Ada apa dengan dunia?
Sepertinya akhir-akhir ada 'sepi' yang merayapi, perlahan. Walau nggak terlalu mengganggu sebenernya. Saya punya cukup banyak 'jendela' yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir 'sepi' yang bisa menggerogoti hati.
Lebih sering nonton berita (dan akhir-akhir ini tak banyak berita gembira yang tersiar), mulai membaca satu per satu tumpukan buku yang selama ini tidak tersentuh, menghubungi teman-teman melalui telepon, sms, maupun mengunjungi warnet seminggu sekali. Kegiatan rutin, tapi harus dilakukan, bila saya tidak ingin 'mengubur' diri dalam 'sepi'. Sambil perlahan-lahan, merencanakan kembali apa-apa yang ingin dilakukan ke depan. Satu yang sudah pasti: Saya harus tetap menulis!
Setiap perubahan yang terjadi dalam hidup ini pastilah memerlukan ekstra tenaga dan pikiran untuk menjadikannya menyenangkan dan tidak memberatkan. Ada satu perubahan membahagiakan yang hadir dalam hidup saya sekarang: Saya akan menjadi seorang bunda! Banyak doa dan harap yang sekarang lebih sering hadir dalam sujud dan hari-hari saya. Cemas, gelisah, bahkan tangis yang diam-diam menjadi 'penggoda', adalah kewajaran bagi hormon-hormon yang 'mengubah' tubuh seorang calon bunda. Menjadi lemah dan nelangsa sendiri? Tentu tidak! Saya sekuat tenaga mencoba untuk selalu berpikir positif. Hamil kan nggak harus mual, muntah atau bahkan pingsan segala. Dan, alhamdulillah, Allah memudahkan saya dalam hal ini. Walau cobaan-cobaan itu pasti ada. Seperti hari ini, si calon bunda ini mendapat 'serangan kaget' ketika membaca hasil USG. Lantas? Tersenyum saja, banyak-banyak berdoa, berusaha menjaga dan membesarkan calon janin dengan gizi yang baik, dan cukup istirahat. Pikiran yang sehat akan membantu calon bunda dan si janin untuk tetap sehat secara fisik dan emosi.
Benarkah 'sepi' itu menghalangi? Tentu tidak. Kalau saja kemalasan tidak menghalangi mata dan hati untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sekitar, kenyamanan itu pasti akan menggantikannya.
Jangan buang waktu, bergiatlah! Niat yang baik dan ikhlas menjadi awal dari setiap tindak laku yang menjadikan perubahan kehidupan suatu keindahan, bukannya hal yang menakutkan.
*menyemangati diri sendiri*
"Salam cinta untuk semua"
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Tuesday, December 27, 2005
Wednesday, December 07, 2005
Masihkah Rindumu?
Aku bertanya tentang waktu,
saat kita pertama kali bertemu
dan kisah cinta kita tertuang dalam lagu,
yang sering kita nyanyikan begitu merdu.
Ingatkah engkau tentang saat itu?
Suatu ketika, di koridor itu,
mataku menatap penuh harap pada sosok-sosokmu,
yang bahkan lebih dariku
menyalakan suara bagai semangat yang menyatu.
Koridor itu, mungkin adalah tempat pertama kali kita bertemu.
Aku ingat, di lapangan terik itu,
seketika bayang-bayang tak lagi semu.
Jabat tanganmu menghangatkanku,
ketika kusadari langkah-langkah ini akan berpadu
denganmu.
Di bangku panjang, di taman itu,
entah berapa waktu bersaksi bisu
ketika kau menangis karena susahmu,
ketika aku mengadukan lelahku,
ketika kau dan aku menapaki letih, duka, dan gembira itu,
ketika semua penat itu jadi rindu,
mungkinkah kini kau ragu?
Bimbangku kini tentangmu.
Suatu ketika di koridor itu,
kau dan aku,
kita menggandeng lengan-lengan baru,
dengan bara yang satu,
semangat itu.
Mereka telah menjadi nafasku yang memburu,
mereka tak pernah enyah, walau aku sempat ragu,
mereka menguatkan separuh jiwaku,
saat jatuhku begitu menderu.
Mereka adalah lagu,
yang selalu berdegup menghidupkanku.
Dulu,
saat pertama kali kita bertemu,
dan berulang sepanjang waktu.
Masihkah itu menjadi rindumu?
Atau kini kau beranjak pergi,
meninggalkanku?
Dedicated to 9868sisterhood&brotherhood
"Sebuah kerinduan panjang untuk kalian"
Thursday, November 17, 2005
Sebuah Kehangatan
Menjadi seorang anak tunggal selalu tidak mudah. Saya sendiri nyaris mengalaminya. Sewaktu kecil dulu, saya hampir tidak memiliki saudara kandung sampai saya berumur delapan tahun. Tiba-tiba saja ibu saya melahirkan seorang adik perempuan untuk saya. Mungkin karena sebelumnya saya sudah merengek-rengek dan memainkan segala macam peran khayalan menjadi seorang kakak selama beberapa lama. Mungkin juga karena memang orang tua saya belum merencanakannya, dan Allah mengaruniakan seorang adik untuk saya ketika saya sudah berusia delapan tahun.
Saya memiliki seorang saudara sepupu laki-laki. Saat ini ia berusia sekitar sepuluh tahun. Ia seorang anak tunggal, dan memiliki orang tua yang keduanya bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana ia kesepian. Setiap hari sepulang sekolah, mungkin hanya pembantu di rumah, dan mainan serta play station favoritnya yang menjadi teman. Saya tidak begitu memerhatikan, seberapa besar pengaruh ‘rasa kesepian’ itu padanya, hingga pada suatu waktu ia menjadi murid privat seorang teman saya.
