Sekali lagi saya menuliskan sesuatu tentang seorang teman. Saya mengenalnya sejak awal tahun perkuliahan. Tahun pertama dan kedua, saya tidak bisa beranjak dekat kepadanya. Entah. Mungkin waktu itu saya terlalu disibukkan oleh urusan organisasi di kampus. Saya pun tak pusing-pusing berusaha untuk dekat dengannya. Tapi ternyata di tahun ketiga, hingga akhir kuliah, dan sampai kami lulus, Allah menakdirkan saya mengenalnya lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan. Saya tidak menyangka bisa begitu dekat dengannya. Mungkin juga teman-teman lain berpikir hal yang sama, saya tidak tahu. Saya mendapati teman saya itu ternyata sangat cerdas, memiliki pikiran-pikiran yang menarik-walau kadang agak keterlaluan, dan talkative sekali. Rasanya saya betah mengobrol lama-lama dengannya, tentang berbagai hal. Pada beberapa bidang, kami ternyata memiliki minat yang sama.
Pelan-pelan saya mencoba mengerti 'dunia'nya, dan demikian juga dia. Kadang bahkan saya merasa saya terlalu 'masuk' ke dalam dunianya, dan cukup sering bertanya pada diri sendiri "Ngapain saya di sini?" serta merasa bahwa sebenarnya saya tidak nyaman bila menempatkan diri terlalu 'dalam'. Saya tahu bahwa awalnya saya sekadar tertarik untuk mengetahuinya, dan pada akhirnya toh saya mengeluarkan diri, bersikap biasa, dan sedikit membuat jarak supaya saya tahu bahwa saya lebih nyaman menjadi seperti apa adanya diri saya. Saya tetap berteman seperti biasa dengannya. Untuk satu dua hal, ia sering menelpon saya lama sekali untuk bertanya ini-itu dan mengobrol sedikit ngelantur. Kami berdua rasanya memang kadang memiliki ide-ide aneh yang disepakati bersama sebagai hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Contohnya adalah menulis novel. Padahal saya sempat berkata pada diri sendiri bahwa rasanya saya tidak mungkin membuat sebuah novel. Saya belum punya 'napas yang cukup panjang' untuk menghasilkan karya sepanjang itu. Itu perkataan saya dulu.
Teman saya itu, tentu saja, seringkali membicarakan topik-topik novel yang akan atau sedang ia tulis. Dan saya tidak pernah tahu apakah ia benar-benar menuliskannya. Yang jelas setiap kali ia mendeskripsikan cerita yang sedang ia imajinasikan, atau baru menyebutkan judulnya saja sudah membuat saya terpingkal-pingkal dan saya berkata akan mendukungnya seratus persen untuk menyelesaikan novel itu. Sepertinya kepalanya penuh dengan ide-ide gila (setingkat lebih tinggi dari kreatif) yang kalau benar-benar bisa dituliskan dalam bentuk novel, pasti saya adalah orang pertama yang akan menertawainya habis-habisan, lalu membelinya.
Memang orang yang sedikit aneh, teman saya itu. Saya tidak mau menyebutnya 'eksentrik', karena penampilannya benar-benar rapi jali seperti halnya dandanan pria-pria metropolis lainnya. Lho? Laki-laki? Ya tentu saja. Ia adalah seorang laki-laki yang rasanya bisa berteman dekat dengan semua wanita. Dan untuk 'jenis' yang seperti ini, tentu saja sangat oke untuk jadi teman ngobrol. Singkat cerita, soal ‘keanehannya’, saya tidak mau menjadikan kata ‘aneh’ sebagai standar atau patokan. Itu hanya istilah saja, karena saya tidak tahu harus mendefinisikannya dengan apa. Sebutlah ia sebagai seseorang yang punya banyak sekali keinginan-keinginan yang kadang membuat orang-orang menggeleng-geleng, bila tidak terbiasa mendengar hal-hal itu. Punya pendapat yang mungkin sebagaian orang bilang 'nyeleneh' atau 'tidak pantas' dan sebagainya. Sejak tingkat pertama kuliah, ia sudah begitu. Kadang kalau penyakit 'skeptis' saya timbul, saya hanya akan mendengus dan menolehkan kepala ke arah yang lain. Tidak peduli. Tapi semenjak saya berhubungan dekat dengannya, dan juga mulai mendapatkan informasi tambahan dari beberapa teman lain tentang dirinya, sepertinya hati dan pikiran saya memutuskan sesuatu. Ia butuh pertolongan.
Saya tidak membicarakan akan memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Tentu tidak. Yang saya tahu, bertahun-tahun kemudian saya menjaga hubungan baik saya dengannya, dan mendengarkan setiap perkataannya yang paling konyol dan 'nyeleneh' sekalipun, tanpa menunjukkan rasa tertarik atau kaget. Sebab saya memang tidak kaget. Tertarik, mungkin sedikit. Ia sungguh mudah ditebak. So predictable. Saya jadi ingat seorang teman sekelas saya waktu SMA yang juga punya kecenderungan yang sama dengannya. Teman saya yang di SMA itu juga demikian, curhat habis-habisan pada saya, dan saya menjadi salah satu orang yang (secara tak terduga-duga) dekat dengan dirinya. Mungkin saya seperti punya magnet untuk orang-orang yang seperti itu, tidak tahu juga. Tapi saya sungguh-sungguh ingin membantunya. Walau saya tidak paham segala macam teori psikologi, dan saya memang bukan psikiater, tapi nilai mata kuliah psikiatri saya A, dan saya paham bahwa Sigmund Freud berkoar-koar tentang masa lalu seseorang yang mempengaruhi kehidupannya di masa depan bukan tanpa alasan. Walau sebagian orang kurang percaya dan menganggapnya sinting, tapi rasanya teori itu berguna juga.
