Kehilangan seseorang, apalagi jika ia selalu bersama-sama denganmu selama ini, memang sungguh membuat hati ini perih. Walaupun rasa kehilangan itu bisa saja dirasakan oleh siapa saja, tapi jika diri kita sendiri yang mengalaminya, rasanya berjuta-juta kali perihnya.
Saya merasakannya kira-kira setahun ini. Dia tadinya begitu dengan diri saya. Kami seringkali menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol tentang bermacam hal. Hal-hal yang ingin ia ketahui dari saya, hal-hal lucu dan menyenangkan yang kami pernah alami bersama, sewaktu kami berada di dalam perjalanan, di meja makan, di ruang keluarga, di mana-mana.
Waktu itu, sebuah SMS yang ia kirimkan mengejutkan saya. Ia menyatakan bahwa ia akan memilih kehidupan yang lain. Ia sudah memutuskan sesuatu yang menyakiti hati saya, ia bilang bahwa ia tidak akan menjauh dari saya dan kami akan tetap bersama. Itu semua bohong. Saya sungguh mengerti bahwa apa yang ia pilih membuahkan konsekuensi yang begitu berat bagi kami. Sanggupkan ia menanggungnya? Waktu itu saya begitu marah padanya, dan saya menyatakan bahwa ia harus bersiap diri jika saya yang memilih untuk menjauh darinya. Ia, dengan emosi yang entah apa, menyatakan hal yang serupa. Saya tak peduli. Keputusannya untuk meninggalkan kami adalah sesuatu yang harusnya ia pahami sebagai cara untuk menjauhkan kami satu sama lain.
Hingga saat ini, ia berulang kali mencoba menghubungi saya, mencoba memperbaiki hubungan kami yang telah rusak, tapi luka itu sudah terlalu dalam ia torehkan. Yang ia perbuat dulu sebelum pergi adalah hal yang sulit saya maafkan. Kini, ketika saya diam-diam membaca apa yang ia tuliskan tentang keadaannya di sana, saya merasakan kerinduan. Perasaan marah dan kesal berulang-ulang melanda hati saya. Tapi sekali lagi, dengan segenap kekuatan hati, saya hapus. Begitu berkali-kali. Dan saya berusaha tak memedulikannya.
Sejak ia menyatakan niatnya untuk pergi dulu, saya sudah menyadari sepenuhnya dalam hati saya, bahwa saya telah kehilangan dirinya.
[ditulis untuk KLUB FLP Sengata tgl 18 Januari 2009, truly from my heart...]
Penulis buku Bercermin pada Hatimu, Desau Angin Maastricht, Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, dan beberapa buku antologi lain bersama penulis Forum Lingkar Pena.
Tuesday, January 20, 2009
Friday, October 31, 2008
Melihat ke Luar Jendela
Sepertinya setiap orang memang memiliki arah hidup masing-masing. Selain karena memang atas kehendak Allah SWT, kita sebagai manusia memiliki potensi untuk menentukan arah hidup masing-masing. Semua adalah tentang pilihan. Bukankah Allah SWT mengaruniakan kita semua akal dan hati untuk memilih?
Saya membicarakan tentang semua orang yang pernah mampir dalam hidup saya. Sebagiannya adalah sahabat-sahabat saya sendiri. Yang sudah lama sekali saya kenal, ataupun yang baru setahun-dua tahun ini dekat dengan saya.
Salah satunya adalah sahabat saya Attin. Beberapa hari ini saya sibuk melihat-lihat dan membaca kembali tulisan-tulisannya dalam blog www.fragmensore.blogspot.com. Attin yang selalu membuat saya rindu. Tadi malam, baru saja saya iseng menelponnya. Ternyata Attin sedang sibuk sekali pulang pergi Jakarta-Bandung, katanya. Urusan pekerjaan, pasti. Sahabat tersayang saya ini sudah menyelesaikan program master di Maastricht, Belanda. Hebat, kan? Menurut saya, orang-orang yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk kuliah atau bekerja di sana atas biaya sendiri ataupun beasiswa adalah orang-orang yang hebat. Pergi jauh k negeri orang, meninggalkan rumah yang nyaman beserta seluruh kerabat keluarga, beradaptasi dengan kultur yang sama sekali berbeda, dan hal-hal hebat lainnya yang entahlah apakah saya bisa melakukannya.
