Halaman

Saturday, April 25, 2009

Sebuah Profesi atau Bukan, Tetaplah Mulia

Saya seringkali mendapati pendapat-pendapat miring tentang profesi ‘ibu rumah tangga’. Bagaimanapun sepertinya banyak orang yang berpendapat bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pilihan terpaksa yang harus diambil oleh seorang perempuan ketika ia ‘terjebak’ dalam aktivitas rumah tangga, tidak memiliki profesi lain, dilarang bekerja oleh keluarga atau oleh suami, dan seterusnya. Sehingga muncul stigma negatif tentangnya.

Terus terang, dulu saya menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki pendapat negatif tersebut. Tepatnya, sekadar ikut-ikutan tanpa pernah mendalami maknanya. Saya hanya beranggapan, bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga artinya berdiam diri di rumah hanya mengurusi hal-hal yang itu-itu saja, dan seterusnya. Kadang, kita memang sering terlarut dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun setelah menjalaninya, pikiran saya berubah.

Seorang teman kuliah saya pernah menuliskan dalam sebuah situs pribadi bahwa profesi yang ia geluti sekarang adalah: a housewife. Seorang ibu rumah tangga. Awalnya saya hanya mengerenyit membacanya, sebab pada saat itu saya belum menikah dan sedang asyik-asyiknya menjalani pekerjaan saya. Seorang teman saya yang lain, ia seorang penulis, meyakinkan saya dengan ceritanya tentang kesehariannya yang mengurusi kelima orang anaknya dan dalam kondisi seperti itu ia produktif menerbitkan buku. Di tempat tinggal saya sekarang, ada seorang janda yang memiliki lima orang anak, ia tidak bekerja pada sebuah perusahaan manapun, tetapi memiliki keterampilan memasak yang akhirnya menjadi salah satu peluang mendapatkan rezeki, dan sekarang ia malah sedang menekuni kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.

Dan kemudian saya merenungkan jalan hidup yang dilakoni ibu saya tercinta. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan merelakan banyak hal pergi dari dirinya demi keluarganya. Begitu banyak yang ia korbankan. Seseorang yang sangat supel, gigih dalam meraih sesuatu, luwes, punya banyak ide kreatif, terampil dalam berbagai hal. Ibu saya sejak dulu bisa dibilang selalu sukses menjual segala macam hal, baik itu buatan sendiri maupun tidak. Semua orang mengenalnya sebagai seseorang yang luwes dalam berdagang, dan kenyataannya, keterampilannya tersebut memberinya kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, menyekolahkan saya dan adik saya, dan ia mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun. Mengagumkan, bukan?

Ketika akhirnya saya menikah, saya sedang berada dalam keasyikan menekuni pekerjaan yang sangat saya sukai di sebuah perusahaan. Waktu berlalu, dan pikiran untuk memiliki anak mulai sering menghampiri saya dan suami tentunya. Kebetulan saya termasuk seseorang yang selalu memikirkan segala sesuatu dengan detail, merencanakannya, baru memutuskannya. Dan saya waktu itu mulai berpikir serius, apakah ketika saya nantinya memiliki anak akan terus bekerja atau tidak? Apakah saya akan membayar seorang babysitter untuk mengurus anak-anak saya di rumah dan saya tetap bekerja? Bagaimana dengan rencana saya untuk mengurus anak-anak saya sendiri? Dan, memiliki seorang pembantu rumah tangga, benarkah itu yang saya inginkan?

Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya, dan mengejar mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Bercermin pada beberapa orang teman penulis yang menjadikan ‘menulis’ sebagai profesi, kemudian bahkan bisa menghidupi diri sendiri serta keluarga dari profesi tersebut, saya mulai merajut mimpi itu dan menjadikannya kenyataan. Tentu keputusan ini bukan tanpa pemikiran terlebih dulu. Tentu saya pun mengukur kemampuan diri dan suami untuk memutuskan hal ini. Suami sangat mendukung, dan ternyata Allah SWT memang memberikan jalan ini sebagai salah satu pintu rezeki bagi saya.