Dalam sebuah kesempatan, saya berbicara blak-blakan padanya, bahkan setengah mengomelinya, dan memintanya untuk kali itu saja berpikir lebih waras. Hilangkan semua sisi kepribadiannya yang dibuat-buat atau jadilah normal sekali itu saja. Tapi kemudian, saya malah mendapatinya dalam kondisi yang 'lebih mengenaskan'. Dan saya mulai paham bahwa ia tak sekalipun pernah mengatakan sesuatu dengan jujur pada saya. Saya bahkan berkata bahwa seringkali bingung, manakah sisi kepribadian yang sesungguhnya yang ia tunjukkan selama ini. Kapan ia menjadi dirinya sendiri. Asal tahu saja, dalam lima atau enam tahun pertemanan kami, saya sudah melihatnya 'berganti-ganti' kepribadian (kalau tidak bisa dibilang 'gaya hidup') sebanyak tiga atau empat kali. Dan saya tidak pernah tahu mana yang benar, atau sejak kapan ia mulai menjadi labil seperti itu. Yah, sebenarnya saya tidak perlu ambil pusing. Seorang teman sekampus dulu pernah bicara serius dengan saya dan mewanti-wanti untuk tidak mempercayai setiap ucapan yang dilontarkan teman laki-laki saya itu. Saya sudah menduga. Dan mengira bahwa anak itu hanya butuh perhatian dan rasanya memang ingin dinilai sebagai seseorang yang 'hebat', 'tidak terduga', melakukan hal-hal yang tidak umum atau tidak dilakukan orang lain, gila, sinting, dan macam-macam lagi. Kalau saya pernah sekali 'mencela'nya, dan mengatakan bahwa dia sudah keterlaluan, maka reaksinya adalah nyengir lebar-lebar dan mengatakan "Itulah gue, gue sendiri juga nggak habis pikir. Kadang ide-ide itu muncul begitu aja dari otak gue." Kira-kira begitu katanya. Saya pun hanya geleng-geleng, dan meneruskan pertemanan itu tanpa beban. Walau dalam hati saya tetap berharap ia bisa berpikir jernih.
Panjang sekali cerita saya tentang dia. Dengan tidak bermaksud memujinya, ia memang salah seorang yang cukup unik. Tapi dari sudut pandang pikiran saya, saya justru sangat amat mengasihaninya. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres padanya di masa lalu, atau di keluarganya. Entah. Jumlah tahun pertemanan saya dengannya mungkin belum cukup banyak untuk membicarakan hal-hal yang serius seperti itu.
Pagi ini, saya membaca sesuatu yang nyaris membuat saya membelalak, tapi sebenarnya tidak perlu. Teman saya itu kini tidak lagi tinggal di Jakarta, ia telah ‘merantau’ entah untuk apa ke kota lain yang cukup jauh. Ia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, dengan segala macam kenangan di sini. Dan menjadi seseorang yang lain. Saya tidak tahu apakah ia lantas berpindah keyakinan (agama), tapi yang cukup jelas ia sebutkan adalah ia memang berpindah keyakinan dalam hal identitas seksual. Saya tidak tahu apakah istilah itu tepat atau tidak. Ia memutuskan untuk menjadi seorang 'gay'. Saya tidak kaget. Tentu tidak. Yang pertama kali terbayang di benak saya adalah judul makalah yang dulu pernah ia bawakan dalam sebuah kelas mata kuliah: homoseksualitas.
Pikiran saya lantas menyambangi wajah-wajah teman-teman saya yang lain. Teman saya sejak SD, SMP, SMA, kuliah, dan teman-teman di kantor tempat saya bekerja dulu.
Allah memang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Bila pilihan hidup yang kita ambil jatuh pada jalan yang lurus, maka Allah akan melindungi dan menjaga. Bila pilihan itu berpaling pada kesesatan, maka kita akan semakin terjerumus. Ini adalah salah satu prinsip dasar kehidupan yang saya pegang terus sejak dulu. Tak perlu lagi tanya-tanya soal 'standar dan patokan'. Bagi saya sudah jelas. Bila ia muslim, maka lihat saja pedoman hidup yang sudah Allah berikan! Dan bila ia non-muslim, mereka tahu yang terbaik buat diri mereka sendiri.
Hari ini saya berdoa panjang sekali, memohon supaya segala perkataan yang dulu pernah saya ucapkan padanya terselip sedikit atau banyak nasehat atau peringatan. Kalau tidak, maka saya tidak menjadi teman yang baik baginya, dan saya tidak memberikan manfaat kebaikan apapun padanya.
6 April 2006
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Wednesday, July 05, 2006
Menjadi Orang-orang yang Dewasa
Ketika saya masih kecil, kabarnya kedua orang tua saya kewalahan menjawab segala macam pertanyaan yang saya ajukan, seringkali berturut-turut. Kadang, seingat saya, ada beberapa pertanyaan yang tidak dijawab karena ayah atau ibu saya tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi mereka biasanya berusaha menjawabnya, walau mungkin tidak dengan jawaban yang tepat atau tidak memuaskan saya. Begitulah anak kecil, dan sepertinya sekarang ini kelakuan anak-anak kecil sudah semakin luar biasa. Dalam hal positif atau negatif? Saya tidak mau bersilat lidah dengan ada atau tidaknya batasan yang jelas tentang 'alat ukur' ini, maka saya katakan dengan jelas bahwa sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang yang seharusnya digunakan oleh setiap muslim di dunia: Islam.
Menjadi orang tua, atau orang yang lebih tua dari anak-anak itu, kadang memang merepotkan. Malah seringkali berita-berita tak enak seputar kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak terjadi hanya gara-gara masalah sepele: kurangnya kedewasaan si orang dewasa tersebut dalam menyikapi permasalahan hidup. Misalnya soal pekerjaan, urusan perut, masalah rumah tangga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang menuntut penyelesaian segera, namun karena berbagai kondisi tidak bisa dituntaskan. Akibatnya, orang-orang dewasa yang bermasalah tersebut jadi stres, dan kemudian melampiaskannya pada yang ada di sekitarnya, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukankah itu ciri-ciri ketidakdewasaan? Modal akal dan hati yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta Alam tentunya bisa digunakan untuk mencari penyelesaian yang tepat, dan sesuai dengan syariat agama. Tetapi ciri-ciri ketidakdewasaan tadi itulah yang menghambat. Mudahnya tersulut amarah, tidak bisa mengendalikan emosi, melampiaskannya pada hal-hal yang tidak benar, terperosok dalam kemaksiatan. Hal-hal itu bukan barang baru lagi di masyarakat kita. Sungguh menyedihkan.