Kemudian, dengan kerinduan yang sama, Inggrid. Setahun lebih cepat dari Attin mengambil program master atas biaya sendiri di IIUM (Malaysia). Dan akhirnya bekerja di sana kalau tidak salah, tinggal di sana setelah menikah, dan mungkin juga sampai sekarang masih di sana. Inggrid seseorang yang berjiwa pejuang, memang. Mandiri, cerdas, dan sangat disiplin. Saya rasa, setiap yang ingin sukses (baik di Indonesia maupun yang tinggal di negara lain) harus memiliki tiga sifat itu. Setidaknya, modal dasar untuk bertahan.
Sahabat-sahabat saya yang lain, memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di sebuah kota terpencil yang sulit dijangkau dari ibukota propinsi. Demi sebuah idealisme, mungkin juga kesadaran dan niat tulus membangun dan membesarkan dakwah di tempat tersebut. Bagaimana dengan saya?
Kata Hasan Al Banna, mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.
Mimpi saya terbangun dan terus dibangun untuk menjelajah ke luar sana. Seperti seseorang yang melihat ke luar jendela, saya menerawangkan kedua mata dan jiwa ini ke luar sana. Membangun mimpi tentu saja akan sia-sia tanpa diserta kekuatan doa dan jerih payah usaha mewujudkannya. Saat ini, tapak kaki ini sedang melangkah perlahan, dan kedua tangan ini bergegas untuk merajut kepingan mimpi itu menjadi lembaran baru yang indah, nantinya, insyaallah ...
to my beloved husband, yang selalu merajutkan mimpi yang indah dan kemudian mewujudkannya dengan cinta
Saya membicarakan tentang semua orang yang pernah mampir dalam hidup saya. Sebagiannya adalah sahabat-sahabat saya sendiri. Yang sudah lama sekali saya kenal, ataupun yang baru setahun-dua tahun ini dekat dengan saya.
Salah satunya adalah sahabat saya Attin. Beberapa hari ini saya sibuk melihat-lihat dan membaca kembali tulisan-tulisannya dalam blog www.fragmensore.blogspot.com. Attin yang selalu membuat saya rindu. Tadi malam, baru saja saya iseng menelponnya. Ternyata Attin sedang sibuk sekali pulang pergi Jakarta-Bandung, katanya. Urusan pekerjaan, pasti. Sahabat tersayang saya ini sudah menyelesaikan program master di Maastricht, Belanda. Hebat, kan? Menurut saya, orang-orang yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk kuliah atau bekerja di sana atas biaya sendiri ataupun beasiswa adalah orang-orang yang hebat. Pergi jauh k negeri orang, meninggalkan rumah yang nyaman beserta seluruh kerabat keluarga, beradaptasi dengan kultur yang sama sekali berbeda, dan hal-hal hebat lainnya yang entahlah apakah saya bisa melakukannya.
Kemudian, dengan kerinduan yang sama, Inggrid. Setahun lebih cepat dari Attin mengambil program master atas biaya sendiri di IIUM (Malaysia). Dan akhirnya bekerja di sana kalau tidak salah, tinggal di sana setelah menikah, dan mungkin juga sampai sekarang masih di sana. Inggrid seseorang yang berjiwa pejuang, memang. Mandiri, cerdas, dan sangat disiplin. Saya rasa, setiap yang ingin sukses (baik di Indonesia maupun yang tinggal di negara lain) harus memiliki tiga sifat itu. Setidaknya, modal dasar untuk bertahan.
Sahabat-sahabat saya yang lain, memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di sebuah kota terpencil yang sulit dijangkau dari ibukota propinsi. Demi sebuah idealisme, mungkin juga kesadaran dan niat tulus membangun dan membesarkan dakwah di tempat tersebut. Bagaimana dengan saya?