Dan inilah saya, dengan profesi baru saya sebagai ibu rumah tangga yang bisa menulis.
Dua tahun ini, saya banyak merenungkan hal ini, dan kemudian berkembanglah pikiran-pikiran positif tentang profesi sebagai ibu rumah tangga. Toh, memutuskan untuk berada di rumah dan sepenuhnya mengurus rumah tangga bukan berarti menjadi halangan bagi kreativitas diri untuk berkembang. Apalagi jika kita bisa mensiasati waktu untuk bisa menggali potensi diri, mengembangkannya, dan bahkan akhirnya mencari penghasilan sendiri dari rumah. Seorang ibu rumah tangga yang pandai berdagang, seorang ibu rumah tangga yang punya bisnis sendiri di rumah, seorang ibu rumah tangga yang pandai menulis, seorang ibu rumah tangga yang pandai berkebun dan akhirnya melakukan sesuatu dengan keterampilan itu, dan seterusnya. Bukankah banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dari rumah?

Pikiran-pikiran tersebut akhirnya menjadikan saya lebih bersemangat menjalani hari-hari bersama keluarga kecil saya. Kepercayaan diri saya meningkat, dan bahkan saya makin produktif menulis. Kegembiraan ini sedapat mungkin saya tularkan pada mereka yang sering mengeluhkan hal serupa pada saya. Yang merasa tak bisa berbuat apa-apa atau kadang jenuh beraktivitas rutin di rumah. Pengalaman saya berumah tangga memang baru seumur jagung, tetapi semangat yang saya punya, boleh lah ditularkan kepada yang lain.

Ketika saya kemudian menghadapi beberapa anggota pengajian yang saya tangani yang berprofesi sebagai karyawati perusahaan, saya menjadikannya bahan tambahan bagi perenungan saya.

Beberapa orang menginspirasi saya, dan beberapa yang lain membuat saya merenung lebih dalam. Seseorang di antara mereka memiliki tiga orang anak, dua di antaranya sudah bersekolah. Ia kadang mengantar jemput sendiri anak-anaknya, memasak sendiri makanan di rumah, dan teratur menelpon ke rumah untuk mengontrol kondisi anak-anak dengan pembantu rumah tangga yang menjaganya, ketika pulang ia tekun mendampingi anak-anaknya belajar.

Bagi saya, seseorang seperti yang saya contohkan di atas adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan kebetulan bekerja pada sebuah perusahaan. Ia tidak mengkonsentrasikan diri untuk bekerja saja, tetapi bisa dikatakan melakukan keduanya dengan sama baiknya. Memang ada lebih kurangnya, tetapi tetaplah ia melakukan kebaikan dengan menjalaninya dengan ikhlas dan penuh senang hati.

Rumit sekali jika harus mendebat ini-itu tentang hal ini. Saya hanya tak ingin kita terjebak pada profesi A atau B yang lebih mulia dan ‘bergengsi’, lalu akhirnya mengecilkan yang lainnya. Sepertinya melakukan hal-hal tersebut malah akan mengurangi keikhlasan dari yang sedang mengamalkannya.

Menjadi seorang ibu rumah tangga saja, atau yang didampingi dengan profesi lainnya, tetaplah ia sebuah pekerjaan yang mulia. Dan bagi yang mengerjakannya dengan ikhlas sepenuh hati, baginya ganjaran kebaikan yang telah dijanjikan Allah SWT. Subhanallah …

Dakwah dan Sebuah Proses Belajar

Semenjak saya berkecimpung dalam dakwah, saya telah diajarkan bahwa siapapun yang melakukan dan apapun caranya (asalkan tidak melanggar perintah Allah Swt dan Sunnah Rasulullah SAW) maka tujuan yang sama yaitu berdakwah kepada Islam tidaklah boleh menjadi awal pertentangan. Toh, tujuan kita sama: berdakwah kepada Islam dengan tujuan lillahi ta'ala. Dan apapun sarananya, akan tetap menjadi sebuah sarana saja, tidak boleh berubah menjadi tujuan utama. Sebab jika berubah, maka itu akan mengubah niat lurus tulus ikhlas menjadi melenceng. Bukankah sebuah amal yang tidak didasari niat yang ikhlas maka amal itu tidak diterima?