Sepertinya pola hidup masyarakat kita sudah terbentuk pada suatu lingkaran yang itu-itu saja. Kriminalitas dan apa saja yang berbau maksiat begitu dekat dan sering dihubung-hubungkan dengan level paling bawah dari lapisan masyarakat. Walau tindakan tersebut juga bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang berlevel atas, dilihat dari sisi kemapanan ekonomi. Mengambil sesuatu yang bukan milik sendiri, mengadu domba, saling menjatuhkan, berebut kekuasaan, dan berbagai hal yang mencerminkan keburukan akhlak. Padahal orang-orang dewasa tersebut sama saja semuanya, sama-sama memiliki akal dan hati nurani. Dua anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Akibat dari ambisi-ambisi tersebut, kadang, mengakibatkan mereka bersikap kekanak-kanakan.
Entah berapa banyak jumlah orang-orang yang butuh pengingatan dari orang lain. Butuh nasehat supaya tak tersesat. Butuh bimbingan supaya tak salah arah. Butuh pegangan supaya berjalan lurus. Apalagi? Sudah pasti jawabannya adalah kembali kepada agama. Dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak masih dalam kandungan (baca: sedini mungkin) adalah kiat yang paling jitu untuk menghindarkan terbentuknya generasi yang kekanak-kanakan seperti ilustrasi di atas. Dengan mematuhi apa yang Allah turunkan, segala macam persoalan pasti selesai. Karena memang aturan-aturan dalam Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia. Mencari solusi yang tepat atas semua permasalahan? Kembali saja kepada Islam. Sayangnya, sejak entah berapa waktu lampau, sudah tak terhitung lagi jumlah upaya-upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita semua dari Allah. Mencoba mengisolir para remaja dari agama, menyuguhkan berbagai godaan yang sudah pasti lebih enak dinikmati ketimbang bersusah payah meraih jalan ke surga, membalut kaum muslimin dengan gemerlapnya dunia modern dan menghembuskan bujukan supaya meninggalkan agama sebab hal itu dipandang kuno. Sampai hari kiamat, musuh-musuh Allah itu tidak akan berhenti berupaya. Percaya saja.
Satu contoh kecil, yaitu enggannya orang-orang untuk memberi dan menerima nasehat. Dengan dalih kehidupan masing-masing adalah privasi, tidak ada waktu untuk saling bertanya-jawab soal agama, dan sebagainya. Padahal aktivitas memberi dan menerima nasehat sama dengan memberi nutrisi bagi jiwa kita, yang seharusnya selalu menjadi panglima yang menunjukkan mana kebenaran dan mana kebatilan.
Tapi saya memilih untuk tidak skeptis terhadap hal ini. Bagaimanapun buruknya kondisi umat islam sekarang ini, pasti masih ada orang-orang yang mau merendahkan hatinya untuk bisa menerima nasehat dari siapa saja yang bersedia menasehatinya.
Kemarin malam, saya mendapatkan pesan di handphone saya. Pesan tersebut dikirimkan oleh paman saya dan ditujukan kepada ayah saya. Pesan itu kemudian diteruskan oleh ayah saya kepada saya. Bunyinya begini:
"Insyaallah mulai minggu depan aku belajar ngaji lagi sama gurunya Raihan. Ngobrol sama dia, Raihan bilang katanya banyak orang yang sudah berumur belum bisa baca Alquran tapi malu mau belajar karena ngerasa terlambat dan udah ketuaan. Padahal, kata dia, banyak orang lupa, Alquran itu diturunkan untuk orang tua. Waktu pertama diturunkan, Rasul SAW berusia 40 tahun kan? Subhanallah…ayo belajar ngaji!"
Raihan adalah anak dari paman saya itu, dan ia berusia sekitar 9 tahun. Subhanallah … Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan kedewasaan kepada Raihan (yang dengan berani menasehati orang tuanya) dan kepada paman saya (yang dengan lapang hati menerima nasehat dari anaknya).
Menjadi orang tua, atau orang yang lebih tua dari anak-anak itu, kadang memang merepotkan. Malah seringkali berita-berita tak enak seputar kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak terjadi hanya gara-gara masalah sepele: kurangnya kedewasaan si orang dewasa tersebut dalam menyikapi permasalahan hidup. Misalnya soal pekerjaan, urusan perut, masalah rumah tangga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang menuntut penyelesaian segera, namun karena berbagai kondisi tidak bisa dituntaskan. Akibatnya, orang-orang dewasa yang bermasalah tersebut jadi stres, dan kemudian melampiaskannya pada yang ada di sekitarnya, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukankah itu ciri-ciri ketidakdewasaan? Modal akal dan hati yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta Alam tentunya bisa digunakan untuk mencari penyelesaian yang tepat, dan sesuai dengan syariat agama. Tetapi ciri-ciri ketidakdewasaan tadi itulah yang menghambat. Mudahnya tersulut amarah, tidak bisa mengendalikan emosi, melampiaskannya pada hal-hal yang tidak benar, terperosok dalam kemaksiatan. Hal-hal itu bukan barang baru lagi di masyarakat kita. Sungguh menyedihkan.
Sepertinya pola hidup masyarakat kita sudah terbentuk pada suatu lingkaran yang itu-itu saja. Kriminalitas dan apa saja yang berbau maksiat begitu dekat dan sering dihubung-hubungkan dengan level paling bawah dari lapisan masyarakat. Walau tindakan tersebut juga bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang berlevel atas, dilihat dari sisi kemapanan ekonomi. Mengambil sesuatu yang bukan milik sendiri, mengadu domba, saling menjatuhkan, berebut kekuasaan, dan berbagai hal yang mencerminkan keburukan akhlak. Padahal orang-orang dewasa tersebut sama saja semuanya, sama-sama memiliki akal dan hati nurani. Dua anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Akibat dari ambisi-ambisi tersebut, kadang, mengakibatkan mereka bersikap kekanak-kanakan.