Sepupu saya itu cukup pintar, bahkan menurut saya cukup cerdas untuk anak seusianya. Dan ia memiliki tipe kinestetik dalam menyerap pelajaran, dalam arti tak bisa duduk diam dan menunggu guru selesai menerangkan. Istilah lain yang biasa orang gunakan, padahal mungkin dalam pemahaman yang salah, adalah hiperaktif. Bahkan tante saya sempat membawanya ke seorang psikolog. Pasalnya, seorang guru privatnya tak sanggup untuk menghadapi sepupu saya itu. Entah berapa kali telah ‘dikerjainya’, dan mungkin si guru privat sudah tidak sanggup lagi. Kemudian, saya menawarkan seorang teman kampus saya untuk menjadi guru privat pengganti. Seorang guru yang jauh lebih muda dari yang sebelumnya. Dalam hati, saya sempat khawatir, akankah teman saya itu menjadi ‘sasaran empuk’ berikutnya? Rupanya, tante saya ‘betah’ mempekerjakannya, dan demikian juga sepupu saya. Menurut tante saya, ia seperti mendapatkan seorang ‘kakak laki-laki’ sekaligus teman bermain disamping menjadi guru privatnya.
Selama ini, saya sendiri seringkali menganggap bahwa seorang anak tunggal adalah anak yang egois, manja, dan sulit untuk bergaul dengan orang lain. Sebuah kesimpulan yang memang saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya. Tapi rupanya hal itu tidak bisa diberlakukan bagi semua orang. Bagi sepupu saya, menjadi anak tunggal berarti ia harus mengusir kesepian dengan caranya sendiri. Yang belakangan saya ketahui adalah bahwa ada sebuah kehangatan yang ia ajarkan pada orang lain.
Ibu saya selalu mengajarkan pada saya dan adik saya untuk selalu memuliakan tamu. Mulai dari membiasakan kami untuk membuatkan dan menyajikan sendiri minuman atau suguhan lain bila ada tamu yang datang, atau membantunya untuk bersiap-siap menghias rumah dan menyajikan kue-kue menjelang hari raya Idul Fitri, walaupun sebenarnya tamu yang akan datang berkunjung ketika hari raya tidaklah banyak. Tetapi kami benar-benar mengubah suasana rumah menjadi nyaman dan cantik sekali, lain dari hari-hari biasanya. Ada atau tidak ada tamu yang datang, kami selalu dalam kondisi siap untuk menerima dan menjamu. Hal ini merupakan pengajaran yang sangat baik. Keramahan dan keterbukaan seperti ini bisa jadi tak dimiliki oleh keluarga yang lain. Atau mungkin anak-anak yang lain tidak turut andil dalam ‘menjamu’ tamu kecuali bila teman-teman kecil mereka datang. Keterlibatan seorang anak dalam menerima dan menjamu tamu adalah satu hal yang susah-susah gampang untuk dibiasakan.
Sepupu saya yang berusia sepuluh tahun itu beberapa kali memberikan kejutan pada saya. Setelah mereka pindah menempati tempat tinggal baru, yang jauhnya paling hanya beberapa blok saja dari tempat tinggal yang lama, saya berkesempatan untuk menginap di sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah berkunjung dan sesekali menginap di rumahnya, namun cukup jarang sebab rumahnya memang jauh dari tempat tinggal saya. Dari saat itulah saya memerhatikan satu hal yang menarik dari diri lelaki kecil itu.
Ketika itu saya membuat janji untuk bertemu tante dan sepupu saya itu di sebuah pertokoan di dekat kantor tempat tante saya bekerja. Rupanya sepupu saya memerlukan beberapa bahan untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Untuk menghemat ongkos dan efektivitas waktu, saya pun bertemu mereka di pertokoan itu untuk kemudian pulang bersama ke rumah mereka. Saat itu sekitar pukul enam sore, sepulang dari kantor saya segera menuju ke sana. Saya menemui mereka di toko buku yang terdapat di dalam pertokoan itu. Sepupu saya berteriak memanggil saya yang sedang celingukan mencari-cari mereka.
“Kak Vita nginep berapa hari?” ia bertanya, dan saya sedikit tergagap mau menjawabnya. Saya melirik tante saya yang berada di dekat kami sambil tersenyum-senyum.
“Iya, katanya kak Vita nggak boleh cuma satu hari nginepnya.” Sambung tante saya.
“Emangnya musti berapa hari nginepnya?” saya balik bertanya. Ia tersenyum-senyum.
“Tiga hari!” katanya bersemangat. Saya tersenyum kecil, dalam hati sedikit terharu. Sepertinya ia begitu senang bila ada orang yang menginap di rumahnya, pikir saya waktu itu.
Di lain kesempatan, saya kembali diajak untuk menginap di rumahnya. Kali itu saya menginap bersama adik perempuan saya dan seorang tante saya yang lain. Seperti biasa, ketika saya datang bersama adik saya, sepupu saya itu menyambut kami dengan gembira. Ia bahkan betah untuk menunggui kami hingga waktu tidur, mengobrol berlama-lama, atau menemani kami sambil ia sendiri bermain.