Dan kemudian saya merenungkan perjalanan dakwah yang telah semenjak tahun 1994 saya tekuni. Saya telah bersama-sama dengan orang-orang yang sabar, yang rajin mengkaji Islam serta memacu saya untuk meningkatkan ibadah harian, yang mengajarkan saya cara menyampaikan kebaikan pada orang lain dengan simpatik, dan juga memahamkan pada saya bahwa walaupun sekian banyak orang menentang dakwah namun langkah tak boleh berhenti. Sebab proses perjalanan dakwah itu sendiri lah yang terpenting; bagaimana kita berinteraksi, bagaimana perlahan pemahaman mulai terbentuk, bagaimana belajar berkorban untuk kepentingan orang lain, dan bagaimana menang dan kalah harus dihadapi. Jawabannya tetap sama: jika konsisten, maka apapun hasilnya akan selalu terasa membanggakan. Bukankah kita semua adalah para pembelajar? Dan orang-orang yang belajar harus terbiasa dengan kegagalan serta keberhasilan.

Bagaimana dengan hasil maksimal yang selalu menjadi target sebuah tindakan, dan harapan tinggi dari sebuah upaya? Tentu saja hal tersebut patut diperhitungkan. Sebab dari mencanangkan sebuah target, semangat dan kerja keras akan termunculkan. Seseorang yang memiliki impian tinggi dan kemauan untuk mewujudkannya, suatu saat akan mengubah mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Dan saat itu ia akan menikmati sebuah hasil membanggakan dari upayanya selama ini. Tetapi memang waktu dimana impian itu terwujud tidak pernah bisa diatur oleh si pelaku. Sebab manusia memang hanya bisa berusaha, dan selebihnya akan berlaku ketentuan Sang Maha Kuasa. Bila memang terwujudnya sebuah mimpi merupakan kebaikan baginya, maka Allah SWT akan mengabulkan, namun bila ternyata itu bukanlah sebuah kebaikan, bisa jadi Allah SWT tidak memberikannya atau menundanya hingga saat yang tepat. Wallahu A’lam. Hidup memang misteri, sebab itulah kita semua hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Siapa tahu, impian tersebut akan terwujud ketika kelak anak dan cucu kita yang menjadi pelakunya. Hingga kita sendiri tak bisa menikmati, namun bukankah dengan tetap berusaha dengan ikhlas berarti kita sedang merajut investasi untuk generasi mendatang? Berarti tidak ada satu pun usaha manusia di dunia yang sia-sia.

Ketika saya berpindah-pindah tempat tinggal, tentunya lebih beragam lagi orang yang saya temui. Berbagai karakter pribadi, berbagai pemahaman. Pengetahuan seseorang memang sepertinya tidak bisa diukur dengan umur. Artinya, seseorang yang berusia 40 tahun misalnya, bukan berarti lebih paham dan lebih banyak pengetahuannya daripada seseorang yang berusia 20 tahun. Dan sebaliknya, seseorang yang berusia 20 tahun memang belum tentu lebih berpengalaman daripada seseorang yang berusia 40 tahun. Bagaimanapun, setiap orang telah menjalani kehidupannya masing-masing, dan itu akan menjadi penentu bagi lebih dan kurangnya pemahaman seseorang akan sesuatu.

Demikian juga dengan sikap berbeda yang ditunjukkan masing-masing orang terhadap kemenangan maupun kekalahan. Seperti yang dipaparkan di atas. Karakter pribadi, kekuatan iman, dan pemahaman akan hidup akan menjadikan reaksi itu berbeda-beda. Kadang, ketidaksiapan menghadapi sebuah kemenangan akan membuat sikap seseorang menjadi konyol di hadapan orang lain. Dan juga sebaliknya, ketidaksiapan seseorang dalam menghadapi kekalahan akan membuat orang tersebut terlihat betul sebagai seorang pecundang. Padahal tidak perlu seperti itu, sebab kita semua adalah pembelajar. Dan pembelajar sejati tak pernah berlebihan dalam menanggapi kemenangan dan kekalahan yang mesti ada dalam kehidupan. Tapi, ya memang, manusia tetaplah seorang manusia. Ia selamanya tidak pernah menjadi malaikat. Jadi, tak perlu risau dengan ketidaksempurnaan itu.