Entah berapa banyak jumlah orang-orang yang butuh pengingatan dari orang lain. Butuh nasehat supaya tak tersesat. Butuh bimbingan supaya tak salah arah. Butuh pegangan supaya berjalan lurus. Apalagi? Sudah pasti jawabannya adalah kembali kepada agama. Dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak masih dalam kandungan (baca: sedini mungkin) adalah kiat yang paling jitu untuk menghindarkan terbentuknya generasi yang kekanak-kanakan seperti ilustrasi di atas. Dengan mematuhi apa yang Allah turunkan, segala macam persoalan pasti selesai. Karena memang aturan-aturan dalam Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia. Mencari solusi yang tepat atas semua permasalahan? Kembali saja kepada Islam. Sayangnya, sejak entah berapa waktu lampau, sudah tak terhitung lagi jumlah upaya-upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita semua dari Allah. Mencoba mengisolir para remaja dari agama, menyuguhkan berbagai godaan yang sudah pasti lebih enak dinikmati ketimbang bersusah payah meraih jalan ke surga, membalut kaum muslimin dengan gemerlapnya dunia modern dan menghembuskan bujukan supaya meninggalkan agama sebab hal itu dipandang kuno. Sampai hari kiamat, musuh-musuh Allah itu tidak akan berhenti berupaya. Percaya saja.
Satu contoh kecil, yaitu enggannya orang-orang untuk memberi dan menerima nasehat. Dengan dalih kehidupan masing-masing adalah privasi, tidak ada waktu untuk saling bertanya-jawab soal agama, dan sebagainya. Padahal aktivitas memberi dan menerima nasehat sama dengan memberi nutrisi bagi jiwa kita, yang seharusnya selalu menjadi panglima yang menunjukkan mana kebenaran dan mana kebatilan.
Tapi saya memilih untuk tidak skeptis terhadap hal ini. Bagaimanapun buruknya kondisi umat islam sekarang ini, pasti masih ada orang-orang yang mau merendahkan hatinya untuk bisa menerima nasehat dari siapa saja yang bersedia menasehatinya.
Kemarin malam, saya mendapatkan pesan di handphone saya. Pesan tersebut dikirimkan oleh paman saya dan ditujukan kepada ayah saya. Pesan itu kemudian diteruskan oleh ayah saya kepada saya. Bunyinya begini:
"Insyaallah mulai minggu depan aku belajar ngaji lagi sama gurunya Raihan. Ngobrol sama dia, Raihan bilang katanya banyak orang yang sudah berumur belum bisa baca Alquran tapi malu mau belajar karena ngerasa terlambat dan udah ketuaan. Padahal, kata dia, banyak orang lupa, Alquran itu diturunkan untuk orang tua. Waktu pertama diturunkan, Rasul SAW berusia 40 tahun kan? Subhanallah…ayo belajar ngaji!"
Raihan adalah anak dari paman saya itu, dan ia berusia sekitar 9 tahun. Subhanallah … Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan kedewasaan kepada Raihan (yang dengan berani menasehati orang tuanya) dan kepada paman saya (yang dengan lapang hati menerima nasehat dari anaknya).
Tuesday, June 20, 2006
Me Going Distance
Hahahahahaha …. Udah banyak juga yang rada ngomel-ngomelin saya. "Mau pergi ke mana sih?" gitu mereka tanya. Saya sih masih senyum-senyum aja jawabnya. Seneng juga sekali-sekali bikin orang penasaran.
Going distance? Saya memang suka sekali nyoba-nyoba hal-hal baru. Termasuk 'pindah' ke tempat baru. Walaupun sebenarnya saya termasuk orang yang sangat suka 'kemapanan' (artinya menetap di satu tempat saja dengan damai), tapi 'pindah' juga sesuatu yang menyenangkan. Akan sangat menantang kemampuan saya untuk beradaptasi di lingkungan baru (yang sebenarnya sulit juga). Tapi toh kita perlu mengembangkan diri. Berpindah ke sebuah tempat baru yang jauh sekali dari keluarga dan teman-teman, tetapi bila itu membawa kebaikan dan kemajuan dalam hidup, kenapa nggak? Dan kali ini memang cukup jauh juga. Bukan sekedar 'pindah' ke Bintaro, lalu bisa bulak-balik ke Bekasi. Ada banyak yang mendukung, tapi ada juga yang menentang. Sebenarnya bukan menentang sih, mungkin mereka khawatir atau takut terlalu merindukan saya nantinya … hahahaha….!!!
Kali ini saya benar-benar berlega hati, ketika mendengar kepastian kepergian kami ke sana. Ups … kami? Ya, tentu saja, saya dan suami tercinta. Ngapain juga pergi jauh-jauh sendirian? Justru saya rela 'pindah' ke tempat yang jauh dalam rangka biar selalu dekat dengan suami. Iya lah, kalau pergi jauh untuk berpisah, bodoh itu namanya. Hehe. Mudah-mudahan kepergian ini membawa banyak manfaat dan berkah. Dan supaya Allah selalu ridho. Kalau nggak ada ridho dari Allah dan orang tua, rasanya kepergian kami tak ada artinya. (duh…kayak mau pergi perang aja…hehe)
Pergi ke mana sih????
