Halaman

Monday, September 14, 2009

SALIMAH Kutim Berbagi THR




Minggu (6/09) yang lalu, SALIMAH (Persaudaraan Muslimah) Kutim kembali mengadakan bakti sosial bertajuk SALIMAH Kutim Berbagi. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Baiturrahman (Panorama, Swarga Bara), sejak pukul 9 pagi hingga sebelum zuhur. Pengurus mengundang anak yatim, para janda, dan dhuafa lainnya sebagai peserta acara yang direkomendasikan oleh Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim maupun perorangan, yang mendapatkan santunan berupa sejumlah uang yang dibagikan pada masing-masing undangan tersebut.

Kegiatan yang menyertakan partisipasi donatur dari berbagai kalangan ini terlaksana dengan koordinasi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Panitia yang sekaligus merupakan pengurus SALIMAH Kutim mengupayakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pembagian jatah peserta. Jika di satu wilayah sudah menyertakan cukup banyak calon penerima santunan, maka ia tidak diperkenankan menambah kuota, melainkan harus diberikan kepada wilayah lain yang belum mendapatkan kesempatan. Panitia juga menerapkan aturan bahwa di hari H tidak lagi menerima peserta baru, tetapi pada kenyataannya ada satu dua orang yang akhirnya diterima padahal belum mendaftar sebelumnya. “Hal ini tidak akan terjadi lagi tahun depan, sebab kita harus konsisten dalam menerapkan aturan. Supaya adil bagi semua pihak.” Begitu komentar Ningsih, salah seorang panitia yang bertugas menjadi pembawa acara. Adapun peserta acara berasal dari wilayah Kampung Kajang, Kenyamukan, Jl Sangkima, dan sekitar Sangatta/Teluk Lingga.

Total dana yang terkumpul dari berbagai sumber donatur adalah sebesar Rp 25.990.000,- dan telah terdistribusikan dalam 176 paket THR. Sebanyak 55 paket THR untuk janda tidak mampu, dan 121 paket THR untuk anak yatim dan fakir miskin lainnya. Acara berlangsung lancar, tidak ada kekisruhan yang tidak diinginkan, sebab seluruh undangan sangat kooperatif dan tertib mengikuti jalannya acara demi acara. Selain dihadiri oleh penerima santunan, acara ini juga dihadiri oleh beberapa orang perwakilan Majelis Taklim binaan SALIMAH Kutim dan juga perwakilan donatur sebagai saksi penyelenggaraan kegiatan.

Pengurus SALIMAH Kutim mengharapkan acara ini dapat dilakukan rutin setiap tahun, dengan jumlah donatur yang bertambah. Sehingga harta yang menjadi bagian dari hak fakir miskin dan anak yatim dapat tersalurkan dan mereka yang membutuhkan dapat merasakannya walau tak seberapa.

Wednesday, September 09, 2009

Ketinting


Ini namanya 'ketinting' atau ada juga yang menyebutnya 'ponton'. Alat transportasi air yang berfungsi 'memindahkan' orang atau barang dari sisi sungai yang satu ke sisi yang lain. Sungainya juga nggak lebar sih, tapi kadang katanya arusnya deras dan bisa 'makan korban'. Hiiiy... nggak tau bener apa nggak sih. Belum pernah naik (dan nggak akan mau naik kalau nggak terpaksaaaaa banget).

Ada apa di seberang sungai? Ada wilayah 'Sangatta Lama'. Rumah-rumah penduduk dan pasar. Pasar Sangatta Lama adalah tempat belanja yang termurah, karena jangkauannya juga jauh dari pusat kota. Tapi dulunya daerah Sangatta Lama inilah yang dinamakan kota Sangatta. Tapi semenjak banyak perkembangan, wilayah pusat kota beralih ke Sangatta Baru alias lokasi Swarga Bara dan sekitarnya.

Ketinting ini lumayan populer di kalangan masyarakat Sangatta, dan menjadi sarana tercepat untuk menjangkau wilayah Sangatta Lama. Sebab jika harus menempuh jalan darat, harus memutar jauh dan tidak praktis bagi pengendara motor.

Padang Golf di Tengah Hutan


Padang Golf mini di tengah hutan :) ... lokasinya ya di sekitar wilayah Tanjung Bara (sekitar setengah jam dari pusat kota Sangatta). Biasanya yang bersantai sambil ayun-ayun stik golf adalah para pejabat KPC ... hehehe.

Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, hanya pernah sesekali menengok beberapa orang yang tengah asyik main golf di hari libur. Biasanya pagi-pagi sekali.

Welcome to Tanjung Bara


Ini adalah bandar udara Tanjung Bara, Sangatta. Satu-satunya 'tempat singgah' pesawat seukuran Airfast yang lagi nangkring itu. Bangunan yang atapnya bertulisan 'Tanjung Bara' itulah 'airport'nya ... hihihi.

Nah, barangsiapa yang ingin mengunjungi Sangatta, ia harus berangkat dengan pesawat dari daerahnya masing-masing menuju Balikpapan (Bandara Sepinggan), lalu dari situ naik pesawat Airfast ini ke Tanjung Bara. Jarak tempuh dari Sepinggan ke Tanjung Bara adalah 1 jam. Lumayan lelah ya? Total perjalanan dari Jakarta-Sangatta adalah 3 jam di udara. Fiuh!

Bandara Tanjung Bara ini padat sekali dengan jadwal penerbangan terbatasnya. Maksimal penumpang dalam satu kali penerbangan adalah 20 orang, dan tentunya diutamakan karyawan PT Kaltim Prima Coal atau keluarganya. Untuk saat ini, sepertinya hanya satu buah pesawat ini saja yang menjadi andalan semua orang yang ingin bepergian dari Tanjung Bara. Adakah alternatif lain? Ada. Jalur darat, melewati jalanan Sangatta-Bontang, lalu menuju Samarinda atau Balikpapan, atau wilayah lain yang ingin dituju.

Yah, begitulah Sangatta, dengan terbatasnya akses jalan dan sarana transportasi.

The Beauty of Aquatic


Hmm ... keren ya? Ini pemandangan sebuah kapal pengangkut yang diambil dari pantai Aquatic, Tanjung Bara, Sangatta. Pantai? Di Sangatta emang ada pantai? Hehehe ... ada. Salah satunya ya Aquatic ini. Nggak besar sih, tapi cukup sebagai salah satu tempat hiburan keluarga. Ini pemandangan waktu malam hari pastinya, ya. Indah dengan kerlap-kerlip lampu dari kapal itu. Kapal pengangkut apa? Ya, batubara lah! Hehehe...padahal sok tau aja nih.