Pagi harinya, saya melihat adik saya duduk di depan televisi sambil meminum susu kotak. Saya sempat kaget dan menegurnya. Saya tahu pasti itu milik Imam, sepupu kecil saya itu. Biasanya seorang anak kecil akan ngambek atau mengamuk bila tahu kepunyaannya diambil orang lain tanpa sepengetahuannya. Saat itu saya menunggu Imam keluar dari kamarnya, dan mungkin akan marah besar melihat adik saya seenaknya mengambil susu kotak kesukaannya dari kulkas.
Lalu Imam pun bangun dan menghampiri kami,
“Kak Dede, itu susu siapa?” tanyanya pada adik saya. Saya dan adik saya saling lirik sambil tersenyum-senyum.
“Susunya Imam. Kak Dede ambil dari kulkas.” Jawab adik saya jujur. Saya menanti reaksi apa yang akan Imam lakukan.
“Oh, iya. Ada banyak kan di kulkas. Kalau mau lagi ambil aja. Imam mau juga ah…” katanya singkat. Dan ia pun beranjak ke kulkas untuk mengambil sekotak susu yang sama. Saya sedikit terbengong. Dan kemudian menghela napas lega. Reaksinya tak seperti apa yang saya bayangkan.
Sejak hari itu, saya dan adik saya sering membicarakan bagaimana Imam memperlakukan kami selama di rumahnya, dan mungkin juga orang-orang lain yang datang dan atau menginap di sana. Ia tak pernah bosan menyambut kami datang, dan menanyakan apa-apa yang kami perlukan, sampai dengan bersemangatnya menceritakan rencananya untuk mengajak kami berjalan-jalan ke tempat ini dan itu. Sungguh sebuah sikap yang cukup jarang dimiliki oleh seorang anak kecil. Ia sangat mengerti cara membuat tamu merasa nyaman di rumahnya.
Saya memiliki seorang sepupu kecil lagi, namanya Andra. Ia berusia tak jauh berbeda dari Imam. Andra seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya berusia sepuluh tahun lebih tua daripadanya, dan keduanya telah sibuk dengan dunia remaja masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Imam, pastinya Andra merasakan kesepian yang sama.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi Andra dan keluarganya ketika saya dan suami bermaksud untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung. Kami pun dengan senang hati menginap di rumah Andra.
Kami sampai di Bandung sekitar pukul dua pagi, dan beristirahat di rumah Andra tanpa membangunkan siapapun kecuali tante saya yang memang belum tidur. Keesokan paginya, ketika yang lain sudah menghabiskan sarapan, saya dan suami masih tertidur setelah menunaikan salat subuh. Andra mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya.
“Kak Vita, kak Hendy, tehnya udah siap tuh. Ayo bangun, sarapan.” Panggilnya. Kami pun beranjak ke ruang makan, dan memang di atas meja sudah terhidang dua cangkir teh dan makanan. Andra menemani kami sarapan sambil sesekali bertanya, “Enak nggak tehnya?” atau “Enak kan makanannya?” Dan begitulah seterusnya. Setiap kali waktu makan tiba, Andra selalu memanggil kami berdua, dan mengajak serta menemani kami makan bersama. Di saat sepupu saya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing, si kecil ini sibuk memerhatikan kenyamanan kami berdua di rumahnya. Dibandingkan dengan Imam, Andra sangat beruntung memiliki dua orang kakak laki-laki dan perempuan serta seorang ibu yang tidak bekerja office hours seperti ibunya Imam. Tetapi rupanya ia mengalami kesepian yang sama, dan memberikan kehangatan yang sama dengan apa yang Imam lakukan terhadap para tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Sederhana memang. Saya rasa semua anak pun bisa melakukannya. Tetapi di balik kelebihan itu, pastinya ditumbuhkan oleh pola didik tertentu yang sangat baik yang diterapkan oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kita memperlakukan tamu dan memberikan yang terbaik untuk kenyamanan mereka, itu pula yang akan ditiru oleh anak-anak kita kelak. Sebuah kehangatan. Rasanya tidak salah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ambillah hikmah dan pelajaran dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.
Saya memiliki seorang saudara sepupu laki-laki. Saat ini ia berusia sekitar sepuluh tahun. Ia seorang anak tunggal, dan memiliki orang tua yang keduanya bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana ia kesepian. Setiap hari sepulang sekolah, mungkin hanya pembantu di rumah, dan mainan serta play station favoritnya yang menjadi teman. Saya tidak begitu memerhatikan, seberapa besar pengaruh ‘rasa kesepian’ itu padanya, hingga pada suatu waktu ia menjadi murid privat seorang teman saya.
Sepupu saya itu cukup pintar, bahkan menurut saya cukup cerdas untuk anak seusianya. Dan ia memiliki tipe kinestetik dalam menyerap pelajaran, dalam arti tak bisa duduk diam dan menunggu guru selesai menerangkan. Istilah lain yang biasa orang gunakan, padahal mungkin dalam pemahaman yang salah, adalah hiperaktif. Bahkan tante saya sempat membawanya ke seorang psikolog. Pasalnya, seorang guru privatnya tak sanggup untuk menghadapi sepupu saya itu. Entah berapa kali telah ‘dikerjainya’, dan mungkin si guru privat sudah tidak sanggup lagi. Kemudian, saya menawarkan seorang teman kampus saya untuk menjadi guru privat pengganti. Seorang guru yang jauh lebih muda dari yang sebelumnya. Dalam hati, saya sempat khawatir, akankah teman saya itu menjadi ‘sasaran empuk’ berikutnya? Rupanya, tante saya ‘betah’ mempekerjakannya, dan demikian juga sepupu saya. Menurut tante saya, ia seperti mendapatkan seorang ‘kakak laki-laki’ sekaligus teman bermain disamping menjadi guru privatnya.
