingkaran teman yang si A punya. Ia akan marah dan minimal ‘ngambek’ kalau mendapati si A sedang bepergian atau berkumpul dengan teman-temannya tanpa mengajaknya. Kadang, saya menilainya terlalu kekanak-kanakan.
Pernah si A menceritakan pada saya, bahwa teman dekat saya itu berusaha untuk ikut dalam setiap momen dimana si A dan teman-temannya berkumpul. Awalnya, saya tidak heran dengan hal itu. Memang saya tahu bahwa teman dekat saya itu cukup supel dan sepertinya dapat diterima oleh berbagai kalangan pergaulan. Saya sendiri cukup sering berhubungan dengan si A, dan kami berdua memiliki pembicaraan sendiri ketika sedang berbincang. Tapi saya sadar, si A memiliki lingkungan pertemanan yang telah ia jalani lebih dulu sebelum ia mengenal saya. Seperti teman dekat saya itu, saya sendiri sangat menyukai si A. Tapi saya tak pernah mengharapkannya untuk selalu berada bersama-sama saya setiap saat. Saya menghargai privasinya untuk berada bersama teman-temannya yang lain kapanpun ia suka, tanpa saya ganggu. Sebab saya sadar bahwa saya kurang nyaman dan mungkin juga kurang cocok untuk bergaul akrab dengan teman-teman si A, walau kami saling kenal. Saya bisa memiliki lingkungan pertemanan saya sendiri, dengan tetap berteman dekat dengan si A.
Saat itu, saya cukup sering memikirkan teman dekat saya, tentang bagaimana hubungannya dengan si A dan teman-temannya. Mereka sering bepergian bersama. Setiap kali kuliah usai, mereka masih asyik nongkrong di kampus atau tempat lainnya. Si A kuliah pada jam-jam yang berbeda dari saya dan teman dekat saya itu. Tapi teman dekat saya itu dengan rela menunggui si A hingga ia seringkali pulang malam. Hal itu terjadi cukup sering, dan itu cukup mengkhawatirkan bagi saya. Saya semakin menyadari, bahwa teman dekat saya itu benar-benar berusaha keras untuk berada pada lingkungan pergaulan si A.
Suatu saat, saya berkesempatan untuk berbincang cukup lama dengan si A. Kami sering bertemu di dunia maya, alias chatting. Hampir setiap hari. Sekali, dua kali, saya mendapat cerita dari si A bahwa ada beberapa temannya yang merasa kurang nyaman dengan keberadaan teman dekat saya itu di antara mereka. Memang, sepertinya ia seringkali sedikit ‘memaksa’ untuk selalu hadir pada setiap acara kumpul-kumpul yang mereka lakukan. Di kesempatan lain, saya mendapat kabar bahwa beberapa teman si A merasa jengah dengan sikap dan tingkah laku teman dekat saya itu. Mereka menilainya terlalu over acting dalam suatu hal. Ketidaknyamanan ini akan dengan mudah berubah menjadi ketidaksukaan. Saya menyadarinya, dan begitu pula si A. Maka dalam beberapa kesempatan, bila ada pernyataan ketidaksukaan itu terlontar, si A sedapat mungkin membuat suasana melunak dengan sedikit membela teman dekat saya itu.
Entah mengapa, tiba-tiba saja saya jadi merasa kasihan pada teman saya yang sudah lama sekali saya pahami perangainya itu. Ia yang selalu berusaha masuk ke sebuah lingkungan pergaulan, merasa bahwa dirinya diterima di sana dan selalu ingin mendapat tempat bersama mereka. Padahal kenyataannya tak seperti yang ia pikir. Mungkinkah ia menyadari kondisi ini? Saya harap begitu. Sehingga ia seharusnya dapat membatasi diri dan mengerti bagaimana harus menempatkan diri.
