Halaman

Wednesday, September 09, 2009

Welcome to Tanjung Bara


Ini adalah bandar udara Tanjung Bara, Sangatta. Satu-satunya 'tempat singgah' pesawat seukuran Airfast yang lagi nangkring itu. Bangunan yang atapnya bertulisan 'Tanjung Bara' itulah 'airport'nya ... hihihi.

Nah, barangsiapa yang ingin mengunjungi Sangatta, ia harus berangkat dengan pesawat dari daerahnya masing-masing menuju Balikpapan (Bandara Sepinggan), lalu dari situ naik pesawat Airfast ini ke Tanjung Bara. Jarak tempuh dari Sepinggan ke Tanjung Bara adalah 1 jam. Lumayan lelah ya? Total perjalanan dari Jakarta-Sangatta adalah 3 jam di udara. Fiuh!

Bandara Tanjung Bara ini padat sekali dengan jadwal penerbangan terbatasnya. Maksimal penumpang dalam satu kali penerbangan adalah 20 orang, dan tentunya diutamakan karyawan PT Kaltim Prima Coal atau keluarganya. Untuk saat ini, sepertinya hanya satu buah pesawat ini saja yang menjadi andalan semua orang yang ingin bepergian dari Tanjung Bara. Adakah alternatif lain? Ada. Jalur darat, melewati jalanan Sangatta-Bontang, lalu menuju Samarinda atau Balikpapan, atau wilayah lain yang ingin dituju.

Yah, begitulah Sangatta, dengan terbatasnya akses jalan dan sarana transportasi.

The Beauty of Aquatic


Hmm ... keren ya? Ini pemandangan sebuah kapal pengangkut yang diambil dari pantai Aquatic, Tanjung Bara, Sangatta. Pantai? Di Sangatta emang ada pantai? Hehehe ... ada. Salah satunya ya Aquatic ini. Nggak besar sih, tapi cukup sebagai salah satu tempat hiburan keluarga. Ini pemandangan waktu malam hari pastinya, ya. Indah dengan kerlap-kerlip lampu dari kapal itu. Kapal pengangkut apa? Ya, batubara lah! Hehehe...padahal sok tau aja nih.

Thursday, August 27, 2009

Demi Sebuah Cinta

Malam ini melewatkan sebuah momen yang sudah saya nantikan sejak tadi pagi. Momen yang seharusnya bisa membangkitkan kembali kenangan masa SMA dan kuliah dulu. Duduk rapi, pegang pulpen dan buku tulis siap terbentang di hadapan, manggut-manggut sambil terpesona dengan penjelasan demi penjelasan si pemateri. Saya begitu merindukannya. Selepas itu, hati dan pikiran jadi segar, seolah terguyur embun yang menyejukkan. Istilah kerennya: habis nge-charge.

Saya meminta ijin dengan sangat berat hati, hampir menangis bahkan. Semua padahal sudah siap: gembolan isi baju anak-anak, snack, buku-buku yang diperlukan, diapers, lengkap. Keduanya juga sudah siap dengan 'baju perang' masing-masing. Detik demi detik berlalu, pukul sembilan malam. Saya melirik cemas, kurcaci-kurcaci itu mulai kuyu. Dan beberapa menit setelah sedikit rewel mereka tertidur di kamar. Saya agak cemas, akankah batal lagi? Hiks ...

Jarang sekali ada momen seperti ini. Si pemateri pun bukan sembarang orang. Dan yang paling penting adalah: saya butuh charger yang super oke saat ini! Pikiran saya campur aduk, dan mulai menghubungi seorang teman.

Sebuah jiwa yang terus menerus dibiarkan lesu lama kelamaan akan tumpul dan mandul. Tapi ia yang terasah dan terpakai tanpa henti pun perlu waktu sejenak untuk menyegarkan diri kembali. Yang terus terpakai tanpa perawatan akan aus, dan bisa-bisa jadi tak bisa dipakai lagi. Bukankah setiap hal perlu keseimbangan? Memberikan lebih, maka asupannya juga musti lebih. Begitulah kira-kira alam pikiran saya berandai-andai. Andaikan semua tertata dengan rapi, andaikan semua berjalan seiring sejalan, andaikan semua seimbang rata ... tapi di dunia ini tidak ada satu pun yang sempurna. Yang baik pasti terselip kekhilafan juga. Namanya saja sekumpulan manusia, bukan para malaikat.