Selama ini, saya sendiri seringkali menganggap bahwa seorang anak tunggal adalah anak yang egois, manja, dan sulit untuk bergaul dengan orang lain. Sebuah kesimpulan yang memang saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya. Tapi rupanya hal itu tidak bisa diberlakukan bagi semua orang. Bagi sepupu saya, menjadi anak tunggal berarti ia harus mengusir kesepian dengan caranya sendiri. Yang belakangan saya ketahui adalah bahwa ada sebuah kehangatan yang ia ajarkan pada orang lain.
Ibu saya selalu mengajarkan pada saya dan adik saya untuk selalu memuliakan tamu. Mulai dari membiasakan kami untuk membuatkan dan menyajikan sendiri minuman atau suguhan lain bila ada tamu yang datang, atau membantunya untuk bersiap-siap menghias rumah dan menyajikan kue-kue menjelang hari raya Idul Fitri, walaupun sebenarnya tamu yang akan datang berkunjung ketika hari raya tidaklah banyak. Tetapi kami benar-benar mengubah suasana rumah menjadi nyaman dan cantik sekali, lain dari hari-hari biasanya. Ada atau tidak ada tamu yang datang, kami selalu dalam kondisi siap untuk menerima dan menjamu. Hal ini merupakan pengajaran yang sangat baik. Keramahan dan keterbukaan seperti ini bisa jadi tak dimiliki oleh keluarga yang lain. Atau mungkin anak-anak yang lain tidak turut andil dalam ‘menjamu’ tamu kecuali bila teman-teman kecil mereka datang. Keterlibatan seorang anak dalam menerima dan menjamu tamu adalah satu hal yang susah-susah gampang untuk dibiasakan.
Sepupu saya yang berusia sepuluh tahun itu beberapa kali memberikan kejutan pada saya. Setelah mereka pindah menempati tempat tinggal baru, yang jauhnya paling hanya beberapa blok saja dari tempat tinggal yang lama, saya berkesempatan untuk menginap di sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah berkunjung dan sesekali menginap di rumahnya, namun cukup jarang sebab rumahnya memang jauh dari tempat tinggal saya. Dari saat itulah saya memerhatikan satu hal yang menarik dari diri lelaki kecil itu.
Ketika itu saya membuat janji untuk bertemu tante dan sepupu saya itu di sebuah pertokoan di dekat kantor tempat tante saya bekerja. Rupanya sepupu saya memerlukan beberapa bahan untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Untuk menghemat ongkos dan efektivitas waktu, saya pun bertemu mereka di pertokoan itu untuk kemudian pulang bersama ke rumah mereka. Saat itu sekitar pukul enam sore, sepulang dari kantor saya segera menuju ke sana. Saya menemui mereka di toko buku yang terdapat di dalam pertokoan itu. Sepupu saya berteriak memanggil saya yang sedang celingukan mencari-cari mereka.
“Kak Vita nginep berapa hari?” ia bertanya, dan saya sedikit tergagap mau menjawabnya. Saya melirik tante saya yang berada di dekat kami sambil tersenyum-senyum.
“Iya, katanya kak Vita nggak boleh cuma satu hari nginepnya.” Sambung tante saya.
“Emangnya musti berapa hari nginepnya?” saya balik bertanya. Ia tersenyum-senyum.
“Tiga hari!” katanya bersemangat. Saya tersenyum kecil, dalam hati sedikit terharu. Sepertinya ia begitu senang bila ada orang yang menginap di rumahnya, pikir saya waktu itu.
Di lain kesempatan, saya kembali diajak untuk menginap di rumahnya. Kali itu saya menginap bersama adik perempuan saya dan seorang tante saya yang lain. Seperti biasa, ketika saya datang bersama adik saya, sepupu saya itu menyambut kami dengan gembira. Ia bahkan betah untuk menunggui kami hingga waktu tidur, mengobrol berlama-lama, atau menemani kami sambil ia sendiri bermain.
Pagi harinya, saya melihat adik saya duduk di depan televisi sambil meminum susu kotak. Saya sempat kaget dan menegurnya. Saya tahu pasti itu milik Imam, sepupu kecil saya itu. Biasanya seorang anak kecil akan ngambek atau mengamuk bila tahu kepunyaannya diambil orang lain tanpa sepengetahuannya. Saat itu saya menunggu Imam keluar dari kamarnya, dan mungkin akan marah besar melihat adik saya seenaknya mengambil susu kotak kesukaannya dari kulkas.
Lalu Imam pun bangun dan menghampiri kami,
“Kak Dede, itu susu siapa?” tanyanya pada adik saya. Saya dan adik saya saling lirik sambil tersenyum-senyum.
“Susunya Imam. Kak Dede ambil dari kulkas.” Jawab adik saya jujur. Saya menanti reaksi apa yang akan Imam lakukan.
“Oh, iya. Ada banyak kan di kulkas. Kalau mau lagi ambil aja. Imam mau juga ah…” katanya singkat. Dan ia pun beranjak ke kulkas untuk mengambil sekotak susu yang sama. Saya sedikit terbengong. Dan kemudian menghela napas lega. Reaksinya tak seperti apa yang saya bayangkan.