Kata Hasan Al Banna, mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.
Mimpi saya terbangun dan terus dibangun untuk menjelajah ke luar sana. Seperti seseorang yang melihat ke luar jendela, saya menerawangkan kedua mata dan jiwa ini ke luar sana. Membangun mimpi tentu saja akan sia-sia tanpa diserta kekuatan doa dan jerih payah usaha mewujudkannya. Saat ini, tapak kaki ini sedang melangkah perlahan, dan kedua tangan ini bergegas untuk merajut kepingan mimpi itu menjadi lembaran baru yang indah, nantinya, insyaallah ...
to my beloved husband, yang selalu merajutkan mimpi yang indah dan kemudian mewujudkannya dengan cinta
Tuesday, June 24, 2008
Perjalanan ke Langit
Mencermati sebuah peristiwa Isra’ Mi’raj memang membawa persepsi bermacam-macam bagi setiap orang. Memahaminya sebagai sebuah mukjizat pun bisa menimbulkan ‘pernak-pernik’ lain dalam keyakinan yang tertanam dalam diri masing-masing. Dan sesungguhnya, peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi pada momen tersebut bukanlah satu-satunya yang menjadi tema utama bagi sebuah keyakinan. Melainkan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sebuah Hiburan yang Menakjubkan
Menapaki awal perjalanan dakwah yang penuh rintangan telah menjadi ujian tersendiri bagi Rasulullah SAW. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar atau membaca tentang peristiwa Thaif, dimana beliau mengalami penghinaan dan siksaan dari penduduk kota tersebut. Sebelum itu pun Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengalami ujian berat, dengan menjalani tiga tahun pemboikotan total oleh kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
Ujian tak terperi berikutnya adalah meninggalnya dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan Rasulullah SAW, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Seorang istri tercinta yang selalu menjadi pendukung utama dakwah beliau, dan paman tercinta yang telah menjadi pelindung dan penjaga beliau dari intimidasi kaum kafir.
Maka perisitwa Isra’ dan Mi’raj menjadi sebuah bentuk hiburan tak biasa yang hanya dialami oleh seorang Muhammad SAW.
Ganjaran bagi Sebuah Kesabaran
Sebuah ujian yang paling ringan sekali pun, tak mungkin sukses dilewati tanpa adanya kesabaran. Hakikatnya sabar adalah tidak terbatas. Maka keberhasilan Rasulullah SAW menjalani setiap kesulitan –yang rasanya tak mungkin bisa dihadapi dengan sukses oleh manusia mana pun- sebelum perisitwa Isra dan Mi’raj memang mewajarkan adanya ganjaran luar biasa dari-Nya. Yaitu berjumpa dan berbicara langsung dengan Sang Khalik.
Membawa Perintah Shalat
Menemui Allah SWT secara langsung dan mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat lima waktu tidak sesederhana seperti seorang murid yang menerima perintah mengerjakan tugas dari gurunya. Ketika pada awalnya Rasulullah SAW menerima perintah dari Allah SWT untuk menjalankan shalat sebanyak 50 kali sehari semalam, terjadilah dialog antara dirinya dengan Nabi Musa as.
Sesungguhnya umat manusia, umat Muhammad SAW, adalah lemah. Tak mungkin sanggup melaksanakan sekian banyak waktu shalat yang awalnya ditetapkan. Demikian yang digambarkan oleh percakapan antara Nabi Musa as dengan Rasulullah SAW. Jika saja kita mau mengintrospeksi diri, apakah lima waktu shalat wajib yang sudah ‘diperjuangkan’ oleh Nabi tercinta di hadapan Allah SWT telah kita jalani dengan sempurna? Sedangkan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah SAW mengatakan bahwa jika salah seorang di antara umatnya mengerjakan shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, maka ganjarannya adalah pahala sebanyak lima puluh shalat.