Hehe … iya, saya akhirnya akan jawab pertanyaan itu: Sangatta. Yep. That's our next destination. Di mana tuh? Kalimantan Timur or mungkin orang-orang lebih 'ngeh' dengan Kutai Timur. Samarinda sonoan dikit deh. Hehe. Ngapain? Suami saya (insyaallah) akan bekerja di sebuah perusahaan di sana. Trus saya ngapain? Haha … pertanyaan bodoh. Ya mendampingi suami lah. Dan, pastinya, can't wait to be a mom. Doakan kami ya, semoga proses kepindahan ke sana lancar, dan di sana bisa memulai hidup baru (lagi) dengan semangat baru. Musti mulai dari bawah lagi? Ya nggak apa-apa. Kan gak sendirian! Hehehe…
Jadi … ayo reunian!!!! (farewel party…dugem…dugem….hehehe!)
ps. file ini udah kelamaan baru di post, mudah-mudahan gak basi. dan sekarang saya masih nunggu aba-aba dari yang tercinta (yang udah duluan pergi)kapan bisa nyusul, coz dirinya harus nyari kontrakan dulu. hiks...kangen
Going distance? Saya memang suka sekali nyoba-nyoba hal-hal baru. Termasuk 'pindah' ke tempat baru. Walaupun sebenarnya saya termasuk orang yang sangat suka 'kemapanan' (artinya menetap di satu tempat saja dengan damai), tapi 'pindah' juga sesuatu yang menyenangkan. Akan sangat menantang kemampuan saya untuk beradaptasi di lingkungan baru (yang sebenarnya sulit juga). Tapi toh kita perlu mengembangkan diri. Berpindah ke sebuah tempat baru yang jauh sekali dari keluarga dan teman-teman, tetapi bila itu membawa kebaikan dan kemajuan dalam hidup, kenapa nggak? Dan kali ini memang cukup jauh juga. Bukan sekedar 'pindah' ke Bintaro, lalu bisa bulak-balik ke Bekasi. Ada banyak yang mendukung, tapi ada juga yang menentang. Sebenarnya bukan menentang sih, mungkin mereka khawatir atau takut terlalu merindukan saya nantinya … hahahaha….!!!
Kali ini saya benar-benar berlega hati, ketika mendengar kepastian kepergian kami ke sana. Ups … kami? Ya, tentu saja, saya dan suami tercinta. Ngapain juga pergi jauh-jauh sendirian? Justru saya rela 'pindah' ke tempat yang jauh dalam rangka biar selalu dekat dengan suami. Iya lah, kalau pergi jauh untuk berpisah, bodoh itu namanya. Hehe. Mudah-mudahan kepergian ini membawa banyak manfaat dan berkah. Dan supaya Allah selalu ridho. Kalau nggak ada ridho dari Allah dan orang tua, rasanya kepergian kami tak ada artinya. (duh…kayak mau pergi perang aja…hehe)
Pergi ke mana sih????
Hehe … iya, saya akhirnya akan jawab pertanyaan itu: Sangatta. Yep. That's our next destination. Di mana tuh? Kalimantan Timur or mungkin orang-orang lebih 'ngeh' dengan Kutai Timur. Samarinda sonoan dikit deh. Hehe. Ngapain? Suami saya (insyaallah) akan bekerja di sebuah perusahaan di sana. Trus saya ngapain? Haha … pertanyaan bodoh. Ya mendampingi suami lah. Dan, pastinya, can't wait to be a mom. Doakan kami ya, semoga proses kepindahan ke sana lancar, dan di sana bisa memulai hidup baru (lagi) dengan semangat baru. Musti mulai dari bawah lagi? Ya nggak apa-apa. Kan gak sendirian! Hehehe…
Jadi … ayo reunian!!!! (farewel party…dugem…dugem….hehehe!)
ps. file ini udah kelamaan baru di post, mudah-mudahan gak basi. dan sekarang saya masih nunggu aba-aba dari yang tercinta (yang udah duluan pergi)kapan bisa nyusul, coz dirinya harus nyari kontrakan dulu. hiks...kangen
Saturday, May 27, 2006
Muhasabah, yuk!
Amalan apakah yang dapat membawaku ke surga?
Sedangkan salat yang telah rutin kujalankan semenjak baligh seringkali dihiasi oleh mimpi dan lamunan sesaat yang menghilangkan ikhlas dari hatiku. Dan setan selalu tertawa melihatku kebingungan menghitung rakaat dalam hati. Sungguh, aku tak percaya amalan salatku akan lolos dari perhitungan di hari Penghisaban nanti.
Akankah aku sanggup melewati detik mendebarkan di titian sirath-Nya?
Sedangkan lapar dan hausku saat berpuasa menjadikanku lemah dan tak berdaya melakukan ibadah pada-Nya. Dan tak sanggup kumenahan hasrat yang menyisakan ganjaran berpuasa hanya sedikit saja. Padahal prajurit Badar begitu tangguh menerjang musuh di medan juang. Aku kalah.
Bukankah aku bisa meraih ridho dan kebahagiaan orang-orang miskin?
Tetapi aku terlalu sibuk merawat dan menumpuk harta benda hingga tak terjamah. Aku takut kehilangan, maka aku mendekapnya erat-erat. Kupikir jerih payahku lah yang menjadikannya menggunung tinggi. Sedangkan aku lupa bahwa ini semua karena rahmat-Nya.
Mungkinkah kesaksianku akan keesaan-Nya menyelamatkanku?
Tetapi tak terhitung lagi waktu yang habis untukku memamerkan amal baik yang sudah kulakukan pada orang-orang di sekitarku. Kujejerkan bak pameran lukisan dan benda-benda berharga, sebagai bukti yang menerangkan kesalehanku. Dan aku sibuk menyembah-nyembah diriku sendiri.
Yakinkah aku akan mendapatkan singgasana cahaya?
Padahal hati ini tak juga bersih dari prasangka terhadap sesama. Cinta dan kasih sayang sulit tumbuh sebab kerak yang ada telah membeku. Dan hati ini mudah tersulut amarah juga tak mudah memaafkan. Jadi, bagaimanakah benih ukhuwah akan bersemi di sana?
Aku sungguh tak punya apa-apa. Tapi aku selalu berpikir bahwa memiliki segala. Perjalananku di dunia membawaku menjajaki usia, namun tak juga tersentuh hati ini untuk menggerakkan diri ke surga. Padahal sungguh banyak pintu yang masih terbuka.
Ya Allah … akankah diri ini kekal menghuni dasar neraka?
Aku sungguh tak punya apa-apa. Dan aku tak berhenti meminta-Mu mencurahkan ampunan untuk semua dosa.