Dan untungnya kemarin sore saya mendapatkan beberapa menit siraman itu, walaupun tidak sedahsyat yang diadakan malam ini sepertinya. Tapi cukuplah membuat saya kembali kepada kesadaran semula. Bahwa setiap hal yang diperoleh pasti akan lebih berharga jika tertoreh sebuah pengorbanan penuh cinta di sana. Dan semoga inilah yang sedang saya lakukan. Berkorban demi sebuah cinta dan ketaatan.

Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk mendekati-Mu lebih saat ini,
Ampunilah setiap khilaf yang mengotori hati dan pikiranku hari ini, hari kemarin, dan hari-hari mendatang ...
Berkahilah kami dengan cinta dan kasih sayang-Mu,
hingga yang tersisa hanyalah ketaatan dan kesadaran penuh untuk berpasrah diri kepada-Mu.
Ya Allah ... dalam ketidakmampuanku untuk melakukan lebih dari yang kulakukan saat ini,
Berikanlah jalan bagiku dan bagi keluargaku untuk senantiasa taat dan patuh pada setiap perintah-Mu, mengikuti sunnah Rasul-Mu, dan berada pada jalan yang lurus bersama orang-orang yang Engkau ridhoi,
hingga Hari Akhir nanti.
Aamiiin ...

~with tears, to my beloved ones, here and everywhere~

Wednesday, August 26, 2009

Biar Anak Belajar Mandiri

Suatu pagi, saya kembali menemani Firna sekolah di salah satu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di daerah Lembah Hijau, Sengata. Seperti biasa, saya langsung bergabung dengan para bunda yang sedang repot membujuk anaknya untuk masuk kelas, atau yang sedang mengerjakan pernak-pernik persiapan karnaval kemerdekaan, atau yang sambil mengasuh adik kecil si sulung yang berlarian ke sana ke mari. Repot yang menyenangkan.

Saya pastinya sibuk mengamati tingkah polah Firna dan teman-temannya, tapi kali itu yang jadi perhatian saya bukan Firna seorang, melainkan para bunda dan reaksi mereka terhadap tingkah anak-anaknya. Saya banyak sekali belajar dari mereka, bahwa kemandirian anak akan terbangun atau tidak terbangun karena sikap orang tuanya juga. Namanya anak usia 2 sampai 3 tahun, perkara menempel terus pada ibunya pasti hal biasa. Tapi jika berada di lingkungan sekolah yang penuh hal-hal menarik dan teman-teman sebaya ia masih bersikap demikian, maka tindakan si ibu akan menentukan keberaniannya. Dan pastinya sikap satu anak akan menular ke anak yang lain. Jika ada seorang bunda yang bolak-balik masuk ke dalam kelas, terlalu khawatir dengan anaknya yang padahal sedang asyik mengikuti pelajaran, maka bisa dipastikan anak yang lain pun akan merengek meminta bundanya ikut masuk ke dalam. Atau malah para bunda yang berada di luar ikutan masuk karena ikut-ikutan khawatir dengan keadaan anaknya.

Saat itu saya memerhatikan kondisi tersebut, dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam. Saya melirik sebentar dari jendela, Firna menoleh dan melihat saya, lalu ia berteriak kencang, "Bundaaaaaa ...!!!" Saya cepat-cepat pergi dari jendela, dan duduk bersama bunda-bunda lainnya. Teriakan Firna masih terdengar selama beberapa saat, tapi tidak saya hiraukan. Seorang bunda menegur saya sambil tertawa,"Memang begitu, mbak, makanya nggak usah ditengok-tengok. Mereka nggak mandiri nantinya." Saya nyengir lebar dan kami pun asyik mengobrol ini-itu. Perilaku yang satu menjadi pelajaran bagi yang lain.