Sejak hari itu, saya dan adik saya sering membicarakan bagaimana Imam memperlakukan kami selama di rumahnya, dan mungkin juga orang-orang lain yang datang dan atau menginap di sana. Ia tak pernah bosan menyambut kami datang, dan menanyakan apa-apa yang kami perlukan, sampai dengan bersemangatnya menceritakan rencananya untuk mengajak kami berjalan-jalan ke tempat ini dan itu. Sungguh sebuah sikap yang cukup jarang dimiliki oleh seorang anak kecil. Ia sangat mengerti cara membuat tamu merasa nyaman di rumahnya.
Saya memiliki seorang sepupu kecil lagi, namanya Andra. Ia berusia tak jauh berbeda dari Imam. Andra seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya berusia sepuluh tahun lebih tua daripadanya, dan keduanya telah sibuk dengan dunia remaja masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Imam, pastinya Andra merasakan kesepian yang sama.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi Andra dan keluarganya ketika saya dan suami bermaksud untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung. Kami pun dengan senang hati menginap di rumah Andra.
Kami sampai di Bandung sekitar pukul dua pagi, dan beristirahat di rumah Andra tanpa membangunkan siapapun kecuali tante saya yang memang belum tidur. Keesokan paginya, ketika yang lain sudah menghabiskan sarapan, saya dan suami masih tertidur setelah menunaikan salat subuh. Andra mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya.
“Kak Vita, kak Hendy, tehnya udah siap tuh. Ayo bangun, sarapan.” Panggilnya. Kami pun beranjak ke ruang makan, dan memang di atas meja sudah terhidang dua cangkir teh dan makanan. Andra menemani kami sarapan sambil sesekali bertanya, “Enak nggak tehnya?” atau “Enak kan makanannya?” Dan begitulah seterusnya. Setiap kali waktu makan tiba, Andra selalu memanggil kami berdua, dan mengajak serta menemani kami makan bersama. Di saat sepupu saya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing, si kecil ini sibuk memerhatikan kenyamanan kami berdua di rumahnya. Dibandingkan dengan Imam, Andra sangat beruntung memiliki dua orang kakak laki-laki dan perempuan serta seorang ibu yang tidak bekerja office hours seperti ibunya Imam. Tetapi rupanya ia mengalami kesepian yang sama, dan memberikan kehangatan yang sama dengan apa yang Imam lakukan terhadap para tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Sederhana memang. Saya rasa semua anak pun bisa melakukannya. Tetapi di balik kelebihan itu, pastinya ditumbuhkan oleh pola didik tertentu yang sangat baik yang diterapkan oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kita memperlakukan tamu dan memberikan yang terbaik untuk kenyamanan mereka, itu pula yang akan ditiru oleh anak-anak kita kelak. Sebuah kehangatan. Rasanya tidak salah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ambillah hikmah dan pelajaran dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.
From Bintaro with Love ...
Assalamu'alaikum wr wb
Fiuh! Lega rasanya, akhirnya 'menyentuh' dunia maya kembali. Hehehe ... rupanya saya sudah addicted to internet. Kalo nggak cek email barang seminggu aja, pasti jadi bete. Soalnya email-email yang datang pasti akan menumpuk, dan malas sekali rasanya untuk menghapus-hapusnya (ups...berarti banyak email yang nggak kebaca dong? emang. hihi...)
Finally ... tinggal di Bintaro, di Graha Bintaro tepatnya. Akhirnya, rumah sendiri, dengan menyicil untuk bertahun-tahun ke depan. Kecil, sederhana, tapi membawa kesejukan baru. Pertama kali menginap di sana, rasanya berbunga-bunga, deh! Pencarian selama ini bersama my dear husband terbayar sudah. Rumah idaman kah? Yang jelas kami berdua (semoga cepet-cepet jadi bertiga) akan berusaha keras merajut keindahan-keindahan di sana. Ceilee....jadi romantis gini??? hihihi...
Seminggu di rumah baru, masih berkeringat dan bercapek-capek beresin rumah, benerin ini, tambahin itu, pelan-pelan semuanya akan selesai, insyaallah. Alhamdulillah ... bersyukur yang teramat sangat. Belum setahun nikah, tapi sudah diberi rizki menempati rumah sendiri. Mudah-mudahan membawa keberkahan bagi kami yang berada di dalamnya. Menimbulkan berjuta-juta inspirasi sehingga tetap terus bisa berkarya...amiiin! Ayo dong, Vit! Katanya mau jadi penulis! hehehe....
Mohon doa dari semua, semoga kami bisa 'menciptakan' surga di dalamnya ...
Wassalamu'alaikum wr wb
ps. Vita kembali beredar! hehehe
Fiuh! Lega rasanya, akhirnya 'menyentuh' dunia maya kembali. Hehehe ... rupanya saya sudah addicted to internet. Kalo nggak cek email barang seminggu aja, pasti jadi bete. Soalnya email-email yang datang pasti akan menumpuk, dan malas sekali rasanya untuk menghapus-hapusnya (ups...berarti banyak email yang nggak kebaca dong? emang. hihi...)
Finally ... tinggal di Bintaro, di Graha Bintaro tepatnya. Akhirnya, rumah sendiri, dengan menyicil untuk bertahun-tahun ke depan. Kecil, sederhana, tapi membawa kesejukan baru. Pertama kali menginap di sana, rasanya berbunga-bunga, deh! Pencarian selama ini bersama my dear husband terbayar sudah. Rumah idaman kah? Yang jelas kami berdua (semoga cepet-cepet jadi bertiga) akan berusaha keras merajut keindahan-keindahan di sana. Ceilee....jadi romantis gini??? hihihi...