Di balik keberhasilan dan kegagalan selalu ada pelajaran besar bagi kelanjutan hidup ini. Bukankah dakwah tidak akan pernah berhenti selama masih ada orang-orang yang perlu didakwahi? Dan bukankah inti darinya adalah proses belajar? Dan proses belajar yang selama ini dijalani tidak boleh berkurang atau bahkan berhenti hanya karena kita semua sedang sibuk bertarung. Seperti juga Rasulullah dan para sahabat dulu, yang tidak pernah melupakan aktivitas peningkatan ruhiyah ketika pun sedang perang. Jadi, ketika Allah belum menakdirkan kemenangan itu hadir, berarti ada satu dua pelajaran yang perlu kita pahami. Mungkin kesibukan bekerja menjadikan kita lupa akan esensi dari dakwah yang dilakukan? Yaitu belajar dan mengajarkan.

Mari, kembali kepada orisinalitas dakwah ini. Mari beningkan hati kembali.

Wallahu A’lam.

Sebab Cinta Selalu Ada

Tak mengapa bila rindu tak berlabuh,
Sebab cinta selalu ada.
Di antara kepingan duka dan luka yang menganga
Harap yang tersisa hanyalah untuk-Nya.

Di antara sekian perjuangan hidup manusia, salah satunya adalah perjuangan dalam mendapatkan cinta. Entah mengapa, persoalan yang satu ini hampir selalu dihubungkan dengan jiwa melankolis tak tertahankan dari diri manusia. Padahal tak semestinya selalu begitu. Bagi mereka yang bergelimang bahagia, mungkin persoalan ini tak berarti apa-apa. Tapi bagaimana dengan mereka yang tak bisa mencicipi kehidupan yang lega? Apakah tak patut mereka mempertanyakan cinta?

Cobalah diingat, adakah satu dua peristiwa yang masih terekam dalam memori kita yang menyiratkan pendaman rindu akan sebuah cinta? Misalnya sebuah kenangan indah saat dulu remaja, atau kerinduan akan keluarga yang kini terpisah jarak, sebuah mimpi yang hingga hari ini tak kunjung tiba di dunia nyata, atau mungkin kedamaian hati yang dulu pernah dirasa tetapi kini menghilang entah ke mana. Memang, kedengarannya begitu menyedihkan. Tetapi sepertinya kita harus sepenuhnya sadar, bahwa tidak setiap orang hidup bahagia. Apabila kita menjadi salah satunya, mungkin kita baru mengakui. Tapi manusia memang selalu menjadi manusia dengan segala kelalaiannya. Saat bahagia ia selalu terlupa akan segala derita yang dulu dilewati, namun ketika masa susah tiba ia tak bisa membendung penyesalan dan terus menyesali. Bukankah seharusnya kita tetap bersyukur, dengan kondisi apapun yang sedang kita alami? Karena sepertinya, masih terlalu banyak orang di luar sana yang sanggup menelan segala penderitaannya.

Kadang-kadang, ketidakbahagiaan memang bisa menghanyutkan. Entah itu dalam keputusasaan, atau kemarahan, mungkin juga dalam kesedihan mendalam yang tidak ada akhirnya, atau apalagi? Ketidakbahagiaan memang selalu menjadi hal yang tidak diinginkan oleh setiap orang. Sayangnya, hal itu telah menjadi teman akrab dari yang namanya kehidupan. Tak mungkin hidup ini berjalan lurus dan mulus terus menerus. Tak mungkin seorang manusia tak mengalami musibah dan ujian dalam detik-detik hidupnya. Tak mungkin bila kita berharap untuk tak pernah sekalipun merasakan derita. Sebab ketidakbahagiaan membuat diri kita bangkit untuk mencarinya. Sebab musibah dan ujian adalah rahmat apabila kita mau mensyukuri dan mengambil hikmahnya. Sebab derita adalah awal dari bahagia. Sebab di setiap kesulitan tersimpan kemudahan untuk melewatinya.