Ketika memutuskan untuk menyekolahkan Firna di PAUD, saya mempertimbangkan kondisi anak itu sendiri. Firna sudah bisa memakai dan melepas baju sendiri, memakai dan melepas sepatu dan kaos kaki, sudah paham instruksi ini-itu dan selalu ingin terlibat di semua aktivitas saya di rumah. Tapi kemandirian Firna harus dilengkapi dengan kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Ini yang masih lemah, apalagi Firna memiliki seorang adik yang jarak usianya tak jauh. Firna sempat cenderung egois, kurang bisa berbagi, dan dominan sekali di rumah. Menempatkannya di lingkungan teman sebaya mungkin akan sedikit mengubah hal-hal tersebut. Tapi, sekali lagi, tidak ada yang mudah.

Dengan minimnya pengetahuan saya, saya berusaha membahas setiap kejadian penting di sekolahnya, dan mengembalikan kepada diri Firna.

"Firna, tadi di sekolah lihat ada teman yang nangis, ya?"
"Iya, Bunda, tadi teman nangis, Loh!"
"Kenapa dia nangis?"
"Tadi teman pukul ..." (maksudnya nangis karena dipukul teman yang lain)
"Kalau Firna gimana?"
"Firna nggak boleh pukul teman ya, main sama-sama, kalau pukul teman nanti teman nangis, Loh!" (ini kalimat khas Firna, diulang-ulang setiap kali melihat kejadian yang sama)

Atau ketika waktu pulang sekolah, Firna langsung ngeloyor pergi tanpa salim dan pamit dengan Bunda Guru (sebutan untuk para guru di PAUD-nya). Pasti saya akan mengajak Firna masuk kembali ke dalam kelas, dan menyalami satu per satu gurunya. Tanpa diperlakukan begitu, anak mungkin akan menganggap hal itu bukan sesuatu yang penting. Walaupun harus berlarian dulu mengejar Firna yang sudah sibuk dengan ayunan dan perosotannya, atau harus membujuk-bujuk begitu lama karena ia sudah ingin pulang. Yang lain mungkin melihat, kok ibu ini repot sekali sih, tapi saya tidak peduli.

Saya terus terngiang saat pertemuan orang tua murid dengan kepala PAUD. Pesan-pesan beliau singkat saja namun jelas. Yang membuat anak tidak mandiri dan bersikap negatif di sekolah adalah lingkungan terdekatnya. Tentu maksudnya orang tua.

Tanpa bermaksud untuk terlalu perfeksionis, kita memang harus berusaha keras untuk mendidik anak sebaik mungkin. Gagal dan berhasil itu hal yang sangat wajar. Bagaimanapun hasilnya, semoga yang terbaik, utamakan saja prosesnya supaya optimal. Jangan menganggap anak tidak mengerti apa yang diajarkan walau usia mereka masih sangat muda. Semakin muda kebaikan ditanam, ia akan dengan sendirinya membentuk akhlak si anak nantinya.

Menulis dan Mencerahkan Hati


Baru selesai baca tulisannya mbak Sinta Yudisia di milis FLP. Fiuh ... jadi mau terharu :)

Mengingat kembali motivasi saya dalam menulis, untuk apa sebenarnya? Sebagai pembuktian bakat, atau ajang curhat alias ember perasaan, latihan pencerdasan emosi, cari penghasilan tambahan, atau apa?

Yang jelas, saya masih ingat, betapa saya terkesan dengan sebuah cerita pendek karya Helvy Tiana Rosa (yang menurut saya 'cerpen abadi' hehe) yang bisa membuat pembaca tersadar dan bergiat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Atau cerpen-cerpen karyanya yang bertahun-tahun tersebar di berbagai media, yang mengetengahkan konflik yang sedang terjadi, ataupun kisah sehari-hari. Helvy Tiana Rosa salah satu penulis favorit saya pastinya.