Sebuah Pembuktian akan Kekuasaan Allah SWT
Sadarkah kita semua, bahwa waktu yang harus ditempuh antara kota Makkah dan Palestina adalah lebih kurang selama 40 hari, jika ditempuh pada zaman Rasulullah SAW hidup. Dimana pada waktu itu belum tersedia kendaraan modern seperti yang ada sekarang. Dan perjalanan menuju langit hingga ke hadapan Sang Pencipta sungguh merupakan jenak waktu yang tak terbayangkan bagi manusia mana pun.
Maka kesemua dari detail perjalanan Rasulullah menuju Allah SWT tak mungkin terhitung oleh penelitian empirik mana pun, melainkan oleh sebuah keyakinan mantap akan kekuasaan Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan.
Subhanallah, Maha Suci Ia yang telah memperjalankan seorang Muhammad dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Sebuah perjalanan agung yang tak mungkin terulang dan dialami oleh manusia mana pun.
Maka mendekatlah selalu kepada-Nya dalam setiap amal baik yang kita lakukan. Jalani kehidupan yang singkat ini dengan langkah yang selalu menuju kebaikan. [dev]
Ditulis untuk rubrik "Bahasan Utama" buletin MEMORI FLP Sengata
Sebuah Hiburan yang Menakjubkan
Menapaki awal perjalanan dakwah yang penuh rintangan telah menjadi ujian tersendiri bagi Rasulullah SAW. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar atau membaca tentang peristiwa Thaif, dimana beliau mengalami penghinaan dan siksaan dari penduduk kota tersebut. Sebelum itu pun Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengalami ujian berat, dengan menjalani tiga tahun pemboikotan total oleh kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
Ujian tak terperi berikutnya adalah meninggalnya dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan Rasulullah SAW, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Seorang istri tercinta yang selalu menjadi pendukung utama dakwah beliau, dan paman tercinta yang telah menjadi pelindung dan penjaga beliau dari intimidasi kaum kafir.
Maka perisitwa Isra’ dan Mi’raj menjadi sebuah bentuk hiburan tak biasa yang hanya dialami oleh seorang Muhammad SAW.
Ganjaran bagi Sebuah Kesabaran
Sebuah ujian yang paling ringan sekali pun, tak mungkin sukses dilewati tanpa adanya kesabaran. Hakikatnya sabar adalah tidak terbatas. Maka keberhasilan Rasulullah SAW menjalani setiap kesulitan –yang rasanya tak mungkin bisa dihadapi dengan sukses oleh manusia mana pun- sebelum perisitwa Isra dan Mi’raj memang mewajarkan adanya ganjaran luar biasa dari-Nya. Yaitu berjumpa dan berbicara langsung dengan Sang Khalik.
Membawa Perintah Shalat
Menemui Allah SWT secara langsung dan mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat lima waktu tidak sesederhana seperti seorang murid yang menerima perintah mengerjakan tugas dari gurunya. Ketika pada awalnya Rasulullah SAW menerima perintah dari Allah SWT untuk menjalankan shalat sebanyak 50 kali sehari semalam, terjadilah dialog antara dirinya dengan Nabi Musa as.
Sesungguhnya umat manusia, umat Muhammad SAW, adalah lemah. Tak mungkin sanggup melaksanakan sekian banyak waktu shalat yang awalnya ditetapkan. Demikian yang digambarkan oleh percakapan antara Nabi Musa as dengan Rasulullah SAW. Jika saja kita mau mengintrospeksi diri, apakah lima waktu shalat wajib yang sudah ‘diperjuangkan’ oleh Nabi tercinta di hadapan Allah SWT telah kita jalani dengan sempurna? Sedangkan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah SAW mengatakan bahwa jika salah seorang di antara umatnya mengerjakan shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, maka ganjarannya adalah pahala sebanyak lima puluh shalat.