Saya hanya ingin kita semua memunculkan harap walau hanya secercah. Sebab selama roda kehidupan masih berputar, pencarian akan sekeping cinta selalu akan menumbuhkan gairah yang indah dalam hati kita. Walaupun begitu berat cobaan yang sedang menimpa. Walaupun kita berpikir tak ada lagi yang menjadi tumpuan. Tetapi percayalah, pikiran itu salah. Sebab cinta selalu ada.

Pendar Kasih Ibu

Ketika senyummu pudar,
Sewaktu kedua matamu tak lagi berbinar,
Saat gundah menghilangkan tempat bersandar,
Maka seorang ibu akan merengkuhmu,
Dengan sejuta kasihnya yang kian berpendar.

Menjadi seorang ibu adalah sejuta harap yang terpenuhi bagi diri seorang perempuan. Menjadi seorang istri dari lelaki yang dicintai bagaikan memenuhi keinginan hati untuk menjadi seorang kekasih sekaligus permaisuri. Tak lengkap, apabila keduanya tak diraih. Tak sempurna, apabila waktu yang tersisa menghadiahkan kesendirian.

Dari sekian juta perempuan yang ada, tak pernah ada cerita yang sama yang dijalani. Kadang, ketika derita sedang ditanggung, kita sering merasa menjadi seseorang yang nasibnya paling malang sedunia. Tanpa mau menoleh bahwa masih banyak orang lain yang mungkin sedang menanggung beban yang lebih berat. Kadang tak berpikir bahwa mensyukuri yang sedang dijalani adalah pilihan sikap yang senantiasa melegakan.

Seorang ibu, bagaimanapun, adalah kedamaian bagi keluarganya. Banyak hal indah yang diucapkan, dituliskan, didendangkan, mengenai seorang ibu. Namun yang terjadi di dunia nyata seringkali berkebalikan. Satu kata yang kerap kali membuat bulu kuduk berdiri dan hal terburuk yang mungkin terjadi pada seorang perempuan yang dizalimi: kekerasan. Satu hal yang sepertinya kian hari kian menjadi teman akrab telinga dan mata kita semua.

Sedikit saja pengaruh buruk dari kejadian-kejadian menyedihkan yang menimpa seorang perempuan dengan berbagai statusnya (istri, ibu, calon istri, calon ibu, dan sebagainya) adalah ketakutan dan keputusasaan akan ‘profesi mulia’ diri sebagai seorang pendamping hidup laki-laki sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Disamping itu, banyak pula perempuan yang menjalani proses menuju kebahagiaan dengan jalan yang tak semulus yang dialami perempuan lainnya. Sebagian mungkin terasa lucu bila diingat kembali, sebagian lagi menyisakan derita yang menyayat memori, atau meninggalkan luka yang menggores tak terperi. Yang kadang akan menumbuhkan satu ketakutan menjadi ketakutan lainnya. Dan bila kebahagiaan itu akhirnya datang, seperti goresan gambar di atas pasir yang luruh akibat sapuan ombak. Yang teringat adalah bahagia.

Saya mungkin tak pandai menganalisa setiap peristiwa. Pun tak banyak hal yang telah saya ketahui untuk dibagikan pada semua. Yang saya tahu, hidup memang tak hanya berisikan kebahagiaan saja. Namun tetap saja, setiap orang pantas untuk bahagia. Dan kebahagiaan yang akan menjadi pelengkap pada diri seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu.

Saya pikir, ketika saya telah dewasa dan mencari penghasilan sendiri, saya telah puas menjadi seorang anak. Ingin ‘pergi’ jauh dari orang tua. Tetapi rasanya pikiran itu salah. Dan ketika saya telah menikah, pikiran itu muncul lagi. Demikian pula ketika Allah telah mengaruniakan seorang anak. Saya pikir saya akan ‘berhenti bersikap sebagai seorang anak’. Tidak lagi manja, tidak lagi membutuhkan rengkuhan ibu, dan sebagainya. Tapi nyatanya saya makin yakin bahwa pikiran itu salah.