Lalu keinginan saya beberapa tahun silam (sampai-sampai saya jadikan salah satu resolusi tahunan yang harus dicapai), yang saya buat tahun 2002 dan baru tercapai pada tahun 2004: menjadi anggota Forum Lingkar Pena. Hehehe ... agak konyol, ya? Tapi bagi saya, organisasi yang satu ini begitu memikat hati, sebab memang sejak lama sekali saya ingin menjadi bagian darinya (mungkin sejak akrab dengan majalah ANNIDA sejak tahun 1998), dan berjanji dalam hati bahwa saya harus bisa menulis.

Menjadi bagian dari FLP cabang Bekasi adalah awalnya. Bertemu teman-teman baru yang lucu, sama-sama mendirikan kembali FLP Bekasi, berjuang dengan anggota yang datang dan pergi (dan kini makin berkibar tampaknya...congrats FLP Bekasi :) ) dan akhirnya hijrah ke FLP cabang Sengata tahun 2006. Menjadi bagian dari FLP pastinya berpengaruh besar bagi aktivitas menulis yang saya lakukan. Kala merasa malas, maka pertemuan dengan teman-teman di FLP akan mencambuk kembali diri saya untuk aktif berkarya. Kala merasa puas dengan hasil karya yang diterbitkan, maka bertemu dengan sekumpulan penulis muda dan hebat di FLP akan menjadi teguran keras bagi saya bahwa apa yang sudah saya lakukan belumlah apa-apa. Saya masih harus banyak belajar, dan menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Bukan saja untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bukan juga menjadi pelampiasan emosi semata, apalagi hanya untuk sebuah popularitas. Menulis untuk dakwah, adalah visi yang harus selalu tertanam.

Terkenang percakapan maya dengan Afifah Afra dua hari lalu (tepatnya menjelang subuh),

afra: lagi nerusin buku kedua dari tetralogi De Winst, sudah hampir setahun belum kelar (kira-kira begitu isinya)

Setahun menulis novel? Wow, hebat sekali. Pikir saya waktu itu. Dan mbak Afra menceritakan tentang begitulah konsekuensi dari mempertahankan idealismenya. Saya tahu, beliau adalah seorang penulis yang rajin sekali riset mendalam untuk sebuah tulisan yang pastinya apik. Setahun yang produktif, dan mungkin seluruhnya efektif. Kalau saya? Ya iya sih, merampungkan novel dalam kurun tahunan juga, tapi bolong karena malas, nggak sempat, nyicil nggak kelar-kelar, dan riset seadanya. Jauuuh...deh!


Tadi pagi, soulmate saya (predikat ini Ganjar Widhiyoga yang memberikan) menelpon dari Yogyakarta, dan bisa ditebak, kami berbincang hampir sejam untuk berbagai hal yang sedang melintas di kepala kami. Mengenai FLP juga, dan yang lain-lain. Ide untuk merintis hubungan harmonis antara FLP Kaltim dengan dunia sastra di Kaltim, mengenai perbaikan kualitas FLP Sengata, dan banyak lagi. Namanya Nurika Nugraheni, dulu saya mengenalnya secara maya juga via Yahoo Messenger, lalu bertemu di Munas ke 1 FLP tahun 2005, dan secara mengejutkan tahun 2007 kalau tidak salah ia menjadi penghuni Sengata mengikuti suami tercintanya.

FLP dan dunia menulis saya sudah memberikan banyak sekali warna dalam kehidupan saya bertahun-tahun ini. Kalau belajar tidak pernah mengenal waktu, maka sama saja dengan menulis. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki yang sudah dilakukan. Bukankah dengan menulis kita bisa mencerahkan umat? Ya, tentu tergantung apa yang ditulis :) dan jiwa setiap penulis ada dalam tulisannya. Begitulah yang saya yakini. Menulis untuk dakwah, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada lingkungan, kepada umat ini. Jika saya tak mampu memberikan lebih pada umat ini, setidaknya tulisan saya semoga bisa mencerahkan hati yang membaca. Amin.