Ya Rabb-ku, sungguh aku telah zalim, maka ampunilah aku, dan berilah rahmat padaku agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.
Sedangkan salat yang telah rutin kujalankan semenjak baligh seringkali dihiasi oleh mimpi dan lamunan sesaat yang menghilangkan ikhlas dari hatiku. Dan setan selalu tertawa melihatku kebingungan menghitung rakaat dalam hati. Sungguh, aku tak percaya amalan salatku akan lolos dari perhitungan di hari Penghisaban nanti.
Akankah aku sanggup melewati detik mendebarkan di titian sirath-Nya?
Sedangkan lapar dan hausku saat berpuasa menjadikanku lemah dan tak berdaya melakukan ibadah pada-Nya. Dan tak sanggup kumenahan hasrat yang menyisakan ganjaran berpuasa hanya sedikit saja. Padahal prajurit Badar begitu tangguh menerjang musuh di medan juang. Aku kalah.
Bukankah aku bisa meraih ridho dan kebahagiaan orang-orang miskin?
Tetapi aku terlalu sibuk merawat dan menumpuk harta benda hingga tak terjamah. Aku takut kehilangan, maka aku mendekapnya erat-erat. Kupikir jerih payahku lah yang menjadikannya menggunung tinggi. Sedangkan aku lupa bahwa ini semua karena rahmat-Nya.
Mungkinkah kesaksianku akan keesaan-Nya menyelamatkanku?
Tetapi tak terhitung lagi waktu yang habis untukku memamerkan amal baik yang sudah kulakukan pada orang-orang di sekitarku. Kujejerkan bak pameran lukisan dan benda-benda berharga, sebagai bukti yang menerangkan kesalehanku. Dan aku sibuk menyembah-nyembah diriku sendiri.
Yakinkah aku akan mendapatkan singgasana cahaya?
Padahal hati ini tak juga bersih dari prasangka terhadap sesama. Cinta dan kasih sayang sulit tumbuh sebab kerak yang ada telah membeku. Dan hati ini mudah tersulut amarah juga tak mudah memaafkan. Jadi, bagaimanakah benih ukhuwah akan bersemi di sana?
Aku sungguh tak punya apa-apa. Tapi aku selalu berpikir bahwa memiliki segala. Perjalananku di dunia membawaku menjajaki usia, namun tak juga tersentuh hati ini untuk menggerakkan diri ke surga. Padahal sungguh banyak pintu yang masih terbuka.
Ya Allah … akankah diri ini kekal menghuni dasar neraka?
Aku sungguh tak punya apa-apa. Dan aku tak berhenti meminta-Mu mencurahkan ampunan untuk semua dosa.
Ya Rabb-ku, sungguh aku telah zalim, maka ampunilah aku, dan berilah rahmat padaku agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.
Sunday, May 21, 2006
Bercermin pada Kehidupan
Suatu hari, saya akan menghadiri sebuah majelis ta'lim yang terdiri dari ibu-ibu yang bertempat tinggal di daerah Jombang, Bintaro dan sekitarnya. Tak banyak anggotanya, sekitar sebelas orang. Awal bergabung dengan mereka, saya merasa agak jengah dan sedikit tidak nyaman. Maklumlah, pertama kalinya saya merasakan 'bergaul' dengan ibu-ibu muda berusia rata-rata sepuluh tahun lebih tua daripada saya. Sempat saya ingin pindah ke kelompok majelis ta'lim yang lain saja, bila ada. Tapi sampai sekarang, saya masih bertahan.
Hari itu, kegiatan akan diadakan di rumah salah seorang anggota, yang tidak begitu jauh dari rumah saya. Bahkan inilah rumah terdekat yang pernah saya datangi sejak pindah ke Bintaro. Biasanya bila akan menghadiri majelis ta'lim itu, saya harus naik angkot sampai dua kali. Lumayan jauh. Saya berangkat sekitar setengah jam sebelum acara dimulai. Saat itu saya sama sekali tidak tahu alamat pasti si empunya rumah, melainkan hanya mengandalkan arahan dari seorang teman saya saja. Yah, pastinya tidak jauh dari jalan masuk yang tadi ia sebutkan, pikir saya begitu. Dan sekitar lima menit kemudian, sampailah saya di jalan masuk tersebut. Tadinya saya berniat untuk naik ojek saja ke dalam. Tinggal sebutkan nama pemilik rumah dan ciri-ciri rumah, biasanya mereka tahu, begitu petunjuk berikutnya. Tapi sayangnya, tidak satu pun tukang ojek yang saya temui. Lantas saya putuskan untuk berjalan saja masuk ke dalam, siapa tahu ada pangkalan ojek lainnya atau ojek yang lewat. Saya tidak ingin terlambat, malu dong, masa rumah paling dekat malah terlambat.
Saya berjalan terus sampai kira-kira beberapa ratus meter. Kaki mulai pegal, dan saya belum menemukan petunjuk apapun yang mendekati ciri-ciri rumah itu. Saya berinisiatif menelpon seorang teman, dan komentarnya adalah: "Wah! Kalau jalan sih masih jauh! Masuk-masuk ke dalam, susah juga ngasih taunya. Mending kamu tanya sama orang di warung aja deh." Begitu katanya. Saat saya menelpon itu, saya berada di depan sebuah masjid lumayan besar yang pastinya bisa jadi patokan. Dan saya pun lupa menanyakan nomor telepon si pemilik rumah. Ya sudahlah, pasti bisa sampai, begitu tekad saya. Saya bertanya ke sebuah warung, dan petunjuk yang diberikan adalah: "Dari jalan itu masuk aja ke dalam, belok kanan, nanti kalau ada warung tanya lagi aja. Rumahnya masih jauh banget!"