Sebuah Pembuktian akan Kekuasaan Allah SWT
Sadarkah kita semua, bahwa waktu yang harus ditempuh antara kota Makkah dan Palestina adalah lebih kurang selama 40 hari, jika ditempuh pada zaman Rasulullah SAW hidup. Dimana pada waktu itu belum tersedia kendaraan modern seperti yang ada sekarang. Dan perjalanan menuju langit hingga ke hadapan Sang Pencipta sungguh merupakan jenak waktu yang tak terbayangkan bagi manusia mana pun.
Maka kesemua dari detail perjalanan Rasulullah menuju Allah SWT tak mungkin terhitung oleh penelitian empirik mana pun, melainkan oleh sebuah keyakinan mantap akan kekuasaan Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan.
Subhanallah, Maha Suci Ia yang telah memperjalankan seorang Muhammad dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Sebuah perjalanan agung yang tak mungkin terulang dan dialami oleh manusia mana pun.
Maka mendekatlah selalu kepada-Nya dalam setiap amal baik yang kita lakukan. Jalani kehidupan yang singkat ini dengan langkah yang selalu menuju kebaikan. [dev]
Ditulis untuk rubrik "Bahasan Utama" buletin MEMORI FLP Sengata
Sebuah Perjalanan Hati
Bagi kita, selama ini yang dinamakan ‘sebuah perjalanan’ mungkin hampir selalu diidentikkan dengan pergi jarak jauh, sibuk membawa perbekalan lengkap, dan keluar banyak uang. Apalagi bagi para perantau yang tinggal jauh dari rumah. Mereka yang bersekolah di luar kota kelahiran misalnya, atau yang mencari rezeki di tanah orang. Sudah pasti momen ‘pulang kampung’ selalu ditunggu-tunggu. Tetapi, ada saja yang tak seberuntung itu. Yang tidak memiliki cukup uang untuk bepergian, atau memang sedang menghemat pengeluaran sehingga liburan cukup dihabiskan di tempat berdomisili saja.
Tetapi sebuah perjalanan, entah untuk momen liburan atau lainnya, pastinya tidak harus selalu dengan mengeluarkan banyak uang atau waktu dan tenaga. Hakikatnya, melakukan sebuah ‘perjalanan hati’ akan lebih banyak menyisakan bekas yang indah untuk dikenang, dijadikan pelajaran, dan mengawali sebuah perubahan ke arah kebaikan. Dan pastinya tidak harus selalu dilakukan pada saat liburan panjang atau meluangkan waktu khusus.
Jadi, apa saja yang bisa dilakukan untuk merehatkan hati dan pikiran sejenak dari kelelahan?
Membaca buku-buku yang menginspirasi.
Pernah mencoba? Cobalah temukan beberapa judul buku yang menarik, dan bisa menyiram hati ini dari segala penat keseharian yang selama berbulan-bulan ini kita penuhi dengan urusan dunia. Bisa saja buku-buku fiksi berupa kumpulan cerpen atau novel islami, yang pasti membawa nuansa berbeda ke setiap hati kita. Disamping bisa meliburkan hati dari pikiran-pikiran yang melelahkan, juga bisa meninggalkan hikmah luar biasa yang nantinya dapat menjadi pelajaran penting bagi kehidupan.
Berkunjung ke masjid terdekat untuk beri’tikaf (berdiam diri)
Nah, aktivitas yang satu ini tidak hanya bisa dilakukan saat sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Di waktu luang misalnya ketika liburan, bisa saja kita menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid terdekat, ataupun masjid yang tidak biasa dikunjungi karena jarak yang tak terlalu dekat dari rumah. Untuk apa? Yang pasti merehatkan diri sekaligus mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Bawalah ‘bekal’ untuk beri’tikaf supaya kegiatan tersebut lebih khusyu’ dilakukan. Misalnya, sebuah mushaf Alquran beserta terjemahannya. Membaca Alquran disertai dengan terjemahannya akan membuat kita semakin mengerti akan ayat-ayat Allah. Lalu, seperangkat alat shalat untuk menunaikan shalat wajib dan sunnah di masjid tercinta. Kemudian satu atau dua buku yang menyejukkan hati pun bisa kita bawa, sebagai kegiatan selingan di sela-sela waktu shalat.