Perihal teman dekat saya itu, adalah sebuah teguran bagi diri saya sendiri. Pernahkah saya dengan begitu menyebalkannya memaksakan diri untuk masuk ke dalam sebuah lingkungan, dan kemudian ternyata membuat orang-orang di dalamnya tidak nyaman? Saya semakin rajin untuk mengintrospeksi diri. Dan setiap kali si A ‘mengadukan’ apa yang telah diperbuat atau dikatakan teman dekat saya itu, dan itu sepertinya membuat mereka tak nyaman, maka seketika saya ingin sekali berbuat sesuatu. Misalnya, menegurnya atau memperingatkannya tentang apa yang telah ia lakukan atau katakan. Kalau dipikir-pikir, memang bukan tanggung jawab saya sepenuhnya. Toh, yang melakukannya adalah bukan diri saya. Tetapi, saya telah berteman dekat dengannya selama lebih dari sepuluh tahun. Dirinya adalah cerminan diri saya, begitu seharusnya. Entah mengapa saya merasa begitu bertanggung jawab dan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apalagi bila ia telah membuat tak sedikit orang merasa tidak nyaman. Entah mengapa. Mungkin karena rasa sayang saya sudah begitu besar untuknya.
Saya ingat, ada seseorang yang pernah berkata kepada saya, bahwa menjadi ‘teman yang baik’ adalah tidak sama dengan menjadi ‘teman baik’. Menjadi ‘teman baik’ adalah menjadi seseorang yang senantiasa bisa melindungi, membantu mengingatkan dirinya kapanpun ia telah melakukan kesalahan. Tanpa harus berbaik-baik, dan tidak membiarkan dirinya berbuat hal yang tidak benar. Teman baik adalah teman yang bisa membuat diri kita menjadi seseorang yang lebih baik.
Ketika kami kuliah, ternyata saya pun masih diberikan kesempatan bertemu dengannya cukup sering. Karena kami kuliah di universitas yang sama. Sama seperti di SMA dulu, kami saling mengetahui kegiatan masing-masing. Walaupun ada sedikit perbedaan kondisi dibandingkan saat di bangku SMA dulu, yaitu lingkup pergaulan kami masing-masing menjadi lebih luas. Cukup banyak teman-temannya yang tak saya kenal, dan mungkin juga sebaliknya. Luas dan beragamnya lingkungan pergaulan di kampus memungkinkan teman saya itu untuk bergaul ke sana ke mari. Teman-temannya pun tersebar di berbagai fakultas. Tetapi ternyata saya lagi-lagi diberikan kesempatan untuk juga mengenal, walau tidak dekat, beberapa orang dari ‘lingkaran pertemanan’ teman dekat saya itu. Saya akui, kebiaaan dan pola pertemanan yang ada pada mereka memang tidak seperti yang saya punya. Namun, saya cukup bisa bertoleransi bahwa mereka adalah orang-orang yang baik. Tetapi, teman dekat saya itu mengalami cukup banyak perubahan. Sesaat, saya seperti tak lagi mengenalnya.
Suatu ketika, saya mendapati teman saya ini begitu menyukai seseorang. Seseorang itu adalah teman saya juga, katakanlah si A. Hubungan saya dan si A bisa dibilang juga cukup dekat, bahkan sebenarnya saya yang lebih dulu mengenal dan dekat dengan si A. Si A ini, juga seorang perempuan, adalah seseorang dengan kepribadian yang memang sangat menyenangkan. Dan saya sangat mengerti mengapa teman dekat saya itu begitu ‘memuja’ si A. Ia sepertinya berusaha memasuki setiap lingkaran teman yang si A punya. Ia akan marah dan minimal ‘ngambek’ kalau mendapati si A sedang bepergian atau berkumpul dengan teman-temannya tanpa mengajaknya. Kadang, saya menilainya terlalu kekanak-kanakan.
Pernah si A menceritakan pada saya, bahwa teman dekat saya itu berusaha untuk ikut dalam setiap momen dimana si A dan teman-temannya berkumpul. Awalnya, saya tidak heran dengan hal itu. Memang saya tahu bahwa teman dekat saya itu cukup supel dan sepertinya dapat diterima oleh berbagai kalangan pergaulan. Saya sendiri cukup sering berhubungan dengan si A, dan kami berdua memiliki pembicaraan sendiri ketika sedang berbincang. Tapi saya sadar, si A memiliki lingkungan pertemanan yang telah ia jalani lebih dulu sebelum ia mengenal saya. Seperti teman dekat saya itu, saya sendiri sangat menyukai si A. Tapi saya tak pernah mengharapkannya untuk selalu berada bersama-sama saya setiap saat. Saya menghargai privasinya untuk berada bersama teman-temannya yang lain kapanpun ia suka, tanpa saya ganggu. Sebab saya sadar bahwa saya kurang nyaman dan mungkin juga kurang cocok untuk bergaul akrab dengan teman-teman si A, walau kami saling kenal. Saya bisa memiliki lingkungan pertemanan saya sendiri, dengan tetap berteman dekat dengan si A.