Begitulah, saya akhirnya berjalan saja dan setiap kali ada warung, saya bertanya, dan mereka memberikan informasi yang sama dengan orang terakhir yang saya tanya. Rupanya daerah tersebut belum memiliki nama-nama jalan. Rumah-rumah penduduknya pun jarang-jarang, dari rumah satu ke rumah yang lain berjarak beberapa meter. Padahal lokasi tersebut berdekatan dengan komplek perumahan yang lumayan besar. Jadi petunjuk yang paling praktis ya sebutkan saja nama si pemilik rumah. Dan itu yang saya lakukan berulang-ulang: "Rumahnya bu Yuli, guru SD Annisa, istrinya pak Muslim yang punya kandang kambing itu di mana ya?"
Ketika jalanan sudah hampir tak berujung, dan di sebelah kanan saya adalah tanah lapang yang besar sekali, di sebelah kiri hanya terdapat satu-dua rumah yang terkunci rapat, saya mulai khawatir tersasar. Tapi dari kejauhan saya melihat dua orang wanita berjalan. Mungkin penduduk setempat. Saya langsung berlari mengejar mereka. Alhamdulillah…ternyata memang selalu ada petunjuk bila kita tak segan bertanya. Mereka mengantar saya sampai sekitar dua puluh meter dari rumah yang dicari. Saat itu saya tak memikirkan bagaimana cara pulang, yang tentu saja harus ditempuh dengan berjalan kaki juga. Saya sudah lupa rutenya. Sudahlah, nanti saja. Saya langsung menuju rumah besar bercat oranye.
"Assalamu’alaikum! Bu Yuli ada, bu?"
"Bu Yuli? Wah, dia jam segini belum pulang kerja!"
Saya nyaris pingsan mendengarnya. Seorang wanita setengah tua itu menatap saya dengan agak heran. Duh, sudah hampir nyasar begini, orangnya tidak ada? Lantas acara dipindahkan ke mana?
Tapi rupanya itu hanya kejutan kecil saja. Seorang laki-laki yang duduk bersama wanita itu beranjak dari kursi, dan tersenyum pada saya.
"Masuk aja lewat samping sini. Rumahnya menempel di belakang situ, Neng." Katanya. Saya ragu sejenak. Tapi kemudian wanita tadi berseru, "Oh iya! Ini kan hari Sabtu ya? Berarti ada tuh orangnya!" katanya. Saya nyengir, lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada keduanya.
Perjalanan panjang itu berakhir juga. Waktu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh. Hampir satu setengah jam di perjalanan? Hebat juga kedua kaki saya ini. Saya duduk kelelahan. Dan satu per satu anggota majelis ta'lim itu mulai berdatangan, dua orang membawa anak-anak mereka. Mereka sampai dengan wajah yang hampir sama dengan saya, tetapi tidak ada satu pun yang berjalan kaki dari depan hingga sampai di situ. Kami semua tertawa-tawa kelelahan, mereka menertawakan saya yang dengan sangat mengenaskan musti menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki. Lalu kami menyantap makanan kecil yang dihidangkan, dan mengobrol sebentar melepas lelah.
Hari itu semua hadir di majelis dengan penat. Saya bersiap untuk kecewa bila acara tidak berjalan atau datang hanya untuk bersantai. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Acara dibuka dengan tertib, kami bergantian tilawah quran, salah satu dari kami membacakan tafsir surat al-lahab, lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai permasalahan majelis ta'lim lain yang ada di daerah tempat tinggal kami, seterusnya sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Subhanallah. Saya nyaris tidak percaya bahwa kondisi-kondisi tak terduga, seperti kesulitan mencapai lokasi dan keterlambatan dimulainya acara, tidak menjadikan pertemuan yang hanya seminggu sekali itu menjadi tidak efektif. Jiwa saya kembali segar, penat saya hilang, dan saya siap bila harus pulang dengan berjalan kaki lagi.
Sudah sekitar lima bulan saya menjadi bagian dari mereka. Dan rupanya saya mulai merasakan ikatan hati yang cukup kuat pada mereka semua. Bahkan saya mengagumi mereka. Saya nyaris yang paling muda di antara mereka semua. Hampir semua sudah menikah, memiliki anak dua-tiga-atau empat orang, tapi mereka tetap konsisten hadir di pertemuan, mengerjakan tugas dengan lumayan tertib, bersemangat membahas permasalahan yang ada, dan saya tak segan untuk bercermin pada ketegaran mereka semua. Sedikitnya saya mengetahui permasalahan keluarga yang mereka hadapi, terhadap suami dan anak-anak, pekerjaan, dan lingkungan. Mereka mungkin tak semua berasal dari keluarga berkecukupan. Tapi semangat mereka untuk menghadiri majelis ta'lim rutin, juga semangat dan tindakan konkret berkontribusi dalam dakwah, itu semua menjadi bahan renungan yang tak habis-habis buat saya. Dan saya seringkali bertanya dalam hati, akankah saya tetap istiqomah seperti mereka sepuluh tahun dari sekarang? Semoga saja. Insyaallah. Amiin.
Hari itu, kegiatan akan diadakan di rumah salah seorang anggota, yang tidak begitu jauh dari rumah saya. Bahkan inilah rumah terdekat yang pernah saya datangi sejak pindah ke Bintaro. Biasanya bila akan menghadiri majelis ta'lim itu, saya harus naik angkot sampai dua kali. Lumayan jauh. Saya berangkat sekitar setengah jam sebelum acara dimulai. Saat itu saya sama sekali tidak tahu alamat pasti si empunya rumah, melainkan hanya mengandalkan arahan dari seorang teman saya saja. Yah, pastinya tidak jauh dari jalan masuk yang tadi ia sebutkan, pikir saya begitu. Dan sekitar lima menit kemudian, sampailah saya di jalan masuk tersebut. Tadinya saya berniat untuk naik ojek saja ke dalam. Tinggal sebutkan nama pemilik rumah dan ciri-ciri rumah, biasanya mereka tahu, begitu petunjuk berikutnya. Tapi sayangnya, tidak satu pun tukang ojek yang saya temui. Lantas saya putuskan untuk berjalan saja masuk ke dalam, siapa tahu ada pangkalan ojek lainnya atau ojek yang lewat. Saya tidak ingin terlambat, malu dong, masa rumah paling dekat malah terlambat.