Seminggu di rumah baru, masih berkeringat dan bercapek-capek beresin rumah, benerin ini, tambahin itu, pelan-pelan semuanya akan selesai, insyaallah. Alhamdulillah ... bersyukur yang teramat sangat. Belum setahun nikah, tapi sudah diberi rizki menempati rumah sendiri. Mudah-mudahan membawa keberkahan bagi kami yang berada di dalamnya. Menimbulkan berjuta-juta inspirasi sehingga tetap terus bisa berkarya...amiiin! Ayo dong, Vit! Katanya mau jadi penulis! hehehe....
Mohon doa dari semua, semoga kami bisa 'menciptakan' surga di dalamnya ...
Wassalamu'alaikum wr wb
ps. Vita kembali beredar! hehehe
Tuesday, October 18, 2005
Panggilan Sayang
Memiliki pasangan hidup yang berbeda sifat dan karakter mungkin akan menjadi satu hal yang menyenangkan. Sebab satu sama lain akan saling melengkapi. Apa yang tidak ada pada diri kita, mungkin akan didapatkan dari pasangan, dan sebaliknya. Bila ditanggapi secara positif, perbedaan yang ada akan menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan untuk ditaklukkan.
Saya sendiri memiliki prinsip demikian. Sejak dulu, saya telah memiliki keinginan untuk menikah dengan seseorang yang bukan dari lingkungan pertemanan yang saya miliki. Saya ingin mendampingi seseorang yang belum mengenal saya, dan saya pun belum mengenalnya, dibandingkan menikah dengan seseorang yang sudah menjadi teman sekolah atau pernah bekerja sama dengan saya dalam suatu aktivitas atau pekerjaan. Bagi saya, memiliki suami yang belum saya kenal kepribadiannya, adalah merupakan tantangan yang pasti sangat menyenangkan. Saya membayangkan, hari demi hari saya menjalani pernikahan itu, akan menjadi sebuah petualangan yang seru yang tak habis-habisnya. Saya pastinya akan menikmati setiap detik dimana saya secara perlahan akan mengenal dan memahami diri suami tercinta. Tapi tentu saja, hal ini tidak bisa diberlakukan kepada setiap orang. Bisa saja hal ini berhasil untuk diri saya, tapi tidak demikian dengan orang lain. Tentu saja. Saya hanya ingin berbagi sebuah pengalaman lucu dan mengharukan dari apa yang saya alami sendiri.
Pada bulan November tahun 2004, tepat pada saat saya menjalani I’tikaf Ramadhan, saya membuat keputusan besar. Saya memutuskan untuk menerima lamaran dari seorang pria. Saat itu, tentu saja menjadi momen yang begitu menggembirakan sekaligus membuat jantung saya tak henti berdetak kencang. Saya akan menikah. Dan begitu tahu bahwa calon suami saya itu adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang cukup berbeda dengan diri saya, saya menjadi lebih bersemangat lagi.
Suami saya adalah seseorang yang bisa dikatakan cukup pendiam, tak banyak berkata-kata, dan sangat tenang. Sedangkan saya sendiri adalah kebalikannya. Saya hampir selalu memiliki komentar terhadap apapun, suka sekali mengobrol, dan gemar sekali melontarkan istilah atau ungkapan tertentu yang ‘tidak biasa’. Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan kegemaran saya menulis. Teman-teman saya bilang, saya selalu punya seribu istilah yang aneh dan menarik, yang akhirnya bisa menjadi istilah-istilah yang sering kami gunakan dalam percakapan.
Bulan Januari 2005, saya menikah. Di benak saya sudah terbayang berbagai hal yang ingin saya lakukan bersama. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk lebih mengenal pria yang telah menjadi suami saya itu, dan juga berbagai cara untuk membuatnya ‘tidak pendiam’. Ha. Ini satu hal yang pastinya akan menarik, begitu pikir saya. Saya memiliki beberapa orang adik-adik kelas yang menjadi murid-murid saya dalam sebuah kelompok mentoring agama. Di antara mereka tadinya ada yang memiliki sifat begitu pendiam. Tetapi, tak lama setelah mereka menjadi ‘adik-mentoring’ saya, si pendiam itu berubah. Saya telah berhasil membuatnya sedikit lebih terbuka. Saya pikir, saya pun bisa melakukannya lagi.
Untuk membuat seseorang terbuka pada diri kita, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengorek informasi apapun darinya, atau memaksanya untuk membuka mulut untuk mengobrol sepanjang hari. Memulainya dari diri sendiri, itu jauh lebih efektif. Seseorang akan merasa nyaman dan percaya untuk membuka dirinya pada kita, apabila kita sendiri mau membuka diri padanya. Begitu teori yang saya dapatkan ketika saya kuliah dulu. Dan saya pun memulainya.
Suatu kali, saya menulis surat untuk suami saya. Di dalamnya saya selipkan sebuah puisi, sebab surat itu akan saya berikan di pagi hari, saat ia akan berangkat ke kantor. Hari itu adalah hari lahir suami saya tercinta. Maka, begitulah. Pagi itu ketika ia hendak berangkat, saya mencium tangannya dan menyelipkan lipatan surat itu ke dalam saku kemejanya. Ia terbengong. Saya hanya nyengir dan berpesan supaya surat itu dibaca ketika ia tiba di kantor. Sebuah kejutan kecil. Tapi itu begitu menyenangkan hati saya sendiri. Dan surat-surat kecil selanjutnya pun cukup sering saya selipkan untuknya. Sebuah surat, adalah salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif menurut saya.