Kegiatan i’tikaf sederhana ini juga makin asyik jika dilakukan bersama teman-teman terdekat. Supaya pahala kebaikan yang kita dapatkan bisa dinikmati bersama yang lain.
Menonton film, mengharu-biru, menambah semangat!
Nonton film? Pastinya film-film yang mengisahkan perjalanan hidup nabi atau orang-orang salih, yang senantiasa akan memompakan semangat baru ke dalam jiwa kita. Rehat yang asyik, kan?
Sudah pernah menyaksikan kegigihan seorang Hamzah bin Abdul Muththalib dalam film “The Messenger”? Film yang satu ini merupakan ‘remake’ dari film “Ar Risalah”, yang salah satu pemainnya adalah bintang film Hollywood yang kabarnya ‘nyaris’ menjadi seorang muslim ketika film tersebut diproduksi. Beliau adalah Anthony Quinn. Seru, dan pastinya mengharukan. Akan selalu menjadi pengingat akan sulitnya dakwah yang dilakukan Rasulullah beserta para sahabat dulu.
Atau film “Fatahillah”, misalnya. Film asli buatan anak negeri yang, walaupun banyak kritik terhadapnya, selalu membangkitkan memori tentang perjuangan kaum muslimin di Indonesia jaman ‘baheula’.
Sudah terinspirasi? Berhentilah sejenak dari kesibukan untuk sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendekatkan diri kita pada-Nya. Yuk, isi waktu dengan melakukan perjalanan hati! [dev]
Ditulis untuk dimuat dalam rubrik "Tambahan Tema Utama" buletin MEMORI FLP Sengata
Tetapi sebuah perjalanan, entah untuk momen liburan atau lainnya, pastinya tidak harus selalu dengan mengeluarkan banyak uang atau waktu dan tenaga. Hakikatnya, melakukan sebuah ‘perjalanan hati’ akan lebih banyak menyisakan bekas yang indah untuk dikenang, dijadikan pelajaran, dan mengawali sebuah perubahan ke arah kebaikan. Dan pastinya tidak harus selalu dilakukan pada saat liburan panjang atau meluangkan waktu khusus.
Jadi, apa saja yang bisa dilakukan untuk merehatkan hati dan pikiran sejenak dari kelelahan?
Membaca buku-buku yang menginspirasi.
Pernah mencoba? Cobalah temukan beberapa judul buku yang menarik, dan bisa menyiram hati ini dari segala penat keseharian yang selama berbulan-bulan ini kita penuhi dengan urusan dunia. Bisa saja buku-buku fiksi berupa kumpulan cerpen atau novel islami, yang pasti membawa nuansa berbeda ke setiap hati kita. Disamping bisa meliburkan hati dari pikiran-pikiran yang melelahkan, juga bisa meninggalkan hikmah luar biasa yang nantinya dapat menjadi pelajaran penting bagi kehidupan.
Berkunjung ke masjid terdekat untuk beri’tikaf (berdiam diri)
Nah, aktivitas yang satu ini tidak hanya bisa dilakukan saat sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Di waktu luang misalnya ketika liburan, bisa saja kita menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid terdekat, ataupun masjid yang tidak biasa dikunjungi karena jarak yang tak terlalu dekat dari rumah. Untuk apa? Yang pasti merehatkan diri sekaligus mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Bawalah ‘bekal’ untuk beri’tikaf supaya kegiatan tersebut lebih khusyu’ dilakukan. Misalnya, sebuah mushaf Alquran beserta terjemahannya. Membaca Alquran disertai dengan terjemahannya akan membuat kita semakin mengerti akan ayat-ayat Allah. Lalu, seperangkat alat shalat untuk menunaikan shalat wajib dan sunnah di masjid tercinta. Kemudian satu atau dua buku yang menyejukkan hati pun bisa kita bawa, sebagai kegiatan selingan di sela-sela waktu shalat.
Kegiatan i’tikaf sederhana ini juga makin asyik jika dilakukan bersama teman-teman terdekat. Supaya pahala kebaikan yang kita dapatkan bisa dinikmati bersama yang lain.