Saya berjalan terus sampai kira-kira beberapa ratus meter. Kaki mulai pegal, dan saya belum menemukan petunjuk apapun yang mendekati ciri-ciri rumah itu. Saya berinisiatif menelpon seorang teman, dan komentarnya adalah: "Wah! Kalau jalan sih masih jauh! Masuk-masuk ke dalam, susah juga ngasih taunya. Mending kamu tanya sama orang di warung aja deh." Begitu katanya. Saat saya menelpon itu, saya berada di depan sebuah masjid lumayan besar yang pastinya bisa jadi patokan. Dan saya pun lupa menanyakan nomor telepon si pemilik rumah. Ya sudahlah, pasti bisa sampai, begitu tekad saya. Saya bertanya ke sebuah warung, dan petunjuk yang diberikan adalah: "Dari jalan itu masuk aja ke dalam, belok kanan, nanti kalau ada warung tanya lagi aja. Rumahnya masih jauh banget!"
Begitulah, saya akhirnya berjalan saja dan setiap kali ada warung, saya bertanya, dan mereka memberikan informasi yang sama dengan orang terakhir yang saya tanya. Rupanya daerah tersebut belum memiliki nama-nama jalan. Rumah-rumah penduduknya pun jarang-jarang, dari rumah satu ke rumah yang lain berjarak beberapa meter. Padahal lokasi tersebut berdekatan dengan komplek perumahan yang lumayan besar. Jadi petunjuk yang paling praktis ya sebutkan saja nama si pemilik rumah. Dan itu yang saya lakukan berulang-ulang: "Rumahnya bu Yuli, guru SD Annisa, istrinya pak Muslim yang punya kandang kambing itu di mana ya?"
Ketika jalanan sudah hampir tak berujung, dan di sebelah kanan saya adalah tanah lapang yang besar sekali, di sebelah kiri hanya terdapat satu-dua rumah yang terkunci rapat, saya mulai khawatir tersasar. Tapi dari kejauhan saya melihat dua orang wanita berjalan. Mungkin penduduk setempat. Saya langsung berlari mengejar mereka. Alhamdulillah…ternyata memang selalu ada petunjuk bila kita tak segan bertanya. Mereka mengantar saya sampai sekitar dua puluh meter dari rumah yang dicari. Saat itu saya tak memikirkan bagaimana cara pulang, yang tentu saja harus ditempuh dengan berjalan kaki juga. Saya sudah lupa rutenya. Sudahlah, nanti saja. Saya langsung menuju rumah besar bercat oranye.
"Assalamu’alaikum! Bu Yuli ada, bu?"
"Bu Yuli? Wah, dia jam segini belum pulang kerja!"
Saya nyaris pingsan mendengarnya. Seorang wanita setengah tua itu menatap saya dengan agak heran. Duh, sudah hampir nyasar begini, orangnya tidak ada? Lantas acara dipindahkan ke mana?
Tapi rupanya itu hanya kejutan kecil saja. Seorang laki-laki yang duduk bersama wanita itu beranjak dari kursi, dan tersenyum pada saya.
"Masuk aja lewat samping sini. Rumahnya menempel di belakang situ, Neng." Katanya. Saya ragu sejenak. Tapi kemudian wanita tadi berseru, "Oh iya! Ini kan hari Sabtu ya? Berarti ada tuh orangnya!" katanya. Saya nyengir, lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada keduanya.
Perjalanan panjang itu berakhir juga. Waktu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh. Hampir satu setengah jam di perjalanan? Hebat juga kedua kaki saya ini. Saya duduk kelelahan. Dan satu per satu anggota majelis ta'lim itu mulai berdatangan, dua orang membawa anak-anak mereka. Mereka sampai dengan wajah yang hampir sama dengan saya, tetapi tidak ada satu pun yang berjalan kaki dari depan hingga sampai di situ. Kami semua tertawa-tawa kelelahan, mereka menertawakan saya yang dengan sangat mengenaskan musti menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki. Lalu kami menyantap makanan kecil yang dihidangkan, dan mengobrol sebentar melepas lelah.
Hari itu semua hadir di majelis dengan penat. Saya bersiap untuk kecewa bila acara tidak berjalan atau datang hanya untuk bersantai. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Acara dibuka dengan tertib, kami bergantian tilawah quran, salah satu dari kami membacakan tafsir surat al-lahab, lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai permasalahan majelis ta'lim lain yang ada di daerah tempat tinggal kami, seterusnya sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Subhanallah. Saya nyaris tidak percaya bahwa kondisi-kondisi tak terduga, seperti kesulitan mencapai lokasi dan keterlambatan dimulainya acara, tidak menjadikan pertemuan yang hanya seminggu sekali itu menjadi tidak efektif. Jiwa saya kembali segar, penat saya hilang, dan saya siap bila harus pulang dengan berjalan kaki lagi.
Sudah sekitar lima bulan saya menjadi bagian dari mereka. Dan rupanya saya mulai merasakan ikatan hati yang cukup kuat pada mereka semua. Bahkan saya mengagumi mereka. Saya nyaris yang paling muda di antara mereka semua. Hampir semua sudah menikah, memiliki anak dua-tiga-atau empat orang, tapi mereka tetap konsisten hadir di pertemuan, mengerjakan tugas dengan lumayan tertib, bersemangat membahas permasalahan yang ada, dan saya tak segan untuk bercermin pada ketegaran mereka semua. Sedikitnya saya mengetahui permasalahan keluarga yang mereka hadapi, terhadap suami dan anak-anak, pekerjaan, dan lingkungan. Mereka mungkin tak semua berasal dari keluarga berkecukupan. Tapi semangat mereka untuk menghadiri majelis ta'lim rutin, juga semangat dan tindakan konkret berkontribusi dalam dakwah, itu semua menjadi bahan renungan yang tak habis-habis buat saya. Dan saya seringkali bertanya dalam hati, akankah saya tetap istiqomah seperti mereka sepuluh tahun dari sekarang? Semoga saja. Insyaallah. Amiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)