Saat itu, saya cukup sering memikirkan teman dekat saya, tentang bagaimana hubungannya dengan si A dan teman-temannya. Mereka sering bepergian bersama. Setiap kali kuliah usai, mereka masih asyik nongkrong di kampus atau tempat lainnya. Si A kuliah pada jam-jam yang berbeda dari saya dan teman dekat saya itu. Tapi teman dekat saya itu dengan rela menunggui si A hingga ia seringkali pulang malam. Hal itu terjadi cukup sering, dan itu cukup mengkhawatirkan bagi saya. Saya semakin menyadari, bahwa teman dekat saya itu benar-benar berusaha keras untuk berada pada lingkungan pergaulan si A.
Suatu saat, saya berkesempatan untuk berbincang cukup lama dengan si A. Kami sering bertemu di dunia maya, alias chatting. Hampir setiap hari. Sekali, dua kali, saya mendapat cerita dari si A bahwa ada beberapa temannya yang merasa kurang nyaman dengan keberadaan teman dekat saya itu di antara mereka. Memang, sepertinya ia seringkali sedikit ‘memaksa’ untuk selalu hadir pada setiap acara kumpul-kumpul yang mereka lakukan. Di kesempatan lain, saya mendapat kabar bahwa beberapa teman si A merasa jengah dengan sikap dan tingkah laku teman dekat saya itu. Mereka menilainya terlalu over acting dalam suatu hal. Ketidaknyamanan ini akan dengan mudah berubah menjadi ketidaksukaan. Saya menyadarinya, dan begitu pula si A. Maka dalam beberapa kesempatan, bila ada pernyataan ketidaksukaan itu terlontar, si A sedapat mungkin membuat suasana melunak dengan sedikit membela teman dekat saya itu.
Entah mengapa, tiba-tiba saja saya jadi merasa kasihan pada teman saya yang sudah lama sekali saya pahami perangainya itu. Ia yang selalu berusaha masuk ke sebuah lingkungan pergaulan, merasa bahwa dirinya diterima di sana dan selalu ingin mendapat tempat bersama mereka. Padahal kenyataannya tak seperti yang ia pikir. Mungkinkah ia menyadari kondisi ini? Saya harap begitu. Sehingga ia seharusnya dapat membatasi diri dan mengerti bagaimana harus menempatkan diri.
Perihal teman dekat saya itu, adalah sebuah teguran bagi diri saya sendiri. Pernahkah saya dengan begitu menyebalkannya memaksakan diri untuk masuk ke dalam sebuah lingkungan, dan kemudian ternyata membuat orang-orang di dalamnya tidak nyaman? Saya semakin rajin untuk mengintrospeksi diri. Dan setiap kali si A ‘mengadukan’ apa yang telah diperbuat atau dikatakan teman dekat saya itu, dan itu sepertinya membuat mereka tak nyaman, maka seketika saya ingin sekali berbuat sesuatu. Misalnya, menegurnya atau memperingatkannya tentang apa yang telah ia lakukan atau katakan. Kalau dipikir-pikir, memang bukan tanggung jawab saya sepenuhnya. Toh, yang melakukannya adalah bukan diri saya. Tetapi, saya telah berteman dekat dengannya selama lebih dari sepuluh tahun. Dirinya adalah cerminan diri saya, begitu seharusnya. Entah mengapa saya merasa begitu bertanggung jawab dan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apalagi bila ia telah membuat tak sedikit orang merasa tidak nyaman. Entah mengapa. Mungkin karena rasa sayang saya sudah begitu besar untuknya.
Saya ingat, ada seseorang yang pernah berkata kepada saya, bahwa menjadi ‘teman yang baik’ adalah tidak sama dengan menjadi ‘teman baik’. Menjadi ‘teman baik’ adalah menjadi seseorang yang senantiasa bisa melindungi, membantu mengingatkan dirinya kapanpun ia telah melakukan kesalahan. Tanpa harus berbaik-baik, dan tidak membiarkan dirinya berbuat hal yang tidak benar. Teman baik adalah teman yang bisa membuat diri kita menjadi seseorang yang lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)