Di suatu pagi, saat saya baru sampai di kantor, saya tiba-tiba teringat suami dan ingin memberikan kejutan kecil lain untuknya. Kemudian saya membuatkannya puisi singkat, dan saya kirim lewat sms. Selanjutnya, saya mulai sering mengirimkan email dari kantor, berisi puisi atau hanya sekedar menanyakan kabar dan menceritakan aktivitas saya hari itu. Kami pun jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu berkirim email dan sms. Sebenarnya lucu juga, sebab toh setiap malam kami bertemu kembali di rumah. Tapi saya merasa perlu untuk melakukannya.
Saya merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan kecil yang saya lakukan itu. Suami istri yang keduanya bekerja, tentu memiliki pikiran dan kesibukan masing-masing yang bisa jadi akan menjauhkan keduanya. Belum lagi keletihan sepulang kerja, entah bila ditambah dengan permasalahan yang dihadapi di kantor, dan sebagainya. Saya tidak mau itu terjadi, dan saya ingin menjadikan kemesraan dan keharmonisan di antara kami berdua tetap terjaga. Dan, saya pun memulainya lagi. Bila biasanya saya memanggil suami saya dengan sebutan ‘Mas’, maka saya merasa perlu melakukan lebih dari itu. Saya mengatakan padanya,
“Mas, kayaknya seru deh kalau kita punya panggilan lain.”
Dan saya mulai mengirimkan sms padanya dengan menyebutnya ‘Hunn’. “Apa kabar hari ini, Hunn?” begitu biasanya saya menyapanya di sms. Sekali, dua kali, saya selalu yang memiliki panggilan itu untuknya. Saya tak memikirkan kapan ia akan memanggil saya dengan panggilan khusus, sebab saya sudah cukup excited dengan apa yang saya lakukan itu. Dan saya tak berhenti mengirimkannya puisi atau email di sela-sela kesibukan di kantor.
Suatu hari, saya menerima sms darinya dan saya sedikit terkejut. Sebelumnya saya yang lebih dulu mengirimkan sms untuk menanyakan sesuatu. Dan ia pun membalas dengan isi yang sangat singkat tapi cukup membuat kedua alis saya terangkat.
“Iya, Sayang…” begitu balasnya.
Saya tersenyum lebar. Dan tambah bersemangat lagi ketika ia mengirimkan sms lain yang isinya,
“Rasanya memang seru juga ya punya panggilan khusus.”
Kini, ia selalu memanggil saya dengan panggilan khusus itu, entah ketika ber-sms atau ketika sedang berbicara. Dan saya makin bersemangat untuk mencari-cari panggilan khusus apalagi yang bisa saya temukan. Sedikit seperti sedang bereksperimen memang. Tapi, saya akan melakukan apapun untuk membuat hari-hari saya bersamanya senantiasa bersemangat dan penuh cinta.
Memulai lebih dulu untuk melakukan sesuatu tidak selalu jelek dan membosankan. Sebab kita akan merasakan manfaatnya di kemudian hari, entah cepat atau lambat. Dan saya menjadi sangat bersyukur atas apa yang sudah saya nikmati sekarang. Memiliki perbedaan memang kadang bisa terasa berat. Tetapi ketika diri kita bisa bersabar, dan menggunakan kecerdasan serta kreativitas dalam diri untuk menghadapinya, semua akan terasa lebih menyenangkan dan menentramkan.
Saya sendiri memiliki prinsip demikian. Sejak dulu, saya telah memiliki keinginan untuk menikah dengan seseorang yang bukan dari lingkungan pertemanan yang saya miliki. Saya ingin mendampingi seseorang yang belum mengenal saya, dan saya pun belum mengenalnya, dibandingkan menikah dengan seseorang yang sudah menjadi teman sekolah atau pernah bekerja sama dengan saya dalam suatu aktivitas atau pekerjaan. Bagi saya, memiliki suami yang belum saya kenal kepribadiannya, adalah merupakan tantangan yang pasti sangat menyenangkan. Saya membayangkan, hari demi hari saya menjalani pernikahan itu, akan menjadi sebuah petualangan yang seru yang tak habis-habisnya. Saya pastinya akan menikmati setiap detik dimana saya secara perlahan akan mengenal dan memahami diri suami tercinta. Tapi tentu saja, hal ini tidak bisa diberlakukan kepada setiap orang. Bisa saja hal ini berhasil untuk diri saya, tapi tidak demikian dengan orang lain. Tentu saja. Saya hanya ingin berbagi sebuah pengalaman lucu dan mengharukan dari apa yang saya alami sendiri.
Pada bulan November tahun 2004, tepat pada saat saya menjalani I’tikaf Ramadhan, saya membuat keputusan besar. Saya memutuskan untuk menerima lamaran dari seorang pria. Saat itu, tentu saja menjadi momen yang begitu menggembirakan sekaligus membuat jantung saya tak henti berdetak kencang. Saya akan menikah. Dan begitu tahu bahwa calon suami saya itu adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang cukup berbeda dengan diri saya, saya menjadi lebih bersemangat lagi.
Suami saya adalah seseorang yang bisa dikatakan cukup pendiam, tak banyak berkata-kata, dan sangat tenang. Sedangkan saya sendiri adalah kebalikannya. Saya hampir selalu memiliki komentar terhadap apapun, suka sekali mengobrol, dan gemar sekali melontarkan istilah atau ungkapan tertentu yang ‘tidak biasa’. Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan kegemaran saya menulis. Teman-teman saya bilang, saya selalu punya seribu istilah yang aneh dan menarik, yang akhirnya bisa menjadi istilah-istilah yang sering kami gunakan dalam percakapan.