Menonton film, mengharu-biru, menambah semangat!
Nonton film? Pastinya film-film yang mengisahkan perjalanan hidup nabi atau orang-orang salih, yang senantiasa akan memompakan semangat baru ke dalam jiwa kita. Rehat yang asyik, kan?
Sudah pernah menyaksikan kegigihan seorang Hamzah bin Abdul Muththalib dalam film “The Messenger”? Film yang satu ini merupakan ‘remake’ dari film “Ar Risalah”, yang salah satu pemainnya adalah bintang film Hollywood yang kabarnya ‘nyaris’ menjadi seorang muslim ketika film tersebut diproduksi. Beliau adalah Anthony Quinn. Seru, dan pastinya mengharukan. Akan selalu menjadi pengingat akan sulitnya dakwah yang dilakukan Rasulullah beserta para sahabat dulu.
Atau film “Fatahillah”, misalnya. Film asli buatan anak negeri yang, walaupun banyak kritik terhadapnya, selalu membangkitkan memori tentang perjuangan kaum muslimin di Indonesia jaman ‘baheula’.
Sudah terinspirasi? Berhentilah sejenak dari kesibukan untuk sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendekatkan diri kita pada-Nya. Yuk, isi waktu dengan melakukan perjalanan hati! [dev]
Ditulis untuk dimuat dalam rubrik "Tambahan Tema Utama" buletin MEMORI FLP Sengata
Friday, June 20, 2008
Merindukan Taubat
Pernahkah Anda merasa begitu penat dengan semua kesibukan yang sedang dikerjakan dan yang menanti untuk diselesaikan?
Suatu malam, saya menjelang tidur dengan pikiran penuh dengan berbagai macam hal yang tak bisa saya enyahkan. Hari itu, beberapa tugas belum diselesaikan, esok hari ada tugas lain yang menanti untuk dirampungkan, lalu curhat dari dua orang 'adik' yang baru saja memenuhi kepala saya, kemudian problem kecil di rumah yang rasanya begitu menghimpit dada. Terlalu banyak bagi saya, pikir saya malam itu. Dan mata saya tak bisa terpejam hingga sekitar sejam setelah saya membaringkan badan.
Lelah, hampir di semua persendian dan tulang-tulang rasanya sedang merintih-rintih kesakitan. Tapi entah bagaimana, berbagai hal yang memenuh-sesakkan kepala ini mencuat ke segala sisi, seakan seperti berontak ingin diselesaikan satu per satu. Dan sepertinya malam itu saya tertidur dengan otak terus bekerja keras, hingga pagi.
Paginya, semua penat itu berkumpul jadi satu dan 'menyerang' saya, ketika sebuah insiden kecil terjadi. Tangis saya seketika tumpah, tanpa bisa saya tahan. Dan saya beraktivitas sepanjang pagi dengan membiarkan air mata saya mengalir deras.
Waktu dhuha, dan saya memutuskan untuk bersimpuh pada-Nya. Setelahnya, saya menutup pintu kamar rapat-rapat, dan menikmati lembaran ayat-ayat cinta-Nya, yang sepertinya pagi itu terasa begitu merindukan. Mungkin sekitar satu jam saya terpekur, dan terus membaca. Kedua tangan saya rasanya betah untuk berlama-lama menggenggam erat mushaf bersampul merah itu. Dan saya menangis lagi.
Mungkin banyak yang menganggap ini adalah sebuah hal klise yang bisa saja dialami setiap orang. Memang betul. Selepas dhuha dan tilawah, saya keluar dari kamar. Perasaan saya jauh lebih ringan. Satu per satu tumpukan masalah di kepala saya seperti tertata sendiri di 'laci' masing-masing. Sore harinya, ketika saya bercuap-cuap di sebuah stasiun radio untuk sebuah program 'Zona Inspirasi', sepertinya benak saya merenung jauh, dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya menambah kesejukan ke dalam hati saya sendiri.