Justru ketika saya telah menjadi seorang ibu, saya makin membutuhkan sosok ibu saya. Dan saya makin menghargai dan lebih lagi mencintai ibu saya. Bagaimanapun saya mulai merasakan hal-hal yang pastinya dulu pernah ia rasakan. Letihnya, gundahnya, cemasnya, bahagianya ... semua hal yang dirasakan oleh semua ibu untuk keluarganya tercinta. Dan kini hari-hari saya banyak terisi oleh renungan, betapa ibu begitu berharga bagi diri saya. Terlebih untuk semua pengorbanan yang rasanya tak pernah sanggup saya balas.

Dan perjalanan kehidupan setiap perempuan memang tak sama. Saya benar-benar bersyukur telah diberi kesempatan untuk merasakan semuanya kini. Menjadi seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Kebahagiaan apalagi yang saya cari?

Biarkan jadi Berbeda

Setiap diri kita punya keunikan masing-masing. Dan rasanya tidak ada seorang pun yang ingin dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Menjadi diri sendiri, dengan menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada, mungkin akan lebih sulit dibandingkan melihat apa yang ada pada orang lain kemudian memujinya, atau bahkan melecehkannya.

Menjadi diri sendiri dan memiliki rasa percaya diri untuk itu, entah kenapa menjadi suatu hal yang membutuhkan perjuangan keras untuk mencapainya. Sebab kini sudah begitu banyak orangyang merasa “senang” menjadi orang lain. Menjadi seseorang yang bukan dirinya yang asli. Supaya juga dipandang hebat oleh orang lain yang melihat, supaya mendapatkan sebuah penghormatan yang sama, tidak bisa menerima perbedaan yang ada. Berusaha terlihat bagus di hadapan orang lain, sama saja menipu. Tidak percaya dengan diri sendiri, dan tidak menghargai keunikan yang diri kita punya. Bukankah akhlak yang baik itu muncul tanpa direkayasa?

Saya teringat sebuah percakapan ringan antara saya dan teman baik saya. Waktu itu ia mengeluhkan beberapa hal yang sepertinya sama dengan apa yang ada di pikiran saya. Kemudian saya berkomentar: “Entah kenapa, akhir-akhir ini orang-orang yang saya kenal berubah jadi aneh.” Dan ia menanggapi dengan sebuah tulisan yang isinya mengatakan bahwa berbeda itu unik, dan unik itu seni.
Saya tersenyum membacanya. Menarik sekali kesimpulan yang diberikan teman saya itu. Kalau setiap orang berbeda, maka setiap orang itu unik, dan setiap orang berarti memiliki nilai seni tersendiri. Sepertinya saya setuju dengan kalimat tersebut. Dengan begitu, kita akan belajar menghargai setiap perilaku yang berbeda yang ditampakkan oleh orang lain. Tidak malah menghujatnya dengan penilaian macam-macam, walaupun apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Memang, untuk apa berharap macam-macam pada seorang manusia yang tidak kuasa memberikan apapun untuk kita? Bukankah Yang Maha Pemberi itu adalah Allah?

Seperti halnya ketika kita sedang terlibat dalam sebuah forum musyawarah. Dari sekian kepala yang hadir, sangat mungkin masing-masing membawa pikiran yang berlainan. Karena memang setiap individu berasal dari lingkungan dan pemahaman yang berbeda satu sama lain. Jadi, tak mungkin dipaksakan sama. Jikalau ada yang memaksakan untuk sama, rasanya sungguh egois dan otoriter sekali. Yang bisa dilakukan adalah saling berargumentasi, mengutarakan alasan-alasan yang logis, kemudian mencari jalan keluar atau solusi yang terbaik dari semua pendapat yang ada. Merangkul yang bawah dulu, baru kemudian memutuskan. Itu kan lebih baik.

Memang setiap manusia pasti berbeda. Siapapun dia, bagaimanapun kedudukannya, berapapun banyak hartanya, ia akan menjadi berarti di hadapan Allah jika perbedaan itu membawanya kepada keimanan yang tinggi. Bukankah Allah hanya menilai ketakwaan seseorang?

Maka sebaiknya kita tak repot-repot mencari-cari kesalahan orang lain karena merasa ia berbeda dengan diri kita. Cukuplah di akhirat kelak Allah Yang Maha Kuasa yang menilainya.