Bulan Januari 2005, saya menikah. Di benak saya sudah terbayang berbagai hal yang ingin saya lakukan bersama. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk lebih mengenal pria yang telah menjadi suami saya itu, dan juga berbagai cara untuk membuatnya ‘tidak pendiam’. Ha. Ini satu hal yang pastinya akan menarik, begitu pikir saya. Saya memiliki beberapa orang adik-adik kelas yang menjadi murid-murid saya dalam sebuah kelompok mentoring agama. Di antara mereka tadinya ada yang memiliki sifat begitu pendiam. Tetapi, tak lama setelah mereka menjadi ‘adik-mentoring’ saya, si pendiam itu berubah. Saya telah berhasil membuatnya sedikit lebih terbuka. Saya pikir, saya pun bisa melakukannya lagi.
Untuk membuat seseorang terbuka pada diri kita, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengorek informasi apapun darinya, atau memaksanya untuk membuka mulut untuk mengobrol sepanjang hari. Memulainya dari diri sendiri, itu jauh lebih efektif. Seseorang akan merasa nyaman dan percaya untuk membuka dirinya pada kita, apabila kita sendiri mau membuka diri padanya. Begitu teori yang saya dapatkan ketika saya kuliah dulu. Dan saya pun memulainya.
Suatu kali, saya menulis surat untuk suami saya. Di dalamnya saya selipkan sebuah puisi, sebab surat itu akan saya berikan di pagi hari, saat ia akan berangkat ke kantor. Hari itu adalah hari lahir suami saya tercinta. Maka, begitulah. Pagi itu ketika ia hendak berangkat, saya mencium tangannya dan menyelipkan lipatan surat itu ke dalam saku kemejanya. Ia terbengong. Saya hanya nyengir dan berpesan supaya surat itu dibaca ketika ia tiba di kantor. Sebuah kejutan kecil. Tapi itu begitu menyenangkan hati saya sendiri. Dan surat-surat kecil selanjutnya pun cukup sering saya selipkan untuknya. Sebuah surat, adalah salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif menurut saya.
Di suatu pagi, saat saya baru sampai di kantor, saya tiba-tiba teringat suami dan ingin memberikan kejutan kecil lain untuknya. Kemudian saya membuatkannya puisi singkat, dan saya kirim lewat sms. Selanjutnya, saya mulai sering mengirimkan email dari kantor, berisi puisi atau hanya sekedar menanyakan kabar dan menceritakan aktivitas saya hari itu. Kami pun jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu berkirim email dan sms. Sebenarnya lucu juga, sebab toh setiap malam kami bertemu kembali di rumah. Tapi saya merasa perlu untuk melakukannya.
Saya merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan kecil yang saya lakukan itu. Suami istri yang keduanya bekerja, tentu memiliki pikiran dan kesibukan masing-masing yang bisa jadi akan menjauhkan keduanya. Belum lagi keletihan sepulang kerja, entah bila ditambah dengan permasalahan yang dihadapi di kantor, dan sebagainya. Saya tidak mau itu terjadi, dan saya ingin menjadikan kemesraan dan keharmonisan di antara kami berdua tetap terjaga. Dan, saya pun memulainya lagi. Bila biasanya saya memanggil suami saya dengan sebutan ‘Mas’, maka saya merasa perlu melakukan lebih dari itu. Saya mengatakan padanya,
“Mas, kayaknya seru deh kalau kita punya panggilan lain.”
Dan saya mulai mengirimkan sms padanya dengan menyebutnya ‘Hunn’. “Apa kabar hari ini, Hunn?” begitu biasanya saya menyapanya di sms. Sekali, dua kali, saya selalu yang memiliki panggilan itu untuknya. Saya tak memikirkan kapan ia akan memanggil saya dengan panggilan khusus, sebab saya sudah cukup excited dengan apa yang saya lakukan itu. Dan saya tak berhenti mengirimkannya puisi atau email di sela-sela kesibukan di kantor.
Suatu hari, saya menerima sms darinya dan saya sedikit terkejut. Sebelumnya saya yang lebih dulu mengirimkan sms untuk menanyakan sesuatu. Dan ia pun membalas dengan isi yang sangat singkat tapi cukup membuat kedua alis saya terangkat.
“Iya, Sayang…” begitu balasnya.
Saya tersenyum lebar. Dan tambah bersemangat lagi ketika ia mengirimkan sms lain yang isinya,
“Rasanya memang seru juga ya punya panggilan khusus.”
Kini, ia selalu memanggil saya dengan panggilan khusus itu, entah ketika ber-sms atau ketika sedang berbicara. Dan saya makin bersemangat untuk mencari-cari panggilan khusus apalagi yang bisa saya temukan. Sedikit seperti sedang bereksperimen memang. Tapi, saya akan melakukan apapun untuk membuat hari-hari saya bersamanya senantiasa bersemangat dan penuh cinta.
Memulai lebih dulu untuk melakukan sesuatu tidak selalu jelek dan membosankan. Sebab kita akan merasakan manfaatnya di kemudian hari, entah cepat atau lambat. Dan saya menjadi sangat bersyukur atas apa yang sudah saya nikmati sekarang. Memiliki perbedaan memang kadang bisa terasa berat. Tetapi ketika diri kita bisa bersabar, dan menggunakan kecerdasan serta kreativitas dalam diri untuk menghadapinya, semua akan terasa lebih menyenangkan dan menentramkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)