Saya jadi teringat, seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa, apa yang keluar dari lisan kita akan sesuai dengan apa yang tersimpan dalam hati kita. Jika ruh ini 'penuh' dengan rasa cinta pada-Nya, maka kita akan mampu menjadi 'ruh' bagi orang lain. Bukti nyata tentu saja harus ada. Tidak mungkin tampilan luar akan baik apabila isi hati tak baik pula. Kecuali jika ia termasuk golongan orang-orang munafik. Na'udzubillahi min dzaalik.
Subhanallah ... pagi ini, hati saya segar. Dan mushaf merah itu terus saya rindukan. Rupanya penat yang menumpuk itu sempat menyisakan lalai pada diri saya, hari-hari kemarin. Semoga Ia berkenan untuk kembali menerima taubat saya hari ini, dan juga hari-hari setelah ini. Amin.
Suatu malam, saya menjelang tidur dengan pikiran penuh dengan berbagai macam hal yang tak bisa saya enyahkan. Hari itu, beberapa tugas belum diselesaikan, esok hari ada tugas lain yang menanti untuk dirampungkan, lalu curhat dari dua orang 'adik' yang baru saja memenuhi kepala saya, kemudian problem kecil di rumah yang rasanya begitu menghimpit dada. Terlalu banyak bagi saya, pikir saya malam itu. Dan mata saya tak bisa terpejam hingga sekitar sejam setelah saya membaringkan badan.
Lelah, hampir di semua persendian dan tulang-tulang rasanya sedang merintih-rintih kesakitan. Tapi entah bagaimana, berbagai hal yang memenuh-sesakkan kepala ini mencuat ke segala sisi, seakan seperti berontak ingin diselesaikan satu per satu. Dan sepertinya malam itu saya tertidur dengan otak terus bekerja keras, hingga pagi.
Paginya, semua penat itu berkumpul jadi satu dan 'menyerang' saya, ketika sebuah insiden kecil terjadi. Tangis saya seketika tumpah, tanpa bisa saya tahan. Dan saya beraktivitas sepanjang pagi dengan membiarkan air mata saya mengalir deras.
Waktu dhuha, dan saya memutuskan untuk bersimpuh pada-Nya. Setelahnya, saya menutup pintu kamar rapat-rapat, dan menikmati lembaran ayat-ayat cinta-Nya, yang sepertinya pagi itu terasa begitu merindukan. Mungkin sekitar satu jam saya terpekur, dan terus membaca. Kedua tangan saya rasanya betah untuk berlama-lama menggenggam erat mushaf bersampul merah itu. Dan saya menangis lagi.
Mungkin banyak yang menganggap ini adalah sebuah hal klise yang bisa saja dialami setiap orang. Memang betul. Selepas dhuha dan tilawah, saya keluar dari kamar. Perasaan saya jauh lebih ringan. Satu per satu tumpukan masalah di kepala saya seperti tertata sendiri di 'laci' masing-masing. Sore harinya, ketika saya bercuap-cuap di sebuah stasiun radio untuk sebuah program 'Zona Inspirasi', sepertinya benak saya merenung jauh, dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya menambah kesejukan ke dalam hati saya sendiri.
Saya jadi teringat, seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa, apa yang keluar dari lisan kita akan sesuai dengan apa yang tersimpan dalam hati kita. Jika ruh ini 'penuh' dengan rasa cinta pada-Nya, maka kita akan mampu menjadi 'ruh' bagi orang lain. Bukti nyata tentu saja harus ada. Tidak mungkin tampilan luar akan baik apabila isi hati tak baik pula. Kecuali jika ia termasuk golongan orang-orang munafik. Na'udzubillahi min dzaalik.
Subhanallah ... pagi ini, hati saya segar. Dan mushaf merah itu terus saya rindukan. Rupanya penat yang menumpuk itu sempat menyisakan lalai pada diri saya, hari-hari kemarin. Semoga Ia berkenan untuk kembali menerima taubat saya hari ini, dan juga hari-hari setelah ini. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)